"Sanzo! Apa yang kau pikirkan!?"
Gojyo memandang punggung tegap yang saat itu tengah sibuk dengan aktivitasnya. Bagian belakang kepala yang tertutup rambut pirang terkuncir sedikit itu menunduk seperti tengah fokus pada apa yang ia kerjakan. Dua tangan kekar yang berbalut jas lab, tak berhenti bergerak, meraih beberapa tabung yang ada di sampingnya lalu mencampurkan cairan-cairan dalam tabung itu. Gojyo melihat pria itu seperti seorang ilmuwan gila yang sedang terobsesi dengan pekerjaannya, sehingga tak mempedulikan sekitarnya, termasuk pertanyaan Gojyo tadi.
"Sanzo!" Gojyo kembali memanggilnya dengan lebih keras.
"Diamlah! Jangan ikut campur!" Hanya itu pernyataan yang bisa Sanzo berikan. Ia tak ingin konsentrasinya hilang hanya karena memberikan penjelasan pada rekan cerewetnya itu.
"Sanzo, aku tidak yakin ini tindakan yang tepat," Gojyo berkomentar. Sebagai rekan kerja yang baik, ia tentu langsung memberikan peringatan sebelum Sanzo melakukan rencana itu lebih jauh.
"Sanzo, kuharap kau mau bertindak lebih profesional," Ungkap Gojyo lagi saat pria itu kembali tak memberinya respon. "Aku tahu ia adalah kelinci percobaanmu, namun kau sendiri juga tak bisa memberinya obat tanpa prosedur dari organisasi,"
"Aku hanya ingin mencoba reaksi obat ini pada tubuhnya sedikit," Balas Sanzo tenang. Gojyo langsung mendengus kesal. Ia sudah mulai lelah membujuk pria keras kepala ini, terlebih Sanzo memiliki jalan pikiran yang sulit ditebak. Gojyo sendiri juga belum menemukan alasan jelas kenapa Sanzo memiliki rencana tersebut untuk pasien barunya itu. Padahal, dengan pasien sebelumnya, Sanzo bisa dibujuk untuk melakukan percobaan sesuai prosedur organisasi.
"Kau terlalu berperasaan," Celetuk Sanzo tenang.
"Apa maksudmu! Aku tidak membicarakan perasaan! Baik atau buruk! Ini hanya tidak dianjurkan oleh organisasi! Bagaimana kalau ia mati setelah diberikan obat itu?" Gojyo bertolak pinggang. "Sanzo!"
"Kita tinggal mencari penggantinya," Jawab sanzo tenang.
"Kenapa kau melakukan hal ini?" Gojyo yang sudah lelah berdebat itu menyandarkan dirinya di ambang pintu.
"Bukan urusanmu! Ia pasienku jadi aku bisa melakukan hal apapun padanya,"
Gojyo terdiam. Ia sebenarnya masih memiliki banyak argumen untuk melawan balik ucapan itu, namun ia tahu kalau argumen lain yang ia lontarkan akan membuatnya dan Sanzo masuk dalam perdebatan yang lebih sengit. Jadi, mengalah untuk saat ini menjadi jalan terbaik. Ia berharap, Sanzo mengerti batasan yang jelas sampai di mana ia harus bermain-main dengan misinya ini-mencampurkannya dengan hal yang bersifat pribadi.
"Kuharap dosis yang diberikan tidak terlalu banyak," Saran Gojyo, sebelum pemuda itu meninggalkan Sanzo sendirian di ruangan. Namun, panggilan dari Sanzo mengentikan langkahnya. Dengan enggan, Gojyo kembali lagi ke ambang pintu.
"Jangan melibatkanku!"
"Bawakan aku tali yang kuat. Ikat di tangan dan kaki pemuda itu agar ia tidak melawan," Perintah Sanzo tanpa mendengarkan penolakan Gojyo tadi.
"Sudah kubilang, aku tak mau terlibat dalam rencanamu ini!" Pemuda berkaos abu-abu itu menolak begitu saja perintah Sanzo. Memang siapa yang mau membantu seorang pria egois seperti Sanzo yang memiliki rencana nekat dengan memberi pemuda itu obat beracun yang mematikan? Kalau pihak organisasi sampai tahu, ia bisa ikut diberi sanksi.
