Jangan bosan membaca ff ini ya~
.
WARN! HARDYAOI, ADULTCONTENT
DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
TITLE : MY MAID
AUTHOR : HIMEVAILLE
PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA
GENRE : HURT/COMFORT, ROMANCE
RATE : M
.
HAPPY READING… ENJOY!
.
Ting tong …
Ting tong …
"Ya, Tunggu sebentar.."
'siapa sih yang datang pagi-pagi gini?'
Kuroko berjalan tergesa-gesa menuju pintu utama karena suara bel yang tidak berhenti berbunyi. Kuroko membukakan pintu terburu-buru. Seorang wanita berkacamata dengan rambut pirang panjang serta pakaian minim bahan dan sebuah koper berdiri didepan pintu.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Seijuurou-kun mana?"
"Maksud anda Akashi-sama? Akashi-sama sedang dikamarnya bersiap-siap"
Wanita itu langsung melenggang masuk sambil menyeret kopernya.
"Maaf, anda siapa?"
Kuroko berusaha mencegat, Kuroko tidak mungkin membiarkan orang tak dikenal masuk begitu saja kerumah tuan nya.
"Seijuurou-kun… Seijuurou-kun…"
Wanita itu memanggil-manggil nama kecil Akashi dengan logat yang sangat manja.
"Maaf nona, bisakah menjawab anda siapakah?"
Kuroko yang diabaikan masih berusaha bertanya. Wanita itu menolehkan kepala nya melirik Kuroko dengan tatapan tidak senang.
"Alex?"
Akashi turun dari lantai 2 dengan jas merah marun yang sudah melekat pada tubuh atletisnya, sungguh keren.
"Seijuurou-kunnnn…"
Wanita yang di panggil Alex itu langsung menerjang ke pelukan Akashi begitu Akashi sampai dilantai 1.
Kuroko sedikit terkejut dengan kelakuan Alex, ditambah sekarang Alex memanyunkan bibirnya untuk mencium Akashi tapi segera Akashi sumbat mulutnya dengan tisu yang selalu ada di kantong jas Akashi.
"Alex, lepas!"
"Ihh.. Seijuurou-kun jahat. Padahal kita sudah lama tidak bertemu, aku kan kangen"
"Siapa peduli"
Akashi berjalan menjauhi Alex dan mendekati Kuroko yang masih terbinggung-binggung.
"Tetsuya, ohayou"
Cup! Akashi mengecup sekilas pipi Kuroko lalu mengedipkan sebelah matanya. Kuroko berblushing ria. Sementara Alex hanya ternganga dengan adegan di depan matanya.
"Ohayou gozaimasu, Akashi-sama. Akashi-sama apa wanita ini tamu anda?"
"Oh, dia. Dia sepupu jauhku yang tinggal di Amerika, namanya Alexandra Garcia"
Alexandra Garcia yang baru kembali ke Jepang setelah bertahun-tahun tinggal di Amerika, dia dan Akashi dulunya sedikit dekat karena sering bermain basket bersama.
"Seijuurou-kun, dia siapa?"
"Maid pribadi ku"
"Maid? Hanya maid? Lalu kenapa kau mencium nya dan malah menolak ciuman ku?"
"Bukan urusan mu"
Akashi berjalan mendahului mereka untuk ke dapur. Saat Kuroko akan menyusul Akashi, Alex menarik tangan Kuroko dengan kuat.
"Hei, maid-kun! Bawa barang-barang ku ke kamar Akashi"
"Tapi saya harus melanjutkan memasak sarapan untuk Akashi-sama"
"Jangan membantah! Cepat saja. Aku yang akan memasak"
Kuroko dengan berat hati melakukan yang di minta oleh Alex.
.
Baru saja Kuroko sampai di kamar Akashi, suara panci jatuh, piring gelas pecah, air tumpah, terdengar dari dapur. Kuroko cepat-cepat meletakkan barang bawaan Alex dan berlari turun.
