WARN! HARDYAOI, ADULTCONTENT!
DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
TITLE : MY MAID
AUTHOR : HIMEVAILLE
PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA
GENRE : HURT/COMFORT, ROMANCE
RATE : M
.
HAPPY READING… ENJOY!
.
"Tetsuya, bangun. Kita sudah sampai"
Pesawat baru saja mendarat di bandara Haneda pada jam 12 malam. Kuroko masih tertidur di sandaran pundak Akashi. Akashi sedari tadi menepuk pelan pipi Kuroko untuk membangunkan nya.
"Nghh…"
"Jangan melenguh begitu, aku bisa menyerang mu saat ini juga"
Seketika itu Kuroko langsung menegakkan kepala nya, bangun dan 100% sadar.
Kuroko melirik kanan kiri, sudah kosong melompong tersisa mereka.
"Maaf, Akashi-sama"
"Tidak apa-apa, aku tahu Tetsuya pasti kelelahan. Ayo"
Akashi memakai mantel nya, begitu pula dengan Kuroko. setelah itu mereka bergegas turun dari pesawat.
.
Ditempat pengambilan koper, koper Akashi sudah dibawa oleh supir yang datang menjemput mereka. Akashi dan Kuroko langsung saja meninggalkan bandara.
Didalam mobil Lagi-lagi Akashi masih tidak seperti biasanya. dia tetap murung, kurang jahil dan itu membuat Kuroko risih.
"Tetsuya jika masih mengantuk, tidur saja"
Kuroko tahu Akashi sangat peka dengan situasi, tapi Akashi menolak untuk melebur dengan situasi. Dirinya sedang asik dengan pikiran nya sendiri.
Walaupun jalanan tampak gelap dengan penerangan lampu jalanan, setidaknya Kuroko bisa mengenali rute yang seharusnya dilalui untuk ke Kyoto. Mata nya fokus melihat pada petunjuk jalanan, tidak ada pamphlet dengan arah panah menuju Kyoto.
"Akashi-sama, apa kita tidak salah jalan?"
"Tentu tidak"
"Apa Kyoto sudah pindah rute ya?"
Akashi tidak langsung menjawab, ia lebih memilih menikmati dulu wajah Kuroko yang penasaran. Tampak imut sekali ditambah bed hair yang masih mencuat.
"Kita tidak akan ke Kyoto, kita ke Osaka"
"Eh? Osaka? Kenapa? Apa Akashi-sama ada urusan lagi?"
"Ya, kali ini sangat penting dan paling menyebalkan"
Entah mungkin hawa dari AC mobil, tapi Kuroko merasakan hawa dingin itu datang dari sisi nya, alias muncul dalam diri Akashi. Tatapan Akashi berubah menjadi lebih menakutkan.
Kuroko memilih untuk diam saja. Otak Kuroko mengingat Akashi pernah bilang bahwa orang tua nya tinggal di Osaka.
'Apa kesana? Tapi..' batin nya.
Tidak baik sok tahu, Kuroko hanya berusaha menjadi maid yang baik dengan tidak mencampuri urusan pribadi Akashi.
Kring.. Kring..
Bukan ponsel Akashi maupun Kuroko, mereka lantas menoleh pada supir yang sedang mengangkat panggilan masuk pada ponsel nya.
"Iya, tuan. Saya sudah bersama tuan muda tapi tuan muda tidak sendirian, bersama seseorang"
Akashi memicing tak suka, sampai segitu kah orang tersebut takut Akashi tidak akan datang kesana?
"Baik, tuan"
Supir itu memasukkan kembali ponsel nya, ia kemudian melirik Akashi dan Kuroko dari spion tengah.
"Maaf menganggu sebentar barusan"
Kuroko menjawab dengan senyuman dan anggukan, sementara Akashi tidak melakukan apapun.
Kuroko semakin yakin kemana tujuan mereka saat ini.
.
.
Pukul 8 pagi, mereka sampai di sebuah mansion super luas dengan gaya klasik eropa kuno. Rumah ini berdiri satu-satu nya tanpa rumah lain disekitar nya.
Kuroko sampai tidak yakin bahwa dia ada di Jepang. Tanah di Jepang mahal, rumah ini berdiri entah di berapa hektar tanah. Benar-benar orang kaya.
"Selamat datang Tuan Muda"
Kepala Pelayan datang menyambut didepan pintu masuk. Ia membantu Akashi melepas mantel dan membawakan barang-barang bawaan nya.
"Seijuurou"
"Okaa-sama, tadaima"
Seorang wanita berambut panjang berwarna sama dengan Akashi datang menghampiri. Akashi memberi hormat serta memeluk wanita tersebut.
"Seijuurou, ini siapa?"
"Dia maid ku"
Wanita itu tersenyum kearah Kuroko dan datang menghampiri Kuroko yang berdiri dibelakang Akashi.
"Selamat pagi, nyonya. Kuroko Tetsuya desu"
"Kuroko-kun kah? Kamu benar-benar maid? Jarang sekali ada pemuda yang mau jadi maid"
"Iya, saya hanya maid"
"Tapi kamu sangat tampan"
Kuroko membungkuk sedalam-dalam nya, ini harus sangat dihargai karena seumur hidup nya tidak akan ada yang mengatakan dia tampan. Semua orang selalu mengatakan dirinya cantik atau manis atau apa saja sebutan yang biasanya untuk anak perempuan.
"Tetsuya, ini ibu ku"
"Ibu anda sangat mirip dengan anda, Akashi-sama"
"Eh? Benarkah itu Kuroko-kun? Sudah lama tidak mendengar begitu. Namaku Shiori, Akashi Shiori" senyum ramah di perlihatkan dengan baik
Kuroko lagi-lagi membungkuk, sopan santun wajib terlihat dijunjung tinggi dihadapan nyonya besar. Meskipun Kuroko sebenarnya sangat gugup karena tiba-tiba diajak kemari.
"Tumben kau penurut. Langsung datang setelah ku telepon"
Mereka semua menoleh pada pintu masuk yang terbuka lebih lebar. Seorang lelaki paruh baya muncul memakai pakaian tradisional Jepang, rambut nya sudah beruban tetapi postur tubuh masih tegap.
Kuroko jadi binggung, rumah gaya Eropa tapi tradisi kental Jepang. Tapi lebih dari itu, Kuroko merasakan hawa yang muncul sangat tidak enak, tatapan Akashi dan orang itu saling beradu dingin.
"Bukan kah kau seharusnya senang aku jadi penurut?"
Bahkan suara Akashi lebih berat dari biasanya.
"Kau pembangkang pun aku tetap bisa menjinakkan mu"
"Tch.."
"Hei sudah-sudah. Kalian ini, lama tidak bertemu bukan nya ramah malah adu mulut. Lebih baik sekarang kita sarapan saja"
Akashi menghembus nafas kasar dan berlalu begitu saja memasuki rumah tanpa menyapa atau melirik barang sedikit saja.
Shiori hanya geleng-geleng kepala, anak nya semakin dewasa semakin mengerikan. Percis bapaknya.
"Ayo, Kuroko-kun. Oh iya, ini ayah nya Seijuurou. Akashi Masaomi"
"Selamat pagi, tuan besar"
"Kau datang bersama nya pagi ini, apa kau ikut ke New York?"
"Ya, tuan"
"Wah maid beruntung"
Kuroko tahu dirinya mulai takut, walaupun kata-kata yang biasa ditambah pujian tapi nada pengucapan nya tidak menunjukkankeramahan sedikit pun. Sarkastik sekali dan tegas.
.
.
Di ruang makan, sangat tercengkam suasana nya. Kuroko ragu harus bagaimana. Meja makan sangat panjang dengan Masaomi berada di ujung utara dan Akashi di ujung selatan.
"Tetsuya, kemari"
Akashi meminta Kuroko untuk duduk di dekat nya.
"Bukankah maid makan setelah tuan nya selesai dulu?"
Suara Masaomi dari ujung sana menghentikan gerakan Kuroko yang baru menarik kursi untuk duduk. Kuroko malu mendengar nya, ia membuat kesalahan. Biasanya dirumah Akashi, mereka sarapan bersama. Kuroko jadi tidak tahu peraturan benarnya begitu.
