Dua minggu kemudian.
Deru mesin memecah keheningan jalanan pegunungan pagi itu. Sebuah mobil sedan tengah melintasi areal pegunungan yang berkelok. Lampu mobil menyala, menyorot ke jalanan sepi di hadapannya. Tak ada kendaraan lain yang lewat di sekitar mereka, mungkin dikarenakan daerah pegunungan yang mereka lalui adalah daerah yang amat terpencil.
Bukan tanpa tujuan kalau mobil sedan berwarna hitam itu melintasi daerah yang bisa dibilang amat terpencil pagi-pagi begini. Ketiga penumpang di dalamnya hendak mengunjungi suatu tempat yang berada di sana. Hakkai yang menjadi salah satu penumpang dalam mobil mewah tersebut menjadi penunjuk jalan bagi sang supir untuk mengantarnya ke tempat tujuan. Ia melihat sekitar kawasan pegunungan, berusaha mengingat dengan jelas lokasi yang pernah ia kunjungi bersama Gojyo.
"Ikuti saja jalanan ini. Sekitar lima belas menit lagi kita akan tiba di kediaman dokter Sanzo," Hakkai mengarahkan sang supir. Pria paruh baya itu mengangguk mengerti lalu memacu mobilnya dengan menambah sedikit kecepatan. Suasana pun kembali hening. Hakkai melihat pemandangan dari balik kaca mobil. Area pegunungan memang menawarkan pemandangan yang indah. Deretan pepohonan, bukit-bukit berbatu serta rumah penduduk yang nampak kecil dalam bayangan matanya.
Namun, pada akhirnya semua pemandangan itu serasa menjemukan. Hakkai mulai merasa bosan, ditambah ia masih amat mengantuk. Ia pun mengalihkan pandangannya ke dalam mobil. Kedua mata kehijauannya langsung mengarah pada sosok yang duduk mematung di sampingnya. Sosok yang membuat Hakkai mau berangkat pagi-pagi melintasi daerah pegunungan yang sepi.
Ya. Sesuai dengan rencana, mereka akhirnya bisa mengantarkan pemuda itu ke kediaman Sanzo dua minggu kemudian. Bisa dibilang, racikan obat dari Sanzo-lah yang memperlancar rencana mereka. Setelah diberikan obat tersebut, sang pemuda berangsur semakin tenang. Ia tak memberikan perlawanan lagi, hanya terdiam pasif di dalam ruangannya sambil memandang ke depan dengan sorot mata yang kosong. Ketika Hakkai mengajaknya bicara, pemuda itu hanya mampu memberikan reaksi berupa gelengan pelan dengan wajah yang linglung. Seolah ia tak tahu apa-apa mengenai dirinya, sekitarnya, dan keberadaannya. Tentu saja, perubahan perilaku itu sesuai dengan harapan mereka. Pada akhirnya, tepat dua minggu, Sanzo mau menerima pemuda itu di kediamannya.
Dan, selama perjalanan, pemuda itu memang tak memberikan banyak pergerakan. Bola mata keemasannya sesekali mengarah keluar jendela, menatap kosong pemadangan kaki gunung di kejauhan. Setelah itu ia kembali mengalihkan pandangannya, lalu menatap ke depan masih dengan pandangan kosong.
Hakkai hanya bisa menghela nafas, menaruh rasa iba yang dalam pada pemuda itu. Ia sudah menghancurkan masa depan seorang pemuda, dan kenyataan itu tak bisa ia hindari. Ia pun merasa sangat bersalah.
"Tuan, mungkinkah kediaman dokter Sanzo sudah semakin dekat?"
Lamunan Hakkai terpecah dengan sebuah teguran pelan dari sang supir. Hakkai langsung melihat sekitarnya. Ia mengangguk cepat, tapi matanya masih mencari-cari arah yang benar menuju kediaman Sanzo.
"Berada di arah kiri. Rumahnya memang tersembunyi di balik pekarangan yang luas," Ujar Hakkai.
