Bunyi dering ponsel memecah keheningan pagi. Gojyo yang sedang membuat sarapan langsung bergegas ke ruang tamu mendengar nada dering ponselnya menggema di penjuru ruangan. Gojyo meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Layar ponsel yang menyala membuatnya bisa membaca nama pemanggil yang tertera di situ. Hakkai ingin berbicara dengannya. Mungkinkah ada hal penting yang ingin ia sampaikan?
Gojyo menerima panggilan itu. Suara ringan Hakkai langsung terdengar di telinganya. Ia menyapa Gojyo untuk menanyakan kabarnya.
"Gojyo, bagaimana kabarmu?" Hakkai selalu berbasa-basi. Gojyo menjawab enggan.
"Ada apa Hakkai? Kenapa menghubungiku pagi-pagi begini?" Gojyo berbicara sambil melihat jam dinding. Pukul sembilan masih terlalu pagi baginya.
"Aku hanya ingin memantau kondisi di sana," Ujar Hakkai. Gojyo terdiam. Sudah empat hari berlalu semenjak Hakkai mengunjunginya ke pondok ini, dan sampai saat ini Gojyo tidak memberikan kabar apapun mengenai Sanzo maupun pasien itu. Mungkinkah hal itu membuat Hakkai cemas?
"Baik-baik saja," Gojyo menjawab sekenanya. Memang tak ada hal penting yang perlu ia sampaikan. Semua berlangsung seperti biasa selama empat hari ini.
"Bagaimana kabar Sanzo?"
Gojyo melangkah ke jendela. Ia memperhatikan Sanzo dari kejauhan. Pria itu memunggunginya, seperti biasa bergelut dengan tanaman hias di halaman. Sikap Sanzo sudah menjadi seperti biasanya. Namun, ia memang akhir-akhir ini kebanyakan menghabiskan waktu dengan tanaman hias dibandingkan berada di ruang kerjanya.
"Sanzo baik-baik saja," Jelas Gojyo. "Ia sedang di halaman,"
Hakkai tak memberikan respon cukup lama. Gojyo tahu, pasti Hakkai memiliki dugaan lain dari hasil laporan Gojyo.
"Ia tak mengerjakan proyeknya?"
"Maksudmu membuat virus?" Gojyo memperjelas "Ia mungkin sedang jenuh dengan membuat virus, jadi mengalihkan aktivitas pada hobinya,"
Gojyo beralih melangkah meninggalkan jendela sebelum Sanzo keburu memergokinya. Ia masuk ke ruang makan lalu duduk di salah satu kursi. Di sini ia akan lebih leluasa berbicara.
"Lalu pasien itu?"
"Ia masih di ruangannya. Ia sudah sadar,"
"Kondisinya?"
"Sudah membaik. Namun ia masih agak tertutup,"
Hakkai kembali terdiam cukup lama. Setelah menghela nafas, ia mengeluarkan suara berat, menandakan kalau topik yang ia sampaikan cukup serius.
"Ada hal lain yang ingin kusampaikan," Ungkap Hakkai. "Kau sudah membaca berita pagi?"
"Aku belum menyalakan televisi," Gojyo menjawab polos. "Memang ada apa?"
"Ada penembakan di taman kota," Jelas Hakkai. Gojyo tidak terlalu tertarik dengan berita kriminal, namun kalau Hakkai yang menyampaikan berita itu pasti ada hal yang membuatnya curiga. Jadi, Gojyo pun penasaran.
"Penembakan?"
"Ya, enam orang tewas. Motifnya tidak diketahui. Dari sketsa wajah, pelakunya seorang pemuda,"
"Lalu, ada hal yang mengganggu pikiranmu?"
"Mungkinkah itu bagian dari teror organisasi?"
Gojyo tercenung. Ia memang belum melhat sama sekali berita itu sehingga ia tidak bisa mendapat gambaran jelas. Gojyo pun semakin penasaran.
"Kenapa kau bisa menduga hal itu? Memangnya kau mengenal pelakunya?"
Hakkai tidak menjawab. Ia kembali terdiam.
"Mungkin pernah," Jawab Hakkai ragu. "Kalau itu anggota organisasi kita, aku punya firasat buruk. Mungkinkah organisasi sudah tidak mempercayai Sanzo lagi?"
"Bukankah memang memakan waktu lama bagi Sanzo untuk membuat sebuah virus? Lagipula pihak organisasi belum pernah memantau ke sini,"
Hakkai langsung terdiam. Sepertinya ia kembali memikirkan sesuatu.
"Kau harus hati-hati Gojyo. Aku juga pernah membaca berita kalau polisi terus melacak keberadaan organisasi kita. Aku hanya takut kalau kalian berada dalam bahaya," Jelas Hakkai "Sanzo sendiri masih memiliki emosi yang belum stabil. Itu hal lain yang aku khawatirkan,"
"Aku mengerti, hakkai," Tukas Gojyo menenangkannya "Kuharap situasi ini bisa semakin membaik,"
Hakkai tertawa pelan. "Terima kasih, Gojyo. Minggu depan mungkin aku akan kembali mengunjungi kalian,"
"Kau ini seperti memata-matai kami," Gojyo meledek Hakkai. Hakkai hanya tertawa mendengarnya.
"Maafkan aku. Mungkin kau juga merasa risih,"
"Tidak juga. Aku percaya padamu, Hakkai," Gojyo tersenyum penuh arti. Hakkai kembali tergelak mendengarnya.
