WARN! HARDYAOI, ADULTCONTENT!
DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
TITLE : MY MAID
AUTHOR : HIMEVAILLE
PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA
GENRE : HURT/COMFORT
RATE : M
.
HAPPY READING… ENJOY!
.
.
.
Ting tong.. ting tong.. ting tong..
Seorang kurir pengantar barang dengan tidak sabar menekan bel rumah megah di hadapan nya. Tadi malam saat toko tempat nya bekerja sudah akan tutup, sebuah orderan diterima melalui telepon. Parahnya, si pembeli mengancam akan membakar toko tersebut apabila barang pesanan nya tidak sampai pagi-pagi sebelum matahari terbit. Itulah sebabnya kurir yang diperintahkan mengantar barang sudah ada di alamat tujuan pukul 4 pagi.
"Sok sekali orang ini, mentang-mentang orang kaya. Pasti sekarang masih tidur, bikin susah aja" ngomel nya.
Pintu rumah terbuka. Kurir tersebut langsung tutup mulut dan hilang sudah rasa ngantuknya saat melihat siapa si pembeli. Akashi Seijuurou keluar dengan baju tidur jenis night robe bewarna hitam abu-abu, mata nya tetap tampak berkilat meski hari masih gelap.
"S-s-s-selamat pagi tuan, pesanan anda telah sampai"
Kurir itu menyerahkan kotak berukuran sedang dan langsung diterima oleh Akashi, Akash menyerahkan amplop berisi sekian jumlah uang yang jelas kebanyakan. Pintu tertutup kembali, si kurir merasa baru saja melewati jurang kematian.
.
.
Akashi dengan seringai tampannya berjalan memasuki kamar dengan sebuah kotak sedang di tangannya. Di kasur empuk ukuran kingsize miliknya, seorang pemuda yang diketahui bernama Kuroko Tetsuya dari agen pekerja rumah tangga, Momoi Pink, terlihat tidur dengan nyenyak. Pakaian maid yang di kenakan sudah mulai kusut, rok bagian bawah pun tersibak sempurna menampilkan betapa mulus paha Kuroko.
Pemandangan indah ini memberi Akashi sebuah ide cemerlang.
Akashi duduk ditepi tempat tidur, kotak bawaan nya diletakkan di samping nya. Tangan besar nya mengelus perlahan surai biru muda yang sangat lembut. Dengan perlahan pula, Akashi melepas satu per satu pakaian yang masih melekat di tubuh Kuroko.
Kini tidak ada satu benang pun yang menghalangi pandangan Akashi dari tubuh polos Kuroko. Putih, mulus, ramping, nipel yang menggemaskan, leher jenjang yang minta ditandai, sungguh Akashi tidak tahan untuk tidak menyentuh setiap bagian yang ada.
Akashi membuka kotak kiriman tadi, seringaian nya makin tajam karena barang pesanan nya sesuai harapan. Sebuah botol kecil berisi cairan bening dengan label oil diambilnya.
Akashi dengan perlahan menumpahkan cairan di tubuh Kuroko. Mulai dari pundak nya yang lalu menuruni dada rata itu, masuk ke pusar perut, masih mengalir dan turun melumuri penis Kuroko. Akashi melanjutkan dengan menuangkan cairan dari paha atas yang terus mengalir ke mata kaki.
Tubuh telanjang Kuroko yang kini terlihat mengkilat akibat cairan yang terkena sinar lampu semakin membuat gairah Akashi naik ke permukaan.
Kotak tadi kembali di ambil isinya. Kali ini sebuah lonjongan kecil yang tersambung kabel ke alat pengontrol. Sebelah tangan Akashi memegang lonjongan itu yang dimainkan di sekitar nipel Kuroko, lalu sebelah tangan lagi mulai menekan tombol di alat pengontrol.
Lonjongan itu menghasilkan getaran yang menggelikan. Tubuh Kuroko menggeliat tak nyaman. Mata biru muda yang sedari tadi bersembunyi sudah menampakkan wujudnya.
