Uap panas mengepul saat aliran air panas dituang ke dalam sebuah gelas berisi kopi, melarutkan bubuk hitam itu dalam sekejap. Aroma menyegarkan khas kopi menyerbak ke ruangan, mencairkan suasana tegang ruangan yang dihuni oleh dua orang pria berseragam polisi tersebut.
Pria berpostur tubuh tinggi besar, berambut hitam pendek bermodel spike mengaduk kopi tersebut. Ia bersenandung kecil ketika menceburkan sebuah gula kubus ke dalam larutan kopi tersebut, kemudian kembali mengaduk sebentar. Saat hendak menyiapkan kopi untuk seorang rekannya tersebut, pria itu menoleh pada sang pemuda yang berusia lebih muda darinya, berambut merah dengan wajah ketus yang nampak serius membaca satu per satu tumpukan berkas pekerjaan mereka.
"Kou-chan, mau ditambah gula?" Pria itu menegur rekannya. Mungkin hanya dengan menatapnya saja, sosok itu tidak akan menyadari isyaratnya. Pemuda itu memang sepertinya tengah serius membaca secarik kertas di tangannya, sehingga ia sedikit tersentak saat merespon panggilan untuknya.
"Ah… aku tiga buah saja," Ujar pemuda itu. Bola mata kemerahannya kembali terpaku pada deretan tulisan yang memenuhi hampir seluruh halaman.
Pria itu memasukkan tiga buah gula kubus ke dalam segelas kopi milik pemuda itu. Ia kembali mengaduk kopi itu agar gula kubusnya lebih cepat larut.
"Ternyata kau suka manis, Kougaiji," Celetuk genit pria itu, mengejek rekannya yang selalu serius, sekedar untuk membuat pemuda itu sewot dengan ledekannya. Namun, pemuda itu memang terlalu serius dengan pekerjaannya saat ini sehingga ia memilih untuk tidak menanggapi lelucon tersebut.
"Kou-chan," Pria berpostur tegap itu memanggil Kougaiji sambil membawa dua gelas kopi buatannya. Aroma kopi semakin menggugah konsentrasi Kougaiji. Ia sebenarnya memang sudah penat dan lelah sehingga membutuhkan relaksasi sejenak.
Sudah seharian ini ia berada di kantor polisi untuk menyelidiki sebuah kasus berat. Berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya itu merupakan rangkaian laporan tertulis yang didapat selama menyelidiki kasus tersebut. Kougaiji belum sempat membaca keseluruhan laporan tersebut, namun ia bersikeras untuk menyelesaikannya, tak peduli walaupun ia harus kembali menginap di kantornya.
"Kou-chan, istirahatlah," Pria itu menyodorokan segelas cairan pelepas penat itu pada dirinya. Kougaiji langsung mengalihkan pandangannya. Ia melihat wajah rekannya nampak sedikit khawatir.
"Kau sudah seharian berada di sini, bergelut dengan laporan-laporan ini," Pria itu mengedarkan pandangannya ke isi ruang kerja yang berantakan. "Sebaiknya jangan terlalu memaksakan,"
"Baiklah. Terima kasih, Jien-san," Kougaiji tersenyum tipis sambil meraih gelas kopi miliknya. Kedua telapak tangannya langsung terasa hangat saat mendekap gelas. AC ruangan yang menyala seharian membuat tubuhnya terasa dingin sehingga gelas kopi panas tersebut seolah menjadi penghangat untuknya.
Mereka berdua menikmati segelas kopi itu dalam keheningan. Kougaiji masih duduk di salah satu kursi ruangan sementara rekannya Jien nampaknya merasa tidak betah sehingga memilih untuk beranjak menuju ke jendela. Ia memandang isi kota dari balik jendela lantai tiga kantor polisi. Bahkan kota Tokyo yang terkenal ramai itu kini seolah mulai lelah lalu terlelap meninggalkan mereka berdua yang masih bertugas. Ini memang sudah lewat tengah malam. Suasana kota yang sepi nampak dalam pandangan Jien, hanya ada lampu perkotaan yang berkilau menghiasi kota yang berada dalam tidur damai tersebut.
"Kau lelah, senpai? Tak masalah jika ingin pulang," Ia menoleh saat Kougaiji menegurnya. Wajah pemuda itu masih terlihat tenang, sepertinya serius dengan ucapannya.
"Lalu kau?"
"Aku mungkin akan kembali menginap di sini,"
Jien kembali tak menemukan perubahan ekspresi serius Kougaiji. Ia ternyata berniat untuk kembali menginap di kantor, padahal sudah tiga hari belakangan Kougaiji belum pulang ke rumahnya, seolah ia sudah menjadikan ruang kerja yang berantakan ini sebagai rumahnya.