"Sanzo, pikirkanlah baik-baik rencanamu ini," Gojyo membujuk untuk yang terakhir kalinya. Ia memakai nada yang sedikit lembut dan memelas agar pria itu setidaknya mau mendengarkan saran seorang asisten yang selalu diperbudak oleh sang dokter.
"Kau berpikir terlalu jauh. Aku hanya mengujinya sedikit. Ia tak akan terbunuh," Gojyo menjenggut rambut merahnya mendengar respon yang amat tenang itu.
"Siapa yang bisa menjamin?!" Gojyo kembali menghentak. Ia menghela nafas untuk mendinginkan hatinya. Ia kembali putar otak, mencari jenis bujukan apa lagi yang mampu mengurungkan niat dokter gila ini?
"Dosis yang kuberikan tak akan sebanyak dosis untuk Yaone saat itu," Sanzo yang sejak tadi memunggungi Gojyo akhirnya berbalik. Bola mata di balik kacamatanya itu merefleksikan sebuah tabung reaksi yang berisi sedikit cairan.
Pemuda berkaos abu-abu itu tak bisa membantah lagi. Dengan enggan ia meninggalkan Sanzo sejenak menuju ke gudang untuk mencari sebuah tali tambang. Kalau tidak salah, ia terakhir kali menyimpan tali yang digunakan untuk mengikat pasien-pasien percobaannya selama ini di dalam gudang. Tidak memakan waktu lama, Gojyo sudah kembali ke ruang lab pribadi Sanzo dengan membawa empat utas tali tambang itu di tangannya. Saat ia mencapai ambang pintu, ia melihat Sanzo tengah memasukkan sebuah cairan ke dalam jarum suntik. Mungkinkah Sanzo sudah selesai membuat racun tersebut?
"Sanzo…" Gojyo memanggil Sanzo. Untuk yang benar-benar terakhir kali ia mencoba membujuk pria itu, namun Sanzo sudah keburu memotong ucapan Gojyo selanjutnya.
"Ayo kita ke sana," Ajak Sanzo. Wajahnya nampak tenang, seperti biasanya, padahal ia akan melakukan perbuatan keji pada seorang pemuda.
"Sanzo…"
"Dosis racunnya tidak akan banyak. Ia tak akan mati," Jelas Sanzo lagi. Punggung berbalut jas lab itu mendahului Gojyo beberapa langkah. Gojyo langsung mengikuti langkah sang dokter. Mereka menaiki tangga dari ruang bawah tanah menuju ke kamar pemuda itu. Ruang lab pribadi Sanzo memang sengaja ditempatkan di ruang bawah tanah, amat terpencil. Di ruang berdinding bata merah itulah Sanzo kerap membuat berbagai penemuan medisnya mulai dari obat-obatan, racun, bahkan sampai virus yang amat berguna bagi organisasi mereka untuk menjalankan teror demi teror.
Gojyo tak bisa menebak dengan pasti racun apa yang kali ini diberikan Sanzo pada pemuda itu, karena Sanzo sendiri sudah menciptakan cukup banyak racun dengan berbagai jenis efek bagi korbannya. Ia hanya bisa berharap racun tersebut tidak memiliki efek yang terlalu berbahaya bagi bahan percobaan barunya itu.
"Kau memiliki penawarnya?" Tanya Gojyo saat mereka berdua sudah mencapai koridor. Sanzo berpikir sejenak seperti mengingat-ingat sesuatu. Dari situ Gojyo mendapat firasat lebih buruk lagi.
"Aku tidak ingat. Mungkin belum kubuat lagi,"
"Kau jangan main-main, Sanzo!" Gojyo memperingatkan kesal.
"Percayalah padaku. Ia tak akan mati," Sanzo sendiri juga sudah mulai malas meyakinkan asisten yang selalu berpikiran negatif padanya itu. "Kalau kau masih tak percaya, aku juga akan menyuntikkan obat ini padamu biar kau merasakan sendiri efeknya," Ancamnya.