"Dia bukan maid disini"
"Oh begitu? Bertahun-tahun tidak tinggal dengan ku sepertinya sopan santun mu harus direka ulang"
Akashi sudah sangat tidak senang, rahang nya mengeras.
"Hei… sudah lah Masaomi, Seijuurou benar. Kuroko tamu saat ini"
"Aku tidak punya tamu rendahan seorang maid"
BRAK! Meja digebrak kasar oleh Akashi.
Kuroko terkejut bukan main, Kuroko takut melihat Akashi marah.
"Lihat! Sopan santun mu benar-benar tidak ada lagi"
"Jangan salahkan aku jika aku berubah liar, Tou-sama. Kau selalu memancing emosi ku"
"Ho-oh kau emosi? Kenapa kau emosi aku mengatakan nya maid? Itu kan benar. Aku hanya mengajari nya cara menjadi maid yang tahu diri"
Masaomi tidak bodoh, ia sungguh paham kenapa Kuroko bisa diajak ke New York untuk status nya yang hanya maid. Akashi itu anaknya, benih nya. jelas saja Masaomi tau karakter diri Akashi yang tidak akan berbagi hal privasi dengan orang lain. Sudah jelas, posisi Kuroko sebagai maid tidak lagi sama.
Akashi terdiam, ia baru sadar kenapa dia emosi? Dia hanya tidak suka ada yang menjelekkan Kuroko. sebagai majikan yang baik, tentu tidak terima jika maid nya dikatai kan? apa Akashi berlebihan? Menurut nya sama sekali tidak.
"BISA KITA LANJUTKAN SARAPAN INI?"
Akhirnya suara emas milik Shiori berkumandang indah. Akashi duduk secara kasar dan tak senang hati.
"Saya permisi"
Kuroko membungkuk ke setiap orang disana kemudian berlalu kearah dapur dan bergabung dengan para maid lainnya.
Kuroko sebenarnya tidak merasa apa-apa, dia kan memang maid. Kuroko sadar Akashi terlalu memanjakan nya. apa yang ayah Akashi katakan adalah benar.
Ruang makan hanya dipenuhi dentingan garpu dan sendok, tidak ada suara manusia. Kunyahan terasa sangat lembut tanpa getaran gigi.
Sedikit-sedikit Kuroko melirik Akashi, wajah majikan nya sangat suram. Entah kenapa, melihat Akashi yang ceria walaupun mesum mungkin lebih menyenangkan bagi Kuroko.
.
.
"Akashi-sama baik-baik saja?"
"Ya, Tetsuya"
Akashi dan Kuroko sedang berada di kamar Akashi, ternyata kamar ini lebih luas daripada kamar Akashi yang ada dirumah. Tapi Kuroko lebih suka kamar yang dirumah Akashi, kamar disini memang mewah tapi corak kuno nya sangat kentara.
Dinding nya berwarna coklat, pahatan kuno berupa kepala kuda dan banteng juga menempel. Ranjang tidur di sanggah oleh kayu jati asli dengan kasur yang tidak terlalu empuk di atasnya.
"Tetsuya jangan ingat apa yang ayah ku katakan"
"Tidak apa, Akashi-sama. Saya sadar itu benar, maaf jika selama ini saya kurang sopan santun"
"Jangan berkata begitu!"
Kuroko sedikit kaget, Akashi menaikkan nada suara nya dan menatap nya tajam.
"Aku yang selalu meminta mu ini itu, kau cukup sopan. Itu saja"
Kuroko tahu itu. ia tersenyum getir, salahkah jika perasaan Kuroko semakin berbeda? Akashi yang membuat nya bgeini. Sejak pertama kerja, Akashi seenak jidat memonopoli Kuroko, lalu memanjakan posisi nya dan memberi hal romantis lainnya.
"Akashi-sama kenapa anda sangat perhatian kepada saya?"
Itu tidak Kuroko pikirkan untuk terucap, tidak direncanakan untuk diucapkan. Tiba-tiba saja begitu, mengikuti perasaan nya.
"Karena Tetsuya maid ku"
Tidak ada jawaban lain selain itu, saat ini Akashi sedang tidak mood menambah beban suasana. Namun, wajah Kuroko sedikit berubah muram mendengar jawaban tersebut.
Tok Tok Tok
Pintu terketuk, Kuroko sudah bersiap untuk membuka kan pintu tetapi Akashi duluan mendahului nya.
"Tuan, anda diminta untuk memakai pakaian ini dan menemui Tuan Besar di ruang tamu. Permisi"
Kepala Pelayan menyerahkan sebuah pakaian tradisional Jepang berwarna putih dengan corak polkadot merah dibagian kaki dan lengan. Akashi hanya menerima dan langsung menutup pintunya.
"Tetsuya, bantu aku memakai ini"
Akashi tidak sering memakai pakaian begini, merepokan sekali untuk mengikat tali nya ke belakang.
Akashi berdiri didepan cermin besar dan panjang dengan Kuroko yang berada dibelakang nya sudah bersiap memakai kan baju tadi.
Kuroko tidak berani menatap Akashi yang sudah bertelanjang dada.
"Jika kau tidak melihat ku, bagaimana bisa kau memakaikan baju itu?"
"Maaf, Akashi-sama"
Kuroko mengalihkan pandangan nya menatap Akashi dari dalam cermin. Pandangan mereka bertemu.
Sebenarnya Akashi ingin menyentuh Kuroko sekarang, tapi mood nya sedang tidak bagus untuk berbagi kasih sayang.
"Akashi-sama, sebenarnya kenapa kita tiba-tiba kesini?"
Sudah sejak dibandara Kuroko ingin bertanya mengenai hal ini tapi ditahan karena mood Akashi terlihat tidak baik, barulah sekarang ia berani untuk menanyakan nya.
"Ayah ku menelepon dan menyuruh. Aku tidak menolak karena katanya sangat penting"
"Oh, begitu ya"
Pakaian itu terpakai dan ternyata sangat pas ditubuh Akashi. Penampilan Akashi tampak sangat menawan dibanding biasanya, mungkin karena baru kali ini Kuroko melihat Akashi memakai baju begini.
.
Tak selang berapa lama, Akashi dan Kuroko sudah berada di akses masuk ruang tamu. Disana ayah dan ibu Akashi beserta orang asing sudah menunggu, seperti nya tamu.
"Ah, itu anak ku" kata Masaomi
Tamu tersebut berdiri, seorang bapak dan anak perempuan nya. yang bapak sudah terlihat tua, mungkin seumuran ayah Akashi. Kemudian perempuan rambut pendek sebahu dan poni yang di buat kesamping, Kimono berwarna pink membalut tubuh mungil perempuan itu. Manis sekali.
"Seijuurou, mereka dari keluarga Aida"
Akashi melihat beberapa bingkisan yang ditata di meja, bingkisan yang tampak formal dan tradisional. Tidak asing bagi Akashi, ini acara lamaran. Sejak dulu sudah banyak yang rela menjatuhkan harga diri demi melamar dirinya, sudah Akashi duga ada sesuatu sampai ayah nya repot menelepon.
Bagaimana pun juga, Akashi tetap harus menjaga tata krama yang baik. Ia berjalan dengan elegan untuk menyapa sang tamu.
"Aku keluar dulu ya, silakan berbincang" Shiori memberi kode pada Kuroko untuk mengikutinya.
Kuroko juga tahu makna bingkisan yang repot-repot dibawa, majikan nya dilamar dan sepertinya akan segera menikah. Kuroko rasa memang sudah saatnya, Kuroko jadi ingat Akashi pernah berkata sudah memiliki orang yang disukai nya pada saat di kantor Akashi tempo lalu.
'Mungkin gadis ini ya. Cocok kok'
Kuroko tersenyum lembut, ia pun membungkuk sebelum menyusul Shiori.
Akashi sempat melirik Kuroko, ia sudah yakin Kuroko salah paham.
.
"Nyonya ada keperluan dengan saya?"
"Ah sebenarnya tidak ada, mungkin sedikit berbincang?"
