sudah sampai chapter 6, semoga masih ada yang minat baca ~

.

WARN! HARDYAOI, ADULTCONTENT!

DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI

TITLE : MY MAID

AUTHOR : HIMEVAILLE

PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA

GENRE : HURT/COMFORT, ROMANCE

RATE : M

.

HAPPY READING… ENJOY!

.

"Akashi-sama"

"Ya, Tetsuya?"

Kuroko menghampiri Akashi yang sedang bersantai di halaman belakang dengan secangkir kopi.

Hari ini hari sabtu, Akashi hanya bekerja setengah hari. Jam 2 siang tadi Akashi sudah smpai dirumah, sekarang jam 4 sore.

"Akashi-sama, saya mau minta izin untuk pulang ke Tokyo"

"Uhukk-uhukkk"

Akashi tersedak kopinya sendiri.

"Akashi-sama baik-baik saja?"

"Tetsuya, kenapa kau tiba-tiba ingin pulang ke Tokyo? Apa kau sudah tidak nyaman disini? Apa gaji yang ku beri kurang?"

"Bukan begitu, Akashi-sama. Saya nyaman disini dan gaji saya terlalu banyak malah. Saya ingin pulang ke Tokyo untuk mengunjungi makam orang tua saya"

Akashi terdiam. Selama ini dia memang tidak bertanya apa-apa tentang latar belakang kehidupan Kuroko.

"Tetsuya, duduk sini"

Akashi meminta Kuroko untuk duduk disampingnya, dibangku panjang ditengah halaman belakang.

"Ceritakan sedikit padaku tentang kehidupanmu, Tetsuya"

"Kenapa harus, Akashi-sama?"

"Aku majikan mu, sudah seharusnya aku tau tentang dirimu"

"Tapi selama ini anda tidak ingin tau"

Akashi menepuk jidat. Maid nya ini kadang memang bikin sebal.

"Tetsuya! Ceritakan saja lah"

"Baiklah jika Akashi-sama memaksa"

Kuroko mulai cerita tentang kehidupan nya yang sederhana, ia lahir di keluarga yang apa adanya tetapi ibu dan ayahnya sangat menyayanginya. Kuroko juga menceritakan masa sekolah nya dari TK sampai lulus SMA.

Akashi membayangkan Kuroko yang imut-imut saat masih TK, ia ingin senyum-senyum tapi ditahan.

"Lalu orangtua saya meninggal sesaat sesudah saya tamat SMA"

Akashi mendengar dengan seksama, ada kesedihan yang mendalam disana.

"Saat itu saya sudah putus asa, tapi tiba-tiba mendengar tentang pendapatan menjadi maid yang lumayan dari agen Momoi. Jadi saya coba-coba"

Akashi mengangguk-nganguk menanggapi cerita bagai dogeng yang tak bosan didengar.

"Lalu?" Tanya Akashi.

"Lalu ya sekarang saya jadi bekerja disini"

Akashi terkekeh geli. Maid nya ini semakin hari memang semakin akrab dengan nya, Kuroko sering bertanya pada Akashi tentang dunia bisnis dan itu memberi topic untuk percakapan mereka.

"Ettoo.. Jadi apa boleh saya pulang ke Tokyo? Tidak lama kok, saya pulang malam ini dan kembali pada senin pagi"

"Tentu Tetsuya. Apa perlu aku antar?"

"Tidak, Akashi-sama. Terimakasih. Anda mengizinkan saja itu sudah lebih dari cukup"

Akashi tentu mengizinkan Kuroko pulang, walau Akashi sudah mikir-mikir tentang asupan yang ia butuhkan, tapi mau gimana lagi? Kan hanya sebentar.

"Kalau begitu saya permisi dulu untuk beres-beres barang"

Greppp.. tangan Kuroko ditahan Akashi.

"Tetsuya~ aku ingin 'makan' dulu, nanti Tetsuya sudah pergi aku bisa sangat kelaparan"

Kuroko memutar bola matanya malas, majikan nya kadang suka manja yang bikin Kuroko merinding.

"Disini?"

"Terserah Tetsuya"

"Kalau begitu dikamar saja"

Kuroko mengajak Akashi untuk kekamarnya. Sepanjang jalan menuju kamarnya Akashi tak berhenti-henti mencium-cium pipinya.

