AURORA

Sasuke Uchiha & Hinata Hyuuga

Naruto milik Masashi Kishimoto

Aurora milik Munssi

Happy Reading


Malam itu setelah perdebatan panasnya dan Sasuke pergi membawa semua sikap arogannya. Hinata merenung dengan hati terbakar amarah dan rasa malu. Iris putihnya menatap jauh langit malam Konoha. Padanya, Hinata menumpahkan segala pertanyaan yang mengusik dan pada langit di atas sana, Hinata mencurahkan keresahan hatinya.

Hinata mengepal tangan kuat. Ia berjanji untuk dirinya sendiri bahwa ia takkan terlihat lemah dan rendah di hadapan Sasuke. Pria itu akan menarik persepsinya soal Hinata suatu hari nanti. Hinata akan bersikap profesional pada misinya tetapi tetap menjadi seorang istri sesungguhnya. Itu prinsip Hinata. Sasuke tak terima, itu bukan urusan Hinata.

Seperti keinginan Sasuke, Hinata juga tak akan membawa urusan cinta dalam misi. Mereka disatukan karena sebuah misi bukan cinta. Dan Hinata terlalu naif karena pernah menaruh harapan pada pernikahan misinya.


Tak peduli Sasuke akan menyetuh masakannya atau tidak, Hinata tetap menyiapkan makanan untuk dirinya dan Sasuke. Ia tidak memaksa. Hinata hanya melakukan tugasnya sebagai istri. Maka selama tiga hari setelah adu argumen itu, Hinata tetap menyiapkan makanan untuk Sasuke.

Mereka belum tegur sapa sejak kejadian itu. Bukan karena mereka saling diam, tapi mereka belum berpapasan satu kalipun. Hinata tidak tahu kemana perginya Sasuke. Setiap pagi rasanya Hinata bangun lebih awal dari pada Sasuke, namun nyatanya pemuda itu tidak ada batang hidungnya meski pagi menyapa. Hinata tidak pernah melihat Sasuke. Ataupun saat malam, Hinata tidak tahu kapan Sasuke pulang. Namun, saat Ia mengaktifkan Byagukan, Hinata mendapati Sasuke sudah ada di dalam kamarnya. Lagi-lagi, Hinata harus beranjak dari kamar untuk membereskan makan malam yang sudah ia siapkan, dan ritual itu berlangsung selama tiga hari.

'Apa perlu menyampaikan hal ini pada Hokage-sama?'

Lamunan Hinata pecah saat Kuchiyose yang ia kenal milik Hokage memberinya sebuah gulungan. Datang tepat waktu.

Hinata membaca sebentar sebelum gulungan itu berubah menjadi kepulan asap. Kebetulan sekali, Kakashi meminta Hinata melapor besok sore pukul empat di kantor Hokage.


Untuk pagi di hari rabu, Hinata bangun lebih awal dari biasanya. Hinata sengaja melakukannya. Ia ingin bertemu dengan Sasuke. Setidaknya, Hinata harus bertanya langsung pada orangnya sebelum melapor diam-diam pada Kakashi.

Segera, Hinata menuju dapur untuk membuat sarapan. Belajar dari pengalaman di mana Sasuke tidak menyetuh masakannya, Hinata membuat porsi lebih sedikit. Tak membutuhkan waktu lama untuk meyelesaikan masakannya, Hinata segera menata masakannya di meja makan.

Hinata gantung kembali celemek di dinding rumah. Ia hendak membangunkan Sasuke. Namun, matanya menangkap sosok itu sudah rapih dengan pedangnya dan hendak keluar rumah pagi buta.

"Sasuke," panggil Hinata.

Sasuke berhenti dan menoleh kearah Hinata berdiri.

"Kau akan pergi pagi buta?"

"Ya," jawab Sasuke sekenanya.

"Kemana?"

"Bukan urusanmu."

"Selagi kita menjadi seorang partner tim, aku berhak tahu kemana dan apa yang dilakukan partnerku," ujar Hinata tegas.

Sasuke menatap dingin Hinata. Suasana hatinya menjadi jelek karena mendapat ceramah pagi dari perempuan Hyuuga itu.

"Hyuuga,"

Ada jeda lama sebelum Sasuke melanjutkan kalimat tajamnya pada Hinata.

"Aku hanya mengijinkanmu tahu soal 'kapan misi kita dimulai'. Selagi aku tak memintamu bergerak, maka tetaplah diam menunggu."