"Apa kau yakin, Kou?"
"Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,"
"Kau jangan terlalu memaksakan diri. Kita mungkin bisa meminta rekan kita yang lain untuk membantu penyelidikan,"
Usulan sang senior sepertinya langsung ditanggapi negatif oleh si pemuda berkulit gelap itu. Wajahnya langsung berubah muram. Ia menenggak kopi sedikit sebelum akhirnya memberikan tanggapannya.
"Tak ada yang menanggapi serius kasus ini. Padahal menurutku ini bagian dari teror," Ungkap Kougaiji. Ia menyandarkan tubuhnya sambil melihat langit-langit ruangan. "Prediksi mereka terlalu dangkal, menganggap kalau penyebaran virus dari gadis itu hanyalah kecelakaan biasa,"
"Karena penyebarannya sudah berhasil diatasi," Jien menanggapi. Ia berbalik, menyandarkan tubuhnya ke tepian jendela. "Lagipula masyarakat sekitar sudah mulai tidak kalut dengan berita tersebut,"
"Tapi kita tetap tak boleh lengah," Kougaiji menghadapi kedua mata Jien, menatapnya tajam. Jien seketika membeku menghadapi sepasang manik merah itu.
"Kou…"
"Aku yakin mereka pasti sedang menyiapkan rencana lain," Kougaiji berdiri. Ia melangkah menuju ke meja kerja yang berisi tumpukan laporan tersebut. Mengambil salah satu laporan, Kougaiji meletakkan gelas kopinya di situ. Ia memandang laporan itu sesaat kemudian menghampiri Jien untuk menunjukkan isinya.
"Ini…" Jien menggumam sambil membacanya. Sepasang alis tebalnya saling bertaut. Dahinya berkerut. Mata hitam itu melirik Kougaiji dengan heran.
"Kasus pembunuhan satu keluarga yang terjadi dua minggu lalu, bukan?" Kougaiji hanya mengangguk menanggapinya.
"Kupikir pelakunya adalah kelompok teroris itu,"
"Bagaiman kau bisa berpikir sampai ke situ?' Jien bertanya, masih nampak heran dengan dugaan pemuda yang memiliki pengalaman lebih sedikit darinya itu.
"Karena gadis pembawa wabah virus itu juga sebelumnya menghilang. Ia diculik dari apatermennya,"
Jien terdiam sejenak. Ia hanya manggut-manggut, namun ekspresinya masih mencerminkan keraguan.
"Aku tak bisa memaksamu untuk percaya. Ini memang masih sekedar dugaanku, walau semakin aku menyelidikinya, aku semakin merasa kalau prediksiku benar,"
"Memang masuk akal," Komentar Jien sambil mengembalikan laporan itu pada Kougaiji. "Saat penyelidikan pada kasus pembunuhan itu pun, salah satu anggota keluarga ada yang hilang, bukan?"
"Ya," Kougaiji beralih menatap sebuah foto yang ada dalam laporan itu. Seorang pemuda berambut cokelat pendek, memakai gakuran menarik perhatian Kougaiji saat itu.
"Anak tertua keluarga itu. Seorang siswa sekolah menengah atas," Ia membaca sekilas biodata pemuda itu "Keberadaannya sampai saat ini tetap tidak ditemukan,"
"Jadi, kau berkesimpulan kalau pemuda itu diculik oleh grup teroris?"
Kougaiji mengangguk. Jien pun menghela nafas. Setelah mendengar penuturan Kougaiji, sedikit banyak ia mulai menyetujui pendapat juniornya itu. Ia mengakui, walau memiliki usia yang lebih muda serta pengalaman di lapangan yang lebih sedikit, Kougaiji memiliki analisa yang tajam. Sebagai senior pun, Jien terkadang masih kesulitan menghadapi sebuah kasus kriminal sehingga keberadaan Kougaiji bisa membantunya. Hal itulah yang membuat dirinya dan Kougaiji selalu ditugaskan bersamaan. Bisa dibilang, mereka adalah partner kerja yang amat serasi.
"Besok aku akan kembali ke lokasi kejadian pembantaian itu. Aku akan melanjutkan penyelidikannya di sana, mungkin aku bisa mendapat petunjuk baru," Kougaiji memaparkan rencananya esok hari pada Jien, yang langsung disambut oleh tatapan khawatir Jien pada rekannya itu. Ia yakin Kougaiji pasti sudah sangat lelah saat ini, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk kembali ke TKP itu. Jien kurang menyetujui rencana Kougaiji, terlihat jelas dari sorot mata heran pria itu pada juniornya.
