Musik klasik mengalun di sebuah ruangan kerja bercat serba putih. Seorang pria berkacamata dan berjas putih tengah sibuk membuat sebuah laporan hasil kerjanya. Ia membaca salah satu berkas pasien sambil menyandarkan tubuhnya pada sebuah kursi putar. Setelah itu ia beralih menuliskan catatan-catatan pada sehelai kertas yang hampir dipenuhi oleh tulisannya.

Pemberian obat serta terapi kepada pasien menjadi laporan dari catatan hariannya. Ia juga harus memberikan laporan perkembangan dari pasien. Semua pekerjaan itu membuat Hakkai merasa penat sehingga ia harus beristirahat sebentar. Pria itu melepas kacamatanya. Ia mengurut-urut keningnya, memberikan sedikit relaksasi pada kedua matanya yang kelelahan. Setelah itu, Hakkai beralih mengambil secangkir kopi lalu menyesapnya sedikit.

Sang dokter terasa sedikit rileks. Belum mau melanjutkan lagi pekerjaannya, Hakkai memilih untuk bersandar pada kursi kerjanya. Ia melirik arloji. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Ia memang sedang tidak ada tugas jaga, namun Hakkai memilih untuk pulang larut agar bisa menyelesaikan laporan hariannya. Masih banyak dokumen pasien yang harus ia analisa sehingga mungkin ia bisa menyelesaikan pekerjaan ini sampai tengah malam.

Hakkai menghela nafas. Ia sudah sangat lelah, sehingga ia tidak bisa fokus sepenuhnya untuk menyelesaikan tugasnya. Jadi, haruskah ia pulang saja dan mengerjakan tugas laporan pasiennya esok hari?

Di tengah lamunannya, terdengar suara ketukan pintu. Hakkai langsung mempersilakan masuk sosok yang berkunjung ke ruangannya malam-malam begini. Seorang suster wanita memasuki ruangan. Dengan wajah canggung, ia menghampiri dokter muda berwajah tampan itu.

"Dokter Hakkai," Wajah suster itu sedikit tertunduk. Alis Hakkai menyirit menunggu penjelasan darinya.

"Pasien kamar nomor 37 tidak ingin meminum obatnya,"

Hakkai berdiri. Tanpa bertanya lebih lanjut, sang dokter meninggalkan ruang kerjanya menuju ke kamar pasien yang dimaksud. Sang suster mengikutinya dari belakang. Perjalanan mereka melewati bangsal pasien lain. Suasana rumah sakit memang sudah mulai sepi, dan kebanyakan bangsal yang mereka lewati sudah tertutup rapat, menandakan kalau pasien di dalamnya sudah bersitirahat.

Namun berbeda dengan bangsal yang dimaksud. Ketika Hakkai sudah mendekati ruangan kamar nomor 37 itu, ia melihat pintu kamar terbuka. Hakkai langsung masuk dan menemukan seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun yang mengenakan piyama, ditemani oleh seorang suster lain yang tengah membujuk pria itu.

"Ayolah tuan Gojun, anda harus meminum obat lalu beristirahat," Ujar sang suster. Ia menyentuh pundak pasiennya. Namun laki-laki berwajah kusut itu tetap bergeming.

"Dokter," Sang suster lepas tangan, menyerahkan pekerjaan sulit ini pada sang dokter. Hakkai mendekati pasien itu. Wajahnya terlihat tenang. Ia memang sering menghadapi pasien yang tengah memberontak, bahkan dalam situasi yang lebih berbahaya, saat sang pasien memberikan perlawanan fisik. Sehingga baginya, penolakan pasien ini bukan perkara yang sulit untuk ditangani.

"Tuan Gojun. Sudah waktunya meminum obat dan beristirahat," Pinta Hakkai. Nada bicaranya terdengar lembut. Pria itu tetap tak bereaksi, bahkan setelah Hakkai membiarkannya selama beberapa menit. Ia seperti patung, bedanya ia masih bernafas.

"Apakah ada yang membuat anda tidak nyaman, tuan Gojun," Hakkai memulai pendekatan dengan pasien itu. Hakkai menatap sorot mata hampanya. Mendengar ucapannya, sosok itu mulai bereaksi. Bola matanya bergerak mengikuti pergerakan bola mata Hakkai. Ia berani menatap mata sang dokter, walau dengan pandangan yang linglung.

"Untuk apa memberiku obat, dokter? Apakah aku sakit?"

Dokter Hakkai terdiam mendengar pertanyaan pasiennya itu. Wajahnya berubah serius. Ia memikirkan sejenak jawaban apa yang bisa ia lontarkan untuk pasien itu.

