WARN! HARDYAOI, ADULTCONTENT
DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
TITLE : MY MAID
AUTHOR : HIMEVAILLE
PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA
GENRE : HURT/COMFORT, ROMANCE
RATE : M
.
#EmployerAndHisMaidGoToNewYork.
.
HAPPY READING… ENJOY!
.
Jam 9 malam, Akashi dan Kuroko sudah beres-beres semua perlengkapan yang akan dibawa ke NewYork, padahal mereka sudah mulai beres-beres sejak sore tapi karena Akashi banyak main-main jadinya selama ini. Mereka tidak banyak membawa baju, hanya beberapa pasang, celana dalam memakai yang kertas yang sekali pakai buang. Hanya satu koper saja yang mereka bawa, Akashi bilang gabungin aja. Akashi juga membawa sebuah tas yang di isi laptop dan dokumen kerja.
Akashi memakai kaos lengan panjang bewarna putih lalu sebuah mantel coklat dan celana jeans hitam. Kuroko memakai kaos lengan sesiku berwarna hijau tua dan mantel hitam serta celana jeans biru. Mantel yang Kuroko gunakan adalah milik Akashi.
Tin.. tin..
Suara klakson dari depan rumah Akashi sudah terdengar menandakan supir yang menjemput telah tiba. Akashi menyeret koper nya dan di letakkan di bagasi mobil. Akashi dan Kuroko duduk di bangku belakang, karena dibangku depan sudah diduduki Mibuchi. Mibuchi ikut selaku sekretaris Akashi.
"Huaa.. Tet-chan juga ikut ya?"
"Doumo Mibuchi-san"
Mobil yang mereka tumpangi sudah berjalan meninggalkan komplek perumahan RakuzanKyoto menuju stasiun kereta api. Mereka harus naik shinkansen yang berangkat jam 10 malam menuju Tokyo, setelah itu baru ke bandara Haneda kemudian berangkat menuju New York pukul 4 pagi dengan pesawat All Nippon Airways.
Sepanjang perjalanan menuju stasiun, Kuroko hanya memandang keluar jendela. Menatapi lampu-lampu yang berkelap kelip di sepanjang jalan.
"Tetsuya? Kau kenapa?"
Akashi bisa merasakan Kuroko yang sepertinya berlagak aneh, gugup, dan cemas.
"Tidak apa-apa, Akashi-sama"
"Apa Tetsuya kelupaan sesuatu?"
"Tidak juga"
"Tidurlah jika Tetsuya mengantuk"
"Ha'i Akashi-sama"
Kuroko tidak bisa tidur. Pemandangan diluar mungkin lebih indah. Meski sudah malam, kendaraan di jalan raya tetap ada yang berlalu lalang, beberapa kali Kuroko juga melihat orang-orang mabuk yang berjalan sana sini. Akashi sedang mengobrol dengan Mibuchi tentang bisnis yang nanti akan mereka kerjasama kan dengan salah satu perusahaan di Amerika. Sesekali Akashi melirik Kuroko yang memang memandang keluar jendela tetapi tidak benar-benar menatap pemandangan diluar.
.
.
Stasiun tidaklah ramai, maklum saja ini sudah malam. Shinkansen yang akan mereka naiki sudah bersiap meluncur, Akashi dan Kuroko duduk bersama sedangkan Mibuchi terpisah jauh.
"Tetsuya, kau yakin baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja Akashi-sama"
Akashi tidak tenang melihat maid nya seperti mencemaskan sesuatu.
"Tetsuya, tidurlah. Kau pasti mengantuk"
"Ha'i Akashi-sama. Apa Akashi-sama tidak mau tidur juga?"
"Kau duluan saja"
Kuroko menyamankan posisi duduknya. Akashi mengeluarkan laptop yang ia bawa untuk menyelesaikan beberapa file perusahaan.
Kuroko mulai terlelap dengan kepala yang bersandar pada sandaran tempat duduk, lama-lama kepalanya mulai merosot dan berakhir di pundak Akashi. Akashi sedikit tersontak kaget, tapi kemudian dia tersenyum. Akashi menyimpan kembali laptopnya, lalu menyamankan kepala nya diatas kepala Kuroko setelah mencium pucuk kepala Kuroko.
.
"Sei-chan! Sei-chan!"
Mibuchi mengoyangkan tubuh boss nya yang tertidur sangat lelap dengan maidnya. Shinkansen sudah berhenti bergerak karena sudah capai tujuan.
Kuroko duluan terbangun karena suara Mibuchi yang sangat bising, namun Kuroko kesulitan mengangkat kepala nya sebab ada beban yang menganjal. Saat Kuroko sadar bagaiman posisi nya tertidur dengan majikan nya, Kuroko merasa sangat malu, apalagi Mibuchi melihat mereka.
"Akashi-sama" Kuroko memukul-mukul pelan tangan Akashi yang berada di atas paha nya.
Akashi membuka mata perlahan lalu dengan sadar mengangkat kepala nya.
"Kita sudah sampai Akashi-sama"
Akashi melihat Kuroko disampingnya, lalu Mibuchi didepan nya. astaga, Akashi tidak sadar dia bisa tidur senyenyak itu, dia baru tahu ternyata tidur 'secara baik-baik' bersama maid nya sangat nyaman dan nyenyak.
Tidak mau image nya hancur, Akashi langsung berdiri tegap dan berjalan meninggalkan Mibuchi yang terkikik geli sedangkan Kuroko yang masih malu.
.
.
Akashi, Kuroko dan Mibuchi sudah bersiap di boarding gate. Semakin kesini, semakin Akashi merasakan kecemasan dari maid nya itu. akashi tidak tahan lagi, dia bukan paranormal yang bisa melihat ke dalam pikiran orang, jadi Akashi membalikkan tubuh Kuroko untuk menghadap Akashi.
"Tetsuya, katakan sejujurnya, ada apa dengan mu?"
"Saya tidak apa-apa Akashi-sama"
"Jangan membohongiku!"
Kuroko jadi salah tingkah, dia tidak berani mengatakan apa yang dia cemaskan, tapi majikan nya ini terus memaksa dan terus memperdekat jarak wajah mereka.
"Anoo.. saya.. hanya takut naik pesawat"
Akashi bengong. Kuroko bukan anak kecil, bahkan anak kecil tidak takut naik pesawat.
"Saya baru pertama kali ini naik pesawat"
Kuroko bukan orang kaya, ia datang dari keluarga sederhana. Naik pesawat adalah sesuatu yang bisa dianggap mewah. Sementara bagi Akashi, naik pesawat sudah seperti naik ojek. Akashi punya pesawat pribadi tapi karena tiket kali ini dipesan dari New York oleh rekan yang mengundang Akashi, makanya Akashi tidak naik pesawat pribadinya. Tiket untuk Kuroko, Akashi yang pesan. Rekan nya itu hanya menyediakan tiket untuk Akashi dan Mibuchi.
Suara dari pengeras suara memberitahu bahwa pesawat yang akan berangkat ke New York akan segera lepas landas, para penumpang diharapkan segera masuk kedalam pesawat.
Akashi sudah bersiap-siap untuk jalan menuju gerbang pesawat, tapi Kuroko malah berdiri pelan-pelan serta gemetaran.
Akashi mengenggam tangan Kuroko, Kuroko sedikit tersentak.
"Tak apa Tetsuya, jangan takut"
Kuroko tidak menolak genggaman Akashi, justru Kuroko memang membutuhkan pegangan itu, Kuroko meskipun malu-malu tapi balik mengenggam dengan erat membuat Akashi senang bukan main. Mereka berjalan memasuki gerbang pesawat sambil terus berpegangan tangan dengan mesra, beberapa penumpang lain yang tanpa sengaja melihat itu mati-matian menahan baper, termasuk Mibuchi.
.
VIP Class dalam pesawat ini hanya ada 6 pasang tempat duduk yang saling berdempetan per pasang, berarti ada 12 kursi yang memiliki fasilitas bisa sambil selonjoran atau tiduran di kursi yang empuk dengan senderan nya sangat besar, selimut yang lembut dan tebal karena ini perjalanan tengah malam.
