Happy Reading...
.
.
"Kau tidak langsung bekerja Loey?," Baekhyun membuka sabuk pengaman yang ia kenakan untuk segera turun dan masuk ke rumah sakit, ia sudah hampir terlambat sekarang. Chanyeol memberhentikan mobil nya hanya dipinggiran jalan depan rumah sakit.
"Tidak Baek, aku shift siang hari ini," bohong nya, tentu saja Chanyeol bebas jika ia ingin datang siang. Karena ia sendiri presdir nya, setidak nya ia bisa beralasan ada keperluan lain ketika pegawai nya bertanya kenapa ia baru datang siang hari.
"Ahh baiklah kalau begitu aku duluan," Baekhyun hendak membuka pintu namun gerakan nya terhenti ketika Chanyeol menarik nya, dan memberikan sebuah kecupan lembut dibibir nya dengan sangat cepat.
"Jangan lupa kau harus memakan sarapanmu, kita akan bertemu nanti diatap," Chanyeol berucap pelan didepan bibir Baekhyun, mampu mambuat Baekhyun hanya memejamkan matanya karena masih syok dengan ciuman yang Chanyeol berikan.
"Kau akan terlambat Baek,"
Tersadar dengan perkataan Chanyeol, Baekhyun membuka matanya dan segera berlari keluar tanpa mengucapkan apa-apa lagi pada Chanyeol, namun dapat Chanyeol ketahui jika Baekhyun tengah malu saat ini.
Chanyeol tersenyum lebar melihat Baekhyun. Ia bahagia sekarang, karena Baekhyun sudah mau memberikan padanya kesempatan untuk mendekatinya lebih jauh. Mungkin beberapa hari lagi ia bisa mendapat jawaban kalau Baekhyun akan menerima nya dan mau menjadi kekasih nya.
Baekhyun melangkah kedalam rumah sakit dengan senyuman terukir diwajah nya, membuat ia semakin terlihat cantik walau saat ini ia sudah memakai seragam office girls nya. Menyadari ia akan terlambat ia memutuskan untuk memakai seragam nya pagi tadi agar ia bisa langsung bekerja. Baekhyun melewati kantin rumah sakit dengan santai.
"Baekhyunie!,"
Langkah nya terhenti, ketika sebuah teriakan dari suara yang tidak asing menyapa indera pendengaran nya. Baekhyun menoleh kekanan dan ke kiri namun ia hanya melihat beberapa suster yang berlalu lalang keluar dan masuk kantin, ada pula yang menatap tidak suka padanya begitu melihat seragam yang Baekhyun kenakan. Ketika ia hendak melangkah kembali, ia kaget dengan sebuah tarikan pada tangan nya.
"Kau mengacuhkanku hah?," Luhan berdiri disana dengan seragam dokter nya dan memegangi tangan Baekhyun. tak jauh dari Luhan duduk Oh Sehun yang sedang memperhatikan keduanya.
"Lu-han! Aku tidak mengacuhkanmu, hanya saja aku tidak tahu jika kau yang memanggilku," Luhan memasang wajah tidak percayanya "Aku bersumpah!." tambah nya meyakinkan Luhan.
"Ya sudah sekarang gabung denganku, kita sarapan karena aku yakin kau pasti belum sarapan," Luhan mengajak Baekhyun duduk bersama dengan nya dan Sehun. Sontak para penghuni kantin memandang ke arah nya. Baekhyun dibuat risih dengan tatapan mereka.
"Eumm Luhan sebaiknya aku harus segera bekerja, aku bisa sarapan ditempat lain," Baekhyun hendak bangkit lagi namun Luhan menatap nya dengan tatapan marah khas Luhan.
Wajah datar yang terkesan digalak-galakan, kedua bola mata yang melotot padanya dan tangan yang sudah bersilang didepan dadanya. Baekhyun jelas tahu jika Luhan marah tapi melihat tatapan sekitar membuat nya semakin bingung memilih.
"Aku mohon Luhan mengertilah aku tidak nyaman dengan tatapan mereka semua," Baekhyun berbicara pelan lebih terdengar berbisik, namun masih bisa didengar oleh Luhan dan Sehun yang berada didepan mereka berdua.
Luhan mengerdarkan pandangan nya dan benar semua orang langsung berpaling begitu Luhan melihat kearah mereka semua, seolah baru kepergok oleh nya. Luhan berdiri kemudian berteriak dengan lantang.
"Jika kalian masih memandangi sahabat ku dengan tatapan seperti itu, maka aku tidak segan-segan akan mencongkel mata kalian satu persatu! Kalian dengar itu," setelah nya Luhan duduk kembali disamping Baekhyun "Cha kita sarapan."
Seolah tidak terjadi apa-apa Baekhyun yang sudah hapal sifat Luhan memilih mengabaikan apa yang baru saja dilakukan sahabatnya, ia memilih mengeluarkan bekal sarapan yang dibuat Chanyeol untuk nya.
"Apa itu?," tanya Luhan yang awal nya ingin memberikan sarapan yang sengaja ia ambil untuk Baekhyun.