"Ada sesuatu yang membuatmu tak nyaman, tuan Gojun? Apakah obat yang kami berikan terlalu menyakitkan? Atau mungkin perlakuan dari salah satu suster kami kurang menyenangkan?" Hakkai mengguretkan senyum lembut, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

"Apa yang kau anggap normal di dunia ini, dokter?" Hakkai kembali terdiam menerima pertanyaan itu. Sang pasien mengerling melihat sosok dokter jiwa berpengalaman itu dibuat bingung dengan pertanyaan darinya.

"Anda sudah belajar teori kejiwaan cukup dalam, bukan? Menurut anda apa yang membuat manusia menilai kewajaran manusia lain? Apakah mereka terlalu takut untuk melihat hal lain yang tak lazim?" Pasien itu menatap mata sang dokter. Wajah Hakkai berubah semakin serius. Ia menatap pasien itu tajam. Namun tak lama, sorot mata lembutnya menggantikan siluet tajam itu. Hakkai tersenyum ramah.

"Anda ingin selamanya berada dalam kondisi tak lazim itu?" Nada bicara Hakkai terdengar lembut, kontras dengan kata-katanya yang terasa tajam.

"Menurut anda, aku berada dalam kondisi itu, dokter?"

"Seringkali pasien memang tidak menyadarinya. Kami membantu anda menyadari ada yang salah dalam diri anda. Anda harus menerima diri anda kalau anda sakit," Sang dokter mengela nafas, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung jas putihnya. Pasien itu terdiam mendengar jawaban dokter itu.

"Jadi begitu," Gojun menjawab sambil tertawa pelan. Pria berpipi tirus itu kembali menatap lawan bicaranya, sebuah tatapan mengancam sang dokter. Jawaban dari Hakkai barusan tidak bisa membuat pasien itu lebih tenang. Sang dokter seolah ingin menarik kegelisahan dalam diri sang pasien, dengan konsekuensi sang pasien akan semakin memberontak.

"Berikan aku obatnya. Aku ingin kalian menunjukkan padaku cara menyembuhkan sakitku ini," Gojun beralih pada salah satu suster yang membawa nampan obat. Dua suster yang bersamanya itu nampak kaget dengan reaksi Gojun. Ia menatap dokter Hakkai. Sang dokter mengangguk sebagai sebuah isyarat.

"Selamat beristirahat, tuan Gojun," Hakkai bicara setelah sang pasien mengembalikan gelas kepada sang suster. Dokter itu mengguretkan senyum manisnya lalu membungkuk hormat untuk pamit. Ia pun melangkah terlebih dahulu disusul oleh dua suster.

"Dokter," Pasien yang sudah berbaring di ranjang masih sempat memanggil Hakkai. Langkah Hakkai terhenti. Ia menoleh pada pasien itu.

"Anda dokter yang hebat," Gojun tertawa pelan lalu membenamkan dirinya di balik selimut. Hakkai tak bereaksi mendengar pujian sang pasien. Ia meninggalkannya seorang diri setelah memastikan kalau sang pasien itu benar-benar tertidur.

"Terima kasih dokter Hakkai," Ungkap salah seorang suster yang tadi menemaninya. Suster lainnya tengah mengunci kamar pasien. Hakkai hanya tersenyum simpul lalu mengangguk pelan.

"Anda bisa menghadapi pasien yang sulit seperti tuan Gojun," Ucap suster yang sama.

"Bukan apa-apa," Hakkai masih tersenyum ramah. "Hanya saja, kalian terus awasi pasien ini, dan jangan lupa memberikannya obat. Kuharap ia sudah bisa diajak bekerja sama,"

"Saya juga berharap dokter. Sebenarnya ia pasien baru di sini," Suster yang memegang kunci kamar pasien ikut bicara. Hakkai tertarik mendengar perkatannya.

"Baru?"

"Ya. Baru tiga hari ia dirawat di sini,"

Hakkai hanya mengangguk pelan tanpa bertanya lagi. Ia berinisiatif untuk mencari sendiri data diri pasien itu. Hakkai merasakan suatu firasat buruk dari gerak-gerik pasien itu, terlebih setelah sang pasien bertemu dengannya.

Hakkai hendak kembali ke ruang kerjanya. Malam sudah larut, lagipula ia memang sudah lelah sehingga ia memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya, setelah ini. Saat menelusuri koridor, dari arah ruang kerjanya, nampak seorang suster lain yang berlari kecil menghampirinya.

"Dokter Hakkai," Sang suster memanggil namanya. Hakkai menghela nafas. Mungkinkah ia kembali harus menangani pasien lain?

"Dokter, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," Alis Hakkai menyirit mendengarnya. Siapa sosok yang malam-malam begini mau bertamu ke tempatnya?

"Ini sudah malam. Kenapa kau tidak menyuruhnya untuk datang besok pagi?"

