"Dokter Koumyou… apa nama tanaman ini?"

Seorang anak laki-laki berjongkok menghadapi sebuah tanaman bunga. Tangan kecilnya memetik salah satu bunga berwarna ungu itu lalu menunjukkannya pada sosok pria paruh baya di sampingnya yang sedang membersihkan tanaman hias lain dari rumput liar.

Pria itu menghentikan pekerjaannya sejenak, meluangkan waktu untuk mengamati bunga yang ditunjukkan oleh anak itu lalu menjawab pertanyaannya. Sosok yang dipanggil dokter Koumyou itu langsung bisa menebak nama bunga itu.

"Itu bunga Aster, Kouryu," Jelas sang dokter. Anak laki-laki bernama Kouryu itu mengamati bunga yang dipegangnya lebih dekat. Wajah serius bercampur kepolosan khas anak-anak membuat Koumyou tertawa sedikit lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

"Dokter," Anak berambut pirang itu memanggil lagi, kembali mengusik keasyikannya, namun dokter bermata sipit itu tetap merespon panggilannya. Ia menghentikan pekerjaannya lagi.

"Ya,"

"Kenapa kau suka bunga? Kau 'kan laki-laki?"

Dokter Koumyou sontak tertawa mendengarnya. Pertanyaan itu memang wajar diajukan oleh anak berusia tiga belas tahun seperti Kouryu, namun tetap saja masih terdengar menggelikan di telinga Koumyou.

"Memang kau pikir harus anak perempuan yang suka bunga?" Kouryu langsung terdiam mendengar pertanyaan balik itu. Ia tertunduk dengan wajah tersipu. Mungkin ia sudah melontarkan sebuah pertanyaan bodoh. Dokter Koumyou semakin gemas melihat tingkah laku anak asuhnya itu. Tangan yang dilapisi sarung tangan karet itu beralih menepuk pelan kepala anak itu.

"Tolong bantu aku mencabuti rumput liar ini," Pinta Koumyou padanya. Kouryu mengangguk pelan menyanggupi. Tujuannya menemani dokter Koumyou di sini memang seharusnya untuk membantu sang dokter merawat tanaman-tanamannya. Namun sejak tadi ia malah sibuk bermain-main, membiarkan pria yang sudah beberapa bulan menjadi ayah angkatnya itu bekerja sendirian.

"Rumput ini susah sekali untuk dicabut," Keluh Kouryu sambil menyeka keringatnya. Dokter Koumyou tersenyum tipis lalu segera membantunya mencabut rumput yang dimaksud. Sosok dewasa itu memiliki tenaga yang lebih kuat dibanding bocah berusia tiga belas tahun seperti Kouryu sehingga dengan sedikit usaha, rumput liar itu berhasil dicabut.

Keduanya saling membisu. Koumyou beralih mencabuti rumput yang menggerogoti tanaman hias lain, cukup jauh dari lokasi mereka sebelumnya. Kouryu tidak menyadari hal itu sampai ia mencabut rumput liar terakhir yang ditemuinya lalu beralih melihat sekitarnya sambil menyeka keringatnya. Ia memperhatikan sosok paruh baya itu dari kejauhan. Pria berambut pirang panjang itu sepertinya amat menikmati waktu-waktu berkebunnya. Sejak pertama kali tinggal di kediaman dokter Koumyou, Kouryu terkesan dengan halaman rumahnya yang ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman. Bahkan rumah dokter Koumyou bisa diumpamakan seperti pondok yang tumbuh di tengah hutan.

"Kouryu, ambilkan aku air," Ucapan dokter Koumyou msmbuat anak laki-laki berwajah cantik itu langsung tersentak. Dokter Koumyou sepertinya memergoki dirinya sedang melamun.

"Ba-baik... Dok-ter," Ucapan Kouryu terbata karena gugup. Ia bergegas mengambil selang, menyalakan keran, lalu membawakannya ke tempat dokter Koumyou.