"Alex! Apa-apaan kau?"
"Aku hanya ingin memaksa sarapan untukmu"
"Memasak kau bilang? Kau lihat apa yang kau perbuat!"
Kuroko semakin berlari saat suara keras Akashi terdengar mengerikan.
"Ada apa ini?"
"Tch.. Tetsuya kemana saja kau? Kau lihat, dapur jadi berantakan begini!"
"Maaf, Akashi-sama. Tadi—"
"Sudahlah! Aku sarapan di kantor saja!"
Akashi langsung menyambar tas kerja nya dan berjalan keluar. Kuroko dan Alex saling tatap tatapan. Kuroko merasa tidak senang karena biasanya pagi-pagi akan ada hal romantic tapi sekarang malah begini, dan lagi Akashi jadi ikut-ikutan membentak Kuroko. Ho-oh.. Kuroko sudah nyaman dengan perlakuan Akashi.
Sampai di pintu depan, Alex melambai-lambai untuk Akashi tapi Akashi abaikan. Akashi malah melihat Kuroko yang tersenyum seperti pagi biasanya saat mengantar Akashi untuk ke kantor.
Akashi berjalan menuju Alex dan Kuroko yang berdiri sebelahan. Alex sudah berfikir bahwa Akashi akan menghampirinya namun sayangnya Akashi malah menghampiri Kuroko.
Akashi mencium bibir Kuroko dengan mesra.
"Tetsuya, ittekimasu. Akan kutagih jatah pagi ini nanti malam" bisik Akashi.
Lagi-lagi, Kuroko blushing. Akhir-akhir ini Kuroko sering blushing padahal ini bukan pertama atau kedua kali Akashi begitu untuknya.
Kuroko melirik Alex yang ternyata telah menatap mereka dengan tatapan yang tak bisa diartikan, antara wow atau oh my god. Sebuah ide iseng dengan jahat melintas di otak suci Kuroko dengan maksud membalas perlakuan Alex.
"Itterashai Akashi-sama"
Ucapan itu memang biasa saja, sama seperti pada umumnya, tapi yang menjadi special pada pagi hari ini adalah setelah Kuroko mengucapkan itu, Kuroko mengecup balik bibir Akashi.
Tatapan Alex semakin menjadi-jadi seperti what the fuck. Lantas Akashi yang tidak menyangka mendapat balasan seperti itu merasa sangat senang. Tidak tahu mengapa bisa senang tapi setelah sekian lama Akashi yang selalu duluan menggoda Kuroko, mengrepe-ngrepe dari mulai menolak tidak mau sampai akhirnya pasrah dan sekarang malah membalas. Ini moment yang wajib Akashi bahagiakan.
Akashi memandang Kuroko berbinar-binar lalu mengedipkan sebelah mata nya dan pamit berangkat.
Ketika mobil Akashi sudah tidak terlihat lagi, Alex menarik Kuroko ke dalam rumah. Pintu dibanting tertutup. Kemudian Alex mendorong Kuroko jatuh ke lantai.
Alex berjongkok di depan Kuroko, menjambak surai halus seindah langit pagi itu.
"Hei, kau hanya maid disini, jangan berlagak sok ya!"
"Maaf Alex-san, tapi itu hanya kegiatan rutin kami"
"Oh kau bahkan berani menjawab omongan ku ya.."
Alex sudah bersiap ingin menampar Kuroko, tapi Kuroko dengan tegas menepis.
"Alex-san setelah perjalanan jauh bukannya lebih baik anda beristirahat?"
"JANGAN MEMERINTAH KU BOCAH. Kau kira kau siapa, hah?"