"Bukankah seharusnya nyonya menemani acara lamaran didalam?"
"Tidak, aku tidak mau melihat wajah anak ku yang dipaksa senyum begitu"
Shiori mengajak Kuroko berkeliling halaman rumah. Ada beberapa tanaman hias yang dirawat rapi, kolam ikan koi juga terdapat disana.
"Maksudnya senyum paksa apa?"
"Seijuurou tidak suka acara lamaran begitu. Ini sudah yang ke sekian kali nya, aku sudah bilang pada Masaomi untuk tidak mengikut campur urusan Seijuurou, dia kan sudah dewasa"
Shiori menghampiri tanaman mawar yang mekar dengan warna merah yang indah, hanya dipandang tidak disentuh takut terkena duri.
"Ayah nya selalu memaksa kan Seijuurou, itu sebabnya ia tidak mau lagi tinggal disini"
Jadi perasaan tidak enak yang Kuroko rasakan tentang Akashi dan Masaomi adalah ini. Kuroko hanya angguk-angguk saja.
"Tapi aku bangga dengan Seijuurou karena berhasil membuktikan pada ayahnya bahwa ia bisa sukses"
Shiori tersenyum, mawar merah itu mengingatkan nya pada sosok suami dan anak nya yang sangat ia cintai. Karakter mereka hampir sama, tapi keduanya tak lagi akur.
"Apa Seijuurou berlaku kasar pada Kuroko-kun? Apa dia merepotkan?"
"Tidak, nyonya. Akashi-sama sangat baik padaku"
"Syukurlah jika begitu, dia itu tidak bisa tinggal dengan siapapun. Sikap nya terlalu otoriter dan dia terlalu terbiasa sendirian, aku sampai terkejut saat tau dia punya maid yang tinggal bersama. Kuroko-kun pasti dianggap special"
"Eh?"
"Aku lega, dia menemukan orang yang bisa diajak berbagi seperti Kuroko-kun. Tolong jaga dia ya"
Dalam hati, Kuroko menghangat. Kuroko yang harus merasa lega karena bisa bertemu majikan seperti Akashi. Kuroko pasti menjaga Akashi, ia maid yang tahu balas budi.
"Tentu, nyonya"
Kuroko bisa tersenyum tulus. Sudah sekian lama, Kuroko tidak mengobrol dengan seseorang yang merupakan figure ibu. Ia jadi merindukan ibu nya.
.
Sementara itu diruang tamu, Akashi tidaktertarik dengan obrolan apapun yang dibicarakan. Wajah nya tak segan menunjukkan ketidak ketertarikan.
"Masaomi, aku baru tahu putra mu sedikit pendiam"
Masaomi tertawa garing, ini sindiran halus yang pas disuasana pas pula di hati.
"Dia baru kembali dari New York, mungkin dia masih lelah"
Tidak pernah rela untuk membela anak nya, ini hanya demi menjaga image dirinya saja.
Gadis yang setelah tadi berkenalan diketahui bernama Aida Riko hanya bisa terdiam dan sungkan berbicara, ia bergerak risih dan canggung. Pasalnya, Aida Riko tidak sefeminim yang saat ini kelihatan, ia hanya mencoba formal saja.
Pertemuan itu terasa hampa, jika saja tidak tiba-tiba ada yang berbicara lagi.
"Jadi kapan tanggal pernikahan mereka?"
Sontak mata Akashi memandang tajam pada bibir ayah nya yang minta robek. Apa-apaan tadi? Ho-oh ternyata ayah nya sudah lama merencanakan ini.
"Ku serahkan pada anak-anak kita saja kapan mereka siap"
"Seijuurou siap kapan saja"
"Tidak"
Suara rendah Akashi terdengar mencengkam memotong laju percakapan, aura hitam menguar begitu saja dari sekitarnya.
Akashi berdiri dari duduk nya dan membungkuk dalam.
"Maaf, saya tidak menerima lamaran ataupun perjodohan ini. saya sudah punya orang yang saya sukai. Tolong, lain kali jangan membuat pertemuan sia-sia begini lagi"
Setelah berkata demikian, Akashi keluar dari ruangan begitu saja. Para tamu menatap tak percaya, sedangkan Masaomi berang. Wajahnya merah padam menahan emosi.
"Maafkan mulut nya, dia hanya bercanda"
"Ha ha ha iya aku mengerti"
"Ah silakan di minum teh nya"
"Iya iya"
.
.
BRAKK!
"Anak tidak tahu diuntung, kau kira dimana muka ku bisa diletak lagi, hah?"
"Apa maksudnya acara tadi itu?"
"Sudah jelas maksudnya. Aku menjodohkan mu dengan Aida Riko"
"Berapa kali kau akan melakukan ini, tua bangka?"
PLAK! Satu tamparan mendarat indah pada pipi Akashi.
Saat ini Akashi dan Masaomi berada di ruangan pribadi Masaomi. Tamu sudah pulang setelah jamuan makan malam bersama.
"JAGA UCAPAN MU!"
"Kau kira aku peduli? Salah mu yang sudah melakukan acaran sialan seperti itu. sudah ku katakan sejak dulu, aku tidak akan menerima lamaran atau perjodohan apapun!"
Akashi juga geram, tangan nya dikepal kuat.
"KAU…."
Masaomi siap menghantam tinju nya pada Akashi namun tiba-tiba Shiori dan Kuroko menerobos masuk setelah mendengar pembicaraan yang mengandung teriak sana sini.
"Hentikan, Masaomi!"
"Jangan ikut campur, Shiori. Anak ini sudah tidak punya aturan!"
Saling adu ketajaman mata antara ayah dan anak, Akashi muak dengan ayah nya yang sok ikut campur. Akashi bukan anak kecil lagi, ia bisa mengurus dirinya sendiri. Apalagi masalah selera pasangan, Akashi sendiri yang mengerti seperti apa yang ia inginkan.
Shiori kewalahan menahan badan Masaomi yang terus maju ke depan untuk memojokkan Akashi.
"Pergi, Seijuurou. Cepat pergi dari sini"
Shiori rasa itu lebih baik daripada melihat mereka bertarung. Siapa yang harus dibela atau disalahkan? Shiori juga binggung. Akashi sudah dewasa dan bisa memilih sendiri, Masaomi hanya mencoba memberi perhatian untuk putra nya, perhatian yang dianggap pelajaran yang benar.
"Tch, aku tidak akan kembali kerumah ini lagi. Tidak pernah! Aku tidak mengharap apa-apa dari kalian, tidak perlu apa-apa lagi"
Akashi menarik tangan Kuroko lalu berlari keluar ruangan serta keluar rumah.
"LEPASKAN AKU SHIORI!"
"Masaomi! Cukup!"
"Arggghh.."
.
Cengkraman tangan Akashi pada pergelangan tangan Kuroko sangat kuat, Kuroko meringis kesakitan tapi Akashi tidak lagi peduli.
Akashi gelap mata, pikiran nya berkelabut. Selalu begini, setiap ia harus menentang ayahnya sendiri, ia akan merasa tidak enak. Namun di satu sisi, tidak ada keinginan sedikitpun untuk menuruti apa yang ayahnya inginkan.
"Akashi-sama, kita mau kemana?"
Kuroko sudah lelah berjalan cepat seperti ini. mereka sudah lumayan jauh dari rumah.
Akashi tidak merespon Kuroko, ia terus berjalan sampai melihat sebuah taksi yang melaju kearah mereka. Tangan satu nya lagi memberi tanda pada taksi untuk berhenti.
Pintu dibuka, Akashi mendorong Kuroko masuk kemudian dia juga masuk.
Entah tujuan kemana yang Akashi sebutkan, taksi sudah melaju berbalik arah.
Kuroko takut-takut untuk memandang majikan nya. semarah ini kah Akashi hanya gara-gara perjodohan? Kuroko tidak mengerti.
.
.
Taksi berhenti di sebuah bagunan mewah yang begitu besar. Kuroko bisa membaca sebuah tulisan Hotel disana dan disaping tulisan itu terdapat lima bintang.
Akashi menarik kembali tangan Kuroko untuk turun dan mengikutinya masuk kedalam hotel tersebut.
