WARN! HARDYAOI, ADULTCONTENT

DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI

TITLE : MY MAID

AUTHOR : HIMEVAILLE

PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA

GENRE : HURT/COMFORT, ROMANCE

RATE : M

.

#EmployerAndHisMaidGoToNewYork. LASTDAY!

.

HAPPY READING… ENJOY!

.

"Nghhh.."

Kuroko merasa tidurnya tidak nyaman, ia yakin belum mendengar suara alarm berbunyi atau panggilan bawah sadar yang memerintahkan bangun pada jam biasanya, ia juga yakin memakai piyama tidur yang hangat dan selimut yang tebal, tapi kenapa terasa sangat dingin? Bagian paha nya terasa lengket-lengket dan basah.

Kuroko memutuskan untuk membuka mata nya, dan yang dilihat adalah..

"AKASHI-SAMA?!"

"Sttt Tetsuya ini masih pagi, jangan jerit-jerit gitu"

Jelaskan bagaimana Kuroko bisa tidak menjerit melihat pemandangan sekarang? Sang majikan yang telah melepas semua pakaian Kuroko, sementara majikan itu hangat-hangat dalam bungkusan piyama. Kemudian apa itu? suatu botol kecil yang mengeluarkan cairan krim dan sedang dipolesi pada penis Kuroko serta dimasukkan ke dalam lubang anal nya.

"Akashi-sama, apa itu?"

"Oh ini? Disini tertulis Lotion Perangsang"

"HAH? Da-darimana anda mendapatkan barang semacam itu?"

"Aku menemukan nya pada kotak 'alat', sepertinya belum pernah kita gunakan karena tertimpa alat lain"

"Lalu kenapa anda memakaikan nya pada saya?"

"Jadi kalau bukan Tetsuya, siapa lagi?"

"AKA—uggh.."

Kuroko sangat geram, inginnya sih berteriak lagi, namun tiba-tiba ada perasaan menganjal yang muncul, rasanya seperti… bergairah?

"Tetsuya baik-baik saja?"

Kuroko memilih tidak menjawab dan membuang muka kesamping, daripada melihat wajah majikan nya yang sekarang bertanya dengan pura-pura polos serta tidak merasa bersalah, walau tampan.

"Nghh.."

Kuroko merasa panas, aneh, dan parahnya sangat terangsang. Penis nya pun sudah tegak dan terlihat sangat besar.

"He-eh sepertinya lotion ini benar-benar bekerja"

Kuroko mengigit bibir bawahnya, menahan suara-suara erotis yang mencoba keluar. Padahal tidak diapa-apakan tapi rasanya begitu melayang.

Akashi tersenyum mesum melihat hasil kerjanya. Awalnya Akashi mau mencari alat pengiring main hari ini, saat mengacak kotak sampai ke bawah, ia menemukan botol lotion tersebut. Membaca tulisan nya membuat Akashi jahil ingin membuktikan keampuhan lotion ini, tentu satu-satu nya model percobaan adalah maid nya sendiri.

Kuroko bergerak tak nyaman, paha nya digesek-gesekkan bermaksud mengeluarkan cairan lotion yang masuk kedalam, tau nya malah menimbulkan sensasi nikmat.

"Tetsuya butuh bantuan?"

Smirk mesum sangat jelas tercetak di wajah tampan itu

"T-tidak!"

"Yakin? Tapi Tetsuya Junior sudah bangun dan sebesar ini loh"

Akashi jahil, sungguh dan teramat jahil. Akashi menyentuh kepala penis Kuroko dengan satu jari telunjuknya, memutar-mutar nya sambil memandangi wajah Kuroko yang berusaha menahan rasa nikmat.

"Ahhh j-jangan.."

"Jangan? Tapi Tetsuya terlihat menikmatinya"

"T-tidakk.. nghhh"

Baru disentuh begitu, Kuroko sudah merasa ingin klimaks.

Kuroko menyingkirkan jari Akashi, setelah itu langsung melompat turun dari kasur.

"Tetsuya mau kemana?"

Tidak usah dijawab karena arah jalan nya sudah jelas, Kuroko butuh ke kamar mandi untuk melepas hasrat ini.

BLAM! Pintu kamar mandi tak sengaja dibanting kuat.

Akashi menyeringai semakin lebar, lalu menyusul ke kamar mandi.

.

Kuroko mengocok penis nya dengan cepat, sudah lama dia tidak pernah bermasturbasi sendiri seperti ini. Rasanya terbuai oleh panas nya gairah dan melambung diatas kenikmatan. Kuroko memejamkan matanya, berusaha fokus pada permainan solo dipagi hari yang masih gelap, tapi bayangan yang muncul adalah sosok majikan nya.

