CHAPTER 3

WHO YOU

.

.

.

Setelah sekian lama mengendarai mobil-nya, akhirnya mobil Jimin memasuki sebuah pekarangan rumah dan si pemilik pun memarkirkan harta bendanya itu tak lama kemudian. Jimin yang tak lain adalah si pengemudi segera melepaskan sabuk pengamannya untuk turun. Kepalanya menoleh ke samping, melihat seorang gadis muda yang masih terlelap dalam mimpinya bersama bayi di gendongannya. Laki-laki itu sempat berfikir sejenak, haruskah ia bangunkan atau tidak Yoongi ini. Gadis itu terlihat pulas sekali ketika tidur, mungkin juga karena kelelahan. Sebenarnya Jimin bisa saja menggendongnya tapi ia juga memikirkan bayi yang di gendong gadis itu. Bayinya pasti bisa jatuh, atau jika Jimin memindahkannya terlebih dahulu bayi itu pasti akan bangun. Oh, Jimin masih tau waktu untuk tidak membuat kebisingan di hari yang masih sangat pagi ini.

Dengan memikirkan matang-matang, pilihan Jimin pun jatuh untuk membangunkan Yoongi. Ditepuknya pelan pipi pucat gadis itu, berharap Yoongi akan bangun. Gadis itu menggeliat pelan saat tepukan kelima dari Jimin. Kelopak matanya yang semula tertutup kini berlahan mulai membuka walau sesekali menyipit untuk menyesuaikan dengan sinar matahari.

"Ini dimana?"

Satu pertanyaan yang sudah Jimin tebak kini terlontar dari bibir Yoongi. Jimin hanya menghela nafas sejenak lalu tangannya mulai membuka pintu mobil dan keluar dari sana.

"Kita ada di rumahku. Ayo turun!"

Fikiran Yoongi yang masih kosong dan kesadarannya yang belum terkumpul sepenuhnya itu membuat Yoongi menuruti perkataan Jimin begitu saja. Gadis itu mengekori si lelaki untuk berjalan menuju pintu rumah. Sesekali matanya menelisik keadaan sekitar untuk mencari tau tempat seperti apa yang akan tinggali saat ini.

Disamping kanan dan kiri rumah Jimin juga terdapat rumah dengan bentuk yang hampir sama namun lebih besar. Kelihatannya Jimin tinggal di sebuah kompleks perumahan untuk masyarakat ekonomi dengan kelas menengah ke bawah.

Saat Jimin berhasil membuka pintu rumahnya, mereka berdua pun memasuki bangunan minimalis itu secara berurutan. Mata Yoongi terbuka lebar dan bibirnya sedikit terbuka ketika mengetahui kondisi di dalam rumah Jimin. Banyak pakaian tersampir di sandaran sofa, beberapa botol soju tergeletak di bawah meja dan banyak bungkus makanan yang tersebar di lantai rumahnya. 'Astaga'

"Em, maaf jika rumahku berantakan. Kau tau bukan jika aku laki-laki dan tinggal sendirian"

Jimin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal setelah menjelaskannya pada Yoongi. Merasa malu? Tidak juga. Jimin sudah menjalani ini selama empat tahun, jadi ia merasa wajar saja jika hal seperti ini terjadi. Bahkan laki-laki lain yang jauh lebih parah dibanding Jimin jika urusan mengurus rumah.

"Tak masalah oppa. Aku bisa membantu oppa membersihkan rumah nanti" Yoongi mencoba maklum

"Apa?"

"Aku harap Jimin-ssi tak keberatan ku panggil oppa. Akan canggung rasanya jika aku memanggil dengan panggilan formal"

"Terserah kau saja"

"Baiklah"

"Aku akan mencoba untuk mengurangi minum soju karena ada bayi di rumah ini"

"Kurasa itu ide bagus. Aku akan segera mencari tempat tinggal setelah keadaan aman"

"Kau akan mencari tempat tinggal? Kau bisa tinggal disini selama yang kau mau"

Astaga Jimin, apa yang barusaja kau katakan? Jimin benar-benar mengutuk perkataannya. Bagaimana ia bisa menyuruh seorang gadis yang baru lulus sekolah tinggal bersamanya sementara ia tak ada hubungan dengan gadis itu. 'Jimin bodoh'

"A-aku rasa aku tak bisa selamanya bergantung pada oppa"

"Ah iya"

Hening. Tak ada lagi pembicaraan di antara mereka berdua. Jimin memilih memunguti pakaiannya yang berserakan sementara Yoongi sibuk menimang Taehyung di gendongannya.