"Kita siram bunga Aster ini," Koumyou menunjuk bentangan tanaman Aster di hadapan mereka. Kouryu langsung mengarahkan mulut selang ke kerumunan tumbuhan Aster tersebut.

"Warna ungu yang indah," Kouryu tertegun melihat dokter itu memetik salah satu bunga Aster. Ia tersenyum sambil mendekatkan bunga itu di samping wajah Kouryu, seperti tengah membandingkan bunga itu dengan sang anak laki-laki di hadapannya.

"Warna ungu yang mirip dengan warna matamu," Koumyou tersenyum simpul. Kouryu nampak heran. Ingin memastikan ucapan dokter Koumyou, anak laki-laki itu melirikkan matanya ke samping. Ia ingin meraih bunga itu, namun ternyata sang dokter sudah keburu menjalankan sedikit rencana usilnya. Ia memasangkan sekuntum bunga berwarna ungu tua itu di telinga Kouryu. Tepat seperti bayangannya, bunga yang ada di telinga Kouryu membuat anak laki-laki itu nampak seperti perempuan. Wajah yang kotor bermandikan keringat dan debu tidak bisa menutupi kecantikannya. Beberapa saat memperhatikannya, Koumyou langsung tertawa lepas.

"Kau nampak manis Ryu-chan," Ledek dokter Koumyou. Wajah Kouryu berubah merah padam, campuran antara rasa malu dan jengkel karena ledekan itu. Ia menunduk sambil mengambil bunga itu.

"Dokter! Jangan perlakukan aku seperti perempuan!" Protes Kouryu sepertinya tidak terlalu ditanggapi oleh sosok yang memang suka mengerjainya itu. Ia masih melihat ayah angkatnya tertawa, walau suara kikihannya disembunyikan dalam dekapan kedua tangannya. Kouryu semakin kesal.

"Hentikan meledekku! Aku bukan perempuan!" Kouryu berkata semakin ketus. Ia memalingkan wajahnya. Ia memang sangat malu dan kesal dengan tindakan usil dokter Koumyou, namun semarah apapun Kouryu padanya, sang dokter tetap berhasil menetralisirnya dalam sekejap. Seperti halnya saat ini, ketika Kouryu mulai merasa kesal, dokter Koumyou langsung menepuk-nepuk pelan kepala Kouryu. Entah apa alasannya, tepukan lembut itu berhasil membuat kekesalan Kouryu hilang perlahan.

"Maafkan aku. Aku sudah keterlaluan meledekmu, ya?" Kouryu memalingkan wajahnya saat sang dokter mengucapkan permintaan maaf untuknya. Ia melihat dokter Koumyou tersenyum padanya, sebuah senyuman yang bisa menghangatkan hatinya. Wajah anak pendiam itu langsung kembali memerah. Ia pun tertunduk untuk menyembunyikan semburat pink di pipinya itu.

"Tapi aku serius mengatakan kalau warna matamu seindah bunga aster ini," Ucap dokter Koumyou lagi. Kouryu hanya mengangguk pelan sekali seolah sudah menerima permintaan maaf sang dokter. Setelah itu, ia kembali tertunduk. Dokter Koumyou tersenyum tipis melihat gelagat anak itu. Kouryu memang tipikal yang terlalu serius, bahkan untuk menanggapi lelucon khas dokter Koumyou. Ia tidak tertawa sedikitpun,tetapi sepertinya ia juga tidak marah pada sang dokter. Perasaannya cenderung netral, hanya sedikit emosi yang bisa ia tunjukkan untuk orang lain.

Kehidupan yang pernah ia alami sebelum diasuh oleh sang dokter kemungkinan menjadi penyebab utama karakter Kouryu yang minim emosi ini. Ia tidak bisa seceria anak-anak seumur dirinya, bahkan ketika dibawa ke sini Kouryu hanya bisa tertunduk dan menolak untuk mengucapkan sepatah katapun. Koumyou semakin simpati pada anak itu, memutuskan untuk merawat dia, mengembalikan jiwanya seperti semula walaupun ia tahu hal itu cukup sulit untuk dilakukan.

