Pintu kamar kembali terbuka, menampilkan sosok yang sama saat memasuki ruangan. Rumah ini memang hanya berpenghuni dua orang di luar dirinya, sehingga siapapun yang menyambangi ruangan kamar tempat ia dikurung ini hanyalah antara sang dokter dan pria berpenampilan urakan itu atau bahkan keduanya. Dalam waktu kurang dari sehari menempati rumah ini, pemuda itu sudah bisa merekam dua sosok tersebut dalam ingatannya.

Pria berambut merah itu datang menghampirinya dengan membawa nampan di tangannya. Ia mengamati pemuda itu. Bola mata keemasan bertemu pandang dengannya lalu mengikuti setiap pergerakannya di tengah remangnya ruangan kamar ini. Kondisi pemuda itu masih tenang, tidak memberikan perlawanan sedikitpun, hanya terbaring dengan kedua tangan dan kaki yang masih terikat. Namun, sorot mata itu nampak sedikit menakutkan seolah menyimpan amarah yang cukup besar. Ia terus menatap Gojyo dengan pandangan yang sama, bahkan sampai Gojyo meletakkan nampan berisi makanan itu di meja samping ranjang.

"Makanan untukmu!" Ungkap Gojyo dengan nada ketus. Ia memperhatikan kondisi pemuda itu dari dekat. Sepertinya pengaruh obat yang diberikan Sanzo tadi sudah hilang sehingga tidak terjadi reaksi apapun pada tubuhnya saat ini. Namun, dari sorot mata mengerikan itu Gojyo sudah bisa menebak kalau pemuda itu sudah melewati fase mengerikan dari efek obat yang diberikan Sanzo tadi, ditambah lagi mungkin ada ucapan Sanzo pada pemuda itu yang mengusik jiwanya.

Gojyo ingin melepaskan ikatan tali yang mengikat erat pergelangan kedua tangan pemuda itu. Namun, pemuda itu secara spontan menepisnya. Tubuh pemuda itu bergerak mundur untuk menghindari Gojyo. Ia kembali pada posisi favoritnya, meringkuk di sudut ranjang. Nafas pemuda itu memburu, campuran antara perasaan marah dan ketakutan.

"Apa-apaan lagi ini," Keluh Gojyo pelan. Ia mendekati tubuh pemuda itu, sedikit memaksanya untuk melepaskan ikatan tali tersebut. Namun, pemuda itu kembali memberikan perlawanan kecilnya. Tubuh kurus berbungkus kaos putih lengan panjang itu semakin merapat ke dinding kamar yang lembab.

"Aku hanya ingin memberimu makan," Ucap Gojyo saat merasa gerah dengan perlawanannya. "Tidak ada racun atau apapun!" Jelasnya. Pemuda itu masih tetap meringkuk di sudut ruangan. Gojyo pun tidak mendesaknya lagi. Ia hanya berdiri menghadapi pemuda itu sambil bertolak pinggang. Dalam hati ia mengutuk Sanzo yang sudah melakukan tindakan semena-mena sehingga pemuda itu malah memberikan perlawanan padanya.

"Dengar bocah! Aku hanya bertugas memberimu makan. Kalau kau ingin makan, ambil saja sendiri! Kalau tidak mau pun itu bukan urusanku!" Gojyo mulai sewot. Ia memilih untuk tidak memaksanya lagi. Lagipula, percuma saja memaksa seorang yang sedang berada dalam tekanan. Yang ada, ia sendiri juga akan ikut tertekan.

"Apa…yang sebenarnya kalian inginkan?" Suara lirih dari sudut ranjang itu menghentikan langkah Gojyo. Gojyo kembali menghadapi pemuda itu. Ia masih berada dalam posisi yang sama, namun paling tidak ia mau bersuara.

"Kalian mengurungku di sini, namun memberiku makan, kemudian… memberiku obat yang menyakitkan setelah itu memberikanku makan lagi…" Pemuda itu menatap Gojyo dari celah tangannya. "…aku merasa seolah kalian sedang memainkan kehidupanku. Kenapa tidak membunuhku saja dari awal?"

Gojyo menghela nafas mendengarnya, seolah memikirkan ucapan yang tepat untuk menjelaskan kondisi pemuda itu saat ini. Akan sangat kejam pastinya ucapan yang akan pemuda itu dengar.

"Kau tahu tikus laboratorium?" Gojyo memberikan sebuah ungkapan sederhana. Pemuda itu langsung terdiam mendengarnya, seolah sudah bisa menangkap jelas maksud dari perumpamaan itu.

