Matahari bersinar semakin terik. Posisinya yang berada di atas kepala Sanzo menandakan kalau hari sudah beranjak siang. Sanzo pun menyudahi kegiatannya setelah berjam-jam bergelut dengan tanaman-tanaman hiasnya. Ia membereskan peralatan berkebunnya. Pandangan dingin itu mengedari sekitar taman, melihat hasil kerja selama beberapa hari belakangan ini. Pekarangan luasnya terlihat indah dan rapi. Tanaman-tanaman hiasnya sudah terawat. Sampah yang berserakan di pekarangan pun sudah dibersihkan. Merasa puas karena usaha kerasnya bisa membuahkan hasil, Sanzo kini bisa meninggalkan pekarangan rumahnya dengan tenang. Ia mengambil sekop dan ember lalu membawanya menuju ke dalam rumah.
Perutnya terasa lapar. Ia ingat kalau hari ini ia tidak sarapan. Mungkin karena sejak tadi ia asyik menyiangi rumput liar yang tumbuh di pekarangan. Sanzo pun bergegas masuk ke rumahnya, berharap Gojyo sudah menyediakan makan siang. Ia memang merasa sangat lapar sehingga kalau sampai Gojyo terlambat menghidangkan makan siang, pria itu bisa menjadi sasaran kemarahan Sanzo.
Suara langkah kaki berdecit mengusik Gojyo yang tengah menonton televisi di ruang tamu. Ia berdiri menyambut seorang pria yang sudah berjam-jam berada di pekarangan rumah. wajahnya sedikit cemas, terlebih melihat kondisi Sanzo yang kotor dan berpeluh.
"Kau… yang benar saja… berapa lama waktu kau habiskan di pekarangan?"
"Bukan urusanmu," Sanzo membalas sinis. Ia melewati Gojyo begitu saja. Sambil berlalu, suara ketus Sanzo terdengar memberikan perintah.
"Aku mau mandi. Setelah mandi, siapkan makanan untukku!"
"Sudah kusiapkan, Tuan besar!" Sindir Gojyo dengan pandangan yang kembali terfokus pada layar televisi. Sedikit menggerutu, ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu mulai mengisapnya.
"Dasar egois," Rutuk Gojyo. Ia melirik ke koridor. Suasana sudah sepi. Mungkinkah Sanzo memang tengah berada di kamar mandi?
Gojyo terdiam. Ia melihat jam dinding. Hari sudah siang. Tak biasanya Sanzo menghabiskan waktu selama itu di pekarangan. Ia juga nampak santai-santai saja, seolah tidak memiliki pekerjaan lain lagi setelah ini. Gojyo pun mulai menduga, apakah setelah ini Sanzo akan berniat membuat virus lagi? Namun, dari gelagatnya, Gojyo menduga kalau Sanzo akan kembali menunda pekerjaan pentingya itu.
Gojyo semakin tidak mengerti jalan pikiran pria itu. mungkinkah Sanzo masih depresi dengan kegagalannya? Atau ia hanya bosan dan berniat menghibur dirinya sejenak? Namun dari rentang waktu selama ini, Gojyo yakin kalau Sanzo sebenarnya memang tengah menghindar dari pekerjaannya.
Hal ini tak boleh terjadi. Kalau benar apa yang Hakkai katakan mengenai kejadian penembakan di taman kemarin siang melibatkan organisasi mereka, bisa jadi kalau organisasi tengah membuat rencana lain di luar pengetahuan mereka. Dan kemungkinan besar rencana itu juga akan membahayakan keselamatan Sanzo dan rekan-rekannya.
Sanzo tak boleh santai-santai saja. Gojyo harus mengingatkan Sanzo untuk segera membuat virus baru yang nantinya bisa digunakan oleh organisasi untuk menciptakan teror. Jika virus itu selesai dengan hasil yang memuaskan, pihak organisasi juga pasti akan kembali mempercayakan mereka. Jika tidak, kemungkinan besar mereka akan dibunuh oleh organisasi.
Gojyo menghela nafas. Ia melumatkan rokoknya yang masih panjang pada asbak. Setelah itu, ia bergegas menuju ke tempat Sanzo. Pria itu pastinya tengah berada di ruangannya atau mungkin sudah ada di ruang makan. Gojyo harus segera menanyakan soal virus itu pada Sanzo.
