WARN! HARDYAOI, ADULTCONTENT!

DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI

TITLE : MY MAID

AUTHOR : HIMEVAILLE

PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA

GENRE : HURT/COMFORT, ROMANCE

RATE : M

.

HAPPY READING… ENJOY!

.

.

.

...

"Nah.. jika begitu.."

Akashi mengeluarkan benda yang telah ia pilih dari kotak yang masih sama, lalu menyerahkan kepada Kuroko. Kuroko menatap benda itu binggung. Benda yang panjang dengan bentuk lonjong menyerupai sebuah penis namun dengan tekstur kenyal.

"Bermasturbasi lah untukku, Tetsuya"

Kuroko terkejut bukan main, bola matanya mendelik tajam untuk otak majikan nya yang kebablasan rem. Setelah berperan sebagai yang menusuk, kini Akashi malah pengen lihat proses tusuk menusuk itu seperti apa.

Kuroko bangkit dari sofa sambil menahan malu, ia mencampakkan mainan yang tadi telah Akashi beri, dengan emosi yang kian meninggi ia berjalan keluar dari ruangan itu.

Belum berhasil keluar, tangan nya sudah ditarik oleh Akashi. Akashi kembali mendudukan Kuroko di sofa tadi.

"Akashi-sama.. tolong hentikan perbuatan anda!"

"Jika aku tidak mau, Tetsuya juga tidak bisa mencegah. Lakukan saja Tetsuya"

"Tidak mungkin aku bisa melakukan yang seperti itu!"

Kuroko mencoba lepas dari cengkraman Akashi.

Akashi murka. Akashi tidak suka jika permintaan nya tidak dipenuhi, apalagi dibantah.

"Cepat lakukan Tetsuya!" bentak Akashi

Kuroko terkejut dengan bentakkan itu, ia beranikan diri untuk melihat wajah Akashi yang sudah mengeras menahan amarah yang siap meledak.

"Mungkin Tetsuya tiba-tiba lupa, jadi akan ku ingatkan lagi bahwa perintah ku adalah mutlak. Jika Tetsuya tidak melaksanakan nya, bukan hanya dipecat, Tetsuya akan merasakan hal yang lebih parah dari itu. Sadari posisimu!"

Setiap kata diberi penekanan yang keras. Kuroko sadar ia baru saja memanggil setan dalam diri Akashi untuk datang ke dunia nyata.

Kuroko jelas malu untuk melakukan apa yang Akashi minta namun alarm tanda bahaya besar telah berdering.

Lebih cepat lebih baik, pikir Kuroko.

Akashi menyeringai mesum ketika Kuroko telah menjinak dan tidak melawan lagi. Akashi kembali duduk di sofa seberang dari sofa yang Kuroko duduki. Akashi berpangku dagu sambil menunggu live action yang akan segera tayang.

"Pastikan kau melakukan yang terbaik, Tetsuya"

Kata pengantar diucapkan sebelum adegan live action itu benar-benar dimulai.

Kuroko malu-malu mulai melepas lingerie yang ia pakai, lingerie itu meleset turun dari badannya, tubuh ramping putih mulus nya telah tersaji di hadapan mata dwiwarna yang membara karena nafsu.

Jari-jari pada tangan kanan Kuroko ia pakai untuk menggoda nipel nya sendiri, sementara jari-jari pada tangan kiri nya bergantian dimasukkan ke mulutnya, melumuri jari-jari itu dengan saliva nya sendiri.

Gerakan Kuroko benar-benar membakar gairah. Akashi sampai meneguk ludah berkali-kali.

Lalu jari-jari yang telah basah ia gunakan juga untuk bermain di nipel sebelah kiri.

"Nghh…"

Meskipun harus menahan malu, permainan yang ia lakukan tetap memberi efek rangsangan yang nikmat.

Puas bermain di nipel, tangan Kuroko menelusuri perut ratanya hingga sampai pada celana dalam nya yang masih membungkus junior nya.

Kuroko menggelus-ngelus penis nya sendiri masih dari luar celana dalam.

Ulesan nya semakin lama berubah menjadi genggaman dan pijatan. Penis Kuroko tegang dan tidak nyaman lagi ditahan oleh celana dalam, maka Kuroko melepaskan celana dalam nya.

Tangan kanan Kuroko mulai mengenggam penis nya, memilin kepala penis yang sangat sensitive itu. Lalu menurun naikkan batang nya. Sebelah tangan lagi ia pakai untuk memijat dua bola yang menggelantung bebas.

