WARN! HARDYAOI, ADULTCONTENT!

DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI

TITLE : MY MAID

AUTHOR : HIMEVAILLE

PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA

GENRE : HURT/COMFORT, ROMANCE

RATE : M

.

HAPPY READING… ENJOY!

.

Drrt.. Drrtt..

Ponsel yang bergetar tepat disamping kepala membangunkan si pemilik. Akashi mengucek-ngucek matanya lalu dengan malas membuka pesan yang masuk diponsel mahalnya.

From : Mayuzumi Chihiro

Akashi, aku sudah berangkat ke London. Maaf untuk yang semalam, dan sampaikan juga maaf ku pada maid mu yang bernama Kuroko Tetsuya itu. Sampai ketemu lagi lain waktu.

Akashi heran kenapa tiba-tiba Mayuzumi langsung pergi dari Jepang, tapi setelah itu Akashi berfikir mungkin itu lebih baik. Jadi Akashi tidak perlu repot-repot lagi memikirkan permasalahan tadi malam. Urusan Akashi hanya tinggal Kuroko.

Tokk Tokk..

"Akashi-sama, apa anda sudah bangun?"

Baru juga Akashi pikirkan sosok itu dalam pikiran nya, malah beneran sudah nyata.

"Ya, Tetsuya"

Akashi tidak membalas pesan dari Mayuzumi, ia segera bangun untuk membersihkan diri.

.

Akashi merasa badannya sangat fresh setelah berendam dengan air hangat. Dia benar-benar fit pagi ini.

Akashi mengambil baju dari dalam lemarinya, saat akan memakai baju, tanda merah dilehernya masih jelas tercetak. Terpaksa Akashi harus memilih baju dengan kerah tinggi. Akashi sebenarnya tidak masalah dengan tanda itu, tapi kan tidak enak jika nanti dilihat orang kantor.

Akashi memegangi tanda merah itu, ia kembali teringat aksi Kuroko yang mendominasi permainan mereka. Itu pertama kali Kuroko seagresif itu.

Semalam ketika sudah keluar dari kamar Kuroko, Akashi merenungi apa ia sudah menjadi majikan yang baik? Apa dia tidak terlalu kasar pada Kuroko? Selama ini Akashi hanya menikmati mainan nya itu, Akashi memang bisa main diluar, tapi mainan nya dirumah sudah sangat mengasyikan dan karena Akashi termasuk orang yang sibuk, ia malas harus mencari lagi teman main yang pas.

Lalu Mayuzumi yang kembali ke Jepang dan langsung menemui nya. Akashi tau Mayuzumi sedang stress dan menjadikan Akashi sebagai pelampiasan. Mereka sering berbagi cerita bisnis, seluruh suka duka dunia bisnis, dan Akashi adalah pebisnis yang hebat, ia tau apa yang Mayuzumi rasakan.

Apalagi saat mereka mengobrol di ruang tamu, Mayuzumi kode-kode tentang perusahaan nya yang sedang menurun, sungkan untuk curhat langsung. Akashi dapat melihat betapa Mayuzumi frustasi meski Mayuzumi mencoba menutupinya.

Akashi kembali berfikir tentang Kuroko, mengapa Kuroko sebegitu tidak suka Akashi disentuh orang lain? Jujur saja, Akashi bahagia dengan sikap Kuroko yang begitu. Akashi merasa diperdulikan, Akashi merasa diperhatikan, dan Akashi merasa disayang.

Malam itu, Akashi telah berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih memperhatikan Kuroko, untuk menjadi majikan yang baik, susah sekali mencari maid yang bisa dipercaya, apalagi yang ditambah 'plus plus' tapi sekarang Akashi sudah mendapatkan maid terbaik yang pernah ia dapati, sudah seharusnya ia menghargai itu. Akashi sadar ia tak boleh hanya menganggap Kuroko sebagai maid yang membersihkan rumah atau hanya maid pemuas nafsu birahi nya, karena maid ini telah melakukan lebih dari itu.

.

.

"Ohayou Akashi-sama"

Kuroko menyapa majikan nya yang baru saja masuk ke dapur dengan pakaian yang sudah rapi.

