CHAPTER 2

SAVE ME

.

.

.

Tubuh Yoongi bergetar hebat saat suara dari langkah sepatu itu berhenti tepat disamping tubuhnya. Ekor matanya melirik takut untuk memastikan, dan benar saja sepasang pantofel hitam yang dipadu dengan celana kain warna senada berada tepat di sampingnya. Apakah ia akan berakhir seperti ini? Pelukan Yoongi pada bayi Taehyung mengerat secara tidak langsung. Tidak, ia tidak boleh berakhir seperti ini. Jika saat ini ia tertangkap, maka ia akan memohon pada kakak BaekHyun agar dilepaskan tidak peduli bagaimana caranya. Ia akan memohon pada laki-laki dewasa itu jikalau memang itu cara satu-satunya. Yoongi telah diberi sebuah amanah oleh sahabatnya maka ia akan berusaha bertahan hingga akhir.

"Kumohon, lepaskan kami" cicit Yoongi

Seseorang yang berada di samping Yoongi itupun berlahan mulai turun untuk berjongkok. Dengan gerakan yang pelan dan minim suara, seseorang yang Yoongi yakini laki-laki itu mendekati dirinya. Yoongi takut bukan main saat merasakan pundaknya disentuh oleh laki-laki itu dengan pelan.

"Kumohon" lagi, Yoongi bersuara

"Nona Yoongi, ini aku"

Yoongi menolehkan wajahnya cepat saat hatinya yakin jika itu bukanlah suara NamJoon. Dulu saat berkunjung ke rumah BaekHyun, Yoongi pernah sekali berbicara dengan NamJoon dan suara yang baru saja ia dengar bukanlah suara laki-laki itu. Tubuh Yoongi melemas seketika saat mengetahui siapa orang yang berada di sebelahnya saat ini.

"MyungSoo oppa?"

"Ya, ini aku"

Sebuah helaan nafas lega terdengar dari Yoongi. Perempuan itu senang bukan main ketika mengetahui laki-laki yang berada di sampingnya saat ini adalah salah satu bodyguard BaekHyun yang selalu mengikuti sahabatnya itu kemana-mana. Tapi tak berapa lama kemudian, perasaan Yoongi menjadi was-was. Apakah keberadaan MyungSoo di sini untuk menangkapnya mengingat laki-laki itu bekeja untuk Keluarga Kim.

"Apa oppa akan menangkapku?" tanya Yoongi penuh selidik

"Tidak. Aku mencarimu untuk memberikan ini"

MyungSoo menyodorkan sebuah amplop ukuran sedang kepada Yoongi. Dengan bergetar Yoongi menerima amplop itu dari tangan MyungSoo dan membuka berlahan untuk melihat apa isi dari amplop itu. Mata Yoongi membelalak lebar saat melihat setumpuk uang bersarang di dalam sana.

"Ini-"

"Itu adalah pemberian dari Nona muda sebelum meninggal. Ia tau jika ini akan terjadi, maka dari itu nona muda menitipkan amplop itu kepada ku untuk diserahkan padamu Yoongi. Sekarang pergilah, aku akan membantumu kabur dari sini" jelas MyungSoo panjang lebar

"Apakah ini semua jebakan dari kakak BaekHyun untuk menangkapku?"

Bukannya Yoongi tidak percaya pada pengawal setia BaekHyun ini, namun di situasi seperti ini ia tak bisa mempercayai siapapun. Berbagai kemungkinan bisa terjadi jika saja ia salah mengambil keputusan.

"Aku tau kau tidak akan mempercayaiku dengan mudah. Tapi sekarang fikirkan baik-baik, jikau kau tetap disini kau akan tertangkap. Pergilah dan selamatkan putra Nona BaekHyun, akan ada seorang bertopi merah yang akan menunggumu di depan rumah sakit"

"Bisakah aku mempercayai oppa?"