"Kau berada dalam kondisi yang sama saat ini," Gojyo menjelaskan. Sorot mata merahnya menatap pemuda itu tegas. "Seluruh kehidupanmu sudah berada dalam skenario kami. Kalau tidak ingin merasakan lebih banyak rasa sakit, sebaiknya kau berperan sebagai peliharaan yang baik,"

Dada pemuda itu terasa sesak. ia langsung menolak mentah-mentah kenyataan yang diberikan untuknya.

"Kalian membunuh keluargaku, menghapus seluruh ingatanku, membuatku berada dalam kondisi seperti ini… kenapa?!"

Dahi Gojyo berkerut mendengarnya. Ia tak menyangka kalau pemuda itu tahu sedikit mengenai masa lalunya. Keluarga bocah itu yang sudah mereka bunuh. Apakah Sanzo sudah membeberkan hal-hal tersebut padanya?

"Apapun itu, jadilah pasien yang baik. Jangan banyak melawan kami," Wajah dingin Gojyo tetap tak berubah. "Masalah kematian, kami sudah menetapkan cara tersendiri untukmu,"

Pemuda itu berteriak menyamarkan ucapan terakhir Gojyo. Rasanya memang sudah cukup mendengar penjelasan tersebut. Ia kembali membuat sebuah perlawanan, berusaha membuka ikatan tali yang melilit tangan dan kakinya. Gojyo langsung sigap menahan pergerakan pemuda itu. Untung saja tadi Gojyo tak sempat membuka ikatan tali pemuda itu sehingga kemungkinannya untuk memberikan perlawanan yang lebih besar tidak terjadi.

"Kubilang jangan melawan, bocah!" Gojyo mulai emosi. Ia memberikan pukulan pada rahang pemuda itu agar sosok bertubuh pendek itu kembali tenang. Ia memang tak punya piihan lain. Kalau dibiarkan, pemuda itu kemungkinan bisa mengamuk.

"Kalau tidak ingin diberikan obat dengan efek yang lebih berbahaya, sebaiknya jangan banyak melawan," Gojyo memperingatkan. Wajahnya mulai melembut melihat sosok terkulai di atas ranjang itu. Ia sebenarnya tidak tega memperlakukan pemuda itu dengan kasar, bahkan sudah memukulnya dan memberinya ancaman, namun sekali lagi, ia tak bisa menemukan cara lain yang bisa membuat pemuda itu kembali tenang.

"Aku…tidak mau…" Bibir pucat itu membuat pergerakan lemah. Desisan lirih terdengar di telinga Gojyo. Ungkapan seperti seorang anak kecil yang menolak kenyataan yang terlalu berat untuk ia tanggung. Ah! Dia memang masih terlalu muda untuk menerima perlakuan seberat ini.

"Lepaskan… aku…"

Gojyo langsung meninggalkannya sendirian. Ia memang sudah tak bisa memberikan penjelasan lebih jauh. Ucapan terakhir pemuda itu juga sulit sekali untuk ia jawab. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi pada pemuda itu selanjutnya. Menguncinya sendirian di sini diharapkan bisa menjadi jalan keluar yang tepat.

"Lepaskan aku!" Pemuda itu memanggil Gojyo lebih keras. Ia kembali melontarkan teriakan yang sama, namun Gojyo sudah keburu mengunci pintu ruangan tersebut rapat-rapat.

"Lepaskan aku!"

*

Sepasang bola mata keemasan tak lepas memandang pintu kamar yang tengah terkunci itu, berharap kalau-kalau dua pria penghuni rumah kembali menyambangi ruang kamar tempatnya dikurung. Sore tadi, sekitar tiga jam yang lalu, ketika pria berambut merah panjang yang mengantarkannya makan sore itu meninggalkan dirinya sendirian, ia masih tetap mengeluarkan teriakannya sambil terus berusaha melepas ikatan kuat yang melilit pergelangan tangan dan kakinya. Usahanya saat itu bisa dibilang tidak berhasil, selain kehabisan suara karena terus-terusan berteriak, tenaganya sendiri juga terkuras untuk membuka ikatan tersebut.

Menyadari kondisinya, ia pun mulai menyerah. Ia menghentikan teriakannya, mengakhirinya dengan suara tersengal dari nafasnya yang memburu. Ia menatap pergelangan tangan dan kakinya yang lecet akibat dari usaha kerasnya dalam membuka ikatan ini. Rasanya perih, apalagi saat terkena keringat. Sedikit darah keluar dari luka lecet itu.

