Air dingin nan jernih langsung mengalir begitu ia memutar keran. Sepasang manik emas tercenung memperhatikan aliran air yang menggenangi sebuah wadah plastik berisi sayur-sayuran. Setelah air dingin itu sudah mengisi penuh, Goku mematikan keran lalu mencelupkan kedua tangannya untuk membersihkan sayur-sayuran tersebut.

Pekerjaan yang diperintahkan oleh Gojyo itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Tak berapa lama, Goku merasa sayur-sayuran dalam wadah itu sudah cukup bersih. Setelah membuang air bekas mencuci, Goku mengangkat wadah dari tempat cuci piring lalu meletakkannya dekat Gojyo yang tengah memotong sebuah tofu.

Gojyo menunda sebentar kegiatan memotong tofu. Ia tercenung melihat wadah berisi sayuran yang sudah dicuci bersih itu, kemudian beralih memperhatikan sang pemuda yang menghadapinya dengan wajah sedikit tertunduk. Bola mata merahnya beralih melihat sekitar dapur sambil terus memikirkan sesuatu dalam benaknya. Hal apa lagi yang harus Gojyo perintahkan pada pemuda itu? ia sepertinya sudah mengerjakan cukup banyak hal bersamanya, lagipula pemuda itu mengerjakannya dengan cukup sigap sehingga apapun yang Gojyo suruh bisa selesai dengan cepat.

"Kau bisa memasak?" Gojyo bertanya padanya untuk mencairkan suasana yang sejak tadi terasa dingin. Saat membantunya di dapur pun Gojyo tidak mendengar secuilpun suara darinya. Pemuda itu melaksanakan seluruh perintahnya sambil mengunci bibirnya, seolah memang menolak mengakrabkan diri dengan siapapun.

Pemuda itu hanya menggeleng pelan tanpa memandang lawan bicaranya. Gojyo menghela nafas, lebih dikarenakan kesal saat ia kembali tak berhasil membuat pemuda itu bicara.

"Baiklah," Gojyo terdiam sejenak. "Kau bisa mencoba membantuku memotong sayuran ini," Gojyo menunjuk wadah berisi sayuran. Ia melanjutkan pekerjaan memotong tofunya sebentar lagi. Setelah tofu sudah terpotong berbentuk dadu, Gojyo mengambil wadah plastik lain untuk menyimpan tofu itu. Ia menyerahkan peralatan memotongnya pada sosok pasif di hadapannya, lalu melengos begitu saja untuk mencari Teflon.

Goku kembali mengerjakan sesuai yang diperintahkan Gojyo. Suara pisau beradu dengan talenan kayu cukup membuat Gojyo heran. Ia mencuri pandang ke arah pemuda berpiyama putih itu. Gojyo memperhatikan pemuda itu lalu segera menghampirinya untuk melihat caranya dalam memotong sayuran. Pemuda itu tidak bertanya sedikitpun caranya di luar ekspektasi Gojyo sehingga ia khawatir kalau pemuda itu melakukan kesalahan. Namun kembali di luar dugaannya, ternyata sang pemuda cukup telaten saat memotong sayuran. Potongannya terlihat rapi. Mungkinkah sebenarnya ia sedikit menguasai teknik memasak?

"Mungkin kau pernah belajar memasak dari seseorang," Ucap Gojyo yang memang tak mendapat balasan dari pemuda itu. Gojyo mengangkat bahunya berusaha untuk mengacukan reaksi dinginnya. Ia beralih menyalakan kompor lalu mulai bereksperimen dengan tofu yang barusan ia potong. Jam makan siang memang hampir tiba sehingga Gojyo harus menyiapkan makanan terutama untuk sang dokter yang biasanya akan cerewet kalau belum ada makanan pada jam makan siang.

"Kau sudah selesai?" Gojyo menoleh pada sang pemuda sembari menumis tofu. Pemuda itu hanya diam, namun dari banyaknya sayur yang sudah terpotong, Gojyo menebak kalau pekerjaan pemuda itu akan selesai sebentar lagi.

"Kemarikan padaku," Perintah Gojyo ketika menemukan pemuda itu sudah menyelesaikan seluruh pekerjaannya.