"Akashi-sama?"
Tidak disahut, Akashi fokus pada lantai keramik yang mengarah pada lift.
"Akashi-sama, kenapa kita disini?"
"Bisa kau diam?"
Deg! Kuroko melemas. Mata nya menatap tak sangka pada sosok didepan nya yang terasa sangat mengerikan.
'Apa ini benar Akashi-sama?'
Berbeda. Kuroko yakin ia merasa ini berbeda.
Pintu lift terbuka, mereka segera masuk. Akashi menekan tombol pada lantai terbawah. Hanya ada mereka berdua dalam lift itu, namun suasana sudah sangat menyesakkan.
.
Dengungan music sangat berat terdengar, ribut sekali.
"Akashi-sama sebenarnya ini dimana?"
Kuroko sampai harus sedikit meninggikan suara nya agar dapat sampai ke telinga Akashi. Sayangnya, Akashi tetap tidak menjawab.
Akashi mengiring Kuroko berjalan menuju bagian yang bertugas disana menyapa Akashi, tetapi hanya sesaat sebelum menyerahkan kunci dan melambai tangan.
Keluar dari ruangan bermusik tersebut, Akashi masih menarik tangan Kuroko untuk terus mengikutinya menelusuri lorong panjang dengan deretan pintu disetiap sisinya.
Pada pintu setelah belokan ujung, Akashi menggunakan kunci yang tadi diberikan untuk membuka pintu lalu masuk kedalam.
BLAM! Pintu dibanting untuk tertutup.
Kuroko hampir tidak percaya dengan apa saja yang mata nya lihat dalam ruang kamar ini. sejak kapan Jepang memiliki fasilitas begini? Hanya Kuroko yang tidak tahu.
Didalam ruang kamar, kasur untuk dua orang berada di pojokan sebelah pintu balkon. Sebuah sofa panjang ada di bagian setelah kasur. Bagian dinding banyak menempel kaitan-kaitan dan tertancap paku. Yang menarik perhatian adalah dua tiang hitam yang berada ditengah ruangan. kursi untuk satu orang juga banyak di sudut kamar. Tak lupa jejeran tali disana sini serta mainan-mainan yang tak asing lagi maupun yang masih asing bagi Kuroko.
"Ini.."
"Aku tahu ini dari rekan ku, saat meeting di Osaka tahun lalu. Tapi aku belum pernah bermain dengan semua mainan disini. Jadi, mari kita mainkan sekarang, Tetsuya"
Kuroko membulatkan matanya. Akashi menyeringai menyeramkan membuat Kuroko sangat takut.
Dengan sekali dorongan, Kuroko terlentang di lantai keramik putih.
"Awww.." ringis sakit Kuroko.
Akashi segera menindih tubuh Kuroko, duduk diatas perutnya.
"Tetsuya terlihat takut, kenapa?"
Apa yang harus Kuroko jawab? Bahkan tidak ada satu kata pun yang berani keluar dari mulutnya. Mata nya menatap tepat pada mata Akashi. Dua warna dimata itu tampak hidup dan bersinar. Kuroko menyakinkan diri ini masih majikan nya, orang yang sama. Tetapi selama ini Kuroko belum pernah merasakan wujud Akashi yang seperti ini.
"Tet~su~ya~"
Akashi merobek kaos oblong yang Kuroko kenakan.
"Tidak, tidak, jangan Akashi-sama"
"Heh? Kenapa? Kita kan sudah sering"
Memang benar, tetapi kali ini berbeda. Semua latar berbeda.
Kuroko mencoba mendorong tubuh Akashi agar bangkit dari tubuhnya. Sayangnya, tenanga nya tidak cukup kuat untuk melakukan itu.
"Tangan ini nakal ya!"
Semua seringaian mesum dan menakutkan tidak sedetikpun lepas dari wajah Akashi, sangat melekat dengan erat.
Akashi meraih tali yang ada di sekitar lantai.
"Karena nakal lebih baik diikat saja"
Tali itu dengan telaten dililit pada pergelangan tangan Kuroko dengan keras dan ditarik erat.
"Sakitttt.. hentikan.. Akashi-sama"
Tali tersebut seperti tali tambang. Permukaan nya bulat dan kasar. Kulit Kuroko yang lembut jelas tercela.
"Nah, tidak akan nakal lagi"
Ikatan tersebut selesai, Akashi melihat secara dekat ikatan yang dibuatnya. Kemudian jari-jari Kuroko diemut satu per satu oleh mulut Akashi.
"Akashi-sama!"
Akashi tidak peduli, dia senang menikmati jari-jari dingin yang melemas tidak bertenaga lagi.
Lalu Akashi menarik Kuroko untuk berganti posisi menjadi duduk, mereka berhadapan satu sama lain.
Akashi mengarahkan tangan Kuroko yang sudah terikat untuk melingkar pada lehernya, jadinya wajah mereka sangat dekat dan dengan mudah Akashi bisa melahap bibir ranum Kuroko.
"Hmmmpppp…"
Kuroko menolak gerakan lidah Akashi yang gesit mencari celah.
Bibir itu digigit kasar agar terbuka sehingga lidah Akashi boleh menjamah kedalam rongga mulut yang penuh rasa.
Ciuman diputus sepihak karena Akashi tidak suka Kuroko yang terus menolak nya.
"Apa mulut Tetsuya juga butuh hukuman?"
"Tidak, Akashi-sama. Tidak, tidak"
"Tidak adalah iya"
Tubuh Kuroko kembali dihempas ke lantai. Kuroko meringis menahan sakit, pedih sekali apalagi tubuhnya tidak lagi beralas apapun.
Akashi mencari-cari sesuatu pada keranjang tersedia didekat tiang tengah ruangan.
"Ini dia"
Bola merah yang berukuran sedang terletak pada bertengahan sebuah ikatan.
Kuroko merosot mundur selagi Akashi mendekat padanya sampai punggung nya sudah bertubruk pada dinding belakang.
"Sudah mundurnya?"
Akashi berjongkok menahan beban tubuh dengan sebelah lututnya.
"Apa itu, Akashi-sama?"
"Ini mainan baru, namanya ball gag"
Tidak basa basi lagi, ball gag berusaha dikaitkan pada mulut Kuroko. akashi sedikit kesusahan mengaitkan nya dengan benar karena kepala Kuroko yang terus bergerak.
"Tetsuya diamlah!"
"Tidakk tidakk"
Palak, Akashi dipancing untuk emosi lagi. Dagu Kuroko ditarik kasar dan dicengkram pada satu telapak tangan Akashi.
"Tetsuya membantah ya?!"
Kuroko terdiam, dia benar-benar takut pada sosok Akashi yang seperti ini.
"Tetsuya tahu aku tidak suka dibantah kan?"
Kuroko hanya mengangguk.
"Bagus"
Akashi senang dengan jawaban itu. bibir nya kembali melumat kasar bibir Kuroko, mengeksplor rongga mulut dan aroma yang bercampur aduk disana.
"ARggghhh—hhhmppp"
Tanpa aba-aba, Akashi mengigit kuat bibir Kuroko sehingga Kuroko berteriak dengan mulut terbuka dan ball gag dipaksa bertengger disana kemudian ikatan nya dikait dibelakang kepala.
"Hmmppp mmfff"
"Tetsuya bilang apa? Aku tidak mengerti"
Wajah Akashi sengaja dibuat kebinggungan, meledek apa maksud yang Kuroko bicarakan.
Kelakuan itu membuat Kuroko jadi tidak senang. Selama ini Akashi memang seenak jidat nya membuat permainan ini itu tetapi tidak pernah meledek. Kuroko paham Akashi sedang ingin bermain, tapi ini kelewatan menurutnya.
Kaki Kuroko yang masih bebas ditendang-tendang kan kearah depan.
Duagh! Tidak sengaja kaki itu malah menendang mata kaki Akashi
"Ouch! Tetsuya apa maksudnya tendangan itu, HAH?!"
"Hmppp fffhhmm.."
"Bicara apa kau, hah? Nakal sekali"
Akashi bangkit, ia kembali berjalan ke banyak nya tali disekitar tiang.
