Ini sudah yang keempat kalinya. Bisa dibilang ia sangat beruntung. Tapi ia tak menyukai keberuntungannya bisa lolos dari maut. Semua keberuntungan itu menyakitkan hatinya. Saat ini pun, ketika ia membuka matanya, merasakan perih akibat lebam di tubuhnya, hatinya yang jauh lebih merasa sakit.
Ia berbaring di kamarnya. Pria bernama Gojyo masih memberikan perawatan medis untuknya. Ternyata ia hanya pingsan sebentar, dan saat ini luka-lukanya masih diobati. Gojyo melilitkan perban pada bahu pemuda itu. Goku meringis kesakitan.
"Rasakan sendiri! Kau menyusahkanku!" Rutuk Gojyo sambil mengikat lilitan perban itu. Goku tidak bicara apa-apa. Ia kembali mendesis perih saat Gojyo mengoleskan obat di bagian luka lebam yang lain.
"Untung hanya luka begini. Tadi ia hampir membunuhmu, tahu!" Gojyo kembali mengomel. "Kau tahu, butuh usaha keras dariku untuk menahannya. Ia juga hampir saja menjadikanku sasaran amarahnya," Nada bicara pria itu meninggi. Setelah mengeluarkan seluruh kekesalannya, Gojyo pun menghela nafas. Ia menatap pemuda yang dari tadi hanya memalingkan wajahnya itu. Helaian poni yang panjang menutup hampir seluruh wajahnya. Wajah pemuda itu terlihat memerah, mungkinkah ia menahan tangis karena dimarahi oleh Gojyo.
"Sudahlah, jangan menangis. Kau mempersulitku kalau kau menangis," Gojyo melilitkan perban kembali. Goku hanya diam, namun sepertinya ia mendengarkan kata-kata Gojyo. Ia menatap Goku sebentar, lalu melanjutkan pekerjaannya tanpa bicara lagi. Suasana hening tercipta di antara mereka.
"Kenapa?" Suara serak dan lirih Goku terdengar saat Gojyo hampir menyelesaikan pekerjaannya. Akhirnya pemuda itu mau bicara padanya.
"Kenapa kau menahannya? Kalau ia membunuhku pun tidak apa-apa bukan? Kalian bisa mencari korban lain lagi,"
"Apa? Kau bicara gampang sekali," Gojyo merespon pertanyaan dramatis itu dengan sindiran. "Aku tak berniat menyelamatkanmu," Jawabnya sambil membereskan peralatan p3k-nya. "Membunuhmu tidak bisa dilakukan begitu saja. Kau harus mati karena racun dari Sanzo. Kalau tidak, kami akan dicecar pertanyaan dari organisasi. Kami harus menjelaskan alasan kenapa kami membunuhmu. Dan kalau organisasi tahu karena ada masalah pribadi, kami bisa kena sanksi. Kau mengerti?" Gojyo menjelaskan panjang lebar. Goku tertegun mendengar penjelasannya. Ia mengerjap beberapa kali lalu mengulum senyuman tipisnya.
"Kenapa? Penjelasanku ini tidak main-main!" Gojyo langsung sewot menemukan pemuda itu malah menertawainya.
"Baik. Aku mengerti," Goku tersenyum. Gojyo masih menatapnya kesal. Ia hendak meninggalkan kamar pasien itu.
"Ingat, jangan melawan dokter. Kalau ia mengejekmu, jangan terlalu kau tanggapi," Pesan Gojyo. Goku terdiam, sepertinya belum bisa menyanggupi nasihat itu. Sang dokter seperti mencari masalah dengannya. Dan, ia akan terus melakukan itu pada Goku.
Gojyo pun meninggalkannya. Ia mengunci ruang kamar, membiarkan Goku sendirian di dalam kegelapan. Ia belum bisa bergerak dengan leluasa karena luka-lukanya, jadi ia hanya berbaring terlentang di atas tempat tidurnya, menerawang, entah apa yang ia pikirkan. Goku hanya ingin tertidur setelah ini, karena ia mulai kelelahan. Ia memejamkan matanya, dan langsung tertidur pulas.
*
Telinganya masih peka untuk mendengar suara bahkan pada saat ia tertidur. Debaman pintu seketika mengusik tidurnya. Samar-samar, Goku mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Siapa yang datang ke kamarnya pagi-pagi begini? Goku pun membuka matanya perlahan.