Kuroko tercenggang sesaat. Kenapa harus bayangan majikan nya yang muncul? Kenapa bukan wanita berdada besar yang sedang telanjang dan mengangkang minta dijebol?

'A-aku masih straight kan?' batin Kuroko.

Tidak mampu berfikir apapun apalagi itu karena nafsu nya memaksa melanjutkan permainan walau solo.

Kuroko berusaha membayangkan wanita yang sexy, layaknya yang pria normal bayangkan. Meskipun Kuroko tidak pernah baca-baca majalah porno apalagi download film gituan, tapi dia tentu tau bentuk payudara serta vagina.

Tapi meski begitu, setiap membayangkan wanita berambut panjang, yang muncul malah pria dengan rambut pendek merah delima. Membayangkan dada besar dan perut ramping, yang muncul malah dada bidang dan perut kotak-kotak. Membayangkan lubang vagina, yang muncul malah penis kekar yang jago menusuk-nusuk.

"Argghh.."

Kuroko tidak tahan lagi. Gairah nya sedang berada dipuncak, memikirkan hal yang bertentangan dengan bayangan yang alami muncul membuat nya sakit kepala dan tertekan. Kuroko tidak sanggup mengenyahkan bayangan sang majikan. Membayangkan itu membuat gairah nya semakin tinggi.

"Ahhh Akashi-sama Akashi-sama… nghhh"

Akashi yang sudah berdiri didepan pintu kamar mandi terkejut bukan main mendengar namanya disebut-sebut bukti dari otak maid nya yang sedang berfantasi panas tentang dirinya, tapi sedetik kemudian Akashi menyeringai.

Akashi membuka pintu kamar mandi perlahan, menyaksikan tontonan gratis dipagi buta.

Kuroko posisi nya membelakangi pintu, jadi dia tidak tahu bahwa permainan nya sedang ditonton.

"Ahhh ahhh Akashi-sama Akashi-sama…"

Shit! Akashi mana tahan dengan pertunjukkan begini. Melihat maid nya yang telanjang dengan tangan gesit mengocok batang yang tegang, bibir tipis nan sexy yang menyebut-nyebut namanya. Akashi jadi bahan masturbasi untuk tontonan yang ia saksikan, betapa menggoda selera. Tapi Akashi mencoba bertahan, sayang sekali jika tidak menikmati tontonan ini sampai akhir.

"Ahhh ahhh ahhh"

Nafas Kuroko tak beraturan lagi, kepala nya di gadahkan ke atas, bibirnya tak henti mendesah ria sembari memanggil-manggil nama majikan yang berada dalam fantasi nya. tangan nya semakin cepat mengocok, cepat, cepat dan tak terkendali lagi.

"Ahhhh~ Akashi Seiiiiii….ahh~"

Penis nya menyembur keras cairan sperma yang terlampau banyak.

Akashi harus terkejut lagi, namanya disebut dengan lantang tanpa surfix kehormatan dan ditambah panggilan nama kecil. Namun Akashi tidak marah, ia justru tersenyum. Ini rasa terkejut yang membahagiakan.

Kuroko menahan sisi dirinya pada dinding kamar mandi, oksigen diburu habis dengan rakus. Tapi… penis nya belum juga tidur, masih berdiri menantang.

Akashi masuk kedalam kamar mandi sambil bertepuk tangan.

"Akashi-sama?"

"Wahh.. pertunjukkan nya sangat bagus Tetsuya"

Kuroko malu, ternyata daritadi ditonton. Semakin malu setelah ingat bahwa tadi memanggil-manggil nama penonton ini.

Akashi langsung memeluk Kuroko dan mencium pipi yang sedang bersemu merah.

"Setelah solo sekarang double"

"Eh?"

Akashi melumat bibir Kuroko sambil perlahan berjalan menuju bathtube.

Tubuh Kuroko didorong kedalam bathtube dan air dingin langsung mengucur deras.

"Nghhh"

Sensasi dingin malah menimbulkan efek rangsangan baru yang tak kalah nikmat.

Akashi melepas seluruh pakaian nya sendiri, kemudian ikut nimbrung dalam bathtube dan menindih tubuh Kuroko yang mulai ditenggelami air.

Akashi meraba-raba dada Kuroko, mencubit-cubit gemas tonjolan disitu.

"Ahh J-jangann.."

"Kenapa, Tetsuya? Bukankah Tetsuya menginginkan ku?"

Kuroko memalingkan wajah nya kesamping, malu sekali harus ketahuan seperti itu.

