OOC DON'T LIKE DON'T READ
PRODUCE 101 S2 FANFICTION
FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY
M, ABO!AU
Sidepair! Taedonghan
YUNHWA
.
.
.
"Aku punya tujuan, Kwon."
Cih. Hyunbin menusukkan ujung bolpoin dengan geram hingga menembus kertas di hadapannya dan melubangi meja. Diliriknya punggung lebar Daniel yang duduk tanpa suara di depannya. Mencibir.
"Apa tujuanmu dasar brengsek, brengsek. Kau terobsesi pada tujuan sok misterius itu tapi tidak mengatakan apapun kepadaku. Sepupu macam apa kau?" omel Hyunbin dengan suara mendengung agar tidak terdengar di kelas yang sepi akibat paparan kuis antropologi yang menguras otak.
Atensi pure alpha jangkung itu kembali kepada dua puluh soal kuis di depannya. Matanya berkunang-kunang.
"Ck, persetan," gumamnya seraya mencoret-coret kertas soal yang telah berlubang itu secara asal. Ia lalu menegakkan tubuhnya dan bangkit untuk mengumpulkan kertas sialan itu.
Ia ingin cepat-cepat selesai dan keluar.
Menemui pangeran omega manis yang berusaha ia gapai hatinya. Hwang Minhyun.
Ia memberikan senyum terbaiknya di hadapan wajah keriput prof. Kim sebelum melenggang keluar kelas. Ia bisa merasakan tatapan datar Daniel dari tempatnya.
Tidak peduli.
Hyunbin masih ingin menumbuhkan lebih banyak bunga di hatinya sejak percakapannya dengan Minhyun kemarin.
"Kau tahu, seandainya saja aku bisa membatalkan pernikahan itu ..."
Rasanya Hyunbin ingin memekik girang mengingat kalimat itu.
Itu berarti, Minhyun juga hampir menaruh perasaan kepadanya kan? Apalagi ... setelah kalimat itu terucap, tak ada lagi yang Hyunbin rasakan selain tekstur lembut bibir tipis sang omega di bibirnya.
Hanya menempel, tidak lebih. Tapi itu membuat jantungnya melompat-lompat dengan gembira. Lalu keadaan kembali kepada Hyunbin yang gencar menempeli Minhyun hingga wajah pangeran itu merona.
Itu juga yang menyebabkan Hyunbin merelakan diri menolong Daniel untuk pergi dari istana malam itu, menemui mate-nya. Yah ... meskipun berujung gagal dan mendapatkan mood buruk pada pagi berikutnya.
"Kwon Hyunbin!"
Mata Hyunbin berbinar melihat Minhyun bersandar pada Ferrari nya. Pure omega itu tampak manis meski hanya dibalut kemeja putih berlapis sweater merah muda dan celana bahan berwarna krem.
Ya, sejak percakapan itu, mereka memutuskan untuk menjadi dekat dan bertemu lagi untuk menghabiskan waktu bersama.
"Sunbaenim, bagaimana dengan menonton film terbaru di bioskop?"
Minhyun tersenyum. Diikuti dengan senyuman miring entitas lain dari kejauhan.
"Call!"
.
.
.
Daniel memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia kembali pada rutinitas yang dijalaninya akhir-akhir ini. Rutinitas yang sempat terhenti karena akses keluar istana yang sangat ketat.
Menatap sang mate dari jendela.
Ya, mate-nya.
Mate yang nyaris mustahil akan berada di pelukannya.
Ckiiitttt!
Daniel menggeram begitu kakinya berhasil menginjak pedal rem dengan tergesa. Penyeberang jalan sialan! Rutuknya.
Ia menjulurkan kepala untuk melihat sosok yang terjatuh di depan moncong mobilnya.
Sosok itu belum bangkit.
Persetan. Mungkin sudah mati.