"Saya maid pribadinya Akashi-sama"
Ya, itu benar. Kuroko adalah maid pribadi Akashi yang telah merasakan bagaimana hangat nya sentuhkan Akashi, yang sudah merasakan bagaimana merawat rumah Akashi dan juga merawatserta melayani Akashi. Kuroko tidak ingin terlalu merendahkan diri. Kuroko orang yang sopan dan akan sopan pula pada orang yang sopan, bukan pada wanita ini yang tiba-tiba muncul merusak mood pagi. Meskipun wanita ini adalah sepupu Akashi, kesopanan tidak dilihat dari siapa dirimu tapi dari bagaimana tingkahmu. Itu prinsip Kuroko.
"Saya permisi untuk beres-beres"
Kuroko membungkuk sopan, ia berjalan menuju tangga dengan biasa saja, tapi langkah kaki nya harus terhenti karena sebuah kalimat yang meluncur cepat bagai roket dari mulut Alex.
"Dasar maid tidak tahu diri, bukan nya bekerja malah menggoda majikan"
Badan Kuroko serasa lemas tak bertulang. Lunglai, bahkan kakinya gemetar tak karuan. Kalimat itu menyadarkan Kuroko akan posisinya. Kuroko sudah terlalu terbuai dan terlena dengan sebuah perlakuan manis Akashi yang setiap ada kesempatan selalu Akashi lancarkan. Kuroko tahu setiap hari dia masih beres-beres rumah dan setiap bulan masih menerima gaji, tapi peran nya bukan seperti seorang maid lagi. Dia terlalu special.
Alex melihat pergerakkan Kuroko yang terhenti dan gerak gerik aneh lainnya. Alex tahu bahwa dia berhasil menemukan kelemahan Kuroko.
"Oh.. apa kini kau sudah sadar, maid-kun?"
Alex berjalan mendekati Kuroko yang sudah berada di anak tangga pertama.
"kau . hanya . maid . disini ."
Alex membisikkan kata-kata yang penuh nada intimidasi dalam pengucapannya. Badan Kuroko semakin bergetar, hatinya terlalu lemah untuk mendengarkan itu.
Alex tersenyum bangga karena sudah menemukan senjata yang pas untuk melawan maid tidak tahu diri seperti Kuroko.
"Hei! Malah benggong. Sana beres-beres! Itu kerjaan mu"
Alex mendorong Kuroko jatuh lalu pergi meninggalkan nya.
.
.
Hari sudah sore, Kuroko seharian ini mengerjakan semua pekerjaan nya dnegan tidak enak hati, pikiran nya masih melayang pada omongan Alex beberapa waktu lalu. Alex ada benarnya, tapi majikan nya senang apabila Kuroko melayani nya begitu, bukankah kesenangan majikan harus diutamakan? Kuroko binggung. Kuroko terus mempertanyakan apakah dia memang tidak tahu diri?
"Maid-kunnn….."
Lamunan Kuroko buyar karena suara Alex yang begitu nyaring meneriaki nya dari halaman belakang. Mau tak mau Kuroko datang menemui Alex.
"Ya Alex-san?"
"Buatkan aku jus apel yang enak"
Kuroko menaikkan sebelah alisnya, Alex tanpa segan meminta ini itu seolah-olah Kuroko adalah pembantu nya padahal Kuroko bekerja untuk Akashi, bukan Alex. Kuroko memang dengan senang hati akan membantu siapapun tapi kalau orang nya brengsek begini, siapa yang mau?
"Hei! Benggong lagi. Cepat dong!"
Kuroko diam saja dan membuatkan apa yang diminta.
Beberapa menit kemudian Kuroko datang kembali membawa nampan berisi segelas jus apel dingin.
"Ini jus nya, Alex-san"
Alex menyambar cepat gelas yang berdiri tegak diatas nampan.
Brrruuuy…
Baru seteguk dicicip, Alex menyemburkan jus apel yang terlanjur memasuki tenggorokan nya.
"Apa-apaan jus ini?"
