HAPPY READING ! :) please, Enjoy~

.

.

.

"Fiuhh.."

Dua pemuda bersurai merah delima dan biru muda menghela nafas melepas penat. Tubuh yang terendam dalam sensasi air panas sangat menyegarkan, beban terasa terangkat entah kemana.

Akashi mengajak Kuroko untuk mandi air panas di salah satu pemandian paling terkenal seantero Jepang, Spa World Osaka. Mumpung sudah berada di Osaka, sekalian saja jalan-jalan.

Disini terdapat banyak pilihan tema untuk pemandian, Akashi meminta Kuroko untuk memilih tema mana yang ia inginkan. Karena tidak begitu mengerti, secara asal-asalan Kuroko memilih tipe Eropa dengan tema Atlantis. Ruangan bergaya khas dengan redup lampu yang pas pula, kehangatan dari suhu air menjadi lebih terasa.

"Tetsuya.."

Akashi menatap miris pada beberapa luka kecil di tubuh Kuroko akibat lepas kontrol dirinya. Tangan nya membuat cekungan guna mengambil air panas dalam kolam dimana mereka berendam untuk kemudian di basuh pada tubuh Kuroko.

"Maafkan aku" lirihnya begitu menyesal

"Tak apa-apa Akashi-sama, ini tidak sakit lagi"

Akashi tahu itu hanya bekas luka kecil, tetapi itu salah nya. luka dari tetesan lilin panas pada kulit mulus itu menyebabkan nya tak lagi sehalus kain sutra.

Mereka bersandar pada dinding kolam, duduk bersebelahan dengan jarak yang sedikit.

"Hari ini sepi sekali ya?"

Yang Kuroko pernah tahu adalah tempat ini tidak pernah sepi, selalu ramai bahkan kadang kehabisan tempat untuk berkunjung. Namun sekarang di arena kolam ini, hanya ada dirinya dan sang majikan.

"Mungkin karena bukan hari libur"

Saat ini memang hari biasa, orang-orang pasti sibuk bekerja. Tetapi sebenarnya bukan karena itu, Kuroko tidak akan tahu apa yang majikan nya perbuat hingga kolam ini hanya ada mereka berdua.

"Benar juga. Akashi-sama tidak apa tidak bekerja?"

"Aku tidak akan menjadi miskin hanya karena libur satu hari, Tetsuya"

Kuroko hanya angguk-angguk.

"Apa Tetsuya senang kemari?"

"Tentu, sudah lama aku tidak mandi air panas begini"

Akhirnya mata beda warna itu bisa melihat lagi keceriaan dan kegembiran yang muncul dari diri maid nya. setelah tadi malam wajah itu memelas kasihan, Akashi sungguh tidak tega. Semalaman ia tidak nyenyak beristirahat hanya demi memastikan maid nya tidak jatuh sakit. Pagi-pagi sekali saat Kuroko sudah bangun, Akashi sudah duduk rapi mengajaknya untuk berjalan-jalan. Menurut Akashi, onsen merupakan pilihan paling pas setelah kelelahan batin dan fisik yang mereka gulati.

Satu cekungan air panas kembali ditampung dari kolam, dibasuh lagi pada tubuh maid nya. tidak tahan, tangan Akashi tidak ingin menjauh dari kulit yang tersentuh.

"Akashi-sama?"

"Hmm?"

Tangan Akashi mengelus pundak Kuroko perlahan, menuruni untuk mencubit nipel yang masih merah tersebut.

"AH!"

Kuroko keceplosan mendesah sekilas karena tiba-tiba dirangsang demikian.

Tangan itu kembali ke pundak, menuruni lengan Kuroko yang tak berotot. Lengan itu ditarik dalam satu tarikan kuat untuk membawa pemilik nya berada dalam dekapan nya.

Akashi memeluk Kuroko sangat erat, menciumi pundak tak berbalut benang itu.

Ciuman pada pundak berganti dengan menaiki leher jenjang Kuroko, berhenti di daun telinga yang sesintive. Perlahan-lahan gigi bersih yang terurus mengigit kecil daun telinga Kuroko.