Jangan terpancing Hinata, Sasuke hanya tidak ingin diganggu.

"Sampai kapan?" kini Hinata menantang begitu berani pada Sasuke. Ia sedikit meruntuki keberanianya yang terkesan tanpa rencana.

Hinata bisa melihat senyum menyeringai Sasuke saat mendengar ucapannya.

Sasuke jalan mendekati Hinata. Namun baru dua langkah, Sasuke berhenti kala melihat perempuan itu berjalan mundur. Sasuke bisa menangkap kilat takut di mata putih Hinata.

"Sampai aku menginginkan tubuh ini dan waktunya bukan sekarang, Hyuuga."

"Aku bukan pelacur, Sasuke!"

"Tidak pernah sekalipun aku menganggapmu perempuan jalang."

"Ucapanmu menunjukkannya."

"Tapi perbuatanku tak pernah menunjukkan kau seorang pelacur. Jika aku menganggapmu seperti itu, sejak awal tubuhmu sudah berada dikuasaku, Hyuuga."

Lagi, hati kecil Hinata mengakui perkataan Sasuke ada benarnya. Jika saja Sasuke adalah laki-laki bejad kebanyakan, sudah pasti mereka melakukan itu sejak awal. Tapi selama hampir satu minggu, interaksi mereka hanya sekedar melihat, menyapa oleh satu pihak dan sisanya adalah perdebatan sengit. Jadi entah Hinata harus bersyukur atau tidak akan kondisinya saat ini.

Sasuke berbalik hendak pergi sebelum suara Hinata mengintrupsi langkahnya.

"Kemana kau akan pergi, Sasuke?" menyampingkan rasa kesal dan malunya, Hinata bertanya lagi dengan pelan dan dalam.

Sasuke memilih acuh dan melanjutkan langkahnya. Hinata harus bergerak. Ia tidak mau diremehkan Sasuke lagi. Uchiha terakhir itu harus mengakui keberadaanya.

Hinata merangsek maju menghadang langkah Sasuke. Gerakannya yang cepat membuat Sasuke lengah dan berakhir pada Kusunagi miliknya berpindah tangan pada Hinata.

Hinata mengacungkan pedang panjang milik Sasuke tepat di depan dada pemuda itu.

"Aku bertanya padamu,"

Hinata tidak suka berbicara dengan kekerasan tapi jika hanya pilihan ini satu-satu jalan yang harus ditempuh maka Hinata akan melakukannya.

Mereka berdiri dan saling menatap sengit. Tapi tak lama, Hinata mendapati mata hitam Sasuke berubah merah dan mulai menampakan bentuk sempurna Sharingan. Untuk beberapa detik Hinata terpaku kaku sebelum kesadarnya kembali dan mendapati Sasuke telah melangkah melewatinya. Hinata jatuh terduduk. Tubuhnya lemas.

Sasuke menyebalkan. Tidak seharusnya dia menggunakan ilusi Mangekyou Sharingan untuk melawan Hinata. Ia juga seorang Shinobi, seharunya Sasuke melawan Hinata dengan keadaan sadar. Apa Sasuke menganggap Hinata lemah? tapi kenyataanya kekuatan Hinata dan Sasuke sangatlah berbeda. Hinata mengakui itu.


Untuk pertama kali sejak menikah Hinata menjejakkan kakinya kembali di kantor Hokage. Ia datang untuk memenuhi panggilan Kakashi. Pintu coklat yang terukir lambang desa Konoha Hinata ketuk pelan. Tangannya memutar kenop pintu kala suara Hokage memberinya izin untuk masuk.

"Oh~ Hinata, Aku sudah menunggumu lama," sapa Kakashi.

Hinata menuduk memberi hormat.

"Maaf jika sudah membuat anda menunggu,"

Ini baru pukul 03:45 sore, artinya Hinata tak perlu meminta maaf karena ia tidak telat dari waktu yang sudah ditentukan.

"Jadi bagaimana misimu?"

Tidak ada basa-basi.

Hinata bingung memulai dari mana. Jadi pertama Hinata ingin menyampaikan kesan Sasuke di matanya.

"Sasuke sangat tertutup."

Kakashi mengangguk paham. Semua orang pasti akan menilai begitu untuk pertemuan pertama dengan Sasuke.

"Kami tak pernah berbicara lebih. Dia selalu menuntup diri dan memilih acuh. Aku sungguh sulit untuk mengerti apa tujuannya dalam misi ini. Langkah yang diambil Sasuke tak pernah bisa aku baca."