"Ohayou Tetsuya"

Akashi tersenyum pada maid nya itu lalu duduk disalah satu kursi dimeja makan.

"Tumben Akashi-sama memakai kemeja kerah tinggi begitu?"

Kuroko meletakkan sepiring macaroni keju dan secangkir kopi panas dimeja depan Akashi.

Ketika Kuroko hendak menarik tangan nya kembali, Akashi memegang tangan nya. Posisi nya yang sedikit menunduk karena tadi meletakkan makanan, dan sekarang ketika ia berbalik hendak menatap Akashi, wajah mereka begitu dekat.

"Apa Tetsuya tidak sadar apa yang membuat ku memakai kerah tinggi begini?"

Wajah Kuroko memerah menahan malu. Padahal Kuroko benar-benar ingin pura-pura lupa tapi majikan nya langsung ungkit-ungkit hal itu.

Akashi yang dengan dekat menyaksikan wajah Kuroko yang bersemu merah, tidak tahan untuk tidak mengecup bibir Kuroko.

Cup!

Hanya menempelkan bibir saja, Akashi bisa merasakan Kuroko yang sudah terkejut. Mereka sudah berkali-kali ciuman, sudah tak terhitung lagi jumlahnya, tapi Kuroko masih saja suka terkejut apalagi merona malu, itu yang membuat Akashi ketagihan untuk terus mencium maid nya ini.

"Akashi-sama!"

Kuroko menarik kepalanya ke belakang melepas morning kiss yang Akashi lakukan.

Akashi mendudukan Kuroko di pangkuan nya dan memeluknya erat dari belakang.

"Temani aku sarapan, Tetsuya"

"Saya akan menemani dari kursi depan sana"

"Tidak, Tetsuya. Duduk begini saja dan temani aku"

Akashi menyendok macaroni yang berlumer keju ke mulut Kuroko.

"Buka mulut Tetsuya. Aaaaaa…"

"Akashi-sama, sarapan ini untuk anda bukan saya"

"Kenapa Tetsuya sangat bawel? Makan saja, aku juga akan makan"

Mau tak mau, Kuroko membuka mulutnya dan memakan macaroni yang Akashi sendokkan untuknya. Belum sempat Kuroko menutup mulutnya, Akashi sudah terlebih dahulu menciumnya. Lidah Akashi langsung masuk kedalam mulut Kuroko, mengambil macaroni yang dari dalam mulut Kuroko lalu memasukkan ke mulutnya sendiri, mengunyah, dan menelannya.

"Hmm.. begini lebih enak"

Kuroko hanya diam merona. Kuroko baru tahu ada cara makan seperti itu. Mereka menghabiskan macaroni itu bersama-sama dengan cara yang sama pula.

Entah itu suara degup jantung Akashi atau Kuroko, mereka sama-sama merasa begini sangat menyenangkan.

.

.

Akashi bekerja dikantor, Kuroko bekerja dirumah.

Kuroko membersihkan ruang kerja Akashi yang letaknya disamping kamar Akashi. Dimeja Akashi ada terdapat beberapa majalah edisi khusus tentang bisnis. Cover depan majalah itu adalah wajah Akashi yang berdiri didepan perusahaan nya.

Kuroko tertarik sedikit untuk membaca-baca isi majalah itu yang ternyata kebanyakan berisi tentang perusahaan Akashi, berisi tentang pendapat Akashi didunia bisnis, tentang strategi bisnis Akashi.

Kuroko benar-benar terkesan.

Drtt.. drtt

Ponsel disaku celananya bergetar. Kuroko segera membuka pesan yang masuk saat dilihatnya yang mengirim adalah majikannya

From : Akashi Seijuurou

Tetsuya, nanti malam tidak usah masak. Aku ingin mengajak mu makan diluar, tunggu aku jam 7!

Pesan singkat itu begitu menggetarkan jiwa. Sebenarnya Kuroko binggung sejak tadi pagi Akashi sepertinya berubah. Akashi menjadi lebih ceria, lebih baik padanya, lebih banyak tertawa bercanda, dan kelebihan yang biasanya tidak ditunjukkan.