Gojyo menumis sayuran dan tofu, menimbulkan aroma masakan yang menggoda selera. Keduanya saling diam, sampai Gojyo kembali memberikan perintah padanya.

"Cucilah peralatan masak kotor," perintah singkat Gojyo langsung diturutinya. Goku mengumpulkan semua peralatan masak yang kotor lalu membawanya ke tempat cuci piring. Suara masakan yang tengah ditumis seketika bercampur dengan bunyi cipak air.

"Kau tidak merasa lelah sudah mengerjakan banyak hal hari ini?" Gojyo kembali membuka percakapan sembari mengambil mangkuk sebagai wadah untuk masakannya yang baru matang. Ia memperhatikan Goku, menunggu reaksinya. Sang pemuda hanya menggeleng pelan.

Gojyo tidak mengajaknya bicara lagi. Mungkin pemuda itu memang tidak lagi mempercayai siapapun di sini, termasuk Gojyo. Wajar memang karena sudah banyak hal buruk yang mereka berdua lakukan padanya.

Sanzo menyuruh Gojyo untuk mengawasi kerja pemuda itu. Dengan tak berperasaan, Sanzo memberikan banyak sekali pekerjaan padanya, mulai dari membersihkan rumah hingga membantu Gojyo di dapur. Sejak pagi, pemuda itu tidak berhenti bekerja, terlebih ia juga belum makan sama sekali.

Gojyo menghela nafas. Ia semakin tak mengerti jalan pikiran Sanzo. Apa yang Sanzo inginkan dari pemuda itu sehingga malah menyuruhnya untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah.

"Istirahatlah," Gojyo memberi perintah pada Goku sambil tersenyum. "Kau sudah cukup banyak bekerja hari ini," Goku mendengarkan perintah itu, namun ia tetap tak berajak dari tempatnya.

"Aku serius. Istirahatlah. Ini perintahku,"

Mata Goku menatap nanar dari balik helaian poninya yang sudah memanjang. Ia akhirnya mengambil langkah lalu duduk di ruang makan. Gojyo mengambil piring lalu menyiapkan seporsi makanan untuk pemuda itu.

"Makanlah," Gojyo meletakkan makanan itu di atas meja makan. Goku nampaknya ragu untuk menyentuh makanan bagiannya. Gojyo kembali berkata untuk meyakinkannya.

"Aku berkewajiban menyediakan makanan untukmu, lagipula kau belum makan sejak pagi,"

Tak berapa lama, tangan Goku menggapai perlahan alat makan yang ada di hadapannya. Goku makan cukup lahap menandakan kalau sebenarnya ia memang sangat lapar. Dalam waktu singkat ia sudah menghabiskan makanan itu. Gojyo tersenyum simpul sambil melipat kedua tangannya, membiarkan pemuda itu membereskan sendiri peralatan makannya.

"Sebentar lagi dokter akan ke sini. Mungkin sebaiknya kembali ke kamarmu…" Baru saja Gojyo menyelesaikan ucapannya, suara dering telepon berbunyi dari dinding ruang makan. Sedikit tersentak, pria itu langsung menggapai benda yang tergantung pada dinding itu. Gojyo sudah bisa menebak siapa yang memanggilnya melalui telepon parallel itu.

"Aku minta pemuda itu mengantarkan makan siangku ke ruangan," tanpa berbasa-basi, sang dokter langsung memberikan sebuah perintah. Gojyo tercenung menelaah perintah itu selama beberapa detik.

"Maksudmu? Ia boleh masuk ke ruang kerjamu?"

"Ya," Suara Sanzo sedikt putus-putus. "Antarkan sekarang juga," Sanzo mengakhiri pembicaraan telepon begitu saja. Nada putus pun terdengar di telinga Gojyo, seolah sang dokter tak mengijinkan Gojyo untuk berkomentar.

Gojyo menghela nafas memperhatikan gagang telepon yang masih mengalunkan nada putus. Ia menutup teleponnya, tercenung sejenak lalu menoleh ke arah sang pemuda yang sedang mencuci piring.

