Kucuran deras air dari keran seketika menggenangi piring-piring kotor yang menumpuk di dalam bak cuci piring. Tangan kekar milik seorang pria meraih sebuah spons dari dalam tempat sabun. Tangan lainnya bergerak mematikan keran, membiarkan genangan air mengenggelamkan nyaris seluruh tumpukan piring itu. Dengan telaten, ia mulai membersihkan permukaan piring keramik tersebut menggunakan sabun. Satu per satu piring tersebut dibilas kembali oleh air keran. Setelah bersih, piring-piring itu dibiarkan menumpuk untuk nantinya akan dikeringkan lagi.

Gojyo mencuci tangannya dari sisa busa sabun yang menempel, mengakhiri kegiatannya tadi setelah acara makan pagi. Setelah itu pria berambut merah tersebut beralih membersihkan meja makan menggunakan lap basah.

Sesudah makan pagi, Gojyo, Hakkai, dan Sanzo mengobrol beberapa hal ringan di ruang makan ini. Acara itu tidak berlangsung lama karena sekitar setengah jam kemudian, Hakkai langsung mohon diri pada mereka untuk kembali ke kota. Ia tak ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan mereka karena teringat tugas menumpuk yang harus ia selesaikan. Pada akhirnya, Hakkai pun sudah kembali ke tempatnya, meninggalkan dua penghuni rumah yang sama-sama keras kepala itu.

"Singkirkan asbakmu, Sanzo. Aku ingin membersihkan meja ini," Tukas Gojyo saat kain lapnya nyaris bersentuhan dengan asbak kaca tersebut. Ucapan Gojyo mengusik sosok berkacamata yang tengah membaca koran itu. Dengan enggan, ia melipat korannya, mengambil asbak rokok lalu melangkah keluar dari ruang makan.

"Kau mau ke mana? Sedang tidak memiliki pekerjaan 'kan?" Teguran dari pria berambut panjang itu menahan Sanzo di ambang pintu. Ia mematung di sana, tanpa sedikitpun menoleh.

"Lebih baik bantu aku merapikan rumah ini," Gojyo bicara sambil membayangkan ruang tamu dan kamar Sanzo sebagai tempat yang pastinya paling berantakan.

"Aku sibuk," Sanzo hanya merespon tenang sebagai bentuk penolakan. Gojyo mulai kesal dengan tingkah laku Sanzo yang suka seenaknya itu. Ia ingin menahan sanzo lagi, namun sosok itu langsung melengos begitu saja meninggalkan Gojyo sendirian.

"Dasar dokter brengsek!" Rutuk Gojyo sambil merapikan posisi kursi makan yang berantakan. Ia sudah beberapa tahun tinggal bersama dokter menyebalkan itu dan sampai saat ini sang dokter selalu melimpahkan tugas rumah tangga padanya. Ia menghela nafas beberapa kali untuk meredakan amarahnya, mencoba tetap sabar menghadapi sikap Sanzo. Kalau bukan karena tuntutan organisasinya, ia pasti sudah angkat kaki duluan meninggalkan rumah yang berpenghuni manusia tak punya perasaan itu.

Gojyo mengakhiri pekerjaannya. Ia melihat sekitar ruang dapur yang bersebelahan langsung dengan ruang makan, memastikan kalau kedua ruang tersebut sudah bersih. Mata kemerahan Gojyo kebetulan beralih ke sebuah dandang besar yang berada di atas kompor. Ia jadi teringat sesuatu ketika menyadari kalau dalam dandang itu masih tersisa sedikit kuah kare.

'Anak itu. Mungkin ia belum makan apapun,' Pikiran itu langsung terlintas dalam otaknya. Dengan enggan, Gojyo mengambil piring lalu menyiapkan nasi kare untuk penghuni baru yang menempati kamar di sudut koridor itu. Pemuda itu sudah cukup lama berada di kamar itu sendirian. Gojyo sendiri membayangkan apa yang tengah ia lakukan di dalam ruangan pengap itu. Sambil membawa piring di tangannya, Gojyo pun bergegas menuju ke kamar tersebut.

