WARN! HARDYAOI, ADULTCONTENT

DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI

TITLE : MY MAID

AUTHOR : HIMEVAILLE

PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA

GENRE : HURT/COMFORT, ROMANCE

RATE : M

.

(A/N : Bahasa akan digunakan Bahasa Indonesia saja seperti biasanya, hanya ada beberapa bahasa asing yang pasti tak asing lagi)

.

#EmployerAndHisMaidGoToNewYork.

.

HAPPY READING… ENJOY!

.

"Hoammm.."

Surai biru muda muncul dari balik selimut tebal. Kuroko menegakkan badan nya, mulai meregangkan otot-otot tubuh dan mengucek mata sekilas sebelum melirik ke jam klasik kuno yang terpasang di dinding kamar. Baru jam 5 pagi, untungnya Kuroko bisa bangun seperti biasa, tidak terkena jetlag. Kuroko melirik sebelah kasur yang sudah rapi.

"Eh? Akashi-sama?"

Kuroko mengedarkan pandangan ke seisi ruang kamar, sang majikan tidak terlihat sama sekali. Segera saja kaki itu dilangkahkan menelusuri ruangan lain dan tetap tidak ditemukan orang bersurai merah dalam ruangan itu.

"Akashi-sama? Akashi-sama?"

Kuroko memanggil-manggil nama majikan nya, tetapi tidak ada sahutan.

Aroma wangi yang mengugah selera tercium dari ruang makan, Kuroko berjalan kesana. Memang tidak ada Akashi, tetapi sebuah nampan yang mendatangkan aroma wangi itu terpatri di meja makan. Kuroko melirik pada nampan tersebut dan menemukan secarik kertas surat berisi sebuah pesan singkat.

Morning, Tetsuya. Aku ada urusan dengan Reo. Sarapan lah sendiri. Saat aku kembali, pastikan kau sudah mandi, ya. Atau akan ku mandikan? Dan pastikan kau memakai pakaian yang sudah ku siapkan di gantungan kamar mandi. Jangan buka pintu untuk orang sembarangan! AS.

Kuroko membaca surat itu berkali-kali, tidak tahu mengapa tapi rasanya mata nya sangat nyaman membaca deretan huruf-huruf yang ditulis oleh tangan Akashi, tulisan nya sangat rapi.

Kuroko tersenyum dan menyimpan surat itu. sarapan yang tersaji masih hangat karena piring yang dipakai bisa tetap menahan suhu makanan. Kuroko tidak makan sarapan itu, ia ingin menunggu Akashi kembali untuk sarapan bersama. Selama Kuroko bekerja sekaligus tinggal bersama Akashi, mereka selalu sarapan bersama. Sesekali saja Akashi men-skip sarapan nya karena ada urusan dadakan, tapi itu sangat jarang.

Kuroko sekarang malah penasaran dengan pakaian apa yang Akashi siapkan untuknya. Langkah kaki diputar arah ke kamar mandi yang ada dibelakang pintu kamar.

Benar seperti yang Akashi bilang, disana ada pakaian yang sudah disiapkan, pakaian yang Kuroko harap tidak akan pernah melilit tubuhnya lagi, tapi sang majikan malah mentitahkan pakaian ini dipakai saat ini, baju maid. Kuroko heran darimana datangnya baju ini? Saat packing barang dirumah, Akashi tidak membawa baju beginian. Sama sekali tidak. Apalagi yang ini model nya sedikit berbeda, lebih sexy.

Kuroko hanya bisa pasrah memenuhi permintaan majikan nya, toh menolak juga tidak bisa.

.

.

Krettt.. decit suara pintu sudah terdengar, Kuroko buru-buru berdiri menyambut.

"Irrashaimase goshujin-sama"

Akashi membelakkan mata nya. bagaimana tidak, Maid nya terlihat sangat cocok dan sexy dengan pakaian maid yang Akashi pesan secara online dari salah satu toko pakaian di New York dan minta dikirimkan tadi pagi, mirip seperti saat pesan alat-alat. Paha Kuroko terekspos penuh karena pakaian bawah maid itu yang berupa rok terbelah dibagian sisi paha, dan pendek dibagian depan. Lalu baju nya hanya sebatas dibawah dada, hasilnya pusar Kuroko menampilkan wujud. Dan pemanis yang indah adalah topi maid di surai biru muda itu. perfect!

"Tetsuya cantik sekali"

Akashi mendekati Kuroko dan mencuri satu kecupanmanis di pipi yang kini bersemu merah. Kuroko menundukkan kepala nya berusaha menyembunyikan apa yang ia tidak ingin dilihat oleh majikan nya sambil membantu Akashi melepas jas dan mempersilahkan Akashi duduk di kursi meja makan.

"Silahkan kopi nya, tuan"

"Sankyuu"

Apa yang membuat semua seperti ini adalah surat tadi. Ketika Kuroko sudah selesai mandi, Kuroko membaca kembali surat tersebut agar tidak salah perintah untuk memakai baju maid. Setelah benar-benar yakin, Kuroko berniat menyimpan surat tersebut dengan keadaan dibalik, tapi ternyata dibalik surat itu masih ada tulisan nya.

Kita akan bermain maid café

Hanya satu kalimat saja, namun sangat menjengkelkan. Mau tak mau Kuroko berusaha memikirkan bagaimana cara kerja maid café. Dan beginilah sekarang.

Kuroko mulai menyajikan menu sarapan. Sebuah piring dengan bacon dan telur mata sapi dihidang di hadapan sang majikan yang sedang berakting jadi tamu maid café.

"Tetsuya tidak sarapan tadi?"

"Saya menunggu Akashi-sama untuk sarapan bersama seperti biasanya"

Kalimat itu membuat Akashi terdiam dalam perasaan yang menjalar memberi rasa senang dalam jiwa. Akashi berusaha menahan agar tidak tebar-tebar senyum.

"Akashi-sama apa hari ini ada pertemuan?"

"Tidak ada. Hari ini kita akan jalan-jalan"

"Kemana?" pekik kegirangan tidak dapat disembunyikan.

"Walt Disney World"

"Dimana itu?"

"He-eh.. sepertinya Tetsuya sangat senang ya. Kemari Tetsuya, duduk disitu dan sarapan lah juga"

Akashi meminta Kuroko untuk duduk dikursi yang berada diseberang nya tetapi tepat dari pandangan mata. kuroko menurut dengan patuh.

"Tempatnya di Orlando, dua jam dari sini, kita akan naik pesawat ku"

Akashi memberi tahu sembari menyantap sarapan nya, begitupula dengan Kuroko yang mulai memotong bacon untuk di lahap.

