"Hati-hati,"

"Gojy…"

Hakkai belum sempat membalas ucapan Gojyo, namun sambungan sudah terputus. Ia memandang ponselnya heran. Hal yang tidak biasa karena Gojyo terdengar panik setelah Hakkai memberitahukan kalau ia akan kembali berkujung ke sana. Padahal, sosok itu biasanya nampak tenang menyambut kedatangan Hakkai, bahkan ketika pria itu tidak mengabarinya terlebih dahulu.

Hakkai yang jeli itu langsung bisa mendeteksi adanya kejanggalan. Apakah mungkin terjadi sesuatu yang buruk di kediaman Sanzo, namun Gojyo tidak berani melaporkannya kepada Hakkai? Hakkai menduga kalau Gojyo pasti tengah menyembunyikan sesuatu sejak ia bertanya mengenai proyek virus buatan Sanzo. Pasti ada yang tidak beres dengan proyek virus itu, atau lebih buruknya Sanzo memang belum membuatnya sama sekali.

Hakkai menghela nafas. Ia menekan pedal gas agar kendaraannya melaju lebih kencang. Wajahnya nampak ketus sembari mengemudikan sedan silvernya itu. Sepanjang perjalanan ia mencoba untuk menyembunyikan kekesalan yang muncul atas praduganya sendiri. Ia memang seharusnya lebih mengendalikan dirinya karena yang ia pikirkan tadi belum tentu seratus persen benar.

Ya, belum bisa dipastikan kebenarannya kalau ia belum melihatnya sendiri. Ia ingin tahu apa yang akan terjadi sekitar satu jam kemudian setelah ia tiba di kediaman Sanzo.

*

Aroma tumisan sayuran-lah yang membuatnya tersadar dari lamunannya. Tangan kekarnya dengan telaten mengaduk-aduk sayur segar bersamaan dengan campuran bumbu. Sorot matanya menerawang ke kuali, namun pikirannya melayang entah ke mana. Ia merasa kalut. Menit demi menit berlalu. Kalau Hakkai tepat waktu, ia akan tiba lima belas menit lagi. Namun, Hakkai memang selalu tepat waktu, bukan?

Ia menghela nafas. Entah sudah berapa kali dalam lima belas menit ini ia menghela nafas. Wajahnya nampak lesu. Ia beralih memandang ke halaman. Sang dokter yang seharusnya bertugas di laboratorium untuk membuat virus malah dengan santainya berkebun di halaman. Ditambah lagi, sang pasien yang seharusnya menjadi bahan percobaan dari dokter itu malah membantu sang dokter berkebun. Entah bagaimana nanti Hakkai melihat semua kekacauan ini. Dan, pastinya sosok itu akan menyalahkan Gojyo atas kelalaiannya mengawasi Sanzo.

Gojyo tersadar dari lamunannya mencium aroma masakannya. Ia panik kala melihat tumisannya hampir gosong. Gojyo segera mematikan api lalu membiarkan tumisan itu. Ia membolak-balik sayuran. Kalau sebentar saja ia lengah, sayur-sayuran ini akan benar-benar hangus. Gojyo kembali menghela nafas, mengeluhkan nasib yang harus ia tanggung karena dokter itu. Kenapa ia harus berpartner dengan sosok yang egois seperti Sanzo.

Gojyo membawa tumisan itu ke meja makan. Saat ia berbalik, ia melihat sebuah sedan silver yang memasuki halaman rumah. Hakkai sudah tiba di sini. Gojyo hanya bisa pasrah. Ia memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan. Sosok Hakkai keluar dari mobil dan menghampiri Sanzo dengan tergesa. Sepertinya Hakkai tidak mempercayai dengan keadaan yang terjadi saat ini. Gojyo yakin akan timbul perselisihan antara Sanzo yang keras kepala dengan Hakkai yang tegas.

"Aku tidak mau tahu," Gojyo membalikkan badannya, mengabaikan situasi yang ada di hadapannya. Ia tak mau ambil pusing dengan pertengkaran yang sebentar lagi akan terjadi. Beberapa menit kemudian, Gojyo sendiri akhirnya penasaran dengan situasi di luar. Ia pun memutuskan untuk keluar dapur menuju ke halaman.

*

Pekerjaan yang melelahkan itu akhirnya bisa ia selesaikan. Goku melihat pekarangan sambil berkacak pinggang. Tubuhnya banjr peluh, kotor oleh tanah basah. Nafasnya tersengal. Ia nampak sangat kelelahan setelah mencabut satu per satu rumput liar selama hampir satu jam. Namun, hasil yang didapat cukup memuaskannya. Pekarangan itu kini telah bersih dari rumput liar, sehingga bunga-bunga di situ bisa tumbuh dengan subur.