"Kau sudah gila!" Hanya sebuah rutukan yang bisa ia keluarkan. Selebihnya, pria itu akhirnya bisa dibungkan dengan gertakan Sanzo. Selanjutnya, ia hanya membisu, mengikuti langkah Sanzo di belakangnya sebagai seorang asisten dokter yang penurut menuju ke kamar pemuda itu.
Pada akhirnya, mereka sudah mencapai ambang pintu ruangan kamar di ujung koridor. Sanzo membuka pintu itu, menimbulkan debaman keras saat benda kayu itu menghantam dinding. Bunyi itu seketika mengalihkan perhatian penghuni di dalamnya. Pemuda yang terbaring di tempat tidur itu memperhatikan dua sosok pria menghampirinya. Ia merasakan satu firasat buruk, terlebih ketika melihat sang pria berambut merah yang tadi memberinya makan pagi tengah membawa beberapa utas tali di tangannya sedangkan dokter mengerikan itu membawa obat dan jarum suntik di tangannya.
Detak jantungnya mulai cepat. Ia tahu kalau dua orang ini pasti akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. Pemuda itu sontak meringkuk di sudut ranjang untuk membuat sebuah pertahanan kecil sebagai bentuk perlawanan. Namun, dokter biadab itu dengan mudah mampu meruntuhkan pertahanan itu. Ia kembali mencengkram lengan pemuda itu kemudian mengempaskan tubuhnya ke ranjang kayu. Pemuda itu terbaring terlentang di sana. Kedua tangannya masih terbelenggu oleh cengkraman kuat Sanzo. Kedua orang itu saling berhadapan, menatap satu sama lain. Sanzo melihat bola mata keemasan itu berkaca-kaca, dan dalam hitungan detik mengeluarkan tetes demi tetes cairan bening.
"Jadilah anak baik. Tugas pertamamu dimulai sekarang," Sanzo memberi isyarat pada Gojyo untuk mengikat kedua tangan dan kaki pemuda itu, namun Gojyo masih nampak ragu melaksanakan komando Sanzo tersebut.
"Kupikir ia tak akan melawan, Sanzo," Walau ragu, Gojyo akhirnya bisa mengatakan hal itu. Seperti dugaannya, Sanzo langsung merespon negatif ucapannya.
"Kubilang, ikat kedua tangan dan kakinya,"
Gojyo akhirnya melaksanakan perintah sang dokter. Pemuda itu berusaha melawan, namun sia-sia saja karena ia memang tengah berhadapan dengan dua sosok tubuh yang lebih besar dengan tenaga yang tentunya lebih kuat darinya. Jadi, perlawanan pemuda itu dalam sekejap dapat dihentikan dengan mudah.
Banyak pertanyaan terlintas dalam kepala pemuda itu, bahkan ketika ia melihat sang dokter mengeluarkan sebuah jarum suntik dari tasnya. Apa yang akan mereka lakukan padanya? Dan untuk apa mereka melakukan hal itu? Lalu, kenapa harus dirinya yang mengalami semua ini? Segenap rasa kecewa ia keluarkan melalui sebuah isakan lemah. Ia memang tak bisa melakukan perlawanan lagi. Jarum suntik itu sudah terlanjur menancap di kulitnya, menembus daging, menuju ke pembuluh darah. Cairan dalam suntikan itu pun meresapi aliran darah. Hanya dalam hitungan detik, sang dokter berhasil melakukan percobaan pertamanya pada pemuda itu. Ia menarik jarum suntik itu, membiarkan sedikit darah keluar dari kulit bekas suntikan.
Pemuda itu hanya bisa terkulai di atas ranjang. Dengan tangan dan kaki yang masih terikat, ia membalikkan tubuhnya, berbaring menyamping. Dua orang itu memperhatikannya beberapa saat, menunggu reaksi yang terjadi pada tubuhnya setelah menerima suntikan itu.
"Sanzo, suntikan apa yang kau berikan?" Gojyo yang penasaran langsung meminta penjelasan pada sang dokter. Sanzo hanya membisu. Sorot matanya menatap tubuh lunglai pemuda itu, seolah mencermati setiap pergerakan dari sang boneka percobaan. Gojyo tercenung menatap wajah Sanzo, berusaha menebak apa yang tengah dipikirkan sang dokter.