"Sarapanku," Baekhyun mulai menyuapkan pancake ke mulut nya.
"Kau membuat nya?,"
"Tidak! Ini buatan Loey," ucap nya sampai akhirnya ia menyadari jika ia telah keceplosan yang membuat Luhan dan Sehun menatap nya.
"Loey?," Luhan tampak berpikir dan otak nya sedang memikirkan nama Loey, sampai akhirnya ia ingat jika Loey adalah Chanyeol "Maksudmu Chanyeol?."
Sehun mulai melotot paniK, menelan saliva nya dengan kasar ketika Luhan menyebut nama Chanyeol dihadapan Baekhyun.
"Chanyeol?," Baekhyun bingung "Siapa Chanyeol? Ini pancake buatan Loey, temanku bukan Chanyeol," ketika Baekhyun teringat jika Chanyeol adalah presdirnya Baekhyun kembali berbicara "Ah Chanyeol presdir kita? Jangan bercanda Luhan aku tidak sedekat itu dengan presdir rumah sakit sampai ia bisa membuat kan sarapan ku, melihat nya saja aku baru sekali."
Sehun ingin mengintrupsi obrolan mereka agar tidak membahas Chanyeol, namun yang terjadi adalah Luhan kembali membocorkan rahasia besar Chanyeol.
"Baek kau tidak tahu nama panggilan presdir kita itu Loey? Nama aslinya adalah Chanyeol dan dia sahabat Sehun juga temanku,"
"UHUK UHUK," Baekhyun mengambil air minum yang tersedia didepan nya "Apa maksudmu?."
"Loey itu Chanyeol, presdir rumah sakit ini! Dan kau bilang apa tadi, dia teman mu? Waw daebak kau bertemu dengan dia dimana Baek? Kau tahu dia juga temanku," Luhan yang tidak tahu apa-apa tanpa berdosa bertanya dengan riang. Sementara Baekhyun mengalihkan tatapan nya pada Sehun.
"Apa maksud nya Luhan? Apa benar itu?," tanya nya dengan wajah serius membuat Luhan semakin tidak mengerti.
"Mmmm itu itu!," Sehun gugup, entah apa yang harus ia katakan saat ini. Ia merasa lebih baik Chanyeol yang menjelaskan semuanya kepada Baekhyun, ketimbang dirinya. Akan lebih baik Baekhyun tahu dari Chanyeol sendiri bukan dari orang lain, walau sekarang Luhan secara tidak langsung telah memberitahukan nya.
Baekhyun bangkit dari duduknya, ia mengambil bekal nya.
"Baiklah akan ku pastikan sendiri," Baekhyun pergi dari yang semakin bingung hanya menoleh ke arah Baekhyun dan ke arah Sehun secara bergantian dan akhirnya bertanya.
"Apa aku salah bicara? Dan sebenarya ada apa?,"
Sehun menghela nafasnya "Kau baru saja membocorkan rahasia Chanyeol pada Baekhyun,"
"Mwo? Apa maksudmu?,"
"Chanyeol berbohong pada Baekhyun tentang identitas nya. Ia mengaku sebagai dokter umum dirumah sakit ini, bukan seorang presdir. Ia mengakui namanya adalah Loey bukan Chanyeol! Dan kau baru saja memberitahu sahabatmu itu fakta yang selama ini kami sembunyikan,"
"Oh my good," Luhan menutup mulut nya "Itu berarti sebentar lagi mereka pasti akan bertengkar bukan? Dan itu semua gara-gara aku." Luhan menunjuk dirinya sendiri.
"Yap kau benar sekali sayang," Sehun mengangguk setuju disaat Luhan terlihat tengah hawatir.
"Ahh ottoke? Chanyeol pasti akan marah padaku," Luhan memasang wajah cemberut dan hawatir nya. Dan Sehun tidak tahu harus berbuat apa.
Sepanjang waktu menuju jam makan siang, Baekhyun bekerja dengan terus dibayang-bayangi tentang apa yang baru ia dengar dari Luhan, berhasil membuat nya bekerja dengan pikiran yang semberawut dan tidak pokus. Untung saja Baekhyun tidak menyebabkan masalah, sehingga ia menyelesaikan pekerjaan nya dengan baik dan kini ia sudah menunggu kedatangan Chanyeol, alias Loey yang janji akan bertemu dan makan siang bersama ditempat biasa, atap rumah sakit.
Ponsel nya tiba-tiba berbunyi mengintrupsi Baekhyun dalam lamunan nya. Baekhyun melihat dan nama Loey tertera disana, dengan senyuman terukir di bibir nya Baekhyun mengangkat telepon itu.
"Loe..," Belum sempat Baekhyun menyapa namun Chanyeol sudah berbicara dengan memotong ucapan Baekhyun.
"Baekhyun maaf, aku tidak bisa makan denganmu siang ini. Aku ada operasi dadakan, kau bisa kan makan sendirian hari ini saja?." ucap Chanyeol disebrang sana
Baekhyun tidak menjawab ia memilih diam dan menjawab seadanya "Mmmm baiklah, selamatkan pasien mu, jangan sampai keluarga nya bersedih," ucap Baekhyun menyemangati.