Pada akhirnya, mobil mewah itu pun memasuki sebuah pekarangan. Akhirnya mereka tiba di kediaman Sanzo. Mobil itu pun terparkir beberapa meter di depan sebuah rumah kecil yang terbuat dari bata merah. Hakkai tak lepas memandangi wujud rumah itu seraya keluar dari mobil. Ia beralih ke pintu lain, menarik sosok sang pemuda lalu membimbingnya bersamanya.
"Kau tunggulah di sini," Perintah Hakkai pada lelaki tua yang duduk di kursi kemudi. Pria beruban itu mengangguk menyanggupi. Hakkai pun meneruskan langkahnya menuju ke teras rumah.
Rumah seorang dokter yang dijuluki sebagai malaikat maut. Orang yang bertugas melakukan serangkaian percobaan pada manusia. Ia mampu membuat racikan obat sekaligus racun yang bisa membunuh manusia dalam waktu singkat. Dan, racun serta virus ciptaannya itulah yang menjadi senjata ampuh bagi organisasi untuk membuat teror demi teror, sehingga organisasi mereka dikenal sebagai salah satu organisasi berbahaya yang bisa mengancam kelangsungan pemerintah saat ini.
Tapi, setiap orang yang melihat kondisi rumah ini pasti tak akan mempercayai kalau bangunan bergaya klasik tersebut dihuni oleh seorang manusia yang sudah kehilangan nurani. Rumah seorang dokter bernama Sanzo itu bisa dibilang amat indah. Pekarangan rumah itu juga ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman hias. Jauh sekali dengan gambaran lazim untuk seorang malaikat maut.
Pintu rumah terbuka merespon kedatangan mereka. Sosok seorang pria berusia sebaya dengan Hakkai, berambut panjang kemerahan berdiri di ambang pintu untuk menyambut kedatangan dua tamu tersebut. Ia menyunggingkan senyum lebar khasnya sebagai sapaan.
"Gojyo," Hakkai menyapa sosok berpenampilan urakan itu. Gojyo masih tersenyum ringan. Ia bersandar di ambang pintu, merapikan rambut merah panjangnya yang sedikit acak-acakan. Bola mata kemerahannya langsung beralih pada sosok pasif yang berdiri di samping Hakkai. Dalam sekejap, senyum ringan khasnya pun memudar, berganti dengan guret wajah serius. Gojyo beralih menatap sahabatnya, memberi sebuah pertanyaan melalui isyarat mata.
"Ya. Ini pemuda yang kumaksud," Hakkai menjawab isyarat non verbal itu. Ia tersenyum simpul sambil memandang sosok pasif bak boneka itu.
Gojyo menilik pemuda itu dari dekat, membiarkan bola mata kemerahannya bertemu dengan sepasang manik emas tersebut. Pandangan matanya hampa, menggambarkan kondisi jiwanya saat ini. Gojyo sedikit terkejut menemukan perubahan perilaku pemuda itu. Padahal, sekitar dua minggu lalu saat Gojyo melihat sosoknya di dalam bangsal, sorot mata pemuda itu masih tajam, memancarkan amarah yang menusuk. Teriakannya terdengar amat kuat, mewakili keinginan sang pemuda untuk bebas. Bahkan butuh beberapa suster untuk membatasi pergerakannya agar tidak melawan saat disuntikkan obat. Tetapi pemuda di hadapannya saat ini terlihat amat berbeda. Manik emas yang menatap mata Gojyo itu seperti tatapan manusia yang sudah kehilangan hampir seluruh jiwanya.
"Ia amat berbeda. Obat dari Sanzo ternyata amat berpengaruh baginya," Ungkap Gojyo sambil mengalihkan pandangannya pada Hakkai. Hakkai mengangguk sambil mengangkat bahunya.
"Kau sudah melihatnya sendiri bukan?"
