Bentangan sebuah padang rumput diselimuti oleh cakrawala. Matahari bersinar tak terlalu terik, sedikit menyembunyikan wujudnya di balik arakan sang awan. Angin sepoi-sepoi basah tak berhenti berembus, memainkan ujung lengan piyama putihnya serta mengelus lembut rambut pendek coklatnya yang tergerai berantakan.

Ia tersadar di tempat ini, dan mendapati dirinya berada sendirian. Ia tak tahu di mana ia berada, namun tempat ini terasa amat damai untuknya. Ia berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum ia berada di sini. Sebersit ingatan muncul dalam pikirannya, mengenai tubuhnya yang menerima racun dari sang dokter, ia yang berusaha melawan racun tersebut, serta muntahan darah yang keluar dari mulutnya. Pada akhirnya, ia pun menyerah dengan kondisinya. Di tengah perasaan putus asa itu, ia pun mulai kehilangan kesadaran.

Goku langsung menyimpulkan kalau mungkin saat ini ia sudah mati, dan wujudnya sekarang adalah roh yang tengah berada di dunia lain. Goku menatap kedua tangannya, yang ternyata masih berwujud benda padat berupa daging yang berbalut kulit. Ia beralih menyentuh bagian tubuh lainnya, dan tetap tak mendapati perubahan sedikitpun seperti cerita yang biasa ia dengar ketika seserang berada dalam wujud roh.

Pada akhirnya, Goku memutuskan untuk menjelajahi tempatnya berada saat ini. Mungkin dengan berjalan-jalan di sekitar tempat ini, ia bisa menemukan sosok lainnya, dan berharap sosok tersebut bisa memberitahukan padanya apa nama tempat ini. Surga-kah? Neraka-kah? Dimensi lain-kah?

Kaki telanjangnya menjejaki rerumputan lembut yang sedikit basah terkena embun. Piyama putih longgarnya berkibar-kibar diterpa angin sepoi-sepoi. Perasaan hatinya memang amat damai karena mendapat sambutan hangat dari sang alam. Goku menatap langit kelabu, mengamati pergerakan sang awan sembari menciptakan langkah demi langkah kecilnya.

Ia sudah berjalan cukup lama. Goku menghentikan langkahnya sejenak sembari melihat kiri dan kanannya. Selama berjalan mengitari daerah ini, ia tetap mendapati pemandangan yang sama, berupa padang rumput yang diisi oleh semilir angin. Selebihnya, tak ada sesiapa yang berpapasan dengannya.

Ia tak tahu di mana ia berada serta apa yang harus ia lakukan di sini. Terjebak dalam dua hal itu, Goku pun mulai merasa kalut. Ia duduk di atas rerumputan sambil memeluk lututnya. Ia membenamkan wajahnya, berusaha untuk mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini. Ia tak ingin berada sendirian, walaupun ia sendiri memang tengah berada di tempat yang amat damai. Ia ingin seseorang datang dan menemaninya.

"Goku Ni-chan," Seseorang seperti memanggil namanya. Suara tersebut sepert familiar baginya, walau ia belum bisa membayangkan sosok bersuara manja itu. Merespon panggilan itu, Goku langsung melihat sekitarnya, namun ia tak menemukan siapapun di sekitarnya.

"Ni-chan!" Suara panggilan itu kembali terdengar lebih keras. Goku langsung bangkit lalu mulai berlari kecil menelusuri padang rumput itu guna mencari sosok yang sudah dua kali memanggil dirinya. Pandangan Goku terus mengedari sekitarnya, tak sedikitpun lengah agar wujud sang pemanggil bisa tertangkap jelas oleh indra penglihatannya.

Sebuah bayangan berdiri beberapa meter di hadapannya. Goku semakin mempercepat larinya untuk menemui sosok itu. Semakin mendekat, sepasang bola mata Goku semakin bisa menangkap wujud dari bayangan itu. Alis Goku menyirit heran menemukan seorang gadis berwujud tembus pandang tengah menghadapi dirinya. Gadis berkulit coklat itu memang mirip dengannya, namun Goku tetap tak bisa mengenali sang gadis. Melihat sang kakak yang sudah berdri satu meter dari dirinya sambil menatapnya asing, sang gadis berkuncir dua itu hanya tersenyum lembut.

