Happy Reading…

.

.

"Apa maksudmu mereka menghilang?"

Park Yoochun tampak marah ketika mereka sampai di apartemen Chanyeol dan tidak menemukan keberadaan Chanyeol disana, barang-barang milik Chanyeol-pun sudah tidak ada disana. Dan ketika Jongdae mengabarkan kalau Chanyeol menghilang bersama dengan Baekhyun, kemarahan nya semakin memuncak.

"Sepertinya tuan muda Chanyeol pergi bersama Baekhyun." jawab Jongdae.

"Sialan. Wanita jalang itu membawa anakku kabur bersamanya." Park Yoochun membanting sebuah vas bunga yang ada dimeja apartemen Chanyeol.

"Cari mereka sampai dapat, aku tidak mau tahu cara apa yang kau lakukan, yang jelas aku ingin kau segera mencari tahu dimana mereka berada!" Park Yoochun berjalan keluar kesal. Ia kalah cepat oleh Chanyeol yang sudah pergi menghilang.

Sedangkan Jongdae mengusap wajah, ini yang ia hawatirkan. Dan sekarang ia harus meminta bantuan Sehun untuk memanipulasi informasi yang nantinya dia sampaikan pada Park Yoochun.

"Chanyeol, mengapa kau membuatku berada diantara hidup dan mati seperti ini." gumam Jongdae.

#One Week Later

Chanyeol kini telah bekerja disalah satu rumah sakit yang berada di pinggiran kota Catalonia, Barcelona. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari rumah yang kini ia tinggali bersama dengan Baekhyun. Ia mendapatkan pekerjaan tersebut atas bantuan kenalan Sehun, dan tentunya semua data informasi tentang Chanyeol telah dirubah sehingga tidak dapat terdeteksi oleh Park Yoochun.

Karena kemampuan Chanyeol sebagai seorang dokter yang sama cerdas nya dengan Sehun, ia dapat bekerja sebagai salah satu dokter umum di rumah sakit tersebut, perbedaan yang ia rasakan dengan kehidupan dulu dengan sekarang cukup membuat ia sedikiti kesulitan mengimbanginya, kalau dulu dia sebagai direktur dapat bersantai-santai, maka sekarang ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan nya bersama dengan Baekhyun. Karena ia tidak membawa barang apapun termasuk kartu kredit miliknya agar tidak dapat terlacak oleh ayahnya.

Sedangkan Baekhyun kini berpokus diri hanya sebagai ibu rumah tangga yang setia menunggu suaminya pulang bekerja.

Tapi ia sangat bahagia menjalaninya, karena suami nya Park Chanyeol yang memberikan ia kebahagian. Walau kini mereka hidup dalam kesederhanaan, mereka tidak mengeluh untuk itu. Chanyeol bahkan lebih terlihat lebuh bahagia dibanding sebelum ia mengenal Baekhyun. Baekhyun jelas membawa pengaruh baik untuk dirinya, tanpa Baekhyun ia tidak berarti apa-apa.

Baekhyun yang berada dirumah juga tidak sedang bersantai-santai, ia melakukan beberapa pekerjaan kecil seperti membersihkan rumah, mencuci baju serta membuat makanan untuk dirinya dan Chanyeol, karena setiap waktu istirahat makan siang Chanyeol lebih memilih untuk pulang dan memakan masakan istrinya, daripada harus makan di cafeteria rumah sakit.

Chanyeol tidak bisa berlama-lama jauh dari Baekhyun, maklum mereka masih dalam suasana pengantin baru.

Berjauhan dari Baekhyun hanya untuk sekedar pergi bekerja saja, membuat Chanyeol selalu dihantui rasa ketakutan dan hawatir akan terjadi sesuatu pada istrinya. Bagi Chanyeol, ayah nya adalah ancaman terbesar dirinya untuk waspada dari bahaya yang kemungkinan terjadi pada mereka.

Sementara itu di Korea Selatan ayah Chanyeol, Park Yoochun, semakin uring-uringan. Sudah seminggu ini tidak berhasil menemukan keberadaan anaknya, Park Chanyeol yang menghilang bagaikan ditelan bumi.