Akashi dan Kuroko duduk di paling belakang, Mibuchi di paling depan nya. Sebenarnya kursi yang Kuroko duduki adalah milik Mibuchi berdasarkan tiket, tapi Akashi memerintah Mibuchi untuk tukar tempat duduk.
kosong Mibuchi … A B
kosong kosong … kosong C
Akashi Kuroko … kosong kosong
Begitulah posisi mereka di VIP Class.
Perjalanan yang akan mereka tempuh adalah 12 jam 55 menit, tanpa transit.
"Tetsuya, apa kau masih sangat takut?"
Akashi masih merasakan genggaman tangan Kuroko yang sangat erat. Kuroko baru tersadar bahwa ia masih mengenggam tangan majikan nya dan segera melepaskan genggaman itu.
"Maaf Akashi-sama"
"Tak apa Tetsuya, mungkin Tetsuya butuh penenang"
"Maks—"
Belum apa-apa, Akashi sudah mencium bibir Kuroko, menyesap sisa rasa susu vanilla yang tadi sempat mereka minum di café dalam airport.
Kuroko mendorong tubuh Akashi agar melepas ciumannya.
"Akashi-sama! Ini tempat umum"
"Shhh.. jangan ribut-ribut Tetsuya"
Ruang VIP Class memang dimatikan lampu nya karena ini jam untuk tidur, hanya satu lampu kecil yang di gantung di atas gerbang yang menuju ruang berikutnya. Tapi masing-masing penumpang boleh menghidupkan lampu sendiri yang menempel pada sandaran kursi. Kebetulan saat itu tidak ada yang menghidupkan, jadi ruangan nya hanya terang temaram.
Akashi memeluk Kuroko dari samping, mencium-cium pipi kenyal Kuroko.
"Jangan Akashi-sama. Nanti ada yang lihat"
"Tidak akan ada yang lihat. Aku belum mendapat jatah malam, Tetsuya"
VIP Class memang tidak ada pramugari yang mondar mandir, kecuali jika ada penumpang yang memanggil atau pada saat memberi servis makanan dan lainnya. Penumpang lain juga sepertinya sudah mulai tertidur karena menutup mata mereka dengan penutup mata yang tersedia.
"Apa anda tidak bisa skip satu malam saja?"
"Tidak bisa, Tetsuya. Tidak bisa"
Akashi menarik dagu Kuroko untuk mencium bibirnya, mengulum bibir itu hingga merah bengkak. Akashi menaikkan pembatas yang menjadi sekat tempat duduk sampai menempel penuh pada celah yang sudah tersedia khusus di sandaran tempat duduk. Dengan begini, Akashi bisa menempel juga sepenuhnya dengan Kuroko.
"Akashi-sama, anda tidak serius kan?"
Akashi tidak menjawab tapi dia meletakkan tangan Kuroko tepat diselangkangan nya.
"Apa itu bisa menjawab pertanyaan mu, Tetsuya?"
Wajah Kuroko memerah karena merasakan tangan nya menyentuh gundukkan dibalik celana Akashi. Akashi terkekeh geli melihat tingkah Kuroko, maid nya itu selalu saja malu-malu, tapi entah kenapa menurut Akashi itu yang membuat maid nya terlihat sangat imut.
"Remas dia, Tetsuya"
Kuroko tidak mungkin berani melakukan nya, terpaksa tangan Akashi diletakkan di atas tangan Kuroko lalu menuntut tangan Kuroko untuk meremas-remas gundukkan itu.
Akashi sudah merasakan sangat sesak dalam celana nya. Akashi membuka kancing celana dan menurunkan resletingnya, lalu munculnya Akashi junior setelah dikeluarkan dari balik celana dalam.
Akashi menarik turun kepala Kuroko dan memposisikan kearah penis nya.
"Tetsuya"
Kuroko sudah mengerti maksud yang majikan nya minta, karena kepala Kuroko terus ditahan oleh tangan Akashi, Kuroko tidak punya pilihan lain. Kuroko mulai membuka mulutnya, mengeluarkan lidah nya untuk menjilat kepala penis Akashi, kemudian menjilat keseluruhan batang yang tegak itu, lalu memasukkan perlahan ke dalam rongga mulut nya.
Akashi menyandarkan kepala dan pada sandaran kursi sambil memejamkan matanya. Rasa hangat dan basah yang menjalar di sepanjang batang penis nya memberi sensasi yang memabukkan.
Akashi menaikkan kembali kepala Kuroko, menjilat bibir Kuroko dan sekitaran nya yang telah belepotan oleh hasil saliva pada kuluman dibawah.
Akashi membalikkan badan Kuroko hingga membelakanginya. Tak lupa menurunkan sandaran kursi agar lebih nyaman.
Akashi melingkarkan tangan nya pada pinggang Kuroko, lalu tangan nya turun untuk membuka celana Kuroko hingga setengah. Kuroko yang malu-malu dan takut ketahuan, meraih selimut dan menutupi dari pinggang kebawah. Akashi juga mengambil selimutnya, membuka selebar mungkin selimut itu lalu menutupi dirinya dan setengah diri Kuroko.
Posisi mereka saat ini adalah menyamping dengan Kuroko yang membelakangi Akashi dan tertutup oleh selimut sampai dada.
Akashi mengarahkan penis nya ke lubang yang sudah siap menyambut. Saat sudah pas, Akashi mendorong masuk perlahan, lalu memeluk Kuroko, mencium leher Kuroko.
Kuroko mencengkram tangan Akashi yang melingkar di pinggang nya untuk pelampiasan rasa sakit karena tidak bisa menjerit.
"Nghhh…"
"Shhh.."
Akashi bergerak perlahan. Kuroko bisa merasakan dengan jelas bagaimana lubang nya terasa sangat penuh dan sangat panas akibat gesekan yang terjadi antara dinding anus dengan penis besar Akashi.
"Akashi-sama, bagaimana jika nanti sperma ku kena ke selimut ini?"
Kuroko bertanya malu-malu, bagaimana pun juga Kuroko juga harus mengeluarkan sperma nya kan?
Akashi terkikik-kikik, lalu mengigit daun telinga Kuroko sebentar.
"Tetsuya, lucu sekali"
Akashi tidak bohong bahwa ia sangat gemas dengan maid nya ini.
Akashi melepas satu tangan yang memeluk Kuroko, merogoh saku mantel nya dan mengeluarkan sapu tangan warna merah.
"Semburkan disini, Tetsuya"
Kuroko malu-malu menerima sapu tangan itu.
Selanjutnya permainan kembali di lanjutkan. Akashi memaju mundurkan pinggang nya dengan tempo pelan karena situasi yang tidak bisa di ajak lebih liar, tapi meski begitu, rasa nikmat yang terasa tetap tidak berkurang.
Penis Kuroko terasa dingin karena AC ruangan walaupun sudah tertutup selimut. Kuroko memperhatikan kedua tangan Akashi masih erat memeluk tubuh Kuroko, sehingga Kuroko harus mengurus junior nya sendiri. Tanpa Kuroko sadari, Akashi menyeringai karena memeluk Kuroko dan pura-pura tidak tahu tentang penis Kuroko adalah suatu kesengajaan. Jarang-jarang melihat Kuroko ngocokin sendiri, biasanya Akashi yang bantu.
Akashi bisa merasakan tangan Kuroko yang maju mundur mengocok penis nya sendiri, itu membuat Akashi semakin habis dibakar gairah. Gerakan Akashi pun semakin di percepat. Akashi membenamkan kepala nya pada pundak Kuroko.
"Nghhh.."
"Hmmmhh.."
Kuroko tidak paham lagi dengan majikan nya, meski dimana pun mereka berada atau kondisi maupun posisi apapun, Akashi tetap jago. Bahkan Kuroko lupa bahwa ia takut naik pesawat.
Kuroko tidak tahan lagi, penis nya gatal-gatal geli. Sebelah tangan Kuroko masih mengocok, tangan satunya lagi memposisikan sapu tangan yang Akashi beri tepat di kepala penis.
Kuroko bisa merasakan nafas Akashi yang semakin memburu-buru, sepertinya Akashi juga sudah hampir mencapai batas.
"Tetsuya…" bisik Akashi
"Ha'i.. Akashi-sama.."