"Nii-chan,"

"Kau siapa?" Goku berbisik pelan dan ragu sambil menilik sosok transparan itu.

Gadis itu hanya tersenyum, seolah membiarkan Goku untuk menebak sendiri.

"Aku tidak bisa mengingat apapun, bahkan saat berada di sini. Jadi, kumohon beritahu aku agar aku bisa mengenalimu," Pinta Goku dengan nada lirih. "Lalu kenapa wujudmu bisa seperti ini?"

"Aku sudah mati," Gadis itu menjawab. Wajahnya mulai berubah serius. Goku langsung tertegun mendengarnya.

"Nii-chan, kau yang berusaha melindungiku saat beberapa pria berpakaian hitam itu berusaha membunuhku. Namun, pada akhirnya hanya kau sendiri yang selamat," Sang gadis menjelaskan dengan wajah tertunduk. Goku tak bergeming mendengarnya. Otaknya bekerja sangat keras untuk menemukan potongan kejadian itu.

"Nii-chan," Sang gadis bertubuh mungil itu menggapai tangannya untuk meraih Goku. Pemuda itu tertegun melihat tangan yang berlumuran darah tengah menyambutnya.

"Ni-chan," Bisikan itu menelisik ke telinga Goku, merasuk ke dalam pikirannya. Seolah terhipnotis, Goku tak bisa bergerak sedikitpun. Namun, di tengah kelumpuhan raganya, otak Goku mulai menemukan sebuah potongan kecil dari kejadian yang dimaksud oleh gadis itu. Panggilan lemah serta tangan mungil berlumuran darah yang berusaha menggapainya. Ingatan yang samar itu membuatnya takut dan sedih.

Goku berusaha meraih tangan itu, namun tubuh padatnya hanya bisa menangkap udara kosong. Tangan gadis itu memang transparan sehingga mustahil bagi Goku untuk bisa memegangnya.

"Kau belum mati, nii-chan. Tetaplah hidup," Gadis dengan bercak darah di wajahnya tersenyum lirih. Seolah belum menerima kenyataan, Goku berusaha memeluk tubuh yang lebih pendek darinya itu. Namun, usaha Goku ternyata gagal. Sang gadis sudah menghilang begitu saja, meninggalkannya sendirian di sini.

Goku jatuh terjembab, membiarkan wajahnya menyentuh permukaan tanah beralas rumput itu. Suara dengung pun mengitari telinganya, menutup segenap suara tiupan angin yang sejak tadi mengiringi langkahnya itu. Jari-jari Goku mencengkram rumput-rumput di sekitarnya. Ia mengutuk segala kegagalannya. Ia memang tak ingin hidup lagi. Ia ingin ikut dengan gadis itu, bersama dengannya. Mungkin kedua orang tuanya juga sudah menunggunya.

"Aku tak ingin hidup…" Goku berbisik pelan sambil menangis. Ia pun memejamkan kedua matanya. Dalam sekejap, Goku pun kehilangan kesadarannya.

*

Suasana pagi terasa amat damai. Cuaca yang cerah itu mengundang Sanzo untuk keluar dari rumahnya. Dengan membawa perlengkapan berkebunnya seperti biasa, sang dokter menghabiskan waktunya di taman untuk merawat tanaman-tanaman hiasnya. Mungkin dengan kegiatan ringan ini, Sanzo bisa sejenak melepas penat setelah beberapa hari ini disibukkan dengan mengontrol kondisi sang pemuda.

Pemuda itu sudah melewati masa kritisnya. Sanzo sudah bisa sedikit merasa lega. Kini, sang pemuda hanya tinggal melewati masa-masa pemulihan yang mungkin akan memakan waktu cukup lama. Ia memang masih terbaring koma di ruang rawat, dan Gojyo sendiri juga ditugaskan untuk merawat pasien itu.

Di tengah kelegaan hatinya, Sanzo sebenarnya masih menyimpan kekesalan pada dirinya sendiri. Racun yang membahayakan pasien itu memang bagian dari kecerobohannya, namun yang membuatnya kesal adalah keputusannya dalam menyelamatkan pasien itu. Hati Sanzo ternyata masih sebegitu rapuh ketika dihadapkan pada kondisi yang mirip seperti sepuluh tahun lalu sehingga ia pun mengambil langkah yang menurutnya bodoh itu.