Rasanya ia ingin menangis lagi untuk meratapi nasibnya yang kian memburuk. Namun, dalam sekejap ia mengurungkan niatnya, menyadari kalau tangisannya akan menjadi kegiatan yang tidak berguna. Pemuda itu pun tercenung sejenak di tengah kegelapan. Ia mengalihkan perhatiannya pada nampan yang terletak di atas meja. Ada beberapa piring berisi makanan serta segelas air di dalam nampan tersebut. Menatap makanan dan minuman yang memang terhidang untuknya sejak tadi membuat rasa laparnya muncul. Dalam kondisi tangan dan kaki yang terikat, ia berusaha mendekati meja. Tangannya bergetar saat ia menggapai garpu. Pergerakan kecilnya itu membuat luka lecetnya bergesekan dengan tali. Ia meringis menahan perih yang menyerang seketika, namun tetap berusaha menggapai salah satu jenis makanan yang berada di atas piring.

Ia makan dengan amat hati-hati. Memang dibutuhkan keterampilan khusus untuk bisa makan dan minum dalam kondisi terikat seperti ini. Dalam waktu cukup lama, ia bisa menghabiskan sebagian jatah makanannya, walau baju dan tempat tidurnya menjadi kotor terkena tumpahan makanan dan minuman.

Pada akhirnya, setelah ia sudah menyelesaikan makan sorenya, sang pemuda menjelma menjadi seperti patung dengan posisi tubuh mengarah ke pintu ruangan. Ia duduk di atas bantal, memeluk lututnya. Sepasang bola mata keemasannya tak lepas memandangi pintu ruangan. Ia tak tahu persis apa tujuannya mematung seperti ini, hanya mengharapkan ada sosok yang kembali memasuki ruangan ini.

Berjam-jam ia bertahan dengan aktivitasnya itu. Kini, malam hari mulai menjelang. Kondisi ruangan kamarnya semakin gelap karena tidak adanya alat penerangan. Cahaya bulan yang membiasi ruangan melalui jendela kamarnya tidak cukup membantu menyinari ruangan kamar yang cukup luas ini.

Ia mulai terkubur dalam pekatnya kegelapan. Semua benda di sekitarnya juga ikut tersamar, termasuk pintu kamar yang tengah ia awasi. Bola mata yang mulai kelelahan itu pun mengalihkan pandangan ke sekitar ruangan. Ia mulai merasa penat dan bosan. Setelah mengeluarkan satu desahan nafas panjang, pemuda itu pun membaringkan dirinya di atas tempat tidurnya. Bola matanya kini beralih mengarah ke langit-langit kamar, walau tentu saja wujud langit-langit kamar itu juga sudah termakan oleh kegelapan pekat.

Keheningan dan kegelapan yang bermain di ruangan kamar tersebut membuat sang pemuda mulai mengantuk. Ia menggganti posisi tidurnya, memiringkan badannya menghadap ke dinding. Kedua matanya masih mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar terpejam.

*

Ketika ia membuka kedua matanya kembali, siluet sinar langsung menyambutnya. Ia pun langsung tersentak. Pemuda itu melihat sekitarnya dan mendapati kalau cahaya yang menyambutnya barusan adalah cahaya hangat dari mentari pagi.

Ia pun tercenung, memikirkan pengalaman tidur singkatnya semalam. Ia merasa kalau ia baru saja memejamkan matanya selama beberapa menit, namun tidak disangka kalau saat membuka matanya, malam yang terasa panjang itu kini sudah berganti menjadi pagi yang indah.

Ya, ia merasa kalau suasana pagi di luar sana pasti amat indah. Ia mengalihkan pandangannya ke bingkai kaca yang menyajikan lukisan hidup dari suasana pagi. Saat melihat ke langit pun, dibuat terpesona dengan arakan awan dan mentari pagi yang masih sedikit menyembunyikan wujudnya di sana. Beberapa ekor burung terbang bebas melintasi langit, dalam sekejap membuatnya iri dengan kebebasan yang mereka miliki. Bola matanya kembali menelusur ke pemandangan di bawah langit: bentangan halaman rumah ini yang dihiasi oleh berbagai jenis tanaman. Bunga-bunga dan dedaunan yang tumbuh nampak segar dibasahi embun. Kalau jendela ini terbuka, pasti ia bisa merasakan udara sejuk yang merembes masuk ke ruangan.