"Aku melakukan ini dengan mempertaruhkan hidupku"

Lama berfikir, akhirnya Yoongi membulatkan tekadnya dan mengikuti saran dari MyungSoo. Gadis itu bangkit dengan bantuan MyungSoo, dan beberapa detik kemudian Yoongi segera melangkahkan kaki-nya meninggalkan bodyguard sahabatnya itu yang masih berdiri di posisi semula. Yoongi tetap berjalan maju dengan sesekali menoleh, dari kejauhan ia bisa melihat MyungSoo tersenyum kepadanya. Tak ingin di cap tidak tau terima kasih, Yoongi pun membungkukkan badannya pada laki-laki itu, dan selanjutnya gadis itu pergi tanpa menoleh lagi, fokus pada tujuannya kabur dari rumah sakit.

"Hei Kim, kau menemukan perempuan itu?"

MyungSoo membalikkan badan ketika suara yang sangat ia hafal memanggil namanya untuk menanyakan hasil perburuannya. Dibalik pimpinannya itu, MyungSoo bisa melihat pasukan Infinite yang tak lain adalah pasukan keamanan keluarga Kim sedang berkumpul.

"Tidak SungGyu hyung, aku tidak menemukan perempuan itu. Tapi aku melihat sebuah bayangan melintas di sana"

Semua mata yang berada di area parkir itu mengikuti kemana arah telunjuk MyungSoo mengarah. Laki-laki itu menunjuk sebuah lorong kecil yang sebenarnya berlawanan dengan arah perginya Yoongi.

Tanpa merasa curiga sedikitpun, pasukan Infinite mempercayai perkataan MyungSoo begitu saja. Mereka semua berlari ke arah yang ditunjuk oleh anak buah SungGyu itu. Agar tidak menimbulkan rasa curiga kepada anggota Infinite yang lain, MyungSoo akhirnya juga ikut bergabung dengan anggota yang lain untuk mengejar Yoongi.

.

.

~BLIND~

.

.

Setelah berlari dengan sembunyi-sembunyi, akhirnya Yoongi tiba di pintu gerbang rumah sakit. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari orang bertopi merah yang dimaksud oleh MyungSoo tadi, namun Yoongi tidak menemukan seorang pun di tempat itu. Karena takut akan tertangkap jika terlalu lama berada di area rumah sakit, Yoongi pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. 'Aku bisa naik taksi jika orang yang dimaksud MyungSoo oppa itu tidak datang'. Dieratkannya pelukan gadis itu pada si bayi yang ada di gendongannya. Saat ini udara begitu dingin, ia takut jika bayi Taehyung akan kedinginan terlebih lagi Yoongi hanya mengenakan jaket tipis.

Dengan langkah yang tertatih, Yoongi menyusuri trotoar dari rumah sakit. Ia sama sekali tidak tau arah saat ini. Pikirannya terlalu kalut dan tidak bisa berfikir jernih walau sekedar untuk mengetahui arah. Jalanan sangat sepi ketika Yoongi melintas, jangankan sebuah taksi, mobil saja tidak ada yang melintas. Tak sengaja mata Yoongi menangkap keberadaan papan iklan yang terpampang di salah satu gedung tinggi di sekitar rumah sakit itu dan ternyata jam di papan iklan itu menunjukkan pukul 01.33. 'Pantas saja' batin gadis itu.

Lima puluh meter jauhnya Yoongi meninggalkan rumah sakit, tiba-tiba gadis itu merasa sebuah sinar entah dari apa mulai menyinari dirinya. Sinar itu semakin terang detik demi detik, membuat Yoongi membalikkan badan pada akhirnya. Karena sinar dari benda yang Yoongi yakin sebuah mobil itu begitu terang, mau tak mau ia harus menghalaunya dengan telapak tangan. Jantung Yoongi berdetak cepat tatkala seseorang keluar dari mobil itu. Ingin rasanya gadis delapan belas tahun itu mengumpat dalam hati pada sinar yang begitu terang itu karena membuat ia tak bisa melihat siapa yang keluar dari mobil itu. Insting Yoongi yang memang dasarnya selalu waspada membuatnya mundur teratur secara berlahan. Orang itu semakin mendekat dan kaki Yoongi semakin mundur. Dari postur tubuhnya, ia bisa mengetahui jika orang yang mendekat padanya itu adalah seorang laki-laki. Saat jarak mereka semakin dekat dan sinar mobil tak lagi menghalangi, hati Yoongi bersorak begitu gembira kala mengetahui orang yang menghampirinya memakai topi merah.