Akashi mengigit pundak Kuroko saat dirasakan penis nya sudah berkedut tak karuan didalam lubang Kuroko, beberapa sodokan lagi dan penis nya lega sudah menyemburkan sperma, Akashi mengerang tertahan.
Kuroko membulatkan matanya ketika rasa panas yang mengalir dalam lubang nya begitu terasa penuh. Tangan Kuroko otomatis bergerak lebih cepat, Kuroko merasa kepala nya sudah blank, badan nya terasa melayang saat penis nya dengan kuat menyempotkan sperma ke sapu tangan yang sudah menahan.
"Nggghhh…."
Kuroko menarik hembuskan nafas nya perlahan. Kemudian mulai mengelap penis nya yang berlepotan oleh sperma nya sendiri.
Akashi mengeluarkan satu sapu tangan lagi, saat menarik keluar penis nya, cairan didalam nya juga ikut merembes keluar. Perjalanan mereka masih jauh, Akashi berbaik hati mengelap rembes cairan tersebut agar maid nya tetap nyaman menggunakan celana.
Setelah semua beres dan berpakaian rapi kembali, Akashi mengambil tas jinjing nya yang berisi laptop. Dibagian samping tas itu ada resleting ke satu bagian, dari sana Akashi mengeluarkan plastic hitam.
"Kemarikan sapu tangan itu, Tetsuya"
"Tapi ini kotor"
"Kemarikan saja"
Kuroko malu-malu menyerahkan kembali sapu tangan yang sudah kotor oleh sperma nya.
"Wah banyak juga ya" goda Akashi.
sapu tangan dari Kuroko diterima dan dimasukkan ke dalam plastic tersebut bersamaan dengan sapu tangan yang tadi Akashi pakai. Plastic itu kembali dimasukkan kedalam tas untuk dibuang nanti.
"Tetsuya tidak takut naik pesawat lagi kan?"
"Eh?"
"Sudah kubilang, Tetsuya hanya butuh sedikit penenang"
Kuroko membuang muka kesamping, disaat yang sama pesawat yang mereka naiki mengalami sedikit goncangan ringan. Kuroko malah ketakutan dan balik menghadap Akashi serta tanpa sadar memeluk Akashi.
"Ternyata masih takut ya? Butuh tambahan penenang, Tetsuya?"
Kuroko tersadar kemudian berusaha melepas pelukannya, tapi terlambat karena Akashi sudah mendekap Kuroko dengan erat.
"Kali ini bercanda. Istirahat lah, Tetsuya. Jangan takut, aku bersama mu"
Kuroko tidak paham, tidak mengerti kenapa majikan nya sebegini lembut. Tapi.. tapi.. rasanya begitu membahagiakan. Menghabiskan malam di hamparan udara dalam dekapan yang hangat.
Kuroko menganggukkan kepala nya, lalu tertidur dalam dekapan sang majikan.
.
Setelah beberapa jam tertidur, Kuroko terbangun dan langsung tersipu malu ternyata masih dalam dekapan Akashi. Kuroko memperhatikan Akashi yang ternyata juga sedang tidur.
Kuroko tersenyum, Kuroko tahu majikan nya ini pasti juga lelah, apalagi pekerjaan Akashi yang menurut Kuroko sangat tidak gampang. Kuroko kadang penasaran seberapa banyak tenaga yang Akashi miliki? Tiap malam meski lelah bekerja tetap saja bergairah, bahkan bisa beronde-ronde. Kuroko juga kadang ingin tahu, berapa banyak kemesuman yang tersimpan dibalik watak tegas majikan nya ini. Bukankah sedikit aneh jika ada orang yang terkenal sangat sadis tapi selalu bermanja-manjaan jika bersama mu?
Entah kenapa Kuroko jadi ingin banyak tahu tentang majikan nya.
Kuroko mencium pipi Akashi. Anggap saja tanda terimakasih karena memperlakukan dengan baik Kuroko yang padahal cuma maid. Kuroko kembali menyamankan dirinya dalam dekapan Akashi, dan masuk kembali kealam mimpi.
Yang tidak Kuroko ketahui adalah Akashi yang saat ini membuka sebelah mata nya dan tersenyum.
.
.
Pesawat sudah mendarat di Bandara John F. Kennedy, para penumpang berangsur-angsur meninggalkan pesawat, demikian pula dengan Akashi, Kuroko, dan Mibuchi.
Kuroko heran melihat suasana di sekitar nya. mereka kan berangkat pukul 4 pagi, bukan kah berarti setelah perjalanan sekitar 13 jam sekarang sudah jam 5 sore? Tapi kenapa suasana nya masih pagi?
"Akashi-sama, boleh saya bertanya?"
"Tanya apa, Tetsuya?"
"Kenapa sekarang masih pagi? Bukan kah seharusnya sore?"
"Oh, pasti Tetsuya menghitung dari jam Jepang. Sekarang jam 7 pagi. Amerika dan Jepang memiliki 14 jam lamanya perbedaan waktu"
"Oh souka. Terima kasih Akashi-sama"
Kuroko bukan bodoh, hal ini memang seingat Kuroko pernah dipelajari di bangku SMP tapi Kuroko tidak terlalu menyimak karena mana pernah Kuroko mengimpikan bisa ke Amerika. Namun siapa sangka, sekarang dirinya sudah menginjakkan kaki di negri Paman Sam.
Di bagian kedatangan, mereka sudah ditunggu oleh seorang pria berbadan tegap besar dan berbaju serta celana hitam membawa paman nama bertuliskan "AKASHI (JPN)". Akashi mengangkat tangan nya memberi isyarat lalu berjalan menuju orang itu, orang itu begitu melihat Akashi langsung memberi hormat dengan membungkuk 90 derajat.
"Good morning, Mr. Akashi. Welcome to New York"
"Ya, Good morning"
"Please this way"
Akashi, Kuroko, dan Mibuchi mengikuti pria itu ke mobil yang sudah menunggu. Mereka bertiga duduk di bangku penumpang, tapi bangku penumpang nya saling berhadapan.
Akashi dan Kuroko duduk di bagian yang sejalan layaknya posisi normal, Mibuchi diseberang mereka yang sudah pasti posisi lawan arah.
Kuroko terus memandang keluar jendela, mengagumi kota New York yang sangat elegan. Jalanan juga tidak ada sampah, lalu lintas tertib, dan banyak hal lagi.
"Sudah lama sekali tidak kesini ya, Sei-chan"
"Ya"
Perjalanan yang mereka tempuh sekitar 30 menit dari bandara John F. Kennedy menuju Baccarat Hotel & Residences tempat mereka menginap sekaligus pertemuan juga di hotel ini, yang terletak di Midtown sekitaran dengan Central Park, Time Square, serta Musuem of Modern Art dan Fifth Avenue.
Hotel ini menjulang tinggi ke angkasa, begitu mewah dan megah. Kuroko sampai tak habis-habis bertakjub kagum. Satu malam di hotel ini bisa mencapai harga 90ribu yen atau sekitar 10 juta rupiah.
Sampai di hotel, mereka dipersilahkan untuk sarapan terlebih dahulu di restoran yang ada didalam hotel. Menu sarapan orang Amerika sangat simpel, sebuah pancake dan mata sapi. Jika ingin lebih berat dapat memilih mata sapi+bacon+sosis+tomat lalu disiram bumbu kacang dipinggir.
Kuroko memilih yang berat. Sudah datang jauh-jauh, ke hotel mahal pula, masa cuma makan pancake?
.
Akashi dan Kuroko berada di luxury type, The Baccarat Suite. Mibuchi berada di Classic King yang baru dipesan Akashi tadi malam. Lagi-lagi Mibuchi dan Kuroko tukar tempat.
Kuroko benar-benar kagum dengan kamar yang mereka tempati, daripada disebut kamar ini lebih cocok disebut rumah, bagi Kuroko. Akashi hanya tersenyum saja, Akashi juga senang bisa membawa Kuroko ke tempat yang belum pernah Kuroko datangi apalagi setelah melihat blink-blink bersinar di mata Kuroko.
Ruangan ini sangat luas, kira-kira 160 meter persegi. Ada ruang makan, ruang keluarga, ruang ganti, kamar mandi, dan kamar tidur yang hanya ada satu kingsize kasur. Sudah jelas Kuroko akan tidur dengan Akashi. Semua perabot juga sangat mewah berkilau.
