Cuaca panas menyerang kota siang ini. Sang surya tengah bersemangat memancarkan sinar teriknya ke bumi. Gumpalan awan tipis serta semilir angin kering yang membawa partikel debu mencoba mengusir hawa panas yang meliputi kota. Orang-orang yang berlalu-lalang hampir semua menyeka keringat yang mengucur deras di pelipis. Namun, aktiitas tetap berjalan seperti biasa.
Kota nampak sangat ramai, namun terlihat sumpek bagi seorang pemuda. Jadi, ia memutuskan untuk menepi di salah satu sudut taman kota sembari menyantap es krim yang tengah meleleh dihajar oleh hawa panas. Pohon yang rindang menudungi pemuda itu, sedikit melindunginya dari sengatan matahari. Beberapa tetes cairan es krim rasa vanilla yang kental mengalir mengotori lengannya dan menetes di rerumputan. Bola mata polos sang pemuda itu menatap bekas tetesan es krimnya di permukaan tanah. Dari raut wajahnya, ia sedikit merasa kecewa karena es krim kesukaannya harus meleleh karena hawa panas di sini. Setelah itu, pandangan matanya beralih pada aktivitas manusia yang terjadi di sekitarnya. Semua terasa sangat damai. Anak-anak kecil berlarian, beberapa kumpulan pelajar mengobrol satu sama lain, sementara beberapa orang berpakaian kantor hanya lewat begitu saja.
Es krim yang dimakannya sudah habis. Lidahnya menjulur ke sekitar bibir untuk menikmati sisa es krim yang masih menempel di situ. Masih belum puas, pemuda bertubuh jangkung itu beralih menjilat ujung jari-jarinya, seolah masih ingin menikmati es krim favoritnya.
Raut wajahnya kini berubah senang. Ia tersenyum tipis sambil melangkah ke pancuran air di taman. Pria berambut pirang itu membasahi wajahnya sekaligus membersihkannya dari lengketnya sisa es krim. Dengan wajah dan tubuh yang sedikit basah, pemuda berwajah polos itu kembali tercenug mengamati orang-orang yang ada di sekitarnya.
Hari ini sepertinya menyenangkan. Hatinya juga merasakan hal yang sama. Ia ingin melakukan hal lain yang mungkin bisa membuatnya lebih merasa bahagia. Makan es krim ternyata belum cukup, jadi apa kegiatan selanjutnya?
Sebuah ide terlintas dalam pikirannya. Ia tersenyum senang menyambut ide tersebut. Dengan segera, ia pun mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Ia baru ingat kalau kemarin ayahnya memberikan hadiah untuknya, dan kali ini tidak salah kalau ia mencoba hadiah itu.
Sebuah pistol kecil berada dalam genggamannya. Ia memperhatikan orang-orang di sekitarnya sembari bergerak. Beberapa orang belum menyadari kalau ada bahaya yang tengah mengintai mereka dari kejauhan sebelum akhirnya pemuda itu menodongkan pistolnya kepada salah seorang pria berpakaian necis yang tengah menelepon di dekatnya.
Sorot mata polosnya berubah dingin, bahkan ketika ia dengan gampangnya menarik pelatuk pada sasaran yang tengah lengah. Suara letusan pistol terdengar menyadarkan beberapa orang yang ada di sekitar tempat kejadian. Namun, semua sudah terlambat karena butir demi butir peluru sudah menembus tubuh pria itu lalu merobohkannya begitu saja.
Dalam sekejap, suasana damai itu pun berubah menjadi kekalutan. Orang-orang berlarian untuk menghindari sang pemuda polos dengan luka bakar di sekitar mata kanannya. Ia mengedarkan pandangan ke orang-orang itu dengan rasa senang, kembali menentukan sasaran berikutnya. Ia mengarahkan pistolnya ke beberapa target sasaran lalu menebaknya begitu saja. Beberapa orang pun roboh terkena muntahan peluru.
Pemuda itu tertawa senang. Ia masih ingin bermain-main dengan mainan kecilnya itu, namun ternyata peluru dalam pistol miliknya telah habis. Ia menerawang sejata di tangannya itu sejenak lalu menoleh ke belakang kala menyadari beberapa langkah kaki tengah datang mendekatinya. Tiga orang polisi hendak meringkus pemuda perusak keamanan itu. Sambil menodongkan pistolnya, mereka menghampiri sang pemuda yang tengah berdiri tercenung. Pemuda itu terlihat tak akan memberikan perlawanan apapun, namun dari sorot matanya, pemuda itu nampak sangat tenang menghadapi ketiga orang polisi itu.