Berbagai cara sudah Park Yoochun lakukan untuk melacak keberadaan Chanyeol dan Baekhyun. Info yang ia dapat terakhir kali, Chanyeol dan Baekhyun terdata sebagai penumpang pesawat tujuan China sebagai tempat mereka melarikan diri. Ia juga sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Chanyeol dan Baekhyun di China, dan hasilnya sama. Park Yoochun tidak menemukan Chanyeol dan Baekhyun di China.

Sehun, Luhan dan Johnny, yang merupakan teman dekat dari Baekhyun dan Chanyeol-pun tidak luput dari incaran Park Yoochun untuk menggali informasi tentang keberadaan Chanyeol dan Baekhyun, tapi karena Sehun mengancam agar tidak mengganggu urusan pribadi mereka bertiga, mengancam akan memutus kontrak kerja dengan Park Corp, dan ancaman itu berhasil membuat Park Yoochun setidaknya diam dan berhenti mengganggu Sehun, Luhan dan Johnny.

Namun bukan Park Yoochun namanya jika ia menyerah begitu saja bukan?.

Park Yoochun pun mulai mengintai mereka bertiga, dengan menyadap ponsel mereka, yang untungnya diketahui Johnny dan segera Johnny atasi dengan dirinya yang menyuruh Luhan, Sehun utnuk mempunyai dua ponsel, serta memakai no luar negeri. Dan juga memilih menggunakan email untuk bertukar kabar satu sama lainnya. Mereka tahu Park Yoochun tidak akan menyerah untuk mencari tahu keberadaan Chanyeol dan Baekhyun, lalu menyeret Chanyeol agar meninggalkan baekhyun.

Johnny sangat kesal karena sikap Park Yoochun, namun ayahnya mengatakan untuk tetap diam dan tidak bertindak diluar kendali agar Chanyeol dan Baekhyun juga tidak terancam keberadaannya. Yang harus mereka lakukan di Korea, hanya mencegah agar Park Yoochun tidak sampai mencium keberadaan Chanyeol dan Baekhyun.

-o0o-

Siang ini Baekhyun tengah memasak makanan kesukaan Chanyeol, ia bersenandung riang sambil menunggu kedatangan Chanyeol yang akan pulang sebentar lagi. Ia sudah tidak sabar karena akhir-akhir ini ia merasa terus-terusan ingin berada di dekat chanyeol, jika Chanyeol berangkat bekerja maka mood nya seketika memburuk.

Chanyeol terkadang dibuat keheranan dengan Baekhyun, Chanyeol menyangka mungkin wanita itu menunjukan sifat aslinya yang manja jika bersama dengan orang yang ia cintai. Tak jarang Baekhyun memperlihatkan raut wajah kesal nya jika mood nya sedang buruk.

Baekhyun kini sedang menyiapkan piring, semua makanan telah tertata rapi diatas meja, saat ia sedang menjangkau piring yang berada di bagian atas ia merasakan pusing dan mual yang menyerang nya secara tiba-tiba. Baekhyun memegang pelipisnya ketika merasakan pusing dikepalanya, setelah sedikit rasa pusing itu mereda ia hendak untuk mengambil piring yang sebelumnya belum sempat ia ambil.

Namun belum sempat baekhyun mencapai piring tersebut, ia harus dibuat berlari menuju westafel dan memuntahkan semua isi perutnya ketika rasa mual menderanya. Ia mengelap bekas muntahan dimulut nya, lalu ia berbalik ingin menyelesaikan pekerjaan nya yang tertunda tadi. Baru selangkah ia melangkahkan kaki, rasa pusing kembali menderanya dan di ikiuti dengan rasa sakit di perutnya. Ia merasa perutnya seolah dicengkram dengan kuat dan perlahan semua pandangan terlihat memburam dan menggelap.

Baekhyun pun terjatuh pingsan di dapur rumahnya.