"Baik. Masuklah. Sanzo ada di dalam," Gojyo menunjuk ke arah dalam ruangan dengan ibu jarinya. Ia masuk duluan ke dalam rumah itu, secara tak langsung ingin mengantarkan Hakkai dan pemuda itu menemui Sanzo. Kediaman Sanzo memang dikelilingi oleh pohon-pohon besar sehingga cahaya matahari tak bisa sepenuhnya menyinari ke dalam rumah itu. Wajar saja kalau kondisi ruangan di dalamnya sedikit gelap.
Mereka tiba di ruang tamu. Di situ ada seorang pria berambut pirang yang duduk menghadapi televisi. Benda elektronik itu menyala, menampilkan suguhan berita pagi. Pria berambut pirang itu nampak asyik menyeruput secangkir kopi dengan mata yang terfokus pada acara berita tersebut. Ia sebenarnya menyadari kehadiran tiga orang lain di ruangan ini, namun ia memilih untuk mengacuhkannya. Hakkai hanya menghela nafas menerima sambutan dingin tersebut sementara Gojyo menghampiri pria berwajah ketus itu.
"Sanzo, mereka datang," Panggilan Gojyo mengusik pria itu. Ia pun mengalihkan perhatiannya. Tatapan mata tajam itu terhenti pada seorang pemuda berambut coklat yang berdiri bak patung di samping Hakkai. Sanzo berdiri lalu menghampiri Hakkai dan pemuda itu.
"Sanzo. Sesuai rencana, ia akan kuserahkan padamu," Ujar Hakkai pada Sanzo. Dokter yang berusia lebih tua darinya itu sepertinya tak terlalu menanggapi ucapan Hakkai. Bola mata keunguan tersebut masih meneliti sosok yang akan menjadi boneka percobaannya. Seguret senyum sinis tergambar di wajahnya, mengekspresikan segala rencana keji sang dokter untuk pemuda itu. Hakkai sendiri bergidik melihat senyuman itu.
"Sesuai dengan kriteriaku. Sepertinya dia sedikit berbeda dengan yang lain," Ungkap Sanzo seketika.
"Nyawamu berada di tanganku," Sanzo bicara lagi, kali ini dengan nada yang sedikit mengancam. Entah kenapa Hakkai merasa sedikit terganggu mendengar ucapan itu sehingga ia menarik pelan tubuh sang pemuda ke belakang untuk menjauhkan jarak dengan Sanzo. Yang bersangkutan langsung memalingkan wajahnya. Sebagai sahabat lama, Sanzo sudah memahami isyarat itu. Ia pun berbalik ke kursi ruang tamu untuk melanjutkan aktivitas menonton berita pagi.
"Bawa dia ke kamar," Hanya itu perintah Sanzo. Hakkai dan Gojyo saling pandang sejenak seblum akhirnya menyanggupi perintah itu. Gojyo berjalan lebih dulu untuk menunjukkan kamar yang dimaksud Sanzo.
"Kau sudah bisa memaklumi keanehannya 'kan?" Gojyo mengajak Hakkai bicara dengan tubuh yang masih membelakangi pria berkacamata itu. Hakkai tertawa kecil mendengarnya.
"Sepertinya ia sedikit kesal tadi," Hakkai mengusap belakang kepalanya. "Sampaikan maafku padanya. Saat itu aku bereaksi spontan,"
"Kau juga tak seperti biasanya Hakkai," Gojyo menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadapi sahabatnya itu. "Pertama kali aku melihat kau melindungi pasien yang kau bawa,"
Tawa ringan khas Hakkai pecah seketika. Gelak yang muncul ketika sang dokter merasa canggung setelah orang lain bisa menebak apa yang tersembunyi dalam pikirannya. Gojyo merogoh saku celananya untuk mengambil sebatang rokok dan pematik.
"Begitukah?"
Gojyo menyalakan rokok, menikmati satu isapan sebelum memberikan jawaban pada Hakkai.
