WARN! HARDYAOI, ADULTCONTENT!

DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI

TITLE : MY MAID

AUTHOR : HIMEVAILLE

PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA

GENRE : HURT/COMFORT, ROMANCE

RATE : M

.

HAPPY READING… ENJOY!

.

Tamu itu menampakkan diri dari pintu masuk dapur.

Reaksi Akashi hanya terdiam melihat tamu tersebut.

"Chihiro!" pekik Akashi kegirangan.

Akashi buru-buru menghampiri tamu itu yang masih bersandar dipintu masuk dapur.

"Yo Akashi"

Kedua nya berjabat tangan dan berpelukan sambil tertawa satu sama lain.

Kuroko yakin tamu itu adalah orang special karena Akashi begitu gembira bertemu dengan orang itu. Tamu itu memperhatikan Kuroko yang memandangi mereka, Akashi yang mengerti kebingungan tamu itu segera melepas acara peluk rindu.

"Chihiro, dia bekerja disini sebagai maid"

Kuroko tersenyum sopan dan membungkuk badan memberi hormat

"Kuroko Tetsuya desu"

"Mayuzumi Chihiro"

Hanya sebatas menyebut nama, lalu Akashi membawa Mayuzumi ke ruang tamu untuk mengobrol.

.

Kuroko menyiapkan minuman dan kudapan untuk majikan dan tamu majikan nya. Saat hendak masuk keruang tamu, Kuroko tanpa sengaja mendengar percakapan mereka.

"Aku tak menyangka kau bisa tinggal dengan seseorang, Akashi. Apa dia begitu special untukmu?"

"Hahaha.. tentu tidak. Dia hanya maid disini, lagian dia dari Tokyo jadi yasudah ku izinkan tinggal disini saja"

Nampan ditangan Kuroko hampir saja terjatuh jika ia tak bisa mengontrol dirinya. Kuroko senang melihat Akashi tertawa begitu akrab, karena jarang sekali Akashi bisa tertawa begitu. Tapi kata-kata yang keluar dari mulut Akashi bagai anak panah yang tepat menusuk hati, anak panah beracun.

Kuroko sadar diri dia memang seorang maid disini, tapi entah kenapa Akashi seperti tidak menghargai keberadaan nya padahal tiap malam Akashi selalu menidurinya.

Kuroko menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan. Ia berjalan masuk ke ruang tamu untuk meletakkan nampan berisi minuman dan makanan itu.

Akashi sama sekali tidak mengubris nya, Akashi terlalu larut dalam percakapan nya dengan Mayuzumi.

"Maaf menganggu, saya membawa minuman dan makanan"

"Ya ya letak disana saja"

Bahkan menjawab kalimatnya, Akashi tidak menatap nya barang sedetik.

.

Kuroko sudah kembali didapur. ia berfikir betapa menyenangkan menjadi Mayuzumi yang bisa mengobrol sedekat itu dengan Akashi.

Kuroko penasaran siapakah Mayuzumi itu sebenarnya, tapi samar-samar daritadi ia hanya mendengar mereka mengobrol tentang bisnis dan kerjasama. Dunia Akashi benar-benar hanya tentang pekerjaan. Kuroko berkesimpulan bahwa Mayuzumi hanya teman bisnis Akashi.

Dari arah dapur, Kuroko melihat Akashi dan Mayuzumi yang telah keluar dari ruang tamu. Mereka berjalan ke pintu keluar. Kuroko buru-buru menghampiri mereka.

"Akashi-sama, anda tidak ingin sarapan dulu?"

"Aku akan sarapan diluar"

Akashi dan Mayuzumi pun pergi keluar rumah, kini Kuroko kembali sendirian dirumah.

Kuroko berjalan lagi ke dapur dengan kepala tertunduk, rasanya jengkel sekali di cuekin begitu.

Sampai didapur, Kuroko meratapi sarapan yang tlah jadi tapi tidak tersentuh. Ia mengingat tadi baru saja Akashi merengek minta sarapan untuk junior nya, lalu sekarang seolah tadi tidak pernah ada Akashi yang semanja itu.