Jam telah menunjukkan jam 12 siang di Barcelona, Chanyeol pun segera bergegas pulang karena waktu istirahat makan siang telah tiba. Disepanjang perjalanan ia tersenyum membayangkan istrinya, menyambutnya dan membuka pintu rumah dengan seyuman hangat dan sebuah pelukan, ah dan jangan lupa dengan mata puppy yang selalu membuat Chanyeol terpesona.

Semua kebahagian yang ia rasakan sekarang sungguh terasa mimpi bagi Chanyeol, ia tidak menyangka jika semua kini bukan hanya sebuah harapan dan mimpi lagi baginya, mimpi untuk bersama dengan Baekhyun dalam ikatan suami-istri kini sudah menjadi kenyataan. Baekhyun istrinya yang teramat ia cintai dengan seluruh jiwa raganya. Sekalipun maut memisahkan mereka, ia akan tetap mencintai Baekhyun sampai tak berbatas waktu.

"Byun Baekhyun Byun Baekhyun~~"

Chanyeol tak henti-hentinya bergumam dengan senandung nada yang ia ciptakan sendiri disepanjang perjalanan kerumah nya.

Chanyeol telah sampai dihalaman rumahnya, ia mematikan mesin mobil.

Biasanya ketika ia membuka pintu mobil maka istrinya sudah menunggu didepan pintu rumah. Baekhyun sudah cukup hafal dengan suara mobil Chanyeol, jadi ketika mobil Chanyeol memasuki halaman rumah mereka yang sederhana, maka ia bergegas lari menuju ruang tamu untuk menyambut suaminya.

Tapi kini tak ada istrinya, kemana Baekhyun yang biasa menungguinya? Chanyeol sempat mengeryit merasa tidak enak hati, namun ia menepisnya dan mencoba berpikir mungkin, istrinya sedang kelelahan dan tertidur sehingga tidak mendengar suara mobilnya.

Maklum, semalam ia telah mengahajar Baekhyun habis-habisan diatas ranjang mereka sampai dini hari. Chanyeol bersemu merah mengingat pergulatan panas mereka yang hampir mencoba berbagai gaya mereka coba, terdengar begitu mesum.

Ia membuka pintu rumahnya dan berjalan keruang tamu, namun ia belum juga mendapati keberadaan istrinya itu. Chanyeol pun berjalan ke arah dapur dimana kemungkinan terakhir istrinya berada, mengingat sekarang jam makan siang dan Baekhyun pasti sedang sibuk memasak untuknya.

"Sayang~~, Baekhyun-ku sayang kau dimana?" Chanyeol memanggil-manggil nama Baekhyun dengan langkah kaki yang ia percepat menuju dapur, tak lupa dengan senyuman yang tidak henti terlihat diwajah tampan nya.

Namun netra nya harus dibuat terkejut ketika melihat Baekhyun, istrinya terbaring miring dilantai dekat counter dapur, Baekhyun pingsan.

"Oh tidak sayang..."

Chanyeol mendekat ke arah tubuh Baekhyun untuk merengkuhnya dalam pelukan hangat nya. Karena Chanyeol seorang dokter ia pun mengecek keadaan Baekhyun, namun karena kalut Chanyeol mengambil tindakan untuk segera membawa Baekhyun kerumah sakit. Setidaknya peralatan rumah sakit jelas lebih bisa mengetahui apa yang terjadi pada Baekhyun, istrinya.

Jangan tanya bagaimana raut wajah Chanyeol saat ini, rasa hawatir, cemas terlihat jelas di wajah tampan nya. Setelah ia membawa Baekhyun kerumah sakit ia tidak bisa memeriksa Baekhyun seorang diri, akhirnya ia memeriksa Baekhyun dibantu salah satu rekan kerja nya di rumah sakit itu.

Chanyeol memang sempat ia berpikir jika istrinya itu tengah mengandung, tapi Chanyeol tidak ingin berbesar hati terlebih dahulu sebelum kebenaran nya itu ia dapatkan secara jelas. Chanyeol mulai merasa Baekhyun hamil ketika begitu banyaknya permintaan aneh yang keluar dari bibir tipis istrinya itu, tapi ia enggan bertanya pada Baekhyun, takut jika ia salah mengira tentang kecurigaan nya. Walau pada kenyataan nya Chanyeol seorang dokter, dan ia jelas tahu tanda-tanda orang hamil seperti apa.