"Tentu jus apel"
"Hah? Kau sengaja ingin mengerjai ku ya? Rasanya seperti air di parit jalanan dan kau menyebutkan jus apel? Berani sekali dirimu"
Alex mencampakkan gelas itu ke tanah. Gelas itu pecah dan sedikit serpihannya melukai kaki Kuroko. Alex menarik Kuroko ke dalam rumah dan menyeretnya ke kamar mandi di lantai 1 didekat dapur.
Beberapa maid lain yang belum pulang dari shift sore hanya turut prihatin melihat Kuroko yang dianiaya. Mereka tidak berani ikut campur karena dulu sudah pernah merasakan hal yang seperti itu. mereka hanya berdoa semoga Kuroko baik-baik saja.
.
.
Akashi menghubungi Kuroko tapi tidak di angkat-angkat. Akashi sudah dalam perjalanan pulang, hari ini semua dokumen tidak merepotkan. Akashi berencana mengajak Kuroko makan malam diluar tapi tak kunjung mendapati telepon nya dijawab.
Akashi berfikir mungkin Kuroko ketiduran atau…
Tiba-tiba Akash teringat dirumahnya sedang ada Alex. Akashi tahu betul sikap Alex yang suka berbuat ulah karena dulu setiap Alex datang berkunjung, ada saja maid Akashi yang jatuh sakit atau terluka.
Akashi mempercepat laju mobilnya, perasaan nya tiba-tiba tidak enak.
.
Tidak lebih dari 10 menit, Akashi sudah sampai dirumahnya.
"Tetsuyaaa….?"
Nama pertama yang ia panggil adalah nama maid kesayangan nya.
Tidak ada yang menjawab panggilan nya, tapi telinga Akashi mendengar suara air yang mengucur deras yang disertai suara wanita dan laki-laki
.
Kuroko yang tadi sudah sempat terkena down mental tidak bisa berbuat nya mengigil kedinginan. Air yang memancur dari shower dan di arahkan pada tubuh nya telah membuat basah seluruh pakaian nya.
"Rasakan ini.. rasakan"
Alex menjambak rambut Kuroko, mengarahkan shower itu tepat di hadapan wajah Kuroko.
BLAMM!
"ALEX!"
Akashi berteriak dengan lantang dan mendorong tubuh Alex hingga membentur dinding.
"Tetsuya? Kau tidak apa-apa?"
"A-Akashi-sama? O-Okaeri"
Akashi mengahmpiri Kuroko yang tersungkur di lantai marmer di dekat sudut kamar mandi, Akashi memeluk Kuroko sesaat, menhangatkan tubuh yang tak berhenti mengigil.
"Seijuurou-kun, kenapa kau sangat membela nya? dia hanya maid disini"
"Justru karena dia maid disini, aku selaku majikan nya harus memperdulikan nya"
"Tapi kenapa hanya dia? Maid lain kan tidak?"
"Itu karena dia special"
Alex terdiam mendengar jawaban Akashi, Akashi yang sekarang begitu lembut kepada seseorang, ini bukan seperti Akashi yang dulu ia kenal.
"Alex! Keluar dari sini sekarang! KE . LU . AR!"
Alex menendang ember yang kebetulan dekat dengan kakinya lalu dengan marah keluar dari kamar mandi.
.
"Tetsuya? Daijoubu desu ka?"
"Ha'i Akashi-sama"
Akashi meneguk ludah susah payah, ia tahu seharusnya dalam kondisi begini ia harus memperhatikan kondisi Kuroko tapi apa daya dirinya yang junior nya sudah bangun karena melihat pose Kuroko saat ini. Baju putih yang ia kena kan sudah basah sampai tercetak jelas nipel nya dan lekuk tubuhnya, celana nya yang tersingkap keatas, rambutnya basah-basah, wajah nya teduh dan mata sayu. Akashi susah payah menahan nafas, tapi sayang gagal.
Akashi mengambil sabun cair, menuangkan di telapak tangan nya dan di gosok untuk menghasilkan busa. Selanjutnya busa-busa itu Akashi mainkan di seluruh tubuh Kuroko.