Sesuatu kembali diambil, tali panjang yang tebal, ujung tali sudah diikat dan menyisahkan helaian yang bersatu padu. Bukan tali seperti tadi, ini adalah cambuk.
Mata Kuroko membulat sempurna. Diliriknya pintu keluar yang tidak begitu jauh, niat sudah dibulatkan. Kuroko mencoba bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Tetsuya mau kemana?"
Tidak bisa, pintu dikunci. Kuroko mendobrak-dobrak, berharap siapa saja yang mendengar dari luar setidaknya mau sekedar membuka kan pintu.
"Mau pergi?"
PLOK! Satu cambukan mendarat pada betis Kuroko. Kuroko terjatuh bertopang pada pintu.
"Permainan baru dimulai. Tidak sopan kalau pergi sekarang"
Senyuman maut. Tidak, bukan. Seringai maut yang sangat mematikan.
Akashi menyeret Kuroko dengan satu tangan nya menuju ke tiang.
"Hmppppp fff…"
Kuroko memberontak, tetapi tidak berdaya.
Salah satu tiang terdapat pengait diatas nya. tangan Kuroko yang sudah terikat tali dikaitan disana. Posisinya Kuroko jadi berdiri mengantung.
Akashi mengambil tali lain, kaki Kuroko diikat mengarah kebelakang dengan tumpuan pada tiang.
"Hmppptttt"
Kepala terus digeleng-gelengkan tanda penolakan terhadap apa yang akan Akashi lakukan, tetapi Akashi tidak mau tahu soal itu.
Selesai terikat, Akashi menurunkan celana Kuroko sampai ujung mata kaki beserta dalamannya.
Junior Kuroko tidak bangun, justru enggan untuk bangun. Tapi itu yang membuat Akashi tertarik.
"Tetsuya jangan ditahan-tahan, nanti sakit loh"
Kata Akashi seduktif sambil menggoyang-goyangkan penis Kuroko.
Akashi menjilat bola penis Kuroko, membasahi dengan ludah nya.
"Hmmppp…"
Kuroko dipaksa terangsang. Kepala nya digadah ke atas, terlalu malu untuk melihat apa yang majikan nya perbuat.
Penis Kuroko dikulum habis tak bersisa. Didalam mulut Akashi, penis itu diobok-obok sana kemari dengan lidah yang bergerak lihai.
Akashi bisa merasakan proses bangun nya penis Kuroko dalam mulutnya, entah kenapa itu membuat Akashi sangat terangsang.
Penis itu dikeluarkan dan sudah tegang menegak.
"Sudah bangun ya?" disapa oleh satu ciuman dari bibir Akashi.
Akashi mencium perut Kuroko, memberi kiss mark disana. Lalu naik ke bagian nipel nya.
"Kurasa ini juga butuh perawatan"
Akashi mencubit-cubit gemas kedua nipel Kuroko. Kuroko tetap tidak mau melihat. Mata nya dipejam erat sebisa mungkin. Hati nya seolah hancur, ini kasar. Tidak nyaman untuk dinikmati. Kuroko yang rela ditusuk tiap saat tetapi bukan untuk perlakuan kasar begini.
Akashi membawa mainan lain lagi dari keranjang pusat.
Kuroko menatap pada barang asing itu lagi.
"Yang ini bernama penghisap puting"
Barang itu berupa dua cekungan mangkok. Akashi dengan cepat memasangkan pada masing-masing nipel Kuroko.
"HMMMppppp"
Sensai yang Kuroko rasakan benar-benar aneh. Nipel nya seolah-olah dihisap-hisap oleh cekungan itu, ditarik-tarik dan digoda oleh udara hangat didalam sana.
"Sepertinya enak ya?"
Kuroko menggeleng kuat. Aneh, ini rasa yang asing bagi Kuroko.
Kuroko merasa tidak enak, sungguh ia tidak tahan lagi untuk tidak menangis. Satu tetes airmata nya mengucur tanpa izin.
"Eh? Tetsuya menangis?"
Sama sekali tidak terdengar seperti nada peduli. Itu pengejekan. Kuroko binggung, ini siapa? Siapa orang ini? air mata semakin deras saat harus menanyakan pada diri sendiri, inikah majikan nya?
"Jangan menangis, Tetsuya"
Akashi menjilat tiap tetes yang ada, tak dibiarkan keluar lagi dari sumbernya, mata Kuroko pun dicium terus menerus.
Tangan Akashi dengan nakal meremas bokong Kuroko kuat. Kuroko menggelinjang naik karena terkejut.
Jari telunjuk Akashi membelai permukaan lubang di sela bokong yang menghimpit.
"Apa kabar lubang ini, Tetsuya?"
Akashi berjalan ke belakang Kuroko, berjongkok tepat di pantat Kuroko.
Pantat itu diremas dan dicium, digigit terus dijilat sampai basah keseluruhan nya.
Satu tangan Akashi melebarkan pantat Kuroko agar lubang kenikmatan dapat jelas dilihat. Akashi mengendus-endus lubang itu. nafas nya yang bertubrukan dengan kulit sensitive disana merangsang libido Kuroko.
"Hmmmmmmmpppp"
Lidah Akashi bermain disekitar lubang Kuroko sebelum menjilat tepat dilubang itu.
Kuroko kaget, lubang nya jadi sangat basah oleh liur Akashi.
"Hmmm ini enak, Tetsuya"
Dirtytalk yang seduktif membuat Kuroko merinding meriang.
Akashi mengelus-elus lubang Kuroko dengan jari telunjuknya.
"HMPPPPPP"
Jari itu menerobos masuk. Akashi memasukkan hingga batas jarinya habis didalam lubang tersebut.
Tidak tinggal diam, didalam sana jari telunjuk juga dibuat menari mengobrak-abrik bagian dalam lubang Kuroko mencari titik nikmat yang ada.
"HMMMMMppppppfttt"
Dengan reaksi Kuroko yang menegang, titik itu ternyata sudah ditemukan. Jari Akashi menekan-nekan pada titik tersebut. Kuroko tidak bisa berbohong tentang rasa yang disajikan.
"Sepertinya ini kurang"
Akashi mencabut jarinya. Ia menarik keranjang untuk berada disisi nya agar lebih mudah mengambil berbagai mainan.
Kuroko mencoba menoleh kebelakang, ditangan Akashi sudah ada vibrator berwarna hitam yang sangat panjang. Menurut Kuroko kira-kira itu 30 cm.
Akashi menyalakan tombol on pada ujung vibrator, vibrator itu jadi bergetar dan bergoyang-goyang lentur.
Akashi menempatkan vibrator itu pada leher Kuroko, sensasi getaran nya menggelitik geli. Kemudian turun pada dua cangkupan mangkok di nipel Kuroko. posisi Akashi masih di belakang Kuroko. tak cukup hanya itu, vibrator juga di ajak berdansa bersama dengan penis Kuroko. jelas sudah penis Kuroko kalah panjang dan besar.
"HMMMppppPPP"
Kembali pada fungsi utama vibrator, belahan pantat Kuroko sudah digesek-gesek sebagai pemanasan.
Tidak menunggu lama, pantat Kuroko kembali Akashi renggangkan dan lubang itu ditusuk langsung oleh vibrator panjang.
"HMMMPPPPFFTTTTTTTT…."
Kuroko melenguh panjang. ah, sakit. Tapi getaran nya langsung menuju sel saraf yang sensitive.
"Ho-oh, bagaimana rasanya Tetsuya?"
"HmpppppHmmMm"
"Kuanggap kau bilang 'ya, sangat enak'"
Akashi tertawa dalam seringaian nya, vibrator itu di paksa masuk semakin dalam dilubang Kuroko. Tubuh Kuroko bergerak sana sini menolak vibrator itu.
Sampai tidak dapat dipaksa masuk lagi, Akashi menaikkan level getar hingga akhir.
"Hmmmpp hmmmmpppp hmmmmff"
Liur Kuroko menetes sangat banyak, ia bahkan kesusahan bernafas sekarang.
Akashi dengan sangat berbaik hati menurunkan bola yang menyanggah mulut Kuroko, tetapi tidak dilepas ikatan nya, hanya diturunkan.