"Ohayou, Tetsuya"
"AKASHI-SAMA?!" Kuroko sedikit berteriak karena kaget tertidur di kamar majikan, Kuroko sangat paham arti tahu diri. Baru setelah itu ia sadar badan nya tidak memakai apapun dan terasa basah oleh sesuatu, lalu rasa geli di bagian nipel nya.
"Akashi-sama, apa yang anda lakukan?!"
"Bermain-main"
Akashi masih bermain di nipel Kuroko, Kuroko mencoba bangkit dari posisi berbaring namun saat akan duduk ia merasa nyeri di bagian pantatnya. Kuroko baru ingat bahwa tadi malam ia di perkosa dengan entengnya oleh majikan baru nya di hari pertama bekerja.
Kuroko kembali berbaring dan Akashi menyudahi permainan nya di nipel Kuroko.
Akashi kembali mengambil sesuatu dari dalam kotak. Sebuah alat berbentuk sarung yang juga di lengkapi dengan kabel dan alat pengontrol.
Akashi memegang barang itu di tangan kanan nya, tangan kiri ia pakai untuk menggoda penis Kuroko agar tegang sempurna.
"Akashi-sama, tolong hentikan.."
Kuroko berusaha mengelak tapi tangan Akashi begitu lihat menggapai penis Kuroko dan mengocoknya.
"Ahk.. Akashi-sama hentikannn..!"
Kuroko mengeraskan suara nya tapi Akashi hanya pura-pura tuli.
Setelah tegang sempurna, alat berbentuk sarung itu disarungkan ke penis Kuroko. Tangan Kuroko berusaha melepaskan alat tersebut namun tangan nya segera ditangkap oleh tangan Akashi yang jauh lebih besar dari tangan nya.
Kedua pergelangan tangan Kuroko didalam satu genggaman tangan Akashi dan diletakkan di atas Kepala Kuroko. Akashi yang setengah berbaring disamping Kuroko mulai mencium bibir Kuroko dengan ganas sambil menjinakkan tangan Kuroko yang terus memberontak.
"Hah.. hah.."
Kuroko kekurangan nafas yang membuat tenaga nya untuk memberontak berkurang. Kesempatan ini dimanfaatkan Akashi untuk memasang dengan benar sarung pada penis Kuroko.
Sesudah dipastikan tepat, alat pengontrol ditekan. Sarung itu bergetar yang juga membuat penis Kuroko bergetar mengikuti arus getaran.
"Ahhkk geli… Akashi-sama tolong… hentikann"
"Memohon lah pada ku, Tetsuya"
"Kumohon Akashi-sama, tolong hentikan… ku mohon"
Akashi mengartikan pemohonan untuk berhenti itu menjadi permohonan menambah permainan. Tombol pengontrol ditekan lagi. Getaran yang dihasilkan semakin kuat dan kencang. Tubuh Kuroko menggeliat-geliat dan kaki nya menghentakkan-hentakkan kasur.
"AHhh.. Ahhh.. Akashi-sama…"
"Sepertinya kau menikmatinya, Tetsuya.."
"T-tidak.. tolong hentikan ini"
Meski menolak untuk menikmati, rangsangan getaran yang kian bertambah kecepatan nya membuat Kuroko merasakan sesuatu akan segera menyembur dari penis nya.
"Akashi-sama… aku tidak tahan lagi.. ahh hentikann.. ahh.. ahh ku mohon, Akashi-sama"
Akashi hanya menyaksikan pemandangan yang dihasilkan dari ide nya. Tubuh Kuroko yang licin karena oil di awal permainan tadi. Nipel yang menegang dan bewarna kemerahan. Penis yang sedang bergetar-getar, serta desahan dari bibir mungil yang minta dilumat tiap saat. Penis Akashi di balik celana dalam nya telah menegang sempurna.
"Ahhhhk… Akashi-samaaaa…"
Sperma Kuroko memenuhi sarung barang tadi. Alat itu berhenti bergetar dan dilepas oleh Akashi. Sperma Kuroko yang melumuri penis Kuroko di sapu dengan jari telunjuk Akashi.