"AH!" Teriakannya spontan keluar saat melihat sosok yang nampak di hadapannya. Mengerikan sekali. Sang dokter-lah orang yang pertama kali ia lihat di pagi hari seperti ini. Goku kaget melihat dokter berkaos putih tipis itu berdiri angkuh di hadapannya sambil berkacak pinggang. Ia memperhatikan dokter itu. Awalnya ia mengira kalau sang dokter datang untuk mencekokinya obat, namun ia tak melihat dokter itu membawa tas kerjanya. Jadi, untuk apa dokter itu mengagetkannya pagi-pagi begini?
Sanzo menatap sinis pemuda itu. Ia pikir kehadirannya akan membuat pasiennya meringkuk ketakutan-seperti yang selalu terjadi sebelumnya, namun ternyata pemuda itu hanya terpaku menatapnya. Ia sudah berani menghadapi sang dokter walau sorot matanya masih terlihat tegang.
"Untuk bangun pagi saja kau tidak bisa. Dasar tidak berguna," Dokter itu melipat tangannya. Tatapannya merendahkan sosok yang ada di hadapannya. Goku kesal karena baru bangun tidur pun ia tetap mendapat makian. Namun, ia mencoba tidak menanggapinya.
"Bangun!" Dokter itu memerintahkannya. Ia menatap Goku sinis. Goku balas menatapnya tajam , namun ia tetap menuruti perintah Sanzo. Goku mengaduh pelan saat ia menggerakkan badannya. Rasa sakit menghujamnya Tubuhnya seperti ditusuk ribuan jarum, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk berdiri.
Di luar dugaan, Sanzo menyentuh salah satu luka lebam pasiennya. Goku berteriak saat Sanzo sedikit mencengkram pangkal bahunya.
"Apa yang kau lakukan!" Goku menghentak. Sang dokter tak menjawab pertanyaannya. Sorot mata tanpa dosa itu memperhatikan lilitan perban pada bahu Goku. Setelah itu, ia beralih ke luka lebam di bagian tubuh lain. Sanzo seperti memeriksa luka itu, namun haruskah ia mencengkramnya?
"Tidak buruk. Ternyata ia bisa diandalkan untuk mengobati luka," Samzo berkomentar. Goku memalingkan wajahnya karena kesal.
"Ikut aku," Dokter tak berperasaan itu tidak sedikitpun membiarkan Goku beristirahat. Padahal, pastinya sang dokter tahu kalau luka lebam di tubuh Goku belum sembuh total. Goku menahan kejengkelannya. Ia mengikuti sosok yang sudah duluan tiba di ambang pintu kamar.
Mereka berjalan menelusuri koridor. Lorong itu masih gelap. Ia pasti dibangunkan pagi-pagi sekali sehingga matahari belum sepenuhnya bersinar terang. Mereka tiba di ruang tamu. Suasana di tempat ini sangat hening dan damai. Pondok yang mereka tinggali ada di daerah pegunungan. Mereka juga memiliki halaman luas yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman hias. Jadi, setiap orang yang berada di tempat ini pasti merasakan kenyamanan.
Goku dibawa sampai ke halaman. Udara di luar terasa dingin. Sekitarnya masih remang-remang. Namun, keasrian halaman rumah sang dokter tetap tak bisa tersembunyi. Goku mengikuti langkah Sanzo menuju ke tengah pekarangan. Menyenangkan sekali berada di tengah taman bunga seperti ini. Wajah ketus Goku pun menghilang, berganti dengan wajah penuh kekaguman. Keindahan dari bunga-bunga di sekitarnya bisa menghibur hatinya.
Apakah ini mimpi? Goku berpikir sambil memperhatikan punggung Sanzo. Sang dokter berhenti melangkah. Ia melihat sekitarnya seolah mencari sesuatu. Beberapa saat kemudian, ia seperti menemukan yang ia cari lalu menghampirinya. Goku memperhatikan dokter itu membawa sekop dan sarung tangan karet. Dari situ, Goku sudah mulai bisa menebak apa tujuan dari dokter itu membangunkannya pagi-pagi begini.
"Ada pekerjaan untukmu," Goku tertegun. Ia tak bisa merawat tanaman.
"Banyak rumput liar juga. Kau harus membersihkannya,"
"Tapi aku tidak tahu caranya merawat tanaman," Ujar Goku.
