Teriakan yang amat keras langsung memecah keheningan malam, mengusik penghuni lain yang berjaga di sekitar bangsal. Beberapa sosok berpakaian serba putih langsung menghambur masuk ke bangsal tersebut, tempat di mana sumber suara teriakan memilukan itu terdengar. Dalam keremangan, tiga orang berpakaian serba putih itu menemukan sosok yang terbaring di sebuah tempat tidur tengah berteriak-teriak sambil bergerak gelisah, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tali yang mengikat pergelangan tangannya itu.

Bola mata keemasan yang nampak liar, menilik satu per satu sosok berpakaian putih yang mengerubunginya. Sebuah ingatan lain pun merasuki otaknya, mengenai ia yang dibawa ke sini, serta bagaimana orang-orang berpakaian serba putih itu memperlakukan dirinya. Ingatan itu membuatnya semakin berang. Ia melengking semakin keras, tak peduli dengan pita suaranya yang mungkin akan putus setelah mengeluarkan teriakan sekencang itu. Tangannya menarik tali yang mengikatnya, berusaha melepaskan diri dari benda jahanam yang tengah merenggut kebebasannya.

"Ia kumat lagi! gawat! Ini sudah semakin parah," Salah seorang dari sosok berpakaian putih itu mencoba menghentikan perlawanan pemuda itu. Ia menahan kedua tangan pemuda itu, mengacuhkan rasa sakit saat merasakan tendangan demi tendangan menghantam bagian tubuhnya. Yang lain berinisiatif mengambil tali untuk mengikat pergelangan kaki pemuda itu.

"Panggil dokter Hakkai! Cepat!" Perintah sosok yang memegang kaki sang pemuda. Sosok terakhir yang masih tercenung pun langsung mengangguk cepat. Ia bergegas keluar dari ruangan untuk memanggil dokter Hakkai. Setelah sosok itu meninggalkan dua teman bersama sang pasien, muncul kembali beberapa orang berpakaian putih yang datang untuk membantu mereka berdua. Beberapa orang membantu memegang kakinya lalu mengikat kuat pergelangan kaki pemuda itu untuk membatasi pergerakannya. Namun, siapa yang menyangka kalau di balik tubuh kurus pemuda berusia tujuh belas tahun itu, tersimpan tenaga yang amat besar. Mungkin karena didasari amarah dan kesedihannya yang begitu dalam, pemuda itu mampu menepis beberapa orang yang mencoba menahan pergerakannya.

"Ia kuat sekali!" Salah satu orang dari grup berpakaian serba putih itu beralih menuju ke lemari ruangan, hendak mengambil obat bius yang tersimpan di sana.

"Tahan pergerakannya lebih kuat. Aku sedang mencari obat bius," Perintahnya pada rekannya yang lain.

"Mana dokter Hakkai!? Kenapa ia datang lama sekali?"

"Mungkinkah ada kesalahan dalam pemberian obat untuk pasien ini? Seharusnya ia menjadi tak sadarkan diri sepanjang malam,"

"Serahkan pada dokter Hakkai. Ia pasti yang lebih mengerti bagaimana menanggulangi pasien ini,"

Segenap keluhan dan diskusi panjang dari suster-suster tersebut diiringi oleh teriakan amarah dari sang pasien. Mereka semakin kewalahan menghadapi kekuatannya. Dalam beberapa menit ke depan mungkin saja tali yang menahan tangannya akan terlepas dan pasien itu akan mengamuk semakin hebat.

"Mana dokter Hakkai!?"

Keluhan dari sang suster terjawab. Seorang pria berpostur tinggi, berpakaian necis memasuki ruangan. Pria berkacamata itu langsung sigap meletakkan tas dokter di salah satu meja. Ia mengambil jarum suntik dan obat dari dalam tas kulit berwarna kecoklatan tersebut. Dalam hitungan detik, ia mengisi suntikan tersebut dengan obat. Dokter berambut hitam itu langsung mendekati sang pasien sambil membawa suntikan tersebut di tangannya.

"Kalian semua, tahan dia dengan sekuat tenaga. Aku akan memberikan obat ini," Komando dari sang dokter dipatuhi oleh semua anak buahnya. Tubuh meronta itu pun sedikit kesulitan bergerak saat lima orang suster menahan pergarakannya. Ia hanya bisa meraung, terlebih saat merasakan sakitnya jarum suntik panjang nan dingin itu menembus kulitnya.