"Pernah kalian membahas soal misi tersebut?"

"Jika kami, lebih tepatnya aku membahas soal misi. Itu akan berakhir dengan perdebatan sengit."

"Jadi kalian belum bergerak sama sekali?"

Hinata menggeleng pelan.

"Apa anda punya pendapat soal Sasuke bersikap lamban, padahal misinya bisa dimulai?"

"Entahlah, Mungkin dia menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar memulai misinya. Anak itu sangat teliti. Bisa saja ia sedang menilaimu?"

Menilai Hinata? Untuk apa?

"Sasuke tak gampang percaya dengan orang asing."

Hinata adalah orang asing bagi Sasuke. Meski tahu nama, tapi mereka tak saling kenal. Dan Hinata sedikit paham maksud ucapan Kakashi. Sasuke sedang memperhatikan Hinata. Gerak-geriknya di awasi Sasuke diam-diam. Sasuke tidak mempercayai Hinata yang mungkin saja dirinya seorang mata-mata.

"Aku harap kau lebih bisa mengontrol diri di depan Sasuke,"

Hinata mengangguk paham. Jadi ia harus berakting dirinya bukanlah mata-mata Kakashi. Biar kata Hinata bukanlah mata-mata jahat yang ingin merusak misi Sasuke, tapi jika pemuda itu tahu dirinya seorang mata-mata. Hinata tak yakin Sasuke akan memberi ampun.

"Kakashi-sama,"

"Ya?"

Hinata rasa ia memang perlu menyapaikan peristiwa perginya Sasuke diam-diam saat hari pertama pernikahan.

"Saat kami datang ke kediaman Uchiha. Sasuke pergi meninggalkan rumah dan kembali larut malam dengan luka cukup parah."

Laporan Hinata cukup membuat Kakashi terkejut mendengarnya.

"Aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan luka itu. Sasuke memilih diam."

"Seingatku tidak ada penyusup atau kerusuhan yang terjadi di desa saat pernikahan kalian. Apa kau tidak mendapat sedikit clue dengan siapa Sasuke bertarung?"

"Tidak ada."

"Apa setelah itu sikapnya terlihat mencurigakan?"

Hinata berpikir sejenak untuk mengingat kembali sikap aneh Sasuke setelah kejadian itu. Perempuan ini tertegun kaget. Mungkinkah kepergian Sasuke saat pagi buta ada hubungannya dengan insiden malam itu?

"Maaf jika salah, Sudah tiga hari Sasuke meninggalkan rumah saat pagi buta."

Kakashi menyipitkan mata.

'Apa mungkin Sasuke tidak memberitahu Hinata?'

Sepertinya memang tidak.

Hinata menanti jawaban Kakashi was-was, namun yang ia dapat malah senyum lembut Kakashi.

"Kalian sungguh tak pernah berbicara satu sama lain?"

Jika berbicara yang dimaksud Kakashi adalah ngobrol santai berbagi cerita sehari-hari layaknya seorang partner, itu tak pernah terjadi kecuali 'berbicara' versi Hinata-Sasuke selama ini. Maka Hinata akan bilang pernah.

"Kami hanya bertanya seperlunya." Hinata tidak berbohong sepenuhnya kan?

Kakashi mengangguk paham. Dia bisa mengerti kondisi Hinata jika perkembangan hubungannya dengan Sasuke tidak signifikan. Mereka baru mengenal satu sama lain. Hinata mendengar tawa pelan Kakashi.

"Jangan khawatirkan kemana Sasuke pergi pagi buta, Hinata. Aku memberinya sebuah misi bersama Tim 7."

Tim 7? Naruto dan Sakura. Jadi Sasuke kembali menjalani misi bersama timnya dulu. Hati Hinata bergemuruh malu. Ia seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa dan tidak ada arti keberadaanya untuk mereka.

"Anda tidak memberitahu saya, Hokage-sama?" ada kilatan kesal di mata Hinata.

"Maaf. Aku kira Sasuke akan memberitahu soal misi ini. Wah~ aku tidak menyangka Sasuke secuek itu."

Kakashi saja kaget apalagi Hinata.

"Aku meminta Sasuke untuk melacak jejak penyusup di Hutan Timur. Sasuke sudah menemukan letak persembunyian penyusup tersebut. Jadi, mereka akan memulai menangkap penyusup nanti malam."