Kuroko tidak mau ambil pusing terhadap perubahan sikap Akashi, itu kan lebih baik, pikirnya.

Setelah membalas pesan singkat itu Kuroko kembali mengerjakan pekerjaan nya.

.

.

Pukul 7 malam dan Akashi baru keluar dari kantornya. Ia mengumpat kesal terhadap klien sialan yang tiba-tiba ajak ketemuan pada jam 6, klien cerewet pula.

Akashi mengendarai mobilnya dengan cepat. Akashi bukan tipe orang yang mau ingkar janji, apalagi janji yang dia buat. Akashi mengutuk mobilnya yang tidak bisa lebih cepat lagi dan mengutuk semua kendaraan dijalan raya beserta manusia nya.

.

7.18 Akashi sudah masuk ke dalam komplek perumahan, saat tiba digerbang rumahnya, Akashi melihat Kuroko sudah menunggunya.

Tinn..tinn..

Kuroko menoleh ke pagar rumah dan mendapati mobil Akashi sudah disana. Kuroko berjalan cepat kesana.

"Akashi-sama" sapa Kuroko saat sudah masuk kedalam mobil Akashi.

Akashi langsung memeluk Kuroko.

"Maaf Tetsuya, tadi ada sedikit urusan"

Pelukan itu dilepas dan Kuroko bisa melihat wajah Akashi yang benar-benar merasa bersalah, Kuroko jadi tidak enak hati.

"Tidak apa-apa, Akashi-sama"

Kuroko tersenyum lembut, Akashi menyukai senyuman itu. Ia tidak pernah memperhatikan sebelumnya bahwa senyum Kuroko begitu manis.

"Let's go!"

Mobil sport merah menawan kembali meninggalkan komplek perumahan.

.

.

Kuroko menatap kagum keindahan kota Kyoto pada malam hari. Keramaian yang teratur, toko-toko yang terang dengan pernak pernik lampu berwarna.

Akashi senang melihat Kuroko menikmati perjalanan mereka. Dan lagi, Akashi baru sadar Kuroko tidak pernah keluar dari rumah nya sejak sudah masuk kedalam rumahnya.

Akashi benar-benar ingin menertawai dirinya.

Mobil yang Akashi kendarai berhenti di sebuah restoran bintang lima.

Kuroko sebenarnya minder untuk masuk ke restoran itu, ia hanya memakai kemeja biasa dan celana jeans serta sepatu kets.

Akashi seperti mengerti pikiran Kuroko, ia mengacak-ngacak surai biru muda yang ada di kepala Kuroko.

"Tak apa, Tetsuya. Aku sudah memesan tempat khusus"

Akashi lalu mengiring Kuroko keluar mobil, mereka langsung disambut oleh pelayan restoran dan mengantarkan mereka ke belakang restoran yang ternyata memiliki view ke sebuah pantai buatan. Pantai itu tidak luas, tapi cukup indah karena didekorasi sedemikian rupa.

Hanya ada satu meja dengan dua kursi disana, Akashi secara khusus memesan tempat ini hanya untuk mereka berdua.

Kuroko merasa risih dengan keadaan ini. Kuroko tidak pernah merasakan kemewahan yang begini, Kuroko datang dari keluarga sederhana, wajar saja jika dia tidak terbiasa dengan kemewahan.

"Akashi-sama, apa ini tidak berlebihan?"

"Kenapa Tetsuya bertanya begitu?"

"Aku hanya seorang maid, rasanya tidak pantas menerima ajakan anda makan ditempat semewah ini"

"Jangan merendahkan dirimu Tetsuya, nikmati saja"

Kan benar dugaan dan pikiran Kuroko, majikan nya ini agak aneh.

Makanan demi makanan yang juga sudah Akashi pesan terhidang dengan lezat, keduanya makan dengan lahap dan santai. Sesekali Akashi nakal menggoda Kuroko dan meminta disuapi.

.

"Tetsuya mau jalan-jalan dipantai itu sebentar?"

Akashi menawarkan untuk jalan-jalan setelah makan banyak memang tidak baik hanya duduk diam.

Kuroko mengangguk dan mereka berjalan menelusui pantai itu.