"Akashi-sama punya pesawat? Sugoi"

"Tentu punya"

Kuroko tidak tahu lagi harus bagaimana cara nya jika disuruh menghitung kekayaan yang majikan nya miliki, terlebih keren karena semua itu hasil keringat sendiri.

"Tapi hanya satu hari, karena besok ada pertemuan lagi"

"Akashi-sama jika memang sedang sibuk, jangan memaksakan untuk jalan-jalan. Lebih baik Akashi-sama istirahat saja"

Selain multifungsi, maid nya ini juga super perhatian. Wajar jika majikan nya bisa nyaman, sungguh wajar.

"Tak apa Tetsuya. Kita tetap jalan-jalan"

"Baiklah jika begitu. Tadi Akashi-sama kemana? Apa Akashi-sama tidak tidur?"

Kuroko khawatir dengan kesehatan majikan malam setelah bermain di balkon, Kuroko tidak tahu jam berapa dia mulai mengantuk dan di bopong Akashi ke kasur. Lalu tadi saat bangun padahal masih jam 5 pagi, tapi Akashi sudah tidak ada.

Sebenarnya Akashi sangat senang maid nya begitu peduli dengan nya, Akashi juga tidak masalah jika harus menceritakan seluruh kegiatan nya. tapi jarang-jarang Kuroko bawel untuk tanya-tanya tentang Akashi, perhatian nya memang selalu ada, tapi yang lebih menunjukkan perhatian untuk hal yang lebih pribadi itu jarang sekali. Misalnya seperti saat ini, Kuroko berani bertanya Akashi kemana tadi. Seolah ikut campur urusan Akashi, seolah ingin tahu padahal ini bisa saja hal pribadi. Sesungguhnya Akashi suka dibegituin. Namun karena jarang, Akashi jadi merasa Kuroko begitu hanya karena ingin membalas jasa baik Akashi yang akan membawanya jalan-jalan.

"Aku tadi menyerahkan dokumen kerja yang akan diurus oleh Reo dan mengantar nya ke bandara. Dia sudah berangkat ke Los Angeles, nanti Reo balik sendiri ke Jepang"

"Kenapa Akashi-sama tidak memberitahu padaku? Aku harus mengucapkan hati-hati pada Mibuchi-san"

Satu hal yang paling penting, Akashi tidak suka jika perhatian maid nya terbagi untuk orang lain. Meski hanya sepatah kata. Kuroko itu maid nya Akashi, hanya Akashi yang boleh menerima seluruh pelayanan nya termasuk perhatian sekecil apapun, hanya Akashi yang berhak memonopoli apa yang sudah diklaim menjadi miliknya.

Garpu dan sendok ditutup di atas piring. Akashi berdiri dari duduknya dan berjalan mengitar meja ke seberang untuk memberi pelajaran bagi maid nya.

Akashi memeluk Kuroko dari belakang sandaran kursi yang Kuroko duduki, daun telinga di gigit kecil sampai memerah.

"Akashi-sama?"

Ogah untuk menyahut panggilan yang tak asing lagi, Akashi lebih memilih mencium pipi orang yang memanggilnya itu.

Tangan Akashi sudah gatal ingin menyentuh seluruh kulit yang mulus nya seperti pantat bayi. Dari pertama melihat bagaimana imut nya Kuroko memakai baju maid ini, Akashi sudah nahan-nahan nafsu demi menyelesaikan sarapan pagi. Tapi bodoh amat lah, justru sarapan yang ini lebih enak dan bergizi.

Tangan Akashi mulai menerobos masuk dari kerah baju yang Kuroko kenakan.

"Akashi-sama..?"

"Hmmm..?"

Akashi sudah menemukan apa yang ia cari dari balik baju itu.

TING.. TONG..

Suara bel menginterupsi permainan yang baru memasuki tahap pemanasan.

Akashi menarik tangan nya keluar dan dikepalkan di sisi tubuh. Sungguh tidak senang asupan pagi nya terganggu. Dengan penuh emosi, Akashi berjalan membuka kan pintu.

"APA?"

Orang yang berdiri didepan pintu terkejut dan hendak lari terbirit-birit namun ditahan demi nyawa.

"M-maaf Akashi-san, s-s-saya hanya ingin memberi tahu mobil dan pesawat anda sudah siap"

BLAMMM.. pintu dibanting. Akashi tidak perlu menjawab pemberitahuan sialan yang tega merengut asupan pagi nan bergizi.

"Akashi-sama ada apa?"

Kuroko tidak bisa tidak panik mendengar debaman pintu yang sangat keras.

Sebisa mungkin Akashi berusaha menenangkan dirinya, menahan emosi. Fiuhh.. nafas kasar dihembus cepat.

"Tak ada apa-apa. Tetsuya siap-siaplah. Kita akan segera berangkat"

.

.

Pesawat Akashi berwarna putih dengan garis-garis merah. Pesawat ini terbilang cukup besar untuk ukuran pesawat pribadi, kira-kira bisa menampung 20 penumpang. Dibagian sayap dan ekor belakang terdapat ukiran nama pemilik yang diukir dengan tinta emas, Akashi Seijuurou.

Dibanding dengan pesawat VIP Class yang kemarin mereka naiki, bagi Kuroko pesawat Akashi jauh lebih mewah. Apalagi sepanjang tangga untuk masuk pesawat, awak pesawat berjejer rapi memberi hormat.

Memang harus disebut mewah, didalam pesawat bahkan ada rak bar yang penuh dengan wine first class. Belum lagi, dekorasi didalam nya sangat elegan.

Dideretan kiri adalah kursi penumpang untuk satu orang. Dideretan kanan untuk dua orang, dempet kursi. Tempat duduknya mirip seperti di VIP Class tapi Kuroko yakin yang ini lebih empuk.

Akashi mengikuti Kuroko terserah mau duduk dimana.

"Akashi-sama bolehkah saya di dekat jendela?"

"Tentu"

Mereka duduk di baris pertama dengan Kuroko yang berada di bagian dalam karena Kuroko ingin melihat pemandangan dari atas awan.

Perjalanan hari ini dimulai. Dari New York menuju Orlando yang terletak di negara bagian Florida dalam waktu tempuh 2 jam.

.

.

Sampai di Bandara Internasional Orlando, Akashi dan Kuroko tidak membuang waktu untuk mengunjung Walt Disney World. Mereka sudah dijemput oleh anah buah Akashi. Perjalanan memakan waktu 20 menit.

.

"Wahh… luas sekali"

Kuroko tidak bisa tahan untuk tidak menunjukkan semua rasa gembira nya. kaki nya sudah tak sabar menjelajah tempat yang kini terlihat didepan mata nya sementara Akashi sedang mengantri untuk tiket masuk.