Pagi yang amat sempurna. Kalau saja ia memiliki kebebasan untuk keluar dari ruangan kamar ini lalu berjalan keluar melintasi halaman. Saat memikirkan hal itu, pandangan matanya beralih pada kedua tangan dan kakinya yang masih terikat. Dalam sekejap, keinginan itu pun ia kubur dalam-dalam.

Suara klik terdengar cukup keras, mengalihkan perhatiannya ke pintu kamar. Ia melihat dari kejauhan kenop pintu berputar. Tak memerlukan waktu lama, sesosok pria menunjukkan diri di hadapannya.

Pria bertubuh tinggi dan berambut panjang kemerahan itu lagi. Mata pria itu langsung mengarah padanya, menemukan pemuda yang kemarin berteriak-teriak itu kini hanya terbaring di atas tempat tidur sambil menatapnya tajam.

"Hanya cukup menghabiskan waktu di sini seperti pemalas, bukankah itu menyenangkan?" Ejek pria itu sambil menghampirinya. Ia beralih menatap nampan yang tergeletak di atas meja. Makanan dalam piring itu sudah tidak utuh, dalam keadaan berantakan. Pria itu pun tersenyum, masih terlihat seperti mengejeknya.

"Bahkan tak perlu repot-repot menyiapkan makanan. Semua sudah tersedia dengan sendirinya,"

Pemuda itu tak menjawab, hanya menatap pria itu dengan pandangan tak bersahabat. Lebih baik ia tidak usah menyambangi kamar ini kalau tujuannya hanya untuk mengejeknya.

"Bersikaplah baik. Jangan membuat perlawanan sekecil apapun seperti kemarin. Dengan begitu, kau tidak perlu mengalami ini," Ujar pria itu sambil memegang tangan pemuda itu. Ia meneliti pergelangan tangan kurusnya dan menemukan luka lecet di situ. Sang pemuda pun meringis perih.

"Terasa sakit?" Gojyo melepaskan cengkramannya. Ia bertolak pinggang menghadapi sosok terbaring dengan kondisi masih terikat itu. Ia jadi merasa sedikit iba melihatnya.

"Aku akan melepaskan ikatanmu kalau kau berjanji satu hal," Ucap Gojyo padanya. Pemuda itu tak menjawab sepatah kata pun, masih tetap memandanginya. Namun siluet matanya sedikit berubah, seolah tertarik dengan tawaran Gojyo, walau masih sedikit curiga dengan persyaratannya.

"Jangan mencoba melawan, hanya itu," Gojyo mengungkapkan syarat yang cukup mudah. Pemuda itu terdiam sesaat memikirkan persyaratan tersebut. Bagi Gojyo persyaratan tersebut memang terbilang mudah untuk dilakukan, namun bagi pemuda itu cukup sulit juga mengingat di sini ia akan mengalami kejadian demi kejadian yang membahayakan nyawanya, jadi wajar saja kalau ia pasti akan melawan.

Tapi, untuk saat ini memberikan perlawanan pun akan cukup sulit. Tempat ini memang minim penjagaan. Ia hanya menghadapi dua sosok pria yang sepertinya tidak memiliki keterampilan khusus dalam bela diri. Namun, tetap saja kekuatannya masih berada di bawah dua pria itu.

Pemuda itu menggangguk ragu. Gojyo tak langsung membuka ikatannya, memastikan kalau anggukan ragu tadi memang jawaban pemuda itu untuk menyetujui persyaratan yang diajukannya. Pemuda itu kembali mengangguk, kali ini lebih pasti. Gojyo pun mengerti persyaratan itu. Menghela nafas, ia meninggalkan pemuda itu sejenak untuk mengambil sebuah pisau yang bisa memotong simpul kuat ikatan tali tersebut.

"Tunggulah di sini," Perintah Gojyo. Pemuda itu menuruti ucapannya. Ia menunggu dengan setia, duduk di atas tempat tidurnya dengan sorot mata yang terus mengarah ke pintu kamar, seolah menunggu pria berambut merah yang berjanji akan melepaskannya.

Tak menunggu waktu lama, pria itu akhirnya kembali dengan membawa sebuah pisau di tangannya. Bola mata pemuda itu mengikuti pergerakan pria itu. Pria itu menghampirinya, lalu memotong tali yang melilit pergelangan tangannya itu. Hal yang sama ia lakukan pada tali yang melilit pergelangan kaki pemuda itu. Dalam hitungan menit, pemuda itu bisa bergerak dengan lebih leluasa.