"Nghh.."

"Tetsuya.."

Bisikan seduktif merangsang hormon untuk bangkit bergairah.

"Apa Tetsuya pernah merasa keberatan ku perlakukan begini terus?"

"Begini bagaimana maksud anda, Akashi-sama?"

"Hmm.. Tetsuya mau aku yang katakan kah?"

"S-saya tidak mengerti"

Gemas. Satu gigitan kecil diselingi jilatan dan hisapan pada daun telinga yang tak bertulang kembali dilancarkan. Tubuh Kuroko menggeliat pelan.

"Seks"

Suara baritone merdu mengalahkan orchestra terkenal sedang berbisik seduktif, pelafalan kata tersebut sangat pas terucap dari bibir yang tidak berhenti mengecup-ngecup pipi tembem milik pembantu nya.

Wajah Kuroko memerah, malu mendengar kata yang mencerminkan perbuatan dirinya dengan sang majikan selama ini.

Seolah tersadar pada kenyataan, Kuroko mendorong tubuh Akashi menjauh. Dia berbalik memunggugi Akashi.

"Tetsuya?"

Kuroko lupa, dia maid yang bekerja untuk bersih-bersih rumah. Tetapi selama ini, dirinya malah asik membersihkan lelehan sperma milik sang majikan. namun entah kenapa, Kuroko tidak keberatan. Mungkin karena terbiasa, atau karena dirinya juga menginginkan sentuhan itu. padahal majikan nya ini adalah yang pertama dan satu-satu nya yang memberikan pengalaman beginian.

"Akashi-sama, maaf"

"Maaf untuk apa Tetsuya?"

"Karena saya lupa diri, seharusnya saya bersih-bersih rumah saja, bukan ikut anda kesana kemari menikmati kemewahan ini itu. apalagi saya malah… s-s-seks dengan anda. Saya sangat rendahan"

Akashi terkejut dengan penuturan dari bibir yang biasa ia lumat. Rendahan? Akashi tidak pernah berfikir Kuroko akan berfikir demikian.

"Aku tidak berfikir Tetsuya seperti itu, tidak pernah menganggap Tetsuya begitu"

Akashi puas dengan Kuroko, itu lebih dari cukup untuk membuat nya jinak. Membuatnya tidak menginginkan lubang lain.

"Seharusnya saya tidak menggoda anda"

"Tetsuya memang tidak menggoda ku, aku yan—"

"Anda juga tidak menggoda saya"

"He-eh.. aku bukan ingin bilang begitu…

Grep! Tangan kekar nya sudah melingkar indah pada perut ramping dari belakang tubuh Kuroko, mencari posisi nyaman untuk menyandarkan punggung tersebut di dada bidang nya.

… aku yang tergoda dengan Tetsuya"

Benar, sejak awal Akashi yang tergoda untuk mencicipi keseluruhan dari Kuroko yang masih tersegel. Dan sejak saat itu, ia kecanduan.

"Tapi—"

"Aku tahu seharusnya ini bukan menjadi pekerjaan Tetsuya kan? tapi bolehkah anggap saja menjadi pekerjaan tambahan? Aku akan membayar berapa pun untuk tambahan nya"

Secara kasar dan paksa, tangan Akashi dilepas dari lingkaran perut nya. Kuroko berbalik untuk menatap Akashi, alis nya bertaut kuat.

"Bayaran? Apa anda kira saya sama seperti gigolo diluar sana?"

Kuroko belum pulih total, dia masih kelelahan tetapi suara lantang terpaksa dikumandangkan. Kecewa, selama ini Kuroko melayani dengan sepenuh hati seikhlas nya tanpa mengharap bayaran agar dia tak sama dengan pemuas seks diluar sana.

"Tetsuya, tolong. Jangan berkata-kata yang tidak-tidak"

"Tapi anda yang berkata begitu, membayar saya tidak lah cukup untuk layanan yang saya beri, padahal saya melakukan nya dengan tulus dan menghormati anda"

Senyuman terulas, Akashi tidak ingi marah-marah. Cukup tadi malam saja ia ke wujud iblisnya, sekarang jangan. Akashi begitu senang mendengar Kuroko berkata layanan nya tulus, Akashi yakin itu sebuah kejujuran.