Jari telunjuk itu lalu Akashi masukkan kedalam mulutnya, menjilat dan mengulum jari nya sendiri, menyesap cita rasa yang tersaji. Wajah Kuroko memerah sepenuhnya saat menyaksikan pemandangan erotis dimana sang majikan yang menjadi model utama nya.
"Manis" komentar Akashi
Akashi melepas night robe nya. Begitu celana dalam dilepas, penis Akashi langsung tampak dengan gagah dan bersemangat.
"Akashi-sama, tolong… jangan lagi"
"Tetsuya mau main curang ya? Tetsuya barusan sudah keluar, sekarang giliran ku"
Akashi membalikkan tubuh Kuroko, mengangkat pinggang Kuroko dan menjadikan lutut sebagai sanggahan nya.
Lubang kenikmatan yang telah membuat Akashi candu langsung terpampang didepan mata nya. Akashi mendekatkan bibirnya ke lubang itu. Mencium dan bermain lidah disana.
Setelah lubang itu cukup basah, Akashi segera memposisikan penis nya untuk menerobos masuk.
"Arghhhh… Akashi-sama.. sakitttt"
"Ahh Tetsuya.. ini nikmat"
Penis Akashi terasa sangat hangat didalam lubang Kuroko.
"Tetsuya, bergerak"
"Apa maksud—"
"Kubilang bergerak!"
Kuroko memaju mundurkan badan nya, merasakan setiap mundur kembali ada sesuatu yang menusuk titik didalam sana yang mengundang kenikmatan
"Akk-Akashi-sama.."
Akashi tidak tahan dengan gerakan Kuroko yang malu-malu, menggoda penis nya dengan himpitan yang begitu ketat dan hangat.
Akashi mencengkram pinggang Kuroko, kali ini Akashi bergerak cepat mendominasi pertunjukkan utama.
"Ahh.. ahh.. Akashi-sama"
"Oh yess.. Tetsuya.."
Sebelah tangan Akashi menggenggam penis Kuroko yang bergelantung seenaknya.
"Ahh.. Akashi-sama…."
Akashi semakin kuat menubruk titik nikmat Kuroko, tubuh Kuroko menggeliat menahan rasa nikmat.
"Tetsuya.. kau membuatku.. candu.. ahh"
Tusukan semakin cepat, tangan Akashi pun mengocok penis Kuroko dengan cepat
"Akashi-sama… aku.. akuu.."
"Bersamaan Tetsuya.."
Satu tusukan kuat dan menyemburlah sperma Akashi didalam lubang Kuroko, begitu pula penis Kuroko yang kembali menyemburkan sperma nya membanjiri sprei kasur.
Kedua nya terengah-engah. Akashi memandangi Kuroko yang sibuk menghirup oksigen. Entah mengapa Kuroko begitu membuat Akashi candu, padahal wanita lain yang pernah ia tiduri tidak pernah begini.
Akashi turun dari kasur dan berlalu ke kamar mandi, sementara Kuroko masih menormalkan pernafasan nya dan detak jantungnya.
Tidak pernah terfikirkan oleh Kuroko bahwa hidupnya akan begini. Saat memilih menjadi maid yang gaji nya lumayan, Kuroko tidak pernah berfikir akan mengalami kejadian begini meskipun ia sudah sering mendengar atau membaca berita tentang pemerkosaan terhadap pembantu oleh majikan.
Kuroko bangun dari kasur sambil menahan perih di bokong. Ia melepas sprei yang telah kotor akibat permainan dari majikan nya dan memungut pakaian yang berserakkan di lantai.
Sebelum keluar kamar, Kuroko melirik kotak yang sedari tadi telah membuatnya penasaran karena majikan nya mengambil barang-barang aneh dari dalam kotak itu.
Kotak itu dibuka sedikit dan betapa terkejutnya Kuroko melihat masih ada beberapa barang-barang aneh didalam nya. Seketika itu juga otak nya telah memasang alarm bahwa akan ada permainan yang lebih ekstrim daripada tadi malam dan barusan.
