semoga masih ada yang betah baca~
.
WARN! HARDYAOI, ADULTCONTENT
DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
TITLE : MY MAID
AUTHOR : HIMEVAILLE
PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA
GENRE : HURT/COMFORT, ROMANCE
RATE : M
.
HAPPY READING… ENJOY!
.
"Tetsuya.. cepat kemari, bantu aku menggosok punggung ku"
"Ha'i Akashi-sama"
Masih pagi tapi rumah itu sudah ribut karena pembicaraan yang memerlukan teriakan dari majikan dan maidnya.
Kuroko mematikan kompor gas yang dipakai untuk memasak, segera ia berlari menuju kamar majikan nya dan masuk dalam kamar mandi.
Akashi selaku majikan yang baik dengan senang hati memberikan Kuroko vitamin pagi yang padahal Akashi lah yang membutuhkan vitamin tersebut. Menggosok punggung hanya modus untuk membawa si maid tercinta masuk kamar mandi.
.
Mandi pagi itu berlangsung lama karena diberi perawatan 'khusus'
.
Kuroko menghela nafas lelah, tangan nya berkerut akibar terlalu lama bermain air. Tentu saja itu karena majikan nya meminta Kuroko untuk masuk ke dalam bathtube agar lebih enak di grepe-grepe.
"Tetsuya.. dimana jas merah ku?"
Baru saja keluar kamar bahkan pintu kamar belum tertutup, suara majikan nya terdengar lagi.
"Didalam lemari pintu kedua, semua jas anda ada disana"
"Tidak ada Tetsuya, aku sudah cari"
Kuroko terpaksa harus masuk kembali ke kamar Akashi, yang pertama ia lihat adalah Akashi yang telanjang. Badan nya tegap, sixpack, sungguh sexy. Otot kaki nya kekar, paha nya juga, dan penis nya yang besar menggelantung disana. Kuroko bisa merasakan darah nya berdesis naik. Memang Kuroko kan sudah biasa melihat Akashi telanjang, tapi kalau memperhatikan secara seksama itu jarang.
Kuroko menggeleng-gelengkan kepala nya membuang pikiran suci nya yang telah kotor ternodai akibat perbuatan mesum dari majikan nya setiap hari. Kuroko membuka lemari pintu kedua, melihat satu persatu jas yang bergantung disana.
"Ini apa Akashi-sama? Ini apa?" Kuroko menarik keluar jas merah yang Akashi maksud lalu dengan geram menunjukkan dekat-dekat ke mata Akashi.
"Tapi tadi tidak ada, Tetsuya"
Akashi memasang muka lugu tidak bersalah yang membuat Kuroko semakin geram
"Cepat rapikan diri anda, saya akan melanjutkan memasak sarapan"
Kuroko membanting pintu kamar Akashi saatberjalan keluar.
"Hei! Tetsuya, tidak boleh marah-marah sama majikan"
Kuroko cuek saja, ia kembali ke dapur melanjutkan kegiatan yang tertunda disana.
.
15 menit kemudian, Akashi sudah rapi dengan setelan pakaian kerja. Akashi menyeringai melihat Kuroko yang membelakangi nya memasak sarapan.
Dengan langkah pelan-pelan, Akashi meremas pantat Kuroko dari belakang.
"Tet~ su~ ya~"
Kuroko tidak kaget lagi. Setiap pagi sering dibeginiin, dia sudah terbiasa.
"Anda sudah mengambil jatah pagi anda, Akashi-sama. Tidak ada bonus tambahan"
"Loh? Kan aku belum mengatakan apa-apa, kenapa Tetsuya percaya diri sekali membahas bonus tambahan?"
Blushh.. wajah Kuroko memerah. Majikan nya ini selain jago ranjang juga jago menggoda nya seperti ini.
"Tetsuya manis sekali dengan wajah yang memerah" bisik Akashi tepat ditelinga Kuroko.
"Akashi-sama!"
Kuroko berbalik dengan spatula ditangan nya yang siap untuk memukul si majikan, biar saja jika nanti gaji dipotong, toh gaji Kuroko sudah lebih-lebih. Tapi sayangnya, reflek Akashi sangat lincah sehingga dengan mudah menghindari gerakan Kuroko.
Akashi melepas tangan nya dari bokong Kuroko, ia berjalan ke meja makan sambil tertawa-tawa.
Diam-diam Kuroko tersipu malu mendapati majikan nya yang bisa tertawa lepas seperti itu. Majikan nya yang seperti itu terlihat sangat tampan.