"Kau ini bukan robot, Kou," Bujuk Jien. Mereka memang sudah sangat akrab layaknya saudara kandung. Jien memperlakukan Kougaiji seperti adiknya sendiri, salah satunya ialah dengan menegur pemuda workaholic itu apabila Kougaiji sudah terlalu memaksakan dirinya.
"Aku baik-baik saja, senpai," Ujar Kougaiji menenangkannya
"Malam ini kau berencana tidak tidur, sedangkan besok kau harus kembali ke TKP? Kalau begitu sebaiknya kau tidak perlu ke sana"
"Aku baik-baik saja. Percayalah, senpai!" Kougaiji nampaknya masih berkeras dengan rencana itu sehingga sulit bagi Jien untuk meminta Kougaiji untuk membatalkan rencananya.
"Kalau begitu sebaiknya malam ini kau istirahat," Ujar Jien sambil melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam lewat lima belas menit. Sepertinya waktu yang tersisa masih bisa mereka gunakan untuk beristirahat. Kougaiji terdiam sejenak, sepertinya mulai luluh dengan bujukan Jien. Ia memang tak pernah mau mengatakan secara langsung kalau sebenarnya ia butuh istirahat sejenak. Kebiasaan buruk itu pastinya bisa membahayakan dirinya sendiri.
"Baiklah," Kougaiji setuju. Ia menghela nafas sambil melihat sekitarnya. Tatapan matanya terpaku pada sebuah sofa panjang yang ia gunakan kemarin untuk tertidur. Jadi, malam ini ia akan kembali tidur di sana.
"Aku tidur di ruangan ini. Senpai sendiri ingin kembali ke rumah?"
"Aku menenamanimu di sini, Kou," Jien menjawab pasti, sepertinya sudah merencanakan hal itu sejak awal. Kali ini giliran Kougaiji yang kurang setuju dengan rencana senpai-nya itu.
"Sebaiknya kau pulang dan bersitirahat," ungkapan Kougaiji seketika membuat Jien tertawa lepas.
"Kau berani sekali menyuruh senpai-mu untuk pulang," Jien kembali meledek juniornya. Kougaiji hanya tertunduk dengan wajah gugup. Ia sebenarnya bermaksud baik menyuruh Jien beristirahat di rumah, namun siapa sangka kalau mungkin Jien akan menanggapi negatif hal tersebut.
"Aku akan di sini denganmu, menjamin kalau kau benar-benar berstirahat," Jien menarik pelan secarik kertas laporan yang dijepit oleh jari-jari Kougaiji. "Sekarang, istirahatlah, Kou. Kuminta jangan sentuh laporan-laporan ini sampai besok pagi,"
Yang bersangkutan tak bisa berbuat banyak selain menuruti perintah seniornya itu. Kougaiji pun mendesah pelan lalu mengangguk. Walau masih enggan, ia melangkah menuju ke sofa panjang di ruangan itu. Bola mata kemerahannya memperhatikan seniornya yang duduk di sebuah sofa lain ruangan, namun dengan ukuran lebih pendek. Mungkinkah Jien akan tidur di sana?
"Senpai, biar aku tidur di sana…" Jien langsung mengarahkan telapak tangannya ke arah Kougaiji untuk menghentikan ucapannya. Ia melihat senyum nakal khas Jien yang mengisyaratkan kalau ia baik-baik saja. Kougaiji pun kembali menghela nafas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya. Kedua tangan Kougaiji menyangga kepalanya. Bola mata Kougaiji pun mengarah ke langit-langit ruangan.
"Baiklah, senpai,"
Mereka mengobrol hal-hal ringan sebelum akhirnya satu sama lain benar-benar mulai mengantuk. Kougaiji membaringkan dirinya di atas sofa. Ia hanya menutup matanya sebentar untuk mengistirahatkan indera penglihatannya itu di tengah obrolan akrab mereka, namun ternyata hal itu yang membuat Kougaiji sudah terlempar duluan ke alam mimpi.
*
Gojyo sedang membersihkan lantai rumah ketika Sanzo mendatanginya. Suara decitan dari langkah kaki yang bergesekan dengan keramik licin seketika menyadarkan pria berambut merah itu kalau ada seseorang yang tengah menghampirinya dari belakang. Ia pun menghentikan aktivitas mengepelnya sejenak. Mengusap peluh, Gojyo menoleh dan tertegun meihat Sanzo menyodorkan secarik kertas untuknya.