Meskipun Kuroko masih suka merasa aneh berhubungan seks dengan laki-laki, tapi kegiatan tiap malam mereka sudah membuatnya kebiasaan dan mungkin juga kecanduan. Bahkan sekarang Kuroko berfikir, Akashi yang mesum jauh lebih menyenangkan dari pada Akashi yang mengabaikan nya seperti tadi.

Kuroko meletakkan telapak tangan nya pada dadanya, merasakan detak jantung nya menjadi tak karuan. Diremasnya baju yang tersentuh pada telapak tangan nya.

'Kenapa aku begitu kesal melihat Akashi-sama dengan pria lain? Sadar Kuroko sadar!' batin nya.

.

.

Akashi membawa Mayuzumi kekantor nya. Mayuzumi memang hanya teman bisnis Akashi, tapi keduanya pernah berada di klub basket yang sama pada zaman SMA, itu yang membuat mereka sangat dekat. Akashi juga tidak menyangka Mayuzumi terjun ke dunia bisnis dan menawarkan hubungan kerjasama kira-kira 3 tahun yang lalu.

Setelah itu Mayuzumi mengembangkan bisnis nya keluar Jepang, merantau keliling Asia. Mereka lama tidak bertemu, dan hari ini bertemu kembali. Baik Mayuzumi maupun Akashi keduanya bahagia.

Tidak ada hubungan special antara mereka, tidak ada yang menaruh hati, namun keduanya tidak keberatan untuk melakukan seks.

Sampai dikantor, Mibuchi yang kebetulan juga baru sampai kegirangan melihat sahabat lama nya.

"Mayuuuu… lama tidak bertemu~"

Mayuzumi bergidik seram melihat sahabat tak jelas gender itu berlari kearah mereka.

"Reo!"

Akashi memperingati Mibuchi untuk menjaga sikapnya, malu-maluin saja padahal jabatannya tinggi.

Mereka bertiga memasuki kantor sambil berbincang ringan.

Akashi dan Mayuzumi masuk kedalam ruang kerja Akashi, Mibuchi tidak ikut masuk karena Akashi melarangnya menganggu.

Didalam ruangan, Akashi sudah duduk dipangkuan Mayuzumi di sofa yang tak jauh dari meja kerja Akashi. Keduanya berpangutan bibir, menukar saliva, dan saling menyentuh kejantanan satu sama lain.

"Kau tetap liar, Chihiro"

Akashi menarik smirk andalan nya.

Mayuzumi hanya tersenyum lalu melanjutkan menciumi leher Akashi, Akashi menegadahkan kepalanya ke atas, memberi akses lebih untuk Mayuzumi melakukan aksinya.

Akashi menarik dasi Mayuzumi, melepaskan dasi itu lalu membuka kancing demi kancing dengan gerakan perlahan.

Akashi menjilat nipel Mayuzumi membuat Mayuzumi mengerang kenikmatan.

"Ehhmm nghh Seijuurou.."

Akashi semakin bersemangat menjilat dan menghisap nipel Mayuzumi saat ia dengar nama kecilnya disebut. Mayuzumi menekan kepala Akashi untuk lebih dalam memainkan nipelnya. Akashi menurutinya dengan bermain lebih lama lagi disana sampai saliva Akashi menetes dari nipel yang telah basah menuruni perut sixpack Mayuzumi.

Akashi turun dari pangkuan Mayuzumi, ia berjongkok dihadapan nya menyesuaikan tinggi kepala dengan selangkangan Mayuzumi yang ditengah nya ada sesuatu yang sudah menonjol besar.

Akashi melepaskan tali pinggang Mayuzumi dan sudah akan membuka resleting celana Mayuzumi…

Tokk.. Tokk..

… namun suara ketukan pintu menghentikan aksi panas itu.

Akashi menatap tajam pada pintu yang tak berhenti diketuk, sementara Mayuzumi buru-buru merapikan dirinya seperti semula.