"Kau gadis yang dimaksud MyungSoo?" tanya laki-laki itu sambil memicingkan mata

"Ya benar, itu aku" ujar Yoongi lirih

.

.

~BLIND~

.

.

"Apa kalian berhasil menemukannya?"

NamJoon bertanya dengan begitu dinginnya pada pasukan Infinite yang sudah berjajar rapi di hadapannya. Wajahnya mengeras begitu saja saat si ketua pasukan mengucapkan kata 'maaf' kepadanya. Emosi NamJoon meledak begitu saja, tanpa rasa belas kasihan laki-laki itu menendang satu persatu para bodyguard yang berada di hadapannya. Sebuah senyum kepuasan terukir jelas tatkala laki-laki itu mendapati pasukan keamanan milik keluarganya tergeletak dengan menahan sakit. NamJoon membayar mahal pada mereka namun ia hanya mendapat kata maaf saat ini? Cih, sungguh tidak tau diri sekali.

"Hoseok-ah"

Laki-laki yang disebut namanya oleh NamJoon itu mendekat. Tak lupa ia juga memberikan salam kepada laki-laki yang lebih berkuasa dari dirinya itu. Kalian bertanya siapa itu Hoseok? Ah, dia adalah sekretaris pribadi NamJoon. Segala sesuatu pekerjaan NamJoon akan di handle oleh laki-laki muda itu jika si tuan berhalangan mengerjakannya. Umurnya memang masih dua puluh dua tahun, tiga tahun lebih muda dari si tuan, namun di umurnya yang begitu muda ia sudah banyak memegang begitu banyak rahasia dari NamJoon. Tak heran jika ia sangat dipercaya oleh NamJoon walau masih satu tahun bekerja pada laki-laki itu.

"Kau tau bukan apa yang harus kau lakukan?" desis NamJoon

"Ya tuan"

"Lakukan sesuai rencana dan pastikan pekerjaanmu dilakukan dengan bersih. Cari juga perempuan yang membawa kabur anak BaekHyun"

"Saya mengerti tuan"

"Bagus"

Setelah memastikan semua pekerjaan yang harus dilakukan Hoseok akan terlaksana dengan baik, NamJoon pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Pasukan Infinite yang tadinya tergeletak kini kelabakan untuk bangkit dan menyusul tuannya itu karena tak ingin mendapat amukan yang lebih. Sementara Hoseok, laki-laki muda itu berjalan berlawanan arah dengan NamJoon untuk melaksanakan tugasnya.

.

.

~BLIND~

.

.

Bayi Taehyung yang tadinya tenang dalam gendongan Yoongi kini mulai terbangun dan menggeliat gelisah. Yoongi yang sedari kecil tinggal di panti asuhan dan sering mengurus anak kecil kini hanya dapat menimang Taehyung agar bayi itu sedikit tenang. Ia ingat betul Taehyung belum sekalipun menicipi ASI ibunya saat baru dilahirkan tadi, kemungkinan besar Taehyung tengah lapar saat ini.

"Kelihatannya dia lapar"

Yoongi menolehkan kepalanya ketika suara laki-laki yang sedang mengemudi di sebelahnya menyapa pendengarannya. Gadis itu hanya mengulum senyum saja karena gugup.

"Kurasa juga begitu" kata Yoongi pada akhirnya

"Kalau begitu susui saja dia"

"A-apa?"

