Disclaimer Naruto by Masashi Kishimoto

Warning: Kau akan mengantuk/Boring intro. Not for children under 18 y.o.

HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENYIKAPI SETIAP PERBEDAAN KEBUDAYAAN.

INGAT! CERITA INI BERLATAR BELAKANG DI JEPANG.

SEMUA BAGIAN DARI CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA.

.

.

.

Suara 'brak' terdengar dan ada suara orang yang menjerit.

"Hallo, Hinata?"

"..."

"Hinata!"

"..."

Tut tut tut tut

Kemudian panggilan tersebut terputus karena ponsel Hinata sudah mati terlindas mobil.

.

.

.

Hinata berada di suatu taman yang tidak ia kenali. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang tertata dengan apik.

Di ujung persimpangan terdapat danau, dan sebuah pohon yang bersinar seperti manik-manik. Instingnya mengarahkannya ke sana.

Di sanalah dia bertemu dengan seorang wanita bergaun putih, dengan mahkota bunga menghiasi kepala wanita tersebut.

Rambutnya menjuntai dengan indah, ujung-ujungnya terlihat bergelombang. Sangat indah hingga Hinata pun mematung mengagumi kecantikan wanita itu.

Ketika wanita itu menoleh, rasanya waktu Hinata telah berhenti. Bulu mata yang lentik, tatapan sayu, dan bola mata yang sewarna dengan Hyuuga.

"Kaa-san?"

Wanita itu tersenyum dan Hinata tak sanggup lagi menahan air mata yang sudah menumpuk.

Hinata memeluk wanita yang dia panggilnya ibu.

"Aku sangat merindukan Kaa-san."

Wanita itu memandang Hinata yang memeluknya, ia mengelus pelan surai indigo milik Hinata tanpa mengucapkan satu patah kata.

"Di mana ini?"

Lagi-lagi yang ditunjukkan hanya seulas senyum.

Dengan sekejap pemandangan itu menghilang, yang terlihat hanyalah cahaya putih yang sangat terang.

Hinata tak mampu membuka kedua matanya, cahaya tersebut terlalu kuat. Pupil tak sanggup menyempit lagi untuk mengurangi cahaya yang masuk ke mata.

Namun dia mendengar suara. Suara yang lembut, menggema dalam pikirannya.

"Di manapun kau berada, saat ini kau sedang beristirahat."

Hinata terkesiap dengan suara tersebut dan kini dia tersadar. Kepalanya sedikit pusing.

.

.

.

Sesaat sebelum mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menyentuh Hinata, Hinata sudah terlebih dahulu mematung karena syok. Sehingga meski otaknya memerintahkan ia untuk melangkah, kakinya tidak bergerak seincipun.

Di seberang jalan bersamaan terlihat seorang pemuda berambut biru sedang menenteng kotak belanjaan.

Pemuda tersebut berjalan berlawanan arah dengan arah datangnya mobil yang melaju kencang. Tanpa pikir panjang lelaki tersebut reflek melemparkan kotak di tangannya dan melompat ke arah perempuan yang berdiri mematung sebelum mobil tersebut menabraknya.

Kejadian tersebut sangat cepat. Hinata yang syok tidak sadarkan diri berada dalam dekapan lelaki yang menyelamatkannya.

.

.

.

Hinata sadar bahwa sekarang dia sudah berada di kamarnya. Ketika dia hendak beranjak dari atas kasur, dia merasakan sengatan nyeri di kakinya.

"Ah..." pekiknya kesakitan.

Hinata menyibak selimut dan mendapati lututnya telah diperban.

"Nee-chan?"

Hanabi mendengar suara Hinata dan segera berlari menuju kamar Hinata. Hinata tersenyum melihat Hanabi sekarang sudah berada di depannya.

"Kenapa nee-chan ceroboh sekali? Aku mendengar cerita dari orang yang menyelamatkan nee-chan."

"Maaf Hana-chan, aku juga tidak tahu tiba-tiba kakiku kaku." Hinata berucap dengan mukanya yang terlihat menyesal.