Dengan anggapan itu, sang pure alpha kembali bersiap untuk melajukan mobilnya sebelum mengendus bau seseorang yang ia kenal. Ia mengurungkan niatnya dan beralih membuka pintu.
"Kim Taedong?"
Sosok itu mengerang. Wajahnya pucat seolah kehilangan seluruh tenaganya. Tubuhnya yang kurus kini tampak lebih kurus. Seperti mayat hidup.
Daniel mengernyit. Sudah lebih dua minggu alpha itu tidak hadir kuliah. Ia sama sekali tak menyangka akan menemukan sahabat sepupunya itu dalam keadaan mengenaskan seperti ini.
"Bangun! Atau kuanggap kau mati." Daniel mengguncang tubuh Taedong dengan kakinya. Jalanan lumayan ramai hari ini dan semua makhluk individualistis itu hanya melewati mereka setelah memberikan gestur penghormatan kepada sang putera mahkota yang mobilnya berhenti di tengah jalan.
"Tolong aku, Daniel Wangja-nim ..." lirih Taedong. Daniel terkesiap melihat cairan bening mengalir di pipi kurus alpha itu. Taedong mengerang lagi. Tangan kanannya yang terluka akibat goresan aspal menggenggam benda pipih yang menyala menampilkan wajah seorang pemuda.
Daniel mengambil ponsel tersebut dari tangan pemiliknya.
Taedong meringis perih saat Daniel menarik tangannya untuk berdiri. Tubuhnya terkulai begitu saja di jok mobil Daniel.
"Mate," bisiknya lirih.
.
.
.
"Uhukk ... uhukk ... hik. Mate-ku sayaaangg. Hik. Kau. Hik. Kemanaa?" Pemuda itu meracau sembari membenturkan kepalanya ke meja bar. Tangannya menggenggam erat gelas minumannya sampai gemetar. Cegukannya tidak berhenti sejak lima belas menit yang lalu. "Satuu lagiii!" Teriaknya sumbang seraya menegakkan tubuhnya yang ringkih.
Segera setelah bartender mengisi kembali gelas itu dengan alkohol, ia menenggaknya hingga tandas.
"Pelan-pelan ..." ringis pemuda berbahu lebar di sampingnya. Pure alpha itu memandangi setiap gerak-gerik temannya seraya menggelengkan kepala.
Tak!
"Kau lari membawa anakku, kau harus membawanya kembali dengan selamat!! Hik." Alpha itu meracau lagi sebelum kembali membenturkan kepalanya ke meja.
"Sudah cukup minumnya, Kim," gumam sang pure alpha sambil meraih gelas di tangan temannya yang mabuk berat. Sedangkan alpha yang mabuk itu hanya diam menyandarkan kepala pada meja dengan air mata menggantung di pelupuk matanya.
Beberapa jam yang lalu, Daniel terpaksa mengangkut Kim Taedong yang terkulai lemas di jalan. Sebagai seorang pure alpha, ia juga masih punya hati terhadap sahabat sepupunya yang satu ini. Lagipula, Taedong termasuk salah satu alpha yang terdekat dengannya sejak kecil.
Namun siapa sangka niat awalnya membawa Taedong untuk beristirahat dan memulihkan diri, malah berakhir membiarkannya mabuk dan meracau di club tempat para alpha biasa memperebutkan superioritas dan mencari muka di depan Daniel.
Sebenarnya, putera mahkota itu hanya penasaran. Melihat sikap Taedong yang tidak biasanya dan meracau tentang mate membuatnya penasaran.
Sebegitu berpengaruhnyakah seorang mate dalam kehidupan seorang alpha?
"Daniel, mate-ku menghilang. Aku tidak bisa merasakannya. Aku bisa gila," ungkap Taedong lirih. Daniel hanya diam, memiringkan kepalanya menatap mata kosong lawan bicaranya dan mendengarkan.
"Aku tidak bisa merasakan keberadaannya, tapi ia terus mempengaruhi pikiran dan mimpi-mimpiku. Ia menjelma mimpi buruk bagiku. Argh, tolong aku."
