Happy Reading ...
.
.
DUA HARI KEMUDIAN
Brukk
Tubuh mungil dan kurus itu terpental kebelakang, dengan pantat nya yang menyentuh lantai terlebih dahulu karena tubuhnya yang tidak sengaja menabrak seseorang. Baekhyun mengeluh merasakan nyeri, namun sadar ia telah menabrak seseorang ia bergegas berdiri dan membungkuk tanpa melihat wajah orang yang ia tabrak. Seperti Dejavu, dia menabrak orang untuk entah yang keberapa kali nya. Namun kali ini Baekhyun tidak bergegas pergi dia menunduk beberapa kali dan meminta maaf tanpa jeda.
"Joesonghamniida! Saya tidak memperhatikan jalan, maafkan saya," ucap Baekhyun dengan badan yang ia tundukan untuk meminta maaf.
"Baekhyun!,"
Baekhyun baru akan bersuara lagi untuk meminta maaf, namun indera pendengaran nya mendengar dengan jelas suara seorang wanita yang ia tabrak memanggil namanya. Begitu ia melihat kedepan betapa kaget nya Baekhyun, mseseorang yang selama ini dia rindukan, yang hilang kabar nya selama kurang lebih 4 tahun terakhir pergi dari kehidupan nya, kini berdiri didepannya.
"Luhan!." Seru Baekhyun.
Air mata kerinduan tidak bisa dia sembunyikan lagi dari kedua iris mata nya. Tumpah dengan derai yang tak berhenti ketika sosok yang ia rindukan, yang selalu mengerti nya berada didepan dirinya dan masih mengenalinya.
"Baekhyun kenapa kau menangis? Iya ini aku Luhan," Luhan jelas sama rindunya dengan Baekhyun. Luhan jelas tahu Baekhyun pasti merindukan nya karena dia menghilang dari Baekhyun selama berada di China.
"K-kau kembali?," Baekhyun mencoba untuk tidak menangis meraung layaknya bocah karena sadar dia berada dirumah sakit saat ini, dan dia sedang bekerja.
"Mianhae Baekhyun, aku terlalu lama pergi ya? Ponselku hilang dan aku lupa no ponselmu, maaf," Luhan dan Baekhyun saling memeluk menyalurkan rindu mereka yang terpendam selama 4 tahun. Baekhyun menganggap Luhan bukan hanya teman, ataupun sahabat baginya. Tapi Luhan sudah seperti saudara baginya.
"Tapi.," Luhan melepaskan pelukan nya dari Baekhyun dan menelisik keadaan Baekhyun dari atas hingga ujung kaki dan kembali lagi ke atas "Kenapa kau memakai seragam Office Girls rumah sakit ini?." Luhan bertanya setelah Luhan melihat seragam Baekhyun.
Baekhyun menelan ludah nya gugup, ia takut jika setelah ini Luhan pergi lagi darinya. Baekhyun takut Luhan pergi jika tahu dirinya sekarang menjadi orang miskin yang bekerja sebagai Office Girls dirumah sakit. Baekhyun takut jika Luhan enggan untuk bersahabat dengan nya atau bahkan mengenal nya.
"A-aku.. a aku," belum sempat Baekhyun menjawab pertanyaan Luhan, seorang ahjumma galak yang lewat disamping mereka memanggilnya.
"Baekhyun kau sedang apa disini? Cepatlah kerjakan pekerjaan mu, kau tidak mau kan dimarahi lagi atasanmu." ucap Ahjumma itu mengingatkan sebelum kembali berjalan dengan troli kebersihan yang ia dorong.
"Nanti akan kuceritakan semuanya padamu, sekarang aku harus bekerja! Kau pasti tahu kan apa pekerjaanku dengan melihat seragamku saja? Semoga kau tidak menyesal karena mengenalku disaat sekarang! Sampai jumpa nanti Luhan,"
Baekhyun tersenyum sebelum akhirnya mengambil peralatan yang tadi terjatuh saat dia bertabrakan dengan Luhan. Baekhyun tersenyum kembali pada Luhan lalu memilih pergi karena dia harus melanjutkan pekerjaan nya tentu saja. Baekhyun meninggalkan Luhan yang masih mematung memandang kepergian Baekhyun dengan beribu-ribu pertanyaan hinggap di pikirannya.