"Ahhh.."

Desahan lolos seiring permainan nya sendiri yang semakin menggoda.

Akashi tidak berkedip sedetikpun, pertunjukkan live ini wajib ia abadikan dalam memori otak nya, tanpa kekurangan satu bagian adegan pun.

Kuroko menghentikkan permainan pada penis nya. Ia lalu mengambil kembali alat yang tadi Akashi beri tapi telah ia campak ke lantai.

Alat itu diambil, lalu bentuk lonjong panjang nya dimasukkan dimulutnya sendiri. Mengulum dan menghisap layaknya makan lollipop.

'Shit!' umpat Akashi dalam hati.

Penis Akashi sudah sangat sesak, minta dibebaskan segera. Permainan Kuroko sungguh diluar dugaan nya. Kuroko yang telah bertelanjang, wajahnya yang bersemu merah, badan nya yang berkeringat, nipel nya yang telah basah-basah tegang, penis nya yang tegang berkedut, semua nya benar-benar menyiksa junior Akashi yang masih sembunyi.

Kuroko lalu mengangkang dengan melebarkan kaki nya dan meletakkan kaki nya pada pinggiran sofa tunggal yang ia duduki. Alat menyerupai penis yang telah cukup basah Kuroko arahkan di lubang nya.

Pelan-pelan ia masukkan alat yang cukup besar itu.

"Arrrghh…"

Ia masukkan sedikit hanya untuk melongggarkan lubang nya. Lalu memasukkan sedikit lagi untuk menggoda kenikmatan pada dirinya, dan mendorong lebih masuk lagi hingga alat panjang itu menyentuh titik nikmat dalam lubang nya.

"Ahhh~.."

Kuroko memalingkan wajah nya kesamping, mengesampingkan rasa malu nya, permainan yang ia mainkan ternyata cukup kuat untuk membangkitkan gairah dan kesenangan.

Kuroko memaju mundurkan alat itu dengan tempo yang teratur.

"Ahh.. ahh.. Akashi-sama.."

Akashi sedikit terkejut saat Kuroko memanggil namanya yang disatukan dengan desahan yang merdu, tapi sebenarnya Akashi sangat puas dengan hal itu.

"Ya Tetsuya. Sebut nama ku"

"Ahhh ahh.. Akashi-sama.. Akashi-sama.."

Kuroko mempercepat gerakan memaju mundurkan alat itu, sebelah tangan nya yang bebas ia pakai untuk mengocok penis nya.

"Akashi-sama.. Akashi-sama.. ahhh ahhh.."

'Damn! Damn! Shit…!' batin Akashi

Akashi tidak tahan lagi. Ia segera bangkit dari duduknya kemudian menelanjangi dirinya sendiri.

Dengan cepat ia mendekati Kuroko yang masih mengangkang dengan alat yang keluar masuk dilubang nya. Akashi mencabut alat itu dan langsung mengantikan nya dengan penisnya yang sudah tegang sempurna.

Akashi tidak rela melihat Kuroko kenikmatan dengan alat mainan yang begitu, Kuroko hanya boleh kenikmatan dan merasa puas dengan penisnya.

"Ahhkkk Akashi-sama…"

Kuroko tersentak kaget dengan perubahan benda yang memasuki lubang nya secara tiba-tiba.

"Tetsuyaa.. ahh"

Akashi bergerak cepat. Kedua kaki Kuroko yang tadi diletakkan pada pinggiran sofa kini Akashi angkat dan meletakkan di pundaknya.

Posisi ini membuat lubang Kuroko semakin menghimpit erat penis Akashi.

"Sial! Tetsuya.. mengapa kau senikmat ini.. ahh.."

"Ahhh.. Akashi-sama.."

Posisi ini juga membuat Kuroko merasakan dengan jelas kehadiran penis Akashi dilubang nya.

Akashi semakin memburu kenikmatan itu, tanpa memberi aba-aba dan tidak dapat ditahan lagi, Akashi menyemprotkan seluruh sperma yang sejak tadi telah ditahan.

Kuroko merasakan cairan hangat yang memenuhi lubang nya serta penis nya yang kini dikocok Akashi. Dengan itu Kuroko pun menyemburkan sperma nya hingga mengenai dada bidang Akashi.

Kedua nya ngos-ngos an karena permainan yang begitu cepat.

Namun penis Akashi belum tertidur, masih berdiri dengan gagah.