.

.

Setelah bermain 3 ronde dengan berbagai gaya, mereka berdua menyudahi permainan yang tak pernah absen seharipun.

Kuroko mulai menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa, tidak banyak, hanya sebuah ransel yang berisi pakaian ganti dan uang.

Akashi yang masih tidur-tiduran di ranjang Kuroko memandang semua kegiatan Kuroko, tanpa ia sadar ia mengulas sebuah senyum yang sangat menawan.

.

.

Akashi mengantar Kuroko ke stasiun dengan mobilnya padahl Kuroko sudah menolak, tapi Akashi tetap ngotot mengantari.

"Tetsuya, janji jangan lama balik"

"Ha'i Akashi-sama"

Kuroko membungkuk memberi hormat kepada majikan nya sebelum memasuki stasiun. Akashi melambai-lambaikan tangan nya.

.

Akashi masuk kedalam rumahnya yang gelap. Ia tidak menghidupkan lampu ruangan lain.

Dengan tidak semangat, Akashi menghempas dirinya di kasur kingsizenya.

Sebelum Kuroko menjadi maid dirumahnya, ia memang sudah terbiasa hidup sendiri tapi semenjak ada Kuroko dan sekarang Kuroko izin sebentar, rasanya sepi, sunyi.

Akashi terlalu terbiasa dengan kehadiran Kuroko.

Akashi membalik-balikkan tubuhnya mencari spot yang nyaman untuk tidur tapi tetap saja tidak bisa tidur. Akashi memaksa mata nya untuk tertutup, tapi yang ia dapat malah bayang-bayang semua kegiatan seks nya dengan Kuroko.

"Arghh sial!"

Akashi junior sudah bangun hanya karena Akashi memikirkan Kuroko.

Akashi tersiksa batin dan butuh pelepasan.

Akashi berjalan ke kamar Kuroko, ia mengambil cd Kuroko dari dalam rak lemari. Dipilihnya cd berwarna biru muda yang menjadi ciri khas Kuroko.

Kemudian Akashi kembali ke kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

Celana ponggol yang tadi Akashi pakai sudah dilepas, celana dalam nya juga sudah.

Akashi membungkus penis nya dengan cd Kuroko, lalu mengocok penis nya sambil membayangkan Kuroko, tubuh rampingnya yang telanjang, desahan nya, wajahnya yang memerah, rasa bibirnya, rasa hangat jepitan dari lubang nya. semuanya.

"Tetsuya.. Tetsuyaa…"

Tangan Akashi yang tidak berbuat apa-apa ia gunakan untuk menaikkan bajunya, tampaklah perut kotak-kotak yang sudah lama ia bentuk dan selalu ia rawat.

Akashi menggigit ujung baju nya. tangan nya tidak berhenti mengocok Akashi junior yang berbalut cd Kuroko.

Akashi juga memaju mundurkan pinggang nya, membayangkan gaya doggy style yang sering ia pakai bermain.

Akashi meraih sabun cair yang berada didekatnya, sabun itu dituangkan pada cd Kuroko, lalu Akashi meremas cd itu sampai berbusa-busa.

Dibalutkan kembali cd itu pada penisnya dan Akashi mulai kembali mengocok penisnya.

Licin akibat sabun membuat Akashi dengan mudah mempercepat kocokan nya.

"Nghh… Tetsuyaa.. ahh.. Tetsuyaa.. Tetsuyaa…"

Nafas Akashi memburu tanda ia akan segera sampai klimaks nya.

"Ahhh…. Tett… su.. yaa.."

Sperma Akashi bercampur dengan busa sabun dan lengket di cd kuroko.

Akashi menormalkan nafasnya sambil bersandar di dinding kamar mandi. Sudah lama ia tidak pernah buat sendiri, rasanya memang lega tapi tak senikmat jika langsung melakukan seks.

.

.

Pagi-pagi sekali Kuroko yang telah berada di Tokyo bersiap-siap untuk ke makam orangtuanya.

Di perjalanan, Kuroko sempatkan membeli dua buket bunga yang telah dirangkai indah.