"Jadi jika uang tidak cukup, bayaran apa yang cukup untuk Tetsuya? Hmm?"

Sebelah alis diangkat tanpa menghilangkan senyuman di bibir nya. Kuroko jadi salah tingkah, tadi niat nya mau protes tapi malah terjebak dengan kata-kata sendiri.

Terkadang Kuroko ingin menanyakan pada dirinya, kenapa ia tulus melakukan itu? tidak mungkin ia juga kecanduan atau punya maksud lain?

"T-tidak, b-bukan begitu"

"He-eh.. benarkah bukan?"

Akashi mendekat, Kuroko mundur untuk menghindar. Dinding kolam sudah dicapai, tidak ada langkah mundur lagi.

Dengan cepat Akashi mengunci diri Kuroko dengan meletaknya tangan nya pada tepian kolam melalui kedua sisi tubuh Kuroko.

Karena Akashi lebih tinggi, Akashi jadi menatap Kuroko dari atas. Kuroko tidak berani mengangkat kepala nya, wajah tampan sang majikan sangat dekat. Kepala nya hanya sejajar menghadap depan tetapi dada bidang didepan mata secara pasif menggoda iman. Kepala nya lalu diajak menunduk namun pemandangan Akashi Junior didalam air malah terpampang dengan jelas. Terpaksa hanya berpaling ke samping saja.

"Tatap aku, Tetsuya"

Kuroko menggeleng-geleng secara halus bermaksud menolak.

"Kenapa? Kenapa tidak mau? Ayo, tatap aku, Tetsuya"

Kuroko tetap menggeleng.

Akashi akhirnya menggunakan satu tangan nya untuk menolehkan wajah Kuroko menghadap wajah nya.

Kepala Kuroko sudah terangkat keatas, namun mata nya dipejam erat.

Cup! Cup! Kedua kelopak mata yang menutupi bulat nya mata biru langit itu dikecup pelan.

"Buka"

Kuroko mengalah, ia membuka mata nya. langsung saja, heterokromatik menjamah tatapan nya.

"Tetsuya, dengarkan aku baik-baik"

Kuroko mengangguk sekali.

"Jangan pernah lagi berucap begitu. Aku tidak pernah menganggap Tetsuya begitu, Tetsuya adalah maid ku, aku berhak saja mendapati apapun dari maid ku kan?"

Kuroko diam, tidak tahu kalimat apa yang cocok untuk menjawab itu. harga dirinya diuji, tetapi kenapa setelah sekian lama baru sekarang begini? dari awal ia memang berfikir tentang maid yang baik yang melayani majikan nya, dia sendiri tak berfikir dirinya adalah gigolo.

"Apa Tetsuya keberatan?"

Dengan sabar Akashi menunggu jawaban yang akan terlontar. Tidak ada suara, hanya deru air yang mengaliri kolam yang memasuki indera pendengaran.

"Baiklah jika memang keberatan, aku tidak akan melakukan itu lagi"

Akashi sadar ia juga mungkin keterlaluan, apalagi yang semalam, bukan salah Kuroko jika sekarang ia merasa sangat tidak berharga. Akashi berfikir, mungkin ini hukuman untuk perbuatan nya yang kasar.

Bola mata biru langit membulat, ada perasaan tidak enak yang bergerumuh dalam batin. Rasanya tidak rela, tidak lagi disentuh, sentuhan yang disuguhi sudah melekat dalam kecanduan.

Harga dirinya di uji, Kuroko binggung harus bagaimana.

"Tapi maaf, bukan untuk kali ini"

Sontak kaget, bibirnya sudah dilumat basah. Tidak kasar, Akashi bermain lembut. Sama sekali tidak ingin memberi luka fisik maupun psikis lagi.