Akashi menarik dagu Kuroko, menatap bola mata biru yang sayu akibat nafsu.

"Tatap aku, Tetsuya. Wajah ini kan yang ada dalam pikiran mu?"

Kuroko mengigit bibir bawah nya, menahan agar tidak menjawab. Akashi hanya menyeringai, bibir itu biar Akashi yang gigit saja sekaligus dilumat habis.

"Hmmmppp.."

Akashi membelai-belai penis Kuroko, penis itu benar-benar belum tertidur sedikitpun. Penis Akashi juga sudah tegak siap menantang.

"Tetsuya aku tidak tahan lagi"

Cukup basa-basi nya, dari tadi penis Akashi sudah minta jatah.

"Akash—arghhh.."

Tubuh Kuroko mengelinjang keatas, lubang nya merasa penuh oleh penis besar yang sekarang bersemayam didalam sana. Sensasi air dingin juga membuat semakin nikmat saja.

"Ahh ahhh ahhhhhh.."

Kuroko tidak bisa berhenti mendesah, entah kenapa ini nikmat sekali. Pengaruh lotion itu memang super parah.

"Nghhhh Tetsuyaa.."

Lubang Kuroko yang sudah basah oleh air dan sisa lotion didalam situ turut memberi tambahan kenikmatan bagi Akashi. Kali ini memang sangat nikmat.

"Tetsuyaa,, sebut nama ku seperti tadi"

"T-tidakk.."

"Ayolah.."

Akashi sengaja menusuk lebih kuat, menekan titik g-spot.

"Ahhhh Akashi-samaaa…"

"Ya begitu Tetsuya…"

Meski berkata tidak, tapi tetap saja lidah itu bergulir untuk mengucap nama yang dimaksud.

Soal rasa, lidah tidak bisa bohong.

"Akashi-sam Akashi-sama ahh ahhh"

Air dalam bak merembes keluar dengan deras, keran pun tetap mengalirkan air baru. Mereka tidak peduli, bukan hambatan untuk rasa nikmat yang dipinta.

"Ahhh nggghh.. Ahhhkkkk.."

"Tetsuya.. kauuu nghhh ahh ahhh"

Kedua nya sama-sama sampai pada puncak yang didaki. Air dingin itu terasa hangat sekarang, lelehan sperma mengambang dan bercampur menjadi satu. Akashi menopang tubuhnya diatas tubuh Kuroko, merebut oksigen sekitar untuk kebutuhan pokok.

.

.

Jam menunjukkan pukul 6 pagi, dua jam lagi sebelum rapat bisnis.

Akashi sudah siap dengan setelan jas yang rapi dan mewah seperti biasanya. sementara Kuroko, ia belum bisa berpakaian dengan benar karena penis nya masih menegang walau tidak setegang tadi.

"Akashi-sama, lotion ini bertahan berapa lama?"

"Hmmm?"

Akashi mengambil kembali botol lotion tersebut.

"6 jam"

"HAH? Anda memakaikan nya jam berapa tadi?"

"Kalau tidak salah jam 4"

Kuroko tepuk jidat, berarti masih ada 4 jam lagi untuk bertahan.

Akashi berjalan kearah Kuroko, mengacak-ngacak surai biru yang masih sedikit basah.

"Tetsuya maaf ya, aku tidak bisa terus memasuki lubang mu"

Akashi bukan tidak mau, dia jelas tidak akan menolak. Tapi ini ada pertemuan bisnis penting, Akashi juga mati-matian nahan nafsu nya.

"Tapi aku punya sesuatu yang bisa membantu"

Akashi mengeluarkan alat baru dari kotak tersebut. Kuroko sangat heran, sebenarnya ada berapa alat dalam kotak itu?

Sebuah alat kecil mirip kapsul berbentuk gemuk panjang lonjong berwarna pink.

"A-apa itu?"

"Vibrator getar kapsul"

"Huh?"

Akashi menyeringai senang, Kuroko sudah waspada sekali.

Akashi dengan lincah mendorong tubuh Kuroko ke atas kasur, kaki nya dipaksa mengangkang hingga lebar.

"Akashi-sama, apa yang ingin anda lakukan lagi?"

"Aku membantu Tetsuya"

Vibrator itu dimasukkan kedalam lubang Kuroko. Vibrator itu memiliki peyanggah pada ujungnya, sehingga tidak akan meluncur keluar apabila bukan sengaja ditarik keluar. Tidak ada kabel terlihat karena terhubung secara portable.

"Akashi-sama keluarkan!"

Kuroko berusaha mengeluarkan alat itu tetapi tangan nya ditahan oleh tangan Akashi.