.
Acara sarapan pagi selesai dalam waktu 40 menit yang dipenuhi berbagai adu mulut dan godaan maut.
Akashi dan Kuroko terlalu akrab sekarang. Kadang Kuroko bertanya pada diri nya sendiri, apa ia memang maid disini? Sebab posisi nya tidak seperti maid, malah seperti seorang… istri.
Kuroko bermaksud ingin bertanya juga atau berdiskusi dengan majikan nya itu, tapi ia takut dikata tak sadar diri akan posisinya. Jelaslah, Kuroko adalah maid disini, setiap bulan masih digaji.
.
Maid-maid lain yang juga bekerja dirumah ini sudah datang setelah barusan Akashi pergi ke kantor. Para maid mulai membersihkan lantai 1 sedangkan Kuroko naik ke lantai 2 untuk bersih-bersih juga.
Sebenarnya Kuroko sangat bersyukur karena diperlakukan special oleh majikan nya. dimana-mana orang bekerja kalau bisa akrab dengan majikan kan petanda bagus.
Drtt..Drtt..
Ponsel Kuroko yang berada disaku celana bergetar, buru-buru Kuroko menjawab panggilan masuk saat ia lihat nama majikan nya tertera sebagai penelepon.
"Tetsuya, map berisi dokumen untuk rapat hari ini tertinggal di ruang kerjaku. Tolong antarkan ke kantorku. Mapnya berwarna merah"
"Ha'i Akashi-sama"
Panggilan sudah terputus. Kuroko memejamkan matanya menahan emosi, belum setengah jam majikan nya itu tidak terlihat, tapi tetap saja membuat repot. Meski Kuroko sama sekali tidak keberatan karena ini bagian dari tugasnya, namun Kuroko menyadari entah mengapa majikan nya itu menjadi lebih manja dengannya, seperti mencari cara untuk selalu bersamanya.
.
.
Kuroko keluar dari taksi yang ia pakai jasa nya untuk membawa Kuroko ke kantor Akashi.
Gedung tinggi dengan desain yang benar-benar menawan sudah ada di area pandang Kuroko. Ini pertama kalinya Kuroko berkunjung ke kantor Akashi.
Kuroko berjalan perlahan untuk menikmati perkarangan sekitar kantor yang tampak teduh, tanpa adanya satupun sampah.
Didepan pintu masuk, Akashi sudah menunggunya.
"Tetsuya"
"Ini dokumen nya, Akashi-sama"
"Sankyu, Tetsuya"
Akashi memperhatikan Kuroko yang sepertinya sangat senang melihat gedung kantornya, mata Kuroko berkilap-kilap seperti ada ribuan bintang disana.
"Tetsuya, jika kau mau, kau boleh melihat-lihat seluruh isi gedung ini"
"Hah? Benarkah itu, Akashi-sama?"
"Tentu, Tetsuya. Aku akan menemanimu"
Kuroko kegirangan seperti anak TK yang dibawa jalan-jalan ke taman bermain. Bisa melihat dengan langsung seluruh isi gedung perusahaan yang paling terkenal di Jepang adalah suatu anugrah, menurut Kuroko.
Kuroko sangat antusias bertanya ini itu seputar gedung ini, Akashi pun tak keberatan memberikan jawaban terbaik.
.
Seluruh isi gedung sudah mereka jelajahi dalam waktu 2 jam lebih. Sekarang keduanya duduk di ruang kerja Akashi.
"Tetsuya, mau kopi?"
Akashi berjalan ke meja kecil di ujung ruangan.
"Biar aku saja yang membuatnya, Akashi-sama"
Kuroko juga ikut berjalan dan mendahului Akashi.
Dia dengan telaten meracik kopi tersebut hingga aroma nya mengguar mengharumi satu ruangan.
"Tetsuya mau dirumah, mau dikantor, tetap saja jadi maid, ya"
Kuroko tersinggung mendengar itu. Tangan nya yang tadi sudah mau menyerahkan secangkir kopi untuk Akashi ditarik kembali lalu Kuroko berjalan membuang muka melewati Akashi.
"Hei hei Tetsuya.."
Akashi menyusul Kuroko yang sudah duduk di sofa. Secangkir kopi yang memang untuk nya, Akashi ambil. Dinikmati cairan lekat hitam itu setelah ditiup beberapa kali.
"Hmm.. kopi buatan Tetsuya memang yang terbaik" puji Akashi.
