Sanzo datang tak lama setelah Goku menghabiskan makan siangnya. Suara klik yang keras mengalihkan pandangan Goku. Tak menunggu waktu lama pintu kayu itu pun berdebam membuka, seketika membuat Goku mundur lalu meringkuk ke sudut ranjang lalu. Ia tahu siapa yang datang, sehingga memang seharusnya ia membuat sebuah pertahanan kecil ketika sosok itu mendekatinya.

Bola mata Sanzo mengedari setiap penjuru ruangan. Cahaya matahari merembes, sedikit menerangi penglihatannya. Ia menemukan pemuda itu berada dalam posisi yang sama setiap kali ia datang menghampirinya. Sanzo mendekati pemuda itu. Bayangan sang dokter yang menudunginya seketika membuat nafas Goku tak beraturan. Ia merasa sangat takut.

"Kau sudah membuatku marah pagi ini," Nada sinis menghantam telinga Goku, seperti jarum es yang menusuk sumsum tulangnya.

"Gojyo sepertinya sudah mulai lembek dalam mengawasimu. Sebagai seorang pasien di sini kau harus tahu siapa dirimu. Keberadaanmu yang sama sekali tak ada artinya lagi. Kau hanya makhluk percobaan yang suatu saat akan mati di tanganku," Ungkap Sanzo dalam rangkaian kalimat demi kalimat kejamnya. Ia menatap Goku keji, meletakkan tas dokternya lalu mengambil jarum suntik dari situ.

"Kira-kira kau bisa menebak kejutan selanjutnya yang kuberikan untukmu?" Sanzo ingin menyentuhnya, namun Goku dengan berani menepis tangan pria itu. Sanzo tak bergeming mendapat perlawanan kecil dari makhluk tak berguna itu.

"Semacam perlawanan, hah?" Sanzo mencengkram pergelangan tangan Goku, kembali dengan mudah meruntuhkan pertahanannya. Pasien itu langsung meronta ketika tubuhnya terhempas ke tempat tidur.

"Dokter, kumohon ampuni aku…" Goku memelas di tengah isak tangisnya. Berusaha mengacuhkan permohonan pasiennya, Sanzo mempersiapkan jarum suntik di tangannya. Sedikit cairan bening muncrat keluar saat Sanzo menekan suntikannya. Cairan itu nampak berkilau, mengalir sepanjang suntikan. Siluet hampa tergambar pada bola mata sang dokter ketika memandang racun buatannya.

Sanzo sendiri masih meragukan efek racun buatannya jika disuntikkan pada tubuh manusia karena memang proyeknya ini masih berada dalam tahap awal. Jika berhasil, racun tersebut bisa merusakkan organ dalam tubuh pasiennya. Namun jika tidak, Sanzo sendiri masih belum mendapat gambaran akan efek lain yang ditimbulkan. Ia memang seharusnya tak terlalu banyak berharap pada hasil kerja yang setengah hati.

Pasien itu meronta sekuat tenaga. Namun, ketakutan menyerap seluruh energi yang ia punya. Dokter Sanzo terlalu kuat untunya, bahkan untuk sekedar membuatnya menjaga jarak dari Goku. Justru Sanzo duluan-lah yang berhasil mengunci setiap perlawanan kecilnya.

Jarum suntik yang menancap pada permukaan kulit pucat itu menjadi akhir dari segalanya. Goku meringis pelan, merespon rasa sakit saat jarum suntik yang dingin itu menembus dagingnya. Setelah itu, ia terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Bola mata keemasannya berkaca-kaca, menatap lurus dan hampa, sementara cairan bening dari pelupuk matanya mulai mengalir membasahi pipinya.

Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk melawan racun dalam tubuhnya. Ia memang hanya seorang pasien percobaan yang harus merasakan setiap jenis obat atau racun yang dokter itu berikan. Kali ini apakah efeknya akan terasa lebih menyakitkan?