Sanzo menyuruh seseorang untuk mengantarkan makan siang ke ruang kerjanya. Hal itu masih sulit untuk Gojyo percaya karena selama ini Sanzo memang tak pernah membiarkan orang asing memasuki ruang kerjanya. Gojyo berusaha menelaah kembali perintah Sanzo barusan agar ia tak salah tangkap, namun beberapa kali ia mencoba memaknai ucapan Sanzo, Gojyo tetap berkesimpulan kalau sang dokter memang menyuruh pemuda itu untuk mengantarkan makan siang ke ruangannya.

Baiklah kalau begitu. Gojyo berujar dalam hati. Ia menyiapkan nampan, mengisinya dengan seluruh menu makan siang untuk sang dokter. Goku memperhatikan Gojyo, mungkin ia menyadari kalau Gojyo sedang berada dalam kebingungan.

"Sepertinya kau tak bisa istirahat dulu. Dokter menyuruhmu mengantarkan makan siangnya ke ruang kerjanya," Mata kemerahan Gojyo semakin gugup menghadapi sorot mata tanpa emosi itu. Goku tidak menjawab apapun. Ia hanya mengangguk patuh, menerima nampan makan siang lalu melangkah pelan ditemani oleh Gojyo.

Gojyo mengetuk pintu ruangan kerja Sanzo. Beberapa kali ketukan mengundang sebuah reaksi dari sang pemilik ruangan. Suara Sanzo menggema dari dalam, menyuruh pemuda itu untuk masuk. Hanya pemuda itu. Gojyo sedikit tegang karena itu berarti ia tak bisa mengawasi Sanzo dan pemuda itu. Namun pada akhirnya perintah Sanzo-lah yang lebih ia turuti.

"Masuklah," Gojyo membuka pintu ruang kerja Sanzo lalu menyuruh pemuda itu masuk. Goku melangkah pasrah memasuki ruang kerja sang dokter sendirian. Gojyo menutup pintu ruangan perlahan, berharap agar sang dokter tidak melakukan sesuatu yang membahayakan pemuda itu serta dirinya sendiri.

Sebuah koridor panjang bisa ia lalui dengan menuruni anak tangga. Sekitarnya hanya ada dinding serta langit-langit dengan beberapa lampu redup yang menerangi langkahnya. Goku tercenung memperhatikan sekelilingnya, merasa heran dengan ruang kerja sang dokter yang terletak amat terpencil. Mungkinkah dokter itu memiliki ruang kerja di bawah tanah? Dalam bayangan Goku biasanya sebuah ruang kerja yang terletak di bawah tanah memiliki kesan mengerikan. Goku mengiyakan hal itu dalam hatinya, namun rasa penasaran muncul untuk melihat secara langsung ruang kerja sang dokter. Jadi ia memberanikan dirinya untuk melangkah lebih ke dalam.

Anak tangga terakhir langsung menghubungkannya dengan ruang kerja sang dokter. Ia memasuki sebuah ruangan tanpa pintu. ruangan itu cukup luas dan sedikit gelap. Hanya ada sumber cahaya yang berasal dari lampu pijar berwarna orange. Sekelilingnya ada banyak benda yang berhubungan dengan kedokteran yang ia sendiri tidak bisa menyebutkan namanya.

Sang dokter ada di balik meja kerjanya sedang membaca selembar kertas. Meja kerjanya berantakan. Tumpukan kertas berserakan memenuhi hampir seluruh meja sehingga ia tak tahu di mana ia harus meletakkan nampan makan siang ini. Goku menghentikan langkahnya. Ia merasa enggan untuk memanggil dokter itu, sekedar memberitahu kalau ia sudah membawakan makan siangnya. Keheningan pun menyeruak, cukup lama ia menunggu sang dokter menyadari sendiri kehadirannya.

Sang dokter menatap lekat-lekat mata Goku. Sepasang alisnya saling bertaut. Ia menjejalkan sebatang rokok yang mulai memendek pada asbak yang penuh dengan puntung rokok. Tak lama, mata di balik kacamata itu kembali fokus pada secarik kertas yang sedari tadi ia baca.