Pemuda itu merenggangkan tangan dan kakinya. Pandangannya lalu beralih pada sosok yang sudah membebaskannya. Pria itu sudah hendak pergi keluar untuk meninggalkannya. Pemuda itu langsung memanggil sosok yang sudah menggapai kenop pintu itu. Suara pelan dan sedikit seraknya membuat pria berkaus hitam itu menoleh.

"Kenapa kau melakukan ini?" Pertanyaan pemuda itu mungkin saja terdengar familiar di telinga Gojyo. Ia pernah mendengar pertanyaan sejenis keluar dari bibir pemuda itu kemarin malam saat ia mengantar makanan. Namun, ada perbedaan tersendiri dari caranya mengucapkan pertanyaan itu antara semalam dengan saat ini.

Gojyo bertolak pinggang. Ia tak bisa melontarkan jawaban yang sama. Pertanyaannya kali ini cukup sulit untuk ia jawab. Kenapa? Memang seharusnya ia tak terlalu peduli dengan kondisi tikus laboratorium itu, bukan? Tak masalah jika ia memperlakukan pemuda itu dengan kejam, termasuk tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya bebas seperti ini.

"Kalau kau mau bekerja sama dengan kami, kami juga tak akan memperlakukanmu dengan kejam. Kau sudah berjanji untuk tidak melawan, jadi kami akan melepasmu," Gojyo mencoba menjawab dengan nada dingin dan ketus. "Jadi, jangan mencoba melawan walau apapun yang kami lakukan padamu," Ancaman Gojyo tidak membuat pemuda itu takut, justru ia semakin heran.

"Terima kasih," Pemuda itu mengguretkan senyum simpulnya untuk pertama kali. Gojyo tertegun. Entah kenapa, menghadapi guretan senyum yang terukir pada bibir pucat itu membuatnya merasa gugup. Baru pertama kali ada seorang sandera yang mau tersenyum padanya, apalagi sosok itu adalah seorang pemuda yang usianya mungkin masih terhitung belasan.

Gojyo langsung memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajah gugupnya itu. Ia langsung merasa malu karena sebagai seorang teroris yang sudah menyadera banyak orang, ia masih bisa terlihat sangat gugup di hadapan tawanannya. Gojyo langsung memutar kenop dan bergegas keluar dari ruangan. Ia mengunci ruang kamar itu rapat-rapat.

Pintu kamarnya kembali berdebam kencang. Bunyi klik singkat pun terdengar, menandakan kalau pintu itu sudah terkunci. Pemuda itu menghela nafas. Ia memperhatikan luka lecet pada pergelangan tangannya. Selain luka, ia menemukan tanda bekas ikatan pada pergelangan tangan dan kakinya. Ia bersyukur karena mereka tak mengikatnya lebih lama. Rasanya memang sulit bergerak dalam kondisi tangan dan kaki yang terikat. Saat ini saja tangan dan kakinya masih sedikit kaku saat digerakkan.

Ia kembali melamun untuk menghabiskan waktunya terkurung di sini. Memang, tak ada hal lain yang bisa ia lakukan, hanya menunggu orang-orang yang menyambangi kamarnya untuk melakukan sesuatu hal padanya. Hari ini, apa rencana mereka selanjutnya pada pemuda itu? Ia masih belum menebaknya secara pasti. Mungkin saja ia akan kembali diberikan obat atau ramuan beracun dari sang dokter, lalu mereka akan mengecek reaksi obat tersebut dalam dirinya.

Membayangkan hal itu, pikiran pemuda itu kembali kalut. Ingatan mengenai kejadian kemarin saja masih belum hilang dalam otaknya, namun hari ini ia harus kembali menghadapi hal yang mengerikan.

Di tengah kekalutan pikirannya, pemuda itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dengan kondisi tubuh yang tidak terikat lagi, pemuda itu kini bisa bebas melihat pemandangan tersebut dari jarak yang lebih dekat. Kedua kakinya perlahan menyentuh ubin kasar setelah itu dengan perlahan menapak di situ. Kaki berbalut celana jeans lusuh dan longgar itu semakin mendekati jendela. Kedua tangannya menggapai lalu menyentuh lembut permukaan kaca jendela yang membatasi dirinya untuk melihat dunia luar dari jarak tertentu. Sinar mentari yang hangat menerpa kulit wajahnya yang semakin pucat, menyinari sepasang bola mata keemasan miliknya. Bola mata indahnya itu membiaskan keindahan pemandangan halaman rumah yang dipenuhi oleh tanaman hias.