"Kouryu?" Kouryu menengadah untuk menatap wajah pria yang dua kali lebih tinggi darinya itu. Senyum dokter Koumyou selalu tersiluet dalam bola mata keunguan Kouryu. Panggilan lembutnya selalu terdengar seperti suara semilir angin di siang hari.

"Percayalah padaku," Kouryu memang tak pernah mengerti jalan pikiran apa yang mendorong dokter Koumyou untuk mengatakan hal itu, namun tentu saja ia pasti mengiyakan permintaan sang dokter itu. Ia sangat mempercayai dokter Koumyou, melebihi siapapun juga. Dan, seperti yang sudah ia duga, sang dokter kembali memberikan sebuah belaian hangat yang membuat wajah Kouryu kembali memerah. Dokter Koumyou pun tertawa.

"Kau anak yang manis sekali, Kouryu,"

*

Anak polos dan manis itu kini sudah berubah secara total. Sosok yang lemah dan pendiam dengan sepasang bola mata warna ungu yang menyorotkan kesenduan, berganti dengan sosok yang dingin dan keras dengan sepasang bola mata ungu bersorot tajam. Jiwa Kouryu sebagai seorang anak laki-laki yang baik dan manis itu sudah lama mati dalam dirinya, bersama dengan seorang pria yang terakhir kali memberikan sebentuk kehangatan untuknya.

Lamunan panjangnya terusik ketika melihat dedaunan pada salah satu kerumunan tanaman aster itu bergerak-gerak. Alis Sanzo menyirit. Ia mengamati sesuatu yang bersembunyi di dalam kumpulan tanaman asternya membuat sebuah perpindahan ke arah dokter itu. Bola mata Sanzo mengikuti pergerakan makhluk misterius itu. Dalam pikirannya, ia menebak kalau makhluk itu adalah seekor hewan, namun belum memastikan dengan jelas jenis hewan tersebut.

Pergerakan makhluk itu semakin cepat, dan kini ia hampir tiba di lokasi Sanzo berdiri. Sanzo membungkuk sedikit untuk menangkap makhluk itu. Dokter berwajah tenang itu nampak sedikit gugup dan was-was melihat batang-batang tanaman aster bergerak saat makhluk secepat gerakan ninja itu lewat.

Sesuatu yang lewat itu kini melompat seperti menerkam sosok yang menungguinya itu. Sanzo berteriak kaget. Ia terpeleset, kehilangan keseimbangan, dan akhrnya jatuh terduduk di tanah yang becek. Tikus tanah yang berhasil mengerjainya itu sudah pergi bersembuyi di kerumunan tanaman lain, meninggalkan seorang pria berbadan kekar yang tadi mencoba menangkapnya dalam kondisi kotor dan basah.

"Tikus sialan!" Sanzo ingin mengejar pergerakan makhluk jahanam yang membuat badannya sakit dan kotor itu, namun ketika ia berbalik, tikus tanah itu sudah menghilang entah ke mana. Sanzo berdecak kesal sambil mencoba bangun. Ia mengusap pinggulnya yang terasa nyeri. Dalam sekejap, kekacuan pun terlihat di sekitarnya. Selang yang terus mengalirkan air membuat tanah sekitarnya menjadi berkubang. Sanzo pun langsung bergegas mematikan keran agar tidak menimbulkan kubangan yang lebih besar.