"Dokter…" Sanzo menghentikan kegiatan kecilnya, memasukkan jarum bekas pakai ke dalam plastik bening untuk dibuang lalu membuka sarung tangan karetnya. Panggilan itu terdengar pelan dan terasa amat lembut di telinga Sanzo. Ia tertegun sejenak sebelum akhirnya menoleh ke arah pasien itu.

Suara itu tidak terdengar seperti suara seorang pasien yang tersiksa. Suara yang terdengar polos dan tanpa ada amarah sedikitpun. Sanzo tak habis pikir, padahal ia sudah memperlakukan pemuda itu dengan kejam, dan pastinya efek racun dalam tubuh pemuda itu sedang bekerja. Bukankah seharusnya Sanzo menerima makian dan keluhan dari pemuda itu?

"Bunga-bunga yang indah…" Gumaman lembutnya membuat Sanzo tak bergeming. Air muka kejam dokter itu perlahan mencair. Sorot mata herannya merekam senyum lembut yang terukir di bibir pucat pasien itu.

"Bunga aster ungu yang kau rawat. Warnanya persis dengan warna matamu. Indah sekali…" Goku menghentikan ucapannya saat mulai merasakan kesakitan. Racun dalam tubuhnya pasti sudah bekerja. Semakin lama, rasa sakit itu semakin menjadi. Goku mengerang. Ia bergerak gelisah ketika mulai kesulitan bernafas. Ia seperti menghirup asap pekat yang membuatnya sulit meraup oksigen di sekitarnya. kedua telapak tangan pasien itu menutupi hampir seluruh wajahnya. Suara batuk samar pun terdengar.

Sanzo memperhatikan sang pasien yang tengah berjuang melawan rasa sakit akibat efek racun darinya. Alis pria itu saling bertaut. Wajahnya muram. Racunnya memang bekerja walau tidak sesuai harapannya, namun tetap bisa menyiksa pemuda itu. Seharusnya Sanzo merasa puas dengan hasil kerjanya, namun kali ini ia tak bisa merasakan hal itu. Ekspresi wajah sang dokter berubah pucat, terlebih saat melihat pasien itu mulai memuntahkan cairan kental berwarna kemerahan dari mulutnya.

Batuk pasien itu tidak berhenti, begitu pula dengan darah yang mengalir dari mulutnya. Dalam beberapa menit, tubuh pasien itu sudah kotor oleh cairan darahnya sendiri. Telapak tangannya merah, penuh dengan noda darah bercampur lendir. Area sekitar bibirnya juga dihiasi dengan cairan kental berwarna merah itu.

"Kouryu," Sanzo langsung tersentak mendengar panggilan yang menerornya itu. Ia langsung melihat sekitarnya dengan wajah ketakutan. Tak ada sesiapa di ruangan ini selain dirinya dan pasien itu. Tidak ada! Sanzo berusaha meyakinkan dirinya. Apalagi suara familiar milik seseorang yang sudah lama tak berada di dunia ini lagi.

Sanzo meraih tas dokternya, hendak berbalik untuk meninggalkan pemuda itu sendirian dengan segenap kesakitannya. Ia tak ingin melihat adegan yang entah kenapa mengingatkannya pada kejadian sepuluh tahun lalu. Darah, suara batuk serta rintihan dari pasien itu mirip sekali dengan ingatan lama yang sudah mengendap dalam sudut otaknya. Dan, hal itu amat mengganggunya.

Sebuah tangan menarik pelan jas putih yang Sanzo kenakan, berhasil menahan tubuh dokter itu sejenak. Sanzo menoleh dan melihat tangan penuh darah menggenggam jasnya. Genggaman itu tak terlalu kuat sehingga Sanzo dengan mudah bisa menepisnya. Pemuda itu juga tidak bersikeras menahannya lagi, tetapi bergelut dengan rasa sakit yang semakin menyiksanya. Sanzo kembali terdiam. Pemandangan itu semakin mengerikan sehingga ia memutuskan untuk melangkah cepat meninggalkan pemuda itu. Suara batuk dan rintihan seketika menghilang ketika sang dokter keluar dari ruangan kamar pasien lalu mengunci pintu kamar itu rapat-rapat.