Di tempat pemakaman umum itu, Kuroko menghampiri dua makam yang bersebelahan. Letaknya tidak jauh dari pintu masuk pemakaman.

"Tou-san, Okaa-san, Ohayou Gozaimasu"

Kuroko meletakkan buket bunga yang ia bawa masing-masing ke makam orangtua nya. ia kecup dengan penuh hormat batu nisan yang menancap disana.

"Tou-san, Okaa-san, aku sekarang sudah mandiri, sudah bekerja dan tentu saja bekerja dengan rajin, tapi maaf hanya bisa menjadi seorang maid, tapi aku mendapat majikan yang baik meskipun aneh"

Kuroko duduk diantara makam orang tua nya. kedua tangannya dipakai untuk mengelus batu nisan masing-masing.

"Tou-san, Kaa-san, kalian jangan marah ya karena aku sudah melakukan seks dengan majikan ku. Apa aku kurang ajar? Tapi dia yang memaksa terus malah minta lagi dan lagi"

Kuroko mencurhatkan pengalamannya. Tanpa ia sadar, ada sepasang mata yang memperhatikan nya.

"Tapi.. entah mengapa majikan ku ini membuat ku merasa bahagia. Walau sangat mesum, dia juga manja, jadinya lucu heheh"

Kuroko terkekeh sendiri. Kuroko merasa sangat nyaman bisa bercerita pada orang tua nya meski Kuroko dan orang tuanya berada di alam yang berbeda.

Kuroko tidak tahu kapan bulir airmata nya sudah mengalir deras, Kuroko terisak sedih.

"Aku merindukan kalian, Tou-san, Kaa-san.. hikks.."

Tagisan Kuroko berhenti ketika secara tiba-tiba ada sepasang tangan yang melingkar dipinggang nya. Kuroko terkejut dan langsung membalikkan badan nya

"Akashi-sama?!"

"Sudah curhat nya?"

Akashi melepas pelukan nya pada Kuroko, lalu memberi hormat pada makan orangtua Kuroko.

"Kenapa anda disini?"

"Memangnya tidak boleh?"

"Sejak kapan anda disini?"

"Sejak Tetsuya bilang Tetsuya sudah mandiri"

Blush.. wajah Kuroko memerah berarti Akashi mendengar semua pembicaraan nya dengan orangtuanya. Memalukan. Sangat memalukan. Kuroko membalikkan badan nya tidak berani menatap Akashi.

Akashi malah membalikkan lagi badan Kuroko untuk menghadapnya. Dikecupnya dahi Kuroko. Jari-jari nya menyeka sisa airmata Kuroko yang masih tersisa di sudut mata.

"Tetsuya sudah selesai?"

Kuroko mengangguk. Mereka memberi hormat terakhir sebelum meninggalkan makam itu.

'Ini majikan yang kumaksud, Tou-san Kaa-san' kata Kuroko dalam hati

.

.

"Akashi-sama kenapa anda bisa disini?"

Sudah kesekian kali Kuroko bertanya hal yang sama. Akashi pun sudah menjawab "Karena itu keinginan ku" tapi jelas Kuroko tidak puas dengan jawaban itu.

Semalaman Akashi mencari tau tentang Kuroko, dengan kuasa nya tidak butuh waktu lama untuknya mendapat setiap informasi yang ia inginkan.

Pagi-pagi Akashi sudah berangkat ke Tokyo dengan Shinkansen. Di Tokyo, Akashi sudah meminta anak buah nya menyiapkan penginapan nya dan segala sesuatunya.

Seluruh kota di Jepang sudah Akashi datangi. Ia hafal betul jalanan kota Tokyo.

Awalnya Akashi sempat takut Kuroko tidak menginap di apartemen nya yang dulu sesuai alamat yang tertera di informasi, tapi ternyata masih disitu.

Memang saat Akashi sampai di apartemen Kuroko, Kuroko sudah tidak ada. Jadi Akashi menyusul ke tempat pemakaman.

Akashi terkekeh geli mendengar semua curhatan Kuroko tapi dia juga bahagia, karena dari sekian banyak topic yang bisa dipilih, Kuroko memilih dirinya sebagai topic pembicaraan pada orangtua Kuroko dialam sana.