Daniel mengangguk. Sejujurnya ia tak paham. Tapi sebagai pendengar yang baik, ia hanya diam dan mengangguk. "Cegukanmu sudah berhenti," gumamnya.
"Hik."
Pure alpha itu menggaruk belakang kepalanya bingung. Taedong yang biasanya terlihat tenang dan tajam kini seperti orang gila.
Dan semua itu karena mate-nya.
Hati Daniel mencelos. Kalau Seongwoo menghilang, apakah ia akan bernasib sama dengan Taedong?
Tunggu sebentar. Nama mate-nya Seongwoo, kan?
Daniel mengacak rambutnya frustrasi. Ia ikut membenturkan kepalanya ke meja.
Mana mungkin ia lupa nama mate-nya sendiri?
Keningnya berkerut samar sebelum kembali menegakkan tubuhnya menghadap Taedong. "Taedong-ah, apakah ..." ucapannya menggantung di ujung lidah. Daniel mendecak dan menggelengkan kepalanya. Ia menenggak minuman beralkohol di hadapannya dan memijit keningnya. Pusing.
"Apakah apa?" tanya Taedong dengan suara sengau. Ia mabuk, tapi masih cukup sadar untuk menanggapi sekitarnya.
Koordinasi otak Daniel berantakan. Mulutnya ingin mengucapkan sesuatu, lidahnya ingin terus-menerus mencicipi alkohol, telinganya nyaris pekak dihujani suara musik yang berdentum kencang dan suara-suara sorakan alpha lain di ruangan itu, sedangkan pikirannya semrawut bercampur aduk.
Kacau.
Daniel meringis. Mendadak isi perutnya bergejolak ingin keluar namun ia tahan.
Ia tidak mungkin pergi begitu saja untuk muntah, bukan? Sangat tidak berkelas.
"Wangja-nim, seorang mate sangat berpengaruh pada kehidupan mate-nya, kau tahu itu bukan?" Ujar Taedong membuat atensi Daniel kembali terpusat padanya. "Aku harus siap mati kalau mate-ku mati di luar sana. Atau ... jiwaku yang akan sekarat, gila, dan menggerogoti seluruh akal sehatku hingga hancur perlahan-lahan. Itu sangat menyiksa."
Pure alpha itu tertegun.
Mendadak kilasan kecil peristiwa masa lalu melintas menyapanya.
Kilasan memori 7 tahun lalu yang tidak pernah ia lupakan.
Gambar kepala.
Gambar kepala dimana-mana.
Merah, hitam, dan oranye. Coretan-coretan itu tampak seperti neraka.
Dan di ruangan berwarna gading dan emas yang hanya memiliki sebuah ranjang mewah berukuran sedang itu, seorang pure omega muda menunduk di lantai. Menggoreskan ujung pensil pada kertas putih dan hitam.
Menggambar satu lagi kepala. Hanya kepala. Gambar kepala yang sama dengan ratusan gambar kepala lainnya yang telah memenuhi dinding putih. Berlatar hitam, putih, merah, dan oranye pada kertasnya.
Daniel terkesiap ketika omega itu menolehkan kepala dan tersenyum padanya. Sebuah senyuman, namun matanya menyiratkan kekosongan.
Hwang Minhyun, pure omega muda itu tersenyum hampa.
"Annyeong. Kau sudah bertemu Chanyeol Hyung? Kau tahu? Alpha tampan yang menggantung tanpa tubuh di atas gerbang sana. Dia adalah mate-ku. Tampan dan lucu sekali bukan?"
.
.
.
Ikatan fated mate adalah ikatan terkuat dalam kehidupan. Tidak ada yang dapat menjelaskan seberapa kuatnya ikatan itu. Walaupun ikatan itu dapat terlepas akibat perbuatan tertentu, jangan anggap hal itu tidak berpengaruh kepada kehidupan.