Pria yang ingin ditemui Gojyo ternyata sudah berada di ruang makan. Sosok berambut pirang itu tengah menyantap makan siangnya, langsung terusik oleh kehadiran seseorang yang dengan wajah cemas menghadapinya. Sanzo menilik Gojyo bolak-balik dengan wajah heran, seolah mempertanyakan kenapa pemuda berambut merah itu datang dengan ekspresi seperti habis melihat hantu.
"Jangan ganggu aku," Sanzo awalnya ingin mengusir pria itu. Ia tahu Gojyo ingin membicarakan sesuatu yang penting dengannya. Namun, saat ini Sanzo sedang tidak mood untuk bercakap-cakap dengan siapapun, termasuk dengan rekan yang sudah bersamanya selama tiga tahun ini.
"Sanzo, dengarkan aku," Gojyo membujuk dengan wajah memelas, berharap agar hati Sanzo bisa luluh dengan ekspresinya itu.
"Pergilah. Aku mau bicara denganmu setelah makan,"
"Tapi ini penting untuk kutanyakan," Gojyo bersikeras. Sanzo berdecak kesal. Ingin rasanya ia menyiram pria pegganggu itu dengan kuah sayur. Kalau saja ia tidak mengingat kalau sosok itu masih cukup berguna untuknya, Sanzo sudah melakukan hal tersebut sejak tadi.
"Tidak bisakah kau membicarakannya setelah aku makan?" Ujar Sanzo sinis. "Wajahmu bahkan membuat nafsu makanku hilang,"
"Baiklah. Tapi kau harus mau bicara denganku setelah ini," Gojyo menatap mata Sanzo, menunggu pria itu mengiyakan permintaan Gojyo. Yang bersangkutan memandang asistennya dengan wajah sinis sebelum akhirnya kembali melanjutkan acara makannya. Gojyo tak beranjak dari tempat duduknya, memperhatikan pria itu makan, menunggu sampai Sanzo menghabiskan semua makannya. Namun, Sanzo ternyata cukup lama menghabiskan makan siangnya.
Keduanya terjebak dalam keheningan. Sanzo yang semakin risih diawasi oleh Gojyo pun akhirnya memilih untuk menyerah. Ia menatap mata Gojyo lekat-lekat.
"Baik! Apa yang kau ingin katakan?"
"Mengenai virus yang harus kau buat secepatnya. Sanzo, kulihat kau tidak lagi mengerjakan proyek itu,"
Suara alat makan yang saling berdenting langsung terhenti seketika setelah Sanzo mendengar ucapan Gojyo. Ia kembali menatap wajah Gojyo dengan sinis. Beberapa saat kemudian, Sanzo melanjutkan makannya, seolah mengacuhkan perkataan pria di hadapannya.
"Sanzo!"
"Memangnya siapa yang mendesakmu untuk menyampaikan hal itu? Hakkai?"
"Tidak," Ucap Gojyo begitu saja. Ia kembali berpikir sejenak. Seharusnya ia memang tak menyampaikan alasan detilnya pada Sanzo, apalagi melibatkan Hakkai yang sudah memberi informasi padanya.
"Sudah seminggu ini kau tidak membuat virusmu. Sampai kapan kau mau bersantai seperti ini?"
Sanzo tertawa getir. Ia berjengit sambil kembali menatap wajah Gojyo. Tak disangka kalau orang berkarakter seperti Gojyo bisa mengeluarkan kata-kata setegas itu. Padahal selama ini, Gojyo belum pernah mendesak Sanzo untuk segera menyelesaikan proyeknya, bahkan saat mendapati Sanzo tengah malas membuatnya.
"Aku sedang tidak minat," Ucapan Sanzo membuat Gojyo kaget sekaligus heran. Pertama kalinya Sanzo bisa seenggan itu menyelesaikan proyeknya.
"Sanzo!"
"Kau tak perlu mendikteku. Aku lebih pintar darimu dan bisa memutuskan apa yang aku mau," Ucap Sanzo. "Aku tetap akan membuatnya, walau saat ini aku sedang tidak minat,"
"Bagaimana kalau pihak organisasi memberi sanksi pada kita?" Gojyo berujar kesal mendapati respon sebegitu tenang dari Sanzo.