Walt Disney World memiliki beberapa Theme Park, namun kali ini mereka hanya akan bermain di theme park utama yaitu Magic Kingdom Park yang berciri khas castle Cinderella.

"Ayo, Tetsuya"

Tiket sudah didapat dengan harga 120 dollars = 1,6 juta rupiah untuk satu orang.

Didepan pintu masuk, Mickey Mouse dan kawan-kawan melambai-lambai menyambut pengunjung.

Akashi dan Kuroko mengabadikan foto kebersamaan dengan tokoh-tokoh utama Walt Disney. Mereka sudah tidak malu untuk berfoto, malah mereka senang. Perhatikan wajah Akashi yang tampan sedang tersenyum kadang tertawa atau ber pose unik. Lalu wajah Kuroko yang polos tapi manis dan tak berhenti tersenyum saat pengambilan foto.

Akashi juga meminta tolong untuk di fotokan dengan background castle Cinderella.

"Tetsuya tahu tentang dogeng Cinderella?"

"Tau, dulu pernah saya baca di buku-buku perpustakaan nya tentang gadis yan—"

"Stop Tetsuya. Simpan dogeng itu untuk kau ceritakan padaku saat tidur"

"Eh?"

Akashi tidak merespon kebinggungan Kuroko, ia mulai berjalan memasuki theme park lebih jauh lagi. Kuroko hanya mengidikkan bahu dan ikut berjalan.

Sepanjang jalan, Kuroko terus-terusan berbinar-binar bahagia. Akashi diam-diam melirik Kuroko, memperhatikan bagaimana wajah datar maid nya itu bisa beraut gembira sekali saat ini.

Akashi jadi merasa Kuroko bukan maid nya, tapi lebih seperti pasangan nya.

Langkah Akashi terhenti. Ia membatu ditempat

'Hah? Apa yang barusan ku pikirkan? Pasangan? Ya, kami memang pasangan majikan dan maid, tapi..'

Akashi mencoba tidak salah mengartikan pemikiran nya yang tiba-tiba muncul, tapi Akashi tidak bisa membohongi bahwa pemikiran yang muncul bukan maksud pasangan majikan dan maid, melainkan sepasang kekasih.

Kuroko terlonjak kaget saat menyadari Akashi tidak berjalan disamping nya, sontak saja ia membalikkan badan ke belakang dan melihat Akashi yang berdiri tidak bergerak disana.

Mata Akashi menatap lurus pada sosok Kuroko yang sedang berjalan balik kearahnya.

'Kenapa perasaan ku..'

Hanya dengan melihat bagaimana wajah bahagia maid nya itu, Akashi pun turut bahagia.

"Akashi-sama?"

Hanya dengan mendengar suara monoton yang memanggil-manggil nya, Akashi merasa senang.

"Akashi-sama?" Kuroko melambai-lambai tangan di depan wajah Akashi

Akashi tersentak kaget.

"Akashi-sama baik-baik saja?" nada khawatir jelas terdengar

"Ya Tetsuya. Ayo"

Akashi memberi sebuah senyuman untuk memberitahu dia benar baik-baik saja.

Kuroko binggung dengan majikan nya, tidak biasa nya Akashi bisa bengong begitu apalagi sedang ditempat seramai ini.

Akashi juga sedang bingung dengan perasaan nya yang bergerumuh tidak jelas. Akashi mengakui maid nya ini memenuhi kriteria yang Akashi inginkan, jadi wajar Akashi merasa nyaman, namun kenapa rasa nyaman nya berubah kearah yang lebih sensitive?

.

Penjelajahan masih dilanjutkan. Akashi yang sifat aslinya pendiam dan tegas sekarang jadi banyak berbicara untuk hal yang tidak penting karena ikutan Kuroko yang berceloteh ria.

"Akashi-sama, jadi kenapa Winnie The Pooh memakai baju yang tidak sampai menutupi perutnya?"

"Karena baju itu kurang bahan saat dibuat"

"Lalu kenapa Goofy giginya hanya dua?"

"Karena gigi yang lain sudah copot"

Akashi tidak bodoh, dia cerdas luar biasa. Tapi apa penting nya hal beginian untuk Akashi ketahui fakta nya? jadi Akashi hanya menjawab senyambung-nyambung saja. Kuroko benar-benar menggemaskan, Akashi jadi ingin banget mengrepe-ngrepe tapi Akashi menunggu kesempatan.

"Tetsuya, haus?"

Akashi sebagai majikan yang baik tetap harus mempertanyakan hal sesimpel ini kan?

Kuroko mengangguk malu-malu, Akashi terkekeh dan mengacak-ngacak rambut Kuroko.

"Mau minum apa ya?"

Akashi melihat-lihat sekeliling, banyak kios-kios yang menjual makanan dan minuman tapi tidak tahu mau mencoba yang mana.

"Itu saja!"

Akashi memalingkan pandangan nya kearah yang ditunjuk Kuroko pada sebuah kios yang ramai antrian pembeli.

"OK"

Akashi dengan tidak berat hati mengantri untuk minuman itu. tidak tahu kenapa, orang-orang yang berada di depan antrian Akashi malah memberi jalan kepada Akashi untuk memesan terlebih dahulu.

"Nah, Tetsuya"

"Wah.."

Minuman yang mereka beli ditarok pada sebuah wadah cengkung yang lumayan besar, ada dua sedotan diatasnya yang saling membelit sana sini sebelum mencapai ujung.

Kuroko mulai menyedot minuman tersebut. Rasanya sangat segar, sedikit soda rasa lemon tetapi ada jeli-jeli didalamnya.

"Akashi-sama pasti juga haus. Ayo minum"

Akashi tentu dengan senang hati meminum itu, apalagi sedotan nya berdekatan satu sama lain. Mereka sama-sama menyedot cairan didalam nya, sama-sama tersenyum. Akashi tidak modus, ini memang bentuk minum nya seperti itu.

"Akashi-sama tidak mau bermain?"

"Bermain?"

Akashi menyeringai mesum mendengar pertanyaan Kuroko. Kuroko seperti tahu maksud pikiran Akashi setelah mendengar kata bermain.

"Bu-bukan 'yang itu', tapi bermain wahana disini"

Wajah Kuroko sudah memerah padam, bisa-bisa nya satu kata umum bermakna se ambigu ini.

"He-eh.. apa nya 'yang itu' Tetsuya?"

"Akashi-sama!"

Kuroko mencurutkan bibirnya dan menghentak-hentakkan kaki nya ke tanah.

Cup! Akashi tidak tahan untuk tidak mengambil kesempatan yang ada.

Kuroko terkejut dan reflek menutup mulutnya yang barusan di cium di tempat umum.