"Tentu saja aku akan menyelamatkan pasien ku, nanti sore kita bisa pulang bersama, aku akan menunggumu diparkiran! Ah dan Baekhyun aku mencintaimu, sampai jumpa nanti sore,"
"Mmm sampai jumpa." Baekhyun menutup telepon itu.
Bukan nya makan seperti apa yang diperintahkan Chanyeol padanya, Baekhyun justru bangkit dan berlari kebawah, ia harus memastikan sesuatu saat ini. Baekhyun berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa dengan tidak sabaran, saat ini ia harus menuju ke satu tempat, yaitu ruang operasi untuk memastikan apa benar Chanyeol sedang melakukan operasi dengan dokter lain nya disana.
Mengabaikan tatapan orang-orang yang melihat nya berjalan lebih terkesan terburu-buru, Baekhyun akhirnya sampai didepan ruang operasi dan satu kenyataan yang membuat nya sakit adalah disana sedang tidak ada tindakan operasi sama sekali, dan itu berarti Chanyeol yang saat ini masih Baekhyun anggap Loey telah berbohong padanya.
Maka dengan satu tekad kuat, Baekhyun memutuskan melangkahkan kaki nya ke tempat yang ia yakini ada Loey alias Chanyeol disana. Ruangan presdir, tempat dimana terakhir kali ia kesana untuk menerima hukuman nya.
Baekhyun sudah berada dilantai tepat dimana ruangan presdir berada, dari kejauhan ia tidak melihat sepupu nya berada ditempat ia biasanya duduk, sepertinya ia sedang istirahat makan siang saat ini. Baekhyun pun membuka pintu ruangan Chanyeol sekaligus yang untung nya tidak menimbulkan suara gaduh yang kentara.
Dan Baekhyun mendapati seorang yang ia cari, tengah duduk memeriksa beberapa berkas dengan kacamata baca bertengger dihidung mancung nya. Chanyeol belum menyadari kehadiran Baekhyun, ia justru menyangka itu adalah sekretarisnya, maka tanpa melihat ke arah pintu Chanyeol berbicara seolah ia tengah berbicara pada sekretaris nya.
"Ada apa Joy? Kenapa kau masuk secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintu? Kau tidak lihat aku sedang sibuk?," Chanyeol masih pokus pada berkas-berkas yang tengah ia baca.
Baekhyun diam disana memperhatikan orang yang akhir-akhir ini memenuhi hati nya, orang yang berhasil membuat nya kembali merasakan jatuh cinta.
Namun satu fakta yang ia dapati sekarang adalah orang yang ia kenal dan ia tahu adalah Loey, ternyata adalah seorang presdir rumah sakit Haneul Hospital, tengah duduk di kursi kebanggaan nya dengan nama terpampang jelas di meja nya 'Park Chanyeol'.
Merasa orang yang ia pikir sekretaris nya itu tidak menyahutnya, Chanyeol kembali berbicara memanggil Joy, sekretarisnya.
"Mengapa kau hanya diam saja disitu? Jika ada yang ingin kau laporkan cepat katakan aku masih harus mengerjakan beberapa berkas sialan ini," Chanyeol sedikit memasang wajah kesal, ia kesal dengan berkas-berkas di meja nya yang membuat ia tidak bisa makan siang dengan Baekhyun.
"Jadi kau Park Chanyeol, Presdir baru rumah sakit ini, bukan Loey temanku? Apa nama Loey itu cuma nama panggilanmu dan nama aslimu Park Chanyeol?,"
DEG
Mendengar suara yang sangat teramat familiar ditelinga nya membuat Chanyeol gemetar ditempat nya, semoga saja suara yang ia dengar saat ini hanya orang lain yang memiliki suara yang sama dengan seseorang yang amat dia cintai. Chanyeol menggerakan kepalanya perlahan untuk memastikan bahwa seseorang yang ia dengar bukan lah orang yang ada dipikiran nya. Namun begitu pandangan nya bersitatap dengan orang yang berdiri dipintu ruangan nya, ia menelan saliva nya dengan kedua bola mata terlihat yang sudah kebingungan.
"B-baekhyun," gagap nya sambil berdiri dari duduk nya untuk berjalan menghampiri Baekhyun "Aku bisa menjelaskan semuanya Baek, jangan salah paham dulu."
"Menjelaskan apa? Kau yang sebenarnya bernama Chanyeol, yang ternyata presdir ku, atau kau ingin bilang kau membohongiku karena memiliki alasan? Baiklah aku akan mendengarkan penjelasanmu karena setidak nya aku akan tahu alasan pasti kau membohongiku," Baekhyun tetap berdiri ditempat nya sementara Chanyeol sendiri sudah mendekat ke arah nya.
"Ak-aku berbohong padamu karena aku menyukaimu sejak aku melihatmu pertama kali di pesta itu, tapi aku tahu sangat bersikap dingin terhadap orang-orang yang memiliki jabatan tinggi dan berkuasa, maka dari itu aku hanya mengakui diriku sebagai dokter dan memilih mengenalkan nama panggilanku bukan nama asliku, ku mohon jangan marah padaku," Chanyeol berniat memegang tangan Baekhyun namun Baekhyun beringsut mundur menghindarinya.