Pintu kamar berderit saat terbuka, menunjukkan suatu ruangan remang-remang dan pengap di baliknya. Seorang pria berambut kemerahan yang membawa sebuah nampan kecil berisi sepiring nasi kare dan segelas air, berdiri di ambang pintu ruangan. Melihat sepintas setiap sudut ruangan itu, Ia langsung menemukan keberadaan sosok yang ia cari. Kaki telanjangnya menapaki ubin keramik yang dingin dan dipenuhi kerak debu. Bola mata merahnya lurus ke depan, terfokus pada penghuni kamar yang tengah tertelungkup di sudut tempat tidur.

Ia duduk di tepi ranjang. Suara derit tempat tidur saat mengeluhkan beban satu orang lagi terdengar, seketika mengusik sang pemuda. Gojyo justru kaget mengetahui pemuda itu langsung menyadari kehadiran orang lain di sekitarnya. Ia mengira pemuda itu tengah tertidur lelap. Wajah Gojyo langsung gugup, apalagi ketika bola mata keemasan tanpa emosi itu menatap kedua matanya.

"Aku membawakan makanan. Pasti kau belum makan sejak tadi, bukan?" Nada bicara Gojyo sedikit ketus. Ia memasang wajah dingin dan serius sambil meletakkan nampan itu di dekat kaki sang pemuda. Pemuda itu bergeming, mengalihkan tatapannya pada sepiring nasi kare, tanpa menyentuhnya sesuai perintah Gojyo. Tak ada luapan emosi dalam wajah bak boneka itu sehingga Gojyo tidak bisa memastikan apakah pemuda itu memang tidak mau makan, atau sedang menahan diri untuk makan.

"Makanlah! Apa yang kau tunggu!? Setelah ini kau akan mendapat pemeriksaan," Paksa Gojyo, mulai gerah mendapati tak ada respon dari sang pemuda. Setelah mendapat perintah lebih keras darinya, tangan sang pemuda bergerak perlahan, meraih piring berisi nasi kare tersebut. Gojyo memperhatikan aktivitas makannya. Respon yang amat lambat serta hilangnya pancaran emosi dalam dirinya membuat pemuda itu menjadi sosok yang amat membosankan. Gojyo menopang dagu, merasa jenuh menungguinya menghabiskan satu piring kare itu. Gojyo sebenarnya ingin mengajaknya bicara, namun ia tahu hal itu bukanlah tindakan tepat karena sebagai paramedis yang turut ambil bagian dalam berbagai percobaan pada 'tikus laboratorium' baru organisasinya itu, ia dituntut untuk tak boleh terlalu akrab dengan pemuda itu.

"Enak,"

Pemuda itu menggumam di tengah aktivitas makannya. Gojyo langsung tertegun. Walau berupa gumaman singkat, ia bisa mendengar dengan jelas apa yang pemuda itu katakan. Namun, Gojyo berusaha tak menghiraukan pujian itu.

"Terima kasih," Pemuda itu kembali mengajaknya bicara. Ia meletakkan gelas setelah menenggak seluruh isinya. Gojyo mengambil nampan yang sudah berisi gelas dan piring kotor, hendak membawanya untuk dicuci. Masih berusaha mengacuhkan pemuda itu, Gojyo bergegas meninggalkannya sendirian.

"Di rumah sakit, rasa makanannya tidak seenak ini," Pemuda itu kembali menghentikan langkah Gojyo. Dengan ucapannya, ia menarik pria itu untuk kembali menghadapinya. Gojyo memperhatikannya sejenak. Pemuda itu sudah kembali ke posisi semula saat Gojyo pertama kali menemuinya. Ia memeluk kedua kakinya, namun kali ini arah wajahnya lurus ke depan, menatap dinding kamar yang bercat putih lusuh.

Gojyo menghela nafas panjang. Ia merasa sedikit iba melihat pancaran matanya itu. Hakkai memang benar. Pemuda itu memiliki perbedaan tersendiri jika dibandingkan dengan beberapa pasien percobaan yang pernah mereka tangani, satu perbedaan yang saat ini sulit untuk ia jelaskan. Pemuda itu seperti memiliki daya tarik yang membuat Gojyo tak bisa mengacuhkannya begitu saja-seperti yang biasa ia lakukan pada pasien-pasien sebelumnya.

"Terima kasih karena kau menyukainya," Gojyo membalas dengan sedikit terpaksa. Membalas ucapan pasien hanya satu kalimat saja tak akan membuatnya diberi sanksi oleh pihak organisasi, bukan?