Tidak ada siapa-siapa disana, hanya mereka.

Pantai itu langitnya terbuka. Benar-benar mirip pantai asli.

"Anoo.. Akashi-sama?"

"Hmmm?"

"Apa Akashi-sama baik-baik saja?"

"Hah? Kenapa bertanya begitu? Tentu aku baik-baik saja"

"Akashi-sama sangat aneh hari ini"

Akashi terkekeh geli. Lihat saja! Wajah Kuroko yang datar dengan kepala yang sedikit dimiringkan ke kanan, lalu pertanyaan macam apa yang ia tanyakan.

"Kenapa Akashi-sama tertawa?"

"Tidak apa-apa Tetsuya, aku baik-baik saja, sungguh"

Ya, Akashi baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik.

Deru angin malam terasa menusuk permukaan kulit, Kuroko menggigil kedinginan. Kemeja nya yang tidak terlalu tebal tidak bisa menahan dinginya angina malam di tempat terbuka.

Akashi tersenyum geli melihat Kuroko yang menggosok-gosok telapak tangan nya mencoba membuat kehangatan.

Akashi yang berjalan didepan Kuroko lantas berbalik dan memeluk Kuroko.

"A-Akashi-sama?"

"Tetsuya, aku mungkin sedikit berubah untuk sikap yang lain, tapi sikap 'bermain' ku tidak akan berubah"

Akashi menyeringai licik lalu mendorong tubuh Kuroko terlentang di pasir putih itu.

Mau dimana pun atau kapan pun, 'permainan' ini bisa dilakukan.

Akashi mencium bibir Kuroko dengan lembut, melumuri bibir itu dengan saliva nya. lalu menarik keluar lidah yang sembunyi dalam goa mulut. Mengajak berdansa seperti penari handal.

Kuroko terbuai, rasa dingin berubah menjadi hangat. Ciuman Akashi yang begitu basah sangat menyenangkan.

Akashi turun menciumi leher Kuroko. Akashi teringat pada kiss mark yang Kuroko berikan, Akashi bermaksud membalas tanda itu. Tidak baik kan jika tidak membalas budi orang.

Kecupan kuat Akashi lancarkan, saat dilepas kissmark merah yang masih segar memasuki indera penglihatannya. Akashi cukup puas dengan karya seni buatannya.

Akashi tidak melepas pakaian Tetsuya maupun pakaian nya, dia tidak mau maid nya ini masuk angin.

Akashi berdiri lalu memerintahkan Kuroko untuk berjongkok dihadapan nya.

Akashi cepat-cepat membuka celana nya serta dalaman nya. penis nya yang menegang berada tepat di wajah Kuroko.

"Tetsuya, aku ingin servis seperti yang semalam"

Kuroko wajahnya sudah semerah kepiting rebus yang tadi mereka santap.

Akashi tidak sabar menunggu Kuroko, ia memajukan wajah Kuroko kepenisnya. Menekan kedua pipi Kuroko agar mulut Kuroko terbuka berbentuk hurup O.

Akashi mendorong masuk penis nya kedalam mulut Kuroko.

"Hmmpptth.."

"Ayo, Tetsuya, lakukanlah"

Kuroko dengan perlahan menjilati penis Akashi, mengulumnya dengan gerakan memutar. Darah Akashi berdesis panas merasakan sensasi nikmat yang Kuroko mainkan.

Akashi memaju mundurkan penis nya, menyodok dengan keras sampai penisnya masuk semua dan membentur dinding tenggorokkan Kuroko.

"Ugghhukk.."

Kuroko tersedak-sedak barulah Akashi lepas.

Akashi menarik tangan Kuroko untuk berdiri, lalu sebelah kakinya Akashi angkat dan ditahan dengan satu tangan nya.

Sebelah tangan Akashi meremas-remas bokong Kuroko dan memasukkan langsung 2 jari ke lubang Kuroko.

"Ahhkk… Akashi-sama.."

Kuroko meletakkan kepala nya di perpotongan leher Akashi.

Akashi semakin gencar memasuk-keluarkan jarinya disana sampai ia rasa sudah cukup basah.