"Dengan cara membohongiku seperti itu? Kau bilang kau menyukaiku? Tapi kau berbohong padaku, apa dengan caramu berbohong kau bisa memilikiku? Apa kau berniat kau membohongiku selamanya?," kedua bola mata Baekhyun sudah memerah menahan air mata nya yang sedang berlomba ingin membasahi pipinya.
"A-aku berniat memberitahumu tapi tidak sekarang-sekarang Baek," Chanyeol berusaha mendekat lagi, namun kali ini Baekhyun berseru kencang.
"STOP," Baekhyun menahan pergerakan Chanyeol dengan mengangkat kedua tangan nya "Jangan mendekatiku aku butuh waktu untuk berpikir, jangan pernah menemuiku,"
Baekhyun berbalik dan meninggalkan Chanyeol disana dengan sesak dihatinya. Entah Baekhyun sendiri tidak mengerti kenapa hatinya terasa sakit mengetahui Chanyeol berbohong padanya, padahal ia bukan seseorang yang penting di kehidupan Chanyeol. Mengingat mereka belum berpacaran sama sekali. Tapi kebohongan yang dilakukan Chanyeol berhasil membuat Baekhyun berpikir jika semua lelaki itu sama saja.
Chanyeol mengepalkan tangan nya kesal, marah karena Baekhyun mengetahui nya dan membuat Baekhyun menjauh darinya, seharusnya memang dari awal ia tidak berbohong kepada Baekhyun, dan akan lebih baik ia mengenalkan dirinya dengan nama aslinya bukan nama panggilan nya.
"ARRGHHHHH SIAL"
-o0o-
Baekhyun membawa ember dan dan sebuah lap ditangan nya, setelah dari ruangan Chanyeol ia sempat menangis sebentar dibelakang rumah sakit dan saat ini ia harus kembali bekerja. Kyungsoo menyuruh nya untuk mengelap kaca besar yang berada di bagian depan rumah sakit. Dan saat ini Baekhyun akan mengerjakan nya.
Namun ketika ia berjalan dengan pikiran kosong ia tidak sadar jika ada seorang ahjumma yang sedang sibuk dengan ponsel nya tengah berjalan berlawanan arah dengan nya. Dan saat ahjumma itu semakin dekat dengan Baekhyun ia bertabrakan dengan ahjumma itu, yang berhasil membuat ember berisi air yang ia bawa tumpah ke pakaian ahjumma tersebut, membasahi celana nya dan juga tas nya yang terlihat mahal.
"AAHHHHHH," ahjumma itu berteriak kaget karena celana nya dan tas nya yang basah "GADIS SIALAN APA KAU TIDAK MEMBUKA KEDUA MATAMU HAH."
Baekhyun yang diteriaki seperti itu membuat nya ketakutan sekaligus kaget, ia menunduk meminta maaf pada ahjumma itu.
"Maafkan saya, maaf," Baekhyun membungkuk beberapa kali berusaha meminta maaf, namun yang ia dapat selanjutnya adalah sebuah tamparan keras mengenai pipinya.
"MAAF KAU BILANG? KAU TAHU HAH KAU SUDAH MEMBASAHI TAS MAHALKU," keributan yang dibuat ahjumma tersebut berhasil membuat orang-orang memandang ke arah mereka. Kini keduanya menjadi bahan tontonan orang-orang yang berada disana, tanpa ada niatan dari salah seorang pun untuk merelai pertengkaran itu.
Baekhyun sendiri sudah memegangi pipinya karena merasakan panas dan sakit akibat tamparan keras dari ahjumma tersebut. Dalam hidupnya itu adalah tamparan pertama yang ia terima, karena orang tua nya sendiri tidak pernah menamparnya. Baekhyun hanya terdiam menerima ocehan dari ahjumma itu bahkan ia diam saja ketika ahjumma itu menyiramkan jus yang dipegang nya ke atas kepala Baekhyun.
"KAU GADIS SIALAN AKU AKAN MEMINTA ATASANMU UNTUK MEMECAT MU SEKARANG JUGA,"
"M-maafkan s-saya," Baekhyun berucap terbata karena air mata nya sudah menetes sekarang.
Bukan nya memaafkan Baekhyun ahjumma itu justru kembali mengangkat tangan nya untuk menampar Baekhyun. Namun sebuah tangan berhasil menahan tangan ahjumma itu dan menghempas kan nya. Tentu saja ahjumma itu tidak terima diperlakukan seperti itu.
"Apa yang kau lakukan anak muda?,"
Chanyeol mengeluarkan dompet nya mengambil lembaran dollar didalam dompet nya.