Seharusnya Hinata tak perlu tahu secara rinci perihal misi Sasuke. Itu bukan misinya. Hinata tak berhak tahu.

"Tidak seharusnya Anda memberitahu saya misi Sasuke dan perkembangannya, Hokage-sama."

"Yah~ mau bagaimana lagi, kau dan Tim 8 akan menjadi bala bantuan jika Tim 7 dalam bahaya."

Hinata ingin mengajukan keberatannya dan bertanya soal kenapa harus Timnya bukan Tim Shikamaru? Tapi ia sadar, seorang Shinobi tidak boleh menolak perintah Hokage dan lagi misi ini untuk kepentingan desa. Tidak ada alasan lagi bagi Hinata menolak.

"Kalian tidak keberatan kan?" Kakashi melirik kebelakang Hinata.

"Hai,"

"Gukk!"

Kiba, Shino dan Akamaru menjawab serempak.

"Yo, Hinata, bagaimana kabarmu?"

Hinata kaget melihat mereka yang muncul mendadak. Ia tidak langsung menjawab. Hinata nampak menatap rekan timnya sendu. Betapa Hinata merindukan mereka.

"Gukk!" lamunan Hinata pecah kala Akamaru menerjang tubuhnya. Anjing peliharaan Kiba menjilat pipinya penuh semangat. Hinata terkekeh geli. Akamaru tumbuh sangat cepat. Hinata mengusap Akamaru lembut.

"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Hinata."

"Hai, Shino."

"Aw~ kau kaku sekali Shino!" ledek Kiba.

"Jadi,"

"Kalian harus menyiapkan diri tiap saat untuk misi ini," sela Kakashi.

"Hai."

Kakashi menjelaskan lebih jauh soal misi perbantuan tim 7. Kekuatan musuh dan kelemahannya. Apa yang harus mereka waspadai dan terpenting adalah siapa musuh yang akan mereka hadapi nanti.

Hinata bisa mengerti kenapa Sasuke banyak menghabiskan waktu di luar sana. Musuhnya kali ini adalah seorang pengguna mata Rinnegan.

"Kalian bisa pergi,"

Hinata pamit undur diri setelah Kakashi membubarkan pertemuan.


Dipiki-pikir jalan menuju komplek Uchiha selalu sepi. Hanya ada satu dua orang yang melewati jalan ini. Hinata paham ketakutan penduduk desa pada Klan Uchiha. Tapi mendiskriminasi Uchiha adalah Klan pembunuh sudah keterlaluan. Bukankah, mereka sudah mengetahui kebenaran Uchiha? Itachi membunuh seluruh Klan termasuk orangtuanya sendiri demi melindungi desa yang merencanakan kudeta. Dia mengorbankan hidupnya sebagai ninja buronan demi desa yang mereka tinggali dengan nyaman sekarang. Tapi semua itu, Hinata rasa kurang cukup bagi penduduk menghilangkan pandangan buruk tetang Uchiha.

Mereka tetap takut dan memandang penuh amarah pada Uchiha.

Hinata menghentikan langkah. Matanya melihat sekeliling jalan.

"Apa menurut mereka jalan di penuhi pohon Sakura yang mekar seperti ini terlihat menakutkan?"

Hinata tersenyum kecut. Pikirannya melambung jauh pada Sasuke.

'Apa dia juga berpikir jalan ini indah?'

Pernahkah?


Hinata pulang saat Sasuke sudah ada di rumah. Pria itu tengah mengambil air di dapur. Sasuke melirik kecil pada Hinata sebelum membuang pandangannya cuek. Tak ada sapaan atau pembicaraan soal misi. Baik. Hinata juga tidak akan bertanya. Ia akan diam mengikuti permainan Sasuke. Jika Sasuke bertanya soal misi perbantuan Timnya, Hinata akan menjawab tapi jika tidak, Hinata cukup diam menyimpannya sendiri.

Ia tebak jika Sasuke tahu dirinya adalah tim perbantuan, pria itu pasti sudah minta mengganti tim perbantuan. Namun melihat Sasuke tak sedikitpun membahas soal misi, Hinata rasa Kakashi tak memberitahu perihal tim perbantuan pada Sasuke. Maka, Hinata tak akan bertanya lebih dulu soal misi Sasuke.