"Apa yang terjadi dengan sahabatku?," lirihnya sendu ia jelas tidak bodoh untuk tidak berpikir sesuatu yang buruk pasti menimpa keluarga sahabat nya itu, namun ia baru kembali ke Korea dua hari yang lalu, dan ia belum tahu apa-apa selain hanya soal perjodohan dia dan Chanyeol dan tentang Sehun kekasihnya yang juga bekerja dirumah sakit Chanyeol.
Terlarut dalam pikiran nya tentang kenapa dan ada apa dengan Baekhyun. Sampai tidak sadar jika ia sedang berdiri ditengah koridor rumah sakit yang menghalangi akses jalan orang lain yang melintas.
PUKK
Tepukan dibahunya menyandarkan Luhan dari lamunan nya memikirkan Baekhyun.
"Melamunkan apa?," sebuah suara berbisik ditelinganya mampu membuat Luhan kembali kedunia nyata. Ia jelas tahu siapa pemilik suara itu, maka tidak heran jika setelah dia berbalik dan menoleh Luhan langsung menerjang si pemilik suara dengan pelukan bahagianya.
"Kau hampir membuatku menjerit kaget jika aku tidak mengenali suaramu," jawab Luhan
"Siapa suruh kau melamun dirumah sakit! Dirumah sakit itu banyak hantu, bagaimana kalau bukan aku yang berbisik padamu, bagaimana jika hantu?"
"Aku bukan anak kecil Oh Sehun," Luhan tidak menyangka jika kekasihnya masih saja bertingkah seperti itu padanya. Sehun hanya tersenyum dan merangkul pinggang Luhan lalu menariknya menuju ruangan nya, tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
"Kenapa tidak mengabariku jika kau datang kemari?," Sehun membawa sebotol minuman kaleng pada Luhan yang tengah duduk dikursi Sehun.
"Kejutan! Aku ingin memberimu kejutan tapi malah aku yang dikejutkan olehmu," Luhan membuka minuman itu dan meminumnya.
"Jadi kejutan nya gagal?," Luhan menggeleng.
"Tidak sepenuhnya gagal, karena kau pasti terkejut bukan aku berada disini?."
"Ya kau benar sayang. Tentu saja aku terkejut melihat kekasihku yang berdiri dilorong sendirian, sedang melamun menatap ke arah Office Girls yang ku kenali," Sehun sebenarnya melihat sekilas Baekhyun yang berpamitan pada Luhan.
"Kau kenal Baekhyun?," Luhan teringat pertemuan tidak sengaja nya dengan Baekhyun ketika Sehun menyebut kalau dia mengenal Baekhyun.
"Aku hanya mengenal dia, karena dia orang yang ditaksir temanku! Kenapa? Kau mengenalnya sayang?," Sehun menyimpan botol minuman nya .
Sehun mengangkat tubuh Luhan yang sama mungilnya seperti Baekhyun, dia kemudian duduk dan mendudukan Luhan dipangkuan nya.
"Dia sahabatku Sehun! Kau ingat gadis yang sering kuceritakan karena membuatku merasa bersalah karena menghilang darinya? Dia adalah Baekhyun," Luhan pernah bercerita pada Sehun jika dia merindukan sahabat kecilnya.
"Benarkah? Wah beruntung sekali sayang, dia bekerja disini kau bisa menemui nya mulai sekarang jika kau merindukan dia." Sehun mengecup bibir Luhan menyesapnya sebentar sebelum dia lepaskan kembali.
"Yang aku heran kenapa dia bekerja disini Sehunie? Dia itu anak orang kaya Sehun, orang tua nya memiliki perusahaan disini," Luhan meletakkan minuman nya dan beralih memeluk Sehun "Apa sesuatu terjadi pada keluarganya sampai dia harus bekerja dan menjadi Office Girls?."