Teriakan itu menggema semakin keras, namun perlahan mulai mengecil. Tubuhnya mulai melemah. Dalam sekejap, sosok pemuda itu kembali terlelap di atas tempat tidurnya, meninggalkan sisa air mata yang masih terjun bebas di pipinya. Hakkai dan para suster hanya memperhatikan sang pasien. Selama beberapa menit, mereka melihat pergerakan pasien tersebut, memastikan kalau obat yang disuntikkan oleh sang dokter berpengaruh bagi pasien itu.

Mereka tak menemukan pasien itu akan kembali sadar. Ia sudah tertidur pulas seperti seorang bayi. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

"Kalian boleh kembali ke tempat masing-masing. Sisakan dua orang untuk berjaga di dekat pintu masuk," Komando dokter Hakkai kepada para susternya. Ia membalikkan badannya, namun mata hijau dokter itu masih menilik sang pemuda. Ia pun menghela nafas.

Ia kembali mendekati tubuh pemuda itu ketika menemukan hal lain yang menarik perhatiannya. Sang dokter menyentuh pergelangan tangan pemuda itu. Kulit sekitar pergelangan tangan pemuda itu memar, mungkin dikarenakan oleh perlawanan kerasnya tadi dalam melepaskan diri dari ikatan kuat ini. Hakkai langsung memanggil salah seorang suster yang berjaga di pintu masuk. Ia menujukkan luka memar pada sang suster, secara tidak langsung menyuruh wanita berpakaian putih itu untuk mengobati lukanya.

"Kotak p3k ada di lemari ruangan ini, bukan?" Ujar Hakkai sambil memperhatikan sang suster yang masih menggeledah isi lemari. Tak memakan waktu lama, suster itu kembali dengan membawa kotak p3k di tangannya. Hakkai dan sang suster itu pun bersama-sama mengobati luka pemuda itu.

"Dokter. Berapa kali kita harus memberikannya obat resep dari dokter Sanzo?" Pertanyaan dari sang suster mengalihkan perhatiannya. Hakkai menghentikan sejenak kegiatannya melilitkan perban pada pergelangan tangan pemuda itu.

"Aku akan berkonsultasi pada Sanzo. Ia yang membuat obat ini, jadi ia pasti tahu berapa lama pasien ini harus diberi obat darinya," Hakkai kembali melanjutkan pekerjaan kecilnya itu.

"Apakah berhasil? Sepertinya tak ada peningkatan pada kondisi mentalnya sejak ia diberikan obat racikan dokter Sanzo dua minggu belakangan ini,"

Sang dokter menghela nafas mendengar pernyataan anak buahnya itu. Ia sendiri juga mulai meragukan efek dari obat tersebut. Obat yang diberikan pada pemuda itu seolah tak berpengaruh banyak. Reaksi yang ditunjukkan hanya kehilangan kesadaran selama beberapa jam tergantung dari dosis yang diberikan. Selebihnya, pemuda itu tetap saja mengamuk ketika tersadar, seolah masih mengingat dengan jelas hal-hal yang terjadi pada dirinya sebelum dan sesudah ia dibawa ke sini. Padahal, ketika obat itu diberikan pada pasien lain, pengaruhnya akan langsung terlihat. Sang pasien perlahan akan kehilangan sebagian besar ingatannya serta bertingkah pasif seperti sebuah boneka.

Mungkin saja, pemuda itu adalah pasien yang berbeda dari pasien lain yang pernah menjadi bahan percobaan dokter Sanzo. Pemuda ini mungkin memiliki ikatan yang kuat akan ingatan masa lalunya, sehingga segala jenis obat yang diberikan untuknya tidak mampu menghapus memori-memori itu.

"Entahlah," Hakkai kembali menjawab setelah melamun cukup.lama. Ia tertunduk sambil membetulkan letak kacamatanya. "Mungkin kalau tidak berhasil, kita bisa mencari target yang lain. Organisasi memang sedang membutuhkan bahan percobaan sesegera mungkin," Hakkai tersenyum getir. "Kalau obat dari Sanzo tidak bekerja padanya, dengan sangat terpaksa kita harus membunuhnya,"

Dering ponsel mengagetkan keduanya, dalam sekejap memotong percakapan tersebut. Hakkai langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel yang mengeluarkan nada dering monoton. Nama Sanzo tercetak di layar. Kedua alis Hakkai saling bertaut saat ia menyendengkan telinganya pada speaker ponsel.