Lagi-lagi Akashi terkekeh geli. Semakin kesini perasaan Akashi kian membara tidak jelas, menggelitik untuk memberitahu bahwa situasi begini sangat membahagiakan.

"Jadi Tetsuya mau main apa?"

"Etto…"

Kuroko juga kebinggungan mau bermain apa dulu, terlalu banyak wahana disini.

"Ah itu saja!"

Yang Kuroko tunjuk adalah rumah hantu.

.

Akashi dan Kuroko menunggu giliran untuk masuk.

Alasan Kuroko memilih rumah hantu adalah ingin membandingkan rumah hantu yang di Jepang dengan yang disini. Zaman SMP Kuroko, kelas nya pernah membuat rumah hantu pada festival tahunan.

"Pengunjung selanjutnya.."

Kini tibalah giliran Akashi dan Kuroko.

Pertama yang menjamah penglihatan mereka adalah kegelapan. Sepanjang lorong yang akan mereka lalui hanya ada bola lampu kecil berwarna merah dan orange yang dipasang berjarak-jarak jauh.

Lantai yang mereka lewati sangat lembek seperti rawa-rawa, di sisi dinding juga banyak cabang-cabang ranting pohon.

Kuroko meneguk ludah perlahan untuk kesan yang sangat seram.

Selangkah demi selangkah mereka langkahi, sejauh ini masih baik-baik saja kecuali suara-suara yang sudah mulai terdengar dan berkali-kali benda jatuh dari atas mengagetkan serta hantu-hantu yang muncul dari dinding.

"Hua…"

Kuroko meloncat kaget ketika merasakan sebuah tangan menahan kakinya, tapi tidak lama karena segera terlepas.

Akashi menahan tawa nya melihat wajah Kuroko yang kaget dan takut.

Semakin dalam lorong yang dilalui, semakin gelap pula nuansa nya.

Kuroko benar-benar tidak menyangka akan seseram ini, ini berlipat ganda lebih seram daripada yang di Jepang. Kuroko bersumpah tidak akan mau masuk lagi.

"Akashi-sama apa masih jauh?"

"Sepertinya tidak jauh lagi"

Memang tidak jauh lagi, hanya satu belokan lagi. Siapapun sudah bisa menebak dibelokan itulah kejutan utama nya.

Kuroko sudah menyiapkan mental, Akashi santai-santai saja. Mana takut Akashi dengan beginian, dia sendiri adalah raja iblis.

Belokan itu hampir sampai. Tiga langkah lagi.. dua langkah lagi.. sat-

"HUAAAA.."

Kuroko kaget bukan main! Dia sampai melompat kearah Akashi dengan langsung mengalungkan tangan nya dileher Akashi serta memanjat-manjat Akashi, layaknya anak kecil minta digendong.

Hantunya tidak muncul dari belokan, tapi tepat satu langkah sebelum belokan, hantunya muncul dari bawah tanah.

Akashi juga kaget tapi bukan karena hantu, melainkan karena Kuroko yang saat ini sudah berada dalam gendongan nya serta kepala Kuroko yang membenam dalam di pundaknya, kalungan tangan Kuroko juga sangat erat.

Akashi terkekeh-kekeh lucu kemudian berjalan santai melewati belokan dan keluar dari rumah hantu dengan Kuroko yang masih gemetaran didalam gendongan nya. mereka menarik perhatian banyak orang.

"Tetsuya?"

Kuroko masih sangat ketakutan sampai tidak berhenti gemetaran

"Tetsuya, kita sudah diluar"

Mendengar itu sontak Kuroko mengangkat kepala nya. terang berderang dan terbuka. Kuroko masih celingak celinguk sebelum akhirnya sadar bagaimana posisi nya sekarang. Ia pun melompat turun.

"Maaf Akashi-sama"

"Tetsuya baik-baik saja?"

"Ha'i. kita coba yang lain saja"

Kuroko berjalan mendahului Akashi, sebenarnya masih malu sekali digendong seperti itu.

Kuroko berjalan asal dan masuk ke salah satu rumah permainan tanpa membaca pamplet nama permainan itu.

Akashi hanya mengekori dari belakang, tapi Akashi membaca pamplet sebelum masuk.

"Ramalan Asmara"

Sepanjang jalan didalam rumah itu diberi lampu disisi-sisinya. Kuroko menunggu Akashi lalu berjalan bersama menelusuri jalan yang ada, sampailah pada sebuah ruangan kecil yang dihuni seorang nenek tua dengan bola Kristal di meja sana.

"Hoho anak muda, duduklah"

Akashi dan Kuroko duduk di dua kursi yang sudah di persiapkan di hadapan nenek tersebut.

"Kemari kan telapak tangan kalian, akan kuramal bagaimana kisah asmara kalian"

Akashi dan Kuroko hanya menurut saja.

"Hohoho aku bisa melihat nya! disini terlihat jelas, ada garis yang menghubungkan jiwa dan hati kalian. Hohoho kalian akan terus bersama. Terus berbahagia"

Akashi dan Kuroko saling pandang memandang.

"Jangan terus mengelak dari perasaan kalian. Ini sudah jodoh namanya hohoho. Apa kalian pura-pura tidak sadar?"

Nenek itu memandang Akashi dan Kuroko secara bergantian dengan sangat teliti.

"Lihat! Raut wajah kalian sudah menjawab segala ramalan!"

Akashi dan Kuroko kembali bertatap tatapan.

"Anak muda, tidak banyak yang bisa ku beritahu, semua sudah sangat jelas. Hanya itu yang bisa kuramal"

"Terimakasih"

Akashi dan Kuroko membungkuk sedikit memberi tanda penghormatan, kemudian berjalan ke sisa jalan yang ada untuk keluar.

"Oh Tunggu!"

Nenek itu kembali memanggil membuat Akashi dan Kuroko menoleh kembali dan mendapati nenek itu sedang menangis tersedu-sedu

"Ada apa, nek?"

"Bola Kristal ku menampilkan kisah yang begitu manis, aku jadi teringat masa muda ku huhu.. kalian berhentilah mengelak. Jujurlah lalu berbahagia"

Baik Akashi maupun Kuroko tidak tahu menjawab apa, akhirnya mereka hanya tersenyum kemudian keluar dari sana.

.

Tidak ada yang membuka pembicaraan sejak dari rumah ramalan tadi. Kuroko tidak ingin terlalu menangapi karena itu hal yang tidak mungkin. Akashi juga sama, sebab Akashi tidak pernah percaya ramalan.

"HUAAA…"

"WHOAAA..

"YUHUUUU.."

Teriakan demi sorakkan memecahkan keheningan antara majikan dan maid itu. mereka menoleh pada sumber suara, ternyata sebuah wahana yang tak asing lagi. Roller Coaster.