Tokk.. Tokk..
"Sei-chan~ saat nya rapat"
Mibuchi datang untuk menjemput boss nya menghadiri rapat.
"Tetsuya, tunggulah disini sampai aku selesai rapat"
Titah Akashi pada maid nya yang dengan lugu angguk-angguk kepala.
Dengan begitu, Akashi dan Mibuchi meninggalkan Kuroko sendirian.
.
.
3 jam berlalu dan Akashi belum kembali. Kuroko merasa bosan. Semua majalah yang ada diruangan itu sudah Kuroko baca.
Kuroko ingin keluar ruangan tapi masih belum hafal jalan, takutnya tersesat. Jadi Kuroko memutuskan untuk berdiri melihat pemandangan dari kaca besar tranparan yang ada disamping meja kerja Akashi.
Kaca itu sangat luas terbuka lebar, dari sana Kuroko bisa melihat gedung-gedung tinggi lainnya yang sebagian besar adalah gedung penting di kota Kyoto.
Pintu ruangan terbuka. Kuroko hanya menolehkan kepala nya sebentar untuk memastikan siapa yang datang dan ternyata adalah Akashi.
Kuroko kembali memandangi view yang bisa mata nya lihat.
"Tetsuya sedang apa?"
Akashi berjalan mendekati Kuroko, mengikuti mata biru itu untuk melihat suasana kota Kyoto dari ketinggian ruangan nya.
"Sedang melihat-lihat. Bagaimana rapat anda, Akashi-sama?"
"Berjalan lancar"
Akashi menyelinap ke belakang Kuroko lalu memeluknya. Akashi mencium pundak Kuroko, mencium lehernya, menjilati lehernya untuk memberi rangsangan.
"A-Akashi-sama, jangan! Ini tempat umum"
"Hanya kita berdua disini, Tetsuya"
Akashi membalikkan tubuh Kuroko, mencium bibir ranum yang membawa candu. Kuroko membalas ciuman itu, ia juga sudah lihai dalam bermain lidah.
Tangan Akashi bergerak turun menelusuri setiap lekuk tubuh Kuroko.
"Akashi-sama.."
"Shh.. Tetsuya.. satu ronde saja"
Akashi membuka celana Kuroko, menggoda junior Kuroko yang ternyata sudah setengah bangun.
'Malu-malu tapi mau' batin Akashi.
Akashi membuka celana nya setengah hanya untuk mengeluarkan penis nya yang sudah tegang.
Akashi kembali membalikkan tubuh Kuroko. Kuroko menahan berat badan nya dengan telapak tangan yang ditekan pada dinding kaca.
Akashi menaikkan pinggul Kuroko agar pas dengan posisi penis nya.
"Tetsuya, aku masuk"
"Ahkk Akashi-sama.."
Akashi mendiamkan sejenak penisnya didalam lubang anal Kuroko, meresapi rasa yang langsung menjalar nikmat. Tidak beberapa lama, Akashi mulai bergerak.
"Ahh Akashi-sama.. ehmmm ahhh.."
"Nghh Tetsuya.."
Kuroko sebenarnya malu sekali. Mereka melakukan seks dihadapan dinding kaca transparan yang menampakkan pemandangan kota Kyoto. Kuroko berfikir bagaimana jika dari gedung lain ada yang melihat mereka, tapi pikiran nya tidak sanggup berfikir jauh karena rasa nikmat memaksa pikiran nya untuk melayang.
"Ahh.. Tetsuya~ kenapa kau selalu… rapat.. nhhh"
"Ti-tidak tahu.."
Samar-samar Kuroko melihat pantulan dirinya dan Akashi, melihat bagaimana pinggang Akashi bergerak maju mundur untuk menggapai kenikmatan. Hal itu membuat wajah Kuroko memerah sempurna.
"Ahhkkk~ Tetsuya.. aku sudah.. mau keluar.."
"S-saya juga.. Akashi-sama.."
Akashi mempercepat gerak pinggang nya, mengejar kenikmatan yang hampir mencapai puncak.
"Ah' Ah' Tetsuya.. Tetsuya…"
"Akashi-sama.. Akashi-sama…."
Keduanya bersandar didinding kaca setelah puncak kenikmatan berhasil di daki.
.
.