"Sudah, dokter. Tapi pria itu tetap memaksa untuk menemui anda. Katanya ada hal penting yang ingin ia bicarakan,"

Hakkai menghela nafas. Ia berjalan cepat mendahului suster-suster yang bersamanya itu. Ia sebenarnya kesal karena di saat yang paling lelah pun ia tak bisa beristirahat. Namun, ia juga tak bisa menyalahkan sang suster. Apa boleh buat. Hakkai pun mau tidak mau menemui tamu itu.

Ia sudah mendekati ruang kerjanya. Di samping pintu ruang kerjanya yang tertutup itu nampak seseorang tengah berdiri sambil melipat tangannya. Hakkai menyipitkan matanya untuk mengenali sosok itu di tengah keremangan.

"Yo!" Seorang pria berusia lebih tua darinya-sekitar tiga puluh tahun-menyapanya duluan. Ia berpakaian seperti pegawai kantoran. Rambut hitam pendeknya tergerai sedikit berantakan. Hakkai mengenali pria itu, namun ia terkejut kalau sosok itulah yang menemuinya. Pria itu sudah menduga kalau kedatangannya memang tak diharapkan oleh sang dokter, apalagi di malam seperti ini. Namun, ia tetap memberikan senyum ramahnya.

"Dokter Cho Hakkai," Pria itu meledek sosok yang menunjukkan wajah tak bersahabatnya. Hakkai mendekati pria berkacamata itu. Tak ada guretan senyum ramah yang biasa Hakkai tunjukkan. Wajah Hakkai berubah dingin. Ia tak bicara sepatah kata pun, menunggu sang tamu untuk menjelaskan sendiri maksud kedatangannya.

"Kenapa wajahmu berubah sedingin itu?" Pria itu masih menggodanya. Hakkai tetap mengunci mulutnya.

"Oh, kau sangat tidak ramah dalam menyambut seniormu," Pria itu tertawa sedikit. Hakkai berlalu memasuki ruangan kerjanya. Pria itu tanpa canggung langsung mengikuti Hakkai memasuki ruang pribadi sang dokter.

"Cukup luas. Ternyata kau mendapat fasilitas yang baik selama bekerja di sini," Pria itu langsung berkomentar ketika melihat ruang kerja Hakkai yang terkesan mewah.

"Pantas saja kau memutuskan untuk tetap bekerja di tempat ini, bahkan setelah organisasi merekrutmu," Pria itu tertawa kecil. Hakkai menatapnya tajam. Ia berusaha mengacuhkan komentar demi komentar dari pria sok akrab itu. Hakkai beralih mengambil tas kerjanya, lalu berkemas.

"Wah. Lihat! Kau masih menyimpan foto gadis ini…" Pria itu melangkah ke sebuah buffet di salah satu sudut ruangan. Ia mengambil sebuah bingkai foto lalu memperhatikannya.

"Kannan,"

"Lima menit!" Hakkai berusaha menahan amarahnya. Ia menatap pria itu tajam. Ingin rasanya ia mengusir pria pengganggu itu, bahkan saat sosok itu sudah berani mengusik privasinya. Namun, Hakkai menduga kalau kedatangan pria itu mungkin saja berhubungan dengan organisasi, sehingga Hakkai berusaha untuk bersabar menghadapi sikapnya.

"Kuberi anda waktu lima menit untuk menjelaskan kedatangan anda kemari, Ukoku-san," Sosok yang dimaksud nampak sedikit terkejut mendengar ucapan Hakkai. Ia bersandar pada buffet, meletakkan bingkai foto itu.

"Lima menit terlalu cepat. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan,"

"Lima menit, atau aku akan memanggil keamanan untuk mengusir anda, Ukoku-san,"

"Baiklah…baiklah," Pria bernama Ukoku itu berusaha mendinginkan situasi dengan tersenyum. Namun, tetap saja Hakkai tidak mempedulikannya.

"Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Gyokumen Koushu untuk mempercepat peracikan virus baru itu. Kau cukup dekat dengan dokter Sanzo bukan, sehingga cukup kau saja yang menyampaikannya,"

Hakkai hanya diam, namun ia mendengarkan ucapan pria itu.

"Masih ada waktu tersisa, jadi biarkan aku bicara padamu," Ukoku menggaruk belakang kepalanya lalu melipat tangannya.

"Bagaimana rasanya berada dalam dua situasi yang saling berlawanan?"

Alis Hakkai bertaut mendengar ucapan pria itu.

"Kau tahu siapa kau sekarang, bukan?" Ukoku menyeringai "Atau kau belum menyadari? Padahal sudah hampir dua tahun kau bergabung dengan organisasi untuk menggantikan posisiku,"

Hakkai masih menyimak ucapan pria licik itu, walau ia sudah tahu apa yang hendak pria itu sampaikan padanya.