Sanzo mengacak rambutnya untuk mengusir semua kekalutan yang membebani pikirannya. Kali ini, ia mencoba fokus dalam pekerjaan ringannya itu, merawat tanaman-tanaman hias miliknya. Ia berharap dengan tenggelam dalam dunia holtikultura favoritnya, pikiran Sanzo bisa lebih tenang.

Sanzo baru saja selesai memindahkan tanaman bunganya dari pot ke halaman saat sebuah mobil mewah memasuki halaman rumahnya yang luas itu. Sanzo tertegun, menebak sosok pengganggu yang ada dalam mobil itu. Ia memang sudah menduganya sebelum si pria berkacamata itu turun dari sedan silver miliknya. Hakkai sepertinya datang sendirian ke tempat ini. Ia langsung menyunggingkan senyum ramah ketika melihat sang pemilik rumah menatap tak bersahabat dari kejauhan.

Mereka pun bertemu. Hakkai yang duluan menghampiri pria yang usianya setahun lebih tua darinya itu. Kuluman senyum ramah tak hilang dari bibirnya seolah ingin mencairkan sambutan dingin Sanzo terhadapnya. Dalam sekejap, Hakkai dan Sanzo pun sudah saling berhadapan.

"Apa kabar, Sanzo?" Hakkai menyapa pria itu terlebih dahulu. Sanzo meletakkan sekop sambil menghela nafas kesal. Ia membuka sarung tangan karetnya lalu berdiri menghadapi pemuda itu.

"Ada perlu apa kau datang kemari?" Sanzo berujar sinis "aku tak menyuruhmu datang, bukan?"

"Memang. Aku hanya ingin menengok kalian saja," Hakkai menjawab tenang. Sanzo bergeming sambil meniliknya bolak-balik. Setelah itu, ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Masuk saja. Ada Gojyo di dalam. Aku sedang tidak ingin menerima tamu," Sanzo kembali memakai sarung tangan karetnya, melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunnda itu. Hakkai memperhatikan Sanzo sejenak. Mencoba memaklumi sambutan dingin Sanzo itu, ia pun beralih melangkah menuju ke pondok kecil milik sang dokter.

Hakkai bisa merasa lega karena Sanzo tak menaruh curiga padanya. Ia sebenarnya memiliki tujuan tersendiri untuk datang ke kediaman Sanzo. Hakkai ditelepon Gojyo dua hari lalu. Lewat percakapan di telepon itu, Gojyo menceritakan perihal Sanzo yang menyelamatkan pasien percobaannya. Gojyo sendiri sering menghubungi Hakkai untuk memberikan laporan perkembangan kondisi pasien itu. Menurut keterangan Gojyo, kondisi sang pasien sudah mulai membaik, namun Hakkai masih menyimpan kecemasan dalam benaknya, bukan mengenai kondisi pasien itu, melainkan mengenai sikap Sanzo, sehingga ia pun memutuskan untuk mengunjunginya.

Keganjalan dalam hatinya itu sudah sedikit berkurang setelah berbicara dengan sang dokter. Sanzo terlihat seperti Sanzo yang ia kenal, walaupun hanya bisa memberikan sambutan dingin untuk seorang partner kerjanya selama lima tahun itu. Hakkai memperhatikan sejenak gerak-gerik Sanzo dari ambang pintu pondok. Pria berambut pirang itu memunggunginya, masih sibuk bergelut dengan tanaman hias kesayangannya itu. Hakkai membetulkan posisi kacamatanya sambil berali masuk ke dalam pondok. Di ruang tamu, ia langsung disambut oleh Gojyo.

"Kau ke sini?" Gojyo yang tengah membereskan meja ruang tamu dari puntung rokok dan tebaran kertas koran itu terlihat sedikit kaget dengan kedatangannya. Padahal, Hakkai sendiri sudah memberitahukan rencananya untuk berkunjung kemari.

"Ya…" Hakkai menjawab ringan. Bola mata hijau pemuda itu menilik Gojyo lekat-lekat untuk membaca gerak-geriknya.

"Baru tiba?" Ujar Gojyo. Ia memalingkan wajahnya. "Kau rajin sekali datang sepagi ini,"

"Aku ada pekerjaan siang nanti," Hakkai duduk di salah satu kursi ruang tamu. Punggungnya sedikit condong, jari-jarinya saling terlipat. Ia terdiam sejenak sambil memperhatikan aktivitas Gojyo. Suasana kaku pun terasa di antara mereka.