"Temui dia, tanyakan apa yang ingin kau ketahui dari dia selama ini! Jangan mencari informasi dari orang lain ketika sumber informasi itu sendiri berada didekatmu,"
"Ya. Aku akan menemui nya Sehunie,"
"Tapi.." Sehun melepas pelukan nya.
"Tapi apa?," Luhan mengeryit tapi begitu melihat senyuman setan terpampang disudut bibir kekasihnya jelas dia tahu alarm bahaya muncul disana "Oh no." lirih nya
"Tidak ada penolakan, sudah seminggu ini kau meninggalkan ku. Pulang tanpa memanjakan juniorku, sekarang aku harus mengambil jatahku," tanpa menunggu lagi Sehun meraup bibir Luhan yang sudah sangat ia rindukan.
"Tu mppph tunggu Sehun," Luhan mendorong tubuh tegap kekasihnya "Pintunya."
"Sudah aku kunci, dan aku sedang bebas tugas jadi jangan banyak bertanya lagi."
Luhan hanya bisa pasrah ketika perlahan tangan Sehun melepaskan kancing kemejanya dan melorotkan rok pendek miliknya. Memang kesalahan Luhan karena ia pulang dua hari yang lalu dia tidak bisa berlama-lama bertemu dengan Sehun, karena orang tua nya selalu menyuruhnya ini itu ketika Luhan hendak pergi keluar.
Seperti malam-malam sebelumnya, ketika dia berkunjung ke apartemen Sehun, dan hendak melepas rindu dengan kekasihnya itu dia tidak jadi menginap disana, ia pulang setelah mendapat telepon dari orang tua nya yang menyuruh dia pulang. Maka Sehun harus berakhir di kamar mandi pada akhirnya.
Biarkan mereka melepas rindu walau harus bercinta diruangan Sehun, jangan lupa disetiap ruangan dokter juga disediakan tempat tidur walau kecil. Sebenarnya fungsi tempat tidur itu untuk dokter yang beristirahat ketika lelah dengan pekerjaan nya dan tidak sempat pulang. Bukan nya dipakai untuk bercinta, menikmati surga kenikmatan yang tidak dapat di umpamakan dengan kata-kata.
-o0o-
Baekhyun jelas merasakan kalau tubuhnya kecapean, kelelahan. Ia jelas tahu tubuhnya butuh istirahat sehari saja setelah dirinya pingsan karena kekurangan gizi dan melewatkan makan nya berulang kali. Namun jelas Baekhyun sadar jika dia mengeluh pada keadaan, semuanya hanya sia-sia. Tidak ada yang didapat secara cuma-cuma dan gratis didunia ini, semua jelas membutuhkan usaha.
Sungguh Baekhyun butuh istirahat, Sehun tidak berbohong soal Baekhyun yang membutuhkan waktu beberapa hari untuk dia libur bekerja. Karena hal yang ditakutkan akan terjadi kembali pada Baekhyun, seperti saat ini.
"Mmmm kenapa sakit lagi auuhh," Baekhyun meremas perut nya, ia merasakan sakit kembali di area perut nya.
Baekhyun itu egois, maka jelas jika dia akan tetap egois bahkan untuk dirinya sendiri. Baekhyun berjalan dengan susah payah menuju atap rumah sakit, pekerjaan nya sudah selesai, ia bermaksud pergi ke atap untuk berdiam diri disana setidaknya sampai rasa sakit diperutnya berhenti menyerang.
Obat? Bukankah seharusnya Baekhyun meminum obat nya jika dia merasa sakit! Namun Baekhyun lupa membawa obat nya, itulah kesalahan nya dan Baekhyun tidak berpikir jika ia akan kembali sakit seperti ini karena ini sudah terhitung 2 hari berlalu sejak ia dirawat di UGD.
"Kumohon berhentilah terasa sakit," protes nya pada dirinya sendiri .
Kaki nya perlahan ia langkahkan kembali menuju atap, betapa bahagia nya Baekhyun ketika pintu yang menghubungkan nya dengan area atap sudah berada didepan matanya. Namun ketika pintu itu berhasil ia buka dan ia tutup kembali Baekhyun tidak dapat menahan rasa sakit nya lagi.