"Jangan bergerak!" Gertakan dari salah seorang polisi tetap tak membuatnya takut. Ia memang tak bergerak sejak tadi sehingga gertakan dari polisi itu terdengar lucu baginya.
"Aku memang tak bergerak," Pria itu mengeluarkan suara. Nadanya datar dan tenang, memberikan kesan suara milik seorang anak kecil yang polos.
"Jangan memberikan perlawanan! Tetap berada di situ!" Pemuda itu tersenyum geli mendengar gertakan bodoh sang polisi berikutnya. Apakah mereka tidak bisa memberikan ancaman lain yang lebih menakutkannya?
"Apakah kalian melihatku melakukan hal yang membuat kalian menggertakku seperti itu?"
Ketiga polisi itu terkesiap, namun mereka semakin waspada dengan pemuda di hadapan mereka. Ia sudah membunuh beberapa warga sipil begitu saja dan bisa menghadapi polisi dengan tenang. Pastinya ia adalah sosok yang berbahaya.
Salah seorang polisi mendekatinya, tetap menodongkan pistol pada pemuda itu. Bola mata pemuda itu mengamati sosok sang polisi. Kepolosannya justru membuat sang polisi semakin waspada karena ia tak bisa menebak apa yang akan pemuda itu rencanakan dan lakukan. Menyerah? Atau… memberikan perlawanan?
"Ah… Mainan yang bagus… sama seperti punyaku…" Pemuda itu tersenyum sambil menunjukkan pistolnya. "Boleh aku minta pelurunya?"
"Jangan macam-macam! Kami akan menangkapmu!" Polisi itu membentaknya. Pemuda itu sedikit terkesiap. Wajahnya berubah kelam.
"Jadi… kalian bermaksud jahat padaku?"
Ketiga polisi itu terdiam. Salah seorang dari mereka tetap mencoba mendekati sosok kurus jangkung itu. Pemuda itu meundukkan wajahnya, membiarkan beberapa helai rambut pirang sebahunya jatuh dan menutupi pipi tirusnya. Saat ia sedikit menengadah, ia menemukan sang polisi sudah berdiri sampingnya sambil menodongkan pisto ke wajahnya. Polisi itu meraih tangan sang pemuda yang tengah menggantung lemas, hendak memborgol dua tangan itu.
"Menarik sekali. Aku suka!" Pemuda itu berbisik sambil tersenyum. Sang polisi yang tengah keheranan dan lengah langsung menjadi sasarannya. Ia menendang kaki sang polisi dan secepat kilat merebut pistolnya. Polisi malang itu jatuh. Sebelum ia sempat memberikan perlawanan, sang pemuda sudah terlebih dahulu menembaknya tanpa ampun.
Dua rekan sang polisi langsung menembak pemuda itu. Beberapa butir peluru hanya menyerempet sisi tubuhnya. Sang pemuda pun kembali menembak dua polisi tadi. Tembakan yang sedikit membabi buta itu tenyata mampu membunuh keduanya.
Permainannya selesai dengan cepat dan mudah. Kini yang tersisa di taman kota hanyalah dirinya. Sang pemuda melihat sekitarnya saat mendengar suara sirine mobil polisi. Mungkin pasukan serangga pengganggu itu tengah datang untuk menangkapnya. Ia tak mungkin bisa melawan mereka sendirian, sehingga ia pun memutuskan untuk pergi dan bersembunyi.
"Ayah… hadiahmu menarik sekali," Pemuda itu menggumam sembari memperhatikan pistol pemberian ayahnya.
*
Bagian lobi sebuah gedung tua yang sudah kotor dan ditumbuhi tanaman liar itu menjadi tempatnya menyendiri saat ini. Ruangan yang tidak bisa dibilang bagus bagi seorang pemuda untuk berada di situ. Beberapa bagian dinding yang sudah retak dan berlubang menjadi celah bagi cahaya bulan untuk menerangi ruangan gelap tersebut. Hujan turun dengan deras di luar sana. Hawa dingin menusuk kulitnya. Tirisan air hujan membasahi tubuhnya yang tengah tertelungkup di dekat jendela dengan bagian kaca yang sudah pecah.