Mate yang ikatannya terlepas, akan mengalami kekosongan dalam jiwanya.
Sangat beruntung apabila ikatan takdir itu terlepas sebelum kau menemukan dan menandai mate-mu. Karena kau hanya akan menemui kehampaan dalam hidupmu. Kau hanya akan kehilangan tujuan hidupmu.
Namun, apabila ikatan itu terlepas setelah kau menemukan mate-mu dan menandainya, akibatnya fatal.
Rasa sakit, depresi, kegilaan psikis, kehancuran jiwa, penyiksaan diri, dan berujung kepada kematian.
Tapi tampaknya Kim Donghan tidak peduli akan konsekuensi tersebut.
"Donghan-ah, jangan coba-coba."
Donghan menoleh. Ia menurunkan sebilah pisau yang nyaris mengiris pergelangan tangan kirinya. Sorot matanya hampa menatap beta lain yang menghampiri dan mengambil alih pisau dari tangan kanannya.
"Hoseok hyung," panggilnya pelan. Si pemilik nama hanya menggumam menjawab panggilannya seraya meletakkan pisau itu. "Aku sedang memotong apel."
Jung Hoseok, beta yang menemukan Donghan berjalan terseok-seok dengan luka bekas infus yang dicabut paksa itu tersenyum tulus dan mengambil kembali pisau yang tadi berikut sebutir apel paling ranum di meja. "Biar kupotongkan, aku takut pisau ini meleset memotong urat nadimu."
Donghan hanya terdiam dan menyerah.
Hoseok, adalah seniornya ketika sekolah dulu. Ia adalah seorang beta yang cukup aktif dan lumayan cerdas. Ia yang rajin membuat kata-kata motivasi untuk para beta dan omega agar tetap semangat dan tidak tunduk begitu saja kepada para alpha. Hoseok memiliki banyak penggemar dan tak jarang, pembenci. Namun, entah bagaimana caranya ia bisa tetap tersenyum, tertawa, dan hidup damai seperti saat ini.
Sedangkan Donghan? Ia adalah beta yang kacau.
"Hyung, kenapa kau tidak membiarkan aku mati?"
Hoseok yang kini tengah mengupas kulit apel menoleh. Donghan kini tengah menatap kosong ke lantai keramik. Seolah warna lantai putih yang hampir abu-abu itu menarik perhatiannya.
"Kenapa hyung menemukanku, membawaku ke sini, dan mengobatiku, sementara mati adalah tujuanku?"
"Mati memang akan selalu datang pada penghujung kehidupan. Tapi mati bukan tujuan," tanggap Hoseok tetap dengan senyum manisnya. Ia meneruskan kegiatan mengupas apelnya.
Donghan tertawa sinis. Pandangannya kini beralih kepada langit-langit. "Hidup juga butuh alasan bukan, hyung?"
Hoseok menggigit salah satu potongan apel dengan wajah mengernyit mendengar pertanyaan Donghan.
"Aku sudah tidak punya alasan hidup. Di sekolah, aku dihina, direndahkan, dan dilecehkan. Kemudian, aku putus sekolah sebagai pembunuh. Aku telah berusaha melanggar kodratku sebagai beta--status itu membuatku muak. Tapi sekarang aku memiliki mate seorang alpha." Suara Donghan bergetar. "Dan aku mengandung anaknya."
Hoseok ingin tersedak, tapi ia menahannya. Beberapa hari setelah ia menolong Donghan yang berjalan tak tentu arah di perbatasan wilayah korona dengan dunia luar, baru saat ini ia mendengar cerita tentang mate dari mulut adik kelasnya ini.
"Sekarang aku tak lebih dari seonggok sampah yang harus dibuang. Tak punya keluarga, kecuali saudara tiri brengsek yang berkhianat. Aku sudah terlalu lama menumpang bagai parasit bagi sepupuku. Aku kini hanya seorang rendahan. Seonggok sampah."