"Ya, Sanzo,"

Suara berat khas Sanzo menggema di telinganya. Hakkai tersenyum simpul mendengar ucapan yang dikatakan oleh dokter berawatak dingin tersebut.

"Ya. Obatmu bekerja dengan cepat. Pasien langsung tertidur," Jelas Hakkai. "Tapi aku belum bisa memastikan perkembangannya. Aku harus menunggunya sadar,"

Hakkai mendengarkan respon Sanzo. Dahinya pun langsung berkerut.

"Kau sudah membuat resep obat yang lebih ampuh untuknya?" Hakkai memang sedikit terkejut mendengarnya.

"Aku takut menimbulkan efek samping pada pasien. Pasti dosis yang diberikan akan lebih banyak," Ia memotong pembicaraan Sanzo. Hakkai kembali terdiam, mendengarkan penjelasan Sanzo baik-baik.

"Baiklah. Aku akan menunggu kedatangan Gojyo ke sini," Sanggupnya "Kuharap tidak terlalu siang," Hakkai kembali manggut-manggut mendengarkan respon Sanzo. Beberapa saat kemudian, ia pun mengakhir percakapan. Hakkai kembali menyimpan ponsel itu dalam saku celana panjangnya.

"Sanzo sudah membuat resep obat lain untuk pasien ini," Jelas Hakkai pada sang suster. "Besok kita akan mencobanya. Kuharap obat itu bekerja lebih kuat sehingga dalam dua minggu ke depan pasien itu bisa sepenuhnya kita serahkan pada Sanzo,"

Dokter muda itu kembali mengalihkan pandangannya pada sosok pemuda yang saat ini menjadi tanggung jawabnya. Sosok lemah itu terbaring dengan kedua tangan dan kaki yang terikat dengan tali, sehingga membatasi pergerakan tidurnya. Raut wajah yang terlukis di tengah lelapnya itu membuat Hakkai tak bisa memandangnya lebih lama lagi. Sebuah kesedihan yang mendalam seolah menusuk nurani dokter itu. Jika ia memandang pasien tersebut lebih lama, ia pastinya tak akan berani menyuntikkan obat racikan Sanzo kepada pemuda itu esok harinya.

Hakkai mengambil langkah meninggalkan ranjang besi. Suara detak sepatunya terdengar memecah keheningan. Ia sudah berada di ambang pintu, namun badannya kembali menghadapi isi bangsal tersebut. Dua suster masih berjaga di dekat ranjang. Hakkai menghela nafas, membalikkan badannya lalu melangkah meninggalkan ruangan tersebut dengan wajah tertunduk.

Ia tahu, saat ini ia tengah melakukan suatu tindakan yang tak bermartabat. Bukan hanya dirinya, bahkan seluruh penghuni rumah sakit ini dan organisasi tempatnya bernaung. Pemuda itu tak memiliki kesalahan apapun, mungkin ia hanya tidak beruntung karena menjadi target organisasi untuk dijadikan bahan percobaan. Organisasi sudah mengincarnya dalam waktu cukup lama, dan berhasil menculik pemuda itu setelah menghabisi anggota keluarganya yang mencoba melawan mereka. Suatu tindakan keji yang sudah biasa dilakukan untuk mewujudkan rencana besar mereka.

Kini, Hakkai-lah yang mengambil peran berikutnya untuk menghapus memori pemuda itu sebelum akhirnya menyerahkan pada rekannya, Sanzo. Dalam menjalankan tugasnya, Hakkai sebisa mungkin membuang semua perasaan belas kasihan. Memberinya obat bius, mengikatnya di ranjang kuat-kuat agar ia tak bisa bergerak, serta menambahkan dosis ketika obat yang dikonsumsi tidak berpengaruh apapun. Semua hal itu dilakukannya demi terlaksanya rencana organisasi.

Ya, semua demi organisasinya, dan demi masa depan negara tempatnya tinggal.