Kemudian Hanabi menyodorkan sesuatu di balik sakunya.

"Aku meminta nomor telepon orang yang menyelamatkan Nee-chan, pasti nee-chan ingin mengucapkan terimakasih." Secarik kertas dengan tulisan angka di baliknya, dan sebuah nama yang familiar.

Toneri.

Hinata menerima kertas tersebut. Apakah ini Toneri yang sama?

Beberapa saat kemudian, Sasuke bersama Reiko-san sudah berada di depan pintu Hinata.

"Permisi nona, Uchiha-sama ingin menemui anda."

Sasuke terlihat khawatir dengan kondisi Hinata.

"Aku langsung menuju ke sini setelah nomormu tadi tidak aktif. Kau meninggalkan ikat rambutmu."

Hinata tertawa melihat Sasuke.

"Sebenarnya kau bisa mengembalikannya besok di sekolah, Sasuke-kun."

Sasuke sedikit bersemu merah.

"Ah, aku tidak kepikiran."

Sasuke menunduk, menyembunyikan rona samar di pipinya.

"Apa kau baik baik saja? Hinata-chan? Aku tidak tahu bahwa kau mengalami kecelakaan. Kalau aku tahu, aku pasti bisa membawakan sesuatu untukmu."

Hinata tidak kuat menahan tawanya. Sasuke terlihat sangat lucu sekarang ini.

"Eh?"

Sasuke mendongak dan menatap Hinata.

"Aku tidak apa-apa, lihatlah."

Hinata mencoba berdiri dan berjalan ke arah Sasuke hingga beberapa saat kemudian kakinya tersandung dan ia hampir terjatuh jika saja Sasuke tidak sigap menangkapnya.

"Hey, tidak usah sok kuat. Kau tidur saja istirahat. Kakimu terluka. Apa kau bodoh? Tidak bisakah kau membedakan kondisimu sedang baik-baik saja atau tidak?"

Sasuke reflek membulatkan matanya. Dia tidak menyangka akan mengatakan hal seperti itu pada Hinata.

"Ma-maaf Sasuke-kun."

Kegagapan kembali menghampiri Hinata. Hinata merasakan hawa panas menjalar hingga ke telinganya. Pasti sekarang mukanya sudah sangat merah.

Dalam hati Sasuke berpikir bagaimana sekarang dia memindahkan Hinata ke kasurnya untuk beristirahat sendirian.

Hanabi dan Reiko-san? Mereka sudah menghilang sejak Sasuke berhadapan dengan Hinata.

Haruskah Sasuke menggendongnya ala bridal?

Tapi itu pasti akan terasa canggung, dan melihat Hinata sepertinya tidak ringan dengan tubuh yang sedikit berisi.

Akhirnya Sasuke memapah Hinata yang berjalan dengan satu kaki. Kemudian Sasuke berpamitan pulang.

'Seharusnya aku tadi menggendongnya ala bridal saja!' sesal Sasuke setelah ia melangkahkan kakinya dari rumah Hinata.

.

.

.

Beberapa hari berlalu, Hinata sudah kembali ke sekolah dan mengikuti kegiatan sekolah seperti biasa. Di jam makan siang, Hinata akan membawa apel ke atap, dan kini atap menjadi lebih ramai dengan kehadiran Sasuke yang mengekori Hinata.

"Nii-chan? Apa yang kau lakukan di atap?"

Sasuke tidak menyangka bahwa kini kakaknya berada di atap sedang membaca buku.

"Ini tempatku, seharusnya aku yang tanya kenapa kau ada di sini Sasu-chan?"

Hinata memandang Sasuke dan Itachi secara bergantian.

"A-a-aku yang mem-membawa Sasuke-kun ke s-sini." Kegagapan kembali menghampirinya.

"Ayo kita makan siang."

Hinata menyodorkan kotak makan siangnya di hadapan Sasuke dan Itachi, kemudian dengan sigap Sasuke menampani dan mengambil sumpit serta menikmati bekal makan siang itu.