"Tinggi sekali"

Kuroko melihat ke atas hingga puncak roller coaster, sangat menjulang tinggi ke angkasa.

"Tetsuya mau naik?"

"Eh? Akashi-sama berani?"

"Tentu saja"

Tentu Akashi berani, ini bukan apa-apa baginya.

"Etto.. baiklah ayo"

"Jangan dipaksakan jika Tetsuya tidak berani"

"Tentu saja aku berani!"

Akashi tau Kuroko takut, tapi Kuroko benar ingin mencoba wahana ini. Jika ke taman bermain tapi tidak mencoba wahana ini yang sering dijadikan ciri khas suatu taman bermain, rasanya sia-sia.

Akashi dan Kuroko sudah mengantri dalam barisan. Akashi terus-terus melirik Kuroko, bahkan getaran sekecil apapun bisa dideteksi di mata dwiwarna nya.

"Tetsuya jangan dipaksakan"

"Tapi sekarang kita sudah mengantri"

Keras kepala itu sifat maid nya. akashi hanya menghela nafas dan tetap mengantri menunggu giliran.

Kereta roller coaster sudah tiba, pengunjung yang tadi naik mulai turun sambil berceloteh ria, ada juga yang menahan muntah dan menangis.

Akashi dan Kuroko duduk di deret ke 3, kereta roller coaster ini memiliki panjang dengan 8 deret bangku kebelakang.

"Perhatian! Pasanglah sabuk pengaman anda dengan erat. Permainan tidak dapat dihentikan saat sudah dimulai"

Instruksi dari pengeras suara memberi aba-aba bahwa kereta roller coaster akan meluncur.

"Tetsuya yakin tidak apa-apa?"

"I-iya"

Kereta sudah berjalan. Pelan-pelan memasuki terowongan, kemudian langit biru yang cerah dengan gumpalan awan menyambut mereka semua.

Kereta mulai menaiki tanjakan, semakin dekat menuju langit.

Kuroko menelan ludah berkali-kali, badan nya semakin gemetaran.

Sampai di puncak, kereta berhenti.

Kuroko melirik sedikit ke bawah, dan WHOA Kuroko shock dengan ketinggian yang mengerikan. Permainan ini juga Kuroko masukkan dalam list tidak akan dinaiki lagi.

Kuroko menunggu dengan cemas, kereta tak kunjung berjalan lagi. Sebenarnya ini memang salah satu pelayanan dari pihak wahana. Berhenti di puncak sebentar untuk memberi waktu bagi penumpang berfoto-foto dengan view yang indah terlebih lagi hari sudah menunjukkan pukul 4, sudah mulai sore dengan langit yang mulai orange.

Akashi juga tidak ketinggalan mengabadikan foto dirinya dan Kuroko, meskipun wajah Kuroko sangat dipaksakan untuk tersenyum.

Kereta mulai terasa bergerak, para penumpang menyimpan segala alat potret mereka. Lalu..

"WHOAA….."

"HWAAAA…"

"HIAHHHHH…"

Kereta meluncur terjun dengan kecepatan yang sangat cepat, berputar pada tikungan, terbalik 360 derajat.

"HOAAAA… TIDAAKKKKK.."

Kuroko tidak sadar sudah memeluk Akashi dari samping dan menjerit ditelinga Akashi. Akashi malah tertawa-tawa.

.

"Huuekkkk…"

"Tetsuya tidak apa-apa?"

Apanya yang tidak apa-apa? Kuroko sudah mual namun bukan karena hamil. Kepala nya pusing 100 keliling. Kuroko bahkan tidak ingat tadi dia memeluk Akashi sangat erat.

"T-toilet.."

"Ayo Tetsuya"

Akashi membantu Kuroko berjalan ke toilet yang ada di sudut taman bermain. Toilet nya sangat bersih dan rapi. Didalam nya ada 5 sekat ruang wc.

Kebetulan saat Akashi dan Kuroko masuk, wc yang tersisa adalah yang paling akhir. Bilik ke-5.

"Hueeekkk.."

Kuroko memuntahkan isi perutnya, Akashi membantu menggosok-gosok tengkuk leher Kuroko.

"Sudah baikan Tetsuya?"

Akashi peduli, ia khawatir. Walaupun otak nya sudah berfikir mesum. Akashi tau kesempatan sudah tiba melalui kejadian yang tidak Akashi rencanakan, dibumbui keberuntungan mendapat bilik paling ujung.

"Ha'i Akashi-sama. Maaf merepotkan anda"

"Tidak apa-apa Tetsuya"

Akashi menyerahkan sapu tangan untuk Kuroko mengelap mulutnya. Kuroko masih menetralkan rasa pusing nya. Kesempatan ini Akashi pakai untuk menutup pintu bilik dan menguncinya perlahan.

"Akash—"

Kuroko tidak diberi kesempatan untuk bertanya, bibirnya dikunci dengan bibir Akashi yang sudah mulai melumat lembut.

"Hmpppp"

Kuroko meronta minta dilepas, tangan nya memukul-mukul dada Akashi. Akashi menghentikan rontaan tangan Kuroko, menahan tangan itu pada dinding bilik.

Akashi menyudahi lumatan nya, bibir nya kini bergesit menyesap leher Kuroko yang sudah sedikit berkeringat.

"Nggh.. Akashi-sama ini toilet umum"

"Shhh makanya jangan ribut"

"T-tapi.. Nghh.."

Kuroko kehilangan kata-kata untuk protes. Lidah Akashi merangsang Kuroko dengan menjilati leher jenjang nya.

"Tetsuya juga terangsang kan?"

"T-tidak"

"He-ehh.."

Akashi melepas genggaman pada pergelangan tangan Kuroko. Akashi memerlukan tangan nya untuk mulai meraba-raba tiap inci tubuh maid nya.

Tangan besar itu dengan nakal menyelusup masuk ke baju Kuroko, jari-jari nya juga sama nakal memilin nipel Kuroko, sesekali dicubit gemas.

"Nghh.. Akashi-sama j-jangann"

Akashi menggunakan lutut nya untuk menggesek-gesek pangkal paha Kuroko.

"Akashi-sama.. j-jangan.. i-itu.."

Terangsang itu tidak peduli tempat, dimanapun atau oleh siapapun, jika di goda milik nya seperti itu tentu lah akan bangun.

"He-eh.. sudah bangun?"

Kuroko membuang wajah kesamping, tidak kuat melihat wajah majikan nya yang menampilkan smirk mesum.

Akashi dengan cepat melepas segala pakaian bawah yang melekat pada nya dan Kuroko.

"Tetsuya jongkok"

Akashi memerintah Kuroko untuk berjongkok dan menghadap penis nya.