Mendadak suara Yoongi begitu gugup. Mengerti jika perempuan di sebelahnya gugup karena pernyataannya yang mungkin terlalu frontal, laki-laki itu berdeham dan membenahi topi merahnya yang sebenarnya baik-baik saja.

"Aku tak akan melihat. Susui saja dia. Bayi itu terlihat kelaparan"

"Hah?"

"Kau ini bodoh atau apa? Aku tau kau masih kecil, tapi kau tak sebodoh itu bukan untuk membiarkan anakmu kelaparan?"

"Masalahnya… aku tidak bisa melakukannya" ujar Yoongi takut-takut

"Kenapa? Kau takut jika pa-"

"Bukan itu" sela Yoongi cepat

"Lalu"

"Anak ini bukan anakku"

CKIIIT…..

Mobil yang mereka tumpangi berhenti begitu saja saat si pengemudi menginjak rem dengan mendadak. Mata Yoongi membulat menatap laki-laki di sebelahnya, tidak tahukah jika tindakan yang dilakukannya itu berbahaya? Kalau saja Yoongi tidak memakai sabuk pengaman, mungkin kepalanya sekarang sudah mencium dashboard mobil dan Taehyung bisa saja terlepas dari gendongannya.

"Maaf, aku terkejut. Kau berhutang penjelasan kepadaku"

Tercipta kecanggungan di antara mereka. Yoongi menundukkan kepalanya dan si laki-laki menjilat bibirnya yang kering. Tak ingin kecanggungan diantara mereka berdua lebih berlanjut, si laki-laki melajukan kembali mobilnya. Yoongi memilih menatap jalanan saat Taehyung kembali tenang di gendongannya. Sebenarnya ia ingin sekali banyak bertanya pada orang di sebelahnya, tapi mengingat mereka tidak saling mengenal maka Yoongi mengurungkan niatnya.

Setelah perjalanan yang begitu panjang, mobil yang ditumpangi gadis itu berhenti di sebuah supermarket yang buka dua puluh empat jam. Laki-laki yang tadi mengemudi itu turun tanpa mengucapkan sepatah katapun. Yoongi menghela nafas sejenak, tangannya yang bebas mengelus pipi gembil milik Taehyung dengan sayang. 'Bertahanlah sayang, aku akan melindungi mu bagaimana pun caranya'.

Lama menunggu, akhirnya laki-laki yang bersama Yoongi tadi kembali ke arah mobil. Yoongi bisa melihat laki-laki itu menenteng satu kantong penuh tas plastic di tangan kanannya dan sebuah botol kecil yang tak Yoongi ketahui pada tangan kirinya. Pintu mobil dibuka dan laki-laki itu menyerahkan botol yang ada di tangan kirinya tadi kepada Yoongi. Sejenak mengamati apa isi botol tersebut, akhirnya Yoongi meraihnya saat menyadari itu adalah sebuah susu formula.

"Kuharap bayi itu tetap baik-baik saja walau dengan susu formula" kata laki-laki itu sambil mengamati bayi Taehyung

"Terima kasih"

"Berapa usiamu? Kau tampak seperti masih di bangku sekolah"

"Aku baru delapan belas tahun, tapi aku sudah lulus"

"Oh, kau tiga tahun lebih muda dariku. Siapa namamu?"

"Aku Min Yoongi"

"Nama yang bagus. Aku Park Jimin"

"Oppa juga" lirih Yoongi hampir mendekati sebuah bisikan

Mendengar dirinya di sebut dengan panggilan oppa, laki-laki bernama Jimin itu hanya tersenyum samar dan kembali menjalankan mobilnya membelah jalanan Kota Seoul yang sepi menjelang pagi.

.

.

~BLIND~

.

.