"Letakkan saja," Sanzo menghentikan ucapannya begitu saja. Goku tertegun heran sambil melihat meja kerja Sanzo. Ia ingin meletakkan nampan ini lalu pergi sesuai dengan perintah Sanzo, tetapi di mana ia harus meletakkan nampan ini sementara seluruh meja sudah penuh oleh serakan kertas?

"Letakkan di mana?" Ucapan Goku mengusik konsentrasi Sanzo. Sang dokter mendengus kesal sambil mengempaskan kertas yang ia geluti. Sanzo membetulkan letak kacamatanya sambil menatap mejanya yang berantakan. Ia merapikan kertas yang tercecer itu, menumpuknya lalu menggesernya ke sudut meja. dengan begitu ada sedikit celah kosong untuk meletakkan nampan makan siang milik Sanzo. Sang dokter langsung memutar kursi memunggunginya sambil membaca laporan, sementara Goku melangkah pelan menuju ke meja kerja Sanzo lalu meletakkan nampan tersebut.

Asap mengepul dari balik kursi. rupanya sang dokter kembali membakar lintingan tembakau. Goku memperhatikannya sejenak lalu mengalhkan pandangannya pada asbak yang penuh dengan puntung rokok. Mungkinkah selama bekerja, dokter itu sudah menghabiskan rokok sebanyak ini? Ia memang bukan perokok sehingga cukup mengejutkan baginya melihat seorang yang bisa merokok sebanyak ini terlebih ia adalah seorang dokter.

Goku tidak mau terlalu ambil pusing dengan hal itu. Tanpa mengatakan apa-apa, ia berbalik untuk meninggalkan dokter itu sendirian. Ia mengira sang dokter tidak menyadari kepergiannya. Ternyata suara dokter itu menghentikan langkahnya, menariknya untuk berbalik menghadapi kursi kerja tempat sang dokter duduk.

"Kau tahu apa yang aku baca?" Tanya Sanzo sambil mengangkat dokumen yang ia baca untuk menunjukkannya pada pemuda itu.

"Proposal untuk menjadikanmu bahan percobaan. Aku sedang mempelajarinya," Sanzo memutar kursi, menghadapi sosok sang pemuda yang menatapnya nanar.

"Sebentar lagi aku ingin menyudahi proyekku," Ucapan Sanzo tak sedikitpun membuat pemuda itu bereaksi. Sanzo pun beralih menunjukkan tumpukan dokumen pada pemuda itu.

"Ini adalah laporan dari berbagai orang yang sudah kujadikan percobaan untuk virusku. Ada yang berhasil sampai tahap akhir penyebaran virus kepada penduduk kota, ada yang sudah mati saat masih dalam tahap percobaan," Ujar Sanzo.

Keduanya saling diam. Goku sendiri tak memberikan ucapan sebagai perlawanan, hanya menatap Sanzo seolah menyatakan kalau ia memang tidak merasa takut sedikitpun.

"Kuingatkan, kau bisa mati kapan saja," Sanzo menyeringai licik. Goku tak bergeming. ia mengepalkan tangannya.

Seringai di wajah Sanzo hilang, berganti dengan ekspresi serius yang biasa ia tunjukkan. Sanzo kembali memutar kursi kerjanya membelakangi pemuda itu.

"Pergilah. Tugasmu sudah selesai," Perintah Sanzo langsung diaksanakan pemuda itu. ia pergi meninggalkan Sanzo dan ruang kerja yang berantakan dan menjijikan itu. goku menaiki tangga dengan langkah sedikit cepat untuk menggapai pintu keluar.

Ia hendak menggapai kenop pintu, namun tercenung mengingat ucapan terakhir Sanzo sebelum menyuruhnya pergi. Goku seolah tak bisa berbuat apa-apa di sini. ia sudah lolos dari maut beberapa kali, namun itu hanya berarti kalau ia sedang beruntung. Kali ini sepertinya sang dokter serius dalam melaksanakan proyeknya. Goku memejamkan mata sambil mengambil nafas berulang kali. apa yang terjadi kalau ia benar-benar mati?

Mungkin ia bisa bertemu keluarganya dan mendapat kebahagiannya kembali.