Isak tangisnya terdengar menjadi melodi pengisi suara hujan yang terdengar monoton dan statis. Tubuh dengan luka tembak di bagian sisi tangan dan kakinya itu bergetar, merasakan perih oleh tirisan air hujan sekaligus ketakutan dari kegelapan ruangan. Ia merasa sendirian. Hal itu yang membuatnya sedih dan takut sehingga ia pun menangis. Sulit dipercaya kalau beberapa jam lalu, pemuda itu tampil dengan segala kekejamannya dalam menembak beberapa orang di taman. Namun, kali ini, ia menjelma menjadi seperti seekor anak kucing kecil yang tengah ketakutan.
Ia memang tengah bersembunyi dari kejaran polisi. Langkahnya membawa pemuda itu sampai ke bangunan terpencil ini. Awalnya pemuda itu merasa senang karena tempat persembunyiannya tidak bisa dijamah oleh pihak keamanan. Tetapi lama kelamaan, ketika malam menjelang ia mulai merasa takut. Tak ada siapapun di sini dan ia juga belum bisa untuk keluar dari persembunyiannya.
Suara langkah kaki menarik perhatiannya. Wajahnya mulai menengadah untuk mencari sosok sang pemilik langkah berat itu. Bola matanya terus mengedari sekitar ruangan. Di tengah keremangan, ia melihat sesosok familiar yang tengah mendekatinya. Pemuda itu hanya tercenung dengan wajah polos sampai ia bisa mengenali pria berbalut jas lab putih yang tengah menghampirinya itu.
"Ayah!" Raut wajah pemuda itu berubah senang. Ia adalah sosok pria berumur kurang lebih tiga puluh tahun, berpakaian formal dengan satu stel kemeja berbalut jas lab putih, dasi serta celana panjang bahan, berambut pendek namun acak-acakan.
Senyum tipis tersungging dari bibirnya yang tengah mengapit sebatang rokok. Pria itu membetulkan letak kacamatanya. Ia pun berjongkok untuk menyapa anak laki-laki kesayangannya yang usianya berjarak tak terlalu jauh darinya.
"Aku… takut, ayah," Pemuda berwajah tampan itu mengadu. Air mata masih mengalir membasahi pipinya yang kemerahan namun kotor.
"Tenanglah, aku ada di sini," Pria itu mengucapkan kata-kata penghiburan untuknya, walau ekspresi licik yang malah terlukis di wajahnya. Sang pemuda tersenyum senang mendengar ucapan dari pria bersorot mata dingin itu.
"Kau terluka?" Sang pria menatap telapak tangannya yang kotor oleh noda darah setelah ia menyentuh sisi lengan sang pemuda.
"Aku mencoba hadiah darimu. Saat bermain dengan tiga orang polisi, mereka menembakku…"
"Tapi kau yang menang?" Pria itu menyeka sisa air mata di pipi sang pemuda. Pemuda itu mengangguk penuh senyum puas.
"Aku akan mengobatinya," Pria itu kembali bicara dengan nada hangat, namun mengguretkan senyum dingin untuk pemuda itu.
"Sebagai hadiah… aku akan membelikan es krim untukmu," Ujar pria itu. Sang pemuda langsung menggeleng cepat.
"Aku sudah makan es krim tadi siang. Aku ingin coklat sekarang,"
"Baiklah…" Pria itu membuang rokoknya yang sudah memendek. "Sekarang kita pulang. Besok ada hal lain yang harus kau lakukan,"
"Hal apa?" Pemuda itu berdiri, membiarkan ayahnya membantunya. Sang ayah merangkul bahu pemuda itu lalu membisikkan sesuatu padanya.
"Kita akan bertemu seseorang," Ucap pria itu. Sang pemuda sedikit tercenung. Ia menatap wajah ayahnya, mencari tahu siapa sosok yang akan mereka temui besok.
"Gyokumen Koushu," Bola mata polos pemuda itu membulat mendengarnya.
"Gyokumen Kou-shu-?" Mata pemuda itu melirik ke atas, seolah berusaha keras mencari nama itu dalam ingatannya. Sang ayah belum pernah menyebutkan nama itu padanya sebelumnya sehingga wajar kalau ia mempertanyakan siapa Gyokumen Koushu pada sang ayah.
"Ia… ibumu…"
*
Garis polisi membentang, menutup semua akses masuk menuju ke taman kota setelah sebuah kejadian penembakan brutal terjadi di sana. Mobil patroli polisi-lah yang kini meramaikan tempat itu. Orang-orang berseragam biru, membawa senjata api berlalu-lalang di dalam kawasan garis polisi, sibuk meneliti berbagai hal yang berkaitan dengan kejadian tadi siang. Penduduk kota serta wartawan hanya bisa menonton dari kejauhan. Kepanikan dan kekalutan menghiasi wajah mereka semua.