"Sialan!" Sanzo masih mengutuk nasibnya pagi ini. Pakaiannya kotor, halamannya terlihat kacau karena banjir, badannya sakit karena terjatuh. Tiga hal itu cukup membuat mood-nya berantakan. Ia pun berniat kembali masuk ke rumahnya untuk mandi dan ganti baju, serta menjadikan Gojyo sasaran kemarahannya. Tetapi niat pria itu kembali terhalang sebentar saat ia melihat lurus ke depan, ke arah jendela dari kamar yang ia ketahui milik pasien mainannya. Ia baru menyadari kalau ternyata sejak tadi si pasien memperhatikannya, dan saat ini sosok itu tengah menutupi wajahnya, mungkin menertawai kesialan Sanzo tadi.

Sanzo mematung sambil memperhatikan pasien itu. Ia masih menutupi wajahnya yang memerah karena menahan tawa. Sanzo tak mengerti seharusnya ia tak suka dengan tindakan makhluk tak berguna itu, apalagi pemuda itu sudah berani menertawakannya. Namun, ia tak merasakan hal itu. Ia hanya tercenung dengan wajah heran, bahkan sampai pemuda bermata cekung itu akhirnya sadar akan kesalahannya dan dengan tergesa langsung bersembunyi di sudut terdalam kamarnya, seolah takut kalau Sanzo akan menyiksa pemuda itu.

Sanzo mendengus. Ia mencari kesalahan pemuda itu dan berniat menghukumnya kembali, walau hal itu sepertinya mulai bertentangan dengan perasaan hatinya. ia tak sedikitpun merasa marah, namun ia memang harus marah. Dengan perasaan buatan itu, Sanzo pun kembali ke dalam rumahnya.

*

Jejak kaki manusia dan tetesan air bercampur tanah basah menghiasi lantai rumah. Pemandangan itu langsung mengusik mata Gojyo yang saat itu hendak memasuki rumah setelah pulang berbelanja di konbini terdekat. Gojyo langsung merasa kesal, menebak siapa orang tak tahu diri yang seenaknya mengotori lantai rumah. Padahal sebelum ia pergi ke Konbini, ia sudah mengepel lantai.

"Sanzo!" Gojyo berseru sambil menelusuri ruang tamu. Mengikuti jejak kaki seperti big foot itu akan membawanya ke sang pelaku. Jejak itu melewati ruang tamu, lurus ke koridor. Gojyo menyiritkan dahinya, menebak di mana pria itu berada. Kenapa ia malah menelusuri koridor padahal ruang kamarnya tak terletak di sana? Jantung Gojyo pun mulai berdetak kencang, bahkan setelah ia melihat jejak kaki itu masih terus berlanjut sampai ke ujung koridor. Jejak itu menghilang di bibir kamar milik pasien pecobaannya. Pintu kamar itu terbuka lebar. Gojyo berlari mendekati kamar itu. Ia terengah, merasakan ketakutan menyelimuti hatinya, entah apa alasan yang melatarbelakanginya.

Gojyo mencapai pintu masuk. Ia langsung menghambur ke dalam. Gojyo menemukan sosok berbalut kemeja putih yang kotor terkena cipatan tanah itu tengah memunggunyinya, menyembunyikan apa yang tengah ia lakukan pada Gojyo.

"Sanzo!" Gojyo memanggil pria itu. Sanzo menoleh perlahan. Gojyo mundur selangkah melihat sorot mata pria itu, datar, tenang, namun dingin seperti sorot mata orang mati. Ia tahu pasti mood Sanzo tengah buruk sehingga ia melakukan sesuatu hal dengan pasien barunya. Mata Gojyo pun langsung beralih ke tubuh lain yang terlipat, bergetar hebat dipenuhi rasa takut.

"Apa yang kau lakukan?" Desis Gojyo. Pria bertingkah seperti zombie itu beralih memandangi tubuh ringkih yang masih membuat pertahanan kecil. Ia menyembunyikan wajahnya, segenap isak tangisnya dari dua pria itu.

"Harusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan?" Bibir Sanzo bergerak pelan, menggumamkan sebuah pertanyaan yang menusuk. Sepasang mata sedingin es kembali menatap pria berpostur tubuh lebih tinggi dan kekar darinya itu.