Sasuke beranjak dari kamarnya setelah persiapan untuk misinya selesai. Ia harus cepat-cepat ke tempat pertemuan Tim 7. Melewati ruang tengah, Sasuke tidak mendapati seseorang di sana. Namun, langkahnya terhenti kala kakinya berada di depan kamar Hinata. Perempuan itu berdiri di depannya. Pandangan Hinata meneliti. Masalah datang lagi. Sungguh, Sasuke tidak punya banyak waktu untuk meladeni Hinata saat ini.

"Hyu-"

"Hati-hati di jalan,"

Satu kalimat yang keluar dari bibir Hinata cukup membuat mata Sasuke menyipit heran.

Ekor matanya mengikuti kepergian Hinata.

Tak ada perdebatan.

Meski heran, Sasuke tak mau ambil pusing. Ia harus pergi sekarang.


Ini adalah misi pertama Tim 7 setelah perang usai. Sedikit banyak kenangan masa lalu muncul di benak mereka. Sakura merasa sangat emosional hanya karena mereka bisa berkumpul bersama seperti sedia kala. Mata hijau miliknya menatap sendu Naruto dan Sasuke bergantian. Ini yang dari dulu Sakura inginkan. Keberadaan mereka kembali untuh sebagai Tim.

"Semua sudah siap?" Naruto bertanya tegas.

"Hai!"

Sakura bisa melihat perubahan Naruto yang lebih matang. Anak laki-laki yang dulu sangat ceroboh dan ceria itu telah berubah menjadi dewasa dan penuh penilaian. Terbukti dengan dinobatkan dirinya sebagai pemimpin Tim pada misi ini. Sakura bangga.

Pandangannya beralih pada sosok yang masih mendiami hatinya sampai sekarang. Senyum Sakura masih mengembang tipis melihat Sasuke. Tidak banyak yang berubah dari Sasuke. Pemuda itu masih pendiam dan dingin. Namun, Sakura bisa merasakan kesungguhan Sasuke untuk melindungi desa.

"Sasuke,"

Merasa namanya dipanggil, Sasuke menoleh kearah Sakura.

Sakura tidak mengatakan apapun. Perempuan itu hanya tersenyum lembut sembari mengusap rambutnya pelan dan berlalu begitu saja. Menyusul jejak Naruto pergi.

"Kenapa?" tanya Sasuke entah pada siapa.


Bagi Sakura, Sasuke bukanlah orang menakutkan atau kejam meski pernah akan terbunuh oleh laki-laki itu. Sasuke tak ubahnya anak kecil polos dengan hati yang sangat rapuh dan Alasan itu lah ia masih tetap mempertahankan cintanya pada Sasuke meski sering kali ditolak Karena Sakura bisa melihat sisi lain Sasuke sebenarnya.


Bagaimana Hinata menjelaskna suasana masion Uchiha saat ini?

Sunyi.

Terlalu sunyi hingga suara dentingan sendok mungkin bisa terdengar sampai luar.

Setidaknya kehadiran Sasuke bisa menghidupkan suasana meski itu sedikit.

Hinata menyusuri lorong rumah. Setelah seminggu tinggal, Hinata belum sempat untuk melihat lebih jauh isi masion Uchiha. Mumpung yang punya sedang pergi dan aman bagi Hinata untuk melihat-lihat tanpa was-was akan kemunculan Sasuke di rumah.

Pintu coklat milik kamar Sasuke menjadi sasaran utama. Meski awalnya ragu, Hinata akhirnya masuk ke dalam. Tidak banyak barang di sana. Sangat simple. Menurutnya, sangat Sasuke sekali.

Hinata meraih pigura berisi foto keluarga Sasuke di atas meja. Hatinya menghangat melihat senyum Sasuke di foto. Saat kecil Sasuke sepertinya periang dan manja. Lihatlah cara Sasuke merangkul leher Itachi saat digendong di foto atau mengenggam tangan kakaknya begitu erat dengan senyum cerah penuh bahagia. Sangat polos.

"Dia terlalu kecil untuk menerima kejamnya dunia Shinobi."

Ia dengar, Sasuke kehilangan seluruh keluarganya saat usianya tujuh tahun. Namun lebih menyakitkan lagi adalah fakta kakak sekaligus panutannya yang membunuh seluruh Klan.

Mungkin jika Hinata berada di posisi Sasuke, ia sudah mengakhiri hidupnya sendiri. Beban mental yang di tanggung Sasuke saat usianya masih sangat belia begitu besar. Kehilangan keluarga, cemohan dari penduduk desa, dianggap anak pembunuh, ditakuti teman-teman sebaya dan dianggap sebuah bahaya untuk desa.