"Yahh... Sasuke." Itachi hendak protes hingga Hinata menyodorkan sebuah apel ke mulut Itachi.

Hinata tersenyum melihat Sasuke dan Itachi yang makan. Tanpa dia sadari Sasuke bersemu merah, bergitu pun dengan Itachi.

"Arigato... Hinata-chan." Sasuke berucap kepada Hinata, sedangkan Itachi hanya diam menikmati semilir angin.

Tidak lama kemudian mereka bertiga menyelesaikan acara makan siang, dan kini mereka bertiga berbaring di atap, menatap langit biru dan awan yang berlarian di langit. Hinata berada di antara Sasuke dan Itachi.

"Sasuke-kun, Itachi-kun, lihatlah ada awan berbentuk kelinci di sana."

"Itu bukan kelinci, bodoh! Itu marmut."

"Hey... Sasuke kau tidak boleh berkata kasar pada Hinata."

"Berisik kau pak tua"

Hinata tertawa mendengar perdebatan kecil mereka. Rasanya ia ingin menghentikan waktu dan berada dalam saat-saat yang bahagia seperti ini.

Langit biru yang cerah, wangi permen karet, gelak tawa yang merdu, angin segar yang berhembus. Bukankah ini hari yang sempurna?

.

.

.

.

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu Sasuke. Sedari pagi dia sudah bersiap-siap untuk ke sekolah karena hari ini adalah hari seleksi yang ditunggu-tunggunya.

"Kau siap? Adik mungilku?"

"Diam kau." Jawab Sasuke sembari mengencangkan tali sepatunya.

"Sasu-chan, semangat! Mama akan buatkan makanan kesukaanmu malam ini dan mama akan mengundang Hinata-chan."

"Kenapa Hinata harus ikut?" Tanya Itachi dengan alis bertaur, heran dengan pernyataan sang Ibu.

"Tentu saja karena Hinata-chan adalah teman baik Sasuke."

"Terimakasih, kaa-san adalah orang terbaik yang paling tau diriku." Sasuke memeluk Mikoto yang dibalas pelukan hangat.

Kemudian Sasuke berpamitan dan ia menjulurkan lidahnya pada Itachi.

"Itachi-kun? Bukankah kau yang bertanggung jawab pada acara ini? Kenapa kau tidak datang?"

"Kaa-chan, kenapa kau sangat perhatian pada Sasuke tapi kau tidak tahu bahwa aku sekarang sedang demam?"

"Ha? Apa? Kau itu sudah kaa-chan bilang tidak boleh terlalu memfosir dirimu!" Mikoto memarahi Itachi dan menempelkan punggung tangannya pada dahi Itachi.

"Astaga... dasar anak nakal. Ayo cepat minum obat." Itachi tersenyum dan mengekori Mikoto. Dia sangat senang jika bisa memonopoli ibunya untuk dirinya sendiri.

.

.

.

Sasuke duduk di bangku kelas yang telah disiapkan. Dia melihat jam di tangannya. Peserta lain pun sudah bersiap di bangku masing-masing.

Perasaan yang sama. Setiap dia duduk untuk melaksanakan ujian, selalu ada perasaan khawatir yang entah datang dari mana. Takut jika ada yang dilupakan. Bagaimana nanti jika ia tidak bisa mengerjakan?

Pengawas datang, di sana ada Kakashi-sensei dan Yamato-sensei. Mereka sedikit berbasa-basi dengan peserta seleksi dan selanjutnya mereka membagikan kertas soal beserta lembar jawab.

Sasuke menerima lembar jawab, ia segera mengisi identitasnya dan membuka lembar soal yang ada di tangannya.

Sebuah seringai tampak di ujung bibir Sasuke, sepertinya dia terlalu berlebihan ketika belajar. Soal itu sangat mudah.

Sasuke menyelesaikannya dalam 1 jam dari total waktu 2 jam yang diberikan. Ia memanfaatkan waktu sisa untuk memeriksa setiap jawaban. Sekitar 3 kali dia memeriksa setiap jawabannya.