"Tidak Tetsuya!, Tetsuya harusnya terimakasih pada ku karena memberi service begini"

"Tidak tidak tidak"

Gairah Kuroko sedang dipaksa tinggi, lalu ada alat yang menusuk lubang nya, bergetar pula.

"Tetsuya, ini perintah!"

Akashi tersenyum menang, pengontrol getar ada ditangan nya dan sudah dinyalakan pada level 1.

"sekarang Tetsuya berpakaian lah dengan rapi, ya. Aku menunggu didepan"

Smirk mesum, senyum jahil, tawa kemenangan mengiring langkah sang majikan yang puas mengerjai maid kesayangan nya.

.

.

Akashi, Kuroko, dan rekan bisnis lainnya sudah berada dalam ruang rapat yang sangat luas. Ditengah nya terdapat meja berbentuk persegi panjang. Dideretan kanan meja, diduduki oleh para CEO, dideret kiri adalah bawahan nya. seharusnya rapat ini dihadiri oleh Akashi dan Mibuchi, tapi karena Mibuchi sudah ditugaskan untuk hal lain, maka Akashi mengajak Kuroko untuk mendampingi saja.

Akashi dan Kuroko duduk berseberangan di kursi kedua dari depan. Meja itu masing-masing deret ditempati 10 orang, total 21 untuk pemimpin yang duduk ditengah.

Kuroko merasa risih dengan keadaan nya. duduk semakin membuat alat itu menusuk kedalam. Mati-matian ia menjaga sikap agar tidak dicurigai.

"Good morning everybody, rapat akan dimulai"

Rapat pun dimulai dengan khidmat, para rekan bisnis dengan teliti mendengar penjelasan mengenai perkembangan bisnis dunia, permainan saham, sampai produk unggulan.

Kuroko tidak bisa fokus, pantat nya getar-getar begitu.

Akashi yang sedari tadi lirik-lirik ke Kuroko hanya bisa tersenyum biasa, padahal maksud senyuman nya tidak biasa. Dengan pelan, Akashi memasukkan tangan nya kedalam saku jas. Alat pengontrol dipegang, level dinaikkan sampai akhir.

Kuroko sontak kaget merasakan getaran yang kian menguat. Kepala nya menoleh pada Akashi yang sedang menyeringai mesum sambil menaik turunkan alis.

"Hei, kau baik-baik saja?"

Mati! Kuroko mau mati saja. Orang disamping nya ternyata menyadari gerak-gerik Kuroko. Walau bermaskud baik menanyakan kondisi Kuroko, itu pula yang Kuroko harap tidak usah ditanya.

"I-Iya. Maaf"

Ingin nya sih jawab jujur, tapi tidak mungkin kan?

Akashi terkekeh kecil, maid nya itu lucu sekali. Wajar jika Akashi tidak pernah puas menggoda Kuroko dengan berbagai ide nakal nya.

Kuroko menarik nafas, hembuskan. Penis nya juga sudah tegang sempurna dan terasa sesak, lubang nya semakin dirangsang hebat.

Akashi belum puas hanya dengan itu. Fokus mata Akashi melihat sekeliling, memperhatikan bahwa rekan lain sedang fokus pada layar didepan.

Akashi melepas sepatu nya pada kaki kanan, kaki itu lalu dijulurkan untuk mencapai kursi yang Kuroko duduki. Sudah dapat target, kaki itu mengelus-elus paha Kuroko.

Kuroko makin kaget! Mata nya membulat memicing kearah Akashi, tapi Akashi malah pura-pura tidak melihat dan fokus ke layar.

Kaki Akashi bergerak ke bagian tengah paha, merasakan gundukan disana, dielus-elus juga dan ditekan.

Kuroko dengan sekuat tenaga mengunci mulutnya serta mengigit bibir nya, biar saja luka yang penting suara nya tidak keluar.

Kaki Akashi turun menyentuh bagian lubang Kuroko, mendorong lebih dalam alat tersebut. Getaran nya semakin jelas Kuroko rasakan mengenai g-spotnya.

Kepala Kuroko sudah terasa pusing, menahan hasrat begini ternyata sangat merepotkan. Penis nya tidak tahan lagi, ingin muncrat.

Kuroko tidak bisa keluar ruangan karena memang tidak boleh.

Jari-jari Kuroko mencengkram erat ujung jas nya. Tidak bisa lagi, kaki Akashi masih jahil mengelus-elus. Kuroko tidak bisa menahan penis nya yang kini sudah mengeluarkan sperma. Basah yang Kuroko rasakan pada kulit diarea sana, serta lelehan yang bikin lengket. Tubuhnya menegang sesaat sebelum dipaksa kembali normal.