"Memangnya kau kira aku akan membiarkanmu merusak tanamanku?" Sanzo berkata masih dengan wajah tenang. Sepertinya ia sudah merencanakan hal ini. "Kau membantuku," Ia memaksa Goku menerima sekop dan sarung tangan karet. Goku pun mengambilnya dengan ragu. Ia melihat Sanzo berjalan menjauhinya, mungkin untuk mengambil peralatan berkebun lainnya. Goku sebenarnya merasa enggan bekerja dengan dokter itu. Pasti Sanzo akan menyuruhnya macam-macam, dan jika Goku tidak melaksanakannya dengan benar, ia yakin sang dokter akan memakinya.
Tapi, ia tetap tak punya pilihan lain.
Matahari sudah mengeluarkan sinarnya saat Goku dan Sanzo memulai pekerjaan mereka. Goku berjongkok sangat hati-hati karena sekujur tubuhnya masih sakit. Ia membantu Sanzo mencabut rumput liar. Tenaga Goku memang cukup kuat, tapi tetap saja ia tak bisa bergerak leluasa. Sambil meringis, pemuda itu memindahkan posisi tubuhnya. Sanzo yang berada di dekatnya pun mulai tertarik memperhatikan Goku.
Kenangan Sanzo bersama dokter Koumyou terepresentasi dalam kejadian pagi ini. Ia yang sudah dewasa seperti berada di posisi dokter pengasuhnya itu, bekerja bersama satu sosok yang lebih muda. Kepolosan pasien itu mirip dengannya. Hanya saja hubungan mereka tidak baik seperti halnya hubungan Sanzo dengan dokter Koumyou. Pasien itu pasti membenci Sanzo karena pria itu sudah terlalu sering menyiksanya, termasuk saat ini.
Pasien itu tengah menyeka peluh. Padahal matahari belum lama bersinar terik. Mungkin karena Goku mengeluarkan banyak tenaga, ia jadi kelelahan. Sanzo tidak berniat menyuruhnya istirahat. Ia malah semakin asyik memperhatikan sosok yang memunggunginya itu. Beberapa kali suara mengaduh pasien itu terdengar. Ia mengibaskan tangannya saat sudah mencabut sebuah rumput liar yang tinggi. Sanzo geleng-geleng kepala lalu melanjutkan pekerjaannya, tanpa menyadari kalau bibirnya mengembangkan seulas senyum tipis.
Ada juga sosok lain yang memperhatikan pekerjaan mereka. Gojyo bersandar di bingkai jendela ruang tamu sambil melipat tangannya. Beberapa saat lalu ia yang baru bangun tidur hendak membuka pintu depan. Saat melangkah ke sana, ia tertegun heran melihat pintu itu sudah terbuka lebar. Penasaran, Gojyo pun melangkah ke ambang pintu dan terkejut menemukan satu pemandangan langka di hadapannya. Sanzo bekerja bersama seseorang untuk merawat kebun.
Sulit dipercaya. Ia sudah tiga tahun tinggal bersama Sanzo, dan sedikitpun ia tak diberikan ijin untuk menyentuh tanaman-tanaman hias dokter itu. Dan, saat ini ia baru pertama kalinya melihat Sanzo mau mengandalkan orang lain untuk membantunya dalam berkebun. Lebih mengejutkan lagi, sosok yang membantunya saat itu adalah pasien Sanzo.
Hmmm… Jadi benar kalau Sanzo sebenarnya tertarik padanya. Pemuda itu berhasil mengusik hati Sanzo, dan membuatnya mau membuka diri. Gojyo tersenyum simpul melihat pekerjaan mereka. Sebagai koleganya, ia seharusnya cemas dengan perubahan karakter dari dokter kejam itu. Namun, sebagai teman, ia merasa senang. Dan, saat ini ia menganggap Sanzo sebagai temannya, bukan sebagai koleganya.
Keasyikan Gojyo terusik oleh sebuah dering ponsel. Pria itu langsung meninggalkan tontonan menariknya, beralih ke ponsel yang terletak di meja ruang tamu. Nama Hakkai tercantum sebagai pemanggil. Ada apa Hakkai menelepon ke sini pagi-pagi?
"Ya, Hakkai?" Gojyo mendengar suara bising kendaraan sebelum suara Hakkai terdengar.
"Gojyo, selamat pagi. Bagaimana keadaanmu?" Seperti biasa, Hakkai selalu berbasa-basi. Gojyo mendengus jengkel.
"Ada apa Hakkai?"