*

Menjelang sore, Gojyo sudah hampir menyelesaikan seluruh pekerjaan rumahnya. Dibantu oleh Goku membuat pekerjaannya terasa lebih ringan. Walau pemuda itu masih menutup diri, Goku tetap bisa diajak bekerjasama. Ia tipikal penurut, tidak pernah mengeluh, bahkan mampu mengerjakan yang diperintahkan Gojyo dengan telaten. Wajar saja kalau Gojyo akhirnya merasa sangat terbantu mengerjakan tugas rumah dengan pemuda itu.

Kali ini mereka sedang membuat makan malam. Ruang dapur kembali ramai oleh kesibukan mereka berdua. Memang tak ada yang saling bicara, hanya suara denting peralatan masaklah yang menjadi sumber suara keributan saat itu.

Sekitar empat puluh lima menit mereka berdua bekerja sama membuat hidangan malam, terutama untuk sang raja yang tengah bekerja di ruang bawah tanah. Kini, pekerjaan mereka sudah hampir selesai. Gojyo tengah memasak menu kedua sedangkan Goku tengah mencuci peralatan masak kotor yang menumpuk di tempat cucian piring. Tak berapa lama, Goku kembali diperintahkan untuk mengambil wadah kosong sebagai tempat menu kedua. Dengan sigap, pemuda itu mengambilnya.

Makanan sudah siap. Gojyo bertolak pinggang, puas dengan hasil kerjanya saat melihat dua jenis makanan yang aromanya menggugah selera sudah terhidang di meja makan. Ia beralih memperhatikan Goku yang masih sibuk mencuci peralatan masak. Melihat sosok kurus yang tenggh memunggunginya itu, Gojyo seperti ingin melakukan sesuatu. Ia meninggalkan pemuda itu sendirian di dapur tanpa mengatakan apa-apa. Sekembalinya, Gojyo menemukan Goku yang tengah berdiri dengan wajah tertunduk, bersandar pada meja cuci piring. Wajah muramnya mungkin sudah menjadi ekspresi sehari-harinya. Ia juga tetap tidak banyak bicara. Gojyo kini sudah mulai terbiasa menghadapi pemuda murung itu. Ia tetap mengajaknya bicara seperti biasa.

"Mandilah. Aku juga sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu," Ucap Gojyo dengan tangan yang menunjuk ke luar ruang dapur. Goku sedikit tertegun mendengarnya, namun ia tetap memyembunyikannya. Pemuda berpenampilan lusuh itu mengangguk pelan. Ia berjalan pelan melewati Gojyo untuk keluar dari ruang dapur. Gojyo mengikutinya dari belakang, sesekali menunjukkan pada pemuda itu arah ke kamar mandi.

"Pakaian ganti dan handuknya ada di dalam," Gojyo berseru dari luar kamar mandi. Tak berapa lama, suaranya menghilang. Mungkin pria itu sudah meninggalkannya.

Goku tertegun melihat ruang kamar mandi yang akan dipakainya. Cukup luas dan mewah. Ia tak percaya kalau sang pemilik rumah mau membiarkan orang yang dianggap tak berguna seperti dirinya untuk mandi di sini. Handuk dan pakaian bersih juga sudah disiapkan. Ia jadi merasa heran karena dari potongan ingatannya, ia sepertinya belum pernah diperlakukan spesial seperti ini.

Goku membuka kaosnya. Ia memperhatikan tubuhnya sejenak, menyadari kalau tubuhnya ini amat mengerikan. Hanya ada tulang berbalut kulit yang nampak pucat dan dingin. Ia beralih memperhatikan sekujur tangannya. Beberapa bekas lebam biru akibat jarum suntik terdapat di kedua tangannya. Sebanyak ini perubahan yang terjadi selama menjadi pasien bahan percobaan.

Suara shower terdengar dari balik kamar mandi. Air panas mengucur membasahi tubuhnya, menciptakan aroma tersendiri yang merelaksasi tubuhnya. Meskipun cuma sebentar, mandi dengan air hangat membuat tubuhnya terasa lebih enak, apalagi di malam hari seperti ini.

Goku memakai satu stel piyama yang disiapkan untuknya. Ia keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah, langsung disambut oleh Gojyo yang ternyata sejak tadi sudah berada di depan kamar mandi. Goku sedikit kaget. Ia mundur selangkah saat pria itu mendekatinya.