Sekarang Akashi dan Kuroko berjalan-jalan mengelilingi Tokyo, Akashi bilang dia sudah lama tidak ke Tokyo dan ternyata tidak ada perubahan yang menonjol.

Keduanya berbelanja ini itu dan semua Akashi yang bayar. Kuroko menolak pun sia-sia saja.

.

Petang menjelang malam, langit sudah tampak berwarna orange.

Akashi dan Kuroko memutuskan untuk berisitirahat disebuah taman yang ada di pinggiran kota Tokyo. Taman itu masih lumayan ramai, jadi Akashi dan Kuroko mendapat tempat yang agak di ujung.

"Akashi-sama, maaf jika lancing tapi bolehkah saya tahu tentang keluarga anda?"

Kuroko bertanya sesopan mungkin, ia juga sedikit penasaran dengan hidup Akashi, namun Akashi tak kunjung memberi jawaban

"Maaf jika tidak bo—"

"Boleh Tetsuya, tentu boleh"

Akashi menatap langit dimana matahari mulai bersembunyi.

"Keluarga ku tidak begitu dekat dengan ku. Saat tamat SMA aku sudah mulai bekerja di perusahaan ayah ku yang sekarang terletak di Osaka. Mengumpulkan modal secukupnya dan mulai membuka perusahaan sendiri. Aku memtuskan tinggal di Kyoto, orangtua ku terlalu mengekang ku berbuat ini itu, aku tidak suka cara mereka"

Kuroko bisa merasakan aura kebencian mulai bertebaran. Ia tidak tahu menanggapi apa jadi hanya bisa diam-diam

Akashi tidak bercerita terlalu panjang karena menurutnya tidak ada yangmenarik dalam kisah hidupnya.

"sekarang aku punya Tetsuya yang akan menjagaku, iya kan?"

"Tentu Akashi-sama. Sebagai maid anda, itu sudah kewajiban saya"

Akashi tersenyum. Ia merasa lega mendapat maid yang begini. Seharusnya lebih cepat ia dapatkah maid ini. Tapi yasudah, asalkan maid ini tetap bersama nya.

.

.

Akashi mengajak Kuroko menginap di villa nya. villa nya sangat luas dan mewah.

Kadang Kuroko terheran-heran seberapa kaya sih majikan nya ini.

"Tetsuya, aku mau berenang. Mau ikut?"

"Berenang malam-malam?"

"Sudah lama aku tidak berenang. Besok pagi-pagi kita sudah akan kembali ke Kyoto. Hanya sebentar saja"

Sebelum ke villa ini, Akashi mengantar Kuroko ke apartemen nya untuk mengambil barang bawaan Kuroko.

Kolam berenang di villa Akashi termasuk cukup luas untuk ukuran kolam renang dalam rumah.

Akashi yang sudah memakai celana renang nya tanpa atasan langsung menyebur ke dalam air. Akashi berenang kesana kemari dengan bebas.

"Tetsuya, ayo!"

"Dingin, Akashi-sama"

Kuroko hanya duduk-duduk dipinggir kolam dengan kaki yang berada didalam air.

Akashi menyeringai licik, ia berenang dari dalam air mendekat ke arah Kuroko kemudian menarik kaki Kuroko hingga Kuroko tercebur kedalam air.

Byurrr..

"Ughh.. Akashi-sama!"

Kolam itu tidak terlalu dalam, hanya sebatas pinggang orang dewasa.

Akashi memeluk Kuroko dari belakang lalu membawa Kuroko ke tepian kolam.

"Akashi-sama?"

"Shh Tetsuya, apa kau tidak tahu betapa aku menderita 'kelaparan'?

"Tapi baru sehari anda tidak 'makan'"

"Itu membuat ku sangat lapar"

Akashi menciumi pundak Kuroko, meremas bokong Kuroko, lalu menggesekkan tonjolan penis nya pada belahan pantat Kuroko.

"Akashi-sama.."

Akashi melihat wajah Kuroko yang selalu malu-malu saat mereka bermain

"Tetsuya, apa kau masih malu dengan kegiatan ini?"

"Eh?"

"Kita setiap hari melakukan ini, kenapa kau masih malu-malu?"