Brukk
"Aaahhhh," teriak nya dengan masih memegang perut nya. Baekhyun jatuh terkulai lemas dilantai atap rumah sakit dengan wajah yang pucat, nafas yang tersenggal-senggal. Ketika perlahan kesadaran nya mulai merenggut nya untuk terpejam ia mendengar seseorang berteriak panic dan berjalan ke arah nya, memanggil namanya.
"Baekhyun,"
Suara itu, ia kenal suara itu. Suara yang akhir-akhir ini ia dengar, suara yang mampu menggetarkan hatinya, membuat degup jantung nya berdetak tidak beraturan ketika ia berada didekat pemilik suara itu.
"L-loey," suara lemah nya terdengar pilu memanggil Chanyeol.
Chanyeol panik bukan hanya panik, hawatir jelas sangat hawatir, dia saat ini melihat orang yang ingin ia lindungi terbaring dengan wajah menahan sakit terlihat jelas dari wajah Baekhyun.
"Kita ke UGD, kau harus segera mendapat pertolongan," Chanyeol sudah akan menggendong Baekhyun namun tangan Baekhyun menahannya.
"A-andwae," gelengan lemas itu masih bisa terlihat jelas kalau Baekhyun menolak saran dari Chanyeol "A-aku h-hanya butuh istirahat, sebentar." Baekhyun berucap dengan sangat pelan. Beruntung nya telinga lebar Chanyeol masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
"Tapi Baekhyun kau harus..," terhenti karena gelengan lemah itu kembali Baekhyun berikan.
"K-kumohon, aku hanya akan kena masalah jika berada disana, bosku akan menghukum aku lagi Loey,"
Mendengar nya Chanyeol merasa sebuah belati tiba-tiba menancap dengan keras di dadanya. Kenapa dirinya sendiri harus menjadi alasan Baekhyun tidak mau mengobati sakit nya sendiri. Oh mungkin Baekhyun akan marah jika tahu kalau bos yang ia maksud adalah orang yang saat ini merengkuh nya, dan menyarankan nya untuk ek UGD.
Merasa hanya akan sia-sia jika memaksa Baekhyun untuk pergi ke UGD, Chanyeol menyerah. Ia akhirnya mengangkat tubuh Baekhyun dan menidurkan tubuh mungil itu dikursi yang biasa mereka duduki jika menghabiskan makan siang bersama. Sudah seminggu pula, Baekhyun mengetahui kalau Chanyeol yang ia kenal sebagai Loey bekerja rumah sakti Haneul Hospital, sesuai dengan apa yang Chanyeol beritahukan padanya dulu tentang dia yang pindah kerumah sakit ini. Mereka beberapa kali kerap bertemu diluar jam kerja, untuk pergi berbelanja atau pergi taman untuk bersantai.
Chanyeol membuka jas dokter nya, dan menyelimutkan nya pada Baeknyun yang terlihat perlahan memejamkan matanya. Chanyeol tidak diam disana, setelah membaringkan tubuh Baekhyun dia berlari kebawah untuk mengambil obat Baekhyun. Chanyeol sudah melihat hasil tes Baekhyun jadi dia jelas tahu obat apa yang Baekhyun butuhkan.
Jangan lupakan fakta kalau Chanyeol itu seorang dokter, walau sekarang dia hanya berkutat dengan berkas-berkas diruangan nya, tapi tetap saja dia masih seorang dokter cerdas, tidak kalah cerdas dari Sehun. Setelah memastikan obat yang ia cari benar-benar obat yang pas untuk Baekhyun, tanpa menunggu atau pun sekedar menjawab perawat yang menanyakan tentang untuk siapa obat itu? atau kenapa anda membutuhkan obat itu tuan?.
Chanyeol tidak perduli, dia pemilik rumah sakit ini jadi dia bebas bukan jika hanya mengambil obat dirumah sakit miliknya sendiri.