"Daftar bahan yang harus kau beli," Gojyo menghadapi pria berpostur lebih pendek darinya, meraih kertas putih dari Sanzo. Bola matanya menelusur tulisan khas dokter yang sulit sekali untuk dibaca. Ia mencoba menelaah istilah-istilah yang ada dalam kertas itu.
Kebanyakan berupa bahan kimia. Gojyo memang memiliki latar belakang sebagai apoteker sehingga ia pun langsung bisa memutuskan ke mana ia harus mendapatkan bahan-bahan tersebut. Pria berambut merah itu manggut-manggut mengerti sampai pada akhirnya ia membaca nama barang terakhir yang harus ia beli.
"Ka-kain hitam?" Gojyo sedikit menganga membacanya. Selama ini Sanzo belum pernah memesan barang demikian pada Gojyo. Lalu untuk apa sekarang ia menyuruh Gojyo untuk membeli sehelai kain hitam yang panjangnya bisa beberapa meter?
"Untuk apa kain hitam ini?" Gojyo menggaruk pelan kepalanya. Wajah sanzo masih tetap datar melihat reaksi heran asistennya itu.
"Menghentikan aksi mata-mata bodoh seperti tadi pagi," Ungkap Sanzo. Gojyo langsung bisa menebak maksud Sanzo. Ucapan Sanzo pastinya merujuk pada aksi anak itu tadi pagi. Mungkinkah Sanzo menganggap kalau kejadian tadi pagi sebagai suatu masalah besar? Apakah Sanzo tidak bisa memaafkan perbuatan pemuda itu sehingga ia harus melakukan sesuatu yang cukup berlebihan? Gojyo tidak bisa menerima begitu saja hal itu.
"Kau yakin?" Sanzo mulai kesal ketika anak buahnya itu membantah perintahnya. Ia menatap Gojyo tajam, tidak membiarkan pria yang bertubuh lebih tinggi dan kekar darinya itu berkomentar lagi.
"Kau mulai berpihak padanya?" Sanzo bertanya sinis. Gojyo langsung tercekat.
"Ti-tidak," Gojyo menjawab cepat, namun gugup. "Bagiku kau hanya sedikit berlebihan. Ia tak melakukan tindakan yang melukaimu bukan? Jadi kau tak perlu menanggapinya,"
"Bagiku itu cukup mengganggu," Sanzo bersikeras "Ia pasti akan melakukannya lagi,"
"Ta-tapi,"
"Sudah! Laksanakan saja perintahku! Kau ini kenapa keras kepala sekali?!" Omel Sanzo seketika. Gojyo tak bisa membantah lagi. Ia mendengus kesal, sedikit terpaksa menuruti perinah makhluk egois itu.
"Kau tak perlu membentakku. Aku hanya memberi pendapat,"
"Kau memberi pendapat yang tak berguna! Tolol!" Makian Sanzo membuat Gojyo kembali menghela nafas untuk menenangkan dirinya.
"Baiklah. Maaf tuan Sanzo," Gojyo menyimpan kertas itu dalam saku jeansnya. Mencoba untuk tidak menanggapi makian itu, Gojyo kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Aku akan membelinya setelah menyelesaikan pekerjaan ini,"
Sanzo langsung meninggalkan Gojyo, memasuki ruang laboratorium pribadinya. Gojyo kembali menghela nafas. Ia memang harus sering mengendalikan dirinya menghadapi sikap Sanzo yang menyebalkan seperti itu. Gojyo memang bukan tipikal orang penyabar yang bisa terlihat tenang saat mendapat makian, namun kali ini ia memang harus belajar terus menjadi orang yang sabar dan selalu mengalah pada pria super egois seperti Sanzo.
Gojyo mengakhiri pekerjaannya segera. Lantai rumah ini sudah cukup bersih. Ia pun langsung bergegas keluar dari rumah untuk mencari barang yang Sanzo pesankan padanya. Rumah mereka memang cukup terpencil sehingga sulit untuk menuju ke pusat perbelanjaan. Gojyo menggunakan sepeda untuk berpergian karena dokter gila itu tidak pernah tertarik untuk membeli kendaraan bermotor. Memang cukup merepotkan, namun kelamaan Gojyo mulai terbiasa menempuh jarak cukup jauh dengan sepeda.
*
Pemandangan luar yang menyajikkan dunia seindah dalam lukisan itu sudah tak bisa ia saksikan lagi. Sebuah kain hitam membentang sepanjang kaca jendela, menutupi seluruh pemandangan yang biasa ia lihat dari jendela kamarnya. Goku tak bisa berbuat banyak untuk menghalangi sang dokter dalam menghukumnya. Ia hanya menatap Gojyo dengan pandangan hampa ketika pria itu melapisi kaca jendela ruang kamarnya dengan kain hitam.