Bertolak belakang dengan Goku, dokter di dekatnya malah masih asyik memberikan pupuk pada tanaman bunga asternya. Mereka sama-sama berbanjir peluh karena terbakar oleh teriknya matahari, namun sang dokter tetap menikmati pekerjaannya. Gumpalan tanah basah mengotori pipi dan keningnya saat sang dokter menyeka kucuran keringat. Setelah itu, ia kembali bergelut dengan tanaman hiasnya. Goku tertegun memperhatikan sosok yang sudah berjam-jam bersamanya itu. Ia ingat saat masih dikurung di dalam kamar, ia suka memperhatikan aktivitas sang dokter. Saat ini, ia bisa melihatnya lebih dekat, bahkan bekerja bersamanya. Dan, ia jadi makin merasa kalau sosok di hadapannya seperti bukan dokter kejam yang selalu mencekokinya obat.

"Kenapa kau malah memperhatikanku?" Goku terkejut saat sang dokter menegurnya. Sorot mata dingin dokter itu mengarah padanya. Goku langsung salah tingkah lalu memalingkan wajahnya. Mungkin dokter itu menganggap kalau memperhatikannya adalah suatu kesalahan.

Sang dokter memperhatikan sekitar Goku. Ternyata semua pekerjaan sudah ia selesaikan sehingga pasiennya itu hanya diam tercenung karena tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.

"Kemarilah," Perintah dokter itu padanya. Walau ragu, Goku tetap menuruti perkataannya. Ia melangkah pelan ke arah Sanzo. Goku berjongkok saat Sanzo mengisyaratkannya untuk lebih mendekat. Goku sedikit takut berada di dekat Sanzo, jadi tercipta sedikit jarak antara dirinya dengan dokter itu. Sanzo menyadari kerenggangan jarak antara mereka, namun ia tidak berkomentar apapun.

"Kau harus memberikan pupuk pada bunga aster ini," Ujar Sanzo. Goku hanya terdiam, membiarkan pria di sampingnya itu meneruskan penjelasannya.

"Hanya mengambil pupuk lalu campurkan ke tanah sekitar tanaman bunga," Sanzo menjelaskan sembari mempraktekkannya agar Goku lebih memahami caranya. Goku tak bersuara sedikitpun, namun ia memperhatikan penjelasan Sanzo dengan serius.

Setelah itu, keduanya mulai asyik memupuk tanaman aster yang tersebar hampir di sekitar taman. Goku sendiri mulai menikmati pekerjaannya. Teriknya matahari mulai diacuhkan olehnya. Ternyata berkebun itu mengasyikkan. Apalagi, mata Goku sedikit segar karena melihat bentangan tanaman bunga di sekitarnya. Mungkinkah hal ini menjadi alasan sang dokter bisa berjam-jam bergelut di pekarangan rumahnya, bahkan sampai lupa waktu.

'Kenapa dokter ini bisa tertarik dengan kegiatan berkebun, bahkan sangat menyukai bunga aster?' Pertanyaan itu terlintas dalam benak Goku. Wajahnya pun beralih ke sosok pria yang tengah memunggunginya itu. Goku tak berani menanyakannya langsung pada sang dokter. Ia masih merasa takut, bahkan untuk sekedar mengajak dokter itu bicara. Lagipula, dari tadi Sanzo juga tidak banyak mengajaknya bicara, hanya sekedar menyuruh dan menyuruhnya saja.

Lamunan Goku terpecah saat mendengar suara deru mesin mendekat ke arahnya. Ia mencari sumber suara dan menemukan sebuah mobil sedan silver tengah memasuki pekarangan rumahnya. Goku tercenung, mengingat mobil sedan silver itu sebagai mobil yang mengantarnya ke sini sekitar dua minggu yang lalu. Dan, kemungkinan sosok di dalam mobil itu adalah….

Pintu mobil bagian kemudi terbuka lebar. Goku bertemu lagi dengan dokter yang merawatnya selama berada di sanatorium. Sosok berkacamata itu bertemu pandang dengan Goku. Dahinya sedikit berkerut. Wajahnya nampak serius, padahal seingat Goku ia selalu menunjukkan wajah ramahnya. Pria berkacamata itu pun melangkah mendekati mereka. Goku memalingkan wajahnya ke arah Sanzo. Pria itu sudah menyadari kehadiran rekannya. Wajah Sanzo sedikit kesal, sepertinya tidak menyukai kedatangan partner kerjanya itu. Ia pun kembali melanjutkan aktivitas berkebunnya, mengacuhkan sosok berkemeja yang semakin mendekatinya.