"Sanzo,"
"Kita pergi," Ungkap Sanzo pada akhirnya. Ia mengucapkannya dengan tenang seperti biasanya. Tetapi, kontras dengan nada bicaranya, raut wajah Sanzo nampak mengerikan, seolah menyembunyikan kebencian yang mendalam ketika memperhatikan pemuda itu.
Sanzo melengos begitu saja sambil membawa tas dokternya. Gojyo mengikuti sang dokter dari belakang. Mereka keluar dari ruangan meninggalkan pemuda itu sendirian. Bunyi debaman kencang terdengar saat salah satu dari mereka menutup pintu kayu itu, diakhiri oleh sebuah bunyi klik. Setelah itu, keheningan pun kembali menguasai sekitar ruangan.
Pemuda itu tak bergerak dari posisi terakhirnya. Bola mata keemasan yang terus menerawang lurus dengan siluet hampa, menggambarkan kondisi jiwanya saat ini. Ia memang tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu reaksi dari obat yang diberikan dokter itu. Kemungkinan ia akan mengalami rasa sakit karena ia yakin cairan yang disuntikkan itu pasti memberikan efek buruk bagi tubuhnya. Ia hanya berharap kalau racun itu tidak akan terlalu menyiksanya.
Jadi, inikah kehidupan yang akan ia jalani ke depannya? Menjadi bahan percobaan, bertarung dengan maut setiap harinya. Jika hari ini beruntung, ia masih bisa hidup, namun jika tidak, ia bisa saja kehilangan nyawanya. Kehidupan seperti itu bahkan lebih mengerikan daripada kematian.
Di tengah rasa kalut yang melanda pikirannya, ia mulai merasakan nafasnya semakin berat. Pada awalnya, ia berpikir kondisi itu terjadi karena ia merasa sangat bersedih, namun setelah beberapa menit, nafasnya semakin terasa sesak. Sesuatu tengah terjadi di dalam tubuhnya, dan ia yakin itu adalah efek dari cairan asing yang disuntikkan ke tubuhnya itu.
Kedua tangan yang bergetar itu menangkup dada sebelah kirinya, merasakan detakan jantung yang berpacu amat cepat. Tubuhnya mulai menggigil karena ia merasakan kalau suhu ruangan ini seperti menurun drastis. Pemuda itu memeluk tubuhnya. Rasa dingin ini semakin membuat nafasnya terasa sesak. Dengan susah payah, ia meraup oksigen menggunakan mulutnya. Semakin lama, semakin terasa sangat berat untuk mengambil satu tarikan nafas. Jatah oksigen dalam paru-parunya pun semakin menipis. Kalau ia berada dalam kondisi seperti ini sedikit lebih lama, ia pasti akan mati.
Pemuda itu menelentangkan tubuhnya. Mulutnya menganga lebar untuk meraup oksigen yang lebih banyak dari sekitar ruangan. Keringat dingin mulai mengucur deras di sekujur tubuhnya. Semakin lama, ia semakin tersiksa dengan rasa sakit ini. Tubuh yang terasa sangat dingin dan nafas yang semakin sesak seperti tengah dicekik. Kata 'mati' pun kembali terlintas di pikirannya. Ya, mati memang jauh lebih baik daripada harus terus-terusan berada dalam kondisi menyakitkan seperti ini.
Pandangan matanya mulai memburam. Di tengah kesadarannya yang semakin menipis, ia melihat pintu ruangan kamarnya dibuka perlahan. Siluet cahaya dari luar ruangan sedikit menerangi sosok yang memasuki ruang kamarnya. Ia mengenali sosok itu sebagai sang dokter. Pemuda itu pun langsung menggapaikan tangannya ke arah dokter itu, menaruh dua harapan pada monster berjaket putih itu, meminta pertolongan agar dokter itu mau menyembuhkannya atau agar dokter itu langsung membunuhnya saja.
Kedua tangan terikat tali yang tengah tergapai padanya membuat Sanzo memperhatikan pemuda itu dengan jarak lebih dekat. Tubuh yang menggigil hebat. Mulut yang terbuka lebar untuk meraup oksigen di sekitarnya. Sepasang manik emas dibanjiri cairan bening. Kondisi yang memang Sanzo harapkan terjadi pada pemuda itu setelah ia menyuntikkan racun tersebut ke tubuhnya. Menghadapi kondisi pemuda itu yang semakin memburuk, wajah sang dokter masih tetap tenang. Ia melipat kedua tangannya, seolah menolak segala jenis ungkapan minta tolong yang tercermin dari gerakan tangan pemuda itu.