Penis Akashi melambai-lambai dihadapan Kuroko. Kuroko kadang heran kenapa Akashi bisa sangat terangsang walau ditempat umum.

Akashi menyodokkan penis nya kedalam mulut Kuroko. Tangan Akashi menahan kepala Kuroko agar penis nya tetap berada didalam mulut itu.

"Ahhh…"

"Hmmmppp hmm"

Kuroko mencoba berbicara tapi tidak bisa, justru gumaman nya memberi efek getar pada penis Akashi yang membuat Akashi semakin merem melek menikmati.

Akashi memaju mundurkan penis nya dalam mulut Kuroko, sesekali menahan sangat dalam hingga habis tertelan.

"Hmmmpp hmm hmm"

Kuroko tidak tahu bahwa itu gumaman nya semakin memberi efek.

"Ahhh begitu Tetsuya.."

"Hmmmpp hmmmm"

Kuroko benar-benar tidak mengerti dan niat nya hanya memberitahu Akashi bahwa ia sudah tersedak-sedak tapi yang Akashi rasakan malah berbanding terbalik.

"Ahhh ya Tetsuyaa.. ahhh"

Akashi menyodok kuat kedalam kerongkongan Kuroko dan membiarkan penisnya mengeluakan sperma disana.

"Uhukkk uhukk"

"Bagaimana rasanya Tetsuya?"

Akashi sudah menarik penis nya keluar yang masih ada lelehan sperma. Muka Kuroko bersemu merah padam merasakan sperma Akashi mengalir menuruni tenggorokan.

Akashi menarik Kuroko untuk berdiri, menempelkan tubuh itu pada dinding tetapi dibuat menungging. Akashi dengan berbaik hati akan membuat Kuroko merasa nikmat juga. Walau sebenarnya karena ia belum puas dan Akashi junior belum mau balik bobok.

"Arrggh—"

Kuroko menutup mulutnya menahan jeritan yang hendak keluar, lubang nya ditembak senjata keras yang berlendir sisa sperma.

Akashi mulai menusuk-nusuk lubang Kuroko, memaju mundurkan pinggang nya, menatapi bagaimana tubuh Kuroko yang ikut maju mundur akibat gerakkan nya.

"Ahhh Ahh Akas-Akashi-sama.. t-tidak kuat"

"Ennggh.."

Kaki Kuroko gemetar menahan beban, mereka sudah jalan-jalan lelah mengelilingi taman seharian, kaki Kuroko sudah lelah. Untungnya Akashi sangat peka.

Akashi ganti gaya. Ia duduk di kloset yang ditutup penutup, kemudian mendudukkan Kuroko diatasnya tapi membalikkan tubuh Kuroko untuk membelakangi nya.

Akashi mulai menyodok lagi, kali ini Kuroko tidak bisa beralasan.

Walau memang terasa nikmat oleh sodokan Akashi, Kuroko tetap sangat cemas. Dirinya kini tepat menghadap bilik pintu, Kuroko berfikir bagaimana jika ada orang yang tiba-tiba mengetuk pintu, atau mendengar mereka, lalu mendobrak masuk?

Semua pikiran cemas itu harus hilang karena tangan Akashi kembali berbuat nakal dengan mengocok-ngocok penis Kuroko.

"Ahh ahhh.."

Kuroko tak kuasa menahan desahan nya serta mati-matian menahan ledak suaranya.

"Tetsuya Tetsuya.. Tetsuyaa ahhh…"

Akashi terus-terusan berbisik seduktif ditelinga Kuroko. Kuroko merasa semakin dipancing untuk terangsang. Ia tidak tahan lagi dengan godaan beginian.

"Ak-Akashi-sama,.. mou.. ahhhhhhhh.."

Kuroko melenguh panjang sembari menyemburkan sperma nya.

"Sial, Tetsuya tidak tunggu-tunggu… ahhh…"

Maksud Akashi adalah tidak memberi kode bahwa lubang nya akan sangat mengetat karena mencapai klimaks, penis Akashi jadi semakin sesak didalam lubang sana.

"Ahhhhhh Tetsuyaa…."

Sperma panas kembali merasuki tubuh Kuroko. Kuroko memejamkan mata menahan gelombang nikmatnya.

"Hah.. hah.."

Mereka berdua berlomba menghirup oksigen di bilik yang tak seberapa luas.

Kuroko membersihkan lelehan sperma Akashi yang keluar dari lubang nya, lalu membersihkan juga yang menyembur ke lantai kemudian memakai kembali pakaian nya.

"Akashi-sama bagaimana jika ada yang curiga kita sama-sama dalam bilik?"

"Kalau begitu Tetsuya keluarlah duluan. Tunggu aku didepan dan jangan kemana-mana!"

Kuroko mengangguk. Kuroko mengintip-ngintip terlebih dahulu. Aman! Segera lah Kuroko jalan keluar dari toilet umum yang akan turut menjadi saksi permainan mereka.

.

Kuroko menunggu didepan toilet, mata nya mengedar melihat sekitaran tamn yang masih ramai pengunjung. Mata Kuroko berhenti pada sebuah kios yang tidak jauh dari toilet menjual pernak pernik aksesoris.

Kuroko berjalan kesana melihat-lihat aksesoris. Bagus-bagus tapi tidak ada yang Kuroko rasa cocok.

Seorang anak kecil bersama seorang wanita yang sepertinya adalah ibu anak itu, menarik-narik sang ibu untuk melihat aksesoris di kios lain. Kuroko sempat mendengar anak itu bilang ada kios yang aksesoris nya lucu-lucu. Kuroko pun tertarik mengikuti mereka menuju kios tersebut.

Benar saja, kios ini ramai pembeli. Aksesoris nya lucu-lucu dan harga nya tidak terlalu mahal. Kuroko tertarik pada sebuah aksesoris yang mengantung di agak sudut.

Aksesoris itu berupa gantungan yang bisa untuk hp sekaligus bisa juga untuk kunci, gambar nya Nemo dan Dori berdempet dengan senyum khas mereka. Kuroko meminta pada penjual untuk melihat lebih dekat. Ternyata gantungan itu bersifat magnet. Nemo dan Dori nya bisa ditarik pisah, tapi kalau didekatkan akan menyatu berdempet kembali.

Akhirnya Kuroko memlih membeli aksesoris itu, untung saja Kuroko ada sedikit membawa uang tanpa sepengetahuan majikan nya. Gantungan couple ini Kuroko niatkan untuk membaginya dengan sang majikan, entah kenapa Kuroko tersenyum geli.

Gantungan itu disimpan baik-baik di saku celana. Kuroko puas dengan pilihan nya dan sekarang ingin berjalan kembali ke toilet, mungkin Akashi sudah keluar. Tapi…

Kuroko tidak tahu sekarang ia berada dimana, ini sudah terlalu jauh dari toilet.