Dari pertama memasuki ruang ganti untuk melepas pakaian, Akashi sudah bergairah untuk menjamah diri Kuroko. padahal tadi malam sempat saja tuan iblis berniat untuk tidak menusuk Kuroko beberapa hari karena Kuroko pasti masih kesakitan, tapi apa daya, nafsu nya tak dapat dibendung.

"Hmmpp…"

Tangan Kuroko mencengkram bahu Akashi sebagai topangan agar tidak meleset turun.

Lidah Akashi dengan mulus memasuki rongga mulut untuk mengabsen gigi Kuroko, semua hadir. Kemudian seperti biasa, tarian antar lidah tidak pernah terlewatkan.

Lutut Akashi menggesek-gesek penis Kuroko didalam air, mengajak untuk berdiri dan beradu bersama penis nya yang sudah menegang.

Pangutan sudah dilepas, bibir Akashi dengan gesit menyesap nipel Kuroko.

"Arhhh.." perih, bekas semalam masih terasa.

Akashi mengerti. Gesit nya berubah lembut, pelan-pelan saja lidah nya memutari nipel itu. menyusu dengan perlahan tanpa mengenai gigi nya.

"Emmmhh.."

Puas disana, Akashi mempersiapkan junior nya untuk menyantap sajian hari ini. tidak bisa menunggu lagi, Akashi ingin segera melepas stress nya.

"Akashi-sama.. jangan lagi"

"Sekali saja, Tetsuya"

Akashi mengangkat sebelah kaki Kuroko, jari nya langsung menerobos lubang incaran.

"ARGHHHH.. ittaiii.. mou.."

Akashi tidak tega mendengar jeritan kesakitan itu, tetapi nafsu nya sudah memuncak tinggi.

Tubuh Kuroko diangkat keluar dari kolam, menempatkan nya pada tepian. Kedua kaki dibuka lebar-lebar, lubang nya kemerahan, masih terasa perih disana.

Akashi menurunkan tinggi tubuhnya, wajah nya didekatkan pada lubang anus Kuroko.

"Ahhhkk… j-jangann.."

Lubang itu dijilat-jilat dengan rakus namun halus. Akashi berusaha memberi rangsangan agar tidak lagi terasa sakit untuk dimasukinya.

"J-jangan Akash-sama.. emmmhh ngghh i-itu.. kotor.. ahhh.."

Lidah Akashi masuk sedikit ke bagian dalam lubang, tubuh Kuroko menggeliat naik menahan gelombang nikmat. Basah-basah geli, lubang Kuroko jadi terasa nikmat.

"Ahh sshh…"

Tangan Akashi tak tinggal diam, penis Kuroko turut dikocok guna menambah kenikmatan nya.

Setelah merasa cukup, Akashi berdiri lagi, punggung nya di pas kan setinggi tepian kolam. Kedua kaki Kuroko diangkat ke pundaknya.

"Tetsuya, maaf. Aku tidak bisa menahan nafsu ku setiap bersama mu"

"Jangan berkata begitu, Akashi-sama"

Kuroko malu dengan dirtytalk yang manis begitu.

Jleb! "Ahhkkk shhhh…"

"Ohh yeah Tetsuya…"

Menancap hingga habis, penis Akashi sangat betah berada dalam lubang itu.

Berkali-kali dimasuki, berkali-kali ditusuk terus. Bohong, jika Kuroko keberatan. Malahan sekarang dirinya sudah hampir klimaks, bekas jilatan Akashi merembes ke sekitaran lubang nya, dalam posisi begini dengan kedua pantat yang saling bergesek, rasa basah itu berubah nikmat.

"Ahh ahh ahhh shhhh nghhh ehmmm"

"Ohhh yess ahhh ya ya ahhhhhkk…"

Tusukan berlanjut, ditusuk dengan kenikmatan, mabuk kepayang bahkan tak tertandingi.

"Hemmm Tetsuya selalu senikmat ini kah?" ahh.."

"Nghhh,…"

Perasaan Kuroko bercampur aduk, permainan seperti ini apa akan bisa ia rasakan lagi jika dirinya mempertahankan harga diri yang padahal sudah hilang sejak awal. Ini tuntutan pekerjaan, hidupnya pun sebatang kara, seharusnya bukan beban, terlebih diam-diam ia menikmati juga.