Sasuke menanggungnya sendiri. Ia tumbuh dalam kehidupan yang keras.

Hanya membayangkan saja Hinata merasa sesak.

Mungkin benar, harusnya Hinata tak perlu terburu-buru dengan pendekatan Sasuke. Hinata hanya perlu memahami Sasuke. Pria itu bukan orang yang akan mudah mengutarakan pikirannya. Jadi, Hinata akan mendengar dan memahami apa yang diingin Sasuke.

Untuk saat ini, Hinata ingin menjadi seorang teman bagi Sasuke.


"Sakura mundur!" seru Sasuke menangkis serangan lawan.

Tanpa protes, Sakura mundur bergabung dengan Naruto dan Sasuke.

Nafas mereka terengah-engah. Musuh kali sungguh diluar dugaan mereka. Kekuatannya sebanding dengan Tim 7.

"Naruto kau terluka!" pekik Sakura.

Sasuke mengalihkan pandangannya pada Naruto. Ada sayatan lebar pada lengan kiri Naruto.

"Tak apa Sakura."

Suara tawa musuh menghentikan petarungan sebentar.

"Mengecewakan. Kukira melawan pahlawan perang akan menarik tapi kekuatan kalian sungguh menggelikan."

Naruto menggeram tak suka. Ia tidak boleh terpancing. Lebih baik ia simpan amarah dan kumpulkan kembali tenaga untuk menyerang.

"Naruto-Sakura, kita gunakan rencana B," ucap Sasuke.

Mereka mengangguk paham.

Musuh sangat tangguh. Jika menggulur waktu lebih lama. Maka tenaga mereka akan habis terkuras.

Sakura maju menyerang musuh dengan Okasho. Pukulan sangat keras hingga meluluh lantahkan tanah. Mendapati musuh terkena oleh jurusnya. Naruto langsung menyerang dari belakang menggunakan Rasenshuriken. Jurusnya mengores sedikit tubuh musuh. Hasil lumayan, menginggat musuh adalah pengguna genjustu dan dapat pindah dimensi.

Tanpa buang waktu, Sasuke melemparkan panah Susano kearah musuh sebelum terjadi tranportasi. Panah Susano menancap tepat di dada musuh. Tak ingin membuang kesempatan, Naruto langsung melempar Rasenggan ke arah musuh. Namun sebelum jurusnya mendarat di tubuh sang musuh. Mereka dikejutkan dengan perpindahan musuh yang bisa lolos dari panah Susano.

"Kalian!"

Musuh berdiri dengan tenang di belakang mereka.

"Akan aku musnahkan," dan tawa itu menggiringgi jutsunya menyerang Tim 7.


Kegiatan Hinata terhenti kala panggilan darurat misi Tim 7 dari Kakashi. Maka di sinilah Hinata berserta Kiba dan Shino menghadap Kakashi untuk menerima informasi terbaru tentang keadaan tim 7.

"Mereka terdesak. Naruto terluka cukup parah."

Hinata mendadak cemas mendengar kabar mereka.

'apa dia baik-baik saja?'

Naruto,

Atau

Sasuke?

"Tim 8, kalian boleh pergi sekarang."

"Hai."


Jarak Konoha dengan Yukigakure-tempat persembunyian musuh-terbilang cukup jauh. Butuh waktu dua jam untuk sampai di sana. Informasi yang Hinata dapat mengenai desa tersebut adalah banyaknya para bandit yang ingin menguasai desa dan terjadinya pembantaian warga. Musuh kali ini bersembunyi di Yukigakure.

Laju Tim 8 makin dipercepat kala merasakan cakra Tim 7 tak jauh dari hutan.

"Hinata," panggil Shino.

Hinata yang tahu arti panggilan Shino langsung mengaktifkan Byagukan. Sorot matanya terfokus menyisir area sekitar mereka. Hinata menyipit kala mendapatkan sinyal cakra Tim 7 yang tak jauh dari mereka.

"Mereka berada di sekitar air terjun,"

"Arah barat," tunjuk Hinata.

Shino memimpin di depan. Laki-laki itu langsung menyebarkan serangga miliknya. Radius satu kilo meter Shino menyembunyikan chakra mereka dengan serangga agar musuh tidak menyadari keberadaan mereka.

"Hinata," panggil Kiba pelan.