"Akashi-sama, jam berapa pertemuan nya?"
"Acara pertemuan nya jam 6 sore, tapi sebentar lagi aku ada janji temu dengan klient. Tetsuya juga akan ikut"
"Baiklah Akashi-sama"
Akashi dan Kuroko bersiap-siap untuk janji temu.
.
.
Jam 11 siang Akashi dan Kuroko sudah berada di salah satu restaurant bernama Cecilia of La Petrona yang ditempuh 20 menit dari hotel tempat mereka menginap menggunakan taxi. Mibuchi tidak ikut mereka karena mengurus pertemuan resmi nanti malam.
"Welcome to Cecilia La Petrona, have you already booked a place before?"
"Yes. I've booked a place"
"Whose name?"
"Akashi Seijuurou"
"Oh, Well. Please follow me. Mr. Kagami has been waiting for you"
Akashi dan Kuroko mengikuti pelayan yang membawa mereka ke lantai 2, di lantai 2 tempat nya terbuka dan kebetulan langit sangat cerah sehingga sangat bagus pemandangan nya. di meja yang pas di pinggiran, seorang pria berpenampilan rapi dengan rambut merah menyala yang smasih ada sedikit warna hitam sudah menunggu dengan sebuah ipad yang sedang dimainkan.
"Mr. Kagami?"
"Oh! ? Nice to meet you again"
"Me too. Lets start the meeting"
"Of course. But, who is this? Business partner?"
"Oh, he is my special one"
"Wow, its looks great! Hei, nice to meet you"
Orang itu mengulurkan tangan nya kearah Kuroko yang langsung Kuroko sambut dengan sopan.
"Nice to meet you to, sir"
Kuroko walaupun tidak selancar bahasa Inggris nya Akashi, setidaknya Kuroko bisa sekata duakata. Akashi senang melihat respon Kuroko, itu benar-benar menjaga image Akashi. Namun Akashi tidak tahu bahwa Kuroko sangat gugup saat ini, apalagi saat Akashi menyebut Kuroko 'special'.
Pembicaraan bisnis sudah dimulai dan di barengi dengan makanan yang disajikan. Kuroko tidak mengerti apa yang Akashi bicarakan, tapi Kuroko sangat tertegun melihat diri Akashi yang begitu terampil berbicara, sangat mempesona. Ini pertama kali Kuroko melihat beginilah majikan nya yang sedang bekerja. Senyum bisnis Akashi benar-benar menggoda iman.
Pertemuan ini tidak terlalu lama, Kuroko daritadi hanya mencoba menyimak saja. Saat Akashi membicarakan perusahaan nya, rekan temu nya ini begitu antusias dan segera menandatangi dokumen yang Akashi serahkan. Begitupula dengan Akashi yang menandatangi beberapa lembar kertas, lalu kedua nya tertawa puas.
"I hope we're going to work very well together"
"Yes, of course"
"See you in another time, "
"See you Mr. Kagami and thank you"
Mereka lalu saling berjabat tangan, berpelukkan, kemudian berfoto. Setelah itu Akashi dan Kuroko berpisah dengan orang itu di depan restaurant.
"Kita mau kemana lagi, Akashi-sama?"
"Ini baru jam 2, tidak ku sangka berjalan terlalu lancar, tapi baguslah sekarang kita masih ada waktu sebelum pertemuan resmi. Kita kembali ke hotel jam 5, Tetsuya mau jalan-jalan sebentar?"
"TENTU!"
Akashi terkejut melihat respon Kuroko yang kelewat girang. Akashi tertawa kecil sambil mengacak-ngacak rambut Kuroko.
Mereka mulai berjalan menelusuri jalanan yang ramai. Sesekali mencoba beberapa makanan yang dijual di pinggir jalan seperti hotdog, tuna sandwich, burger, dan sebagainya.
"Itu makanan apa, Akashi-sama?"
Kuroko menunjuk salah satu tenda yang menjual entah makanan apa di sudut lampu lalu lintas.
"Itu Burrito. Bentuknya seperti kerang tapi dibuat dari gandum, dalam nya isi sayur dan daging. Tetsuya mau coba?"
"Mau!"
Kuroko mengangguk antusias dan menarik tangan Akashi menuju sasaran. Akashi sontak kaget namun sedetik kemudian Akashi tersenyum. Akashi jadi heran maid nya ini tiba-tiba bisa makan banyak, tadi mereka baru saja menghabiskan 2 porsi kentang goreng, sekarang sudah mau jajan lagi.
"Order, sir?"
"Yes, one portion please. How much?"
"3 dollars. Okay! Thankyou. Enjoy, sir"
Akashi menyerahkan seporsi Burrito kepada Kuroko yang menunggu disampingnya dengan wajah yang sangat gembira.
"Eh? Hanya satu? Akashi-sama tidak mau?"
"Aku sudah kenyang Tetsuya"
"Baiklah, arigatou Akashi-sama"
Kuroko langsung menyambar makanan tersebut dan melahap satu gigitan besar.
"Huaaa… enak! Akashi-sama yakin tidak mau?"
"Aku sudah pernah mencoba nya"
"Tapi mungkin kali ini rasa nya beda. Ayo di tes"
Kuroko mengarahkan makanan itu ke mulut Akashi, Akashi tidak tahu harus bagaimana lagi, ada rasa gelitik yang membahagiakan memenuhi jiwa nya. Akashi memakan sesuap kecil, Akashi memang sudah kenyang.
"Hmm iya, enak!"
"Iya kan?"
Mereka kembali berjalan dan makanan itu akhirnya dihabiskan oleh mereka berdua, Akashi walaupun sudah kenyang tetap juga makan. Mana mungkin menyia-nyia kan kesempatan di suap Kuroko secara ikhlas yang bukan perintah dari Akashi.
"Tetsuya, mau ke museum? Letaknya didekat hotel jadi nanti sekalian balik, biar tidak terlambat"
"Ha'i Akashi-sama"
Mereka pun menumpangi sebuah taxi yang membawa ke Museum of Modern Art.
.
.
Di Museum ini banyak sekali ragam seni lukis dari seniman-seniman terkenal. Sayang sekali, mereka datang saat tidak ada event atau pameran tertentu. Biasanya jika ada, akan banyak lukisan dari berbagai belahan dunia yang akan ditampilkan, ataupun lelang lukisan yang sangat menarik. Jadinya mereka hanya lihat-lihat yang ada saja. Meski begitu, pengunjung nya sangat ramai.
"Tetsuya, mau berfoto?"
"Eh?"
Akashi mengeluarkan ponselnya yang sudah dilengkapi fitur kamera super canggih entah berapa pixel. Mereka berselfie ria, awalnya Kuroko malu-malu tapi akhirnya Kuroko enjoy saja.
Setelah mengelilingi seisi museum, mereka sudah bersiap kembali ke hotel. Karena waktu yang sedikit terburu-buru jadinya tidak bisa lama-lama.
Sebelum benar-benar meninggalkan museum, Akashi meminta petugas museum untuk memfotokan dirinya dengan Kuroko didepan museum.
Akashi dan Kuroko sudah berdiri berdampingan, tapi petugas itu malah mencurutkan wajahnya.
"Oh please, sir. Get closer get closer. This will be amazing moment"
Kuroko wajah nya sudah bersemu merah, Akashi akhirnya merangkul pundak Kuroko dan tersenyum tampan. Kuroko pun terbawa suasana, pelan tapi pasti, Kuroko juga melingkarkan tangan nya pada pinggang Akashi.
"Yes! Like that! Ok, 1 2 3 say cheese!"
Akashi dan Kuroko tersenyum lebar kearah kamera.
JEBRETTT..
"Thankyou"
"No problem. Thankyou thankyou"
Akashi mengambil kembali ponsel nya dan memberi beberapa lembar uang kepada petugas tadi.
"Akashi-sama, boleh saya lihat?"
"Tentu, Tetsuya"
Akashi membuka kembali gambar tadi, benar-benar bagus dan mereka terlihat sangat cocok.
Beberapa pengunjung wanita yang menyaksikan moment itu tak bisa berhenti bersorak. Akashi dan Kuroko hanya tersenyum-senyum.
.
.