Hari sudah berganti menjadi pagi dan SeokJin baru saja terbangun dari tidurnya. Ia menatap ke sekitar, ia berada di ruang tamu saat ini. Ah, rupanya ia ketiduran saat menunggu NamJoon pulang semalam. SeokJin segera bangkit dari tempatnya berada saat ini dan hendak pergi menuju kamar, jam sudah menunjukkan pukul tujuh dan ayah mertuanya pasti sudah bangun saat ini. Dengan tangan yang sibuk mengikat rambut, tak sengaja perempuan itu menangkap siluet seorang laki-laki paruh baya sedang duduk di ruang keluarga menonton televise. Walaupun penampilannya masih berantakan, SeokJin memutuskan untuk menyapa ayah mertuanya terlebih dahulu. Akan sangat terlihat tidak sopan jika ia berlalu pergi begitu saja padahal ayah mertuanya pasti bisa melihat pantulan dirinya yang berjalan lewat cermin besar yang terpasang di kedua sisi televise.

"Selamat pagi appa"

Laki-laki itu tetap diam dan masih terfokus pada televise saat SeokJin menyapanya. Tidak biasanya ayah mertuanya akan mengabaikan SeokJin seperti ini. Dengan dahi yang mengkerut, perempuan itu mengikuti kemana arah pandangan ayah mertuanya. Tak ada yang salah dengan arah pandangan laki-laki baruh baya itu saat menonton televise, namun kesadaran SeokJin benar-benar terkumpul sempurna saat mendengar berita yang disiarkan oleh saluran televise yang ditonton oleh ayah mertuanya.

Berita Terkini

Kabar mengejutkan datang dari keluarga tersohor pemilik Kim Corp. Putri dari pemilik Kim Corp yang tidak lain adalah Kim BaekHyun hari ini dilaporkan meninggal dunia akibat pendarahan yang dialaminya setelah melahirkan. Bukan itu saja, anak yang baru saja dilahirkan oleh Kim BaekHyun tersebut kabarnya diculik oleh seorang sahabat dekatnya yang saat ini diketahui berinisial MY. Jung DaeHyun yang merupakan suami dari Kim BaekHyun berusaha mengejar penculik tersebut namun naas, dirinya justru tertembak oleh si penculik dan akhirnya meninggal dunia sebelum berhasil diselamatkan oleh tim medis.

Menurut keterangan yang diberikan oleh sekretaris Keluarga Kim, pihak keluarga saat ini sedang memburu si penculik yang diduga masih bersembunyi di Kota Seoul. Belum diketahui apa motif dari penculikan bayi Keluarga Kim ini, namun dugaan polisi sementara tujuan pelaku menculik bayi adalah untuk diperjualbelikan. Berikut ini adalah hasil wawancara eksklusif kami dengan sekretaris Keluarga Kim

"Kami sedang berupaya menangkap pelaku saat ini agar Nona BaekHyun dan suaminya bisa beristirahat dengan tenang. Mohon bantuan dari semua pihak"

Sekian yang dapat kami laporkan. Saya reporter Ong SeongWoo dan cameramen Kang Daniel melaporkan dari tempat kejadian.

SeokJin tak lagi dapat menutupi rasa terkejutnya setelah melihat berita tersebut. Apa yang reporter itu bilang? Adik iparnya BaekHyun dan juga suaminya meninggal? Jadi ini semua yang direncanakan suaminya selama ini? Benar-benar tidak bisa dipercaya.

"SeokJin-ah, katakana pada appa jika semua yang diberitakan itu adalah omong kosong belaka"

Perempuan itu menoleh saat mendengar suara ayah mertuanya. Diraihnya tangan laki-laki ringkih yang duduk di kursi roda itu dan mengusapnya secara berlahan. SeokJin tak tahu harus melakukan apa saat ini. Memberitau ayah mertuanya apa yang sebenarnya terjadi hanya akan memperburuk suasana, apalagi di dalam perutnya ada sebuah nyawa yang harus ia lindungi. Dengan air mata yang berurai, perempuan itu memeluk ayah mertuanya. Mereka berdua sama-sama menangis meratapi nasib buruk yang menimpa BaekHyun dan juga Daehyun. 'Tuhan, kumohon maafkan aku' batin SeokJin.