"Iya,"

"Kau baik-baik saja?"

Harusnya Hinata akan menjawab dengan mudah 'Iya' namun nyatanya lidahnya kelu. Perempuan ini hanya mampu menatap Kiba.

"Musuh kali ini kuat. Naruto terluka parah. Bagaimana dengan Sasuke?"

Ah! Sasuke.

Hinata tersadar. Ia merasa malu juga bersalah. Kiba yang tidak begitu mengenal Sasuke saja sempat memikirkan kondisi pria itu. Namun dirinya yang jelas-jelas adalah istri Sasuke-dimata mereka-malah mengkhawatirkan hal lain.

'Apa-apaan aku ini,'

Sejak mendengar kabar tim 7 dalam keadaan darurat. Otak Hinata terisi penuh dengan kecemasannya pada Naruto. Meski otaknya menyangkal, hati Hinata sepenuhnya memang mengkhawatirkan Naruto.

Hinata merasa seperti wanita jahat. Pendosa sekali.

"Sasuke pasti bisa bertahan. Dia lebih kuat dari yang kita tahu, Kiba."

Jika nanti pun Sasuke tumbang, Hinata lah yang akan maju untuk menolongnya. Setidaknya itu yang bisa ia bantu sebagai partner.


"Hinata," seru Sakura.

Sasuke ingat, kala persiapan misi Kakashi mengatakan akan mengirim bala bantuan untuk timnya. Sasuke menebak jika Shikamaru dan timnya yang akan di kirim. Tapi tidak terpikirkan jika itu adalah tim 8. Apalagi dengan keberadaan Hinata di sini membantunya melawan musuh. Cukup mengejutkan Sasuke.

Hinata menangkis serangan senjata musuh yang diarahkan pada mereka. Gerakkanya cepat. Sasuke yakin jika musuh berhadapan dengan Hinata dengan jarak dekat akan kalah dalam hitungan menit. Jutsu Hinata mematikan. Gerakkan Hinata menyerang titik lemah lawan dengan akurasi 98% tepat sasaran. Klan Hyuuga adalah salah satu pengguna Ninjutsu terbaik. Bisa jadi Kakashi mengirim Tim 8 karena mereka bisa bertarung dengan jarak jauh atau dekat.

"Sasuke, kami akan mengalihkan perhatiannya untuk sementara. Kalian bisa memulihkan tenaga," perintah Shino.

Hinata melirik khawatir Naruto yang terkapar dipangkuan Sakura. Gadis pink itu tengah mengaliri cakra untuk Naruto. Hinata bersyukur luka Naruto tak begitu parah. Ia membuang muka dan bersitatap dengan Sasuke dalam waktu singkat. Hinata tersadar. Ia lupa sesaat jika Sasuke di sini. Lelaki itu nampak baik dibanding Naruto, tapi tunggu, rasanya jantung Hinata akan meloncat keluar kala mendapati luka sayatan panjang di punggung Sasuke. Luka yang kala itu saja belum tertutup rapat dan sekarang di tambah sayatan itu.

'Bagaimana bisa Sasuke diam saja?' geram Hinata. Perempuan ini rasanya ingin memarahi Sakura. Harusnya Sakura mengobati luka Sasuke yang menurut dirinya jauh lebih parah dibanding Naruto. Tapi suara hatinya hanya bisa hanyut terbawa arus kala matanya tertuju pada Sakura.

Mata hijau Sakura terus menyiratkan kecemasan pada Sasuke.

Benar,

Harusnya dari awal amarah bodohnya tak pernah terlintas.

Hinata naif. Tentu saja Sasuke masih pioritas utama untuk Sakura dan semua orang tahu itu. Hinata mengepalkan tangan pelan. Untuk yang kedua, Hinata tersadar akan sikap pengecutnya. Seharusnya Sasuke yang ia khawatirkan bukan Naruto.

Ia pandang punggung tersayat milik Sasuke sendu. Sedikit, Hinata bisa melihat 'Sasuke' sebenarnya. Dibalik sikap dingin dan diamnya, Hinata melihat jiwa melindungi Sasuke. Dia mengorbankan nyawanya untuk orang yang disayangi.

"Sasuke,"

Panggilan Hinata tertelan oleh perintah Shino.

"Hinata, jaga Sakura selagi menyembuhkan Naruto. Kami yang akan menyerang dia. Mengerti?"