"Saat ini, apakah aku berada di dunia lain dengan kalian sebagai Shinigami?" Gojyo tak ingin memberikan kesempatan pemuda itu untuk mengajaknya bicara lebih jauh. Ia mengacuhkan ungkapan terakhirnya, mengambil langkah cepat menuju ke pintu. Pemuda itu tak mengeluarkan sepatah kata lagi setelah tahu kalau sosok pria berambut kemerahan itu menolak untuk bercaka-cakap dengannya. Ia memperhatikan punggung Gojyo yang segera menghilang begitu saja saat sosoknya keluar dari ruangan dan kembali mengunci pemuda itu sendirian di ruangan lembab ini.

Pemuda itu kembali menelungkupkan wajahnya, membiarkan kesunyian melingkupi dirinya kembali. Ia merasakan seperti ada sebuah lubang yang amat besar di dalam tubuhnya sehingga kembang-kempis dadanya saat ia bernafas bisa ia rasakan. Tubuhnya terasa semakin lemas. Nafasnya terasa sesak. Ia menggigit bibirnya untuk menahan getaran kecil yang tercipta saat wajahnya mulai memanas.

Ketakutan, kesepian, keputus-asaan. Semua hal itu ia rasakan saat ini sehingga ia tak yakin apakah saat ini ia sudah mati dan berada di dunia lain seperti anggapan sebelumnya. Setelah itu, hanya suara isak tangislah yang menjadi tumpahan dari segenap emosi tertahannya selama ini.

Gojyo masih bersandar di pintu kamar pemuda itu. Ia memang seharusnya bergegas menuju ruangan Sanzo, menyuruh sang dokter agar melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan sang pasien baru. Namun, ia memilih untuk menyandarkan dirinya, sejenak memikirkan ucapan terakhir pemuda itu sebelum Gojyo meninggalkannya sendirian.

'Shinigami?'

Gojyo tertawa getir. Mungkin karena sang pemuda tahu kalau Gojyo dan Sanzo akan mengambil nyawanya suatu saat nanti, maka sang pemuda menjuluki mereka sebagai Shinigami. Selebihnya, Gojyo tidak bisa menebak alasan lainnya.

Siapa peduli? Sebaiknya memang tak usah terlalu memikirkan perasaan pasien itu, semenarik apapun dirinya bagi Gojyo. Gojyo pun mengangkat bahunya, kembali menarik nafas panjang lalu mengembuskannya singkat. Ia ingin merokok, sekedar untuk menghibur dirinya sendiri, mungkin setelah mencuci perabotan kotor dan memberitahu Sanzo kalau ia sudah bisa melakukan pemeriksaan.

*

Pintu ruangan kembali terbuka, mengusik sosok sang pemuda yang hampir terlelap dalam posisi tertelungkup itu. Bola mata pemuda itu berusaha menangkap wujud dari sosok yang datang menghampirinya. Di tengah keremangan, seorang pria berambut pirang yang ia ingat sebagai sang dokter mendekati pemuda itu. Wajahnya tenang dan dingin, namun pemuda itu langsung ketakutan melihat sorot matanya. Sang dokter memang memiliki pancaran mata yang berbeda dengan pria berambut merah tadi. Sorot mata keunguan yang tajam, menggambarkan segenap kekejaman dalam dirinya. Terlebih, ketika mata itu bertemu dengan sepasang manik bulat keemasan, seperti ada sebuah amarah yang yang terpacar di relung kelamnya.

Pemuda itu langsung tertunduk, menyembunyikan wajahnya dari dokter bertubuh kurus itu. Kedua tangannya semakin memeluk erat kedua kakinya, menggambarkan penolakan dari pemuda itu terhadap orang kedua yang datang menghampirinya hari ini. Namun, sang dokter malah semakin tertarik menemukan gerak-gerik ketakutan itu. Ia duduk di tepi ranjang, menilik sosok rapuh itu dari dekat. Ia menarik salah satu lengan pemuda itu untuk menghancurkan pertahanan kecilnya. Wajah pucat dan sorot mata emas yang penuh ketakutan itu pun langsung terefleksi pada sepasang bola mata keunguannya.

"Gojyo memberitahuku kalau kau sudah melewati acara makan pagimu," Suara berat khas lelaki dewasa, namun tanpa sedikitpun kehangatan di dalamnya. Pemuda itu tak memberikan jawaban. Ia hanya mengeluh pelan dengan lenguhan nafasnya.