"Organisasi ini memang tak bisa kupercaya sepenuhnya. Aku juga tidak memungkiri kalau mereka bisa saja mengkhianati kami. Namun, di antara seluruh anggota organisasi, aku tetap mempercayaimu,"
Hakkai terdiam sejenak "Terima kasih," Tukasnya ringan. Setelah itu sang partner pun mengakhiri pembicaraan. Gojyo memutus sambungan. Ia tercenung sambil menghadapi layar ponsel. Percakapannya dengan Hakkai memang membuatnya gelisah. Apa yang dikatakan Hakkai memang benar. Mungkin saja pihak organisasi tengah memanfaatkan anggota lain untuk melakukan teror. Dan, entah kenapa, hal itu cukup meresahkan.
Gojyo meletakkan ponselnya di atas meja makan. Ia melangkah ke dapur untuk melanjutkan aktivitas memasaknya yang sempat tertunda. Gojyo memotong sayuran. Pandangannya teralih ke luar jendela. Ia masih melihat Sanzo berada di sana. Sanzo masih memunggunginya. Pria berambut pirang itu berdiri, seperti tengah membaca sesuatu. Gojyo tidak menemukan hal yang menarik perhatiannya sehigga ia memutuskan untuk kembali fokus pada kegiatan memasaknya.
*
Headline berita di koran yang tengah dibaca itu menarik perhatiannya. Deretan huruf yang tecetak tebal menuliskan sebuah kejadian penembakan di taman kota kemarin siang. Lalu di bawah judul tebal itu terselip gambar-gambar lokasi kejdian sesudah penembakan serta sketsa wajah sang pelaku berdasarkan penglihatan dari saksi mata. Setelah itu bola mata keunguannya menelusur isi berita tersebut dengan wajah terkesan datar namun seius.
Sanzo menyudahi kegiatan membacanya selepas beberapa pargaraf awal. setelah itu, ia beralih pada berita lain. sembari membaca berita pada halaman lain koran itu, pikiran Sanzo tetap tak beralih dari berita pertama pada headline koran yang barusan ia baca. Sanzo berdecak kesal membayangkan sketsa wajah pelaku. Pikirannya mulai menyimpulkan macam-macam hal. Sanzo tahu bahwa kejadian penembakan itu pasti ada hubungannya dengan organisasi mereka.
Sanzo melipat korannya. Ia tak ingin pikirannya kalut dengan berita yang barusan ia baca. Sanzo mengempaskan koran itu ke tanah lalu beralih mengerjakan kegiatan lain. Merawat tanaman hiasnya memang menjadi alternatif terbaik untuk melupakan berita itu sejenak.
Terik matahari yang bersinar membakar kulitnya. Peluh membasahi sekujur wajahnya, menetes ke tanah. Sanzo menyeka peluh itu dengan punggung tangannya. Setelah itu, ia justru tercenung melihat kedua tangannya yang kotor berlumur tanah basah.
"Dokter, aku ingin menjadi sepertimu," Sanzo ingat dengan ucapannya saat ia masih kecil. Ketika itu, telapak tangan Sanzo terluka lecet karena menarik sebuah rumput liar yang akarnya tertancap sangat kuat. Sanzo yang merasakan perih langsung menujukkan kondisi telapak tangannya pada dokter Koumyou. Dengan sigap, Koumyou pun mengobati luka lecet itu. ia melilitkan perban pada telapak tangan Sanzo lalu memberikan senyuman terbaiknya untuk menghibur anak kecil yang wajahnya pucat karena panik itu.
"Semua akan baik-baik saja, Kouryu. Tanganmu sudah kuobati,"
Kouryu merasakan sebuah kehangatan tersendiri saat dokter Koumyou mengobati lukanya. Perban yang membungkus tangannya menjadi sebentuk tanda perlindungan dari sang dokter pada anak itu. Kouryu merasa sangat kagum. Ketika melihat telapak tangan kirinya, terlintas sebuah pemikiran dalam benaknya. Ia beralih menatap mata sipit yang dihiasi kerutan di sekitarnya. kouryu tersenyum, mengucapkan sesuatu yang membuat mata sipit itu sedikit membuka karena terbelalak.
"Dokter, aku ingin menjadi sepertimu," Ungkap Kouryu. Dokter Koumyou sedikit heran mendengarnya, seolah belum mengerti maksud dari ucapan Kouryu yang ingin menjadi seperti sang dokter.
"Aku ingin belajar pengobatan dan bisa menjadi dokter sepertimu. Kau pasti sudah banyak menyembuhkan orang, bukan?" Kouryu berkata antusias, tak lepas memandang sosok pujaannya dengan penuh kekaguman.
Di luar dugaan, dokter Koumyou terdiam sejenak. Ia hanya mengelus lembut kepala anak itu, tanpa sedikitpun membalas senyum kagum Kouryu itu. apakah sang dokter tak merasa senang, atau tersanjung dengan ucapannya? Kenapa malah wajahnya yang biasa hangat itu berubah menjadi muram?
"Dokter?"
"Aku yakin kau bisa melakukan yang lebih baik dariku. Dengan tanganmu, kau bisa menyembuhkan banyak orang," Dokter Koumyou berkata seadanya. Kouryu yang polos hanya mengangguk cepat untuk mengiyakan ucapannya, tanpa sedikitpun menyadari kalau ada makna yang lebih dalam terselip di balik ucapan itu. Barulah setelah dewasa dan mengalami banyak hal dalam hidupnya, ia mulai bisa mengerti ucapan sang dokter.
Sanzo tersenyum getir, tak lepas menatap kedua tangannya yang kotor oleh tanah basah Baginya, tanah basah itu terlihat seperti darah. Saat ini, ia merasa kalau tangannya sedang berlumuran darah dari pasien-pasien yang berhasil ia bunuh.
"Kau benar, dokter," Sanzo menggumam pelan. "Dan mungkin aku akan mengalami nasib sama sepertimu, dibuang oleh organisasi,"
*