"Bagaimana kondisinya?" Hakkai bertanya sambil memelankan suaranya. Pembicaraan mereka langsung mengarah pada hal yang serius.

"Pasien itu masih di kamarnya. Belum sadarkan diri," Gojyo menjawab sambil mengelap meja berlapis kaca itu.

"Maksudku… Sanzo…" Gojyo langsung menghentikan pekerjaannya setelah mengetahui kalau jawabannya ternyata tidak tepat. Ia melihat ekspresi Hakkai sangat serius.

"Kau sudah melihatnya sendiri, bukan? Tadi ia ada di luar,"

"Aku tahu. Ia terlihat baik-baik saja,"

Gojyo terdiam. Ia nampak memikirkan sesuatu, namun seperti menyembunyikannya kembali. Gojyo pun kembali melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya.

"Nampak baik-baik saja," Hakkai menekan ucapannya.

"Kondisinya sedikit stabil. Ia sudah bisa melakukan aktivitasnya," Gojyo menjelaskan "Sesekali ia merawat pasien itu,"

Hakkai menghela nafas. Ia pun menyenderkan tubunya. Pemuda berkemeja itu menerawang ke langit-langit ruangan.

"Aku sedikit lega mendengarnya," Ungkap Hakkai. Gojyo merasakan sesuatu yang menusuk setelah mendengar ungkapan ringan itu.

"Ia memang tak perlu dicemaskan. Mungkin ia hanya sedikit shock,"

"Kau tidak tahu apa alasannya?" Hakkai kembali mencondongkan tubuhnya, seolah tertarik dengan ungkapan itu.

"Karena melihat reaksi obat racikannnya yang di luar ekspektasi?" Gojyo masih ragu.

"Kau bilang ia sangat ketakutan. Kau tidak mencoba mencari tahu kenapa ia bisa ketakutan?"

Gojyo terdiam. Ia sedikit tertunduk.

"Ia sulit untuk diajak bicara. Kau sudah mengenal karakternya, bukan?"

Hakkai terdiam sambil bertopang dagu. Sorot matanya masih serius.

"Apa yang kau cemaskan?"

"Tindakannya," Hakkai menjawab sedikit berbisik. Gojyo pun langsung tercenung.

"Ia pernah melakukan kesalahan yang sama bukan, namun ia tak pernah merasa ketakutan seperti yang kau ceritakan padaku,"

Gojyo duduk di samping Hakkai. Kedua pemuda itu saling diam sambil memikirkan hal yang sama. Gojyo sendiri sebenarnya mencemaskan tindakan Sanzo. Dari hasil pengamatannya, Sanzo memang bertindak sedikit ceroboh dan di luar kendali saat menghadapi pasien itu. Terlebih saat Sanzo berusaha keras menyelamatkan nyawa pasien itu.

"Ia memang sedikit berubah setelah pemuda itu menjadi pasiennya," Gojyo membuka percakapan dengan membeberkan sebuah fakta yang menarik perhatian Hakkai. Pria berpakaian formal itu pun langsung mendengarkan penjelasannya.

"Seolah kehadiran pasien itu sedikit mengganggunya dalam satu hal," Ungkap Gojyo "Sanzo menunjukkan perasaan benci, yang tak pernah ia tunjukkan pada pasien lain. Tindakannya bahkan di luar kendali, terlebih ketika memberikan obat hasil percobaan pertamanya. Beberapa kali ia menolak saranku, bahkan berani menggertakku," Gojyo menghela nafas sambil mengakhiri penjelasannya.

"Itu yang membuatku semakin mengkawatirkan Sanzo. Aku takut ia berbuat sesuatu di luar tanggung jawabnya,"

"Sanzo memang sedikit berubah," Hakkai manggut-manggut menyetujui pendapat Gojyo. Pria berambut merah itu masih melanjutkan ucapannya.

"Tapi menurutku, itu yang menunjukkan sisi manusianya,"

Hakkai beralih menatap Gojyo seolah ucapan itu terdengar menarik hatinya.

"Aku melihat siluet matanya saat ia memeriksa kondisi pasien itu. Ia seperti merawat bunga-bunganya,"

"Dan menurutmu…itu baik…" Hakkai menunduk. Gojyo tak menjawab sebelum Hakkai menyelesaikan kalimatnya.