"Di satu sisi kau menyembuhkan penyakit mereka, namun di sisi lain kau juga membunuh mereka. Bagaimana rasanya? Apakah kau bisa menikmati pekerjaanmu?" Ukoku kembali mengusap rambutnya "Atau sebenarnya kau sedang berusaha menghapus dosamu?"

"Cukup. Waktu anda habis, Ukoku-san," Hakkai berusaha menahan gejolak emosinya. Ia ingin menghajar pria itu, namun situasi saat ini tak memungkinkannya.

Ukoku tertawa lepas mendengarnya. "Cho Hakkai. Kau mempunyai sisi kelam dalam dirimu yang tak akan bisa kau sembunyikan. Suatu saat nanti kau akan menunjukkannya. Padaku, pasienmu bahkan pada teman-temanmu,"

Ukoku kembali mengambil bingkai foto di dekatnya. Ia menunjukkannya pada Hakkai. Pria itu berusaha tenang menghadapi sosok yang tengah mempermainkan emosinya. Hakkai mengepal tinjunya. Wajahnya tertunduk.

"Baiklah. Selamat malam," Ukoku meletakkan foto itu dan akhirnya meninggalkan Hakkai di ruang kerjanya. Hakkai melirik pria itu untuk mengawasi pergerakannya. Pria itu tak berbuat sesuatu yang mencurigakan. Ia melenggang keluar dengan langkah santai lalu menutup pintu ruangan dengan sangat pelan.

Hakkai menghela nafas lega setelah mendengar bunyi debaman pelan. Suasana tegang yang tadi tercipta perlahan mulai hilang. Hakkai mengembuskan nafasnya berkali-kali untuk menenangkan dirinya seraya bersandar pada kursi kerjanya. Entah kenapa setelah bertemu dengan pria itu, ia merasa semakin letih. Mungkin ia bisa beristirahat sejenak sebelum meninggalkan ruangannya.

Hakkai melepas kacamatanya lalu menelungkupkan wajahnya. Ia merasakan suatu firasat buruk dari pertemuannya dengan pria itu. Sosok bernama Ukoku itu memang memiliki kedudukan penting dalam organisasi, bahkan setelah ia melepas tanggung jawabnya sebagai dokter yang menghapus ingatan para sanderanya. Hakkai direkrut untuk menggantikan posisinya. Saat ini Ukoku semakin memiliki pengaruh yang besar dalam organisasi. Ia merupakan tangan kanan dari Gyokumen Koushu, namun lebih sering mengendalikan organisasi. Karakternya memang terlihat sopan, ramah dan bersahabat. Namun, Ukoku adalah dokter yang kejam. Ia bergabung dengan organisasi hanya karena ingin bersenang-senang. Ia suka menghancurkan manusia, bahkan tak jarang anggota organisasinya sendiri.

Walau sebagai juniornya, Hakkai sebisa mungkin tak berurusan dengannya. Ia ingin bekerja sendiri menurut caranya. Ukoku memang kerap mengusiknya, seperti halnya saat ini ketika ia mempertanyakan alasan Hakkai masih bekerja di tempat yang sama, bahkan setelah organisasi merekrutnya. Apakah Hakkai sengaja menghindar dari kenyataan saat ini kalau ia sudah menjadi seorang pembunuh?

Hakkai tersenyum pahit. Mungkin apa yang pria licik itu katakan ada benarnya. Hakkai tidak bisa terus-terusan berada dalam dua situasi yang bertolak belakang. Ia tak bisa menjadi seorang dokter sekaligus seorang pembunuh.

Hakkai memakai kaca matanya kembali. Ia meraih tas dokternya. Sudah waktunya pulang karena malam akan semakin larut. Hakkai pun berdiri lalu melangkah menuju ke pintu ruangan. Sebelum menggapai kenop pintu, sesuatu malah menariknya menuju ke buffet.

Ia mengambil bingkai foto yang tadi sempat dilihat oleh Ukoku. Seorang gadis berambut coklat sedada yang dikepang dan memakai dress turtle neck warna coklat itu menarik Hakkai ke alam lamunan. Gadis berwajah cantik dan keibuan itu tetap akan menjadi gadis yang terkenang dalam hatinya.

"Kannan-nee,"

Hakkai meletakkan foto itu sekaligus mengubur kembali kenangan mengenai sosok sang gadis. Saat memutar kenop, ia kembali teringat hal lain. Mungkin besok pagi ia harus pergi ke kediaman Sanzo untuk memberitahukan pesan dari Gyokumen Koushu, sekaligus memperingatkan dua pria gunung itu akan bahaya lain yang mengintai mereka.

*

a/n: lagi demen bikin Hakkai POV karena belakangan ini lagi demen sama si manis kacamata itu. Mau bikin background Hakkai sekelam mungkin sesuai dengan karakter dia dalam seri Saiyuki. Ganbarimasho!