"A-aku tidak melakukan apapun, justru kau yang melakukan sesuatu padanya. Kau apakan dia, Sanzo?" Gojyo berkata terbata, pura-pura tidak mengerti pertanyaan Sanzo, walau ia mulai bisa menebak apa penyebab Sanzo menanyakan hal semacam itu padanya.

"Kenapa kau melepas ikatannya?" Gojyo tercekat. Tebakannya memang tepat.

"Memangnya kita harus terus mengikatnya? Ia tak akan melawan, Sanzo. Ia sudah berjanji. Lagipula, kau sedang tidak melakukan apapun padanya," Gojyo mencoba menjelaskan. Ia rasa amarah Sanzo yang tenang seperti ini justru bisa membuat Sanzo beralih menjadikannya bahan percobaan.

"Tapi aku tak menyuruhmu melakukan itu, bukan?" Gojyo tak bisa membalas ucapannya. Ia beralih menatap tubuh pemuda itu. Ia sepertinya amat ketakutan. Tangisannya tetap tidak berhenti, nafasnya terengah. Jenis ancaman apa yang Sanzo berikan untuknya sehingga ia bisa ketakutan seperti itu?

"Memangnya ia mencoba kabur?" Gojyo bertanya sambil mengalihkan pandangannya pada Sanzo. Pria itu tidak bereaksi sejenak. Gojyo bisa menarik sebuah kesimpulan dari gelagat tersebut.

"Apa yang salah kalau ia tidak kabur? Ia sudah menepati janjinya bukan?"

"Yang salah kau tidak menuruti ucapanku. Kau sudah berani mengambil keputusan tanpa sepengetahuanku," Ungkap Sanzo kesal.

Gojyo hanya mendengus. Ia bertolak pinggang, mencoba untuk tenang menghadapi pria yang suka mencari-cari kesalahan itu. Baginya, alasan tersebut tidak masuk akal.

"Baik! Aku minta maaf," Gojyo pun mengalah. Sanzo merasa kalau rekannya itu tidak akan menyesali tindakannya. Namun, ia hanya diam, menerima permintaan maaf Gojyo yang terdengar tidak tulus untuknya.

"Aku bisa menyuruh Gyokumen Koushu untuk menjadikanmu salah satu pasien percobaanku kalau kau masih tetap tak mau menuruti ucapanku," Ancam Sanzo. Gojyo memilih untuk tidak membantah lagi ucapan pria egois itu. Ia tahu sanzo serius mengancamnya, dan tentu saja ia tak mau nasibnya berakhir tepat seperti ucapan Sanzo.

Keheningan menyergap mereka beberapa saat. Pada akhirnya, pria berkaos putih itu meninggalkan dua sosok lainnya. Gojyo hanya bisa tertunduk menahan nafasnya saat ia berpapasan dengan sanzo. Sikapnya tidak bisa terprediksi, sehingga Gojyo takut kalau-kalau Sanzo melakukan hal yang mengancamnya. Namun, hal itu tidak terjadi. Pria berwajah tirus itu hanya melewati Gojyo. Dengan pandangan lurus, ia melangkah keluar ruangan lalu pergi entah ke mana. Kini, yang tersisa di ruangan hanyalah Gojyo dan pemuda itu.

Gojyo mendekati pemuda itu. Sosok berambut coklat berantakan masih membuat pertahanan dari orang-orang di sekitarnya, mungkin termasuk Gojyo. Mungkin pemuda itu akan ketakutan kalau Gojyo menegurnya, namun Gojyo tidak ambil pusing akan hal itu. Ia ingin menanyakan langsung pada pemuda itu apa yang membuat Sanzo marah padanya.