Setelah Mayuzumi rapi dan duduk dengan elegan di sofa itu, Akashi berjalan untuk membukakan pintu.

Midorima Shintarou yang juga rekan bisnis perusahaan Akashi telah berdiri didepan pintu sambil bergaya menaikkan kacamatanya.

"Akashi! Kenapa kau tidak ke ruang rapat? Kau perlu menunjukkan pada ku berkas yang kemarin kau bicarakan -nanodayo"

Akashi menghela nafas kasar, ia tau hari ini ada janji tapi tidak sepagi ini.

Midorima melihat kedalam ruangan yang ternyata ada Mayuzumi disana.

"Mayuzumi?"

"Ia baru datang pagi tadi"

Akashi menjawab mewakili Mayuzumi. Mayuzumi hanya tersenyum pada Midorima yang balik tersenyum padanya.

Midorima kembali melihat Akashi dan memperhatikan ada sedikit saja bercak merah di leher Akashi.

"Apa yang kau lihat, Shintarou?"

Akashi bertanya dengan tajam seolah tau kemana arah pandang mata yang dilindungi kacamata itu.

"Tidak ada –nanodayo. Cepatlah Akashi, sebelum tamu lain datang"

Midorima berjalan duluan meninggalkan ruangan Akashi.

Akashi benar-benar kesal, kegiatan mesum nya terhenti begitu saja dan sekarang mood nya begitu hancur.

Mayuzumi yang menyadari itu kemudian berjalan kearah Akashi, mengacak surai merah Akashi dan berbisik pelan

"Tak apa, kita lanjutkan nanti malam"

Lalu juga berjalan keluar dari ruangan Akashi.

Akashi hanya memasang smirk kemudian keluar menyusul kedua rekan bisnisnya.

.

.

Jam 7 malam pekerjaan dikantor sudah selesai. Karyawan maupun karyawati satu persatu sudah pulang kerumah masing-masing.

Akashi dan Mayuzumi juga sudah keluar kantor, mereka berencana untuk makan malam mengeyangkan perut terlebih dahulu sebelum mengenyangkan nafsu mereka.

Akashi mengendarai mobilnya. Jalan yang ia lalui sama seperti jalan yang akan kerumahnya. Kata Mayuzumi ia ingin mencoba makanan disebuah restoran dekat komplek tempat tinggal Akashi.

Didalam restoran yang bergaya Spanyol Klasik, mereka duduk di tempat VIP dilantai 4 yang dapat memandang keindahan kota Kyoto pada malam hari.

Akashi dan Mayuzumi menikmati suasana ini, keduanya mengobrol hangat sambil bercanda tawa, benar-benar seperti sepasang kekasih.

.

Sudah lebih dari satu jam mereka disana dan makan malam yang mereka pesan sudah habis. Seorang pelayan datang membawa dua gelas berisi wine.

"Aku rasa aku tidak memesan ini" kata Akashi

"Aku yang memesan nya"

Mayuzumi mengambil gelas yang masih dinampan ditangan pelayan, lalu memberikan satu gelas pada Akashi.

Dua gelas ditangan yang berbeda di pertemukan menghasilkan suara yang khas, kemudian cairan wine dari gelas masing-masing membasahi kerongkongan masing-masing pula.

Mayuzumi menyeringai melihat Akashi yang meminum semua wine itu. Itu memang wine pada umumnya tapi dosis nya keras. Mayuzumi sengaja memilih wine dengan dosis sekeras itu, ia tau Akashi tidak terlalu kuat untuk mabuk-mabukan, sekarang saja wajah Akashi sudah memerah dan kepalanya mulai ditengkurupkan di meja.

Melihat wajah Akashi yang sebegitu seduktif adalah hal yang langka dan menyenangkan.

"Hoi Akashi, kau baik-baik saja?"

"Tentu saja"

Akashi masih sepenuhnya sadar, hanya saja kepala nya sedikit terasa berat dan pusing.