"Ya," Gojyo mengembuskan asap rokok dari mulutnya "Kau seperti amat sayang memberikan pemuda itu pada si dokter kejam itu,"
"Seperti yang dikatakan Sanzo, ia berbeda. Kau lihat sorot matanya bukan? Ia memiliki keinginan kuat untuk tetap hidup. Tapi kita justru menghancurkan keinginannya itu," Hakkai beralih menatap sosok bergeming di sampingnya. Ia beralih pada Gojyo, menemukan wajah rekannya itu tampak heran. Mungkin, Gojyo memang belum mengerti apa yang tengah Hakkai rasakan saat ini sehingga ucapannya barusan terdengar tidak wajar di telinga Gojyo.
"Aku tidak memiliki perasaan sepeka dirimu," Gojyo mengisap rokoknya lagi.
"Mungkin justru aku yang terlalu sensitif. Apakah perasaanku sekarang sudah melembut?" Hakkai tersenyum getir. "Sudahlah lupakan hal itu. Kita sudah membuang cukup banyak waktu di sini,"
Gojyo dan Hakkai kali ini melangkah berdampingan. Koridor yang mereka lalui cukup panjang. Di sepanjang koridor itu ada beberapa pintu kamar yang tertutup rapat. Mereka melewati pintu-pintu tersebut. Tujuan mereka adalah sebuah kamar yang terletak di ujung koridor. Pintu kamar tersebut masih tertutup rapat, menyembunyikan isi di dalamnya.
"Ia akan menempati kamar ini," Gojyo berkata seraya membuka pintu kamar itu. Suara derit berat terdengar. Ruangan gelap terekspos di hadapan mereka. Hawa lembab menyeruak, menandakan kalau kamar itu sudah tidak dipakai dalam waktu cukup lama.
Gojyo masuk ke kamar lebih dahulu. Ia langsung melangkah ke jendela untuk menyingkapkan gorden kamar itu. Cahaya matahari langsung membias masuk melalui kaca jendela, menerangi setiap sudut ruangan yang berukuran cukup luas tersebut. Kamar tersebut ternyata tak memiliki banyak furnitur, bahkan bisa dikatakan nyaris kosong. Hanya ada sebuah tempat tidur single bed, sebuah kursi dan meja kayu, serta lemari pakaian.
"Masuklah," Hakkai berbisik pada pemuda itu. ia mendorong pelan tubuhnya, secara tak langsung memerintahkannya untuk masuk. Pemuda tersebut melangkah gontai memasuki ruang kamar. Bola mata keemasannya menjelajahi isi ruangan itu, seolah sedang merekam suasana kamar tersebut.
Gojyo menghampiri Hakkai. Mereka berdua memperhatikan sang pemuda yang berdiri tegap di tengah ruang kamar sambil memandangi sekitarnya dengan wajah polos nan hampa. Hakkai mengawasi aktivitasnya. Ia bisa menangkap adanya sedikit reaksi dari pemuda itu saat berada di tempat yang masih asing baginya.
"Sekarang ia berada dalam pengawasanku," Gojyo berbisik pada Hakkai, masih memperhatikan gerak-gerik pemuda itu.
"Kuserahkan padamu Gojyo," Pinta Hakkai.
Mereka berdua mengawasi pemuda itu sebentar lagi. setelah itu, Gojyo memberi isyarat pada Hakkai untuk meninggalkannya sendirian di sini. Hakkai masih nampak ragu, namun ia meyakinkan dirinya kalau pemuda itu tak akan bisa berbuat apa-apa. Lagipula, dari sorot matanya, Hakkai yakin kalau pemuda itu tak memiliki niat untuk lari dari tempat ini.
Suara berdebam pintu terdengar, mengusik telinga sang pemuda. Ia mengalihkan pandangannya ke pintu, menemukan dua orang yang bersamanya kini sudah pergi duluan meninggalkannya di sini. Pemuda itu masih memperhatikan sang pintu yang tertutup rapat.