"Tetsuya Tetsuya.. aku hampir sampaiii ahh ahhh.."

Racauan semakin abstrak, Akashi mengerang keras saat penis nya tergelitik dibagian ujung oleh kenikmatan pencapaian puncak.

"Akkhhhh.."

Kuroko memejamkan matanya, bisa dirasakan semburan yang kencang didalam lubang nya, namun penis nya belum ingin keluar. Kepala nya pusing, konflik batin masih terjadi.

Akashi menetralkan nafasnya, penis nya ditarik keluar. Mata nya menatap pada penis Kuroko yang setengah tegang.

Akashi tambah merasa bersalah, mungkinkah Kuroko memang tak ingin lagi disentuh? Akashi merasakan nyeri pada relung hati terdalam. Meski begitu, Akashi berbaik hati memberi servis pada penis Kuroko.

Penis itu dimasukkan kedalam mulutnya, proses menjadi tegang dalam mulutnya.

"Akash-sama, apa yang an—arghhh…"

Kepala penis dijilat-jilat dan diemut kuat didalam rongga mulut, Kuroko dibawa melambung ke langit kenikmatan.

"Ahhh…"

Desahan lolos sebagai pemberitahuan kenikmatan.

"Apa Tetsuya suka?"

Tidak menjawab, Kuroko memalingkan wajah nya. semburat merah menjalar rapi pada pipi hingga lehernya.

Kepala Akashi naik turun menghisap penis Kuroko.

"Ahhh Ahhh…"

Semakin cepat ditambah kocokan dari tangan nya, sebelah tangan nya lagi juga meremas bola yang mengantung.

"Akashi-sama… ahh ahhhhkkk…"

Lenguhan panjang disuarakan, Kuroko mencapai puncaknya. Sperma hangat menyembur ke wajah Akashi. Kuroko buru-buru bangun untuk membantu mengelap sperma itu.

"Maaf, Akashi-sama"

Saat tangan nya berusaha mengusap lelehan sperma diwajah, tatapan nya malah bertemu langsung dengan heterokromatik yang menusuk kedalam jiwa.

Tangan yang hampir menyentuh wajah di genggam dalam cakupan telapak tangan yang lebih besar.

Cup! Satu kecupan pada punggung tangan itu.

"Maaf sudah memperlakukan Tetsuya sampai begini"

Tatapan nya berubah sendu, dwiwarna yang tak bercahaya. Hati Kuroko jadi sakit, tapi lidah nya keluh untuk berucap ia tak keberatan.

Akashi tersenyum kecut, ini maid kesayangan nya. Akashi begitu takut kehilangan sosok ini, ia menyayangi nya, lebih dari status pembantu. Akashi menyadari, sudah menyadari, namun terlambatkah dia?

Pelukan hangat dilaksanakan, kedua nya membisu dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

.

.

"Baik, Okaa-sama. Terimakasih"

Sambungan diputus, ponsel kembali disakukan.

"Ada apa Akashi-sama?"

"Ibu ku bilang barang-barang kita yang tertinggal dirumah sudah diantar ke Kyoto"

"Oh, souka"

"Ayo"

Akashi berjalan mendahului Kuroko. setelah dari pemandian air panas, mereka tidak terlalu banyak berkomunikasi.

Gedung Osaka Aquarium Kaiyukan terlihat ramai, Akashi dan Kuroko berjalan berdekatan memasuki nya. nuansa khas laut langsung menyeruak kedalam pandangan mata.

Luas, besar, dan indah. Kuroko bersyukur diajak mampir kesini.

Mereka berhenti disalah satu kaca aquarium yang menampilkan ikan-ikan besar dari dalam sana. Ikan itu berenang kesana kemari, sangat bebas tak terbatasi.

"Tetsuya pernah menyelam?"

Meskipun tidak banyak bicara, Akashi masih dalam mood baik.

"Belum pernah, Akashi-sama sudah pernah?"