"Ini sebagai ucapan salam dariku," Ungkap Sanzo pada sang pemuda di tengah kondisinya yang semakin memburuk. "Tak perlu cemas. Setelah kehilangan kesadaran, efek ini akan hilang dengan sendirinya," Ia tersenyum sinis pada pemuda itu.
Sanzo berjongkok di dekat ranjang pemuda itu. Wajahnya menghadapi sosok tersiksa itu dari jarak dekat. Sanzo masih mengguretkan senyum sinisnya sebentar sebelum akhirnya ia kembali mengajaknya bicara.
"Tersiksa?" Sanzo mengejeknya. "Pasti sangat sakit," Sang dokter melirik arlojinya sejenak "Sekitar beberapa menit lagi sebelum kau kehilangan kesadaranmu,"
Sanzo terdiam sebentar, setelah itu ia kembali mengajaknya bicara. Memang terasa sangat kejam mengajak bicara seseorang yang tengah berada dalam kondisi kritis seperti pemuda itu. Namun, bagi Sanzo, hal itu terasa sangat menyenangkan.
"Namamu Goku, bukan?" Pemuda itu sepertinya masih bisa menelaah ucapan Sanzo di tengah rasa sakitnya. Sanzo melihat mata keemasan pemuda itu sedikit membulat ketika mendengar ucapan tersebut.
"Goku," Sanzo berbisik "Aku sudah membaca semua latar belakang kehidupanmu sebelum kau kehilangan ingatanmu dan dbawa ke sini," Ujar Sanzo. Ia melihat pemuda itu semakin menunjukkan reaksi di tengah rasa sakitnya, campuran antara terkejut dan marah.
"Seorang pemuda yang memiliki keluarga dan teman-teman yang baik, menjalani kehidupannya dengan penuh kebahagiaan," Sanzo menerawang "Kehidupan yang amat sempurna. Kau hanya tidak beruntung karena organisasi mengincarmu. Dan, hal itulah yang mengubah kehidupanmu secara drastis," Sanzo menatap wajah pemuda itu sambil menebak reaksinya setelah mendengar sedikit cerita Sanzo mengenai gambaran masa lalunya.
"Sekarang, apa semua itu masih penting bagimu? Semua yang kau punya di masa lalu kini sudah lenyap. Kau sudah menjalani kehidupan yang berbeda sekarang. Kau menjadi boneka percobaanku,"
Pemuda itu mengerang pelan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Nafasnya semakin sesak. Ia sudah tak kuat lagi berjuang untuk meraup oksigen agar tetap terjaga. Kesadarannya pun semakin menipis.
Pandangannya mulai berkabut. Ia memejamkan matanya, membiarkan tetesan terakhir dari air matanya mengalir membasahi pipinya. Kali ini, ia tidak menangisi rasa sakit yang menyiksanya, melainkan segenap fakta yang disingkapkan oleh dokter biadab itu. Ia memang tak bisa mengingat dengan jelas masa lalunya sehingga ia memang tak bisa mempercayai seratus persen ucapan dokter tersebut. Namun, tetap saja hatinya terasa sakit setelah mendengar cerita dokter itu mengenai masa lalunya.
Sanzo melihat pemuda itu sudah memejamkan matanya. Tepat seperti dugaannya, dalam beberapa menit, pemuda itu akhirnya kehilangan kesadaran. Permainan kecil Sanzo terhadap pemuda itu pun berakhir sampai di sini.
Sedikit kecewa, sanzo mengeluh pelan sambil berdiri. Ia mematung sejenak, masih menghadapi sosok terbaring kaku di atas ranjang dengan tangan dan kaki yang terikat. Pemuda itu sudah terlelap, namun raut wajahnya tetap terlihat sedih. Mungkin setelah tersadar, kondisi mental pemuda itu akan semakin memburuk. Dan, pastinya, Sanzo akan kembali mendapat omelan dari Gojyo setelah ia sukses membuat pemuda itu makin terguncang.