"Sanzo," Suara Hakkai terdengar berat saat memanggilnya. Tak ada sapaan khasnya untuk membuka percakapan. Sanzo berdecak. Ia menengadah. Partnernya menatap dokter itu tajam dan serius.

"Apa yang kau lakukan?" Hakkai bertanya dengan nada pelan dan tenang, namun terdengar menusuk. Sanzo membuka sarung tangan karetnya, lalu bangun dengan enggan.

"Berkebun. Biasa kulakukan tiap pagi," Dokter itu menjawab sekenanya. Hakkai masih menatap Sanzo tajam, seolah pertanyaan darinya belum dijawab dengan tepat oleh Sanzo.

"Bukan itu maksudku,"

"Gojyo ada di dalam. Kau mengobrol sajalah dengannya. Aku sedang sibuk,"

"Sibuk?" Hakkai menggumam. Ia seperti menahan dirinya untuk marah.

"Ada yang salah?"

"Kau tahu apa yang kau lakukan, Sanzo?" Sanzo tersenyum sinis mendengarnya. Ia berkacak pinggang lalu menatap Hakkai tajam.

"Ia pasienku, jadi aku berhak melakukan apapun padanya,"

"Kau sudah kelewatan, Sanzo. Kau bertindak di luar prosedur,"

"Prosedur apa? Aku tak peduli," Sanzo membantah. Hakkai semakin kesal. Ia memang bukan tipe orang yang suka berdebat dengan orang lain, namun sosok di hadapannya itu terlalu keras kepala untuk mendengar perkataan Hakkai. Entah sampai berapa lama lagi ia bisa menahan dirinya.

"Sanzo, kau tahu apa yang tengah terjadi saat ini?" Hakkai masih mencoba mengajaknya berdiskusi. Sanzo tidak terlalu menanggapi, memilih untuk menutup telinganya rapat-rapat dari kenyataan yang ingin Hakkai beberkan. Sanzo kembali mengenakan sarung tangan karetnya lalu melanjutkan pekerjaannya.

"Sanzo!" Hakkai menghentak. Ia mulai kesal. Dicengkramnya lengan Sanzo, menahan rekannya untuk mengacuhkannya.

"Aku tak pernah mengharapkan kedatanganmu! Kau terlalu banyak mencampuri cara kerjaku!" Sanzo menepis cengkraman Hakkai.

Hakkai mulai kehilangan kesabaran. Ia merenggut kerah kaus Sanzo lalu menariknya berdiri. Mata kehijauan Hakkai menatap tajam, menghadapi sepasang manik keunguan dengan riak yang sinis namun tenang. Sorot mata Sanzo begitu menyebalkan. Di saat Hakkai ingin bicara serius pun, Sanzo tak ingin mendengarkannya sama sekali.

"Baiklah," Hakkai mulai menenangkan dirinya. Ia melepas cengkraman tangannya. "Maafkan aku sudah terlalu banyak mencampuri urusan kerjamu. Mulai sekarang aku tak akan ke sini lagi," Nada suaranya dingin. Sanzo tetap tak bereaksi sedikitpun. Ia melipat tangannya, seolah membenarkan setiap ucapan Hakkai.

"Hakkai!" Gojyo berseru sambil berlari ke arah mereka. Situasi memanas itu pun mencair perlahan dengan kehadiran sang penengah di antara mereka. Gojyo melihat wajah dua orang di hadapannya itu nampak muram, sehingga ia menyimpulkan kalau timbul perselisihan di antara mereka.

"Hakkai," Gojyo terengah, namun ia tetap bicara "Biar kujelaskan semua,"

"Tak perlu," Ucap Hakkai dingin. "Aku tak akan mencampuri urusan kalian lagi,"

"Hakkai, tunggu," Gojyo langsung menahan parternya. Ia beralih memelototi Sanzo. Sosok itu melipat tangannya sambil memalingkan wajahnya.

"Sanzo, kau pasti sudah mengatakan hal yang keterlaluan," Tanya Gojyo kesal.

"Ia mau pergi, bukan? Biarkan ia pergi,"

"Baik kalau itu maumu,"

"Tunggu! Hakkai! Sanzo!" Gojyo mulai pusing menengahi perselisihan dua rekannya yang keras kepala itu. "Kita bicarakan ini," Pinta Gojyo. Pria itu menatap Hakkai lalu membungkuk dalam.