"Untuk organisasi?"

*

Tangan yang terulur menarik dirinya dari kegelapan. Ketika tangan kurusnya menyentuh jari-jari yang lebih kekar darinya itu, mimpinya pun berakhir.

Kelopak matanya terbuka, mengarah pada langit-langit kamar yang berwarna putih lusuh. Ia terpaku untuk mengurai memori terakhir sebelum ia berada di sini, mencoba memisahkan ingatan-ingatan yang bertebaran antara mimpi dan kenyataan.

Ia menyadari kalau ia tengah menggenggam tangan seseorang sebelum ia akhirnya sadar. Mimpi itu terasa sangat nyata sampai-sampai ia sendiri beralih menerawang tangan kanannya. Ia mengepal-ngepal tangannya yang masih terasa kaku untuk digerakkan. Memang tak ada yang menggenggam tangannya, namun kehangatannya tetap mampu ia rasakan.

Bola mata keemasannya langsung beralih melihat sekitar ruangan. Dalam ingatannya, ruangan ini adalah ruangan kamar tempatnya dikurung. Namun, kondisinya lebih rapi dan nyaman. Ia juga mendapati baju berlumuran darahnya telah diganti oleh satu stel piyama berwarna putih bersih.

Apakah penghuni rumah ini, sang dokter dan asistennya, yang merawatnya selama ia tak sadarkan diri?

Bunyi derit pintu ketika membuka pun langsung mengalihkan perhatiannya. Pemuda itu langsung refleks memejamkan matanya, seolah tak ingin penghuni rumah ini tahu kalau ia telah sadarkan diri. Alasannya, ia masih merasa takut, dan lagipula ia ingin mencari tahu sendiri kebenarannya mengenai apa yang terjadi selama ia tak sadarkan diri.

Memejamkan mata untuk berpura-pura tak sadarkan diri memang sedikit menyulitkannya untuk mengetahui kondisi sekitar. Ia menebak dari pendengaran. Beberapa derap langkah kaki mendekatinya. Pemuda itu berusaha tenang, memasang wajah tidurnya yang begitu damai seingga orang-orang yang berada bersamanya itu tak menaruh curiga. Ia mengatur nafasnya agar tetap stabil, bahkan saat orang-orang yang berada di dekatnya itu mulai membuat sebuah percakapan.

"Dia masih belum sadar?"

Suara itu terdengar familiar bagi sang pemuda. Ia kembali menyimak percakapan tersebut, mendegar suara familiar lain yang menyambut perkataan itu.

"Belum. Tapi kondisinya sudah membaik,"

Hakkai memperhatikan kondisi pemuda itu lekat-lekat. Wajahnya terlihat pucat dan kurus, namun sepertinya Sanzo dan Gojyo memang benar-benar merawat pemuda itu. Seperti yang Gojyo katakan, kondisi pemuda itu memang baik.

"Tinggal menunggunya sadar," Ucap Gojyo sambil mengangkat bahunya.

Hakkai memperhatikan pemuda itu sebentar. Sorot matanya nampak serius. Beberapa saat kemudian, wajah serius Hakkai langsung mencair. Ia mengulum senyum akrabnya pada Gojyo, menepuk bahu pemuda itu.

"Kuserahkan semuanya padamu," Hakkai bicara sambil meninggalkan ruangan. Gojyo megikuti langkah pemuda itu dari belakang.

"Kalau ada hal yag menurutmu janggal, kau bisa hubungi aku," Suara itu pun meghilang ditutup oleh bunyi debaman pelan. Goku membuka matanya, menemukan dua pemuda itu sudah pergi meinggalkan ruangan. Ia sudah mendegar seluruh percakapan mereka, namun belum bisa menyimpulkan banyak hal dari situ.

Satu hal yang ia yakini, bahwa memang sang dokter dan asistennya itulah yang merawatnya selama ia tak sadarkan diri.

Goku menyimpan fakta itu dalam hatinya. Ia pun beralih menghadapi jendela kamar. tirai yang membetang, menghalangi Goku untuk melihat dunia luar. Hanya rembesan sinar matahari yang bisa leluasa menerangi ruangan ini. Ia masih ingat kalau lewat jendela kamar itu, ia bisa melihat taman bunga yang indah, serta aktivitas sang dokter yang tengah merawat bunga-bunga kesayangannya. Apakah saat ini sang dokter masih berada di sana dan melakukan aktivitas berkebun seperti biasa?