Meneguk ludah dengan susah payah dan berjalan tertatih, Kuroko meninggalkan kamar sang majikan sambil memikirkan nasib nya kedepan.
.
.
Suara yang timbul dari bertemu nya sepatu pentofel dan lantai keramik menginterupsi setiap indera pendengaran yang kebetulan ada disekitar sana.
Akashi Seijuurou berjalan dengan gagah berani menuju ruangan nya dalam kantor perusahaan nya. Setiap karyawan yang melihat wujudnya wajib memberi hormat, namun hari ini semua karyawan merasa aneh karena boss mereka yang biasanya bertampang sangar hari ini malah senyum-senyum. Senyuman Akashi lebih menakutkan dari wajah sangar nya.
Sekretaris Akashi, Mibuchi Reo, pun terheran-heran. Segeralah ia menghampiri Akashi saat Akashi telah masuk dalam ruangannya.
"Sei-chan, Ohayou. Hari ini sepertinya kau sedang bahagia ya? Ada apa?"
"Apa kau perlu tau urusan pribadiku, Reo?"
"Pribadi? Ohh.. kau mendapat asupan ya? Dari wanita kelas atas mana sampai kau begitu bahagia?"
"Dia bukan wanita"
Mendengar itu, Mibuchi kaget, namun sedetik kemudian ia malah bahagia. Dengan pernyataan ini yang membuktikan bahwa boss tercinta nya banting setir pindah haluan membuat nya berfikir akan mendapat kesempatan besar untuk turut mencicipi bagaimana kenikmatan dari boss nya.
"Reo, apapun yang ada dipikiranmu yang berhubungan dengan ku, enyahkan lah!"
Pikiran kotor Mibuchi langsung bersih seketika.
Akashi memulai pekerjaan nya dengan lincah, ia ingin segera selesaikan pekerjaan nya lalu pulang dan bermain dengan mainan baru nya. Hal menyenangkan yang kini telah hadir dalam hidup Akashi.
.
.
Kuroko mulai membersihkan ruangan demi ruangan yang ada dilantai 2, namun pikiran nya masih terikat pada kejadian yang menghancurkan mental. Untung saja mental Kuroko sekuat baja.
Pipi Kuroko tiba-tiba memanas saat rangkaian peristiwa yang ia alami dari mulai menginjak kaki dirumah megah ini sampai beberapa saat lalu saat Akashi mencium pucuk kepalanya ketika hendak berangkat kerja muncul di pikiran nya dengan sangat jelas.
Kuroko menggeleng-geleng kan kepalanya, ia harus fokus pada pekerjaan nya. Ia jauh-jauh datang kesini bukan untuk main-main meskipun telah dimainin oleh majikan nya.
Dari balkon ruangan lantai 2 yang arah pandang nya pada lantai 1, Kuroko dapat melihat maid lain sibuk membersihkan ruangan bagian masing-masing, mereka tampak sudah usia ibu-ibu.
Pikiran konyol terlintas dalam otak Kuroko
"Apa mereka juga pernah di mainin oleh Akashi-sama tidak ya?"
.
Kuroko turun dari lantai 2, bermaksud untuk menyapa maid lainnya dan sedikit kenalan.
"Anoo.."
"Huaaaa! Siapa kau? Maling ya? Mau ambil apa? Pergiiii!"
Maid itu terkejut dengan kehadiran Kuroko yang tak terdeteksi sampai-sampai mengarahkan sapu yang kebetulan sedang dipakai kearah Kuroko.
"Sumimasen. Saya maid baru disini. Yoroshikune Onegaishimasu"
"Oh maid baru ya? Khusus lantai 2?"