Sebenarnya niat Chanyeol menunggu Baekhyun di atap adalah, dia ingin Baekhyun mencoba menu baru yang baru ia masak untuk Baekhyun makan siang. Sejak saat pertama mereka bertukar makanan, sejak hari itu juga Chanyeol akan menukarkan makanan mereka.
Mungkin jika Baekhyun tahu Loey yang ia kenal adalah Park Chanyeol, si presdir rumah sakit, pemilik rumah sakti Haneul Hospital, mungkin tidak akan semudah itu Chanyeol bisa dekat dengan Baekhyun.
"Baek..Bakehyun" Chanyeol memanggil Baekhyun pelan-pelan karena Baekhyun masih terpejam. Tapi melihat keryitan yang terlihat dari wajah Baekhyun jelas ia tahu Baekhyun berusaha tertidur dengan menahan rasa sakit diperut nya.
Perlahan Baekhyun membuka matanya yang sulit ia buka, namun ai paksakan membukanya karena Chanyeol yang terus memanggilnya
"Baek minum ini dulu, setelah itu kau bisa tidur kembali," Chanyeol menyodorkan segelas air putih dan obat ditangan nya.
Baekhyun bukan anak kecil yang tidak tahu apa yang Chanyeol pegang. Dengan gerakan pelan ia sedikit bangkit dibantu Chanyeol. Baekhyun meminum obat itu tanpa bertanya apa-apa lagi pada Chanyeol. Setelah nya ia merebahkan dirinya lagi dikursi, matanya terasa berat perut nya perlahan tidak terasa sakit lagi. Baekhyun tertidur disana dengan jas dokter Chanyeol menutupi tubuh mungil nya. Chanyeol yang melihat Baekhyun tertidur menghembuskan nafasnya, mengusap wajahnya kasar. Jantungnya terasa tenang, melihat orang yang dia sayangi tertidur tanpa rasa sakit mendera nya lagi.
Chanyeol duduk disamping Baekhyun yang tertidur dikursi, perlahan tangan nya terulur untuk menggenggam tangan Baekhyun dan mencium punggung tangan Baekhyun cukup lama disana.
"Ku mohon jangan sakit Baekhyun, aku tidak mau melihatmu kesakitan seperti tadi, itu membuatku ingin membawamu pulang untuk ku kurung dalam apartemenku, agar kau berhenti bekerja dan hanya beristirahat," Chanyeol tidak beranjak dari sana, dia akan menunggui Baekhyun sampai Baekhyun sadar. Masa bodoh dengan pekerjaannya, dia pemiliknya jika orang-orang mengeluh padanya dia hanya perlu memecatnya, maka masalah beres.
Menunggu sampai Baekhyun sadar lebih penting saat ini. Sebenarnya bisa saja Chanyeol membawa Baekhyun keruangan nya, tapi jika karyawan lain melihat nya tentu gosip akan menyebar, jika terjadi seperti itu Baekhyun bisa mengetahui siapa dirinya. Chanyeol harus menunggu sampai Baekhyun mau menjadi kekasihnya, lalu menyuruhnya berhenti bekerja dirumah sakit ini, dengan begitu ia aman.
Beruntungnya Chanyeol, karena Baekhyun itu memiliki sikap cuek masa bodoh tentang urusan orang lain. Karena itu juga dia tidak mau tahu menau soal presdir rumah sakit yang terkenal sangat tampan dikalangan perawat maupun dokter wanita, yang selalu Baekhyun dengar jika dia melewat disaat mereka yang sedang bergosip.
2 jam berlalu hari sudah menunjukan menjelang sore.
Baekhyun mengerjap, ia membuka kelopak matanya dan mencoba mencerna dimana dia saat ini. Sedetik kemudian dia sadar jika dia tengah berada di atap setelah merasa sakit diperutnya. Ah Baekhyun teringat rasa sakit diperutnya, ia kembali mengingat dan ya ia ingat Loey memberinya obat.
'Loey' batinnya memanggil Chanyeol.
Ia hendak bangkit namun ketika sebuah tangan menggenggam tangan nya erat, Baekhyun baru sadar jika Chanyeol yang ia tahu adalah Loey tengah tertidur disana, duduk dilantai dan kepala yang menyender sebagian kekursi, tangan nya yang menggenggam erat tangan Baekhyun.