Untung celana nya hitam, dan jas yang dipakai lumayan panjang menutupi bagian selangkangan.

Akashi tau Kuroko sudah keluar. Kaki nya ditarik kembali, level vibrator diturunkan ke level 1. Dalam hati, betapa girang Akashi mendapat permainan begini.

.

Plok Plok Plok

Suara tepuk tangan memenuhi ruang rapat. Rapat sudah selesai, para rekan bisnis mulai keluar ruangan dan menuju ruang makan untuk jamuan makan siang.

Jam 9.30, pengaruh lotion itu belum hilang. Kuroko masih terjebak dalam kabut gairah.

Akashi sengaja memperlambat bangkit dari kursinya, ia menunggu ruangan hingga kosong dan kini tersisa Akashi dan Kuroko.

"Wahh.. Tetsuya enak sekali sudah keluar. Aku masih tertahan"

"Akashi-sama jahat sekali"

"HAH? Sudah ku bantu melepas, masa dikata jahat?"

Akashi memutari meja menuju Kuroko yang sudah berdiri dan bersiap keluar.

"Tetsuya mau kemana?"

"Keluar kan?"

"Siapa yang suruh?"

"Eh?"

Kuroko ditarik, dihempas keatas meja.

"Akashi-sama?"

"Giliran ku, Tetsuya"

Celana Kuroko dilepas cepat, alat itu masih terlihat bergetar. Akashi membuka resleting nya dan mengeluarkan senjata yang siap perang.

Alat itu dicabut, digantikan dengan penis Akashi yang lebih besar dari alat itu.

"Arggghh.."

Tidak butuh pemanasan lagi, Akashi sudah cukup panas. Kuroko pun demikian.

"Tetsuyaa.."

Pinggang dimaju mundur, badan Kuroko pun dipaksa mengimbangi irama. Tinggi meja sangat pas dengan tinggi pinggang Akashi sehingga memberinya leluasa untuk bergerak.

"Ahhh…"

"Nggghhh…"

Kuroko merasa diajak melayang lagi, untuk kesekian kali nya hari ini. Entah haru berterima kasih atau memaki lotion yang membuat nya begini, juga orang yang memakaikan lotion tersebut. Kuroko tidak sanggup menolak gairah yang membawa kenikmatan.

"Ahhh ahhh.."

"Ohh yess Tetsuyaa.. ngghh.."

Drarp Drappp..

"AKASHI-SAMA!"

Kuroko panik mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke ruangan. Akashi juga mendengar itu, suara itu sudah semakin cepat. Akashi dengan cepat menarik badan Kuroko untuk bangkit, mereka masuk ke kolong meja.

"Shit!"

Akashi tidak suka permainan nya diganggu, dimana pun kapanpun oleh siapapun!

Kuroko ketakutan dan panik, Akashi bisa merasakan itu. tubuh itu dipeluk erat.

"Sttt tenanglah.."

Seseorang masuk kedalam ruangan, tidak tahu siapa, Akashi dan Kuroko hanya bisa melihat sepatu pentofel yang dipakai saja.

"OH! Ini dia!" seru orang itu.

Kaki berbalut pentofel diputar arah melangkah keluar ruangan, Akashi dan Kuroko menghembus nafas lega.

"Nah sekarang kita lanjutkan"

Tidak perlu repot-repot keluar dari kolong meja, Akashi sudah menunggingkan bokong Kuroko dan menusuk nya sangat dalam.

"Ahhh…"

Kuroko sebenarnya binggung, Kuroko yang dipakaikan lotion perangsang, tapi malah Akashi yang bersemangat.

"Nghh.. nghh"

"Ahh.. ahh.."

Akashi tidak membuang waktu, tusukan nya diperkuat dan dipercepat.

"Akashi-sama… ahh ahh"

"Hmm ya nghhh… ahhh"

Tangan Kuroko ditarik kebelakang sebagai pegangan, tusukan yang masuk semakin kuat, lubang Kuroko rasanya ingin jebol.

"Ahhhhh Tetsuyaa…"

"NGhhhh Akashi-sama… ahh ahh"

Akashi duluan sampai kali ini, disusul Kuroko. Mereka berisitirhat sebentar dikolong meja, Kuroko ingin menunggu sampai gairah nya kembali normal, alias habis nya pengaruh lotion.

.

.

Jamuan makan siang diadakan sangat berkelas, mewah dan elegan.

Akashi membaur dengan teman bisnis nya, membicarakan perkembangan perusahaan masing-masing.