"Maafkan aku, Hakkai. Aku sudah membohongimu, " Hakkai terlihat canggung menerima permohonan maaf yang cukup berlebihan itu dari Gojyo.

"Sudahlah, Gojyo," Ujar Hakkai. Sanzo yang menyaksikan asistennya meminta maaf itu malah berdecak kesal.

"Berlebihan. Kita tidak bersalah, bukan,"

"Sanzo!" Tegur Gojyo seketika. "Semua memang berubah kacau. Aku lalai dalam mengawasi Sanzo dan pasien itu,"

"Sudahlah," Hakkai mencoba tersenyum. Gojyo pun beralih menatap Sanzo. Si biang masalah malah memalingkan wajahnya.

"Sanzo, Hakkai kemari ingin membicarakan hal penting. Ini demi kita semua. Pihak organisasi kemungkinan sudah merencanakan sesuatu di luar pengetahuan kita," Gojyo mencoba menjelaskan. Sanzo masih melipat tangannya, berusaha mengacuhkan ucapan asistennya itu. Namun, pada akhirnya pria keras kepala itu pun mau mendengarkan permintaan Gojyo. Ia membuka sarung tangan karetnya.

"Baiklah," Sanzo menjawab enggan. "Aku membersihkan tubuhku dulu," Ia meninggalkan mereka begitu saja, masuk ke pondoknya. Hakkai dan Gojyo memperhatikan kepergian Sanzo. Keheningan tercipta sebentar sebelum Hakkai yang membuka percakapan.

"Pasien itu," Hakkai beralih melihat Goku yang tengah memperhatikan pertengkaran mereka dari jarak beberapa langkah. Goku langsung tertunduk canggung ketika sorot mata Hakkai yang serius bertemu pandang dengannya. Entah kenapa, tatapan itu serasa menakutkan baginya.

"Aku akan menyuruhnya masuk ke kamarnya," Jawab Gojyo. Hakkai mengangguk pelan, membiarkan Gojyo menghampiri pemuda itu lalu membawanya masuk. Hakkai ditinggal sendirian di taman. Ia terdiam sebentar. Beberapa saat kemudian, ia pun menyusul masuk ke pondok.

*

Makan pagi sudah tersaji di atas meja. Tiga orang yang duduk melingkar itu hanya melipat tangannya sambil menatap ke makanan di hadapan mereka tanpa sedikitpun berniat menyentuhnya. Wajah mereka terlihat serius, masing-masing saling menghindari tatapan. Suasana terasa hening dan kaku. Entah sampai berapa lama mereka akan bertahan dalam situasi seperti ini.

Gojyo yang paling tidak betah dengan suasana itu, memilih untuk mengambil sumpit dan lauk lalu menyantapnya. Dua sosok lain memperhatikannya.

"Ayo kita makan dulu," Gojyo menawarkan dengan mulut penuh nasi. Sanzo sedikit berjengit, namun ia sosok kedua yang menyantap makanan. Tak berapa lama, Hakkai ikut mengambil lauk sambil tersenyum simpul melihat dua rekannya itu.

Mereka makan dalam keheningan. Hanya ada suara sumpit dan piring keramik yang saling beradu. Namun, sepertinya tiga pria itu tengah kelaparan, karena lauk yang disediakan di meja itu nyaris habis oleh mereka.

Kucuran air dari keran menggenangi piring kotor. Gojyo membersihkan perabot makan itu sementara Sanzo dan Hakkai masih berada di ruang makan sambil menikmati segelas teh. Mereka berdua sepertinya masih terlibat perang dingin karena tak ada satu pun yang mau mengajak bicara. Sanzo memilih untuk bergelut dengan korannya, sementara Hakkai hanya tertunduk dengan wajah serius.

Entah apa yang terjadi pada mereka saat ini. Padahal ada banyak hal yang ingin mereka sampaikan. Namun mereka seolah ingin menghindari topik pembicaraan, dan memilih untuk sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sebenarnya mereka tahu, kalau mereka terus menerus menghindar, masalah yang lebih besar akan terjadi. Apalagi ini menyangkut keselamatan mereka di organisasi.

Hakkai menghela nafas dalam. Ia melirik Sanzo yang masih sibuk membolak-balik korannya. Sanzo mungkin sebenarnya tidak benar-benar membaca berita di koran. Ia pasti hanya menghindari topik pembicaraan, seperti halnya dirinya. Pada akhirnya, Hakkai duluanlah yang mengalah. Ia membuka percakapan.