"Kurasa ini cukup untuk mengganti baju dan tas anda," Chanyeol memberikan uang itu "Lain kali jika pegawaiku melakukan kesalahan setidak nya anda bisa langsung melaporkan nya padaku, tanpa melakukan tindakan arogan seperti barusan, itu sudah termasuk tindak kekerasan,"
Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan membawa nya keluar dari keributan itu, tindakan yang Chanyeol lakukan berhasil membuat para gadis perawat ataupun dokter wanita yang mengidolakan Chanyeol mencelos melihat Chanyeol menggandeng Baekhyun pergi. Mereka berdua kini sudah berada didalam mobil Chanyeol yang tengah Chanyeol kendarai, Chanyeol membawa Baekhyun keluar dan pergi dari rumah sakit.
"Kau bisa menurunkan ku di halte bis," ucap Baekhyun.
Chanyeol yang melihat rambut dan sebagian wajah Baekhyun yang kotor karena tersiram jus berniat untuk mengelapnya, saat mereka berhenti karena lampu lalu lintas yang menyala berwarna merah. Namun niat baik nya ditolak oleh Baekhyun yang mengambil alih sapu tangan yang dipegang Chanyeol.
"Aku bisa melakukan nya sendiri," Baekhyun mengelap sisa sisa noda jus nya sendiri, saat pandangan nya terarah ke luar mobil, ia melihat ada halte bis disebrang jalan, ia pun menaruh sapu tangan yang diberikan Chanyeol.
"Terima kasih tumpangan nya, aku bisa pulang sendiri," Baekhyun membuka pintu mobil Chanyeol dan keluar dari mobil Chanyeol berjalan ke arah halte bis.
Lampu hijau menyala selang beberapa menit, Chanyeol pun menepikan mobil nya untuk menyusul Baekhyun.
"Baek aku akan mengantarkan mu,"
"Tidak perlu aku bisa pulang sendiri," Baekhyunt tidak memandang Chanyeol ia memilih melihat jalanan menunggu bis datang.
"Maafkan aku Baek, tolong jangan mengacuhkanku seperti ini," Chanyeol berdiri dihadapan Baekhyun yang duduk dikursi halte.
"Bisakah kau menyingkir? Kau mengahalangi pemandanganku," jawab Baekhyun ketus
"Aku tahu aku bersalah aku mohon maafkan aku, aku menyukaimu, aku mencintaimu aku hanya tidak ingin kau menjauh jika aku berkata tentang identitasku," Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun tapi reaksi yang Chanyeol dapat adalah Baekhyun yang marah.
"BUKANKAH AKU BILANG UNTUK MENYINGKIR," teriak Baekhyun dan ia sudah berdiri sekarang dengan dada naik turun karena menahan emosi. Untung dihalte itu sedang sepi, jadi Baekhyun tidak malu bertengkar dengan Chanyeol.
"Mulai saat ini jangan muncul dihadapanku, jangan pernah menemuiku. Karena aku tidak ingin bertemu denganmu lagi dan aku membencimu mulai saat ini, kau harusnya tahu jika aku benci dibohongi," Baekhyun berjalan ke pinggir jalan karena bis sudah terlihat mendekat "Dan satu lagi, aku akan mengundurkan diri dari rumah sakit mu secepatnya."
Baekhyun pun naik kedalam bis, meninggalkan Chanyeol yang termenung dan meneteskan air matanya. Chanyeol bukan cengeng, jika kalian berada diposisi Chanyeol mungkin kalian juga akan meneteskan air mata kalian, karena sakit yang ia rasakan terhadap penolakan Baekhyun.
Tidak jauh berbeda dengan Chanyeol, didalam bis Baekhyun yang duduk dibelakang menahan tangis nya dengan menunduk, membuat orang yang berada didalam bis bersamanya sesekali mencuri pandang padanya. Ah biarkan saja, pasti semua orang bisa menyimpulkan kalau ia tengah bertengkar dengan kekasih nya, cinta anak muda yang sedang di uji.
Baekhyun tidak mengerti dengan hatinya, ia hanya kesal mendapat kenyataan Chanyeol berbohong padanya, ia sangat benci dibohongi, tapi ketika mengucapkan kata-kata yang begitu kejam pada Chanyeol hatinya juga merasakan sakit. Sepertinya Baekhyun butuh waktu sendiri saat ini.
Hari telah berganti hari, dan pagi ini Baekhyun memilih membolos bekerja untuk sekedar menangkan hati dan pikiran nya. Baekhyun tidak tahu mengapa begitu banyak orang membohonginya, baru saja ia bersyukur bertemu dengan Chanyeol yang menerima nya walau dirinya seorang yang tidak memiliki apa-apa selain diri nya sendiri, namun ternyata Chanyeol yang Baekhyun ketahui bernama Loey adalah Park Chanyeol presdir sekaligus pemilik rumah sakit Haenul Hospital tempat ia bekerja.
Baekhyun hanya ingin mengerti akan yang telah terjadi, walau Chanyeol menjelaskan padanya tentang kenapa ia tidak mengakui kalau dirinya adalah presdir ditempat ia bekerja bahwa karena dia mencintai Baekhyun, namun tetap saja Baekhyun merasa dia sakit hati, terlebih oleh Chanyeol orang yang saat ini berhasil menyinari hatinya yang semula membeku, dan enggan menerima lelaki manapun untuk sekedar mampir dalam kehidupan nya. Baekhyun hanya trauma, ia takut akan berakhir sama dengan hubungan terakhir kali dirinya dengan kekasih nya setelah mengetahui keadaan ekonomi Baekhyun.