"Akashi-sama?"
"Maaf, Tetsuya, aku tidak tahan lagi. Tadi pagi tidak ada jatah"
Tubuh Kuroko yang sudah di lumuri busa sangat licin untuk dielus-elus. Akashi tidak peduli baju mahal nya terkena busa dan mulai basah.
Akashi melepaskan celana Kuroko. Jari Akashi yang sudah licin karena busa langsung dimasukkan ke dalam anal Kuroko.
"Ahh Akashi-sama"
Jari yang licin membuat Akashi dengan mudah keluar masukkan jari jari nya, sampai 3 jari yang bermain didalam sana. Tangan Akashi yang lain juga mengocok penis Kuroko.
"Tetsuya, bantu aku mengeluarkan Akashi Junior. Cepatlah"
Meskipun malu-malu Kuroko tetap melaksanakan apa yang Akashi minta. Tangan nya perlahan melepas ikat pinggang, lalu membuka kancing dan menarik turun resleting celana Akashi. Didalam sana gundukan yang sudah menggunung tercetak jelas. Kuroko menurunkan celana Akashi sampai ke mata kaki, lalu pelan-pelan menurunkan celana dalam Akashi. Penis Akashi langsung menyembul keluar.
"Mainkan, Tetsuya. Dia ingin sentuhan mu"
Masih dengan malu-malu, Kuroko mengocok penis Akashi perlahan yang membuat Akashi mendesah tertahan. Jari Akashi yang keluar masuk di lubang Kuroko juga semakin cepat.
"Nghh Tetsuya.."
"Akashi-sama.."
Kuroko tidak bisa bohong bahwa sentuhan Akashi memang nikmat. Lubang nya berkedut-kedut ria menerima setiap masukkan jari Akashi yang bermain.
Akashi menatap wajah Kuroko yang memerah tetapi menikmati. Mata nya tanpa sengaja melirik pada sebuah selang yang digantung di dinding belakang Kuroko.
"Tetsuya, kita sudah lama tidak bermain-main kan?"
Akashi menghentikan permainan jari dan tangan nya. Kuroko pun ikut berhenti mengocok penis Akashi.
"Maksud anda?"
Akashi tidak lagi menjawab, ia tersenyum penuh maksud. Akashi memajukan tangan nya untuk menggapai selang itu, ia menunjukkan selang itu di hadapan wajah Kuroko. Kuroko saat ini bisa merasakan alarm bahaya yang sudah lama tidak berbunyi kini berdering kembali.
Ujung selang itu Akashi satukan pada keran di westafel. Air sudah merembes masuk dan keluar dari ujung yang satunya lagi.
"Akashi-sama.. jangan bilang kalau.."
Akashi hanya menyeringai. Benar seperti pikiran Kuroko, Akashi sekarang melebarkan anal Kuroko dengan dua jarinya lalu memasukkan selang itu ke dalam.
"Argghh.. ya-yamete Akashi-sama"
Lubang Kuroko terasa dingin karena air yang memancur dari selang didalamnya. Sensasi dingin yang menggelitik sangat membuatnya terangsang.
"Akash—"
Mulut Kuroko sudah duluan di sodok oleh penis Akashi sebelum Kuroko memohon lagi.
Akashi memaju mundurkan pinggulnya untuk merasakan rongga hangat mulut Kuroko. Hangat nya tidak kalah nikmat dengan rongga dibawah sana.
Kuroko tidak tahan lagi. Ia terbawa suasana yang begitu membangkitkan gairah. Kuroko turut memaju mundurkan kepala nya mengulum penis Akashi dengan cepat. Penis Kuroko juga sudah mau mencapai batas, permainan ini enak dan tidak bisa ditolak.