Akashi kemudian mengangkat tubuh Kuroko, menarik tubuh Kuroko berdiri sejenak sementara Akashi duduk di sofa yang tadi Kuroko duduki. Akashi lalu membawa Kuroko untuk duduk mengangkang di pangkuannya, keduanya saling berhadapan.

Penis Kuroko yang telah setengah lemas kembali digoda.

Akashi menyatukan penis mereka, lalu menggesek-gesekkan nya.

"Engghh… Akashi-sama.."

Akashi mengulum bibir Kuroko, mengajak lidah nya untuk berdansa dengan music desahan yang mengitari.

Satu tangan Akashi yang tidak ngapa-ngapain kini berjalar ke bokong Kuroko. Jari tengah Akashi dimasukkan kedalam lubang yang ada disana.

"Hmmmmppth…"

Desahan Kuroko tenggelam dalam dansaan lidah mereka.

Akashi tersenyum puas saat melihat penis Kuroko telah menegang sempurna karena godaan yang ia lancarkan.

Ciuman mereka dilepas berikut pula jari Akashi yang keluar dari lubang.

Akashi sedikit mengangkat tubuh Kuroko, lalu menempatkan dengan tepat penis nya pada lubang Kuroko. Akashi menarik tubuh Kuroko turun dan jleb.. penis Akashi langsung menancap sepenuhnya.

"Argggghh….."

Kuroko menjerit hebat. Tubuhnya ikut bergetar karena lubang sempitnya diterobos dengan kuat oleh senjata Akashi dan langsung menuburuk g-spot nya.

"Akashi-sama… arghhhhh.."

"Tetsuyaa.. Tetsuya.. dalam sekalii.."

Akashi menaik turunkan pingulnya untuk memasuk keluarkan penis nya. Rambut Kuroko yang telah basah oleh keringat dan ikut naik turun menambah sensasi manis dalam permainan mereka.

"Ahh.. ahh… Akashi-sama.. aku.."

Kuroko ingin keluar. Setiap penis Akashi bergerak masuk selalu langsung menubruk titik g-spotnya. Posisi ini memberi banyak kenikmatan yang bisa ia raih dalam satu tusukan.

"Tunggu Tetsuyaa.."

"T-tidak bisa.. aku.. tidak t-tahan la-lagi.. ahh .. ahh"

Tangan Akashi mengenggam erat penis Kuroko, menutup lubang pada penis Kuroko untuk mencegah Kuroko mengeluarkan spermanya

"Akashi-sama…!"

Kuroko terkejut, ia tak tahan lagi. Kepala nya begitu pusing karena tertahan untuk keluar.

Akashi tidak memperdulikan Kuroko, ia fokus pada rasa nikmat dari lubang yang memijat penisnya.

"Akashi-sama.. tolongg.. ahh….."

"Sebentar lagi Tetsuya.."

Kuroko menggila. Kepala nya seperti akan meledak. Kedua tangan nya meremas-remas rambut Akashi.

Akashi semakin mempercepat tusukan nya. Suara tabrakan antar kulit terdengar jelas memenuhi ruangan itu.

"Ahhh.. ahh.. Akashi-sama.. tolong.."

"Iya Tetsuya.. ahh sabar… hmppp"

Akashi memejamkan matanya. Nafasnya sudah memburu tak beraturan begitu pula dengan Kuroko. Beberapa tusukan lagi lalu tusukan kuat dan panjang dilakukan sebagai aksi penyemprotan sperma. Akashi melepas genggaman nya pada penis Kuroko yang langsung menyemburkan cairan putih kental.

"Akashi-sama…"

"Ngghh.. Tetsuyaa.."

Kuroko menyandarkan kepala nya pada pundak Akashi, Akashi menyandarkan kepalanya pada dada Kuroko. Akashi dapat mendengar jelas degup jantung Kuroko yang memompa sangat cepat.

Entah Kuroko yang awalnya malu atau Akashi yang memang pengen, keduanya kini sama-sama lega karena telah melepas hasrat yang sangat mengebu-gebu

.

.

Hari-hari yang Kuroko jalani sebagai seorang maid dirumah tempatnya bekerja sebenanya tidak menyulitkan. Ia hanya perlu membereskan lantai 2 yang padahal memang sudah rapi bersih, lalu memasak makanan untuk majikan nya, dan yang paling penting 'memuaskan' majikan nya.