"Hahh.. hahh.. enggghh AHHHHHh"
Suara Kuroko mengalun indah, Akashi sangat suka mendengarnya.
"Ahhh Akashi-sama hentikann ini, tolong hentikan"
"Bukankah Tetsuya suka?"
"Tidak tidak tidak"
"Yakin?"
Tangan Akashi menggerakkan vibrator untuk keluar masuk dilubang Kuroko.
"Ah ah ah… ngghh he-hentikann.. aakkhhh.."
"Hmmmm Tetsuya, aku sangat terangsang melihat Tetsuya begini.."
Akashi menjilat daun telinga Kuroko, menyesap sedikit membuat Kuroko menahan geli.
Vibrator masih dibiarkan bergoyang gemulai didalam lubang, sementara Akashi melucuti pakaian nya sendiri. Penis nya sudah menegang sampai sempurna.
Akashi mencabut paksa vibrator. Penis nya tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk ikut merasakan lubang kenikmatan milik Kuroko.
"AHHHHHH…"
Kembali dihujam senjata, kali ini barang asli. Lubang Kuroko berdenyut menyesuaikan rasa.
"Ahh sial! Lubang Tetsuya sangat lembab, penis ku jadi terasa sangat hangat"
Akashi meracau dirtytalk lagi, pinggulnya sudah bergerak maju mundur menghantam lubang Kuroko.
"Ahhh ahhh Akashi-sama… nghh hmmm akkhh.."
"Oh fuck! Yeah! Tetsuya.. ah ah"
Akashi juga tidak tahu apa yang merangsang nya separah ini, saat ini ia hanya terlalu bersemangat diselimuti gairah.
"Akashi-sama… akuuuu.."
Penis Kuroko tidak dijamah apapun, dibiarkan mengantung dan bergoyang mengikuti irama yang Akashi ciptakan. Namun meski begitu, sensasi yang terasa begitu memabukkan. Penis Kuroko tanpa minta izin langsung menyembur lava hangat bercucur ke lantai.
"Tetsuya Tetsuyaa…"
Lubang Kuroko mengetat karena klimaks, Akashi bergerak semakin cepat. Matanya merem melek merasakan penis nya dihimpit dan dipijat-pijat nikmat.
"Ahhhhh Tetsuyaaa~"
Lubang Kuroko langsung dibanjiri sperma hangat yang baru keluar dari batang penis Akashi.
Akashi mencium tengkuk leher Kuroko sembari menetralkan nafasnya yang memburu.
Penis ditarik keluar, lelehan sperma menuruni paha Kuroko.
"Belum selesai, Tetsuya"
Kaitan pada pegait di tiang dilepas, badan Kuroko melemas jatuh ke lantai. Ikatan pada kaki ditiang juga dilepas. Digantikan dengan tali yang lebih panjang yang sudah Akashi ambil.
Tubuh Kuroko mulai dililit. Dari leher turun menyilang pada dada yang masih menempel dua cup penyisap, lalu menggulung pada perut. Akashi menarik Kuroko untuk berbaring menyamping. Kaki Kuroko ditarik ke belakang dan disambung ikatkan dengan tali tadi.
"Akashi-sama, tolong hentikan"
"Tidak, Tetsuya. Jangan memerintahku"
Ikatan diperkuat sampai tubuh ringkih Kuroko terlihat merah-merah.
"Tetsuya manis dengan pose begini"
Kuroko yang menyamping berbaring di lantai, tubuhnya penuh lilitan tali. Kaki dan tangan disatukan dibelakang badan. Entah dimana Akashi belajar teknik mengikat begini, ia sangat telaten serba bisa.
Putting Kuroko sudah sangat membengkak didalam cup tersebut. Akashi membuka salah satu cup untuk menyusu di puting bengkak itu.
"Ahhh.."
Rasanya lebih sensitive. Akashi bisa puas menyusu tanpa henti. Menjilat searah putaran jarum jam, menyesap seperti bayi.
"Kenapa anda jadi begini?"
Setelah keberanian berhasil dikumpulkan sepenuhnya, bibir yang bergetar menyuarakan maksud pikiran.
Akashi berhenti dari kegiatan minum susu tanpa susu, ia memandang wajah Kuroko yang memelas. Wajahnya sendu teduh dan suram.
"Bukankah karena Tetsuya adalah maid ku? Sudah jelas Tetsuya hanya menemani ku bermain"
Hati Kuroko perih, terasa seperti luka basah yang disiram cuka lalu ditaburi garam. Dipukul telak oleh status nya yang adalah seorang maid. Melayani majikan adalah tugas utama.
Akashi bangkit berdiri. Saat berbalik untuk melangkah, ia berhenti dan menundukkan kepala nya.
"Begini kan yang ayah ku beritahu tentang kesenjangan status majikan dan maid nya"
Lalu Akashi melangkah menjauh ke ujung kamar tempat sebuah meja dengan alat aneh juga ada.
Kuroko terdiam membisu menatap punggung Akashi. Majikan nya gelap mata dan hati, Kuroko mencoba merasakan perasaan gerumuh dalam diri Akashi.
Yang Kuroko tahu, Akashi terlihat sangat lemah sekarang. Mental nya dibanting habis oleh ayah nya sendiri.
Akashi sudah kembali dan berdiri angkuh menatap Kuroko yang masih setengah berbaring.
Kuroko tidak fokus pada apa yang Akashi bawa, pikiran nya lebih memikirkan perasaan satu sama lain. Namun itu harus buyar, saat sesuatu yang panas berjatuhan menyentuh kulitnya.
"Ahh awww.."
Kuroko melihat Akashi yang menyeringai menatap nya dari atas. Tangan Akashi memegang lilin merah yang sumbu nya sudah menyala. Tetes lilin yang mencair sengaja dijatuhkan pada tubuh Kuroko.
"Akashi-sama, perih!"
Akashi seperti tuli, itu tidak dapat dicerna. Tetes lilin terus memenuhi tubuh mulus Kuroko. kerak merah menempel sana sini penganti kiss mark.
"Ah aw aw aw"
Panas dan lengket, mengkerut dikulit membuat tak nyaman.
Akashi rasa cukup dengan seni nya, ia kemudian menarik tubuh Kuroko untuk berdiri lalu berjalan ke atas kasur.
Dicampakkan tubuh itu begitu saja, untungnya kasur sangat empuk.
"Ayo bermain lagi"
Cambuk yang tadi tergeletak dilantai kini bertukar tempat dengan lilin.
PLOK! PLAK!
"Ahh.. hentikannnn…. Akashi-sama"
"Memohon lah"
"Aku..
PLAKKK!
…mohon"
Seni yang terukir semakin indah, bercak merah turun menambah warna.
Cambuk dibuang. Dari dalam keranjang, Akashi mengambil sebuah barang lagi.
"Akashi-sama apa lagi itu"
"Cock ring"
Akashi mengenggam penis Kuroko yang setengah tegang, dikulumnya seperti awal tadi untuk membangkitkan kembali yang setengah bangun.
"Ngggghhhh…"
Akashi tersenyum puas karena tidak perlu waktu lama untuk menggoda junior yang satu ini.
"Akashi-sama, jangan. Tolong jangannn.."
Kuroko mencoba mencegah Akashi yang mulai memasangkan cock ring pada penis Kuroko.
"JANGANNNNN" teriak Kuroko.
Sayangnya, tangan Akashi malah sukses memasangkan alat itu. setelah itu, ikatan pada tubuh Kuroko diganti. Kaki yang ikut terikat dibelaknag bersama tangan dilepas. Kaki Kuroko jadi sedikit bisa bergerak tetapi masih diikat dan dirapatkan satu sama lain dengan tali tersebut.
Lagi-lagi, Akashi mengambil barang baru. Kali ini tampak sangat besar, mirip mesin.
Kuroko tidak tahu lagi, tidak sanggup menghitung ada berapa banyak barang mainan disana.
Mesin itu ditempatkan di pinggir kasur.
Akashi menarik Kuroko ke pinggir kasur dan memaksa nya untuk menungging.