Ia amat menikmati aktivitasnya itu. Hanya dengan melihat pemandangan sebuah halaman rumah yang tak terhitung cukup luas ternyata bisa menjadi kegiatan yang menghibur hatinya, melepaskannya sebentar dari kejenuhan dan kesepian.

Sepasang manik emas itu menemukan sosok familiar di tengah pekarangan. Pria berambut pirang dan berkaus putih yang ia kenal sebagai sang dokter nampak melintas menuju ke salah satu sudut halaman. Jantung pemuda itu langsung berdegup kencang. Ia merasa takut walau hanya menghadapinya dari jauh, mungkin karena teringat atas perlakuan kejam itu padanya. Ia pun hendak bersembunyi, takut kalau-kalau dokter itu akan menyadari kehadiran pemuda itu walau dari kejauhan.

Pemuda itu menyembunyikan dirinya sedikit, namun kedua matanya sepertinya masih tertarik mengamati kegiatan sosok berkacamata itu di halaman rumahnya ini. Mengintip dari jendela, ia melihat pria itu menuju ke salah satu taman kecilnya, menjinjing sekop dan ember dengan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan karet. Pemuda itu semakin tertarik memperhatikan kegiatan sang dokter, bahkan ketika sang dokter berjongkok menghadapi kerumunan tanaman bunga aster. Ia meletakkan ember dan sekop itu di dekat kakinya, melihat-lihat kondisi tanaman itu sejenak sebelum akhirnya beralih memberikan pupuk yang berasal dari ember kecil itu dengan sekop di tangannya.

Kegiatan sang dokter dalam sekejap membuat pemuda itu tak percaya. Melihat aktivitas berkebunnya memberikan kesan tersendiri bagi pemuda itu. Sorot mata penuh kehangatan, ketelatenannya dalam memberikan pupuk, semua hal itu membuatnya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sosok dokter yang ia hadapi saat menyuntikkan racun itu ke tubuhnya.

Pemuda itu ingin melihat aktvitasnya lebih jelas. Ia pun keluar dari persembunyiannya, kembali pada posisi berdiri tegap mematung di balik jendela dengan, tak lepas memperhatikan aktivitas sang dokter. Sepertinya dokter itu sedang asyik dengan kegiatan berkebunnya sehingga ia pasti tak akan menyadari kalau sang pasien yang kemarin merasakan sakit dari obatnya itu kini tengah mengamati kegiatannya, terkesan dengan sisi kelembutan yang ditunjukkan dari dokter itu ketika merawat tanaman-tanaman hiasnya.

Hari ini cuaca memang cerah. Tak ada awan yang melindunginya dari sengatan mentari pagi. Keringat pun mulai bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. Ia menghela nafas, menghentikan sejenak pekerjaannya. Punggung tangan yang kotor oleh tanah basah itu menyeka kening berbanjir peluh, meninggalkan bekas noda coklat kehitaman di sana. Tak terlalu mempedulikan keningnya yang kotor, pria berambut pirang sebahu itu beralih mengambil selang. Ia menarik selang setelah memutar keran lalu mulai menyirami tanaman asternya.

Melihat bunga-bunga yang ditanamnya bisa tumbuh dengan subur dan indah memberi kesenangan sendiri baginya, walau perasaan itu tidak tercermin langsung melalui air mukanya. Wajahnya memang tetap serius, tetapi dalam hati ia menikmati aktivitas itu.

Ia mengibaskan selang ke berbagai arah agar aliran air yang mengucur dari sana bisa membasahi seluruh tanaman Aster kesayangannya itu. Limpahan air dalam sekejap menyegarkan bunga-bunga dan dedaunan. Sambil terus memainkan selang, Sanzo memperhatikan salah satu tanaman hias kesayangannya itu. Titik-titik air menghiasi bunga Aster berwarna ungu, memantulkan kilau bak kristal saat titik air itu menetes jatuh. Sanzo langsung tercenung memperhatikan bunga yang memiliki warna yang sama dengan bola matanya.

Warna mata yang sama seperti bunga aster ini. Seseorang pernah memberikan pujian itu untuknya.

"Kouryu,"

Sanzo mulai tenggelam dalam lamunannya. Ia kembali mengingat kejadian sekitar sepuluh tahun yang lalu saat dirinya sedang merawat tanaman aster bersama seseorang. Sanzo saat itu enggan ketika diminta menemani sosok tersebut berkebun, karena ia memang tidak pernah tertarik pada tanaman hias. Namun entah bagaimana caranya, sosok itu mampu membuat Sanzo tertarik pada holtikultura hingga saat ini.