"Yasudah, lebih baik kita pulang"

Mayuzumi merangkul Akashi untuk keluar dari restoran lalu mendudukkan Akashi di kursi penumpang dan Mayuzumi yang akan mengendarai mobil Akashi menuju rumah Akashi yang tidak jauh lagi.

.

.

Kuroko merasa perasaan nya gelisah. Sudah hampir jam 10 malam dan Akashi belum pulang juga. Akashi memang kadang pulang larut malam karena ada data tambahan yang harus ia selesaikan. Tapi hari ini Kuroko tidak bisa tenang karena tadi pagi Akashi pergi nya dengan Mayuzumi.

Kuroko memutuskan untuk berdiri di balkon lantai 2 yang menghadap pintu utama rumah Akashi yang begitu luas dan megah. Mungkin angin alam dapat membantu menyegarkan pikiran nya.

Tak berapa lama berdiri disana, mobil merah menyala yang sangat Kuroko kenali sebagai mobil majikan nya telah memasuki perkarangan rumah.

Mobil itu berhenti tepat didepan pintu masuk, Mayuzumi keluar dari bangku pengemudi lalu mengitari ke bangku penumpang untuk membukakan pintu pada Akashi dan membantu Akashi keluar dari mobil.

Kuroko terkejut melihat majikan nya tampak sempoyongan. Buru-buru ia berlari turun dan membukakan pintu.

"Akashi-sama, apa anda baik-baik saja?"

Akashi hanya menatap Kuroko dengan mata sayu kemudian mengikuti arah jalan yang dituntun Mayuzumi ke kamar nya.

Kuroko membantu Mayuzumi merebahkan Akashi dikasur kingsize itu.

"Apa yang terjadi dengan Akashi-sama, Mayuzumi-san?"

"Dia tidak apa-apa, hanya meneguk segelas wine"

Mayuzumi menjawab dengan enteng. Mayuzumi menatap tidak suka pada Kuroko yang begitu mengkhawatirkan Akashi.

"Maaf, Kuroko. Bisa tinggalkan kami berdua saja?"

Kuroko terkejut dengan permintaan Mayuzumi, ia ingin sekali menjawab tidak bisa, ia ingin merawat Akashi, tapi akan sangat tidak sopan mencampuri hal pribadi orang padahal ia hanya maid.

Kuroko mengangguk lalu berjalan keluar sambil masih melirik-lirik Akashi. Kuroko menutup pintu kamar tapi tidak sepenuhnya, ia sisakan sedikit celah untuk mengintip.

Mayuzumi yang tidak memperdulikan Kuroko ada disana atau tidak langsung saja menindih tubuh Akashi. Mengulum bibir Akashi dengan ganas. Menarik kancing kemeja Akashi dengan tak sabaran. Akashi dari pagi sudah membangkitkan nafsunya, ditambah wajah Akashi yang masih bersemu merah gara-gara wine tadi menambah tingkat gairahnya.

Kuroko membulatkan matanya, terlalu jelas melihat adegan panas dengan mata kepalanya sendiri. Hatinya merasa tidak enak, hatinya merasa tidak rela melihat seseorang yang tiap malam bermain dengan nya kini harus bermain dengan pria lain.

Kuroko tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin menegur tapi takut karena itu bukan urusan nya, kan? Kuroko panas dingin kebinggungan harus apa.

Permainan didalam sudah sampai pada Mayuzumi yang menarik turun celana Akashi yang berbahan dasar kain yang sangat lembut.

Kuroko semakin panas karena amarah, dia tidak sanggup melihat itu, dia tidak mau majikan nya ditusuk atau menusuk orang lain, sungguh, Kuroko tidak rela.

Akashi itu majikan Kuroko, Kuroko yang selalu menemaninya, menjaga rumahnya, merawat perabotannya, dan melayani nya. Kuroko harus berhak atas Akashi!

Brakkk…

Pintu kamar terbanting terbuka. Kuroko tidak bisa menahan amarah nya lagi, tidak bisa mengontrol rasa dihatinya lagi.