"Dokter menyuruhku melakukan hal ini," Ungkap Gojyo sambil mendesah. Goku tak membalas ucapan Gojyo, namun pria itu yakin kalau perasaan pemuda itu sebenarnya amat sedih. Goku pasti ingin sekali menahan Gojyo, namun ia tahu kalau tindakan itu pastinya tidak akan berguna sama sekali.
"Aku tidak tahu apa ini berpengaruh banyak bagimu. Aku hanya berharap kau tidak melakukan tindakan selain yang kami perintahkan," Tukas Gojyo usai menyelesaikan pekerjaan kecilnya. Ia menghadapi sosok yang kini mulai memeluk lututnya, memasang wajah lesu sebagai ekspresi penolakan.
"Apa ia membenciku?" Ungkap Goku pelan, mempertanyakan setiap hal yang ia alami bersama dua pria yang menyanderanya ini.
"Ia selalu membenci setiap pasiennya. Jadi, kalau kau tidak ingin kembali mendapat hukuman, lebih baik kau jangan berbuat macam-macam," Gojyo bertolak pinggang menghadapi sosok lunglai itu.
Goku tidak menjawab lagi. Bola matanya bergerak, mengarah pada bentangan kain hitam di balik tubuh Gojyo. Melihat respon sang pasien, Gojyo memutuskan untuk tidak mengusiknya lagi. Ia pun memutuskan untuk meninggalkannya sendirian, mengunci pasien itu dalam ruang kamar yang kini semakin gelap.
Berjam-jam berlalu, dan ketika pintu kamar itu kembali dibuka, sosok Goku masih berada dalam posisi yang sama: mematung dengan wajah lesu sambil memandang ke arah jendela. Gojyo yang mengantarkan makanan untuknya hanya bisa menghela nafas. Ia melangkah mendekati Goku. Langkah berdecit pria itu sepertinya tak mengusik sedikitpun pemuda berpakaian serba putih itu. Gojyo pun berniat untuk kembali meninggalkannya setelah ia meletakkan nampan makanan itu di atas meja.
"Di luar pasti cuaca sangat cerah. Sinarnya merembes sampai ke sini," Ucapan Goku menjadi tali yang menarik kembali Gojyo untuk tinggal sejenak dan menemani pemuda kesepian itu. Gojyo berbalik dengan perasaan enggan. Ia hanya mengangguk pelan-sebuah respon yang pastinya tak akan disadari oleh pemuda yang tengah termangu menatap lurus ke jendela itu.
Goku menoleh perlahan, menatap sorot mata milik pemuda cuek itu. Ia tersenyum lemah. Gojyo jadi sedikit bergidik melihat perubahan sikap yang drastis pada pemuda itu. Mungkinkah kondisi psikis pemuda itu semakin kacau? Ia pun berusaha menghindari tatapan matanya, seolah menjaga jarak hubungan antara dia dengan pasien itu.
"Pasti menyenangkan bisa keluar di tengah cuaca cerah seperti ini,"
"Sudahlah!" Gojyo langsung memotong ucapan pemuda itu. Ia tak ingin mendengar permintaan dari pemuda itu untuk membawanya keluar rumah. Hal itu lebih mustahil lagi untuk ia lakukan. Bisa-bisa Sanzo akan membunuhnya kalau ia berani melakukan hal berbahaya itu.
"Lebih baik kau habiskan makananmu. Kalau dokter tahu, kau bisa tak diberikannya makan lagi," Ancam Gojyo. Goku tak bergeming mendengarnya. Matanya tampak menerawang kosong setelah itu ia pun mengangguk pelan.
Gojyo kembali membalikkan badannya, hendak meninggalkan pemuda itu sendirian. Mungkin setelah makan, sosok Sanzo-lah yang akan menggantikannya berada di sini. Ia tak tahu apa yang tengah Sanzo rencanakan. Mungkin saja ia akan memperlakukan pemuda itu lebih jahat lagi mengingat kejadian tadi pagi.
Gojyo mengintip dari celah pintu sebelum ia benar-benar meninggalkan pemuda itu sendirian. Dari hasil pantauannya, Goku nampak sedikit bergerak meraih nampan lalu makan dengan tenang di atas tempat tidurnya. Tidak ada gerak-gerik aneh maupun mencurigakan darinya, sehingga Gojyo bisa tenang meninggalkannya sendirian. Ia menutup pintu kamar pelan-pelan agar pemuda itu tak terusik dan menyadari pengawasannya. Setelah itu, Gojyo mengunci pintu kamar itu.
*