"Aku tidak peduli," Sanzo kembali melanjutkan makannya. Ia menyuap sisa terakhir makan siangnya, lalu beralih menenggak segelas air di dekatnya.
"Karena aku sedang tidak minat, aku sebenarnya ingin menghabisi pemuda itu saja," Gojyo semakin tercengang mendengar perkataan Sanzo yag terkesan tenang. Ia rasa Sanzo memang sedang mengalami depresi berat sehingga memikirkan hal yang beresiko untuk dilakukan, dari menunda pekerjaan, sampai berniat menghabisi pemuda itu.
"Kau tahu apa yang sedang kau putuskan, Sanzo?" Wajah Gojyo berubah kesal. Ia menatap Sanzo lekat-lekat untuk menyadarkannya akan kekeliruan yang sudah ia sampaikan. "Kau tidak bisa membuat keputusan sepihak," Gojyo menghela nafas. Pikirannya mulai kalut "Ayolah, sanzo. Menghabisi pemuda itu bukan tanggung jawab kita kalau kau tidak menciptakan virus untuknya," Gojyo terdiam sebentar, tak mendapati respon berarti dari Sanzo. Melalui sorot mata sanzo yang tengah memperhatikannya, Gojyo yakin kalau pria itu masih menolak pendapatnya.
"Kau tak perlu menanggapinya seserius itu," Ucap Sanzo sambil melipat kedua tangannya. Tubuhnya bersandar pada kursi kayu. "Ada kalanya aku butuh ketenangan untuk diriku,"
Gojyo terdiam. Ia tak bisa membalas ucapan Sanzo cukup lama.
"Baik. Aku akan mencoba menyelesaikan proyekku," Ucap Sanzo. "Mengenai pemuda itu, aku ingin ia bekerja di bawah perintahku,"
Alis Gojyo saling bertaut mendengarnya. Lagi-lagi Sanzo mengambil sebuah keputusan yang di luar pemikiran Gojyo.
"Maksudmu?" Gojyo bertanya pelan.
"Ia harus melakukan apa yang aku perintahkan," Sanzo menjawab sekenanya. Ia beralih membawa piring dan gelas bekas makannya menuju tempat cuci piring lalu meninggalkannya begitu saja di sana. Tak berapa lama, ia sudah kembali muncul di hadapan Gojyo. Sanzo mendapati sang asisten hanya tercenung dengan wajah heran. Wajah bodohnya itu membuat Sanzo enggan untuk melanjutkan pembicaraan sehingga ia memutuskan untuk keluar dari ruang makan.
"Besok pagi kau harus memanggilnya. Aku ingin menemuinya," Perintah Sanzo di ambang pintu. Gojyo yang keheranan berniat mengejar Sanzo. Ia tak mengerti jalan pikiran Sanzo yang ingin memanggil pemuda itu serta maksud Sanzo saat ia berkata kalau pemuda itu harus melakukan apa yang ia perintahkan.
"Kau harus jelaskan dulu padaku sebenarnya apa rencanamu pada pemuda itu," Gojyo berhasil menghentikan langkah Sanzo dengan ucapannya. Yang bersangkutan menoleh enggan. Sanzo menghela nafas panjang. Ia melipat kedua tangannya lalu membeberkan rencana yang ada di otaknya kepada Gojyo. Seperti yang Sanzo duga, Gojyo langsung terhenyak mendengarnya.
"Apa kau serius, Sanzo?!"
*
Seluruh kebahagiaan dalam dirinya seolah sudah hilang, termasuk kebahagiaan kecil seperti bangun di pagi hari dengan sambutan dari sinar hangat matahari yang bagi tiap orang menjadi sesuatu yang sangat berharga. Goku sendiri menyambut hangatnya rembesan sinar matahari dengan wajah murung. Ia hanya menghela nafas, meghindari silaunya cahaya mentari denga memalingkan wajahnya ke langit-langit kamar. Ia sudah melewati satu hari dan memulai hari yang baru di tempat ini. Hari baru yang ia alami kemungkinan akan sama seperti hari-hari kemarin. Ia akan dikurung di sini sepanjang hari tanpa melakukan apapun. Atau mungkin sang dokter akan kembali menjadikannya bahan percobaan dengan virus baru ciptaannya.