Saat ini, ia berada di tempat lain, namun dalam kondisi yang sama, bahkan mungkin lebih berbahaya. Ia tak ingat siapa dirinya saat ini. Ia seperti seseorang yang sudah ada begitu saja, seolah tak pernah dilahirkan dan mengalami masa kecil. Ingatan pertamanya hanya mengenai rumah sakit tempatnya dirawat. Pengalaman yang dirasakan selama berada di sana pun bisa dibilang tak menyenangkan. Dikurung sendirian dalam kamar yang lembab, tangan dan kaki yang terikat, serta para suster dan dokter yang datang namun hanya untuk memberikannya obat dan memeriksa perkembangan dirinya, tanpa mau mengajaknya bicara dengan akrab. Semua perlakuan yang ia terima itu membuatnya menyadari ketidakberhargaan dirinya.
Kini, ia berada di lokasi baru yang asing baginya, namun suasana yang dirasakan tetap tak bersahabat. Ia ingat dengan perkataan pria bersorot mata mengerikan tadi kalau nyawanya kini berada di tangan pria itu. Lalu, dari percakapan dokter yang merawatnya dengan pria berambut merah itu, ia bisa menyimpulkan kalau hidupnya akan menjadi seperti tikus laboratorium yang dijadikan bahan percobaan. Ia merasa amat takut, namun ia seperti tak bisa berbuat apa-apa.
Pemuda berambut coklat itu melangkah terhuyung lalu naik ke atas tempat tidur. Ia duduk di sudut ranjang, melipat kakinya lalu membenamkan sebagian wajahnya. Kegiatan ini selalu ia lakukan saat berada di rumah sakit. Ia akan menghabiskan waktunya dalam keheningan. Ia akan terus berada dalam posisi itu sampai ada seseorang yang datang menghampirinya dan menyuruhnya melakukan beberapa hal. Kini, di tempat yang baru, mungkin ia akan melakukan kegiatan yang sama.
*
Hakkai dan Gojyo menelusuri koridor untuk kembali ke ruang tamu. Sebenarnya setelah menyerahkan pasien itu ke tangan Sanzo dan Gojyo, Hakkai berniat untuk langsung kembali ke kota dan menjalankan tugasnya. Hakkai membayangkan tumpukan pekerjaan yang akan ia hadapi hari ini, namun ternyata Gojyo memiliki rencana yang berbeda darinya. Sahabatnya yang berperangai santai itu malah menahannya sebentar lagi. Ia membujuk Hakkai untuk tidak langsung kembali. Kedatangan Hakkai ke sini memang tidak sering sehingga tak ada salahnya kalau pemuda berkacamata itu mau tinggal sejenak untuk mengobrol akrab dengannya dan Sanzo.
"Tak perlu memikirkan pekerjaanmu dulu. Hari masih cukup pagi. Kau masih punya banyak waktu," Gojyo merangkul bahu Hakkai. Dengan cara itu mungkin hati pemuda itu akan lebih luluh.
"Tapi, Gojyo. Perjalanan ke sini memakan waktu lama. Aku akan tiba di kota siang nanti," Hakkai melepas rangkulan Gojyo. Sahabatnya itu malah menepuk pelan pundak Hakkai.
"Kau ini tak tahu caranya menikmati hidup. Aktivitasmu hanya kerja... kerja... dan kerja... Kau tidak perlu terlalu serius pada pekerjaanmu. Bisa-bisa kau tertekan," Nasihat Gojyo sedikit berlebihan bagi Hakkai. Pria berbaju polo coklat itu ingin langsung membantah, namun sepertinya Gojyo tidak memberinya kesempatan bicara.
"Aku akan membuatkan sarapan untukmu. Kita bisa makan sambil mengobrol,"
"Gojyo... Aku tidak… "
"Aku akan ke dapur. Kau menunggu saja di ruang tamu. Di sana ada Sanzo. Lagipula mungkin ia ingin menanyakan beberapa hal padamu mengenai pasien itu," Gojyo langsung meninggalkan Hakkai sendirian. Hakkai ingin menahannya, namun sosok itu sudah keburu menghilang dari pandangannya. Jadi, Hakkai saat ini tak memiliki pilihan lain. Mau tidak mau ia harus menyanggupi permintaan Gojyo untuk tinggal sejenak, sekedar untuk mengobrol beberapa hal padanya.