Kuroko diam tidak tahu menjawab apa. Kuroko hanya segan karena Akashi ini majikan nya, bukan pacarnya atau siapa nya.

"Ekspresikan dirimu Tetsuya, ini hanya tentang kita"

Akashi melepas celana Kuroko dan dalaman nya begitu pula dengan punya nya.

Tanpa aba-aba dan karena sudah lapar, Akashi langsung memasukkan penis nya kedalam lubang Kuroko.

"Arghh…"

Sensasi baru yang baru mereka rasakan. Rasa padat pada gesekan lubang yang ditambah dengan air, dan sensasi dingin dari air serta angin malam.

Akashi bergerak cepat. Ia tak tahan lagi, situasi dan kondisi ini benar-benar nikmat.

"Nghh Tetsuya,.."

"Akashi-sama.. pelan-pelan saja.. ahh"

"Tidak bisa, aku sudah sangat lapar"

Jipratan air menambah kesan erotis dalam permainan itu.

Akashi memeluk erat tubuh Kuroko agar penis nya tertancap semakin dalam.

"Ahh.. Akashi-sama.."

"Katakan jika ini nikmat Tetsuya.."

Akashi memaksa Kuroko untuk jujur. Masa Kuroko harus terus menerus merasa malu, Akashi ingin Kuroko yang juga agresif.

"Ahh.. ini.. n-nikmatt.. ahhh~"

Kuroko mendesah dengan leluasa, Akashi menyeringai melihat itu. Wajah Kuroko yang begini erotis lebih membuatnya bergairah. Tempo permainan semakin dipercepat, keduanya memburu kenikmatan yang tiada tara, tiada batas, namun hanya untuk mereka berdua.

.

.

Jam 6 pagi Akashi dan Kuroko kembali ke Kyoto. Akashi sudah menelepon Mibuchi dan mengabarkan akan masuk agak telat.

Perjalanan keduanya begitu singkat dan melelahkan tetapi penuh nikmat.

.

Rumah no.4 yang paling besar dikomplek ini kembali ditempati. Kuroko menghela nafas, sepertinya dia tidak bisa jauh-jauh lagi dari tempat ini, bahkan mungkin Kuroko sudah harus mengurus KTP untuk wilayah kependudukan Kyoto.

Akashi dan Kuroko berjalan ke kamar masing-masing.

Saat Kuroko sudah sampai di kamar nya, ia kaget melihat lemari pakaian nya yang terbuka padahal seingat nya sudah ia kunci.

Kuroko buru-buru mengecek lemarinya takut ada yang hilang, tapi semua masih aman hanya saja laci dalam lemari tempat ia menaruh dalaman nya sedikit berantakan.

Kuroko orang nya rapi dan teliti, jadi berantakan sendiri bisa langsung disadari.

"Akashi-sama.." Kuroko sedikit berteriak

"Ya Tetsuya?" Suara Akashi tidak kalah keras

"Kurasa ada maling yang masuk kerumah ini, lemari ku berantakan" seru Kuroko

Tidak terdengar jawaban dari Akashi. Kuroko yang penasaran langsung keluar kamar dan melihat Akashi yang sudah buru-buru menuruni tangga sambil membawa tas kerja nya.

"Akashi-sama?"

"Maaf Tetsuya, aku harus ke kantor sekarang"

Kuroko semakin kebinggungan melihat tingkah majikan nya, sementara Akashi harap-harap cemas. Tidak mungkin kan Akashi mengatakan tentang pengambilan cd Kuroko sebagai bahan imajinasi.

Suara deru mobil yang di gas kencang terdengar nyaring.

Didalam mobil, Akashi bersyukur Kuroko tidak mengejarnya untuk bertanya dengan 'aksi maling nya'

.

.

.

TBC

.

.

.

Big Thanks buat Taurus'99, nimuixkim90, Izumi-H yang sudah sempat mereview di chapter sebelumnya. Big Thanks juga buat yang sudah mereview di chapter-chapter sebelumnya. Review kalian, semangatku~

Thankyou juga buat semua yang udah baca, udah fav, udah follow.

semoga ff ini dapat menghibur ^^v

Terimakasih~