Jam 5.45, Akashi sudah duluan siap dengan setelan tuxedo merah marun. Rambut merah nya disisir rapi ke belakang. Akashi menunggu Kuroko didepan pintu ruangan yang mereka tempati. Kuroko masih bersiap dibantu oleh Mibuchi karena Kuroko tidak pandai berdandan formal. Awalnya Akashi ingin membantu Kuroko, tapi ternyata Akashi mendapat layanan khusus dari pihak hotel untuk mendadani nya di ruangan lain, katanya itu di minta dari penyelenggara pertemuan.
Beberapa saat kemudian, Kuroko sudah keluar ruangan dengan mengenakan setelan jas yang kemarin mereka beli di Kyoto dan rambut Kuroko juga disisir rapi tapi tidak bisa disapu ke belakang seperti model Akashi, jadi untaian poni Kuroko tetap berada didepan. Akashi terpaku melihat penampilan formal Kuroko yang begitu cocok, Kuroko pun terpana melihat penampilan Akashi yang sangat tampan dan keren.
"Tetsuya sangat cocok dengan setelan jas itu"
"Ini atas pemberian Akashi-sama, terimakasih"
"Ayo, Tetsuya"
Pertemuan di adakan di ballroom hotel di lantai 2.
Tempat pertemuan sudah mulai ramai oleh tamu undangan, beberapa kali Akashi ditegur sapa oleh rekan bisnis nya. Kuroko sedikit heran, kenapa yang datang rata-rata berdampingan? Hampir semua punya pasangan meskipun sesama pria atau sesama wanita, pokoknya tidak sendirian.
Mibuchi sudah masuk duluan bersama seseorang berbadan besar seperti gorilla, kalau tidak salah tadi Kuroko dengar namanya Nebuya.
"Akashi-sama, kenapa semua orang berdampingan?"
"Karena memang harus berdampingan"
Akashi menunjukkan undangan yang waktu itu dikirimkan ke rumah Akashi. Disana tertulis "NO SINGLE" lalu ada gambar satu orang yang berdiri dalam lingkaran yang dicoret.
Kuroko mengerti istilah itu, tapi bukan nya biasanya itu untuk pria dan wanita? Namun yang Kuroko lihat, tak sedikit juga yang datang bersama sesama jenis. Termasuk Akashi.
Akashi sepertinya langsung bisa mengetahui kemana arah pemikiran Kuroko.
"Tetsuya, di Amerika pernikahan sesama jenis sudah di sah kan"
Kuroko akhirnya mengerti, dia menganggukkan-angguka kepala nya sebagai jawaban sembari ber-oh ria.
"Ayo Tetsuya"
Akashi mengulurkan tangan nya. Kuroko tidak berani menerima uluran tangan itu, tapi beberapa pasangan pria melakukan hal yang sama bahkan ada yang lebih mesra. Malu-malu Kuroko terima juga uluran tangan Akashi. Mereka berjalan bersama memasuki ballroom.
"Welcome to this party meeting. Please enjoy your moment"
Seorang wanita cantik, tinggi, langsing menyambut didepan pintu dan memberikan sebuah sapu tangan hitam yang diberi corak garis-garis berwarna emas sebagai tanda terima kasih.
.
Didalam ballroom yang sangat teramat luas dengan sebuah panggung didepan tengah, lalu di setiap sisi ruangan adalah meja panjang yang berisi makanan dan minuman. Beberapa sofa juga di letak di sisi ruangan.
Tepat pukul 6, acara pun dimulai. Seorang pembawa acara menaiki panggung dan memulai kata sambutan, diakhir kata sambutan pembawa acara menyebutkan nama-nama rekan bisnis yang diundang secara terhormat. Nama si penyelenggara acara yang pertama disebut, lalu yang kedua adalah nama Akashi, kemudian disusul dengan nama yang lain.
Kuroko sangat takjub dengan majikan nya itu. benar-benar kagum sampai tadi Kuroko yang tepuk tangan dengan sangat keras.
Pembawa acara kemudian mempersilahkan para tamu undangan untuk menyicip segala makanan dan minuman yang sudah tersedia.
Kuroko mencoba-coba beberapa makanan, sementara Akashi hanya menemani sekaligus berbincang dengan teman bisnis nya. Akashi beneran sudah kenyang.
Acara berlangsung meriah dan tertib.
"Ok! Ladies and gentlemen, now lets play a game!"
Suara nyaring dari mikrofon yang disambut dengan sorakan ria memenuhi ballroom mewah itu. Kuroko kurang suka mendengar nya, karena memang Kuroko tidak suka ribut-ribut.
"Look at the handkerchief! There are code numbers. We will choose by random, and see what game you must to do! Everyone readyyyy?"
"YESSS!"
Sesuai instruksi yang di beri, semua tamu hadirin melihat pada sapu tangan yang mereka dapat dari sambutan didepan. Tamu yang hadir lebih dari 500 orang. Sebuah papan lingkaran berisi angka-angka dinaikkan ke atas panggung, dan satu papan lingkaran lagi berisi game atau hukuman yang nanti harus dilakukan.
Suasana sangat meriah! 2 orang sudah kena. Yang pertama kena minum wine dari mulut pasangan nya, yang kedua kena praktekkan gaya sex yang sering ia mainkan dengan pasangan nya. Kuroko sampai terheran-heran, ada-ada saja gaya orang barat ini.
"Ok, now! The last one"
Kuroko dan Akashi dari tadi hanya memperhatikan saja sambil ikut tepuk tangan.
"Tetsuya, karena ini yang terakhir, bagaimana jika kita taruhan. Siapa diantara kita yang kena dianggap kalah, yang menang boleh meminta apapun dari yang kalah"
"Jika saya menolak bagaimana?"
"Tidak boleh"
Kuroko hanya menghela nafas, ia sudah tau pasti tetap harus menyetujui. Kesepakatan pun terjadi tanpa mereka ketahui no berapa yang mereka dapat.
Papan diputar, angka yang muncul adalah 1. Jantung Kuroko tiba-tiba berdegup lebih kencang.
Diputar lagi, angka yang muncul 1 lagi. Jantung Kuroko makin tak karuan.
Diputar terakhir kali, Kuroko tidak berani melihat.
"YES! Last number 5!"
Kuroko yang mendengar itu langsung mengecek sapu tangan nya dan sangat lega karena bukan no nya, Kuroko juga melirik Akashi yang tenang-tenang saja, itu berarti tidak ada dari mereka yang kena. tapi yang terjadi berikutnya adalah papan lingkaran itu malah bergerak mundur sedikit dan jatuh ke no 4.
"Oops sorry, the correct number is 4! It mean 114. Come on, come here!"
Kuroko mati kutu, tidak tahu mau gimana. Di cek berkali-kali sapu tangan itu, dilihat sejeli-jeli nya angka yang tertulis disana. 114.
Seisi ruangan sudah bersorak ria. Kuroko berfikir ia akan mempermalukan majikan nya apabila tidak maju, jadi Kuroko beranikan diri untuk melangkah ke panggung. Akashi terkejut karena juga tidak tahu bahwa Kuroko lah yang kena giliran itu, tapi Akashi juga senang karena berarti dia yang menang.
"Ok boy! Who is your partner?"
Kuroko tidak menjawab tapi jari nya yang menjawab. Semua mata mengikuti arah jari Kuroko yang pas kearah Akashi.
"WOW"
Seluruh isi ruangan menjadi heboh dan ricuh, tapi Akashi malah tersenyum bangga.
"Now lets see what you get"
Kuroko dipersilahkan untuk memutar papan lingkaran yang berisi hukuman. Kuroko dalam hati terus komat kamit agar tidak mendapat yang aneh-aneh.
Dan putaran itu berhenti di…. Kiss partner's lip.
Kuroko sudah membulatkan bola matanya selebar mungkin dan berusaha menolak saat pembawa acara meminta Kuroko untuk menemui pasangan nya dan memberikan satu ciuman di bibir. Ini memang hal biasa, dan Kuroko sudah sering ciuman dengan Akashi. Tapi masa harus didepan keramaian begini?
Kuroko mati-matian menahan malu sementara suara sorakkan semakin ricuh. Pembawa acara pun turut mendorong Kuroko pelan-pelan untuk turun dari panggung.