"You know it, right?" seorang dokter bertubuh sepadan dengan Chanyeol berbicara pada Chanyeol. Ia adalah rekan kerja Chanyeol yang baru ia kenal seminggu ini.

"Yes I know, but I'm afraid if I was wrong." Chanyeol berucap lirih dengan masih menunduk meremat tangan nya sendiri.

"So, congrats." William tersenyum pada Chanyeol "You are not wrong at all, your wife is pregnant." William dan Chanyeol kini berdiri didepan ruangan Baekhyun yang masih terbaring didalam ruangan sana.

Chanyeol menyunggingkan senyum nya kelewat lebar saking bahagianya mendengar Baekhyun memang benar-benar hamil.

"How old the pregnant?"

"Just two week! Take care of your wife, don't to tired."

William memberitahu tentang kandungan Baekhyun yang rentan, dan meminta Chanyeol untuk menjaga Baekhyun agar tidak melakukan aktivitas yang menguras tenaga terlalu banyak, yang nantinya berakibat Baekhyun kelelahan, karena itu tidak baik untuk kandungan nya.

"Thanks William, I will take care of my wife." Chanyeol menepuk pundak William lalu berlalu masuk kedalam ruangan Baekhyun terbaring untuk menemui istrinya. William tersenyum melihat Chanyeol yang terlihat bahagia mengetahui kehamilan istrinya.

Walau mereka baru mengenal selama seminggu, namun William tahu Chanyeol sosok seorang yang pantas untuk ia jadikan lebih dari rekan kerja. William merasa bisa menjadikan Chanyeol seorang teman atau sahabat, dan kedekatan istri mereka juga membuat ia mengenal baik Chanyeol dan Baekhyun.

Ya Baekhyun mengenal istri William. Mrs. William sering berkunjung kerumah Baekhyun untuk berbagi resep masakan Korea. Baekhyun juga diajarkan berbahasa Spanyol oleh istri William, walau pada akhirnya Baekhyun lupa.

Chanyeol berjalan pelan dan duduk disamping Baekhyun yang terlihat sudah membuka kedua matanya. Chanyeol yang melihat itu menggenggam tangan Baekhyun dan memanggil istrinya dengan begitu lembut.

"Hei sayang, kau sudah merasa baikan?"

"Loey! Apa aku baru saja pingsan?" Baekhyun berusaha bangkit dan bersender pada bantalan ranjang rumah sakit.

"Ya sayang kau pingsan didapur, mungkin kau terlalu kelehan sampai pingsan." bohong Chanyeol yang membuat wajah Baekhyun bersemu merah.

Mungkin yang ada dipikiran Baekhyun adalah ia kelelahan karena kegiatan mereka diatas ranjang semalam. Chanyeol sendiri belum berniat memberitahu Baekhyun tentang bayi yang tengah dikandung Baekhyun saat ini, Chanyeol berniat memberitahunya ketika nanti mereka sudah berada dirumah, agar ia lebih leluasa mengekpresikan kebahagiaan nya pada Baekhyun.

"Mau pulang? Aku bisa merawatmu dirumah jika kau tidak suka disini!" tawar Chanyeol karena ia yakin jika Baekhyun tidak menyukai bau rumah sakit yang sudah cukup membuatnya kembali merasa mual.

"Ya aku ingin pulang. Tapi bukankah kau harus bekerja?" Baekhyun memasang wajah bersalah jika ia harus mengganggu waktu kerja suaminya itu.

"Aku bisa izin lebih cepat, mereka pasti mengerti jika istriku sedang sakit sekarang. Tenang saja aku tidak akan dipecat hanya karena izin satu hari."

Chanyeol jelas tahu ke khawatiran diwajah Baekhyun yang tidak ingin dirinya mendapat masalah serius ditempat kerja barunya. Mereka akan kesulitan jika harus mencari tempat kerja baru untuk Chanyeol, mengingat mereka yang sedang melarikan diri dari ayah Chanyeol. Namun karena Chanyeol yang cerdas dan kinerja nya sangat baik dirumah sakit, ia sedikit mendapat keuntungan dari itu semua. Dengan mendapat toleransi untuk izin hari ini.