Akashi terkekeh melihat aksi Kuroko, akhir-akhir ini setelah mereka kembali dari Tokyo, Kuroko memang sudah tidak terlalu malu-malu untuk menerima rangsangan dan membalas rangsangan tersebut. Akashi suka Kuroko yang agresif tapi wajah nya tetap bersemu malu, menurut Akashi itu tingkah seduktif yang menggairahkan.
Kuroko bisa merasakan penis Akashi yang sudah berkedut-kedut serta nafas Akashi yang kian memburu. Tidak ingin ketinggalan puncak, Kuroko pun mengocok penis nya sendiri dengan cepat.
"Ahh Tetsuya.. Tetsuya semakin jago.."
"Hmppp Nghh.."
Rasa dingin dari suhu di kamar mandi tidak lagi terasa, panas yang menjalar ditubuh saat ini. Dan semakin berkeringat saat keduanya mencapai puncak. Sperma Akashi yang ditumpahkan dalam mulut Kuroko, sperma Kuroko yang muncrat begitu saja.
Mereka berdua mengatur nafas masing-masing tapi tersenyum bersama.
.
.
Setelah makan malam yang terpaksa mereka order delivery karena Kuroko yang kelelahan jaid tidak bisa masak makan malam dan tidak bisa diajak jalan-jalan. Akashi berniat kembali ke kamar nya karena Kuroko juga bilang mau kembali ke kamarnya juga untuk istirahat.
Baru satu langkah memasuki kamar nya, yang mata beda warna itu lihat adalah Alex yang memakai lingerie hitam dan ber pose sexy di atas ranjang nya. alih-alih merasa terangsang, Akashi malah jijik dan ingin langsung keluar kamar.
"Tunggu.. Seijuurou-kun"
"Tch apa?"
"Kau sudah berubah ya?"
Alex tersenyum simpul, Akashi tidak mengerti jadi dia diam saja menunggu penjelasan berikutnya.
"Kau begitu peduli dan lembut dengan maid itu. kenapa?"
Kenapa? Akashi berfikir memang nya kenapa? Kan sudah jelas itu karena dia majikan yang baik yang wajib memperdulikan para pekerja nya. dan apa itu tadi? Lembut? Akashi malah merasa perlakuan nya kasar dan blak-blakan apalagi setiap sedang bermain.
"Apa karena dia special? Se special apa dia? Dia hanya maid, Seijuurou-kun. Kau malah terlihat sangat menikmati kebersamaan dengan nya, seks kalian memang panas tapi aku bisa merasakan kelembutan disana"
"Hah? Kau memata-matai ku?"
"Tidak, tidak. Tadi saat kalian bermain di kamar mandi seusai kau mengusirku, aku hanya tak sengaja mengintip. Kalian membuat ku terangsang parah sampai aku harus meminjam mainan mu yang kau letak di kotak bawah kasur. Hahaha.. sepupu ku yang ganas bisa punya mainan begini ternyata"
Alex mengeluarkan mainan yang berbentuk panjang lonjong yang pernah Akashi pakai saat meminta Kuroko untuk bermasturbasi.
"Tch dasar jalang. Pastikan kau membuang itu!"
"Sudah berapa lama kalian mulai melakukan?"
"Sejak hari pertama dia bekerja, sekitar 6 bulan yang lalu"
"sudah 6 bulan? Hahaha.. ne Seijuurou-kun, apa kau yakin sudah cukup bermain hanya dengan maid itu? dia laki-laki kan? apa penis mu tidak kangen dengan lubang yang lebih hangat daripada lubang anal?"
Akashi tahu kemana arah pembicaraan ini, sejak kecil Alex memang sudah centil, sering menggoda Akashi tapi Alex itu sepupu Akashi dan Akashi tidak akan mau menyentuhnya.
"Maaf Alex, punya ku sudah nyaman dengan lubang nya"
Akashi berkata jujur, itu kenyataan. Akashi sudah tidak pernah bermain diluar. Dia hanya selalu menagih jatah pada Kuroko.