Yang terakhir itu yang awalnya sering membuat Kuroko risih, tapi kini Kuroko sudah terbiasa dengan itu bahkan Kuroko mengakui bahwa Akashi memang jago dalam urusan tusuk menusuk. Kuroko hanya mengakui dalam hati, tentu saja tidak berani bilang pada Akashi.

Hari ini sudah pas satu bulan ia bekerja disini, tapi perbuatan seks mereka tidak seperti jumlah hari dalam satu bulan, malah berlipat-lipat ganda dari itu.

Kuroko menghela nafas panjang. Ia sedang sendirian dikamarnya yang juga berada dilantai 2. Awalnya kamarnya ada dilantai 1, tapi Akashi menyuruhnya pindah ke lantai 2. Katanya sih agar mudah kalau mau 'panggil'.

Sebenarnya Kuroko kadang sering baperan sendiri saat ingat-ingat lagi permainan yang Akashi mainkan bersamanya. Akashi itu yang pertama bagi Kuroko, wajar lah perasaan nya jadi tidak menentu begini. Kuroko juga kadang berfikir apakah Akashi hanya sebatas menjadikan nya pemuas nafsu, atau Akashi juga punya perasaan khusus untuknya?

"Tetsuya.."

Suara Akashi dari depan pintu kamar menariknya kembali ke alam nyata. Ia buru-buru berjalan membuka kan pintu setelah berhasil meredakan detak jantung yang terkejut dan juga menghilangkan pikiran bapernya. Ia harus sadar diri, ia hanya maid disini. Tidak baik jika mengharap lebih, padahal mah mereka sudah berbuat lebih-lebih. Lagian Akashi itu terkenal dan bermartabat, mana mungkin memilih pasangan yang hanya seorang maid.

"Ada apa Akashi-sama?"

"Nih.."

Akashi menyodorkan sebuah amplop coklat yang sangat tebal.

"Ini.."

"Ini gaji mu Tetsuya"

Kuroko bahkan sampai lupa bahwa ia digaji. Ia memang anak baik yang sering menolong orang dengan ikhlas, tapi sekarang ini Kuroko lupa karena memang ikhlas bekerja atau karena terlena dengan 'pekerjaan' nya. Kuroko menggerutu dalam dirinya sendiri karena lupa pada hal yang menjadi tujuan setiap orang bekerja.

Kuroko menerima amplop itu, benar-benar tebal. Kuroko mengintip isi amplop yang semua nya adalah uang, bukan daun atau kertas leceh-leceh. Sejak awal mereka memang tidak membicarakan gaji, hanya boss Kuroko mengatakan bayarannya besar tapi Kuroko sama sekali tidak menyangka sebesar ini bayaran nya.

"Akashi-sama, apa ini tidak kebanyakan?"

"Tentu tidak Tetsuya, itu setimpal dengan semua pekerjaan yang telah kamu lakukan"

Kuroko tersinggung mendengar itu. 'melayani' Akashi juga sudah termasuk pekerjaan nya meskipun Akashi yang memaksa. Kuroko kembali menyodorkan amplop itu pada Akashi.

"Maaf Akashi-sama, jika pekerjaan yang anda hitung termasuk per-perbuatan s-sek-s itu, maka saya tidak bisa menerima semua uang ini" Kuroko sedikit terbata-bata mengatakan hal khusus dalam pekerjaannya.

Kuroko tidak mau dianggap sebagai lelaki bayaran. Meskipun telah dicoblos berkali-kali tetap saja ia bukan lelaki murahan yang dibayar-bayar. Ia sangat tidak suka jika dianggap begitu.

Akashi binggung menatap Kuroko, biasanya setiap wanita yang pernah ia 'pakai' akan sangat bahagia menerima uang sebanyak itu, bahkan ada yang berani meminta lebih. Tapi Kuroko malah menolak. Jika menyangkut harga diri, justru ini Akashi mau bayar harga untuk diri Kuroko.

Akashi dan Kuroko saling tatap menatap, kemudian Akashi senyum dalam seringaian nya. Otak jenius nya menarik satu kesimpulan bahwa harga untuk diri Kuroko adalah tak terbayar dengan uang.

"Baiklah Tetsuya. Aku tidak membayar untuk pelayanan khusus itu, tapi simpan lah semua uang itu. Anggap saja bonus bulanan"

Kuroko mengangguk senang. Jujur saja ia juga tidak mau munafik, siapa sih yang bisa menolak uang? Tapi jika harus menyangkut harga diri, Kuroko tidak akan menyentuh uang haram namun ini kan Akashi sudah berkata tidak membayar untuk hal itu, jadi uang ini halal hasil kerja nya.