"Aku baru pertama kali mendengar puisi putus asa sedalam itu," komentar Hoseok mendengar kalimat Donghan. Ia meletakkan pinggan berisi potongan apel tadi di depan beta berkulit pucat itu dan kembali tersenyum. Memang Jung Hoseok yang murah senyum. "Makan, dan dengarkan. Sekarang giliran Jung Hoseok berbicara."
Selanjutnya, beta bermarga Jung itu berdehem pelan. Menatap mata Donghan yang gelap tanpa binar.
"Sejak kapan kau punya mate?"
Donghan menelan ludah, ragu untuk menjawab. "Aku ... mungkin sekitar sebulan yang lalu ... atau lebih," cicitnya.
Hoseok mengangguk. "Bersyukurlah, Kim Donghan. Setidaknya bersyukurlah bahwa kau bisa bertahan hidup hingga sekarang. Kau membenci statusmu sebagai beta?" Beta itu mendengus geli. "Ketahuilah, aku juga beta. Dan aku tidak membenci status itu."
"Aku bukan kau, Jung Hope Hoseok." Donghan mendesis.
Hoseok mengangkat alisnya dan mengangguk. "Ya. Kau bukan Jung Hoseok."
"Maka jangan samakan sampah sepertiku dengan sebuah harapan sepertimu."
"Kau benar. Orang-orang memanggilku hope. Harapan. Apa alasannya? Karena aku menunjukkan bahwa aku, seorang beta, mempunyai harapan untuk hidup. Aku juga sama sepertimu. Berusaha melanggar kodratku sebagai beta. Yang mereka sebut sebagai pelayan alpha." Hoseok mendengus lagi. "Tapi belajarlah untuk menyayangi diri sendiri, Kim."
"Aku tidak pantas disayangi." Beta itu kembali menunduk menatap potongan apel di piring.
"Sampah!" Hoseok memekik. "Ya, boleh saja kau berpikir kalau kau adalah sampah. Tapi kau sampah yang beruntung ... pernahkah kau berpikir bahwa sampah dapat didaur ulang?"
Donghan mengangkat wajahnya. Ia mengerutkan dahi, menyimak ucapan Hoseok.
"Kau punya mate. Dan mate-mu, dialah yang akan mendaur ulang dirimu, menjadi sesuatu yang baru."
Donghan mendecih. "Sok tahu." Senyumannya miring. "Mendaur ulang aku menjadi sesuatu yang baru ... maksudmu menjadi jalang?"
Hoseok menganga dengan tidak elitnya. Ia mencondongkan tubuhnya, memegang kedua bahu Donghan. "Apakah mate-mu memperlakukanmu seperti jalang?"
Donghan tergugu. Ia tak tahu apakah mate-nya memperlakukan ia seperti jalang. Hati kecilnya mengatakan tidak, namun pikiran egois dan perasaan insecure-nya mencengkeramnya hingga terpuruk.
"Tidak." Hoseok menyimpulkan sebelum melepaskan tangannya dari bahu Donghan. "Kaulah yang berpikir seperti itu."
Donghan membuka mulutnya, hendak menyangkal. Namun, ia urung dan berakhir menggigit bibir bawahnya.
"Bercinta dengan mate-mu tidak membuatmu menjadi jalang. Terlebih kau mengandung anaknya. Kau akan menjadi ibu ... kau tahu kedudukan seorang ibu lebih tinggi dari seorang raja, bukan?"
"Aku seorang lelaki beta yang hamil. Itu aneh."
Hoseok menggelengkan kepalanya. "Tidak. Itu tidak aneh. Mungkin kau adalah beta yang bertransformasi menjadi omega karena hal tertentu. Itu tidak aneh. Sebaliknya, kau istimewa." Beta bermarga Jung itu menarik napas sejenak. "Aku pernah mengatakan kepadamu di pertemuan terakhir kita dulu; bila kau tidak bisa hidup dengan baik, maka hiduplah dengan benar."