Baekhyun terdiam berpikir, apa yang harus ia lakukan tangan nya masih di genggam erat, apa dia harus membangunkan pria ini?. Ketika Baekhyun hendak memanggil Chanyeol agar terbangun, saat itu juga Chanyeol mengangkat kepalanya dan melihat Baekhyun yang juga melihat ke arah nya. Dan detik selanjutnya Baekhyun dibuat terkejut karena tindakan tiba-tiba Chanyeol yang memeluknya.
"Baekhyun kau baik-baik saja kan?," Chanyeol masih memeluk tubuh Baekhyun tanpa niatan melepaskan nya.
"A-aku baik-baik saja Loey! Bisa kau lepaskan pelukanmu, aku merasa sesak," bohong nya, karena yang sebenarnya Baekhyun merasa tidak enak dipeluk oleh pria ini.
"Ahh maaf, aku terlalu hawatir padamu" Chanyeol melepaskan tubuh Baekhyun.
Yang Baekhyun inginkan pria ini melepasnya dan memberinya jarak, bukan nya menatap nya dengan kedua tangan si pria yang berada dikedua pipinya. Baekhyun hendak protes agar Chanyeol melepaskan tangan diwajahnya, namun hal yang diluar dugaannya kembali terjadi.
Chanyeol mencium nya...dibibirnya...
"Mpppptttthhh Looeee..," Baekhyun membulatkan matanya sempurna karena tindakan Chanyeol yang menciumnya.
Pikiran nya ingin untuk sekedar mendorong tubuh Chanyeol, dan menampar pria ini karena berani menciumnya. Namun apa daya ketika tubuh dan pikiran nya tidak singkron. Tubuhnya bereaksi lain terhadap ciuman Chanyeol. Bukan nya mendorong tubuh Chanyeol ketika tangan nya mendarat didada bidang pria itu, tapi yang Baekhyun lalukan justru meremat kemeja Chanyeol dan mengikuti permainan ciuman Chanyeol, yang perlahan membuat nya lupa jika ia tidak boleh berharap lebih pada pria ini.
Ciuman itu terasa pelan dan lembut, Chanyeol seolah menyalurkan perasaan nya didalam ciuman itu, Chanyeol menyesap belahan bibir bawah Baekhyun dengan pelan dan berhati-hati seolah disana akan tergores jika kau menyesapnya terlalu keras dan kuat. Ingat Chanyeol tidak ingin menyakiti Baekhyun.
Ciuman itu masih berlangsung, Baekhyun menerima nya, ia ikut terlarut dalam ciuman yang Chanyeol berikan padanya. Dengan posisi Chanyeol yang setengah berlutut harusnya ia merasa pegal, tapi karena ciuman nya ia terlalu larut, masa bodoh dengan pegal nanti juga sembuh sendiri. Chanyeol melepaskan ciuman itu ketika dirasa baik ia dan Baekhyun sama-sama kekurangan oxigent diparu-paru mereka, ia tidak mau mati bersama Baekhyun hanya karena ciuman, ia masih ingin membuat gadis ini bahagia bukan mati karena kekurangan oxigent saat ciuman.
"L-loey.," panggil Baekhyun, ingat jika disini yang Baekhyun tahu Chanyeol itu namanya Loey.
"Aku tidak akan meminta maaf Baekhyun, karena aku sudah ingin melakukan ini sejak kita selalu menghabiskan waktu bersama! Bukan karena aku ingin memuaskan nafsuku tapi karena aku menyanyangimu dan karena aku...," Chanyeol menghembuskan perlahan nafasnya.
"Aku jatuh cinta padamu Baekhyun,"
Cinta... cinta itu apa? Perasaan sayang? Ada yang bilang cinta dan sayang itu tidak sama, karena cinta itu bisa berubah kapan saja dan datang kapan saja, tapi tidak dengan sayang, ketika kita menyayangi seseorang pasti kita akan terus sayang pada orang itu.