"Hei!" Teguran Gojyo membuat tubuh kecil itu tersentak. Pemuda itu mengenali suara di dekatnya. Ia juga tahu kalau situasi mungkin sudah cukup aman, sehingga pemuda itu bisa membuat pergerakan. Ia membuka telungkupannya, menunjukkan pada Gojyo wajah pucat kurus yang nampak kusut karena menangis. Sisa air mata masih mengalir membasahi pipinya. Bola mata keemasan itu memandang Gojyo ragu.

"Apa yang kau lakukan pada dokter? Jawablah!"

Pemuda itu tertunduk. Ia menggeleng pelan. kepolosan wajahnya membuat Gojyo tak bisa mendeteksi sedikitpun kebohongan darinya. Apa benar kalau pemuda itu tak melakukan apapun pada Sanzo? Lalu, kenapa Sanzo bisa nampak semarah itu?

"Apa yang terjadi? Kenapa ia bisa marah seperti itu?"

Pemuda itu menerawang. Wajahnya kembali berubah takut. Gojyo memperhatikan pemuda itu, menunggu penjelasan darinya.

"A-ku… aku hanya memperhatikan dokter yang tengah berkebun. Kegiatannya terlihat menarik. Namun, saat ia memergokiku, ia sepertinya tidak suka," Pemuda berbibir pucat itu menggumam sambil tertunduk. Gojyo tertegun melihat wajah pemuda itu bersemu, sepertinya ia menyembunyikan hal lain.

"Lalu?"

Pemuda itu ingin berkata jujur, walau ia nampaknya masih canggung mengatakannya pada Gojyo. Gojyo tetap memperhatikan gelagatnya. Bibir pucat yang bergetar itu perlahan mengulum sebuah senyum kecil yang kemudian hilang begitu saja. Gojyo pun semakin heran.

"Saat itu, ada seekor tikus tanah yang mengganggunya. Dokter berusaha menangkap tikus itu, namun ia malah jatuh terpeleset. Aku tertawa melihat hal itu, dan dari situ ia menyadari kehadiranku,"

Gojyo menghela nafas mendengarnya. Cerita pemuda itu memang sangat lucu kalau dibayangkan, jadi wajar saja kalau ia tertawa. Gojyo sendiri berusaha menahan tawanya begitu membayangkan wajah bodoh Sanzo saat ia berhasil dikerjai oleh seekor tikus tanah. Namun, ia segera menyembunyikan gelak tawa itu dalam telapak tangannya. Gojyo berusaha serius dan tenang menanggapinya.

"Kau tak seharusnya menertawai dokter. Ia memiliki temperamen tinggi," Ucap Gojyo sambil memalingkan wajahnya.

"Tapi kau tadi hampir tertawa, bukan?" Gojyo langsung tertohok mendengar celetukan pemuda itu. Ia memalingkan wajahnya, memelototi sosok yang berani berkomentar kepada teroris berwajah sangar seperti dirinya. Mungkin cara marah Gojyo tidak bisa seperti Sanzo. Pemuda itu malah tertawa kecil.

"Hei!" Gojyo mulai sewot.

"Maaf. Kau lucu sekali dengan ekspresi marah seperti itu," Mata Gojyo masih melotot. Ia tak menyangka kalau pemuda amnesia itu ternyata bisa kurang ajar juga mengomentari pria kekar dan sangar seperti dirinya.

"Berani sekali!" Gojyo mengancam, namun gelagat salah tingkahnya tidak bisa ia sembunyikan. Pemuda itu masih tertawa. Gojyo sebenarnya kesal, namun ia tak bisa bereaksi sekejam Sanzo terhadap pemuda itu. Gojyo hanya bertolak pinggang sambil menatap pemuda itu, memberi isyarat agar pemuda itu berhenti menggodanya.

"Maaf, paman," Pemuda itu menghentikan tawanya. Ia mengulum senyum. Perlahan pemuda itu bangun lalu duduk di atas lantai menghadapi sosok Gojyo. Kedua kaki pendek berbalut jeans lusuh itu bersila. Badan kurus berbalut kaos putih nampak tegap. Dari gerak-geriknya, sepertinya pemuda itu sudah tidak canggung lagi menghadapi Gojyo.