Sebenarnya Chanyeol sudah tidak sabar ingin segera sampai kerumah mereka, memberitahukan kabar gembira tentang Baekhyun yang tengah hamil.

Oh tuhan Chanyeol sangat bahagia sekali saat ini, keluarga kecilnya akan terasa lengkap dengan kehadiran seorang bayi di tengah-tengah mereka. Chanyeol bahkan sudah memikirkan berbagai nama yang pas untuk anak nya nanti, ia mulai berpikir untuk memberi anak nya dengan nama 'Chelsea Lie' jika anak nya itu berjenis kelamin perempuan, atau dia akan memberi nama anak nya 'Richard Lie' jika itu berjenis kelamin laki-laki.

Memikirkan nya saja sudah membuat Chanyeol bahagia, bagaimana jika buah hatinya itu benar-benar sudah terlahir kedunia, sudah pasti kebahagian Chanyeol semakin lengkap.

Mengenai nama untuk buah hati nya, Chanyeol tidak ingin memberikan marga ayah nya kepada anak nya nanti, karena ia sudah benar-benar menghapus marga Park dari nama nya. Ia akan memberikan nama 'Lie' diujung nama mereka karena itu diambil dari nama akhir China Chanyeol yaitu Chanlie.

Mereka akhirnya pulang kembali kerumah mereka, sebisa mungkin Chanyeol yang menahan-nahan kebahagiaan nya agar tidak membuat Baekhyun keheranan jika melihat Chanyeol yang bersikap aneh. Chanyeol membawa tubuh Baekhyun yang sudah tidak terlalu lemas dari sebelumnya untuk berbaring di kamar mereka, ia membaringkan tubuh istrinya dengan begitu lembut dan memberikan kecupan lembut didahi Baekhyun.

"Kau pasti belum makan siang bukan? Aku akan membawa makan siang kita kesini." Chanyeol hendak pergi untuk mengambil makan siang nya, namun Baekhyun juga ikut bangkit untuk makan siang bersama di meja makan.

"Aku sudah tidak apa-apa jadi mari makan dimeja makan, tidak baik makan ditempat tidur." tangan Baekhyun ia bawa untuk mengapit tangan milik suaminya dan melangkah bersama keruang makan. Chanyeol mengecup sebentar bibir istrinya karena gemas melihat Baekhyun.

Baekhyun yang tidak melupakan kewajiban nya sebagai istri yang baikpun melakukan hal seperti biasanya, mengambil nasi dan lauk pauk untuk kemudian ia berikan pada Chanyeol yang kini duduk disamping nya. Tangan nya ia bawa untuk menyuapkan daging yang sudah ia masak pada Chanyeol, namun Chanyeol menolak nya dan mengambil alih sumpit yang Baekhyun pegang.

"Aku sudah akan menjadi seorang daddy sayang, jangan membuat aku seolah bersikap manja karena terus-terusan disuapi olehmu!"

Chanyeol sengaja mengatakan jika ia akan menjadi daddy didepan Baekhyun dengan cengiran khas dirinya. Namun Baekhyun yang belum mengerti hanya mengangguk-ngangguk menyetujui tanpa berpikir kemungkinan hal lainnya.

Ia yang tidak berselera makan beralih untuk menyantap buah-buahan segar yang sudah ia siapkan. Baekhyun mencoba untuk menyuapkan sepotong nanas pada mulutnya sebelum tangan nya lebih dulu di cegah oleh Chanyeol.

"Sayang kau tidak boleh memakan itu!" cegah Chanyeol

"Kenapa?" Baekhyun memperhatikan buah nanas yang berada tidak jauh dari pandangan nya "Apa kau melarangku memakan buah pemberian dari ?"

Iya nanas itu pemberian istri William.

Chanyeol membuang nafasnya pelan, ia mengambil alih semangkuk buah-buahan yang ada didepan Baekhyun untuk kemudian ia pisahkan buah-buahan tersebut dengan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan Baekhyun.