Mayuzumi terkejut bukan main begitu pula dengan Akashi yang masih setengah sadar.

"Tolong, jangan sentuh majikan saya"

Suara Kuroko terdengar begitu berat dan serius.

"Kau hanya maid disini, sebaiknya kau—"

"Iya, saya memang hanya maid disini. Tapi karena itulah saya berhak atas majikan saya dan tidak membiarkan oranglain sesuka hati menyentuhnya!"

Kuroko memotong ucapan yang akan Mayuzumi lontarkan. Kalimat Kuroko barusan diucapkan dengan keras dalam satu tarikkan nafas. Akashi hanya terdiam, ia masih terlalu pusing untuk ikut berteriak, tapi Akashi sendiri tak menyangka Kuroko bisa begitu.

Kuroko berjalan mendekati Mayuzumi kemudian menarik Mayuzumi turun dari kasur.

"Hoiii apa yang kau lakukan?" bentak Mayuzumi

Kuroko tidak menanggapinya, ia sekuat tenaga menyeret Mayuzumi keluar dari kamar majikan nya.

Mayuzumi tentu memberontak dari seretan Kuroko. Saat mencoba melepas tangan nya yang ditarik Kuroko, tangan nya malah tanpa sengaja menampar keras rahang Kuroko.

Kuroko terjatuh ke lantai, sudut bibirnya berdarah. Tapi bukan Kuroko Tetsuya namanya jika berdiam sekarang. Kuroko kembali bangkit dan terus menyeret Mayuzumi.

"T-tetsuya.." teriak Akashi dari dalam kamar saat keduanya keluar kamar.

Kuroko mengabaikan panggilan dari majikan nya. Ia tak peduli jika nanti dipecat karena menganggu kegiatan pribadi majikan nya dan membantah sang majikan yang mutlak itu.

Yang Kuroko pikirkan saat ini hanya tentang mengusir orang mesum ini, menyalurkan emosinya yang sudah mengunung-gunung.

Mayuzumi yang masih terkejut dengan semua kejadian yang terjadi begitu cepat tidak bisa berbuat banyak, meski masih memberontak karena Kuroko menyeretnya dengan begitu kasar namun yang ia pikirkan adalah Kuroko yang mengapa terlihat begitu marah padanya.

Sampai dipintu utama, Kuroko dengan sekali dorongan telah membuat Mayuzumi berada di luar.

"Maaf Mayuzumi-san tapi sebaiknya anda pergi sekarang juga!"

Blammm..!

Pintu tertutup rapat dengan bantingan yang kuat.

Kuroko menyenderkan dirinya pada punggung pintu, melosot kebawah dan terduduk disana.

Ia tak tahu mengapa ia jadi begini, kapan orangtua nya pernah mengajarkan ketidaksopanan begini? Tidak pernah. Kuroko pun heran, tiba-tiba saja ia menjadi begitu kesal dan marah karena melihat Akashi di grepe-grepe oranglain, melihat Akashi bermain bukan dengan dirinya.

Saat sedang asik mencari jawaban, Kuroko teringat pada Akashi yang masih di kamar. Tadi Akashi sempat memanggilnya tapi tidak ia tanggapi.

Kuroko buru-buru naik kembali ke kamar Akashi.

.

Dikasur kingsize yang sedang Akashi tiduri, ia menutup matanya. Kepala nya pusing karena wine tadi, pusing karena hasratnya tak tersalurkan, dan pusing karena kejadian barusan.

"Akashi-sama"

Akashi menoleh kearah pintu dan mendapati Kuroko yang berjalan mendekati nya dengan kepala tertunduk.

"Mohon maafkan saya karena telah melakukan hal yang kurang ajar"

Akashi hanya diam. Ia juga tidak tau harus menjawab apa. Akashi tidak merasa marah karena Kuroko menganggu aktifitasnya dan mengusir Mayuzumi.