Pintu kamarnya dibuka. Goku berusaha mengacuhkan sosok yang memasuki ruang kamarnya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap ke dinding, menyembunyikan wajahnya dari sesiapa yang kini tengah menghampiri dirinya.
"Hei!" ia mengenal suara itu sebagai pria berambut merah yang biasa mengantarkan makanan untuknya. Pria itu memang cukup bersahabat, namun Goku tetap enggan merespon panggilannya.
"Kau sudah bangun?" Gojyo meneruskan ucapannya ketika pemuda itu bergeming dengan panggilannya. Ia sudah mengamati sebentar pemuda itu dengan mengintipnya dari celah pintu, jadi ia sudah tahu kalau pemuda itu sebenarnya pura-pura tidak mendengar panggilannya.
"Aku tahu kau sudah bangun," Ucap Gojyo tegas. Pemuda itu akhirnya membuat sebuah pergerakan kecil. Ia membalikkan tubuhnya. Sorot mata penuh kehampaan itu menatapnya, seolah menunggu maksud kedatangan Gojyo ke situ.
"Dokter memanggilmu," Ucap Gojyo lagi. Ia terdiam, menunggu pemuda itu membuat pergerakan untuk merespon panggilannya. Gojyo hanya berharap kalau ia tak perlu memberikan sedikit gertakan padanya agar pemuda itu mau bergerak menuruti perintahnya.
Harapan Gojyo terkabul. Setelah menuggu beberapa menit, akhirya pemuda itu mau bangkit dan turun dari tempat tidurnya. Bibir pucat yang terkatup, tetap tak mengeluarka secuil suarapun untuk merespon perintah Gojyo. Namun, dari gerak-geriknya, sepertinya sosok kurus berbalut kaos putih longgar itu tidak akan memberikan perlawanan.
Pemuda itu sudah berdiri di dekatnya. Gojyo meraih kedua tangan pemuda itu lalu memasangkan borgol pada kedua pergelangan tangannya. Goku tetap tak memberikan perlawanan atau setidaknya menanyakan maksud Gojyo memborgol kedua tangannya. Sepasang bola mata keemasan itu hanya memperhatikan pekerjaan singkat pria berambut merah di hadapannya, mengikuti pergerakan sosok itu sampai Gojyo kini sudah berdiri menghadapinya.
"Dokter yang memerintahkanku untuk memborgol tanganmu. Jangan memberikan perlawanan padanya," Gojyo hanya mendapat respon kaku dari sorot mata pemuda itu. ia pun menghela nafas, lalu mulai mendampinginya keluar kamar. Kaki telanjang pemuda itu menapak lantai, mengikuti langkah Gojyo. Mereka berdua sudah keluar dari kamar menuju ke koridor. Pandangan mata pemuda itu mengedari sekitarnya. Ia menoleh ke belakang, memperhatikan ruang kamar yang selama ini menjadi penjara baginya. Pertama kali setelah seminggu lebih ia dikurung di sana, akhirnya ia bisa kembali melihat suasana di luar ruangan kamarnya.
Suasana di luar ruangan terasa sepi, namun entah kenapa terasa damai. Pagi hari yang ia rasakan seperti pagi hari di rumah biasa pada umumnya. Goku jadi tidak merasa takut ketika ia akan dihadapkan dengan seorang dokter kejam.
Dokter itu sudah menunggunya di ruang tamu sembari membaca koran pagi dan mengisap sebatang rokok. Gojyo langsung melangkah cepat medahului pemuda itu untuk menghampiri sang dokter. Sontak saja dokter itu langsung menghentikan kegiatan membacanya ketika melihat Gojyo serta seorang pemuda yang ingin ia temui itu sudah datang. Pria berkacamata itu langsung mengalihkan tatapannya pada sosok berpenampilan lusuh yang berdiri di balik tubuh Gojyo.
Wajah Goku tetap datar, bahkan saat ia menghadapi tatapan tajam sang dokter yang tengah meniliknya lekat-lekat. Gojyo bergeser ke samping, membiarkan sosok pemuda yang sang dokter ingin temui itu terlihat lebih jelas.