Akashi menempatkan penis yang sudah tidak sabar untuk berkunjung ke lubang duniawi.

"Ahhkk… Akashi-sama… ahh…"

"Shhh… Tetsuyaa.."

Tidak mau menunggu lama lagi, Akashi sibuk memajumundurkan pinggulnya. Merasakan lubang Kuroko yang tak pernah longgar.

Suara desahan dari dua mulut itu berpadu indah dengan suara desir air yang disapa angin malam.

"Ahh.. ah.."

"Nghh.. yes Tetsuya.. oh yess"

"Akashi-sama…"

Penis Kuroko duluan menyemburkan sperma, penis Akashi juga sudah menyemburkan sperma, tapi Akashi tidak mau berhenti, Akashi ingin terus menusuk lubang itu, tidak mau untuk lepas dari lubang itu.

Stamina Akashi entah seberapa banyak, Kuroko sudah lelah apalagi posisi mereka berdiri, Kuroko hanya bisa memeluk badan tegap Akashi sambil tetap merasakan kenikmatan yang tiada henti.

.

Entah berapa ronde mereka habiskan dipantai itu, bulan dan bintang di langit malam menjadi saksi bahwa majikan dan maid bisa menjadi semesra itu, sepanas itu, bisa saling berbagi kasih pada kewajiban masing-masing.

Kuroko sebagai maid yang harus menjaga majikan nya

Akashi sebagai majikan yang harus tau memperlakukan maid dengan benar

Dan, Kuroko sekarang telah paham betul bahwa majikan nya ini walaupun sikapnya bisa berubah baik tapi jika menyangkut urusan seks, dia tetaplah majikan nya seperti saat pertama kali Kuroko mengenalnya. Sangat liar dan ganas.

.

.

Pagi-pagi sekali Mibuchi Reo selaku sekretaris Akashi datang berkunjung kerumah Akashi membawa banyak buah-buahan, tadi tengah malam Akashi menelepon dan mengatakan tidak akan ke kantor hari ini karena sakit. Mibuchi tidak perlu ketok pintu dan menunggu dibukai, dia punya kunci rumah Akashi yang memang sengaja Akashi kasih karena dulu Mibuchi sering merangkap menjadi maid nya untuk bersih-bersih di wilayah kawasan khusus Akashi.

Mibuchi masuk kekamar Akashi dan melihat boss nya serta seorang pemuda lagi tiduran dikasur.

"Sei-chan~"

Mibuchi meletakkan buah-buahan yang ia bawa ke atas meja nakas.

"Dia siapa, Sei-chan?"

"Maid ku, maid istimewa, Kuroko Tetsuya"

Kuroko sedikit terkejut karena Akashi menyebutnya maid istimewa.

"Ohhhh~"

Mibuchi berjalan mengitari kasur untuk menghampiri Kuroko, diperhatikan nya baik-baik wajah Kuroko, detik berikutnya Kuroko sudah ada dalam dekapan Mibuchi yang sangat erat.

"Kamu imut sekali~, beneran maid?~"

"Iya, anoo.. maaf, ini sesak"

Akashi mendelik tajam kearah Mibuchi

"Reo, don't touch my maid!"

.

Mibuchi lebih memilih segera ke kantor daripada lama-lama dirumah iblis.

Akashi dan Kuroko tertidur lelap, mereka berdua harus jatuh sakit setelah semalaman menghabiskan malam di udara terbuka hampir dengan tidak berpakaian.

Kisah mereka belum selesai, masih belum, karena Akashi Seijuurou masih memerlukan maid seperti Kuroko Tetsuya untuk melengkapi perjalanan hidupnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Big Thanks buat Kaluki Lukari, Vanilla Parfait, Izumi-H, divanabila1717 yang telah berbaik hati memberi review di chapter sebelumnya, sangat membantu imajinasi saya~ maaf jika masih banyak kesalahan, semoga ff ini masih bisa dinikmati hehehe.. saya berusaha yang terbaik ^^v ~~

Thankyou juga buat semua yang sudah membaca, fav, follow, review. segala bentuk dukungan sangat membantu~

Terimakasih~