Akhirnya Kuroko berjalan sangat pelan menuju Akashi yang sudah menunggu. Saat sudah tiba di hadapan Akashi, ruangan menjadi diam. Sunyi, bahkan jarum jatuh bisa terdengar.
Kuroko tidak berani menatap Akashi. Sebuah alunan music dari bagian sound system dengan jahil memainkan music romansa yang begitu merdu. Sorot lampu pun hanya terfokus pada mereka berdua.
Kuroko masih diam membuat tamu lainnya tak sabaran dan meneriaki Kuroko.
"Tetsuya, tidak usah dipaksakan"
Akhirnya Akashi buka suara. Kuroko langsung mengangkat kepala nya melihat Akashi yang tersenyum untuknya. Mungkin Akashi memang tidak apa-apa karena nanti bisa dapat lebih dari ciuman, tapi bagaimana dengan nama baik Akashi.
Kuroko memberanikan diri, mengumpulkan segenap raga dan jiwa. Kuroko meletakkan kedua telapak tangan nya pada pipi Akashi, memandang wajah tampan majikan nya. Kuroko bisa melihat keterkejutan dari mata Akashi. Kuroko sedikit berjinjit, matanya melirik bibir Akashi, bibir yang sudah menjamah seluruh bagian ditubuh nya.
Kuroko memejamkan matanya, mendekatkan wajahnya, sedikit demi sedikit. Para tamu undangan terbawa suasana, ada yang menutup mulut menahan sorakkan, ada yang sibuk memeluk pasangan nya. nada musical yang mengiringi semakin menambah suasana intens.
Kuroko bisa merasakan hembus nafas Akashi yang sangat hangat. Pelan tapi pasti, bibir Kuroko menempel ke bibir Akashi.
Suara sorakkan terdengar sangat meriah, tapi ciuman itu belum terlepas. Akashi tidak menyangka, Kuroko benar-benar melakukan nya. Akashi tidak bisa tahan untuk tidak bahagia, Akashi tidak bisa menahan diri. Tangan nya reflex memeluk Kuroko serta memperdalam ciuman mereka.
Sorakkan semakin tambah meriah, suara dari mikrofon sangat memekikkan telinga karena pembawa acara yang menjerit kegirangan.
"OK! To continue this moment, lets have a party!"
Music berganti menjadi music dj remix, tamu undangan mulai bergoyang ria.
Akashi dan Kuroko melepas ciuman mereka. Ruangan yang sudah redup tidak menghentikkan pandangan mata mereka yang bisa melihat senyum satu sama lain.
Akashi dengan cepat menarik Kuroko keluar ballroom. Acara sudah selesai, party tadi menutup acara pertemuan itu.
"Akashi-sama, apa benar ini pertemuan resmi?" tanya Kuroko saat mereka sudah berada di lift yang ditekan menuju lantai 15 tempat ruangan mereka.
Kuroko fikir pertemuan resmi biasanya awal sampai akhir elegan. Akashi kembali menunjukkan kartu undangan yang dibawah nya bertulisan "FREE PARTY"
.
.
Sesampai diruangan mereka, Akashi langsung menarik Kuroko ke kamar dan mendorong Kuroko terbaring di kasur. Akashi naik ke atas kasur dan menindih tubuh Kuroko.
"Tetsuya, aku menang"
"Lalu apa permintaan anda?"
Akashi menyeringai puas. Akashi turun dari kasur lalu duduk di sofa yang khusus untuk satu orang.
"Goda aku, Tetsuya"
"Hah? Maksud anda?"
"Goda aku dengan seksualitas, lalu puaskan diriku"
Akashi memasang smirk andalan nya.
"Apa kau kebinggungan Tetsuya?"
Akashi berdiri menuju koper bawaan mereka, lalu mengeluarkan sebuah kotak yang tidak asing lagi. Kuroko terkejut kapan Akashi memasukkan kotak itu? kuroko sama sekali tidak melihat kotak itu ada di koper saat mereka packing barang.
"Sudah lama tidak bermain dengan mereka ya, Tetsuya"
Akashi meletakkan kotak itu di hadapan Kuroko dan balik duduk di sofa.
"Nah Tetsuya, ayo, mulai pertunjukkan mu"
Ini berbeda dari permainan solo yang dulu Akashi perintahkan, karena kali ini Kuroko juga harus menyentuh Akashi, menggoda majikan nya lalu memberi kepuasan.
"Tetsuya!" akashi tidak sabar lagi.
Kuroko menutup mata nya, menarik nafas panjang dan dihembus perlahan.
Mata itu kembali terbuka seiring langkah Kuroko yang mulai turun dari kasur.
Kuroko melepas jas nya, lalu dengan gerakkan yang sangat seduktif dan perlahan, Kuroko membuka satu per satu kancing kemeja putih yang ia pakai didalam jas. Kuroko tidak melepaskan kemeja nya dari tubuhnya, hanya membuka seluruh kancing dan membiarkan kemeja itu tetap bertengger indah.
Kemudian Kuroko melucuti celana nya. Kuroko sudah sangat malu, sangat sangat malu. Tapi mau bagaimana lagi, Kuroko pasti juga harus melakukan ini.
Kuroko mendekati Akashi, bersimpuh dihadapan Akashi. Tangan mungil Kuroko mulai nakal melucuti tuxedo yang Akashi kenakan.
Dada bidang Akashi terlihat jelas. Kuroko mengelus-elus dada itu perlahan. Darah Akashi sudah berdesir naik, ia tidak tahan. Sialan Kuroko yang menggoda nya dengan sangat manis.
Akashi mencoba menahan diri agar tidak langsung menyerbu Kuroko, Akashi ingin menikmati pertunjukkan ini lebih lama lagi.
Kuroko naik ke pangkuan Akashi, mengalungkan tangan nya ke leher Akashi dan mengajar bibir Akashi untuk memadu kasih.
Akashi menerima setiap pergerakkan Kuroko dan membiarkan Kuroko bermain sesuka hati.
Kuroko berusaha mendominan gesit nya lidah Akashi yang melilit lidah nya, saliva mereka merembes keluar dari sudut bibir.
Kuroko yang duluan mengakhiri ciuman itu karena sudah kehabisan nafas. Kuroko turun dan kembali bersimpuh dihadapan Akashi. Kuroko mulai melepas ikat pinggang Akashi, membuka kancing celana serta resleting lalu melepas celana Akashi.
Tersisa lah celana dalam Akashi yang berwarna merah marun dengan sedikit less hitam. Kuroko menggosok-gosok dan mengelus gundukan itu.
"Nghhhh.. Tetsuya~"
Akashi sangat terangsang. Maid nya ini, makin hari makin jago saja.
Tiba-tiba terbesit sebuah ide gila di otak Kuroko, Kuroko pun tak tahu mengapa otak nya bisa berfikir begitu. Kuroko berdiri mengambil kotak tersebut dan mencari sesuatu yang disebut vibrator.
Kuroko mencolokkan kabel vibrator pada kontak listrik yang berada dibelakang sofa yang Akashi duduki. Kuroko memang tidak pernah menyentuh alat-alat beginian, tapi tiap kali melihat bagaimana Akashi menggunakan nya, Kuroko jadi mengerti. Semua alat itu tidak beda jauh cara penggunaan nya.
"Tetsuya?"
Kuroko menekan tombol on pada level 1, kepala vibrator yang bulat langsung bergetar ringan. Kuroko menggoda penis Akashi dengan vibrator itu.
"Tetsuya apa yang kau… nghhh.. hei, Tetsuya.."
Seumur hidup, Akashi tidak sekalipun membayangkan dirinya akan dimainkan dengan alat-alat seperti ini, dan sial nya hal yang tidak dibayangkan itu malah terjadi.
"Tetsuya.."
Penis Akashi semakin sesak. Getaran yang vibrator beri sangat merangsang hingga pusat nikmat.
"Apa Akashi-sama menikmati yang begini?"
"Sial, Tetsuya!"
Akashi tidak boleh jatuh lebih rendah dari ini, Akashi segera merebut vibrator dari tangan Kuroko dan memasukkan vibrator yang masih bergetar ke celana dalam Kuroko. Kuroko ingin mengeluarkan kembali tapi tangan nya duluan di tahan Akashi. Akashi meletakkan kedua tangan Kuroko diatas kepala.