"Ada apa?" Ia melihat wajah Goku berubah ketakutan. Gojyo jadi ikut salah tingkah. Sebelum pemuda itu berpikir macam-macam, Gojyo pun langsung menjelaskan kedatangannya.

"Dokter memintamu mengantar makan malam untuknya," Jelas Gojyo. Setelah itu, ia bergegas meninggalkan Goku. Pemuda itu membiarkan Gojyo menjauhinya. Ia mengeringkan rambutnya dulu, kemudian barulah ia melangkah menuju ke dapur.

Di dapur sudah tersedia nampan berisi makan malam untuk sang dokter yang masih bekerja di ruang bawah tanah. Pria berambut merah yang sejak tadi bersamanya kini menghilang entah ke mana. Mungkin respon Goku tadi sedikit berlebihan, sehingga pria itu jadi merasa canggung atau mungkin tersinggung. Goku memang saat ini harus menjaga jarak dari mereka karena ia tinggal bersama dua orang yang berbahaya. Mereka teroris yang sudah membunuh banyak orang. Lagipula, sudah banyak ancaman yang ia terima, sehingga wajar kalau Goku belum bisa mengakrabkan diri dengan mereka. Ia hanya cukup melaksanakan apa yang mereka perintahkan.

Goku membuka pintu ruang bawah tanah perlahan. Ia jadi sedikit lebih tegang karena pria berambut merah itu tak bersamanya. Sebenarnya, Goku masih takut sang dokter melakukan sesuatu yang berbahaya. Namun, ia tetap memberanikan dirinya. Kalau ia tenang, mungkin saja sang dokter akan segan mengerjainya.

Langkah kakinya menelusuri koridor yang mengantarnya menuju ruang kerja sang dokter. Tak sampai semenit, ia sudah mencapai sebuah ruangan yang kini terasa lebih gelap dan lembab. Bau rokok semerbak memenuhi seluruh ruangan. Sang dokter masih tetap berada dalam posisi yang sama, duduk membelakangi Goku dengan asap rokok yang mengepul dari sana. Di meja kerjanya, serakan kertas masih tetap bertumpuk. Goku mendekati meja itu, tertegun melihat makan siang yang diantarkannya tidak dijamah sedikitpun, justru tumpukan punting rokok di samping makan siang malah semakin bertambah. Ia tak percaya ada manusia yang bisa menghabiskan lebih dari sepuluh batang rokok dalam sehari. Apakah ia mau membunuh dirinya sendiri?

Sosok yang membelakanginya masih tetap bergeming, mungkin tidak menyadari kehadiran sang pengantar makanan. Beruntung, Goku tak perlu memanggil pria itu karena masih ada celah yang cukup baginya untuk meletakkan nampan. Ia mengambil nampan berisi makan siang yang sudah mendingin. Sedikit menyelinap, Goku hendak meninggalkan pria itu sendirian.

"Hei," Di luar dugaan, ternyata sang dokter mengetahui kehadirannya. Goku ingin berlalu begitu saja meninggalkannya, tapi sang dokter pasti akan tetap memanggilnya. Jadi, ia pun berbalik. Tepat saat ia membalikkan badan, sang dokter sudah menghadapinya.

Sang dokter melempar pematik dan sebungkus rokok padanya. Dua benda itu mengenai lengan Goku lalu jatuh begitu saja di dekat kakinya.

"Ambillah," Ujar sang dokter. Goku tertegun. Apa dokter itu menyuruhnya merokok? Ia bukan perokok sehingga ia tidak bisa menerimanya.

Goku menggeleng untuk menolaknya. Dokter itu tersenyum mengejek. Goku tak mau ambil pusing dengan tindakannya. Ia pun kembali memunggungi dokter itu untuk keluar ruangan. Firasatnya mulai buruk.

"Orang tua-mu kah yang melarang?" Dokter itu mulai mengejeknya. Goku tertunduk, menyembunyikan rasa kesal pada dokter itu. Ia tak berbuat kesalahan apapun, namun tetap saja dokter itu mempermainkannya.