"Are.. kau jadi jinak sekarang"
Alex turun dari tempat tidur, dan berjalan lenggak lenggok menuju Akashi.
"Alex, tadi kau bertanya kenapa aku peduli padanya, itu karena dia maid ku. Lalu kenapa aku lembut dengan nya, itu juga karena dia maid ku, kemudian kenapa dia special bagiku, jawaban nya juga karena dia maid ku, dan terakhir, se special apa dirinya, se special perasaan ku yang sudah menginginkan nya lebih dari posisi nya yang hanya seorang maid"
Langkah Alex terhenti. Akashi itu tidak suka memberitahu hal pribadi begini, tapi ini telinga Alex dengar sendiri seluruh pengakuan sepupu jauhnya. Alex tidak mengerti seberapa Kuroko adalah special bagi Akashi, namun dengan seluruh perkataan Akashi barusan, Alex sadar sepupu nya ini jatuh cinta pada maid nya sendiri.
Akashi keluar kamar dan menutup pintu kamar perlahan. Sebelum benar-benar beranjak dari depan kamar nya, Akashi mengatakan
"Alex, pastikan kau besok pagi-pagi sudah pergi dari sini maka akan ku maafkan semua perlakuan mu terhadap maid ku"
Alex juga baru sadar, dalam urusan percintaan, Akashi tipe yandere akut.
.
.
"Tetsuya?"
Akashi membuka pintu kamar Kuroko yang tidak terkunci dan mendapati maid nya itu sedang mengobati luka di kakinya akibat serpihan kaca tadi sore.
"Akashi-sama? Kenapa belum tidur?"
"Aku ingin tidur disini malam ini, boleh kan?"
"Tentu, Akashi-sama. Tapi kasur disini tidak seempuk yang dikamar anda"
"Itu karena Tetsuya selalu menolak setiap aku bilang mau membelikan kasur baru, Tetsuya selalu bilang akan jarang digunakan"
"Tapi itu benar, Akashi-sama. Hampir setiap malam anda membawa saya ke kamar anda untuk tidur bersama, kamar saya hampir tidak terpakai, kan"
Akashi terkekeh perlahan lalu Akashi duduk disamping Kuroko dilantai kamar yang berkeramik putih.
"Apa itu sakit, Tetsuya?"
Akashi menunjuk luka gores pada kaki Kuroko, tangan Kuroko dengan handal membalutkan plester.
"Tidak sakit lagi kok"
Akashi hanya memperhatikan bagaimana maid nya ini benar-benar multifungsi, bisa apa saja. Katakan pada Akashi bahwa Akashi lah majikan yang paling beruntung didunia ini karena mendapat maid seperti Kuroko.
Setelah selesai membalut kakinya, Kuroko membereskan barang-barang P3K nya. ia kemudian memandang Akashi dengan serius.
"Akashi-sama, ada yang mau saya bicarakan"
"Apa itu Tetsuya? Katakan lah"
"Anoo.. begini.."
Kuroko meremas-remas ujung baju nya untuk menghalau kegugupan.
"Hmmm?"
"Begini Akashi-sama, saya ingin mengundurkan diri"
DEG! Jantung Akashi seperti berhenti memompa darah. Mata nya membulat sempurna. Apa-apaan maid nya ini? Mau berhenti begitu saja?
"Tetsuya katakan padaku bahwa kau sedang bercanda"
"Tidak bercanda Akashi-sama"
"Katakan itu bercanda!"
"Tapi saya serius"
Akashi frustasi. Akashi mencengkram erat kedua bahu Kuroko.
"Kenapa Tetsuya? Kenapa begitu?"