"Ahhkk Akashi-sama, dame.. dame yo"
Kuroko tidak tahan. Vibrator itu bergetar secara acak menggoda penis Kuroko. Kuroko bergeliat lenggak lenggok.
Akashi meraih dasi nya yang tadi dibuang Kuroko ke samping sofa, tangan Kuroko diikat dengan dasi itu.
"Akashi-sama.."
Akashi melepas celana dalam nya yang terasa semakin sempit. Penis Akashi sudah berdiri setegak menara eifel.
"Tetsuya, Akashi junior sudah menunggu"
Kuroko mendekatkan kepala nya, mulai menjilat penis Akashi, lalu mengulum nya, memainkan dengan lidah nya dalam kuluman didalam mulut. Akashi mendorong kepala Kuroko untuk mengulum keseluruhan penis Akashi yang besar itu. tidak muat, sudah pasti. Kuroko sampai tersedak-sedak.
"Ahhh Tetsuya…."
Akashi tidak tahan lagi. Akashi mendorong tubuh Kuroko jatuh ke lantai.
Akashi menarik keluar vibrator dari celana dalam Kuroko dan melepas celana dalam itu.
Akashi mengangkat tinggi-tinggi kaki Kuroko dan melebarkan nya. mata Akashi terfokus pada lubang yang tiap malam menjadi santapan lezat.
Akashi mendekatkan kepala nya ke lubang itu, mencium dan menjilat lubang itu serta memainkan lidah nya disana.
"Ahhh Akashi-sama.. yamete.."
Akashi tidak peduli, dan terus menjilat-jilat nikmat. Vibrator tadi Akashi gunakan kembali untuk menggetarkan dua butir telur Kuroko. Tubuh Kuroko langsung bergeliat naik.
"Ahhhh… yamete Akashi-sama.."
"Naze? Kimochi dessou?"
Akashi memindahkan vibrator ke lubang Kuroko, menekan dengan keras dilubang itu. sementara penis Kuroko yang sudah menegang Akashi kulum dengan perlahan.
"Ahhh.. Akashi-sama.. mou.. tidak tahan lagiiii"
Kuroko rasa ini rangsangan terkuat yang pernah ia terima. Penis nya tak tahan lagi, dan Akashi semakin sengaja menjilat kepala penis nya.
"Yamete.. yamete… ahhhh ikehh.. Akashi-sama.. ikehhhh"
Penis Kuroko memuncratkan seluruh cairan sperma itu hingga mirip air terjun. Akashi tersenyum puas untuk hasil awal permainan nya.
Tidak cukup begitu, sekarang Akashi memasukkan jari tengah nya ke dalam lubang Kuroko sementara vibrator masih bergetar diluar lubang. Akashi menggoyang-goyangkan jari nya dalam lubang Kuroko, mencari dan menekan titik nikmat itu.
"Ahhh.. t-tunggu… ja-jangan dulu.."
Kuroko yang baru saja terima klimaks tentu saja masih sangat sensitive tapi Akashi malah terus bermain. Penis Kuroko serasa hampir meledak lagi, sudah berdenyut kuat.
"Akashi-sama….."
Akashi malah menambah satu jari lagi dan semakin liar menjelajah dalam lubang Kuroko.
"Tidak.. tidak lagi.. mouuu.."
Kuroko menggeleng-gelengkan kepala nya, sudah tidak tahan apalagi vibrator itu masih terus bergetar.
Akashi semakin senang bermain, vibrator tersebut di setel ke level tertinggi dengan getaran maksimal, lalu di tekan kuat pada penis Kuroko, jadi tangan Akashi mengenggam kepala penis dan vibrator secara bersamaan.
"AHHH… tidakkkk… yamete… jangan begituu.. ahhh ahhh"
Tidak sampai 5 detik dengan gaya begitu, penis Kuroko kembali membuat air terjun. Tubuh Kuroko bergetar hebat, tapi Akashi tidak memberi jeda.
"Akashi-sama…. Kumohonnn.."
Akashi melirik wajah Kuroko yang memohon belas kasihan. Akashi akhirnya menyudahi permainan alat, dan menarik keluar jari nya.
Tapi permainan belum berakhir, Akashi langsung memposisikan penis nya yang sejak tadi sudah minta giliran. Kaki Kuroko direntangkan lebar-lebar. Dalam satu sodokan kuat, penis Akashi menancap dalam lubang Kuroko dan sehentak mengenai g-spot.
"Argghhhh..."
Kuroko muncrat lagi, sudah mirip seperti squirt. Kuroko merasa sperma nya sudah sangat encer karena keluar terus-menerus dalam waktu yang cepat.
"wah wah.. sudah 3 kali ya?"
Akashi menyodok kuat lubang Kuroko, mencari kenikmatan yang memang didapat. Lubang Kuroko begitu ketat menjepit penis Akashi.
"Ahhh ahhh Tetsuyaa…"
Akashi langsung keluar dalam lubang Kuroko tapi gerakkan nya tidak berhenti, ronde dua langsung berlanjut.
Ganti posisi, Akashi yang berbaring dilantai dan Kuroko diatas nya. tapi Akashi meminta Kuroko untuk berjongkok bukan menahan beban dengan lutut.
Posisi ini menguntungkan Akashi untuk menyodok lebih kuat lubang nikmat itu, dan Akashi harus merasa sangat terangsang saat melihat bagaimana lubang Kuroko menyesap penis nya.
"Sial Tetsuya.. ini enak sekali.. siallll"
Akashi meracau tidak jelas sambil terus menaik turunkan pinggulnya.
"Akashi-sama.. Akashi-sama.."
"Ohh yess…"
Akashi dengan gemas meremas erat kedua bokong Kuroko. Dengan satu hentakkan keras, penis Akashi kembali mengeluarkan sperma dalam lubang Kuroko berikut pula penis Kuroko yang sembur sperma mengenai wajah Akashi.
Akashi mencabut penisnya, sperma Akashi langsung menetes keluar dengan deras. Sensasi nya sangat nikmat sampai Kuroko memejamkan mata menikmatinya.
Akashi berdiri lalu mengendong Kuroko ala bridal style ke ranjang empuk yang masih belum dinodai. Pemainan terus berlanjut, tidak ada batasan ronde, batas nya mungkin hanya jika sampai penis Akashi tidak sanggup tegang lagi, namun mana mungkin senjata perkasa tersebut bisa tidak bangun jika sudah berurusan dengan lubang jebakan?
.
.
Pukul 2 tengah malam, Kuroko terbangun. Tadi mereka bermain hingga jam 1 lalu sama-sama ambruk dengan tidak memakai apapun dan hanya ditutupi selimut.
Kuroko tidak bisa tidur, badan nya lengket-lengket. Akashi disamping Kuroko terlihat tidur dengan nyenyak, nafas beraturan.
Kuroko turun dari tempat tidur, mengambil night robe yang memang disediakan pihak hotel di atas meja nakas. Kuroko menuju balkon yang berada diseberang ranjang tidur, tapi jendela besar yang sekaligus sebagai pintu menuju balkon masih tertutup gorden.
Kuroko pelan-pelan membuka jendela besar itu agar tidak membangunkan majikan nya. angin malam yang bertiup langsung menerpa permukaan kulit Kuroko.
Kuroko berdiri di sisi balkon, memandang ke langit yang dihiasi bulan dan bintang. Kuroko benar-benar tidak habis pikir sekarang ia berada di New York dan sudah menghabiskan satu hari dan satu malam bersama sang majikan.
Kuroko berfikir, mungkin hari ini ia tidak akan berada disini, di New York jika awalnya Kuroko harus menolak tawaran kerja menjadi maid ini, padahal kan memang umumnya maid itu perempuan. Kuroko merasa harus berterimakasih juga pada Momoi Satsuki.
Kuroko melirik Akashi yang masih terlelap dikasur, lalu kembali menatap langit.
Kuroko mulai berfikir, jadi apakah dirinya sekarang jika takdir tidak mepertemukan Kuroko dengan Akashi? Akankah Kuroko juga menjadi maid orang lain? Atau Kuroko bekerja dibidang lain?