Memang siapa yang bisa menyangka kalau siang hari yang terasa damai itu bisa berubah kacau setelah seorang pemuda melakukan aksi penembakan brutal yang memakan sekitar enam korban meninggal dunia. Apalagi, pelaku penembakan itu masih belum tertangkap. Mungkin saja pemuda itu akan kembali muncul dan melakukan aksi serupa di lokasi yang berbeda.
Beberapa saksi mata sudah dimintai keterangan mengenai kronologis kejadian serta ciri-ciri fisik dari sang pelaku penembakan. Informasi-informasi tersebut bisa menjadi petunjuk berharga bagi para polisi untuk menangkap sang pelaku serta mencari motif dari peristiwa penembakan ini.
"Ia adalah pemuda dengan wajah tirus dan pucat…" Seorang saksi berusaha mengingat jelas wajah sang pelaku di depan seorang polisi yang bertugas menggambar sketsa wajah.
"Sorot matanya polos namun tajam dengan bola mata berwarna hazel, dan…. Yang saya ingat adalah bekas luka seperti luka bakar di area sekitar mata kanannya,"
Polisi itu manggut-manggut sembari menggambarkan sketsa wajah sesuai dengan ciri-ciri fisik yang disebutkan.
"Rambutnya berwarna pirang. Sepertinya ia berdarah campuran Eropa,"
Suasana hening. Sang polisi berusaha membuat sktesa sesuai dengan deskripsi dari saksi. Kougaiji yang mendampinginya kembali memberikan sebuah pertanyaan.
"Anda bisa mengingat bagaimana kronologis kejadian dari sebelum sampai peristiwa penembakan itu terjadi?"
Saksi mata, seorang wanita office lady itu sedikit tercenung. Ia menggeleng pelan, nampaknya masih ragu untuk mengutarakan kronologis kejadian sesuai dengan ingatannya.
"Semua berlangsung begitu saja. Saya hanya melihat dari kejauhan ada seorang pemuda di dekat pancuran air yang menembak seorang pria,"
"Pria yang mana?"
"Berpakaian seperti orang kantoran,"
Kougaiji terdiam. Ia langsung menduga kalau pria yang dimaksud adalah pria kantoran yang tewas dekat pancuran air.
Lamunan sang polisi terpecah saat seorang rekannya ikut nimbrung dengannya. Kougaiji memperhatikan seorang pria bertubuh tinggi besar yang ikut mendengarkan keterangan dari saksi.
"Jien-senpai,"
"Bagaimana? Kau menemukan petunjuk?" Jien melihat sketsa wajah yang digambar oleh salah satu rekannya. Ia pun tercenung sejenak.
"Pemuda?"
Jien mengambil sketsa wajah itu lalu menunjukkannya pada sang saksi. Wajahnya nampak serius saat memberikan kepastian mengenai kemiripan wajah sketsa itu dengan sang pelaku.
"Apa ini wajah pelaku yang anda maksud?"
"Ya," Jawab wanita itu pasti "Seperti ini," Jien kembali mempehatikan sketsa wajah sang pelaku dengan alis yang saling bertaut.
"Masih muda. Mungkin sekitar dua puluh tahun,"
"Memang sulit dipercaya," Kougaiji menyahut sambil menghela nafas.
"Ia juga bisa menembak dengan tepat. Hanya butuh beberapa butir peluru untuk membunuh korbannya," Jien menjelaskan. Ia sudah melihat langsung mayat-mayat korban penembakan itu. Dari hasil analisanya, terdapat beberapa luka tembak di area-area vital yang sulit untuk dibidik oleh seorang penembak amatir. Hal itu membuatnya tidak percaya kalau sang pelaku penembakan adalah seorang yang masih amat muda untuk memegang senjata.
"Kasus baru selain kasus teroris itu," Kougaiji berujar dengan wajah masam. Jien hanya tersenyum getir. Ia menggaruk belakang kepalanya. Kasus baru ini memang tak bisa dianggap sepele. Banyak misteri yang belum terungkap, bahkan setelah polisi meminta keterangan dari beberapa saksi. Jien langsung menghela nafas, mengeluhkan segala pekerjaan rumit di depan matanya itu. Apakah ia serta tim kepolisian mampu mengungkap berbagai kasus ini?