Pengaruh lotion itu sudah habis, Kuroko bisa tenang sekarang. Ia berdiri sambil tersenyum di sisi Akashi. Mereka terlihat sangat cocok, begitulah yang beberapa teman Akashi ucapkan.

Sudah 3 jam ditempat ini, memang seru tapi Akashi sudah bosan dan malas berlama-lama.

"Tetsuya, ayo"

"Kita mau kemana lagi, Akashi-sama?"

"Jalan-jalan"

Mereka berjalan berdampingan keluar ruang makan menuju lobby. Ada mobil hitam yang sudah menunggu kehadiran mereka.

Lagi-lagi Kuroko terheran-heran dengan majikan nya, kapan mobil ini disiapkan?

.

.

Perjalanan sekitar 30 menit dari Baccarat, kini mobil harus jalan pelan-pelan sebab banyak antrian didepan sana.

Kuroko sudah bisa melihat objek wisata kali ini, terlihat jelas karena sangat tinggi tanpa penghalang.

"Ini…."

"Ya, Tetsuya. Liberty Island"

Siapa yang tidak mengenal patung Liberty? Ciri khas utama New York City. Kuroko tak berhenti menganga melihat itu, memandang dengan jelas.

Mobil sudah berhenti di Battery Park, untuk mencapai Liberty Island harus naik kapal dan perjalanan sekitar 1 jam. Kuroko memasuki mode gembira dengan riang. Akashi senang dengan itu.

Akashi untung nya membeli tiket online sehingga tidak mengantri lagi.

Kapal yang ditumpangi sudah penuh dan siap berangkat. Akashi dan Kuroko tidak kebagian tempat diatas desk, mereka hanya bisa berada dibagian dalam.

Akashi dengan bangga bercerita panjang lebar mengenai sejarah patung Liberty, Kuroko pun dengan khidmat mendengarkan.

Tak terasa kapal sudah hinggap dipelabuhan khusus, para penumpang teratur turun.

"Wahhh.."

Langit yang cerah menambah nilai lebih, berkali-kali hingga tak dapat dihitung, Kuroko sangat kagum.

Akashi dan Kuroko berfoto disana, banyak foto yang mereka ambil dengan kamera dari ponsel canggih Akashi. Akashi senang sekali bisa melihat maid nya segembira ini, ini menjadi asupan tambahan untuknya.

Sayang sekali, untuk naik ke mahkota Liberty, tiket harus dipesan 3 bulan yang lalu, tapi karena perjalanan ini terbilang mendadak jadi tidak bisa. Mereka jadinya hanya berkeliling disekitaran patung saja.

Drrtt.. drttt..

Ponsel Akashi bergetar, sebuah panggilan masuk.

"Tetsuya, sebentar ya. JANGAN KEMANA-MANA!"

Kalimat itu wajib ditekan kan, Akashi tidak ingin mengalami hal yang sama seperti di Disney World.

"Ha'i Akashi-sama"

Akashi berjalan menjauh beberapa langkah, tapi mata nya tetap tertuju pada Kuroko.

Panggilan masuk diangkat.

"Kapan kau pulang? Urusan mu udah selesai kan?"

"Ya"

"Jangan perpanjang perjalanan! Pulang dan temui aku. Ada yang harus dibicarakan"

Tutt.. Tutt..

Akashi kesal. Sungguh. Panggilan diputus sepihak dengan percakapan yang to the point. Bukan berarti Akashi juga basa basi tapi tadi ia diperintah begitu, itu yang tidak disukai.

Akashi menyimpan ponsel nya, kemudian berjalan kembali ke Kuroko yang masih sibuk mengamati hal sekitar.

"Tetsuya, maaf"

"Eh?"

"Malam ini kita pulang"

Tiket penerbangan memang disediakan dan visa hanya untuk 3 hari, sesuai kebutuhan pertemuan. Akashi sudah berniat membeli tiket baru untuk memperpanjang perjalanan disini, untuk membuat lebih banyak moment dengan maidnya, untuk menambah album kenangan yang indah. Tapi dia tidak punya alasan menolak panggilan tadi.

"Eh? Baiklah kalau begitu"

Kuroko tidak marah, dia sudah sangat bersyukur bisa sampai disini.

Akashi memeluk Kuroko, tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Dirinya merasa bersalah, dirinya merasa belum puas melihat Kuroko yang gembira. Ingin lebih, ingin lagi.

"A-Akashi-sama?"

"Maaf.. lain kali kita kesini lagi ya, menghabiskan waktu lebih banyak lagi" ucap Akashi lirih.