Akhirnya waktu pengerjaan selesai. Dan peserta diminta menunggu beberapa saat untuk mengetahui hasilnya.

Dan setelah beberapa saat menunggu. Sudah kita duga, Sasuke adalah orang yang lolos mewakili sekolahnya dalam seleksi regional.

.

.

.

"Kaa-san! Nii-chan! Aku berhasil" Sasuke berteriak saat ia sudah sampai di dalam rumah."

Mikoto mendengar teriakan Sasuke, ia sangat senang hingga ia berlari dari kebun belakang dengan tangan yang masih membawa keranjang stroberi.

"Tentu saja kau berhasil! Kaa-san tidak akan memetik stroberi untukmu jika kau gagal."

Sasuke kembali memeluk Mikoto dan membenamkan kepalanya pada pundak sang ibu.

"Kaa-san, aku sangat menyayangi kaa-san."

"Sudahlah cepat, kau tau Hinata-chan sudah datang, dia sekarang sedang sedang membantu kaa-san memetik stroberi."

"Benarkah? Aku harus memberi tahunya!"

Ucap Sasuke seraya melepas pelukannya.

"Ah... momen berharga seperti ini harus diabadikan, Kaa-san akan mengambil kamera. Kau cepat sana bantu Hinata-chan."

"Terimakasih kaa-san" Sasuke mengecup pipi sang Ibu dan berjalan menuju pintu belakang yang menghubungkan rumah dengan tempat ibunya menanam.

Sasuke melihat Hinata sedang membelakanginya dan serius sekali dengan kegiatannya memetik stroberi.

Tiba-tiba saja terbesit ide untuk menakut-nakuti Hinata.

Sasuke mencari sesuatu di sekitar pot bunga. Seingatnya ia melihat ada ulat di sekitar sana. Benar saja, kini seringai iblis terlihat di bibirnya ketika ia berhasil menemukannya.

Sasuke mengambil ulat itu, diam diam ia melangkah ke Hinata dan ia memanggil Hinata serta menyelipkan ulat yang ia dapatkan tadi dan melemparkan ulat tersebut di bawah kaki Hinata.

"Hinata-chan, awas ada ulat."

"HYAAAAAAAAAAA." Hinata kaget dan ia reflek melompat ke arah Sasuke.

Sasuke tidak siap dengan reaksi Hinata, tapi kini dia sangat sadar dengan bagaimana posisi mereka saat ini.

Sasuke jatuh kewalahan dengan Hinata di antara kedua pahanya. Tangan Hinata menutup kedua matanya dan sesuatu yang empuk berada di dada Sasuke.

Blush

Sasuke! Sadar!

Otaknya menjerit, tetapi ia menikmati sensasi berada pada jarak sedekat ini dengan Hinata.

Hinata menangis. Sasuke yang menyadarinya kemudian meraih tengkuk Hinata dan mengelus kepala Hinata, sedangkan tangan satunya berada di pinggang Hinata.

"Shhhh tidak apa-apa, kau aman."

"Hiks... Hiks... Hiks..." Hinata masih menutupi wajahnya dengan tangan.

Sasuke perlahan bangkit dan duduk dengan Hinata tetap ada dalam dekapannya. Kini dia merasa sedikit bersalah atas kejahilan yang dia lakukan.

"Aku berhasil lolos, aku akan mewakili sekolah."

Hinata mendongak, matanya berair, dan hidungnya sedikit merah. Berada pada jarak sedekat ini dengan Sasuke membuat Hinata memandang wajah Sasuke dengan mata yang berakomodasi maksimum.

Sasuke termenung selama 5 detik, melihat Hinata saat ini.

Deg deg deg deg deg

Hinata terlihat cantik. Ia tahu bahwa Hinata memang menarik, tapi saat ini entah mengapa Hinata jadi semakin cantik.

Seolah-olah ada sinar halo berada si sekitar kepala Hinata, memberi kesan kecantikan mutlak yang pertama kali dia lihat.