"Sekarang aku akan memeriksamu. Berbaringlah," Suara itu tetap tak meninggi saat ia mengeluarkan perintah, terkesan datar tanpa luapan emosi sedikitpun. Tetapi suara itu justru terdengar lebih mengerikan dibandingkan dengan perintah menghentak dari pria berambut merah tadi.

Memakai sedikit paksaan, pria itu mengempaskan tubuh yang lebih kecil darinya. Pemuda itu sudah terbaring di atas tempat tidur, namun ia masih melipat tubuhnya, menolak sang dokter untuk memeriksanya.

"Terlentang," Perintah dengan nada yang sama, namun semakin terdengar menyeramkan. Pemuda itu berbaring terlentang mengikuti komando. Wajahnya berpaling ke sisi lain untuk menghindari sorot mata pria itu.

"Kau takut?" Pria itu tergelak hampa. Ia meletakkan tas dokternya di lantai lalu mengeluarkan beberapa peralatan medis untuk keperluan pemeriksaan.

"Hanya pemeriksaan kesehatan. Aku ingin mengetahui kondisi fisikmu," Pria itu menjelaskan "Aku tak percaya begitu saja pada laporan Hakkai. Aku harus memastikannya sendiri," Stetoskop yang dingin menyentuh perut pemuda itu. Mereka berdua saling diam selama beberapa menit. Sang dokter berkemeja putih itu nampak serius mendiagnosa kondisi boneka barunya.

"Jantungmu berdetak amat cepat," Pria itu kembali bicara "Kau takut?" Ia menanyakan hal yang sama, dan kembali tak mendapat jawaban dari sang pemuda. Pria itu pun menghela nafas sambil melipat stetoskopnya.

"Aku tak akan membunuhmu sekarang. Kau akan mati perlahan dengan virus ciptaanku," Ia menyimpan stetoskop itu di dalam tas dokternya. "Kondisi fisikmu bagus. Pasti selama di rumah sakit, kau mendapat perawatan yang baik, tidak pernah sakit?"

Tidak pernah sakit? Pria itu salah. Ia sering merasa sakit. Secara fisik dan mental.

Sanzo langsung mencengkram dagu pemuda itu. Sorot mata penuh amarah bertemu dengan sorot mata ketakutan. Ia melihat beberapa bulir air mata keluar dari pelupuk mata pemuda itu. Sanzo kembali tertawa keji "Kau menangis?" Desisnya. "Aku belum memperkenalkanmu pada bebagai jenis rasa sakit yang akan kau terima selama mencoba obatku, tetapi kau sudah menangis duluan,"

Sanzo mengempaskan tubuhnya. Suara derak kayu kembali terdengar ketika tubuh ringkih itu terlentang di atas kasur. Pemuda itu masih menangis, namun suara isakannya teredam oleh bantal ketika sang pemuda langsung menelungkupkan wajahnya di sana, menolak untuk berhadapan lagi dengan sang dokter.

Sanzo memperhatikan kondisi pemuda itu sejenak. Ia sudah membuat kondisi mental pemuda itu menjadi buruk dengan memberikannya sedikit gertakan. Padahal, Gojyo sendiri sudah memperingatkan Sanzo sebelum dokter itu mengadakan pemeriksaan bahwa Sanzo tidak boleh sedikitpun mengusik mental sang pasien. Kemungkinan besar, sang pasien akan memberikan perlawanan saat dijadikan bahan percobaan. Namun, Sanzo sendiri tidak terlalu mendengarkan nasihat itu. Sejak bertemu pandang dengannya, ada sesuatu yang membuat Sanzo merasa membencinya. Jadi, Sanzo ingin memberinya sedikit gertakan sebagai ungkapan kebenciannya tadi.

Ia tak terlalu peduli dengan reaksi Gojyo kalau ia mengetahui hal ini. Sanzo masih ingin melampiaskan rasa bencinya pada pasien barunya itu. Sesuatu yang menarik langsung terlintas dalam pikiran dokter berwajah dingin itu. Senyum keji terukir di bibirnya, menghadapi sosok pemuda yang masih berbaring memunggunginya sambil menangis. Ia memutuskan untuk tidak mengganggu pemuda itu lagi. Sanzo pun meraih tas dokternya. Pemeriksaan singkatnya tadi cukup memberikan gambaran mengenai kondisi fisik pemuda itu. Setelah ini, Sanzo akan beralih pada hal yang lebih menarik lagi.