Akashi mengajak Kuroko makan siang di cafeteria dalam gedung itu. Awalnya Akashi ingin mengajak Kuroko ke salah satu restoran favorite Akashi yang berada tidak jauh dari kantornya, tetapi karena setelah jam makan siang Akashi harus kembali menghadiri sebuah rapat, dan waktu makan siang Akashi yang sudah banyak tersita oleh kegiatan panas mereka, jadilah mereka hanya makan siang di cafeteria, padahal cafeteria ini sudah setara dengan café-café kelas atas.
Ketika sedang khidmat menyantap makan siang, seorang karyawati mendatangi meja yang Kuroko dan Akashi tempati.
"Akashi-san, ini dokumen untuk rapat berikutnya"
Karyawati itu terlihat malu-malu dengan pipi yang bersemu merah. Kuroko yakin semua karyawan dan karyawati yang bisa bekerja di perusahaan Akashi adalah yang terbaik, lalu apa yang membuat Karyawati itu tampak gugup? Kuroko binggung.
"Oh, thanks"
Akashi menerima dokumen itu dan sedikit tersenyum. Karyawati itu hanya menunduk memberi hormat lalu buru-buru pergi.
Setelah kepergian karyawati itu dan karena moment yang tiba-tiba tadi, Kuroko menyadari satu hal. Hal itu langsung ditanyakan pada Akashi, karena memang menyangkut Akashi.
"Akashi-sama"
"Hmm?"
"Apa anda tidak mempunyai pacar? Atau orang yang anda sukai?"
Gerak gerik karyawati tadi telah memberi Kuroko pencerahan. Selama ini Kuroko memang tidak pernah melihat Akashi jalan dengan wanita mana pun, atau sekedar menelepon seseorang secara khusus, intinya yang berhubungan dengan hubungan Akashi dengan someone special, itu tidak ada.
Akashi lama terdiam sambil memandang Kuroko. Kuroko sempat berfikir, mungkin Akashi memang gay, buktinya teman main nya adalah Kuroko yang jelas seorang lelaki. Tapi Kuroko sadar lagi bahwa Akashi juga tidak pernah terlihat berkencan dengan laki manapun. Kuroko jadi penasaran.
"Aku tidak mempunyai pacar"
"Eh? Benarkah? Tapi anda sangat tampan dan terkenal,pasti banyak yang menginginkan anda"
"Memang banyak yang menginginkan ku, tapi aku tidak menginginkan mereka"
"Hmmm.. lalu apakah ada orang yang anda sukai, Akashi-sama?"
Akashi terdiam lagi tapi wajahnya tersenyum. Kuroko dengan sabar menunggu jawaban berikutnya.
"Ada, Tetsuya. Aku menyukai seseorang"
Kuroko hanya menanggapi dengan "Ohhh.." . menurut Kuroko, itu wajar. Akashi kan juga manusia, punya perasaan, wajar saja jika menyukai seseorang, apalagi umur Akashi yang sudah dewasa. Tapi Kuroko penasaran siapa orang yang Akashi sukai, Kuroko menebak-nebak dalam hati, pastinya orang itu sangat istimewa. Kuroko hendak bertanya tapi ucapan Akashi duluan mendahului nya.
"Tadi aku yakin mendengar jelas Tetsuya mengatakan ku tampan, iya kan?"
Kuroko terdiam. Bisa ia rasakan rasa panas menjalar di pipinya. Malu, sangat malu. Kuroko mengutuk mulutnya yang sadar tidak sadar bisa berkata begitu.
Kuroko tidak menjawab Akashi, bahkan tidak melihat Akashi. Kuroko buru-buru menjauh dari Akashi dan berjalan keluar dari cafeteria dengan kepala yang ditunduk kebawah.
"Heii.. Tetsuyaa..?"
Majikan nya itu benar-benar… menyebalkan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Terimakasih buat siapapun yang sudah membaca, yang sudah Fav, yang sudah Follow, terkhusus yang sudah Review. Semua bentuk dukungan kalian sangat menginspirasi saya :)
Big Thanks to reviewers Izumi-H, Vanilla Parfait, AkaKuro-nanodayo, Liuruna, Kaluki Lukari, Divanabilla1717, vira-hime, Taurus'99, nimuxkim90, Anitayei, Nyanko Kawaii, asuka. souryou, Lisette Lykouleon, Free. FD, Hime-chan.
Etto.. saya tidak terlalu pandai membalas review, tapi... ya.. terimakasih untuk tanggapan kalian, saya akan berusaha yang terbaik untuk ff ini, semoga kalian semua menikmatinya~
See you in next hotter chapter!
Terimakasih~