"Ada sesuatu hal penting yang harus aku bicarakan pada kalian," Nada bicara Hakkai terdengar serius. Gojyo kembali merasakan firasat buruk.
"Ada apa?"
"Di sana ada Sanzo? Bagaimana? Apakah dia sudah membuat virusnya,"
"Nggg…" Gojyo mengedarkan pandangannya, mencari alasan yang tepat. "Ia sedang sibuk membuatnya," Gojyo berbohong.
"Kau yakin?" Hakkai sepertinya mendeteksi kebohongan pria itu. Gojyo terkesiap.
"Ya. Ia sedang sibuk sejak kemarin,"
"Baiklah kalau begitu aku sedang dalam perjalanan ke sana," Gojyo langsung tercekat mendengarnya, namun ia mencoba bersikap wajar.
"Dalam waktu satu jam aku akan tiba,"
"Hakkai!" Gojyo spontan berteriak kaget.
"Ya?"
"T…Tidak…" Gojyo menghela nafas. Ia berusaha menutupi kepanikannya. "Hati-hati,"
"Ah… ya… Terima kasih Gojyo," Hakkai membalas, walau heran dengan ucapan terakhir pria itu. Gojyo langsung memutus sambungan. Wajahnya berubah pucat. Apa yang harus ia lakukan? Hakkai tidak boleh tahu kalau selama ini Sanzo sudah banyak melanggar aturan organisasi, seperti menjadikan Goku pelayan pribadinya, bahkan sampai mengulur waktu dalam mengerjakan proyek virusnya. Hakkai pasti sangat tidak setuju dengan perbuatan Sanzo itu. Bisa-bisa ia yang mengadukannya ke organisasi.
"Sanzo!" Di saat semua jalan keluar buntu, Gojyo hanya memiliki satu pilihan. Ia harus memberitahukan pada Sanzo.
*
Ia sudah mengenal karakter Sanzo, bahkan saat dokter itu merespon sebuah kabar darinya. Pembawaannya terlalu santai. Padahal, Gojyo sudah bicara sangat serius, tetapi sang dokter tetap saja menganggap remeh ucapannya. Meyakinkannya pun percuma. Sang dokter hanya mendengus kesal sambil berlalu, hendak membersihkan tangannya dari tanah basah.
"Sanzo!" Gojyo mengikuti sang dokter, mendahului langkah malas itu, lalu menghentikan sosoknya. Sanzo merasa terusik, namun Gojyo tak mempedulikannya.
"Hakkai akan datang sebentar lagi!" Gojyo mempertegas dengan berkacak pinggang.
"Lalu?" Sanzo hanya menaikkan sebelah alisnya, merespon enggan ucapan pria itu.
"Virusmu. Lalu apa yang harus kita katakan mengenai pasien yang kau jadikan pesuruh itu?" Gojyo berkata sambil memandang Goku yang masih sibuk di halaman.
"Katakan saja sejujurnya. Ia pasienku, bukan? Jadi aku berhak melakukan apa saja padanya,"
"Kau yakin? Kau tahu Hakkai seperti apa, bukan?" Gojyo merentangkan tangan kirinya, sebagai penghalang Sanzo untuk melewatinya.
"Kau takut padanya?"
"Kalau ia kecewa, ia akan mengadukan semuanya pada organisasi?" Ungkap Gojyo tegas. "Ia sudah mempercayai kita, namun kita justru mengkhianatinya,"
"Memang siapa yang mengkhianatinya?" Sanzo masih berkelit. Respon tenang dan menyebalkannya selalu membuat Gojyo tercekat.
"Aku memang tidak pernah berjanji padanya akan membuat virus tepat waktu. Aku juga butuh istirahat," Ujar Sanzo "Kau yang mengatakannya, jadi kau yang mengkhianatinya," Tangan Sanzo yang kotor oleh tanah basah menyingkirkan lengan berotot yang menghalanginya. Gojyo bergidik, langsung membersihkan lengannya, sementara sang dokter sudah melenggang tenang meninggalkannya.
"Sanzo!" Gojyo berseru. Ia hanya berteriak di tempat karena tak tahu lagi kata-kata apa yang bisa mencairkan sifat keras kepala pria itu. Setengah jam sudah berlalu sejak Hakkai meneleponnya. Tinggal tersisa setengah jam lagi sebelum dokter berkacamata itu tiba. Ia tak berani membayangkan reaksi Hakkai melihat situasi di tempat ini. Kalau bisa, ia ingin kabur saja dari sini.