Tanpa sadar tangan Sasuke sudah terulur untuk mengusap pipi Hinata. Membersihkan jejak air mata yang ada di sana.

Dalam hati dia berkata pada dirinya sendiri

Bodoh sekali kau Sasuke. Bagaimana selama ini kau tidak menyadarinya?

Perlahan lahan insting Sasuke mengambil alih otaknya yang serasa beku karena menghadapi hal yang mengejutkan seperti ini.

Manusia serealistis Sasuke kalah dengan hormon yang tiba tiba meledak? Oh tidak.

Sedetik kemudian, mata Sasuke sudah terpejam dan bibir tipisnya menghapus jarak antara dia dan Hinata.

Ini saat yang tepat bukan untuk melakukannya?

Hinata anehnya merasa aman berada dalam dekapan Sasuke. Ia juga memejamkan mata dan membiarkan Sasuke melakukannya. Detak jantungnya tidak kalah dengan detak jantung Sasuke.

First kiss?

Mikoto kebetulan sedang memegang kamera, bermaksud mengabadikan momen Sasuke yang masih berseragam dan membawa kertas pengumuman karena dia lolos, tetapi malah menemukan situasi yang tidak terduga.

Melihat putranya tumbuh dan menjadi laki-laki.

Sasuke yang biasanya sangat manja padanya kini tengah mencium seorang gadis?!

Mikoto tersenyum senang dan mengambil gambar dari dua remaja yang kini tengah terpejam matanya.

Sasuke-kun dan Hinata-chan tampak sangat serasi.

Di foto itu terlihat Sasuke yang terbaring di atas rumput dengan Hinata di antara kedua kakinya sedang menindihnya, tangan Sasuke yang bertengger manis di pinggang ramping Hinata dan bibir mereka yang bersentuhan di saat mata mereka terpejam. Rambut panjang Hinata yang sedikit jatuh menutupi wajahnya.

Hikari? Kau lihat itu? Sudah kubilang bahwa kita akan menjadi besan nantinya

Ciuman itu bukan sesuatu yang berlebihan, hanya sentuhan lembut, hanya ada perasaan aneh yang membuat kupu-kupu seakan-akan berterbangan di perut keduanya, hanya sesuatu yang membuat keduanya tidak dapat mendefinisikan keadaan, seolah-olah mereka hanyut dalam pusaran dengan iringan degup jantung masing-masing.

Tanpa mereka sadari, di lantai 2 ada seseorang yang melihat kejadian itu.

Seharusnya bukan kau, tapi aku

Harapannya berjuta, bersama Hinata adalah salah satu di antaranya. Namun, sepertinya kehadirannya lebih menyedihkan dari bintang terkecil sejagat raya. Sebab kini di mata Hinata, Itachi benar-benar tidak terlihat.

Lalu bagaimana perasaam Itachi bisa bertambah, sedangkan ia sama sekali tidak pernah tumbuh.

Pada akhirnya, Itachi sendiri yang patah, setelah memilih untuk terjatuh.

.

.

.

Sasuke melepaskan bibir yang terasa lembut itu. Hinata sudah tidak menangis, tapi kini mukanya sudah semerah kepiting rebus.

Sasuke bangkit dan membantu Hinata berdiri. Sasuke membersihkan badannya yang sedikit terkena tanah.

Rona samar juga tampak di wajah Sasuke.

"Gomen, aku... itu... anu..." Sasuke bingung harus berkata apa.

Hinata hanya diam, kejadian tersebut cukup mengejutkan.

Kemudian Hinata mendongak dan memukul kepala Sasuke dengan sedikit keras.

"Ahh!" pekik Sasuke sembari membentuk perlindungan dengan kedua lengannya.

"I-i-itu ciuman pertamaku! Seharusnya aku melakukannya dengan suamiku! Kau jahat!"

"Hei! Itu Cuma kecupan singkat!"

"Diam kau!" Hinata sangat malu

"Kau juga menyukainya!" Sasuke menimpali Hinata dan selanjutnya Hinata berhenti memukul Sasuke.