Di ujung alat tersebut sudah ada penis buatan yang panjang seperti tadi dan lebih besar.
"Jangan lagi Akashi-sama. Kumohon jangan lagi"
Maaf sekali Kuroko, permohonan mu dianggap sebagai pintah untuk melanjutkan. Akashi malah terlihat senang menikmati wajah memelas maid nya.
Penis buatan dari mesin di beri sedikit ludah oleh Akashi. Dengan kasar, di cobloskan pada lubang Kuroko.
"Arrggggg.. be-besar sekaliiiii…"
Penuh, lubang Kuroko tidak memilik celah sedikitpun lagi.
Mesin dinyalakan. Penis buatan itu bergerak maju mundur dan tak lupa untuk bergetar.
"Akkhhhh….."
"Shit!"
Penis Akashi kembali sempurna menegang. Akashi membiarkan mesin bergerak otomatis, ia memilih untuk berjalan kearah kepala Kuroko.
"Tetsuya, urus milikku"
Penis Akashi disodok masuk kedalam mulut Kuroko saat Kuroko mendesah.
"Hmpppp…"
"Ahh disini juga hangat.. errrgg…"
Akashi menjambak rambut Kuroko kedepan, memaksa masuk penis nya hingga kerongkongan.
"Ahhh~ sangat dalammm.."
Semakin dalam, semakin enak yang Akashi rasakan. Pinggulnya ikut membantu mensodok-sodok.
"Hmmmppp…"
Sementara yang Kuroko rasakan pada lubang nya yang disodok dengan mesin yang semakin bergerak kencang, getaran pun semakin kuat.
"Hmmppp hmppp"
"Ah ah begitu.. iyaa ahhh"
Desahan Kuroko yang tertahan oleh penis Akashi memberi sensasi tersendiri untuk penis Akashi yang masih dikulum Kuroko.
"Tetsuyyyaaa…~"
Akashi klimaks dengan cepat. Cairan nya habis ditelan semua karena disemprot tepat pada tenggorokan.
"Hahhhh…"
Penis dicabut, bekas sperma yang bercampur liur menetes menodai sprei kasur.
Kuroko ingin klimaks juga, penis nya sudah berdenyut keras. Tetapi cock ring yang terpasang menhambat nya untuk mengeluarkan sperma.
"Ahhhh tolong lepas benda ini, Akashi-sama"
"Tidak boleh"
"Kumohonnnn…."
"Tidak"
"Ah akkhh Kumohonnn… AKKKHHH"
Klimaks kering. Itu yang terjadi saat sperma tak bisa keluar namun puncak sudah dicapai. Kepala Kuroko pusing bukan main. Degup jantung nya tak seirama, nafas nya memburu dengan cepat.
Akashi menghentikan gerak mesin. Akashi lalu melepas semua ikatan tali pada tubuh Kuroko.
Kuroko dipaksa terlentang dikasur.
"Tidak lagi, tidakk"
Kepala digeleng lemah, sisa kekuatan diharapkan dapat membantu.
Tangan Kuroko dibentang lebar dan diikat pada sisi kasur, kaki Kuroko juga sama, diikat pada sisi tepi kasur. Akashi tidak kepayahan menangani tubuh Kuroko yang sudah melemah.
Kuroko jadi mengangkang melentang indah diatas kasur bersprei putih tersebut.
Mesin kembali diarahkan ke lubang Kuroko setelah disetel agak rendah agar pas.
"Kumohon.." sangat lirih diucap
Akashi menganti penis buatan pada polos dengan permukaan yang licin, kali ini permukaan penis buatan terdapat benjolan-benjolan.
Penis buatan itu Akashi paksa masuk tanpa memberi pelican apapun lagi.
"ARGGHHHHHHH..."
Sensasi aneh lagi, banyak sekali rasa baru yang muncul malam ini.
Kuroko merasa lubang nya penuh sesak tetapi geli-geli karena benjolan yang menggoda dinding lubang nya.
Mesin dinyalakan lagi, Akashi menyetel pada kecepatan tinggi seperti mesin bor.
"ARgggghhh tIDAKKK… he-hentik-kannnn ahhh ahhh ahhh"
Bahkan suara Kuroko sedikit bergetar untuk berucap.
"Tetsuya sangat menggoda"
Akashi tidak berbohong. Pemandang tubuh Kuroko yang bergetar dengan penis tegang yang menjulang sangat indah dan nikmat dipandang.
"Ahhh Tetsuyaa.."
Akashi mengocok penis nya sendiri, ia bertumpuh dengan kedua lututnya diatas kasur tepat diwajah Kuroko.
"Ahhhh Akashi-sama… ahhh"
Kuroko rasa lubang nya akan segera hancur. Diobrak kasar dengan kecepatan tinggi benar-benar memilu kan.
"Ahhh ahh Tetsuyaa ahh ahhh engggghhh.."
Kocokan Akashi pada penis nya semakin liar, mata nya setengah terpejam menikmati permainan nya sendiri.
"Nghhhh… ahhhh Tetsuyaa~"
Crott! Sperma menyembur ke wajah Kuroko, meleleh dengan sensasi fresh yang hangat.
"Jilat, Tetsuya"
Akashi meminta Kuroko menjilati bibir nya sendiri dan sekitaran nya yang terkena semprotan sperma Akashi. Dengan malu-malu, Kuroko terpaksa menuruti.
"Sial! Sexy sekali"
Gerakkan Kuroko yang seduktif begitu membuat Akashi Junior tidak jadi tidur, malah kembali bersemangat ria.
"A-Akashi-sama, tolong lepaskan alat ini.. ngghhh"
"Tidak!"
Kuroko tidak tahu lagi, ia tidak bisa klimaks. dari tadi tertahan.
Akashi turut mengenggam penis Kuroko dengan erat. Menekan kepala penis Kuroko.
"TIDAK! Jangan jangan jangan… AHHHH Akashi-sama kumohon akkkhhhh.."
"Tidak boleh, Tetsuya tidak boleh keluar"
Tersiksa, fisik dan batin disiksa habis.
"Nghhhhh.. ahhh ahh tidak tahan lagi, tidak bisa lagi, ahh ahh ahh.., Akashi-sama Akashi-sama"
Kuroko meracau tidak jelas, kepala nya digeleng-gelengkan dengan kuat. Penis nya berkedut kuat dan lubang nya sudah mules tetapi terus bergetar.
"Ahh ahh ahh.. nghhhhh tidak bisa.. ahhhhhh tolonggggg.."
Lenguhan semakin keras diucap, Kuroko hampir hilang akal sehatnya.
"Tetsuya menggodaku ya! Damn!"
Gairah Akashi juga dipacu tinggi dengan lolongan dari desahan Kuroko.
Satu gerakan cepat, Akashi menggeser mesin tersebut, tidak peduli terjatuh terbalik ke lantai.
Lubang Kuroko yang sudah kemerahan dan berkedut-kedut langsung ditusuk kuat.
"Ahhhhhhhh…"
Sensasi penis asli dengan buatan sangat berbeda. Ini tidak bergetar tetapi denyutan yang terasa didalam dinding anus sangat membawa melayang.
"Tetsuyaa kenapa nikmat sekali? Ah ah.."
"Hentikan Akashi-sama.. hentikan… Ahhhhh"
"Tidak mungkin aku bisa berhenti.. nggghh"
Tangan Akashi memegang pinggang Kuroko, Akashi menyodok terlalu dalam dan menabrak keras titik g-spot yang membuat Kuroko melayang tanpa bisa melepas.
"AHHHHHH KU MOHOONNNN…"
Teriakan sangat keras, diharapkan hasrat bisa bebas. Penis nya tidak sanggup bertahan lagi, Kuroko merasa hampir pingsan.
"Ah Tetsuyaa.. sebentar lagii…."
Akashi kenikmatan, tidak ingin berhenti menusuk-nusuk, tidak kenal kata lelah untuk maju mundur.
"AHHHH AKASHI-SAMAAAA AHHH AHHH HMMMM SHH AHHHH AHHH"
Akashi benar-benar puas mendengar desahan yang panas, tangan nya melepas cockring pada penis Kuroko. tetapi penis Kuroko masih digenggam pada tangan nya, dan saluran untuk keluar ditutup.