Donghan diam. Ia ingat kalimat itu. Kalimat yang diucapkan Hoseok ketika beta itu menghadiri pemakaman ibunya.
"Lalu aku masuk penjara setelahnya," gumam Donghan.
.
.
.
Hyunbin tersenyum seperti orang bodoh. Ia menatap pure omega manis itu dengan tatapan memuja. Biar saja disebut budak cinta. Yang penting ia berhasil menghabiskan waktu dengan pujaan hatinya dan berakhir dengan ... makan malam di restoran kecil milik sebuah keluarga di luar wilayah Klan.
Sengaja mereka pilih tempat itu. Mereka tidak mau menebak-nebak resiko apa yang kemungkinan terjadi kalau mereka makan malam berdua di wilayah klan.
"Hyunbin-ah, berhenti menatapku seperti itu. Bola matamu hampir-hampir keluar kalau seperti itu," ujar Minhyun yang lama kelamaan merasa risih dengan tatapan Hyunbin. Ia malu, sebenarnya.
"Aaa ... sunbaenim terlihat sangat manis. Aku mungkin terkena diabetes."
Minhyun tertawa kaget. Ia mengernyit dan melempar selembar tisu ke wajah Hyunbin. "Bisakah kau menyimpan gombalan-gombalan murahmu?"
"Serius, sunbaenim! Kau terlihat berkali lipat makin manis malam ini. Kenapa, ya? Apa mungkin karena matamu terlihat lebih berbinar dari biasanya?" sanggah Hyunbin dengan meyakinkan.
Ia memiringkan wajah dan menyipitkan matanya menatap mata Minhyun yang kini terbuka lebar. Pure alpha itu mengangguk-angguk.
"Aku berhasil," ucapnya. "Aku berhasil, yess!!" serunya kemudian seraya mengepalkan tangannya gembira.
"Whoa, whoa." Minhyun terkejut atas pekikan girang Hyunbin. Ia mengernyit dan menarik tangan Hyunbin untuk kembali diam. "Apa itu?"
"Apa itu?" ulang Hyunbin. "Sunbaenim, sejak aku pertama kali melihatmu, cita-citaku yang semula ingin mengalahkan sepupuku berubah. Pandangan matamu terlihat sangat kosong dan kaku. Keindahan dirimu tersembunyi dengan rapat di sana. Dan aku bercita-cita untuk menciptakan binar di matamu agar mata yang indah itu menampakkan keindahannya."
Hyunbin menampar mulutnya sendiri kemudian. "Ucapanku sangat berbelit-belit. Mianhae ..."
Minhyun menggaruk tengkuknya canggung tanpa berniat mengatakan apapun. Mereka diliputi keheningan setelahnya. Namun, diam-diam sang putera mahkota mengulas senyum.
"Terima kasih, Hyunbin," ucapnya pelan. "Terima kasih telah berusaha membuatku jatuh cinta. Kau berhasil."
"N-ne?" Hyunbin nyaris tersedak dengan mata melotot saat menyuapkan pasta ke mulutnya. Jantungnya berdebar begitu keras hingga nyaris merontokkan tulang rusuknya.
"Kau ingat, kau masih punya utang mengabulkan satu permintaanku. Aku akan memintanya sekarang."
Hyunbin menahan napas gugup. Minhyun kini tidak lagi menahan-nahan senyum manisnya yang kian melebar.
Dan suara tepuk tangan terdengar lantang di belakangnya.
"So, you've found another Park Chanyeol?"
Minhyun terkesiap. Ia menegakkan tubuhnya kaku. Raut wajahnya sekilas menyiratkan kecemasan.
"Wangja-nim, dengan hormat, atas perintah raja, kami datang untuk membawa anda ke istana."
Minhyun tidak ingin berbalik untuk melihat siapa yang berbicara di belakangnya. Ia cukup tahu. Cukup mengenal suara itu.