"Di rumah ini ada dua kamar. Kau bisa gunakan kamar yang di sebelah kanan"

Tanpa mengalihkan perhatiannya terhadap pakaian yang sedang ia punguti, Jimin berujar pada Yoongi. Gadis itu mengagguk paham dan pamit untuk menidurkan Taehyung sebentar. Jujur saja tangan Yoongi benar-benar pegal karena harus menggendong Taehyung kurang lebih hampir enam jam lamanya.

Diletakkannya bayi Taehyung secara berlahan di tempat tidur yang lumayan bersih itu. Walaupun tidak pernah digunakan, nampaknya Jimin merawat kamar-kamar dirumahnya dengan baik. Taehyung menggeliat pelan dalam tidurnya, membuat Yoongi tersenyum tipis. Sebelum ia tertidur tadi, ia sempat memberikan susu lagi kepada Taehyung sehingga bayi itu kini tidur pulas. 'Kau akan aman sayang. Percayalah pada eomma'

Yoongi memilih beranjak dari kamar tersebut setelah memastikan bahwa Taehyung tak akan terbangun untuk beberapa jam kedepan. Ketika dirinya keluar dari kamar, ia melihat Jimin sudah duduk di depan televise sambil memegang setoples keripik. Yoongi yang bingung harus melakukan apa akhirnya memilih untuk membuatkan minuman untuk mereka berdua. Ia berjalan ke arah dapur yang kebetulan memang terlihat dari depan kamar. Ia akan membuatkan minuman untuk Jimin, setidaknya itu yang dapat ia lakukan untuk berterima kasih saat ini.

Setibanya di dapur, Yoongi membongkar hasil belanjaan Jimin semalam. Rupanya laki-laki itu membeli banyak makanan cepat saji seperti ramen, beberapa kaleng bir dan juga sirup. Ah, benar-benar seorang lelaki yang tidak menjaga pola makannya. Setelah menimang-nimang minuman apa yang akan ia sajikan, Yoongi pun memilih untuk membuatkan sirup. Cuaca sekarang sedang panas jadi akan sangat cocok minum sesuatu yang segar.

Dua gelas sirup sudah selesai ia buat dalam waktu singkat. Gadis itu meletakkannya dalam nampan yang ia temukan di rak piring dan membawanya berjalan ke tempat Jimin. Ketika melintasi dinding yang terpasang berbagai foto laki-laki itu, perhatian Yoongi tercuri oleh sebuah foto yang nampak usang. Yoongi memperhatikannya dengan seksama dan foto itu rupanya pernah terbakar. Dalam foto tersebut, Jimin tengah berada di sebuah taman hiburan bersama dua orang dewasa yang Yoongi yakini adalah kedua orang tua Jimin.

"Kenapa foto ini terbakar?"

Jimin menoleh ke belakang saat mendengar suara Yoongi. Ia hanya tersenyum tipis ketika tau foto yang dimaksud oleh gadis muda itu. Perhatiannya pun kembali pada televise yang sedang menayangkan berita eksklusif di pagi hari.

"Rumahku yang dulu pernah kebakaran dan itu satu-satunya benda yang selamat" jelas Jimin

"Oh. Ini orang tua oppa bukan? Dimana mereka?" tanya Yoongi penasaran

"Mereka sudah meninggal empat tahun lalu"

Seketika itu juga pandangan Yoongi teralihkan pada Jimin. Astaga, ia sudah membuat kesalahan. Seharusnya ia tak menanyakan ini, apalagi ia bukan siapa-siapa di rumah Jimin.

"Maaf, tak seharusnya aku banyak bertanya" ucap Yoongi tulus

Gadis itu melanjutkan langkahnya ke tempat Jimin duduk tak berapa lama kemudian. Ditaruhnya dua gelas berisi sirup segar yang ia buat dan menyerahkannya satu pada Jimin. Tak lupa, ia pun juga ikut duduk di samping Jimin setelahnya karena bingung harus mengerjakan apa.