Kuroko celinga-celinguk mengingat rute yang tadi ia lewati tapi sama sekali tidak bisa membedakan lokasi sana sini. Parahnya Kuroko tidak mengingat apa yang ada disekitar toilet, toilet disini banyak, Kuroko sudah berusaha menanyakan ke beberapa orang, tapi karena tidak ada ciri spesifik jadi kesusahan mencari.

Kuroko sudah sangat kebingungan, tidak tahu lagi. Rasanya ingin menangis saat ini juga, ia sudah seperti anak hilang. Bedanya, Kuroko adalah maid hilang yang mencari majikan nya.

.

.

Akashi terkejut karena tidak mendapati Kuroko didepan toilet maupun disekitaran toilet. Akashi gelagapan mencari Kuroko, berkali-kali bertanya pada orang-orang sekitar tapi jawaban yang Akashi dapat hanya "Tidak melihat"

Akashi terus berusaha bertanya pada security yang sedang ronda di sekeliling taman.

"Maaf, Pak. Apa anda melihat seorang laki-laki berambut biru muda dengan kaos dalam hitam tapi kemeja luarnya warna biru. Tinggi nya kira-kira segini"

Akashi memberitahu ciri-ciri Kuroko sespesifik mungkin

"Maaf, tuan. Tapi taman ini sangat banyak pengunjung. Yang baju biru maupun rambut biru atau tinggi yang segitu ada beberapa"

"Tapi ini yan—"

"Maaf, tuan. Saya juga sedang mendapat tugas mencari anak hilang. Tuan bisa melapor dulu di bagian informasi. Nanti mereka akan menugaskan petugas lain untuk membantu mencari"

Petugas itu menunjukkan lembaran kertas yang ia pegang, ia sudah banyak tugas jadi tidak bisa membantu Akashi.

Akashi sangat geram. Jika sekarang tidak sedang sibuk mencari maid nya, petugas ini pasti sudah digunting acak.

Akashi berlari menuju pos informasi setelah membaca pada denah taman dimana letaknya.

Pos sangat ramai, banyak sekali yang membuat pengaduhan ini itu. dari hilang anak, hilang suami, hilang uang sampai hilang arah hidup.

Akashi mencoba menerobos barisan antrian yang tidak rapi mengantri didepan pos, tapi dirinya malah di maki oleh bapak-bapak padahal bapak ini tadi juga menerobos. Akashi sudah benar-benar marah, banyak hal yang sudah tercantum jelas dalam list mangsa gunting merah.

Akashi memilih mencari sendiri daripada menghabiskan waktu mengantri.

'Apa nya yang akan selalu bersama? Sekarang aku kehilangan nya! ramalan memang tidak bisa dipercaya!'

Akashi kesal dengan ramalan yang tadi didengar.

"Tetsuya? TETSUYA?"

Akashi terus meneriaki nama maid nya, berharap mendapat sahutan, berharap panggilan nya tidak dikacangi. Tidak tahu kenapa Akashi merasa sangat takut kehilangan maid nya. bagaimana jika maid nya sekarang sudah dicuri orang? Kemana dia? Bukan hanya karena susah mendapatkan maid seperti Kuroko lagi, tapi ini lebih kepada perasaan nya yang takut kehilangan sosok Kuroko.

.

Langit mulai gelap, para pengunjung berangsur-angsur mulai meninggalkan taman bermain.

Akashi masih terus mencari dan meneriaki nama maid nya. Langit yang mulai gelap menambah satu beban pencarian. Keringat sudah membasahi baju yang Akashi kenakan, rambutnya juga sudah tak serapi tadi.

Akashi sudah mencari kemana-mana tapi hasilnya nihil. Namun Akashi tidak akan berhenti, ia terus mencari ke pinggiran lokasi taman.

Di bawah pohon rindang penuh semak-semak rumput, matanya menangkap seluit biru yang percis seperti yang sedang ia cari-cari.

Hati Akashi berdetak tak karuan, rasanya senang menemukan apa yang ia cari. Dengan cepat Akashi berlari kesana.

.

Kuroko sudah mutar-mutar dan masuk satu per satu toilet yang ada disana, tapi tidak menemukan Akashi. Kuroko sudah kelelahan, stamina nya sudah habis hari ini.

Kuroko memilih istirahat sebentar dibawah pohon yang tampak sejuk. Pikiran nya sudah kacau memikirkan bagaimana nasib nya setelah ini. Kuroko tidak ingin berpisah dengan majikan nya, Kuroko takut. Sangat takut.

"Tetsuya?"

Suara itu, suara itu yang ingin Kuroko dengar. Suara orang yang tak segan-segan langsung memanggil nama kecil nya pada awal mereka berjumpa. Kuroko berharap mendengar suara itu setiap hari lagi, bahkan setiap jam, menit, detik.

"Tetsuya.."

Suara itu semakin mendekat, hati Kuroko semakin teriris. Sekarang Kuroko terpisah dengan pemilik suara itu, Kuroko tidak tahu lagi harus bagaimana.

"TETSUYA"

Dan sekarang suara itu terdengar begitu nyata dan keras serta sangat dekat dengan nya. Kuroko mencoba membalikkan badan kearah asal suara.

BRUKK..

Baru membalikkan sedikit, tubuhnya langsung diterjang sampai terlentang direrumputan dengan seseorang yang kini memeluk nya erat. Seseorang yang sejak tadi ia pikirkan, ia takuti kehilangan, ia rindukan, aroma badan yang jelas hanya milik orang ini.

"Akashi-sama?"

"Tetsuya…"

Akashi mengangkat badan nya dari atas badan Kuroko, diperiksa nya tiap inci tubuh Kuroko dengan teliti.

"Tetsuya tidak apa-apa? Apa ada yang luka? Mana yang sakit? Hmmm?"

Kuroko menganga tidak tahu harus merespon bagaimana. Tangan Akashi mengerayangi tubuhnya, namun bukan untuk sentuhan mesum seperti biasanya melainkan sentuhan yang menyalurkan kekhawatiran.

Kuroko mengenggam tangan Akashi untuk menghentikan gerakan tangan majikannya itu.

"Akashi-sama, saya baik-baik saja. Saya minta maaf"

Akashi tersadar dari kepanikkan nya. jarang sekali Akashi khawatir orang lain, tapi kali ini Akashi sangat khawatir dan panik dengan keadaan maid nya.

"Tetsuya! Tadi kemana? Sudah kubilang jangan kemana-mana! Kenapa Tetsuya bandel sekali? Bagaimana jika Tetsuya hilang? Diculik orang? Trus dibunuh?"