Ya. Tinggal sebentar, hanya sekitar setengah sampai satu jam lagi. Setelah waktunya lewat, ia harus bersikeras untuk pergi tak peduli dengan Gojyo yang akan menahannya.
Hakkai memantapkan niatnya itu sambil melangkah menuju ke ruang tamu. Tepat seperti yang dikatakan Gojyo, Sanzo masih berada di sana. Pria yang masih memakai piyama tidur itu nampak serius memperhatikan layar televisi. Ia bahkan tetap bergeming saat Hakkai menghampirinya lalu duduk tepat di samping sang dokter.
"Sanzo," Hakkai menyapa untuk menyadarkannya. Sanzo pasti sudah mengetahui kalau Hakkai tengah duduk di sampingnya, namun ia memilih untuk tetap fokus pada acara TV yang tengah ia tonton. Hakkai sudah menebak ia pasti akan tetap mendapat respon dingin dari pria itu. Hakkai hanya tersenyum tipis sambil menarik nafas cepat. Ia mulai bergabung dengan Sanzo, terhanyut dalam acara berita pagi.
"Aku ingin menyampaikan pesan dari Gyokumen Koushu untukmu," Hakkai membuka percakapan. "Ia membutuhkan virus baru dalam waktu dekat ini,"
Sanzo melirik dengan pandangan sinis. Ia tak menemukan guret senyum menenangkan Hakkai. Wajah Hakkai nampak serius mengutarakan hal itu.
"Kasus yang terjadi baru-baru ini telah berhasil menimbulkan teror di tengah masyarakat. Kau berhasil menebarkan sebuah virus yang cukup berbahaya melalui Yaone, boneka percobaanmu sebelumnya," Ungkap Hakkai. "Gyokumen Koushu sepertinya puas dengan hasil tersebut,"
"Aku mengerti," Hanya itu respon Sanzo untuk Hakkai setelah keduanya terjebak dalam keheningan yang cukup panjang. Sanzo mengambil remote televisi, menekan tombol angka pada remote itu asal-asalan untuk mengganti channel.
Hakkai menghela nafas panjang, seolah memiliki hal lain yang ingin ia sampaikan. Pemuda berpostur tinggi itu menyandarkan tubuhnya. Ia melakukan beberapa peregangan ringan sebelum akhirnya menatap Sanzo sambil tersenyum lembut.
"Kita sudah tergabung dalam organisasi teroris ini selama bertahun-tahun. Kau, aku, dan Gojyo memiliki motif tersendiri yang melatarbelakangi kita untuk terlibat dalam lumpur penuh dosa ini. Bisa dibilang, kita memang penjahat kelas berat, bukan?"
Hakkai bicara sambil tertawa getir. Sanzo sepertinya tertarik mengobrol lebih jauh dengan Hakkai mengenai masalah itu sehingga ia meletakkan remote TV lalu bersandar sambil melipat tangannya.
"Semua ini demi pemerintahan yang baru. Walau memiliki motif yang berbeda, tujuan akhir kita tetaplah sama," Sanzo mengambil bungkus rokok yang tergeletak di atas meja. Ia menyalakan rokok tersebut.
"Demi pemerintahan baru…. Kau mengharapkan adanya perubahan yang lebih baik. Namun yang kita lakukan justru kebalikannya,"
"Apa yang terjadi denganmu?" Sanzo mengembuskan asap tebal dari mulutnya.
"Mungkin aku hanya sedikit… bimbang," Hakkai tertunduk sambil tersenyum getir. "Melihat mata pemuda itu, aku jadi memikirkan kembali apa yang aku lakukan,"
Dahi Sanzo langsung berkerut, seolah merespon negatif pernyataan Hakkai barusan. Ia hanya seorang pemuda tak berguna yang hidupnya akan segera berakhir di tangan Sanzo dengan virus baru ciptaannya. Sanzo tak mengerti kenapa Hakkai mau ambil pusing dengan tindakan keji yang sudah dilakukannya itu. Padahal, sebelumnya ia tidak pernah mengeluhkan hal itu.