"Cuacanya panas, jadi aku buatkan sirup"

"Terima kasih"

"Sama-sama. Kalau aku boleh tau oppa bekerja dimana saat ini?" Yoongi mencoba basa-basi

"Sebenarnya aku tak memiliki pekerjaan. Aku hanya membantu temanku dan di bayar ketika berhasil menyelesaikannya"

"Bagaimana oppa bisa mengenal MyungSoo oppa?" lagi, Yoongi mengintrogasi

"Ah, hyung itu. Aku pernah di tolong olehnya dulu"

Yoongi hanya ber-Oh ria mendengar penuturan Jimin. Kini pandangannya ikut teralih pada televise di hadapannya. Kelihatannya sebuah berita penting sedang di sampaikan, Yoongi pun membenarkan duduknya guna ikut menyimak.

Berita Terkini

Kabar mengejutkan datang dari keluarga tersohor pemilik Kim Corp. Putri dari pemilik Kim Corp yang tidak lain adalah Kim BaekHyun hari ini dilaporkan meninggal dunia akibat pendarahan yang dialaminya setelah melahirkan. Bukan itu saja, anak yang baru saja dilahirkan oleh Kim BaekHyun tersebut kabarnya diculik oleh seorang sahabat dekatnya yang saat ini diketahui berinisial MY. Jung DaeHyun yang merupakan suami dari Kim BaekHyun berusaha mengejar penculik tersebut namun naas, dirinya justru tertembak oleh si penculik dan akhirnya meninggal dunia sebelum berhasil diselamatkan oleh tim medis.

Menurut keterangan yang diberikan oleh sekretaris Keluarga Kim, pihak keluarga saat ini sedang memburu si penculik yang diduga masih bersembunyi di Kota Seoul. Belum diketahui apa motif dari penculikan bayi Keluarga Kim ini, namun dugaan polisi sementara tujuan pelaku menculik bayi adalah untuk diperjualbelikan. Berikut ini adalah hasil wawancara eksklusif kami dengan sekretaris Keluarga Kim

"Kami sedang berupaya menangkap pelaku saat ini agar Nona BaekHyun dan suaminya bisa beristirahat dengan tenang. Mohon bantuan dari semua pihak"

Sekian yang dapat kami laporkan. Saya reporter Ong SeongWoo dan cameramen Kang Daniel melaporkan dari tempat kejadian.

PRANG….!

Gelas yang tadinya berada di tangan Yoongi kini telah jatuh dan menyisakan serpihan kaca di lantai. Jimin menoleh kaget ketika gadis di sebelahkan menjatuhkan gelas tepat setelah berita di televise disiarkan.

"Kau kenapa?" tanya Jimin panik

"Andwe"

"Hei Yoongi"

Laki-laki itu mencoba menepuk pipi si gadis agar kesadarannya kembali. Yoongi masih mematung dan air mata gadis itu berlahan justru meluncur deras, membuat Jimin semakin panik. Bingung harus melakukan apa, laki-laki itu pun segera meletakkan gelasnya di atas meja lalu merengkuh Yoongi dalam pelukannya. Di tepuknya pelan punggung gadis muda itu, berharap tangisannya sedikit mereda.

"Hei, kau kenapa" lagi-lagi Jimin bertanya

"B-Baekhyun dan Daehyun" jawab Yoongi di tengah tangisannya

"Iya, mereka adalah anak dan menantu Keluarga Kim yang terkenal itu. Kau mengenalnya?"

"Mereka…." Yoongi menjawab dengan terputus

"Siapa?"

"Mereka berdua adalah orang tua Taehyung"

.

.

~BLIND~

.

.

TOK

TOK

TOK

Seorang laki-laki yang mengenakan kemeja rapi terlihat mengetuk sebuah pintu bangunan yang di depannya tertulis 'PANTI ASUHAN ALWAYS'. Laki-laki itu menunggu dengan sabar hingga dua puluh detik kemudian daun pintu yang diketuknya dibuka oleh seorang perempuan tua.

Perempuan tua itu nampak mengernyit bingung melihat kedatangan seorang lelaki muda berpakaian rapi di hari yang masih pagi ini. Tak mau membuat si perempuan tua semakin bingung, si laki-laki itu pun menunduk guna memberi salam lalu memperkenalkan diri.