"Kondisimu sudah terlihat membaik," Sanzo melipat korannya. Ia berdiri lalu mendekati pemuda itu. Sepasang manik lavender menilik sepasang manik emas sebelum akhirnya tangan Sanzo menggapai dagu pemuda itu lalu mencengkramnya. Ia mengangkat dagu pemuda itu, membiarkan sepasang bola mata berwarna keemasan itu merefleksikan sosoknya serta senyuman sinis yang akhirnya terguret di bibirnya.
"Sudah lama aku tidak menemuimu,"
Pemuda itu langsung memalingkan wajahnya, memasang ekspresi muram di hadapan sang dokter. Entah apa yang ada dalam pikiran dokter itu dengan memanggilnya pagi-pagi dan mengajaknya bicara. Namun, ia yakin dokter itu tengah menyimpan sebuah rencana keji untuknya.
"Kau takut aku akan kembali menyiksamu dengan virus ciptaanku?" Dokter itu masih menghadapi wajah ketus sang pemuda dengan tenang. Seperti yang ia duga, pemuda itu tidak memberikan sebuah jawaban. Sanzo hanya tersenyum sinis.
"Tak perlu khawatir karena aku sedang tak minat dengan proyek virus atau sejenisnya. Kau bisa bernafas lega bukan? Kau tak akan merasa tersiksa,"
Pemuda itu tetap memalingkan wajahnya, namun ia tetap merasa heran setelah mendengar ucapan sang dokter. Apa artinya ini? Berarti ia tak akan disiksa lagi dan dokter itu bisa saja membebaskannya? Tapi, setelah ia mengingat apa yang dokter itu perbuat padanya, haruskah ia mempercayai ucapannya? Dokter itu sudah beberapa kali memperlakukannya dengan kejam, bahkan hampir membunuhnya, mungkin saja yang ia katakan hanya untuk mengelabui pemuda itu.
Dalam waktu kurang dari semenit pun sorot mata Goku kembali berubah tajam. Ia menatap sang dokter sinis, menunjukkan pada pria itu kalau ia tak akan pernah menggubris ucapan orang yang sudah hampir membunuhnya itu.
"Aku tak pernah peduli lagi terhadap apa yang kau lakukan padaku, bahkan ketika kau akan membunuhku,"
Sanzo tergelak sarkatis mendengar ucapan menusuk dari pasiennya itu. Ia tak menyangka kalau pasien lemah yang selalu ketakutan setiap kali berhadapan dengannya kini sudah berani menghadapinya, bahkan mengucapkan sebuah kata perlawanan terhadapnya. Sanzo melipat kedua tangannya di dada lalu menatap sosok itu dengan tenang. Ia sedikitpun tidak merasa marah ketika seorang pasien tak berguna seperti Goku berani melawannya.
"Baik, kalau begitu kau juga akan menurut kalau aku menjadikanmu sebagai pelayan pribadiku," Ucapan Sanzo berhasil mencairkan sedikit emosi Goku. Kedua alis Goku saling bertaut, tak mengerti maksud dari perkataan Sanzo.
"Pelayan pribadiku. Jadi kau hanya bekerja di bawah perintahku," Tukas Sanzo. Ia akhirnya membuat sedikit pergerakan, merenggangkan tubuhnya lalu berpaling ke belakang, menunjukkan pada Goku pemandangan meja ruang tamu yang berantakan oleh serakkan koran serta puntung rokok.
"Kalau aku memerintahkanmu untuk membersihkan meja ini, kau harus menurut," Sanzo kembali menghadapi sang pasien untuk mengetahui reaksinya. Goku nampak heran, namun beberapa saat kemudian ia kembali memasang wajah ketus.
"Aku tidak mau!" Goku menggumamkan sebuah penolakan.
"Sanzo," Gojyo yang sejak tadi hanya menjadi penonton pasif kini mulai berani angkat bicara. Ia memang sebenarnya sudah tidak tahan untuk memberikan argumennya karena ia sendiri juga masih belum bisa menyetujui rencana Sanzo. Seperti dugaannya, Sanzo langsung menghujamkan isyarat jangan ikut campur melalui sorot mata tajamnya. Gojyo mengambil resiko dengan mengacuhkan perintah non verbal Sanzo.
"Kau tidak bisa memberikan perintah di luar aturan organisasi," Gojyo kembali membujuk Sanzo dengan pendapat yang sudah pernah ia utarakan sebelumnya, namun tetap tidak mendapat tanggapan dari yang bersangkutan. Ia berharap kali ini Sanzo mau mempertimbangkan keputusannya.