Algojo itu menemukannya. Bahkan setelah ia memilih tempat paling asing.
"Anda ingin tragedi Park Chanyeol terulang kembali, Yang Mulia?"
Pupil mata Minhyun bergetar menatap wajah Hyunbin yang tampak berusaha keras memahami situasi.
"Anda tahu, mantera penyiksa kami lebih kuat dari kekuatan seorang pure alpha."
"Tidak." Minhyun berujar. "Berjanjilah untuk tidak menyentuhnya," tunjuknya kepada Hyunbin.
"Ah, tunggu sebentar," tandas Hyunbin seraya berdiri menghadap alpha bertubuh kekar itu. "Ucapan Minhyun sunbaenim salah. Seharusnya, tahu dirilah untuk tidak menyentuhnya. Jangan coba-coba menyentuh Minhyun sunbaenim."
Alpha itu tertawa remeh. Tanpa sadar, kedua alpha yang berhadapan itu saling mengeluarkan aura hitam yang mengintimidasi satu sama lain.
"Hentikan. Aku akan pulang."
Hyunbin menatap Minhyun dengan sorot mata hampa. Minhyun sedikit memberontak saat dua orang alpha lain yang mengiringi alpha tadi mencengkeram lengannya.
Alpha itu tersenyum miring. Menatap Hyunbin dengan sorot kemenangan saat kedua anak buahnya menyeret Minhyun pergi.
Pure alpha itu menggeram. Tangannya terkepal dan dengan kecepatan kilat, ia menerjang ke arah alpha yang tidak dikenalnya itu.
BRAKK!!
Darah mengucur di pelipis alpha asing itu. Namun, senyumnya tidak luntur.
"Aku menyebutnya, segel," ujarnya menatap Hyunbin yang mengerang dengan tubuh kaku. "Mantera terkuat yang dikuasai prajurit Korona." Alpha itu berjalan mendekat dan memutar belati di tangan kanannya.
"Kau tahu, Korona, berkelahi tidak hanya dengan tenaga." Ia mulai mengangkat belatinya dan menancapkan mata pisau itu pada bahu kiri Hyunbin. Hyunbin menggeram. Ia tak bisa bergerak. "Melainkan juga dengan otak." Alpha itu mencabut belatinya dari tubuh Hyunbin dan menusukkannya ke pinggang pure alpha tersebut.
"A-aarrgghhh ..." tubuh Hyunbin mengejang ketika mata pisau itu diputar sedemikian rupa di pinggangnya.
Alpha asing itu terkekeh puas. Ia menepuk luka menganga di bahu Hyunbin sebelum melenggang pergi. "Senang bertemu denganmu."
Dan tak jauh dari sana, Minhyun menyaksikan itu semua dengan otot melemas.
.
.
.
Daniel membanting pintu kamar VVIP rumah sakit khusus kerajaan itu dengan kasar. Wajahnya memerah karena amarah. Ia menatap tubuh Hyunbin yang terbujur kaku, dipenuhi selang-selang yang terulur saling menyilang menempel pada tubuhnya.
Sepupunya dilaporkan sekarat di restoran kecil di luar wilayah klan.
Rahangnya mengeras. Ia memukul ranjang Hyunbin, tepat di samping kepala sepupunya itu.
"Seharusnya aku mencegahmu bertemu dengannya kemarin sejak di tempat parkir, brengsek!"
Putera mahkota itu menggeram menahan amarah yang meluap. Ia tahu segalanya yang terjadi antara Hyunbin dan Minhyun.
Ia tahu sorot mata Minhyun saat melihat Hyunbin. Ia mengenal gerak-gerik cinta berbalas antara mereka berdua. Ia hanya pura-pura tidak peduli, dan hanya memikirkan akting yang tepat untuk membuat Hyunbin menyerah.
Tapi ia bukan aktor yang baik.