Hinata ingin menolak tapi ia tidak boleh bertindak egois. Ia ingin menggantikan Sasuke agar pria itu mendapatkan perawatan dari Sakura. Namun, Hinata sedikit tahu Sasuke pasti akan menolak dan tidak suka diperlakukan lemah oleh perempuan. Jadi ia mengikuti arahan Shino. Ia mengangguk paham.

Tugasnya adalah membantu misi tim 7. Hinata harus bersikap profesional.

Mereka mulai menyerang lagi. Serangan musuh sangat terarah. Hinata cukup kuwalahan menghalau serangan. Sakura yang tengah mengobati Naruto terkadang turut membantu.

Hinata mundur tanpa berhenti menghalau panah kayu runcing yang di arahkan pada mereka.

"Sakura, kita mundur. Cari tempat cukup jauh dari sini," perintah Hinata.

Hinata melihat ke arah Naruto. Sedikit lagi lukanya selesai diobati. Sakura pindah tanpa protes. Hinata menghalau panah yang mengarah pada Sakura dan Naruto.

"Terlalu banyak. Sulit jika seorang diri untuk menghalau ini semua,"

Pertama, ia harus mengamankan Sakura-Naruto, setidaknya sampai perpindahan mereka aman tanpa ada kendala. Panah semakin banyak mengarah kearah mereka. Hinata tahu musuh tengah mengincar Naruto. Hinata mengalihkan pandangannya pada Sakura sekedar ingin tahu kemana tujuan gadis itu. Namun, karena fokusnya terbagi, Hinata tidak sadar adanya ledakan cukup besar yang diarahkan pada mereka. Hinata terlempar cukup jauh. Tak cukup dengan ledakan, musuh melemparkan ratusan panah kayu pada mereka. Hinata tidak sanggup untuk menghindar. Badannya remuk karena ledakan. Saat panah kayu itu hendak mencapai arahnya lalu menusuk dadanya, Hinata melihat samar cahaya ungu melindungi dirinya. Hinata terpaku. Mata putihnya bergetar pelan. Ia pernah melihat cahaya ungu itu sekali saat perang Shinobi dan sekarang Hinata melihatnya lagi dengan pemilik cahaya ungu yang sama. Susanoo milik Sasuke Uchiha.

Wajah Sasuke dipenuhi keringat darah itu tertangkap jelas oleh mata Hinata. Ia bisa merasakan nafas Sasuke yang tersegal dan mata merah lelaki itu yang mengeluarkan darah.

Hinata tidak bisa berkata apapun. Sasuke yang melindunginya. Tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Hinata.

Maka kala ia berada di dalam kurungan lengan Sasuke, Hinata hanya mampu menatap penuh rasa bersalah. Tenggorokannya terasa tercekik saat ingin memanggil nama Sasuke. Meski lirih Hinata sukses memanggil Sasuke dan mendapatkan perhatian laki-laki itu.

Hinata dapat menangkap samar kelegaan dari mata merah Sasuke kala beradu pandang.

Apa yang harus Hinata katakan sekarang? ia hanya mampu terdiam menatap Sasuke. Seharusnya ia mengucapkan terimakasih. Benar itu yang harus Hinata katakan sekarang.

"Terima-"

"Hinata,"

Untuk pertama kali, Hinata mendengar Sasuke memanggil namanya dan untuk pertama juga hatinya dipenuhi dengan kekecewaan pada Sasuke dan dirinya sendiri.

"Tolong lindungi Sakura,"


To Be Continue


Taraaaa...

Saya kembali setelah sekian lama.

Hihihi. Maaf lama buat update chapter 4. Butuh perjuangan sekali lanjutin Aurora. Karena kesibukan saya yang agak gila. Jadi saya selalu kesulitan buat nulis aurora. Semoga updatean saya kali ini gak mengecewakan temen-temen.

Oh ya, kalian pernah baca Fanfiction your wife di akun I.a.m rusti( )? jika ada yang pernah baca dan protes kenapa Your wife gak update2? Guys, aku yang punya akun i.a.m rusti. hihihi akun itu aku lupa passwordnya. Jadi gak bisa update buat next chapternya. Sungguh bukan mau buat kalian nunggu lama atau tahu2 saya menghilang dan lepas tanggung jawab gk nerusin Your wife, Tapi saya lupa password akunnya.

Oke sekian curahan hati saya.

Bagi temen-temen yang mau memberi kritik dan saran diperbolehkan.

Ketemu di chapter 5.

Bye.

Munssi.