"Kau sudah tak memiliki mereka lagi. Jadi sekarang kau bebas," Goku membalikkan badannya. Ia melihat dokter itu sudah berdiri dari meja kerja, hendak mengampirinya.

"Ah, ya. Kau juga harus menjadi kakak yang baik bagi adik perempuanmu. Bukan begitu?" Dokter itu menyeringai. "Tapi adikmu juga sudah tidak ada lagi, bukan?"

Gemeletuk gigi terdengar saat Goku menahan amarahnya. Ia menatap dokter itu tajam.

"Sebaiknya kau sendiri yang menjaga dirimu," Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Goku. Ia tak memikirkan lagi resiko membalas ucapan dokter itu, karena ejekan sang dokter sudah membuat hatinya panas.

"Kau meracuni dirimu sendiri," Bibir Goku begetar. Nafasnya memburu menahan amarah. "Kau bilang mau membunuhku. Tapi, kau lihat sendiri siapa yang akan mati duluan,"

Ucapan itu sebagai bentuk balasan sakit hati Goku. Ia tak memikirkan konsekuensi yang harus ia tanggung setelah mengucapkan kata-kata itu. Sang dokter terlihat sangat marah. Ia mendekati Goku. Goku ingin lari, namun itu akan menunjukkan ketakutannya. Lagipula, sang dokter pasti akan mengejarnya, dan memberikan hukuman yang lebih menyakitkan. Jadi, ia tetap diam di tempat, menatap mata penuh amarah sang dokter, sementara sang predator semakin mendekatinya.

Sanzo menghadapi pemuda bertubuh setinggi bahunya. Ia mencengkram pipi pemuda itu. Bola mata emas pemuda itu dengan tenang menghadapi refleksi amarah dari Sanzo. Ia yakin sebenarnya pemuda itu ketakutan, jadi Sanzo ingin menarik rasa takut itu keluar darinya.

"Kau menjengkelkanku," Ucap Sanzo. "Kau hanya pasien yang tidak berguna. Aku masih memberikan kesempatan padamu untuk hidup. Namun, kau malah melawanku,"

"Tidak," Goku menjawab. Sanzo semakin kesal karena tidak berhasil menggertaknya. Justru pemuda keras kepala itu semakin melawannya.

"Hidup manusia berharga," Ungkap Goku dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. Ia mengingat mimpinya, sosok adiknya yang berlumur darah. Keluarganya mati begitu saja hanya demi sebuah obsesi pribadi. Dan, sang dokter adalah bagian dari monster-monster itu, mempermainkan nyawa manusia, menganggap mereka hanyalah objek tidak berguna.

"Kau tidak pernah mengerti karena kau tidak memiliki orang yang kau sayangi…" Bola mata Goku menangkap raut wajah Sanzo semakin marah.

"…dan orang yang menyayangimu… "

"CUKUP!" Dokter itu lepas kendali, membentaknya. Ia mengempaskan tubuh Goku ke tanah. Suara pecahan piring terdengar saat nampan yang dipegangnya jatuh. Kekacauan pun terjadi. Tak memberikan kesempatan bagi Goku untuk bangkit atau bahkan bergerak, Sanzo langsung menghampirinya lalu memukulinya. Dokter itu memiliki tenaga cukup kuat, mungkin disertai oleh amarahnya. Ia mampu memukul pasiennya berulang kali. Goku hanya tertelungkup, tak bisa membalas pukulannya sedikitpun.

"Sanzo!" Goku mungkin saja bisa tewas kalau suara itu tidak menahan sang dokter. Pukulan dan tendangan Sanzo padanya berhenti. Goku membuka matanya. Pandangannya buram. Pukulan itu membuat badannya sakit. Namun, di tengah kondisinya itu, ia masih bisa merekam kejadian yang berlangsung di depannya. Pria berambut merah-ia ingat namanya Gojyo-datang menengahi mereka.

Terjadi adu mulut antara sang dokter dan pria itu. Gojyo berusaha menenangkannya, bahkan menahan tubuh Sanzo saat dokter itu akan menyerang Goku kembali. Suara ribut mengalun di telinganya. Goku menutup matanya. Setelah itu ia tak tahu lagi apa yang terjadi.