Baekhyun hanya memperhatikan Chanyeol yang memisahkan buah-buahan itu, alisnya bertaut ketika ia melihat hanya buah nanas yang dipisahkan dari mangkuk itu, karena memang hanya ada buah strawberry, apel, anggur dan nanas sebelumnya disana. Baekhyun belum paham tentang ia yang mengatakan akan menjadi daddy, mungkin Baekhyun berpikir jika ia harus segera mengandung agar Chanyeol menjadi daddy.

"Nah sekarang makanlah!" Baekhyun hanya mengangguk tanpa mau bertanya lagi ia kemudian mulai menghabiskan buah-buahan itu.

Chanyeol tersenyum maklum menanggapi sikap biasa Baekhyun namun akhirnya ia kembali berbicara untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Baekhyun. Chanyeol berdiri, kemudian berlutut didepan Baekhyun untuk mensejajarkan wajah nya agar tepat berada didepan perut Baekhyun, lalu kemudian mengecup dan mengelus pelan perut Baekhyun.

"Tumbuhlah disana dengan baik buah hatinya daddy, maafkan mommy mu yang tidak menyadari kehadiranmu."

Baekhyun yang memperhatikan Chanyeol mengecup perutnya, mengelus perutnya dan bergumam tentang daddy dan mommy hanya mengerjap-ngerjap lucu, Chanyeol yang tidak tahan meraup bibir tipis istrinya membawa Baekhyun dalam ciuman lembut penuh kehati-hatian. Ia melepaskan ciuman nya setelah nya menempelkan dahinya pada dahin Baekhyun, seraya berucap lirih penuh dengan kebahagiaan.

"Kau hamil sayang, kau hamil anak kita." Chanyeol membawa tangan Baekhyun untuk menempelkannya pada perutnya sendiri "Di dalam sana dia tumbuh, usianya baru 2 minggu. Tidakkah kau bahagia Baekhyun?"

Baekhyun yang mendengarnya tidak kuasa untuk tidak meneteskan air matanya.

"Kau tidak bercandakan? Dia benar-benar hadir? Dia benar-benar tumbuh didalam perutku?" Chanyeol mengangguk dan kembali mencium Baekhyun.

"Dia hadir untuk memperlengkap kebahagian kita sayang, anak kita sudah tumbuh disana. Kita akan menjadi orang tua Baekhyun, kau akan menjadi seorang ibu dan aku menjadi soerang ayah." Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun yang sudah ia bawa pada pangkuan nya.

"Terima kasih Baekhyun, terima kasih istriku. Kau membuat hidupku menjadi begitu sempurna dengan kehadiran anak kita, aku mencintaimu Baekhyun istriku, selamanya."

Tangis mereka berdua pun pecah. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan, tangis rasa syukur mereka atas kebahagiaan yang meraka terima sekarang. Tidak ada yang lebih sempurna selain hadirnya anak dari sebuah keluarga, dan mereka kini akan merasakan kesempurnaan itu. Baekhyun sumber kebahagiaan Chanyeol, dan begitupun sebaliknya. Chanyeol hanya berharap semoga kebahagiaan mereka kini tidak akan terganggu oleh hal-hal lain yang membuat mereka harus bersedih atau terluka.

"Aku juga mencintaimu daddy Loey." Baekhyun memberikan ciuman pada suami tercinta nya, Chanyeol.

Tidakkah kalian juga bahagia mendengarnya? Mereka akan menunggu kelahiran bayi mereka sekitar 8 atau 9 bulan kedepan.

Semoga saja takdir tidak kembali mempermainkan mereka, biarkan mereka berbahagia mulai sekarang. Mereka tidak berhak untuk terus-terusan bersedih dan larut dalam kesedihan, mereka pantas bahagia, mereka tidak memiliki salah apapun telah hidup di dunia ini, jadi bisakah Tuhan membiarkan sekali saja mereka merasakan kebahagian?.

.

.

.

.

.

'Cinta terlalu indah untuk sekedar diabaikan'.

.

.

.

.

.