Dan kali ini Baekhyun takut untuk bertemu Chanyeol, takut jika kejadian dulu terulang lagi padanya. Sebagian hatinya ingin Chanyeol, namun sebagian hatinya yang lain menyuruh untuk Baekhyun tidak memaafkan Chanyeol. Baekhyun memeluk lutut nya sangat erat dan menenggelamkan kepalanya disana, mencoba menenangkan dirinya namun yang terjadi adalah ia menangis.
"Hikss hikss," isakan nya terdengar samar-samar karena teredam oleh posisi nya yang duduk menekuk lututnya yang ia peluk erat.
Semakin lama ia berpikir semakin rasa sakit itu menyerang, rasa sakit dihatinya, hatinya yang menginginkan Chanyeol tetap berada dalam jangkauan nya, namun Baekhyun cukup sadar diri posisi nya ia hanya seorang Office Girls, gadis miskin yang tidak punya apa-apa. Bahkan hanya untuk tinggal saja ia harus menyewa apartemen sederhana pinggiran kota.
Makan? Makan pun harus ia lakukan sekali dalam sehari, hanya untuk menghemat biaya hidup nya dan menabung untuk melanjutkan kuliah nya. Belum lagi penyakit aneh yang akhir-akhir ini semakin sering datang menyerang, menyerang perut nya yang membuat ia selalu menahan rasa sakitnya bahkan itu ketika ia bersama Chanyeol.
Baekhyun memang ahli dalam berakting, menyembunyikan semuanya. Namun biarkan saat ini ia mengeluh tentang kehidupan nya, biarkan ia menuangkan segala kesedihan yang selama ini ia pendam seorang diri agar orang tidak mengetahui penderitaan nya. Biarkan Baekhyun bersikap layaknya anak gadis seumuran nya yang jika sakit hati meluangkan nya dengan menangis. Biarkan Baekhyun mengeluarkan segala keluh kesahnya karena besok ia harus kembali berakting menjadi gadis tegar yang seolah semuanya baik-baik saja.
"Hikss hikss Loey,"
Baekhyun tidak berbohong ketika hatinya tersentuh oleh setiap perlakuan yang ia terima dari Chanyeol. Baekhyun menyukai nya, Baekhyun sangat menyukai bagaimana ia selalu diperlakukan menyenangkan oleh Chanyeol, bagaimana Chanyeol yang selalu menunggu nya diatas atap rumah sakit, untuk makan siang bersama dengan nya lalu bertukar menu makan siang, yang Baekhyun yakini Chanyeol sengaja membuat menu yang berbeda-beda setiap hari hanya untuk dirinya.
Baekhyun menyukai bagaimana ketika Chanyeol mencium nya dengan lembut menyatakan perasaan nya bahwa Chanyeol menyukai nya. Baekhyun bahkan sangat menyukai pelukan hangat Chanyeol yang mampu membuat nya bermimpi indah setiap malam. Chanyeol mampu membuat padang pasir tandus dihati Baekhyun menjadi sebuah padang rumput hijau penuh bunga. Hatinya terisi, hatinya berbunga, hatinya tersentuh, hatinya kini terpenuhi oleh satu nama yang sedang ia ucapkan dalam tangisan nya saat ini, Loey.
"M-maaf Lo-loey hikss," Baekhyun menyesal.
Menyesal mengabaikan Chanyeol, dan menyuruh lelaki itu untuk menjauh dari hidupnya bahkan untuk tidak muncul lagi dihadapan nya. Mungkin jika hubungan mereka antara pegawai dan atasan, Baekhyun sudah dipecat karena berteriak dan memerintahkan bos nya untuk tidak muncul dihadapan nya dan mengatakan bahwa ia membencinya.
Sekarang Baekhyun menyesal mengatakan membenci Chanyeol.
Katakan saja Baekhyun terdengar seperti wanita jahat yang membentak dan memarahi Chanyeol, ketika ia mengetahui kenyataan bahwa Chanyeol berbohong padanya. Namun Baekhyun hanya tidak ingin ia mengalami rasa sakit kembali ditinggal oleh kekasih nya sendiri.
Karena secara ia tidak sadari rasa sayang nya pada Chanyeol telah berubah menjadi rasa cinta, ia merasakan perasaan yang berbeda dibanding ketika ia mencintai mantan-mantan kekasihnya. Baekhyun seolah tertarik pada magnet kuat yang hanya pada Chanyeol ia tertarik, dan ia menyesal sekarang.
Apa ia harus menemui lelaki itu sekarang? Mengatakan ia menyesal atas semua perlakuan jahat nya pada Chanyeol, yang telah mengabaikan Chanyeol dan mengatakan membenci Chanyeol. Apa Baekhyun berhak jika sekarang ia berlari ke arah Chanyeol untuk memeluk Chanyeol dan mengatakan padanya kalau sebenarnya ia 'Mencintai Chanyeol'.