Sebagai dokter, Sanzo memang dilarang keras untuk membocorkan rahasia masa lalu pasien percobaannya karena kemungkinan mental sang pasien akan terguncang dan membuat pasien itu cenderung melakukan perlawanan. Sanzo bukanlah anggota organisasi yang suka melanggar aturan itu. Sebagai dokter yang sudah menangani pasien demi pasiennnya, Sanzo tidak pernah membocorkan rahasia masa lalu terhadap para pasiennya. Bahkan, pasien sebelum pemuda ini pun ia masih berperan sebagai dokter yang patuh pada aturan organisasi.
Namun, untuk kasus pasien bernama Goku ini mungkin Sanzo sudah bertindak agak kelewatan. Selain memberikan obat di luar misinya, Sanzo sudah membocorkan sedikit kehidupan masa lalu sang pasien. Tindakan Sanzo tersebut pasti akan menimbulkan dampak buruk padanya. Sang pasien mungkin akan memberikan perlawanan pada Sanzo saat sang dokter ingin memberikannya berbagai jenis obat sebagai percobaan.
Tetapi apa boleh buat. Ia sudah terlanjur melakukan hal itu, dan kini tinggal menerima konsekuensi yang harus ditanggungnya. Sanzo belum mendapat solusi yang tepat untuk menyikapi kondisi yang akan terjadi setelah ini. Ia memang tak mau memikirkannya terlebih dahulu. Sanzo pun melengos. Ia hendak keluar ruangan untuk mengerjakan proyek pembuatan virusnya yang masih berada di tahap awal. Suara berdecit terdengar ketika telapak kaki Sanzo bergesekan dengan lantai keramik putih itu. Ia menggapai kenop pintu, dalam sekejap sudah berada di luar ruangan. Sanzo pun menutup pintu ruangan itu rapat-rapat lalu menguncinya.
"Sore nanti kau antarkan makanan untuknya," Sanzo memberi perintah saat menemukan sosok Gojyo berdiri bersandar pada dinding koridor. Sanzo tak bisa menebak dengan jelas apa tujuan Gojyo berdiri seperti orang bodoh menunggui sang dokter keluar dari ruangan. Sanzo meneruskan langkahnya, berlalu begitu saja medahului Gojyo yang masih menyandarkan punggungnya pada dinding dengan gerak mata yang mengawasi setiap pergerakan Sanzo. Ia berusaha untuk mengacuhkan pria itu, terlebih ketika sosok berambut merah panjang itu mengajukan sebuah pertanyaan.
"Apa yang kau lakukan padanya lagi?" Gojyo bergerak mengikuti Sanzo dari belakang seolah mendesak sosok itu untuk menjawab pertanyaannya.
"Hanya melihat reaksi obat itu pada tubuhnya," Sanzo mempercepat langkahnya, seolah mulai merasa terganggu dengan segala jenis pertanyaan yang dilontarkan pria itu untuknya.
Melihat gerak-gerik Sanzo, Gojyo pun memutuskan untuk tidak mengganggu pria itu lagi. Mungkin ia memang ingin sendirian, terlebih Gojyo melihat Sanzo menuruni tangga menuju ke ruang bawah tanah. Bisa dibilang, ruang bawah tanah itu adalah ruangan yang cukup privasi bagi Sanzo karena di tempat itulah ia biasa menghabiskan waktunya, entah untuk membuat bahan medis baru atau sekedar menyendiri.
"Payah, semua semakin membuatku bingung," Keluh Gojyo sambil merenggangkan tubuhnya. Menjadi sosok penengah bagi seorang dokter yang memiliki jalan pikiran yang sulit ditebak dan cenderung keras kepala itu memang merupakan peran cukup sulit bagi Gojyo. Ia pada akhirnya menuruti ucapan sang dokter. Dengan langkah ogah-ogahan, Gojyo melangkah menuju ke dapur. Kali ini pikirannya beralih pada menu makan sore yang akan ia siapkan. Dalam sekejap, suasana rumah pun kembali hening dengan para penghuni rumah yang melakukan aktivitasnya sediri-sendiri di ruangan yang berbeda.