"Jangan panggil aku 'paman'!" Protes Gojyo. Mata keemasan pemuda itu menatapnya polos.

"Boleh aku tahu namamu?" Pemuda itu masih menunjukkan wajah bersahabatnya. Gojyo menghela nafas, mempertimbangkan sejenak apakah ia harus memberitahu namanya atau tidak?

"Kalau kau menolak, aku akan memanggilmu 'paman',"

"Baik! Baik! Namaku Gojyo!" Gojyo menjawab sewot. Pemuda itu masih tersenyum, terlihat amat manis.

"Gojyo-san,"

"Ya! Tapi jangan sering memanggil namaku di hadapan Sanzo. Aku yakin ia pasti akan menghukummu," Gojyo memperingatkan pemuda itu. Ia seperti seekor anjing jinak yang langsung menuruti ucapan majikannya.

"Dokter bilang namaku Goku," Pemuda itu menundukkan wajahnya. "Aku tidak ingat, tapi menurutku itu nama yang bagus,"

"Ya," Gojyo tidak tahu harus merespon apa lagi. Ternyata Sanzo sudah membeberkan nama asli pemuda itu.

"Aku ingin menggunakan nama itu lagi, bolehkah?"

"Memangnya nama itu penting bagimu?" Gojyo melemparkan satu pertanyaan yang membuat pemuda itu terdiam lalu berpikir.

"Karena aku kehilangan seluruh ingatanku, jadi nama merupakan hal berharga yang kupunya," Ungkap pemuda itu dengan wajah muram. Gojyo menghela nafas. Melihat wajah memelas khas anjing liar itu membuat Gojyo tidak bisa menolak permintaannya.

"Baiklah," Gojyo menjawab sedikit terpaksa "Tapi sekali lagi, kuperingatkan jangan menggunakan nama itu di depan dokter,"

Pemuda itu mengangguk pelan. ia tertunduk, nampaknya masih memikirkan sesuatu dalam benaknya. Gojyo tidak terlalu meladeni pemuda itu lagi. ia berdiri, hendak meninggalkan pemuda itu sendirian dalam kamarnya. Kalau berlama-lama di sini, ia takut kalau-kalau Sanzo curiga akan adanya kedekatan antara mereka berdua.

"Kurasa…" Ucapan pemuda bernama Goku itu menghentikan langkah Gojyo sejenak. Untuk yang terakhir kalinya, ia mau mendengarkan komentar pasien kesepian itu.

"Kurasa… dokter tidak sejahat kelihatannya. Ia amat baik…dan lembut…" Goku menerawang sambil membayangkan wajah Sanzo yang tengah merawat bunga-bunga aster kesayangannya. Gojyo langsung menyiritkan alisnya. Ia tak menyangka kalau ada seorang pasien yang mengatakan hal itu. Pasien-pasien sebelumnya tidak pernah sudi mengatakan dokter yang sudah menyiksa mereka itu sebagai makhluk yang manusiawi.

"Aku memang menertawakannya, tapi dari situ aku mulai menyukai gelagat sederhananya itu,"

"Aku mengerti," Gojyo merespon.

"Tapi, kuharap kau tidak menyesal dengan ucapanmu barusan," Gojyo menghela nafas. Ia langsung melengos meninggalkan pemuda itu begitu saja. Gojyo menutup pintu kamar, menguncinya. Setelah keluar dari kamar ini, ia pun merasa semakin bimbang. Hubungannya dengan sang pasien bahkan sudah seperti teman. Ia takut kedekatan mereka bisa menimbulkan bahaya baik baginya maupun bagi pasien itu.

"Aku harus membicarakannya pada Hakkai," Gojyo menggumam sambil melangkah di sepanjang koridor.