Ketika pikiran nya kalut samar-samar Baekhyun mendengar suara ketukan pada pintu apartemen nya. tapi Baekhyun membiarkan nya karena mungkin saja itu tetangganya. Baekhyun sedang tidak ingin diganggu saat ini, ia hanya ingin sendiri dan menangis sampai rasa penyesalan itu tidak kembali hadir dalam hatinya. Dan seingat Baekhyn ia tidak mengunci pintu apartemen nya jadi biarkan saja orang itu masuk, jika orang yang masuk adalah orang jahat Baekhyun akan memasrahkan dirinya dengan begitu mungkin penderitaan nya akan berakhir.
Ketukan dipintu apartemen nya terdengar, namun Baekhyun masih mengabaikan nya dengan terus menangis dalam posisi nyaman memeluk lutut nya. Hingga akhirnya ketukan itu tidak terdengar kembali, dan digantikan oleh sebuah suara yang memanggil namanya. Yang Baekhyun kenali suara itu adalah suara milik Luhan, sahabat nya.
"Baekhyun!," Luhan menghampiri Baekhyun yang menangis.
Baekhyun mendongkak ketika mendapati Luhan berjongkok dihadapan nya, ia segera berhambur memeluk Luhan dan menangis semakin menjadi-jadi.
"Hikss Hikss L-luhan a-aku a-ku," Baekhyun tidak bisa hanya untuk sekedar berbicara pada Luhan karena tangisan nya yang semakin tidak bisa ia kendalikan. Mungkin jika ditanya dimana letak posisi Luhan dalam hidup Baekhyun, maka ia akan menempati posisi sejajar dengan mendiang Eomma nya yang sudah meninggal, karena baik Luhan dan Eomma nya keduanya sama-sama selalu menyayanginya melebihi orang lain. Dan Baekhyun beruntung karena itu.
"Kau kenapa Baek? Bicaralah aku akan mendengarkanmu!," Luhan ikut berkaca-kaca ketika sahabatnya itu menangis dalam pelukan nya dengan begitu kencang "Setidak nya kau harus berhenti menangis jika kau ingin menceritakan nya padaku."
"A-aku a-aku hikss aku mencintai nya, aku mencintai Loe- ahh ani, aku mencintai Chanyeol luhan,"
Baekhyun menangis kencang begitu mengatakan kalau ia mencintai Chanyeol. Luhan yang semula ingin ikut menangis melihat Baekhyun menangis, mengurungkan niat nya. Ia justru sekarang tersenyum lebar dibalik punggung Baekhyun, mendengar Baekhyun mengakui kalau dia mencintai Chanyeol.
Luhan menepuk punggung Baekhyun lembut agar sahabat nya itu lebih tenang walau sebenarnya Luhan sangat ingin saat ini dia menyeret Baekhyun untuk menemui Chanyeol di apartemen nya, tapi ia masih waras untuk tidak membuat Baekhyun nanti nya menolak mentah-mentah niat baik nya.
"Bagaimana sekarang perasaanmu? Kau sudah tenang bukan ketika kau mengatakan nya dengan jujur, seharus nya kau mengatakan ini pada Chanyeol, bukan malah menyuruh nya menjauhimu dan bilang kau membencinya," Luhan melepas pelukan nya dan menatap sahabat nya tersebut yang masih menangis, terisak dengan rambut yang sudah acak-acakan.
"A-aku hiks hkss," Baekhyun terisak sampai membuat nya terlihat sangat pilu "A-ku menyesal." Baekhyun hanya mampu menunduk dengan air mata yang malah semakin deras semenjak kedatangan Luhan.
Luhan tertawa pelan melihat Baekhyun yang terlihat begitu rapuh, hanya terhitung 3 hari semenjak Baekhyun memutuskan untuk meminta Chanyeol menjauhi nya dan jangan muncul dihadapan nya lagi. Dan Lihat, baik Baekhyun maupun Chanyeol, keduanya sama-sama rapuh tanpa kehadiran diri mereka masing-masing.
Chanyeol yang bekerja layaknya mayat hidup, kantung mata yang menyeramkan, rambut yang bahkan ia tidak sisir sama sekali. Chanyeol yang selalu terlihat rapih dengan setelan jas nya mendadak menjadi Chanyeol yang tidak memperdulikan penampilan nya dan bahkan beberapa staff, dokter, perawat rumah sakit tak luput dari amukan nya, walau itu hanya kesalahan kecil. Seperti lupa mengecek keadaan pasien, yang berakhir dengan Chanyeol yang membentak perawat tersebut dengan kata-kata pedas yang tidak biasanya ia keluarkan.
Dan Kyungsoo juga mendapat amukan Chanyeol ketika mengetahui Baekhyun tidak bekerja, ketika Kyungsoo hanya mengatakan ia tidak mengetahui nya. Rumah sakit layaknya asrama tentara militan yang tengah disidak oleh pemerintah, semuanya menjadi berhati-hati dan ketakutan ketika melihat Chanyeol muncul. Sampai semuanya berakhir ketika 2 hari yang lalu Chanyeol tidak masuk kerja.