"Iya"
Mereka pun akhirnya berbincang setelah pekerjaan maid itu selesai, Kuroko banyak mengetahui tentang majikan nya yang ternyata benar-benar orang yang menakutkan. Kuroko pun terkejut saat mendengar bahwa sudah banyak maid yang dipecat, sisa 6 maid ini adalah maid senior yang dipekerjakan dari rumah ayah Akashi, makanya mereka paham betul watak Akashi dan bisa bertahan sejauh ini. Lalu Kuroko juga baru sadar semalaman rumah ini hanya ada dia dan Akashi, ternyata para maid lain hanya bertugas di jam yang telah di tentukan lalu langsung pulang. Fakta itu lantas menjawab pertanyaan pikiran Kuroko tadi mengenai 'apa mereka pernah dimainin Akashi?' dan jawabannya jelas tidak.
Entah harus merasa istimewa atau meratapi nasib nya yang malang, intinya Kuroko sudah di klaim seumur hidup oleh majikan nya.
.
.
Pukul 6 sore dan rumah hanya menyisahkan Kuroko seorang, para maid yang bekerja sore hari sudah pulang kerumah masing-masing. Kuroko bingung mau ngapain. Bersih-bersih sudah, masak sudah, mandi sudah, kini ia hanya berjalan melihat-lihat isi rumah Akashi.
Tidak beberapa lama kemudian, suara mobil yang memasuki perkarangan rumah terdengar jelas. Kuroko berjalan cepat untuk segera membukakan pintu.
"Okaerinasai Akashi-sama"
"Tadaima"
Akashi tersenyum melihat Kuroko lalu menyerahkan sebuah kantongan paper bag.
"Apa ini Akashi-sama?"
"Pastikan kau memakai nya malam ini"
Akashi lalu melenggang masuk ke kediamannya. Kuroko masih mematung di ambang pintu, perasaan tidak enak sudah menggerumuni. Diliriknya isi didalam paper bag. Mata biru muda itu membulat dan alarm tanda bahaya berbunyi.
Tanpa Kuroko sadari, Akashi yang masih dalam perjalanan menuju lantai 2 diam-diam tersenyum geli melihat reaksi Kuroko setelah mengetahui isi paper bag itu.
.
.
Setelah makan malam selesai, Akashi memerintahkan Kuroko untuk memakai apa yang tadi ia berikan kemudian menemui Akashi diruang tengah.
.
Akashi duduk di salah satu sofa dalam ruangan itu, ia sibuk memilih alat apa yang akan menjadi pelengkap permainan nya malam ini. Saat telah menemukan yang cocok, Kuroko pun telah berada di akses masuk ke ruangan.
Akashi yang menyadari kehadiran Kuroko langsung melihat nya, seringaian muncul dengan cepat.
Terlihatlah Kuroko yang memakai lingerie seksi berwarna merah yang panjangnya hanya sebatas paha. Warna merah itu begitu cocok dipadukan dengan kulit putih Kuroko. Ditambah semburat merah dikedua belah pipi Kuroko, begitu menakjubkan.
"Tetsuya, kemarilah dan duduk disitu"
Akashi meminta Kuroko untuk duduk disofa yang berada dihadapannya. Kuroko dengan langkah yang sangat pelan berjalan mengikuti perintah.
"Akashi-sama, kenapa anda menyuruh saya memakai pakaian begini?"
"Karena Tetsuya sangat sexy dengan pakaian begitu"
Kuroko memalingkan wajah nya kesamping, menghindari tatapan mesum dari majikan nya.
"Tetsuya, aku yakin kau ingat bahwa perintah ku adalah mutlak, iya kan?"
Kuroko menganggukan kepala nya sebagai jawaban
"Nah.. karena begitu.."
Akashi mengeluarkan benda yang telah ia pilih dari kotak yang masih sama, lalu menyerahkan kepada Kuroko. Kuroko menatap benda itu binggung. Benda yang panjang dengan bentuk lonjong menyerupai sebuah penis namun dengan tekstur kenyal.
"Bermasturbasi lah untukku, Tetsuya"
.
.
.
TBC
.
.
.
Hello! Hello!
Bagaimana dengan ff ini? hehehe Fav/Follow/Review akan sangat bermanfaat bagi perkembangan saya dan fic saya.
Terimakasih sudah membaca~