"AHHHH Lepas tangan anda AKASHI-SAMAAA AHHH"
"Tetsuya harus menungguku nghhh.."
Kepala Akashi juga sudah blank, nikmat yang membara dalam desiran darah sungguh tak terdefinisikan lagi.
"Akashi-sama Akashi-sama Ah ah nghh ahhhh sssshhhh ugh ahh ahh"
"Fuck! Tetsuya! Ahhh ssttt engghhmmm ahhhh~"
"Ahh ahh ahh Akashi-sama.. aku.. ahh tolonglah…"
"Tetsuyaa Tetsuyyaa ahhkkkkkkh TETSUYAAAA…"
"ENNNggghhh AKASHI-SAMA akkkhhhhh…"
Mereka berdua berteriak melepas nikmat yang tak berbendung. Sperma Akashi sangat banyak sampai merembes keluar padahal penis belum dicabut. Sedangkan penis Kuroko menyemburkan sperma nya pada tangan Akashi yang terangkat diatas penis nya.
Mereka terdiam menghirup oksigen, masing-masing tahu bagaimana detak jantung mereka saat ini.
"Hiks.."
Suara isak tangis membuat Akashi terperanjat kaget. Matanya tepat menatap wajah Kuroko yang sangat suram dan mata yang memerah. Air mata membasahi pipi, merembes ke telinga.
Kuroko menangis tersedu-sedu. Tidak tahu kenapa, kuroko hanya ingin meluapkan perasaan nya yang abstrak tanpa arti. Bukan kesakitan karena perlakuan kasar begini, perasaan nya hanya bercampur aduk merindukan sosok majikan nya yang normal.
"Tetsuya?"
Seolah dibawa kealam sadar kembali, Akashi dipukul oleh pikiran dan perasaan nya sendiri.
'Apa yang sudah kuperbuat sampai sekasar ini?' batinnya.
Sejak tadi Akashi sepenuhnya sadar apa yang ia perbuat, ia hanya tidak menyangka lepas kendali dan berubah lebih liar dari yang tidak pernah dibayangkan.
"Tetsuya?"
Akashi buru-buru melepas semua ikatan pada kaki dan tangan Kuroko.
Badan Kuroko sudah terlalu lelah hingga lemas, pergelangan tangan dan kaki nya lecet, badan nya masih penuh bekas lilin.
Akashi menatap miris pada perbuatan nya sendiri. Ia gagal mengontrol emosi nya hanya karena ayah nya. seharusnya ia tidak menyakiti maid nya, akashi merasa sudah gagal menjadi majikan yang baik.
"Tetsuya"
Kuroko tidak sanggup membuka mulut walau sedikit, air mata lah yang berbicara.
Kuroko juga merasakan gagal menjadi maid yangbaik, ia sampai harus dihukum seberat ini.
Kuroko pelan-pelan bangkit untuk duduk dan bersandar pada sandaran kasur. Akashi terus menatap Kuroko.
Grep! Satu gapaian tangan membawa tubuh Kuroko berada dalam dekapan hangat.
"Maafkan aku, Tetsuya"
Akashi tak kunjung mendengar suara yang menjawab. Perlahan ia membawa wajah Kuroko mengahadap wajahnya. Tatapan mereka berdua sama-sama sendu.
"Maaf"
Akashi berkata sambil menatap kedalam bola mata bulat yang indah.
Kuroko tersentak sejenak, mata Akashi sudah teduh seperti sedia kala. Tidak berkilat tajam, heterokromatik yang indah dengan keteduhan yang mewarnai.
"Apa anda Akashi-sama?"
Batin Akashi digoncang oleh suara lemah yang bertanya dengan pelan. Akashi mengeratkan pelukan nya. tangan nya juga mengelus surai biru yang tumbuh dikepala Kuroko, juga punggung Kuroko yang masih dipenuhi seni kerak liin.
"Ya, aku Akashi Seijuurou, majikan mu"
Kuroko merasa lega. Suara khas dengan intonasi yang pas, dalam kehidupan nya hanya satu orang yang memiliki ciri begitu, yaitu majikan nya. kuroko tidak ragu jika yang ini adalah memang Akashi. Kuroko rela dengan permainan tadi karena hasil akhir yang dapat membuatnya kembali merasakan sosok majikan nya.
"Maafkan aku, sayang"
DEG! DEG! DEG!
Apa telinga Kuroko sudah rusak hingga bisa berhalusinasi mendengar kata barusan? Apakah sekarang musim semi? Kenapa perut Kuroko terasa digelitik oleh kupu-kupu yang terbang dengan sayap rupa yang indah? Kenapa hatinya seperti taman bunga yang baru mekar?
Pertama kali setelah sekian lama ia bekerja, setelah ronde yang tak terhitung jumlah nya, bibir Akashi mengucap kata sayang untuk Kuroko.
Akashi sadar apa yang ia ucapkan, itu memang bibir nya yang berucap.
Kuroko tersenyum sedikit, tangan nya membalas pelukan Akashi.
Ini majikan nya, ini yang ia kenal, yang mesum tetapi romantis, yang peduli pada maid nya, ini Akashi Seijuurou. Benar, yang seperti inilah yang disebut majikan nya. Ia tak keberatan lagi, sadar diri bahwa maid memang harus melayani majikan. Bersyukur saja, ia termasuk yang istimewa.
Ia akhirnya mengerti apa yang Shiori katakan tentang menjaga Akashi. Majikan nya ini memang perlu teman bermain, meskipun permainan aneh. Majikan nya ini perlu dijinakkan oleh satu saja orang handal.
Akashi senang Kuroko membalas pelukan nya meski lemah, itu lebih dari cukup. Walaupun hati Akashi masih sakit setiap kulit tangan nya yang tidak lagi menyentuh punggung halus , melainkan punggung berbecak lilin.
"Tetsuya?"
Akashi merasa dada nya yang bidang diterpa hembusan nafas teratur dan dengkuran halus. Dengan sangat perlahan, ia kembali membaringkan tubuh Kuroko.
Kuroko kelelahan dan sudah lelap tertidur. Akashi terkekeh pelan sekali. Hidup ini memang penuh lika-liku, tapi ia menjalani nya tanpa beban semenjak memiliki maid ini. akashi jadi paham, kenapa ia marah saat ayahnya menghina Kuroko, itu karena Kuroko tidak pantas dihina. Buktinya, iblis neraka jatuh dalam pesona nya. betapa hebat Kuroko.
Manusia memang tidak bisa hidup sendiri, mereka selalu membutukan satu sama lain. Itu sebabnya, banyak orang bekerja menjadi pembantu selain karena kebutuhan ekonomi. dan Akashi merasa beruntung mendapat maid yang pantas bahkan lebih dari kata luar biasa.
"The one and only, my maid, Kuroko Tetsuya"
Cup, muach! Satu kecupan manis nan romansa mendarat mulus pada kening yang tereksplor. Akashi menarik selimut untuk menutupi dirinya dan Kuroko melabuh kealam mimpi.
Sekali lagi, Akashi dan Kuroko membuktikan bahwa hubungan majikan dan pembantu tidak patut dipandang rendah, hubungan itu dapat akrab. Jikapun ada bertentangan, anggap saja hiburan untuk dinikmati bukan dimusuhi. Hidup memang suka mengajak sebercanda itu.
Dan berkali-kali nya, Akashi semakin nyaman dengan Kuroko. maid yang menjalankan tugas dengan sangat baik membuat sang majikan enggan mencari maid baru.
.
.
.
TBC
.
.
.
Terimakasih buat yang sudah membaca.
BIG THANKS buat Taurus'99, Vanilla Parfait, Kaluki Lukari, Shirayukeii, AkaKuro-nanodayo, asuka. souryou, Jung HaRa, Divanabila1717, Nyanko Kawaii, K. S, ryu elchan, iL'yss. 505 yang sudah meluangkan waktu memberi review dichapter sebelumnya, BIG THANKS juga buat yang sudah Fav dan Follow.
semua bentuk dukungan sangat berarti bagi saya ^^
TERIMAKASIH~