Sehun yang sahabat nya sendiri tidak bisa mendapatkan informasi apapun yang terjadi dengan Chanyeol, selain info jika Chanyeol mengurung dirinya sendirian di dalam apartemen nya. Sehun yang mengetahui fassword apartemen Chanyeol pernah datang untuk mengecek lelaki tersebut, dan yang ia dapatkan adalah apartemen yang gelap seperti tidak ada kehidupan sama sekali, selain Chanyeol yang hanya duduk memandang kosong keluar balkon apartemen nya. Sejak saat itu Sehun memikirkan bagaimana caranya agar sahabat nya kembali seperti semula, sampai akhirnya Sehun meminta Luhan untuk membawa Baekhyun agar menemui Chanyeol.
Setidak nya jika Baekhyun tidak mencintai Chanyeol, cobalah untuk menerima Chanyeol sebagai teman nya. Karena Sehun pikir niat Chanyeol berbohong pada Baekhyun tidak salah sama sekali. ia melakukan itu tidak lain dan tidak bukan karena Chanyeol menyukai Baekhyun.
"Baekhyun jika aku meminta hadiah ulang tahunku yang telah terlewat sekarang, apa kau akan mengabulkan nya? Kau berjanji akan mengabulkan apapun yang aku inginkan bukan?," Luhan teringat tentang janji Baekhyun beberapa hari yang lalu saat mereka makan malam bersama, jika Baekhyun akan mengabulkan apapun permintaan Luhan asalkan Luhan tidak meminta benda yang mahal padanya.
Baekhyun menatap Luhan tidak mengerti namun perlahan ia menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Aku ingin kau ikut denganku sekarang, jangan bertanya akan kemana. Yang jelas kau harus ikut denganku dan melakukan yang aku mau ditempat tujuan kita nanti! Ingat kau sudah janji! Jadi sekarang ayo ikut aku,"
Tanpa menunggu Baekhyun menyahut atau menjawab Luhan dengan santai menggandeng tangan Baekhyun, membawa sahabat nya itu keluar apartemen nya, membawanya ke suatu tempat yang tak lain apartemen Chanyeol, untuk mempertemukan sahabat nya ini dengan seseorang yang teramat mencintainya, namun tanpa diketahui oleh Baekhyun.
"Apartemen siapa ini?," Baekhyun bukan seseorang yang bodoh yang tidak tahu jika gedung mewah yang ada dihadapannya sekarang ini adalah sebuah gedung apartemen.
Luhan tidak menjawab ia memilih menggandeng tangan Baekhyun menuju lantai dimana apartemen Chanyeol berada. Baekhyun sendiri tidak bertanya lagi ia berpikir mungkin sekarang ini ia tengah dibawa Luhan ke apartemen nya. Saat pintu lift terbuka, Luhan berjalan dengan Baekhyun disebelah nya, mereka pun berhenti didepan sebuah pintu bernomor 27. Luhan merogoh tas nya mengambil sebuah kertas yang berisi sebuah angka, dan itu adalah kode pin untuk memasuki apartemen Chanyeol.
Baekhyun masih belum tahu jika itu adalah apartemen Chanyeol, ia baru mengerti bahwa itu apartemen Chanyeol ketika Luhan memberikan kertas itu padanya dan berbicara panjang lebar.
"Kau bilang kau mencintainya kan? Sekarang kau pilih masuk kedalam sana, temui dia dan katakan kalau kau juga mencintainya. Atau kau lari dari jangakaun nya dengan membawa rasa sakit yang kau rasakan sendiri di hatimu," Luhan memberikan senyuman manis nya "Dengar Baek, dia sama tersiksanya denganmu, ia bukan lagi Chanyeol yang kami kenal, bukan Loey si Park Chanyeol yang selalu terlihat tampan, bukan lagi Park Chanyeol yang selalu tersenyum layaknya orang gila jika ia melihat isi pesan diponselnya yang aku yakini itu pesan darimu, dia lebih terlihat seperti mayat hidup dan aku yakin dia sedang sakit saat ini didalam sana, mengingat ia tidak keluar dari apartemen nya sudah 2 hari ini."
Baekhyun terhenyak mendengar nya, matanya melihat ke arah Luhan
"Buang egomu jauh-jauh, yang harus kau lakukan sekarang adalah, buat dirimu bahagia atau kau pilih menderita selama sisa umur hidupmu karena menyembunyikan perasaan mu sendiri! Jadi sekarang apa pilihanmu Baekhyun?"
Baekhyun menerawang kembali ke beberapa hari sebelum ia bertengkar dengan Chanyeol, dimana ia dan Chanyeol tertawa bersama, makan bersama, bernyanyi bersama sepanjang jalan ketika Chanyeol menjemput atau mengantarkan nya pulang, tapi Baekhyun mengingat kata-kata Chanyeol ketika ia menjelaskan kenapa ia berbohong padanya, yang berhasil membuat nya kembali mengingat kekecewaan nya.
Hingga akhirnya Baekhyun memilih.
"Aku akan...,"
'Cinta hanya butuh kejujuran, bukan saling berbohong dan menyembunyikan perasaan yang tumbuh dihati kalian.'