"Kau jangan ikut campur,"
"Sanzo!"
"Aku tidak peduli dengan aturan organisasi seperti yang kau katakan. Ini rumahku, dan akulah yang berhak menentukan aturannya,"
Gojyo menghela nafas sambil mengurut dahinya. "Baik, terserah kau," Ia pun menyerah, membiarkan Sanzo yang keras kepala itu sebagai si pemilik rumah untuk menentukan aturannya.
Sanzo kembali mengarahkan pandangannya pada sang pasien. Ekspresi pemuda itu sepertinya tidak berubah, dan mungkin saja ia juga akan mengajukan penolakan yang sama jika Sanzo kembali memerintahkannya.
"Tunggu apa lagi? Lakukan perintahku!" Sanzo menatap tajam pemuda itu. pemuda itu tetap diam di tempat, secara tak langsung membantah perintah tersebut.
"Atau kau ingin kubuatkan obat yang membuatmu tidak bisa bergerak? Seluruh tubuhmu akan kaku seperti yang kau inginkan. Bukankah kau lebih suka diam pasif seperti ini?" Sanzo menantangnya. Ia menghentikan ucapannya, menunggu pemuda itu bergerak sesuai perintahnya. Sanzo mulai jengah ketika ia kembali menerima tanggapan yang sama dari pemuda itu.
Sanzo mendengus kesal. Wajah tenangnya kini berubah muram. Wajah sang dokter mendekati wajah sang pasien, menatap bola mata keemasan bersorot tajam. Tangan Sanzo mencengkram pipi tirus pemuda itu, cukup keras sehingga pemuda itu terkatup menahan sakit.
"Kau tak perlu menyembunyikan rasa takutmu. Aku yakin kau masih belum sanggup menerima perlakuan yang lebih kejam dariku, bahkan kalau aku berniat membunuhmu. Kau belum pernah merasakan bagaimana mati perlahan, bukan?"
Goku terkesiap. Ia menahan nafasnya. Sorot mata Goku berusaha membalas tatapan kejam dokter itu. Ketegaran yang Goku tunjukkan padanya membuat Sanzo akhirnya melepas cengkraman keras pada pipi sang pasien.
"Kuberi kau waktu," Sanzo memperhatikan pasien itu sebentar. Pada akhirnya ia berpaling untuk mengambil koran paginya di atas meja ruang tamu. Sang dokter pun pergi meninggalkan sang pasien dan Gojyo. Suasana tegang yang tercipta perlahan-lahan mulai mencair.
Goku tertunduk, membiarkan rambut coklat yang mulai panjang itu menutup sebagian wajahnya. Gojyo memperhatikan gerak-gerik pemuda itu. ia ingin menghampirinya untuk membawanya kembali ke kamar. Namun sebelum Gojyo menggapai pundaknya, Goku membuat beberapa langkah gontai menuju ke meja ruang tamu. Dengan terus tertunduk, ia menghadapi meja berantakan itu lalu mulai merapikannya. Pada awalnya Gojyo hanya berniat mengawasi sosok yang memunggunginya, namun akhirnya ia pun ikut turun tangan membantu Goku ketika mendapati pemuda itu kesulitan membersihkan meja dengan kedua tangan yang terborgol. Ia melangkah menghampiri Goku, ikut merapikan meja itu. keduanya saling membisu. Gojyo mencuri pandang dan mendapati wajah Goku yang terus terunduk saat merapikan meja. Mungkinkah pemuda itu tengah tertekan oleh ucapan sanzo?
Goku tetap mengunci bibirnya, bahkan sampai akhirnya mereka berdua selesai membereskan meja ruang tamu. Gojyo pergi sebentar untuk membuang sampah yang berserakan di meja itu sementara Goku menunggu di ruang tamu, masih dengan wajah tertunduk. Ia seperti berada di dunia lain, bahkan sampai tidak menyadari sebuah tangan kekar menyentuh pundaknya dan membingnya menuju ke ruangan lain.
"Kuantar kau menuju ke tempat dokter," Goku sedikit menengadah untuk menatap wajah pria yang mengatakan hal itu. Goku kembali tertunduk lalu mengangguk pelan. Ia pun melangkah pasrah ke manapun Gojyo membawanya.