"Ini tidak adil, sekarang tidak akan ada orang yang mau menikahiku" selanjutnya Hinata melemparkan stroberi yang ada di tangannya pada Sasuke.

Sasuke dengan sigap menangkap stroberi kesayangan sang Ibu.

"Yah! Jangan menyianyiakan makanan! Kau bodoh hah!"

"Kau jahat!"

Hinata bermaksud memukul Sasuke lagi, tetapi tangan Sasuke berhasil menahannya.

"Diamlah, aku yang akan bertanggung jawab menikahimu nanti."

Sasuke berkata dengan lirih, berbisik di telinga Hinata.

Hinata kini lebih tenang. Kemudian dia menimpali.

"Tapi aku tidak mencintaimu, d-dan dan kau... kau... tidak"

"Belum, lihat saja nanti."

Sasuke dengan cepat memotong kata-kata Hinata

Merasa situasi agak canggung. Mikoto dengan kecepatan cahaya menghampiri mereka berdua.

"Sasu-chan, Hinata-chan, kalian sedang apa? Ayo kita foto untuk merayakan keberhasilan Sasuke-kun."

Keduanya menoleh dan segera menjauhkan diri masing-masing.

"Itu... tadi Hinata jatuh, dan Sasuke-kun membantu Hinata berdiri." Hinata menjawab dengan menunduk, melihat kakinya sendiri sembari menyembunyikan mukanya di balik poni yang rata.

"Iya, Kaa-san"

Sasuke memalingkan muka ke arah lain.

"Kalian aneh sekali." Mikoto mencoba berekspresi senatural mungkin.

"Di mana Nii-san?"

Sasuke mencoba mengalihkan pembicaraan dan yaaaa sepertinya usahanya berhasil.

"Dia sedang demam. Ayo kita foto bertiga."

Mikoto mengambil posisi di kanan Sasuke, sehingga kini Sasuke berada di antara Mikoto dan Hinata.

"Satu, dua tiga cheese"

Sasuke menampakkan giginya dan Hinata dengan ekspresi canggung mengikuti kata-kata cheese yang dipimpin Mikoto.

"Hinata-chan, kau bisa membantu menyiapkan stroberi ini untuk makan malam nanti?"

"Sasu-chan, kaa-san mau ngomong sesuatu." Perasaan Sasuke tidak enak.

"Hai, saya bisa Mikoto-san, permisi." Hinata buru-buru meninggalkan Sasuke dan Mikoto, ia

.

.

"Sasu-chan, Kaa-san tahu bahwa kau memiliki perasaan spesial, tapi tetap jangan lupa kau harus memperlakukan Hinata dengan baik. dan cepat atau lambat pasti kau akam melakukan hal 'itu' dengan Hinata-chan, jadi sebaiknya kau menyiapkan pengaman. Awas saja jika kau kecolongan! Kaa-san akan mengembalikanmu ke perut!"

Sasuke membulatkan mata ketika ia mendengar Mikoto menyebut kaya 'itu' dengan penekanan. Dan ia menelan ludahnya ketika Mikoto mengancamnya akan mengembalikannya ke perut.

Pipinya masih bersemu merah. Oh ayolah... hal seperti ini sudah sangat umum di Jepang (a/n READER KITA DI INDONESIA! INGAT ITU!)

Bukankah itu berarti Mikoto akan mencincangnya dan menjadikannya barbeque? Ohh Sasuke, bagaimana kau bisa mengerti hal-hal yang berkaitan dengan pelestarian manusia di Jepang tetapi kau masih sangat polos jika diancam Ibumu?

Ya... begitulah Sasuke-kun yang sangat manis.

.

.

.

Author's Note:

Apakah masih ada yang menunggu cerita ini? Yaa semoga saja, ternyata sulit sekali menjaga agar tetap update tepat waktu. Aku mungkin akan mencantumkan adegan dewasa di chap chap selanjutnya, semoga kalian yang membaca tidak ada yang di bawah umur huhuhuhu