CKLEK

Pintu utama mansion Keluarga Kim terbuka dengan nada yang kasar. SeokJin menolehkan wajahnya dan ia bisa melihat NamJoon berjalan dengan tergesa diikuti para bodyguard di belakangnya. Laki-laki itu sempat berhenti sejenak menatap dirinya dan juga ayahnya, sebelum akhirnya melanjutkan jalannya menuju kamar mereka.

"Sebentar appa, aku akan berbicara dengan NamJoon"

Dengan kasar perempuan itu menyeka air matanya yang tertinggal dan mengikuti kemana perginya NamJoon. Diputarnya knop pintu kamar dan menutupnya dengan pelan. SeokJin dapat melihat suaminya tengah menatap langit dari balkon mereka saat ini. Dihampirinya NamJoon dengan langkah yang pelan dan SeokJin memberanikan diri menepuk pundak lelaki itu pada akhirnya. NamJoon berbalik.

"Apa ini semua rencanamu?" buka SeokJin to the point

"Kau ingin jawaban jujur atau bohong?" bukannya menjawab NamJoon justru balik bertanya

"Katakan dengan jujur NamJoon-ah"

"Awalnya ini memang rencanaku, tapi tidak semuanya berjalan mulus"

"Dimana anak BaekHyun saat ini? Bukankah penculikan itu hanya sebuah alibi"

"Kecilkan suaramu jika tak ingin appa mendengarnya dan terkena serangan jantung"

NamJoon menatap istrinya yang menunduk itu dengan lekat. Diraihnya pundak SeokJin dan sedetik kemudian NamJoon memeluk perempuan itu. Tangannya dengan kasar mengusap punggung SeokJin tidak sabaran. Mengerti dengan gelagat NamJoon yang tidak biasa, perempuan itu menggeliat untuk melepaskan diri hingga akhirnya berhasil terlepas dari pelukan suaminya.

"Dimana anak BaekHyun saat ini?" SeokJin berujar dengan hati-hati

"Aku tidak tau. Penculikan itu- ah tidak, anak BaekHyun dibawa kabur oleh sahabatnya"

"Lalu BaekHyun? Kau membunuhnya kan?" tuduh SeokJin

"Aku memang menembak DaeHyun, tapi tidak dengan BaekHyun. Dia benar-benar mengalami pendarahan"

"Apa aku bisa mempercayaimu?"

"Lihat mataku Kim SeokJin!"

SeokJin menatap dalam mata kelam NamJoon, berusaha menemukan kebohongan yang mungkin saja baru dilontarkan oleh suaminya itu. Tapi nihil, tak ada sirat kebohongan di mata laki-laki itu. Entah dorongan dari mana, mendadak NamJoon mendekatkan wajahnya ke wajah SeokJin. Sadar akan mendapatkan serangan dari suaminya, segera saja perempuan itu memalingkan wajahnya, menyebabkan bibir NamJoon hanya dapat mencium pipi istrinya.

"Kau menolakku?" desis NamJoon

"Tidak. Aku tidak bisa NamJoon-ah"

"Kenapa?"

Langkah NamJoon maju selangkah, mengakibatkan langkah SeokJin mundur selangkah untuk menghindari suaminya itu. Bukannya ia menolak keinginan sumaninya, tapi ia….

"Aku-"

"Kau kenapa? Katakan!"

"Aku… hamil"

.

.

.

TBC

A/N :

Annyeong…

Ada yang masih ingat dengan cerita ini? Gak ada ya? Ya udah :v

Aku bener-bener kelamaan kayaknya buat lanjutin cerita ini :D

Semoga kalian suka ajalah.

Don't forget to review readers-deul

See you on next chap ^_^