"Pernah, di Great Barrier Reef"

"Itu kan salah satu kejaiban dunia juga"

"Ya, lain kali kita kesana ya"

Akashi menepuk kepala Kuroko, lalu mengacak-ngacak surai biru muda nya. perasaan begini yang ia senangi, Kuroko pun tampak gembira, senyuman nya sampai membuat kedua matanya menyipit.

Akashi menyudahi keisengan nya, mata nya kembali menyelami pemandangan indah dari balik kaca.

Kuroko menatap Akashi, bibir nya di gigit. Otak nya mempertimbangkan yang ingin ia katakan.

Logika akan berkata jangan bodoh, harga diri diatas segalanya. Tapi hati selalu merasa nyaman saat disentuh oleh majikan nya ini. berfikir tentang harga diri, sudah berapa tusukan yang ia rasakan, apa harga diri itu masih tersisa? Kuroko tidak ingin memiliki hubungan buruk dengan majikan nya, pekerjaan ini masih dibutuhkan meskipun gaji yang sudah Kuroko kumpulkan sudah bisa membiayai kehidupannya.

"Akashi-sama"

"Ya?"

Dag dig dug tak terhindarkan, padahal Kuroko hanya akan berkata satu kalimat, bukan pula pernyataan cinta tetapi jantung nya berdisko ria.

"Saya tidak keberatan untuk layanan itu"

Akashi langsung menatap Kuroko, wajah maid nya sudah bersemu merah lagi. Pemalu sekali.

Seharusnya Akashi senang, seharusnya ia puas dengan jawaban itu.

"Tidak apa, Tetsuya. Jangan memaksakan diri. Aku tetap akan memperkerjakan Tetsuya sebagai maid, tidak perlu sampai harus layanan itu"

Tapi Akashi tidak suka jika itu sebuah kebohongan.

Tidak, Kuroko yakin ia tidak membohongi perasaan nya lagi. Ia beneran rela melakukan itu, hanya untuk majikan nya. teriris oleh respon yang didapat, Kuroko menjadi bungkam seribu bahasa.

"Ayo berkeliling, kita sudah harus kembali"

Kuroko mengangguk lemah. Akashi berjalan mendahului untuk memimpin jalan.

Mata biru yang tak sedalam lautan namun seindah langit memandang punggung kekar didepan nya, tidak pernah merasa kurang selama ini, lahir batin terpenuhi padahal pekerjaan nya sebagai maid tidak dipandang tinggi dimasyarakat. Tapi Akashi, sang majikan membuat nya merasa begitu istimewa.

Apa Kuroko sudah mengecewakan majikannya? Kuroko berharap tidak. Kuroko tetap ingin menjadi maid yang baik, maid yang patut bekerja untuk seorang majikan bertatah kaisar seperti Akashi.

Pengalaman di Osaka yang kurang mengenakkan batin, Kuroko berharap semua akan baik-baik saja ketika sudah tiba kembali di Kyoto, dibawah atap tempat dirinya bekerja.

.

.

.

TBC

.

.

.

Terimakasih buat yang sudah membaca. BIG THANKS banget buat yang sudah mau Fav dan Follow. BIG THANKS juga buat asuka. souryou, Kaluki Lukari, Nyanko Kawaii, AkaKuro-nanodayo, Jung HaRa, Izumi-H, Vanilla Parfait, Young180100, Divanabila1717, nimuixkim90, valvalnoctis, Akakuro yang sudah meluangkan waktu untuk memberi review di chap lalu.

A/N : Karena sepertinya bdsm di chap lalu terlalu kasar, maka saya berencana membuat bdsm lagi dengan sedikit lebih manis tapi BUKAN chap depan ya. hehe semoga ada yang nunggu (?) :'v

#PREVIEW beberapa maid dirumah megah sudah biasa, tapi bagaimana jika posisi mu sebagai maid kesayangan mulai terancam? akankah kau menyerah? lalu berhenti dari pekerjaan itu? atau bertahan? bagaimana pula cara Kuroko Tetsuya mengatasi masalahnya? disisi lain, sesungguhnya sang majikan sangat 'setia' loh. seeyounextchap!

TERIMAKASIH~