"Etto.. karena.. karena saya rasa saya telah gagal menjadi maid anda"
"Hah? Alasan darimana itu? tolong jangan ngawur"
"Itu benar Akashi-sama. Saya baru tersadar hari ini, saya ini pasti menjijikkan kan? saya lupa posisi saya sebagai maid dan saya malah melakukan hal yang tidak-tidak dengan anda. Pecat saja saya, Akashi-sama. Saya ikhlas"
Akashi mencengkram semakin kuat, Akashi tidak bisa terima dengan apa yang Kuroko bilang, lebih tepatnya Akashi tidak mau menerima alasan itu. Akashi sudah menemukan maid yang pas, cocok dengan kriteria nya, multifungsi pula, dan yang paling penting, sudah membuat Akashi nyaman dan segera jatuh hati. Mana mungkin Akashi bisa melepaskan nya, kan? mana mau Akashi melepas nya.
"Tetsuya, dengarkan aku baik-baik"
Akashi menunggu sampai Kuroko berani menatap nya, di kedua matanya. Akashi menarik nafas mempersiapkan setiap kata-kata nya.
"Tetsuya tidak melakukan kesalahan apapun. Tetsuya sudah menjadi maid yang sangat bagus. Tetsuya adalah maid terbaik yang pernah kudapat. Lalu tentang hal tidak-tidak, apa maksud Tetsuya tentang seks? Itu kan aku yang menggoda mu, dan aku tidak keberatan jika sekarang Tetsuya sudah bisa membalas godaan ku, justru aku senang. Jadi aku tidak mungkin melepas mu, apalagi memecatmu, itu sama sekali tidak akan pernah aku lakukan"
Kuroko rasanya ingin menangis terharu, Kuroko tidak tahu Akashi punya sisi lembut begini. Rasanya begitu bahagia di puji sedemikian rupa oleh majikan sendiri.
"Tetsuya, ku peringatkan padamu untuk tidak berkata seperti itu lagi. Ini yang pertama ku dengar sekaligus yang terakhir. Paham?"
Kuroko tidak tahu mau berkata apa. Kuroko tidak pernah membayangkan menjadi maid bisa menjadi sebahagia ini. Apa berita di Koran yang sering Kuroko baca adalah bohong tentang para maid yang menderita oleh majikan mereka? Soalnya yang Kuroko dapati adalah kehangatan begini.
"Ha'i Akashi-sama, maafkan perkataan saya tadi, saya akan selalu melakukan yang terbaik"
Tanpa Kuroko minta, bibir nya telah menyunggingkan senyum yang mampu membuat hati Akashi berdebar kencang. Akashi menarik Kuroko dalam pelukan nya. kedua nya tersenyum dalam kehangatan yang terbentuk antara majikan dan maid nya.
Moment selanjutnya sudah kita ketahui bersama bahwa sampai ayam berkokok menyambut fajar pun, majikan dan maid nya itu masih asik bermain.
.
.
.
TBC
.
.
.
Terimakasih yang masih mau membaca sampai di chapter ini..
Big Thanks buat yang sudah Fav / Follow. Special Big Thanks to Vanilla Parfait, Nyanko Kawaii, Taurus'99, Kaluki Lukari, Divanabila1717, Izumi-H, Guest, Jung HaRa yang sudah meluangkan waktu untuk review di chapter sebelumnya, Big Thanks juga buat reviewers di chapter-chapter terdahulu. saya benar-benar terharu dan bersemangat huhu~
.
.
OMAKE
"Tetsuya, siapkan barang-barang mu seperlunya saja"
"Hah? apa maksud anda Akashi-sama?"
Akashi mengeluarkan dua lembar kertas yang ternyata adalah tiket pesawat class VIP. Kuroko melihat seksama tiket itu yang satunya tertera nama Kuroko, satu nya lagi nama Akashi. Kuroko tidak ingat kapan pernah memesan tiket atau memberikan passport nya untuk dipesanin tiket.
Kuroko melihat lagi tujuan yang tertera di tiket itu. John F. Kennedy.
Kuroko terkejut, lalu semakin terkejut saat melihat tanggal keberangkatan nya. BESOK!
.
.
.
#EmployerAndHisMaidGoToNewYork.
See you :D