Nafas Sanzo mulai memburu. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Ide percobaannya kali ini memang sangat buruk. Ia berjanji untuk tidak memakai obat itu lagi. Sembari berjanji dalam hatinya, tubuh lunglai Sanzo mulai melangkah menelusuri koridor, melewati Gojyo yang tengah menikmati cemilan di ruang tamu. Pria berambut merah itu tertegun melihat dokter yang biasanya menujukkan ekspresi kejam dan angkuhnya itu kini terlihat ketakutan.

*

"Hei, Sanzo! Apa yang terjadi?"

Gojyo berusaha memanggil sang dokter, namun suara lantangnya tak mampu mengalihkan perhatian pria itu. Gojyo melihat sosok Sanzo membuka pintu menuju ke ruang bawah tanah. Sanzo dengan gontai mulai menuruni tangga. Ia langsung menutup kembali pintu itu rapat-rapat seolah menyembunyikan hal yang akan ia lakukan di ruang kerjanya itu sendirian.

Sanzo tetap tidak keluar dari ruang kerjanya sekitar lima belas menit kemudian. Gojyo yang dipenuhi rasa ingin tahu tetap berdiri di depan pintu, mengetuk-ngetuk pintu ruang bawah tanah seraya memanggil-manggil nama pria itu. Pada akhirnya Gojyo memutuskan untuk menyerah kala ia tak mendapat respon sedikitpun dari Sanzo.

Gojyo merasa amat kecewa akan perlakuan Sanzo padanya. Mungkin ia memang tetap diperlakukan sebagai orang luar oleh dokter itu, walau Gojyo sebenarnya sudah menjadi asisten Sanzo sejak tiga tahun lalu. Laki-laki berkarakter dingin itu menjaga jarak darinya, menganggap Gojyo hanya sebagai seorang asisten yang bertugas untuk mendampinginya dalam membuat obat dan menangani pasien. Gojyo yakin, di balik sosok sok tegar itu, Sanzo sebenarnya menyimpan banyak tekanan dan beban dalam pikirannya. Gojyo ingin sekali membantu pria itu meringankan beban pikirannya, bukan hanya sebagai seorang asisten, melainkan juga sebagai seorang teman.

Namun, Gojyo tetap harus menelan kenyataan kalau Sanzo tetap tak akan mau membagi masalahnya. Kali ini, Gojyo kembali paham setelah ia mendapati Sanzo yang mengurung dirinya begitu saja dengan wajah ketakutan setelah melakukan percobaan pada pasiennya, namun tak mau menceritakan sedikitpun kepada Gojyo mengenai apa yang terjadi.

Gojyo hanya menghela nafas. Ia menghadapi pintu kayu tertutup di hadapannya dengan bertolak pinggang. Siluet kecemasan masih meliputi dirinya. Ia memang tak akan mendapatkan penjelasan apapun sehingga ia hanya berharap kalau Sanzo tak melakukan hal aneh di dalam ruangan itu.

Pikiran Gojyo teralih pada ruang kamar milik sang pasien. Mungkin pasien itu bisa menjelaskan apa yang membuat Sanzo ketakutan seperti itu, sehingga Gojyo memutuskan untuk menghampiri ruangan itu. Segenap pertanyaan masih mengendap dalam pikirannya, seraya Gojyo melangkah melewati koridor. Ia sudah berdiri di ambang pintu kamar pasien itu. Gojyo tak tahu apa yang tadi Sanzo lakukan di dalam kamar pasien itu, sehingga ia tak menaruh curiga sedikitpun pada keheningan yang terasa ke luar kamar. Ia membuka pintu kamar, membiarkan sang pintu mengekspos isi dalam kamar yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Gojyo kaget bukan kepalang. Sang pasien sudah tak sadarkan diri di atas tempat tidurnya dengan sekujur tubuh yang berlumuran darah. Gojyo langsung menghampirinya untuk melihat sosok terbujur kaku itu lebih dekat. Ia tak mampu berkata apapun lagi untuk mencerminkan rasa terkejutnya. Ia hanya memperhatikan kondisi sang pasien dengan wajah pucat. Cairan merah keluar dari setiap rongga di tubuhnya, mengotori pakaian dan sekijur tubuh sang pasien. Pemuda itu tidak membuat pergerakan sedikitpun, namun dari kembang kempis perutnya, Gojyo yakin kalau ia masih hidup, walau dalam kondisi yang amat kritis.