"Tinggalkan aku sendiri Tetsuya"

Akashi tidak bermaksud mengusir Kuroko, bahkan kalau bisa ia ingin menekam Kuroko sekarang untuk menyalurkan hasratnya yang tertunda, tapi badan nya terlalu lemas untuk bangun.

"Akashi-sama, tolong maafkan saya"

"Sudah tak apa Tetsuya, pergilah"

Kuroko tidak puas dengan jawaban Akashi, ia sangat merasa bersalah. Kuroko berfikir apa yang dapat ia lakukan untuk menembus kesalahan nya.

Saat pikiran itu berjalan, mata biru Kuroko tanpa sadar melirik ke gundukan yang besar dari celana dalam Akashi. Kuroko baru teringat tadi ia menghentikan permainan mereka saat sudah hampir memasuki permainan utama. Wajar jika itu sudah membuat penis Akashi tegang dan sekarang pasti tersiksa karena menahan sesuatu.

Karena merasa ini kesalahannya, Kuroko memberanikan diri menawarkan bantuan.

"A-Akashi-sa-sama, a-anoo… apa anda butuh b-bantuan?"

Akashi menatap Kuroko bingung, lalu ia menarik sebuah seringai. Walau masih pusing tapi otak nya ya tetap jenius.

"Apa yang bisa kau bantu, Tetsuya?"

"Anoo.. Et-ettoo.. mungkin membantu untuk.. untuk.."

Akashi ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Kuroko yang malu-malu.

"Hehh… emang Tetsuya bisa?"

Akashi menantang sekaligus menggoda Kuroko, toh selama ini Akashi yang mendominasi semua permainan mereka. Memang sih Akashi tidak protes karena Kuroko hanya pasif, bisa dapat jatah saja Akashi sudah lega.

Kuroko yang mendengar itu lantas memandang Akashi dengan tatapan tidak suka. Kuroko benci diremehkan. Dia sudah sangat sering melihat bagaimana bermain permainan ini, bahkan bukan hanya melihat tapi juga merasakan.

Kuroko naik keatas ranjang, dengan perlahan ia membuka pakaian nya satu persatu.

Akashi menyeringai semakin lebar.

Kuroko mendekati wajah Akashi, memandang wajah Akashi dari atas dengan jarak sedekat ini membuat nya dengan jelas melihat wajah tampan tanpa lecet sedikitpun itu.

Sebenarnya Kuroko masih ragu-ragu, tapi ia kesampingkan rasa malu nya, ia juga tak mau direndahin oleh majikan nya ini.

Kuroko mencium bibir Akashi. Akashi diam menunggu gerakan Kuroko berikutnya.

Kuroko memberanikan diri menjilat bibir ranum sang majikan dengan lidahnya. Kuroko mencari celah diantara bibir Akashi untuk memasuki mulut Akashi.

Akashi memberi celah itu. Lidah Kuroko pun langsung masuk kedalam mulut Akashi, mengabsen setiap gigi Akashi yang terawat dengan baik, mengajak lidah Akashi untuk menari sebentar.

Selesai di bibir dan mulut, Kuroko turun mencium leher jenjang Akashi.

Mata Kuroko menangkap sebuah tanda yang tidak terlalu merah, Kuroko tidak suka melihat itu. Dengan cepat dan kuat Kuroko mencium leher Akashi dibagian itu, menyesap kuat yang menimbulkan tanda merah baru yang bewarna lebih pekat menganti bekas tadi.

Akashi sedikit terkejut dengan apa yang Kuroko lakukan.

Bangga melihat tanda yang telah Kuroko beri, Kuroko turun lagi menelusuri dada bidang Akashi yang sudah tidak ada sehelai benang pun. Mengelus dada bidang itu lalu bermain di nipel Akashi.

Akashi menggeliat geli, gerakan Kuroko yang masih kaku benar-benar menggodanya.

Kuroko pelan-pelan menjilat nipel Akashi, mengulumnya, mengigit-gigit kecil seperti yang biasa Akashi lakukan saat mereka bermain.