Kuroko tidak tahu harus bagaimana, ia tersentuh. Kuroko hanya maid, bisa dapat jalan-jalan sejauh ini sudah keajaiban sekali, tapi majikan nya malah minta maaf.

"Tidak apa-apa Akashi-sama. Saya sudah sangat berterimakasih"

Dalam hati, Akashi berjanji akan membawa Kuroko kemana pun lagi, keliling dunia bila perlu. Akashi ingin selalu melihat wajah gembira nya Kuroko, wajah itu sanggup mengangkat beban apapun dalam diri Akashi. Akashi baru menyadari, maid nya ini lebih dari kata berharga.

.

.

Setelah makan malam, Akashi dan Kuroko mulai mempacking barang. Kuroko merasa janggal, sejak pulang dari jalan-jalan, Akashi jadi sedikit berbicara. Juga tidak menatap nya atau menggoda nya. bukan berarti Kuroko berharap di grepe-grepe, tapi rasanya sedikit aneh.

"Kita berangkat jam berapa, Akashi-sama?"

"11"

Hanya itu jawaban Akashi. Kuroko merasa tidak enak dengan situasi begini, padahal mau pulang harusnya kan bahagia gitu. Kuroko jadi teringat, Akashi berubah setelah mendapat telepon. Kuroko tidak berani bertanya siapa yang menelepon.

"Ayo"

Akashi berjalan duluan menarik koper dan tas jinjing nya. Kuroko tidak membawa apa-apa, ia memeriksa sekali lagi ruangan itu. mengingat jelas moment panas antara dirinya dengan sang majikan. Kuroko tersenyum, hal itu indah.

.

Kembali pada bandara yang sama, John F. Kennedy. Akashi masih tidak berbicara apapun pada Kuroko, mereka memang berjalan bersisian, tapi tidak ada yang berani membuka suara. Kuroko bisa merasakan aura Akashi yang berubah, aura nya terasa lebih pekat.

.

Duduk dalam pesawat Class VIP lagi, Kuroko jadi teringat pertama kali ia naik pesawat, jadi teringat cara penenang yang Akashi ajarkan. Sayangnya, kali ini mungkin tidak begitu.

Kuroko memang sudah tidak takut naik pesawat, tapi moment sekarang benar-benar tidak nyaman.

"Akashi-sama, baik-baik saja?"

"Ya"

Kuroko tidak suka dicuekin, niat nya baik untuk bertanya agar tidak canggung.

"Akashi-sama kenapa? Aneh sekali"

Akashi menoleh menatap Kuroko yang menatap nya dengan alis ditekuk. Akashi tidak ingin Kuroko merasa khawatir, padahal tingkah nya yang begini justru membuat semakin khawatir.

"Ada yang bisa saya bantu, Akashi-sama?"

Akashi tersenyum kecut. Dia senang maid nya peduli, karena memang begitu harusnya tugas seorang maid.

Pembatas kursi di naikkan, Akashi menempatkan kepala nya pada paha Kuroko.

"Ada, Tetsuya bisa bantu?"

"A-apa itu?"

Pikiran Kuroko tentu mengarah pada hal begituan yang biasa diminta oleh majikan nya ini. Ia sudah bersiap-siap untuk permintaan yang pasti sangat aneh seputar sex.

"Ceritakan kisah Cinderella"

"Eh?"

"Aku menyuruh Tetsuya menyimpan cerita itu kan saat Tetsuya mau bercerita kemarin?"

"Iya, tapi kenapa?"

"Tidak apa-apa. Cerita saja"

"Baiklah"

Kuroko merasa aneh. Apa majikan nya berubah alim? Sepertinya dunia hampir terbalik. Tapi, Kuroko merasakan ada beban yang sedang Akashi pikul. Begitu berat hingga hampir menimpa Akashi secara keseluruhan.

Kuroko menarik nafas sebelum mulai bercerita.

"Seorang gadis yang diasuh oleh ibu tirinya, suatu hari ia ingin ke pesta kerajaan. Sang pangeran mengadakan acara untuk memilih pemainsuri. Cinderella tidak diizinkan ikut, ia dikurung dalam gudang. Ibu tirinya jahat sekali ya?"

Akashi mengangguk-angguk. Kuroko pun melanjutkan

"Tapi karena Cinderella adalah gadis yang baik hati, seorang peri datang menolongnya. Baju Cinderella yang kusam diubah menjadi gaun indah, sebuah labu menjadi kereta kencana yang mewah, dan tak lupa sepatu kaca yang menghiasi kaki nya. Cinderella jadi sangat cantik"

"Seperti Tetsuya"

"Saya tidak cantik!"