Akashi mengomel bukan karena ingin marah, tapi Akashi hanya peduli. Akashi sangat khawatir.

"Maafkan saya, Akashi-sama. Maafkan saya"

Nada suara Kuroko bergetar, Kuroko tidak pernah melihat majikan nya semarah ini. Kuroko jadi semakin takut.

"Maafkan saya.. saya hikks salah.. hikss"

Akashi meredam seluruh bentuk emosinya, tidak tega melihat maid nya jadi menangis.

"Tetsuya.."

Akashi merengkuh Kuroko dalam dekapan nya, mengelus surai biru muda yang juga sudah berantakkan. Kuroko masih terisak pelan. Akashi jadi ikutan sedih, seharusnya Akashi yang menangis. Seharusnya. Karena Akashi terlampau tak ingin kehilangan maid nya ini.

"Tetsuya sudah jangan nangis lagi"

"Tapi.. hikks saya sudah.. merepotkan anda.. berbuat salah se-seperti ini hikkss.. maafkan saya"

"Kumaafkan Tetsuya, kumaafkan. Berhentilah menangis.."

Akashi mengeratkan pelukan nya. Akashi lebih suka melihat wajah Kuroko yang berseri senang, bukan yang begini. Walau sudah lega akhirnya berhasil menemukan Kuroko, tapi sekarang Kuroko malah menangis sedih. Akashi bahkan rela menghabiskan seluruh kekayaan nya untuk membeli taman bermain ini apabila itu diperlukan untuk membuat Kuroko gembira setiap hari. Tapi Kuroko tidak butuh itu, karena pelukan Akashi yang kian mengerat telah membuat Kuroko tenang dan senang.

Malu-malu, Kuroko membalas pelukan Akashi, menyamankan dirinya dalam pelukan majikan nya ini.

"Akashi-sama, saya janji tidak begitu lagi. Maafkan saya"

"Ya, Tetsuya. Jangan begitu lagi, jangan tinggalkan aku begitu"

.

.

Jam 8 malam, Akashi dan Kuroko setelah makan malam dan mengantri panjang untuk tiket seharga 30 dollar saat ini sedang duduk dalam Ferris Wheel raksasa bernama, CocaCola Eye. Letaknya tidak jauh dari taman bermain Walt Disney World.

Kota Orlando terlihat sangat indah pada malam hari. Lampu-lampu dari rumah penduduk maupun gedung-gedung memberi pencahayaan pada night view.

Akashi dan Kuroko duduk bersebarangan. Kuroko tidak henti-henti berdecak kagum dengan pemandangan yang bisa ia jangkau dalam penglihatan nya. Akashi juga menikmati pemandangan itu.

"OH!"

Kuroko berseru teringat sesuatu. Tangan nya sibuk merogoh saku celana dan mengeluarkan plastic kecil.

"Ada apa Tetsuya?"

Kuroko tidak menjawab tapi wajahnya tersenyum senang. Isi dalam plastic dikeluarkan lalu ditunjukkan didepan mata Akashi sambil diayun-ayunkan.

Akashi terlihat binggung, memang nya ada apa dengan gantungan yang Kuroko tunjukkan?

Kuroko menarik dua sisi gantungan itu. terpisahlah Nemo dan Dori. Kebetulan Nemo berada ditangan kanan Kuroko, Kuroko langsung menyerahkan itu pada Akashi.

"Untuk anda, Akashi-sama. Sebenarnya karena membeli ini tadi saya beranjak dari tempat"

Akashi akhirnya menemukan biang kerok masalah. Akashi menatap geram gantungan yang sudah disodorkan di hadapan nya, inginnya sih menghancurkan si biang kerok. Namun tidak mungkin dilakukan karena biang kerok ini akan menjadi kenang-kenangan yang dapat Akashi simpan dalam wujud benda.

Akashi merasa senang, padahal pemberian Kuroko kecil saja bahkan adalah sumber masalah yang menyebabkan dirinya hampir kehilangan maid nya ini, tapi Akashi malah senang karena Kuroko memberikan nya itu.

Akashi menerima gantungan itu serta langsung menarik tangan Kuroko yang masih terulur.

"Ehhh?"

Kuroko tertarik oleh tangan Akashi dan berakhir duduk dipangkuan Akashi.

Akashi mengangkat kepala nya keatas untuk melihat wajah Kuroko. Ini benar-benar masih Kuroko, maid kesayangan nya.

Kuroko malah bersemu merah ditatap begitu.

Akashi tersenyum kecil, jari jempol dan telunjuk nya menjepit dagu Kuroko untuk dibawa sedikit rendah.

Akashi memajukan wajahnya, menyambut bibir diatasnya yang kian mendekat.

CUP! Bibir mereka bertemu, kali ini nuansa nya jelas berbeda. Tidak menggebu-gebu, lembut saja.

Akashi memeluk pinggang Kuroko dan mulai menutup matanya untuk meresapi sentuhan lembut ini. Kuroko tidak tahu harus merespon bagaimana. Tapi tubuhnya seperti otomatis bergerak. Tangan Kuroko mengalung indah di leher Akashi sebagai tumpuan, mata nya pun ikut tertutup mengikuti arus.

Pengalaman yang indah di Kota Orlando. Akashi dan Kuroko tidak akan lupa dengan semua suka duka yang terjadi hari ini. Ya, mereka memang berstatus majikan dan pembantu, tetapi kenangan yang mereka bentuk lebih dari batasan status.

Walau pasti tidak ada yang mau mengaku, namun kedua nya diam-diam bahagia mengingat ramalan dadakan di taman bermain tadi.

Akashi yang tidak mempercayai ramalan, kali ini harus berfikir yang berkebalikan.

'Sesekali percaya ramalan, tidak apa-apa kan?' pikirnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Terimakasih buat yang masih mau baca :)

BIG THANKS buat yang sudah fav dan follow dan review, dan juga BIG THANKS buat nimuixkim90, Izumi-H, Liuruna, Vanilla Parfait, AkaKuro-nanodayo, Nyanko Kawaii, , Jung HaRa, Anitayei, Taurus'99, Divanabila1717, Shirayukeii yang sudah meluangkan waktu untuk memberikan review pada chapter sebelumnya.

Special Thanks buat Free. FD, Nyanko Kawaii, Vanilla Parfait yang sudah support ide taman berhasil ex:toilet umum dan ferris wheel ^^ buat yang lain juga, makasihhh bangettt ^^

A/N : jika banyak yang minta flashback MayuAka, akan dibuatkan, saya ragu sih karena sepertinya kemunculan Mayuzumi sedikit merusak mood di chapter 3 (?)

saran/kritik/komen/atau cuap-cuap silahkan di kolom review :')

TERIMAKASIH~