Apa Sanzo berniat membunuhnya? Atau mungkin sebuah kecelakaan terjadi dalam pemberian obat dari Sanzo? Gojyo pun meyakini dugaan keduanya itu mengingat wajah Sanzo yang nampak pucat karena ketakutan. Kini, Gojyo mulai mencari cara untuk menyelamatkan pasien itu.

Ia hendak keluar dari ruangan kamar, namun langkahnya terhenti oleh kemunculan sosok tegap berbalut jas putih yang menenteng sebuah tas dokter. Sanzo ternyata kembali menyambangi kamar sang pasien.

"Apa yang terjadi dengan pasien itu?" Gojyo langsung menghujaminya dengan sebuah pertanyaan. Dengan tergesa, Sanzo melewati Gojyo begitu saja untuk menghampiri ranjang tempat sang pasien terbaring, seolah menganggap Gojyo sebagai makhluk transparan.

"Sanzo!" Gojyo yang mulai gusar berniat menghentikan pekerjaan Sanzo sejenak. Namun, ia tak bisa melakukan hal itu setelah mendengar ujaran pelan sang dokter untuknya.

"Bantu aku," Pinta Sanzo. Suaranya sedikit bergetar, tercampur oleh engahan nafasnya. Gojyo menangkap sebuah ungkapan minta tolong yang amat sangat dari sang dokter padanya. Ia hanya terdiam, namun secara tak langsung Gojyo akan memenuhi permintaan dokter itu untuk membantunya.

"Apa yang harus kulakukan?" Gojyo berkata pelan, namun tegas, berusaha menekan kegusaran hatinya. Ia memang sangat ingin mendengar penjelasan Sanzo mengenai penyebab pasien itu berakhir dengan kondisi mengerikan seperti ini, namun ia mencoba mengerti posisi Sanzo saat ini yang tengah berada dalam kepanikan.

Sang dokter meletakkan tas kerjanya lalu mengeluarkan sesuatu. Beberapa botol obat berada dalam genggaman tangannya. Sanzo memeriksa kondisi pasien itu dengan stetoskop, menangkap denyut jantung yang amat lemah terdengar di telinganya. Pasien itu masih hidup, namun kondisinya memang amat lemah. Racun buatan Sanzo ternyata sangat berbahaya bagi tubuh sang pasien, dan mengetahui kenyataan tersebut, Sanzo justru semakin merasa takut.

"Kita harus menyelamatkannya!" Sanzo berbisik dengan bibir bergetar. Ia menyerahkan beberapa botol obat buatannya pada Gojyo. "Kau bisa bantu aku meraciknya?" Pinta Sanzo. Gojyo menerima beberapa botol obat itu dalam genggamannya, lalu mengangguk pasti. Ia melangkah ke meja untuk membuat racikan obat sementara Sanzo sibuk melakukan pertolongan pertama pada pasien yang tengah berada di ambang kematian itu.

Keringat dingin tak berhenti mengucur dari pelipis sang dokter. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh cairan asin itu. Jantung Sanzo terus berdetak dengan tempo yang amat cepat. Ketika nafas sang pasien mulai berhenti, Sanzo berusaha untuk menekan bagian jantungnya. Ia sudah lama tak merasakan ketakutan hebat seperti ini. Sosok lemah sang pasien yang berlumuran darah itu terus membuatnya teringat pada seseorang yang berada dalam kondisi sama sekitar sepuluh tahun lalu. Namun, kali ini ia tak ingin akhir dari masa lalunya itu terulang kembali.

"Kau harus hidup! Kau harus hidup!" Sanzo berbisik lirih di tengah usaha kerasnya mengembalikan nafas pemuda itu.

*