*

Siang itu, setelah berkebun, Sanzo berniat untuk kembali melakukan pemeriksaan pada pasien itu. Ia mandi lalu mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih formal. Dalam sekejap, sang tukang kebun pun berubah menjadi seorang dokter dengan tas kerja dan jas putihya. Ia meninggalkan ruang kamarnya, disambut oleh Gojyo yang berniat mendampingi Sanzo dalam memeriksa kondisi pasien tersebut.

"Hakkai sudah melihatnya?" Sanzo bertanya serius saat mereka berdua sudah mencapai ambang pintu kamar sang pasien. Mereka tertahan di situ sebentar.

"Ya," Gojyo menjawab sekenanya, tanpa memberikan penjelasan lain. ia masih ragu apaka ia harus memberitahu Sanzo kalau Hakkai sudah mengetahui semua kejadian beberapa hari belakangan ini. Kemungkinan, Sanzo pasti sudah bisa menebak kalau Hakkai telah mengetahuinya.

"Bagaimana kondisinya?" Sanzo mengalihkan pembicaraan. Cukup mengejutkan untuk Gojyo karena Sanzo sama sekali tidak mau membahas soal kedatangan Hakkai barusan. Mungkinkah karena Sanzo sudah bisa menarik banyak kesimpulan dari kedatangan Hakkai sehingga ia tak perlu bertanya lagi pada Gojyo? Hal itu justru membuat Gojyo merasa gugup.

Gojyo langsung tersentak sendiri dan menemukan sanzo tengah memperhatikannya untuk menunggu jawaban darinya. Gojyo mulai salah tingkah. Apakah ia kepergok melamun?

"S…sudah… eh! Maksudku belum!" Gojyo mulai tak bisa konsentrasi. Sanzo menatapnya tajam, kesal dengan sang asisten. Ia pun membuka pintu kamar sang pasien untuk melihat kondisi pasien itu langsung. Gojyo masih mengekori sang dokter dengan setia.

"Ia masih belum sadar," Gojyo berbisik saat mereka berdua menghadapi tubuh terbujur kaku itu. Sanzo terdiam, menilik sang pasien lekat-lekat dengan alis yang saling bertaut. Ia mendahului Gojyo untuk lebih mendekati tempat tidur. Sanzo meletakkan tas dokternya. Ia mengambil stetoskop lalu mulai melakukan pemeriksaan. Sanzo yang tengah memikirkan sesuatu sambil memeriksa pasien itu langsung menyunggingkan siluet senyum dinginnya.

"Seharusnya ia sudah sadar…" Gojyo bergidik menemukan perubahan ekpresi sang dokter. Ia mendekati sanzo, melihat sang dokter mencengkram pipi pasien yang tengah terlelap dalam damai. Cengkraman itu cukup keras, membuat sang pasien yang berpura-pura tidur itu langsung bangun sambil mengaduh. Gojyo pun terkejut mengetahui kalau sang pasien ternyata tengah mengelabui mereka berdua, sementara Sanzo mengalihkan pandangannya pada Gojyo.

"Belum sadar katamu?"

"K-kukira…"

Sanzo beralih memperhatikan pemuda yang masih mengelus pipinya yang terasa nyeri. Cengkraman sang dokter ternyata sangat kuat. Dokter itu memang tak berperasaan sudah berani mencengkram dagu seorang pasien yang baru sadar seperti dirinya.

"Berhenti berpura-pura! Detak jantungmu yang amat kencang tak bisa membohongiku," Sanzo menyimpan stetoskopnya. "Karena kau sudah sadar, berarti kau sudah sembuh," Ia menatap sepasang mata polos berwarna keemasan itu sekali lagi sebelum akhirnya beralih meninggalkan pemuda itu. Gojyo mengejar langkah cepat Sanzo. Ketika mencapai ambang pintu, ia melirik Goku sebentar lalu menyuggingkan senyum penuh kelegaan. Goku yang masih mengelus pipinya pun langsung tercenung, bahkan sampai kedua sosok itu sudah menghilang begitu saja di ambang pintu.