"Tetsuya.. aku juga punya bonus lainnya"

Akashi menyerahkan sebuah paper bag. Batin Kuroko sudah tak nyaman, sudah lama ia tak menerima hal aneh dari sebuah paper bag serahan Akashi. Kali ini Kuroko coba berfikir positif, kali aja memang sebuah bingkisan untuk apresiasi nya sanggup bekerja dirumah yang kata banyak orang rumah setan merah.

Kuroko menerima paper bag itu dan segera melihat isinya. Mata Kuroko membulat lalu detik berikutnya menjadi sayu tak bersemangat. Ia memandang Akashi yang telah menyeringai penuh arti.

Paper bag berisi baju-baju maid yang banyak kreasi warna, dan beberapa mainan-mainan baru, lalu tak ketinggalan kolor renda-renda.

"Arigatou Akashi-sama" ini ucapan terimakasih yang paling tak ada ikhlasnya yang pernah terlontar dari mulut Kuroko.

"Sama-sama Tetsuya. Nah, karena Tetsuya sudah mendapat banyak bonus, sekarang giliran aku mengambil bonusku"

"Eh?"

Akashi mendorong Kuroko masuk dalam kamar dan pintu kamar tertutup dengan debaman keras. Selanjutnya yang terdengar dirumah mewah yang hanya dihuni makhluk merah dan biru yaitu suara-suara lenguhan dan desahan yang ribut.

.

.

Kicauan burung pada pagi hari yang kadang singgah dihalaman belakang rumah Akashi terdengar merdu berirama.

Kuroko sedang mencoba memaksa sarapan untuk majikan mesum nya. Sebenarnya Akashi tidak susah dalam hal makanan, ia tidak milih-milih makanan tapi kalau sudah kambuh mesum nya, makanan yang diminta kadang bisa aneh. Seperti pagi ini.

"Akashi junior juga perlu makan, Tetsuya"

"Dia tadi malam sudah makan berkali-kali"

"Ini sudah pagi Tetsuya, dia butuh sarapan"

"Dia pasti sudah kenyang, Akashi-sama"

"Tidak Tetsuya! Dia lapar. Apa Tetsuya tidak bisa merasakan kelaparan nya?"

Akashi mengeratkan pelukan nya dari belakang Kuroko. Belahan pantat Kuroko dapat merasakan sesuatu yang keras disana. Akashi dengan nakal menggesek-gesekan junior nya pada bokong Kuroko.

Ting.. tong..

Regekan minta sarapan harus berhenti saat bunyi bel tanda ada seseorang yang datang menganggu kegiatan nya. Kuroko malah bersyukur dan buru-buru pergi untuk membuka pintu meninggalkan Akashi yang memanyun-manyun kan bibirnya sok ngambek.

Kuroko membuka kan pintu. Seseorang dengan penampilan yang terlihat rapi tampak didepan pintu.

Orang itu menatap Kuroko dengan heran, lalu mengedikkan bahu acuh tak acuh.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Kuroko sopan.

"Apa Akashi ada?"

"Oh, ada. Silahkan masuk"

Kuroko mempersilahkan tamu itu masuk kedalam rumah, lalu ia buru-buru mendahului jalan tamu itu. Tamu itu hanya jalan dengan santai sembari melihat-lihat isi dalam rumah.

"Akashi-sama, ada tamu yang mencari Anda"

Aksi ngambek Akashi selesai seketika. Dahinya mengernyit binggung. Siapa gerangan yang datang pagi-pagi mencarinya. Akashi yakin ia tak punya janji temu pagi ini.

Tamu itu memperlihatkan dirinya dari pintu masuk dapur.

Reaksi Akashi hanya terdiam melihat sang tamu tersebut.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hello!

Adakah yang masih berminat membaca ff ini? hehe..

Big Thanks to vira-hime, AkaKuro-nanodayo, Izumi-H, Vanilla Parfait, Nyanko Kawaii, Free. FD, Anitayei, Liuruna, Hime-chan yang sudah mau meluangkan waktu untuk mereview ff ini, saya sungguh terdorong maju.

Terimakasih juga bagi siapapun yang telah membaca, terlebih-lebih bagi yang sudah Fav / Follow / Review. Segala bentuk dukungan sangat bermanfaat.

Terimakasih~