Kuroko juga sudah berfikir untuk mengucapkan banyak terima kasih pada majikan nya, Kuroko yakin biaya ke New York tidak murah dan lagi bisa tinggal gratis dirumah Akashi menghemat seluruh biaya hidupnya.
Kuroko ingin menangis jika berfikir apakah orangtua nya akan marah jika tau bagaimana putra nya sekarang?
Saat ini, ada perasaan yang terus bergejolak dalam diri Kuroko. Kuroko tidak ingin terpisah dari majikan nya, Kuroko ingin balas budi dengan benar, ingin melindungi majikan nya.
Bagi Kuroko, Akashi adalah satu-satunya yang Kuroko punya. Kuroko tidak punya kakak,abang atau adik, saudara juga jauh-jauh dan tidak akrab. Teman juga tidak punya.
Kuroko merasa harus benar-benar bersyukur.
Kuroko berfikir, kita tidak akan tahu apa yang terjadi kedepan nya, apa yang sebenarnya baik atau buruk sampai kejadian berikutnya timbul. Saat Kuroko kehilangan kedua orang tua nya, ia sudah putus asa, tapi akhirnya hal itu yang membuat nya dipertemukan dengan Akashi melalu pekerjaan nya.
Kuroko memejamkan matanya, menyesapi angin malam yang berhembus mengelitik kulit. Tiba-tiba yang Kuroko rasakan adalah sepasang tangan kekar melingkar kepinggang hingga perut nya.
"Tetsuya"
Dan suara baritone yang khas, yang selalu menyebut nama nya dengan manja
"Akashi-sama? Kenapa bangun?"
"Tidak bisa tidur karena tidak ada Tetsuya"
Suara yang padahal tidak cocok jika dimanja-manja kan begitu. Majikan nya ini, super aneh.
"Tetsuya sedang apa disini?"
Akashi dari tadi memang tidak tidur, saat Kuroko turun dari tempat tidur Akashi kira Kuroko hanya ke toilet sebentar tapi ternyata tidak kembali-kembali. Jadi Akashi memutuskan untuk bangun dan duduk dikasur. Yang pertama ia dapati adalah gorden yang tersibak lalu seseorang dengan surai biru muda yang diterpa angin sedang berdiri di balkon. Akashi berdiri dibelakang jendela menatapi sosok itu, lama-kelamaan tidak tahan jika tidak dihampiri.
"Tidak sedang apa-apa. Akashi-sama kembali lah tidur"
"Hmmm Tetsuya.."
"Ya?"
"Satu ronde lagi"
Akashi tidak basa basi, nightrobe yang ia kenakan langsung disibak naik. Akashi menarik tangan Kuroko ke belakang untuk mengocok penis nya. tak berapa lama, Kuroko tanpa bisa membantah, lebih tepatnya sebelum protes, sudah merasakan senjata yang kembali menusuk dirinya. Lubang Kuroko masih licin-licin basah jadi mudah dimasuki.
Tapi kali ini tidak begitu brutal, tidak liar, sangat santai.
Akashi bergerak sekali dua kali, lalu diam, kemudian bergerak lagi dengan tempo lambat sambil menciumi punggung Kuroko yang nightrobe nya sudah terbuka.
"Nghhh"
Meski begitu, rasanya tetap sangat nikmat.
Akashi memajukan kepala nya, Kuroko merespon itu. bibir mereka bertemu, tapi sangat lembut. Tidak ada lumatan kasar, keduanya ingin merasakan rasa yang padat dan manis.
Gerakan itu sangat lembut, seperti sinar rembulan diatas kepala mereka. Sinar nya begitu lembut tapi hangat bercahaya. Atau seperti semilir angin yang suka menerpa dengan keras tapi sensasinya membelai kulit.
Namun lama kelamaan gerakan mulai cepat, Akashi menaikkan sebelah kaki Kuroko ke atas sandaran balkon, memberikan Akashi akses menyodok yang lebih nikmat.
"Ahh ahh"
"Yaaa Tetsuyaa.. hmmm"
Suara mereka mengalun indah dibawa angin entah kemana.
Tidak ada yang mengaku siapa yang kecanduan, siapa yang lebih membutuhkan. Akashi kah? Kuroko kah? Yang mereka coba terapkan adalah majikan dan maid saling membutuhkan.
"Tetsuya..nghh"
Kuroko mengadahkan kepalanya ke atas, bersandar pada pundak Akashi.
Kuroko mengkhayal apakah orang tua nya berada di atas sana yang kata orang sebagai surga? Apakah mereka melihat apa yang sedang Kuroko perbuat? Kuroko jadi malu.
"Akashi-sama.."
Mencoba selembut apapun itu, rangsangan tetap berbuah panas. Kuroko merasa sudah akan keluar lagi entah untuk yang keberapa kalinya.
Akashi sedikit lebih mempercepat tempo nya lagi.
"Tetsuya.. aku.."
Akashi tidak melanjutkan kata-katanya malah mengigit daun telinga Kuroko lalu memeluk Kuroko semakin erat.
"Ahhhh…."
Kuroko duluan sampai, isperma nya bercecer di lantai balkon, tidak tahan dengan sentuhan Akashi. Akashi kemudian menyusul dengan terasa nya cairan panas yang kembali memenuhi lubang.
Angin malam terasa lebih dingin sekarang, Kuroko mencoba mengenggam tangan Akashi yang berada di perutnya, mencari kehangat yang lebih.
Majikan dan maid nya itu bermadu kasih di bawah langit New York, membuat iri sang bulan dan bintang yang menjadi saksi betapa kedua orang ini saling melengkapi.
.
.
.
TBC
.
.
.
HELLO! wah.. saya tidak menyangka bisa sampai di chapter 10. benar-benar mengharukan~
ini chapter terpanjang di fanfic ini dengan 7K words. semoga terasa feel jalan-jalan nya, saya memasukkan bahasa inggris tapi ga berat-berat kok, saya yakin para reader cerdas-cerdas semua! dan informasi yang tersaji didalam mungkin berguna di kemudian hari (?) saya mencoba memberi yang terbaik~ huhu
BIG THANKS banget buat yang sudah mau baca sampai di chapter ini, terlebih-lebih buat yang sudah FAV dan FOLLOW, makasih banget loh.
SPECIAL THANKS buat yang sudah mereview di chapter lalu, kali ini saya mau coba balas review, boleh ya?
Jung HaRa / Terimakasih sudah mereview ^^ iya selesai nya pas tengah malam jadi langsung update deh wkwk..
asuka. souryou / Terimakasih sudah mereview ^^ sabar yaa,, semua butuh proses hoho~
Kaluki Lukari / Terimakasih sudah mereview ^^ syukur deh kalau makin sukaaa, saya senangggg hehe
Izumi-H / Terimakasih sudah mereview ^^ Ohh gitu, ntar ya dibuat ditempat terbuka hoho~ gak janji sih wkwk
Vanilla Parfait / Terimakasih sudah mereview ^^ ahh saya suka sebutan itu 'vanilla' mungkin lain kali akan saya pakai, mohon izinnya ya.. arigatou dan silahkan baca lagi wkwk awas ketagih, saya gak tanggung hoho~
Nyanko Kawaii / Terimakasih sudah mereview ^^ akan saya pertahankan dan terus dikembangkan hoho~
AkaKuro-nanodayo / Terimakasih sudah mereview ^^ saya juga deg deg an nih, apa ini yang disebut cinta? wkwk
vira-hime / Terimakasih sudah mereview ^^ dasar kau keong racunn~ ngedangdut
Free. FD / Terimakasih sudah mereview ^^ wahh saya kok terharu ya?hikss.. arigatou untuk perhatian nya, saya senang sekali, ide mu akan saya terima dan arigatou juga buat ide itu, mohon izin pakai nya ya hehe
Liuruna / Terimakasih sudah mereview ^^ polos muka doang tu wkwk..
Divanabila1717 / Terimakasih sudah mereview ^^ sesuatu yang ada dihati mu~ ngedangdut lagi
.
Terimakasih juga untuk review dari chapter-chapter lalu, semua bentuk dukungan sangat berarti bagi saya :)
semoga fanfic ini masih bisa terus dinikmati
See you next chap! *kalau ada yang nunggu :v masih edisi #EmployerAndHisMaidGoToNewYork
TERIMAKASIH~