Kuroko turun menciumi perut kotak-kotak milik Akashi, sangat sexy.

Kemudian sampailah Kuroko pada senjata Akashi yang selama ini menusuknya.

Kuroko menelan ludah dengan susah payah saat tangan nya sudah mulai melepaskan celana dalam Akashi. Senjata itu langsung tegak gagah dan siap menusuk.

Kuroko dengan ragu-ragu mengenggam penis Akashi, mendekatkan kepala nya pada penis Akashi, menjilati ujung penis Akashi dengan perlahan.

"Nghh Tetsuya.."

Desahan Akashi menambah kepercayaan diri Kuroko, Kuroko mulai memasukkan penis besar itu kedalam mulutnya. Mengulumnya dengan gerakan naik turun. Dan menjilati batang nya dari atas kebawah bawah keatas.

"Ahh.. Tetsuyaa.."

Akashi sangat sangat menikmati, Akashi baru tau Kuroko bisa seagresif itu.

Kuroko juga tidak lupa untuk memberi servis pada dua bola yang ada dibawah batang penis. Dikulum secara bergantian kedua bola itu.

Akashi merem melek menikmati servis disana.

Setelah Kuroko rasa cukup, Kuroko mulai naik keatas tubuh Akashi yang tidur telentang.

Kuroko mengangkang diatas dan menempatkan penis Akashi tepat dilubang analnya.

Kuroko menutup matanya menghilangkan keraguan yang tersisa, dengan satu hentakkan Kuroko telah merasakan penis Akashi didalam dirinya.

Jleb… penis itu masuk sempurna kedalam liang kenikmatan duniawi

"Ahhhkk.. Akashi-samaaa.."

"Enghhh ahh Tetsuyaa.."

Kuroko tidak tahu bahwa tanpa pemanasan pada lubang nya dan langsung memasukkan senjata itu bisa sangat terasa begini perih tapi sangat nikmat.

Kuroko mulai bergerak. Ia menaik turunkan pinggulnya. Kedua tangan nya bertumpuh di dada Akashi.

"Ahh ahh.. ahh Akashi-sama…"

"Ohh yess… Tetsuya.. hmmmm"

Kuroko mempercepat gerakan nya, Akashi semakin kenikmatan. Tangan Akashi memilin kedua nipel Kuroko.

"Akashi-sama.. Akashi-sama.. ahh.. ja-jangan bersama ya-yang lain.. pak-pakai s-saya saja"

Entah sadar atau tidak, Kuroko mengatakan kalimat yang membuat Akashi terkejut tapi senang luar biasa, Akashi tidak bisa tahan untuk tidak seringaian.

"Tetsuya.. kau.. ahhh…"

Kuroko merasakan sudah akan keluar, ia mengocok penis nya sendiri untuk memberi rangsangan. Sementara itu penis Akashi didalam lubangnya juga terasa berkedut.

"Tetsuyya… engghh.. aku sampaiiii.."

Kuroko memberi satu hentakkan untuk penis Akashi masuk seluruhnya didalam lubang Kuroko dan sepenuhnya menyemburkan cairan sperma milik Akashi.

Penis Kuroko yang juga sudah tidak tahan lagi mengeluarkan semua sperma yang tertahan, sperma Kuroko membanjiri dada Akashi dan sedikit mengenai wajah Akashi.

Kuroko kelelahan. Menjadi yang bergerak memang lelah, pikirnya.

Akashi memejamkan mata menikmati sisa kenikmatan yang terasa, ia tersenyum puas dengan permainan yang di dominan Kuroko.

Setelah beberapa menit melepas lelah, Kuroko bangkit dari atas tubuh Akashi, cairan yang memenuhi lubang nya merembes menuruni pahanya.

Kuroko melihat Akashi yang memejamkan mata, Kuroko berfikir mungkin Akashi sudah tertidur karena tadi kepala Akashi masih pusing.