Hyunbin berhasil. Ia memikat sang putera mahkota omega yang dicintainya. Ia berhasil mengembalikan binar yang sempat menghilang dari mata Minhyun bertahun-tahun lamanya.
Dan sejujurnya, Daniel cukup senang. Ia ikut berbahagia melihat sepupunya bahagia.
Kalau saja Raja Hwang tidak sebrengsek saat ini.
"Kang Daniel."
Daniel menoleh, menemukan sang kakak, Kang Dongho di ambang pintu.
"Aku akan menjadi raja," ujar Daniel. Ia menatap tajam ke arah Dongho. Matanya berkilat. "Kau juga. Turuti saja apa kata Appa. Atas perjanjian dengan Raja Hwang dari Korona."
.
.
.
Daehwi melirik Woojin yang tampak gelisah dan stres dengan bukunya. Ia menghela napas dan mengusap surai adiknya itu lembut.
"Jangan dipaksakan. Istirahat dulu."
"Aku belajar untuk ujian sekolah, Hyung. Terlalu banyak mempelajari politik membuatku nyaris melupakan pelajaran sekolah," sahut Woojin.
Daehwi menggeleng cemas. Ia tetap setia duduk di samping Woojin. Jaga-jaga bila adiknya membutuhkan sesuatu.
"Kenapa manusia terlahir ambisius," gumam Daehwi.
"Aku tidak ambisius." Woojin mencebik. "Para petinggi. Mereka ambisius. Termasuk ayah kita dan para raja."
"Eum." Daehwi mengangguk menyetujui. Ia berdiri saat merasakan cairan di kantung kemihnya mendesak keluar. "Aku ke toilet dulu, sebentar saja."
Woojin mengangguk.
Ia menyandarkan tubuh ke kursi setelah Daehwi pergi. Merenung.
Memang, ayahnya yang ambisius. Ia begitu semangat mendengar Woojin akan diangkat menjadi penerus tahta Raja Hwang. Segala ilmu politik dan ilmu kerajaan dijejali ke otak Woojin. Menjadikan otak itu jenuh memilah setiap pelajaran yang diberikan.
"Undang-undang kerajaan, pasal 39 ayat ..." Woojin bergumam sendiri. "Sial aku lupa."
Pure alpha muda itu bangkit dan berkeliling kamar. Membuka setiap tumpukan buku. Mencari sebuah buku tertentu. "Kemana aku menyimpannya?" ringisnya lelah.
Ia mulai membuka laci dan pintu-pintu lemari. Bahkan, kotak besar tua di pojok ruangan pun ia bongkar.
Tangannya berhenti membongkar ketika melihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati.
Liontin itu dapat dibuka, dan isinya adalah foto seorang alpha yang menggandeng seorang omega hamil.
Woojin terdiam. Ia mengenal wajah wanita omega itu. Keluarganya--keluarga Daehwi--memperkenalkan wanita itu sebagai ibu kandungnya. Namun, ia tidak pernah diberi tahu tentang ayahnya. Apakah alpha dalam foto itu?
Pandangannya kini terpaku pada sebuah buku harian yang hampir hancur digerogoti rayap. Itu milik ibu kandungnya juga.
Ragu, ia meraih buku itu dan menemukan secarik potret lain dari alpha itu di sela-sela lembaran buku.
Woojin menatap foto itu. Ada rasa kenal dan rindu yang terbesit dalam hatinya saat melihat wajah itu.
Ia membalik kertas itu dan menemukan sebuah tulisan yang tintanya hampir pudar.
Ia menyipitkan mata, berusaha membaca tulisan yang tercetak di sana.
"Dis ... trik 1. My belo ... ved, bar ... ian alpha. Lee Yoojin?" Woojin membaca dengan terbata. Ia menggaruk kepalanya bingung.
"Barian?"
.
.
.
Burem cuy, ga jelas, ga keliatan.
Mama dorong means MOMPUSH.