"Tak ada cara lain yang bisa kita lakukan. Kalau dengan mengorbankan nyawa beberapa orang untuk mewujudkan pemerintahan yang lebih baik, bagiku itu bukan satu masalah besar,"
Hakkai terdiam mendengarnya. Entah kenapa saat ini ia mendengar pendapat Sanzo sebagai sebuah pernyataan yang sangat kejam.
"Jangan terlalu memikirkan hal itu. Tujuan kita sudah hampir tercapai sebentar lagi," Ungkap Sanzo kembali. "Aku akan segera melakukan apa yang diperintahkan Gyokumen Koushu. Ketika virus itu sudah berhasil kuciptakan, aku akan mengabarimu lagi,"
Hakkai masih belum merasa puas. Masih ada hal tak terjelaskan yang mengganjal hatinya, namun ia memutuskan untuk menyimpan hal tersebut rapat-rapat dalam hatinya. Ia tak ingin membahasnya lagi dengan Sanzo. Pastinya, Sanzo malah akan memarahinya.
"Jangan menjadi pengkhianat dalam organisasi. Aku tak ingin membunuhmu," Sanzo mematikan puntung rokok di permukaan sebuah asbak kaca. Hakkai kembali tersenyum simpul lalu mengangguk pelan.
"Aku mengerti,"
Keduanya kembali terjebak dalam keheningan. Sanzo mengambil batang rokok kedua, menyalakan rokok itu lalu mengisapnya. Hakkai hanya memperhatikan sosok dokter yang tengah menikmati waktu santainya itu. Mungkin ia bisa kembali mengajak sosok dingin itu untuk membicarakan topik lain.
"Mengenai pemuda itu, kau sudah membaca latar belakang kehidupannya, bukan?" Hakkai tak menemukan topik lain. Ia kembali membahas masalah pekerjaan mereka. "Ia hanyalah seorang siswa Sekolah Menengah Atas yang baru menginjak usia tujuh belas. Memiliki keluarga: orang tua dan seorang adik perempuan. Bisa dibilang ia adalah tipikal remaja yang aktif dan penuh semangat. Ah, dan nama sebenarnya adalah Goku,"
"Aku tidak tertarik," Sanzo membuang abu rokok ke dalam asbak kaca. Entah apa yang dipikirkan dokter itu, Hakkai jadi merasakan sedikit perubahan ekspresi pria itu. Air muka Sanzo nampak muram, padahal tak ada sedikitpun perkataan Hakkai yang menyinggungnya.
"Baiklah. Aku hanya ingin kau mengetahui sedikit mengenai pasienmu,"
"Untuk apa? Aku bukan berniat berkawan dengannya. Aku berniat menjadikannya bahan percobaan sebelum membunuhnya," Sanzo kembali mengisap rokoknya.
"Baik. Maafkan aku, Sanzo," Ujar Hakkai sedikit heran.
Percakapan mereka terpotong dengan kedatangan Gojyo. Kehadiran pemuda tipikal sanguis itu langsung bisa mencairkan suasana tegang dan serius antara Sanzo dan Hakkai. Gojyo meledek dua rekannya itu ketika melihat wajah muram mereka berdua.
"Ayo ke ruang makan. Aku sudah menyiapkan banyak menu sarapan untuk kita bertiga," Gojyo tersenyum lebar. Hakkai mengangguk sambil tersenyum menyanggupi, sementara Sanzo masih memasang wajah dingin. Ia menjejalkan rokok yang masih panjang itu ke dalam asbak. Dengan ogah-ogahan, Sanzo bergabung dengan Gojyo dan Hakkai. Tiga sosok yang saling berkawan akrab itu pun melangkah bersama menuju ke ruang makan.
*