Kuroko memunguti pakaian nya yang berserak. Dengan baju nya, Kuroko mengelap sperma yang bertebaran di dada Akashi dan sedikit di wajah Akashi.

Kuroko memandang teduh wajah yang sedang terlelap itu. Kuroko baru sadar majikan nya ini sangat tampan, benar-benar tampan dan menggiurkan.

Kuroko mengelus surai merah yang telah basah dengan keringat. Perlahan tapi pasti, Kuroko mengecup lembut dahi Akashi.

Setelah itu Kuroko segera keluar dari kamar Akashi, membiarkan majikan nya beristirahat.

.

Akashi membuka matanya saat suara pintu yang tertutup perlahan terdengar.

Akashi menyentuh dahi nya. Kecupan yang Kuroko beri masih jelas ia rasakan. Perasaan hangat tumbuh tanpa ditanam. Akashi tersenyum penuh makna. Ia telah menemukan maid yang dapat ia percaya untuk membersihkan kawasan pribadinya, menjaga rumahnya, dan mungkin menjaga hidupnya.

.

.

Pukul 2 tengah malam Akashi terbangun. Sebenarnya daritadi ia memang tidak bisa tidur nyenyak karena kepala nya terasa tak nyaman, tapi sekarang ia sudah baikan. Akashi bermaksud turun kedapur untuk meminum segelas air.

Akashi meraih nightrobe nya yang tergantung didekat kaca panjang disamping lemari. Dari kaca itu sambil memakai night robenya, Akashi melihat kissmark yang sangat merah dilehernya sebelah kiri. Akashi tak menyangka Kuroko benar-benar berani memberikan tanda.

Ia berjalan keluar kamar. Saat sudah akan sampai ditangga, Akashi melirik pada pintu kamar Kuroko yang terletak tidak jauh di koridor dekat tangga.

Akashi menunda niatnya untuk kedapur dan berbelok ke kamar Kuroko.

Kamar Kuroko tidak dikunci, Akashi masuk dengan perlahan.

Kuroko sedang tidur nyenyak dengan piyama biru muda yang sepertinya sangat nyaman.

Akashi tersenyum melihat Kuroko yang sangat damai dalam tidur. Tapi senyuman diwajah Akashi harus hilang ketika mata beda warna nya itu melihat lembam dan luka di sudut bibir Kuroko.

Akashi ingat jelas pertarungan antara Kuroko melawan Mayuzumi, Mayuzumi yang tanpa sengaja melukai sudut bibir Kuroko.

Akashi baru ingat ia tidak menanyakan kabar Mayuzumi, tapi sudahlah, Kuroko yang ada didepan nya telah menarik seluruh perhatian nya.

Akashi mengelus pelan luka di sudut bibir Kuroko dengan jari jempolnya. Perasaan bersalah sedikit timbul, tadi pagi ia telah mengabaikan Kuroko karena terlalu semangat bertemu Mayuzumi, lalu sekarang Kuroko terluka karena membela nya, meski Akashi tidak tahu mengapa Kuroko marah kepada Mayuzumi dan seolah menyelamatkan Akashi. Yang Akashi sadar, maid nya yang satu ini benar-benar berkualitas unik.

"Maaf, Tetsuya"

.

.

.

TBC

.

.

.

Hello..! semoga masih betah baca nya ya hehehe..

Big Thanks to Vanilla Parfait, vira-hime, Kaluki Lukari, Lisette Lykouleon, Izumi-H, AkaKuro-nanodayo, asuka. souryou, Nyanko Kawaii, Liuruna, Anitayei, divanabila1717, Free. FD, Hime-chan yang telah berbaik hati menyempatkan untuk review ff ini.

Thanks juga buat yang sudah Fav / Follow, dan buat siapapun yang sudah membaca ff ini.

Terimakasih~

Oh ya, mau tahu sesuatu? saya senyum-senyum sendiri kadang ketawa sambil guling-guling saat mengerjakan ff ini :v ha ha ha *ketawanista.

Sampai ketemu di chapter panas berikutnya~ ;)