"Sanzo," Suara Hakkai terdengar tenang namun dingin. Sanzo tak menjawab panggilannya. Ia masih menyembunyikan dirinya di balik koran. Hakkai tak perlu mengulang panggilannya untuk mendapat respon dari pria itu. Ia pun mengajak bicara Sanzo, tak peduli yang bersangkutan mau mendengarkannya atau tidak.

"Semalam aku bertemu dengan Ukoku," Ungkap Hakkai. "Ia menyampaikan pesan dari Gyokumen Koushu untukmu. Mengenai proyek virus yang harus segera kau selesaikan,"

Hakkai diam, menyediakan jeda bagi ucapannya. Sanzo melipat korannya dan memperhatikan pria itu. Pasti ada hal lain yang ingin Hakkai sampaikan. Kalau hanya hal itu, bisa saja ia mengabari Sanzo lewat telepon.

"Sanzo, kuminta kau jangan main-main dengan misi-mu. Bersikaplah professional, karena organisasi sedang mengawasi kita. Aku rasa Ukoku memiliki rencana tersendiri, dan rencana itu pastinya rencana yang buruk. Kau sudah mengenal sendiri bukan bagaimana sifatnya,"

Wajah Sanzo berubah muram. Ia mengambil cangkir tehnya lalu meminumnya sampai habis. Hakkai hanya memperhatikan, sementara Gojyo yang baru bergabung nampak mencoba sedikit beradaptasi, walau ia tak terlalu menangkap secara keseluruhan apa yang mereka bocarakan.

Ukoku. Gojyo mengenal nama itu sebagai salah seorang anggota penting dalam organisasi. Namun, Sanzo sendiri sepertinya memiliki pengalaman yang buruk dengannya, begitu pula dengan Hakkai sehingga mereka sebisa mungkin menghindari pria itu. Gojyo sendiri belum bertemu dengan Ukoku secara langsung, namun sepengetahuannya Ukoku adalah sosok yang licik dan kejam, yang selalu menggunakan berbagai cara untuk menghancurkan orang-orang di sekitarnya, bahkan dari organisasi sendiri.

"Aku datang kemari karena mengkhawatirkanmu dan Gojyo. Kau tahu sendiri bukan kalau ia sudah bertindak, rencana kita yang akan berantakan. Dan organisasi bisa berbalik menyerang kita?"

Sanzo berdiri. Ia meninggalkan Hakkai sambil membawa korannya. Hakkai tak menahannya, sampai Sanzo mencapai ambang pintu ruang makan.

"Aku akan menginap di sini, mengawasimu agar kau bisa sungguh-sungguh mengerjakan proyekmu," Hakkai menatap tajam Sanzo. Yang bersangkutan hanya memunggunginya. Setelah itu ia pun meninggalkan ruangan sambil berdecak kesal.

Hakkai menghela nafas. Suasana tegang yang terjadi pun perlahan mencair. Gojyo mengambil kursi di samping Hakkai. Ia menyalakan rokok.

"Kau yakin ini cara yang tepat?"

"Kurasa," Hakkai tersenyum simpul. "Lagipula aku tak bisa mengandalkan orang lain lagi untuk mengawasinya," Masih tersenyum, Hakkai beralih menatap Gojyo. Yang bersangkutan memalingkan mukanya mendengar sindiran itu.

"Ya, maafkan aku," Ucap Gojyo sewot. Hakkai tertawa pelan.

"Anggap saja kedatanganku membantumu Gojyo. Aku juga bisa diandalkan dalam bersih-bersih rumah," Gojyo ikut tertawa mendengarnya.

"Baiklah. Bawa kopermu. Aku akan mengantar ke kamar tamu," Hakkai mengangguk. Ia beranjak dari kursinya disusul oleh Gojyo. Mereka berdua meninggalkan ruang makan menuju ke halaman untuk mengambil koper Hakkai yang tertinggal di dalam mobil. Mengobrol akrab, mereka menuju ke salah satu kamar di lorong. Hakkai akan menempati kamar di samping pasien itu. Gojyo memasuki kamar itu terlebih dahulu, sementara Hakkai masih berada di ambang pintu. Hakkai membetulkan letak kacamatanya, menatap serius ruang kamar sang pasien, seolah sedang memikirkan sesuatu. Panggilan Gojyo memecah lamunannya. Wajah seriusnya berubah. Ia membalas panggilan Gojyo sembari memasuki kamarnya.