Kuroko masih jenis kelamin laki-laki, sebutan cantik tentu bukan untuk yang berbatang kan? akashi terkekeh kecil.

"Lanjut, Tetsuya"

"Ha'i, Ia pun pergi ke pesta, tapi batas waktu wajib sampai jam 12 malam. Di pesta, pangeran langsung mengajaknya berdansa. Hampir jam 12 malam, Cinderella buru-buru meninggalkan pesta sampai sepatu kaca nya tertinggal sebelah. Kemudian pangeran yang telah jatuh cinta dengan Cinderella mencari nya dengan sepatu kaca itu. meski kesusahan, mereka akhirnya bertemu kembali dan hidup bahagia. Begitu cerita nya"

Akashi tidak merespon, Kuroko memandang nya. ternyata majikan nya itu sudah tidur, nafas nya terlihat beraturan dan damai. Entah kenapa Kuroko merasa hatinya begitu hangat.

"Akashi-sama?"

Tidak ada sahutan. Akashi tidur sangat nyenyak. Kuroko ingin tahu apa masalah Akashi, apa yang membuat Akashi tampak jinak malam ini. Tapi Kuroko sadar diri tidak boleh terlalu jauh masuk dalam masalah Akashi, ia hanya berharap majikan nya sehat selalu.

Tangan pucat mulai mengelus surai merah yang tidak ditata rapi, surai ini ciri khas seorang Akashi. Kuroko tersenyum. Senyuman yang tulus. Wajah majikan nya dipandang lama-lama. Memang sangat tampan.

"Terimakasih Akashi-sama"

Kuroko bahkan tidak bisa memikirkan apa yang bisa ia beri untuk membalas budi majikan nya. walau memang Akashi orang kaya raya, budi jasa adalah tak ternilai.

Mata nya melirik pada jendela yang menampilkan pemandangan langit malam. Pesawat sudah lepas landas sejak tadi. Akashi dan Kuroko menghabiskan waktu yang menyenangkan di Amerika, tidak terfikir oleh Kuroko menjelajah sejauh ini, tapi justru ini moment berharga nya dalam hidup.

Kuroko berharap suatu hari bisa berkunjung lagi ke negeri Paman Sam, dan semoga itu masih dengan orang yang sama.

"Goodbye NewYork!"

.

.

.

TBC

.

.

.

Terimakasih banget buat yang sudah baca, buat sudah fav, follow, review!

BIG THANKS buat Vanilla Parfait, Izumi-H, Kaluki Lukari, Shirayukeii, Young180100, AkaKuro-nanodayo, Liuruna, Jung HaRa, Divanabila1717, valvalnoctis, Nyanko Kawaii, asuka. souryou, Windy, cbx yang sudah meluangkan waktu untuk memberi review di chap sebelumnya.

A/N : buat Shirayukeii , maaffffff tidak akan ada adegan MayuAka lagi huhu maaf ya tapi semoga masih mau menikmati ff ini ^^ ~ buat Windy , wahana yang saya pakai bukan karangan sendiri, memang ada sesuai info yang saya dapat dan cari tapi mungkin saya kurang bisa menjelaskan detail wahana nya bagaimana sehingga jadi aneh ya, maklum lah saya juga belum pernah kesana hehe lalu moment di tiap wahana juga sangat pendek, saya milih Disney karena mungkin lebih terkenal dan ada ciri khas terus saya incar moment CocaCola Ferriswheel nya terus nah kayak kisah cinderella nya kan terpakai lagi untuk chap ini hehe iya sih harusnya Coney aja kan biar tetap di NY, tapi.. ah yasudahlah sudah terlanjur huhu saya sudah mencoba yang terbaik untuk tiap info yang tertera, mohon maaf untuk kesalahan sini situ, semoga ff ini masih bisa dinikmati ^^~

Saya juga lupa kasih tau kenapa saya milih Nemo dan Dori. karena kalau milih kayak Mickey dan Minnie atau Donald dan Dessy, itu kan jelas kali yang satu cowok yang satu cewek, Kuroko mana mungkin terang-terangan ngatain diri sendiri cewek wkwk, jadi kalau wujud nya ikan kan gak gitu nampak walau memang Dori cewek. gitu sih hehehe

Saya mohon maaf banget karena lupa mencantumkan hak pakai untuk semua tempat yang nyata beserta item didalamnya.

Semoga ff ini masih nyaman dinikmati :)

.

Ngomong-ngomong, ada yang nunggu BDSM? hahaha.. see you next chap! RnR,please?

.

TERIMAKASIH~