"Annyeonghaseo ahjumma. Maaf aku bertamu sepagi ini. Namaku Jung Hoseok"

Hoseok tersenyum di akhir setelah menuntaskan kalimatnya. Perempuan tua itu hanya mengangguk kemudian mempersilakan Hoseok untuk masuk ke dalam. Mata Hoseok menelisik seisi panti asuhan sepanjang jalan yang ia lewati. Panti ini nampak begitu tua dari bangunannya, mungkin lebih tua dari umurnya saat ini. Di berbagai sudut ruangan yang dilewatinya banyak terdapat mainan anak kecil dan juga meja-meja kecil yang biasa digunakan untuk pembelajaran.

Setelah beberapa lama menelurusi panti, akhirnya Hoseok tiba di ruangan kepala panti asuhan, ia melihat tulisan itu di depan pintu tadi. Ah, rupanya perempuan tua di hadapannya ini adalah kepala panti asuhan.

"Ada apa kau kemari nak?"

"Aku ingin mencari informasi mengenai Min Yoongi ahjumma"

"Ah, Yoongi. Tunggu sebentar"

Tak berapa lama, perempuan itu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri salah satu lemari besar yang berada di ruangan tersebut. Dirinya tampak mencari-cari salah satu buku yang disimpan dalam lemari itu. Sambil menunggu, Hoseok memilih untuk mengecek ponselnya. Sudah jam tujuh tiga puluh rupanya, itu berarti sudah hampir tiga jam lamanya ia mengelilingi Seoul untuk menjalankan tugas tuannya.

Ketika matahari belum terbit tadi Hoseok sudah pergi ke kantor dewan pers dan mengadakan konferensi pers sesuai perintah NamJoon untuk mengklarifikasi kematian Daehyun dan juga nona muda-nya. Setelah itu Hoseok pergi ke pusat ruang CCTV rumah sakit guna menelusuri keberadaan perempuan bernama Yoongi itu, namun hasilnya nihil. Yoongi hanya tertangkap kamera meninggalkan rumah sakit dengan berjalan kaki dan jejaknya hilang setelah itu. Tak ingin membuang waktu, Hoseok pergi ke sekolah gadis itu setelahnya untuk mencari informasi pribadi Yoongi, namun hasil yang ia dapatkan sungguh nihil. Ruang arsip yang digunakan untuk menyimpan data siswa di sekolah tersebut mengalami kebocoran genteng yang mengakibatkan beberapa arsip rusak, termasuk foto terbaru Yoongi yang bisa Hoseok gunakan untuk menjadikan gadis itu sebagai DPO.

"Yoongi sudah keluar dari panti asuhan ini beberapa bulan lalu setelah lulus sekolah"

Atensi Hoseok kini teralih pada perempuan tua tadi yang kini sudah duduk di hadapannya. Hoseok sungguh berharap ia akan menemukan satu petunjuk saja dari keberadaan gadis itu atau ia akan menerima amukan dari NamJoon.

"Ia sudah lama tinggal disini ahjumma?" Hoseok mulai bertanya

"Ia tinggal di sini sejak lahir. Aku menemukannya di depan pintu panti asuhan delapan belas tahun lalu"

'Oh, jadi gadis itu sudah tinggal di panti ini sejak bayi dan tidak pernah mengetahui siapa orang tuanya?' Hoseok mengangguk paham dengan penuturan perempuan tua di hadapannya itu. Perempuan tua itu menyodorkan sebuah buku usang ke hadapan Hoseok saat ini. Itu adalah buku yang berisi informasi seorang Min Yoongi. Hoseok membaca catatan itu dengan seksama namun tidak ada informasi detail yang bisa ia temukan.

"Apa ahjumma tau dimana tempat tinggal Min Yoongi saat ini? Atau seseorang teman yang sangat akrab dengan dia?"

"Gadis itu tidak pernah menjawab saat aku menanyainya tinggal dimana, tapi kelihatannya dia masih tinggal di Seoul karena Yoongi sering berkunjung kemari. Untuk teman, Yoongi tak pernah punya teman selain Daehyun dan seseorang yang ku tau bernama Baekhyun"

Lagi, Hoseok mengangguk paham.

"Bolehkah aku meminta foto Min Yoongi ahjumma?"

"Barang-barangnya sudah dibawa semua olehnya ketika pindah. Aku hanya punya foto ketika dia masih di Junior High School"

"Bisa kulihat?"

Perempuan itu membuka laci mejanya dan mengambil selembar foto dari dalamnya. Ketika Hoseok melihatnya, ia melihat seorang gadis cantik yang seumuran dengan adiknya tengah tersenyum ke arah kamera.

"Apakah wajah Yoongi banyak berubah dibanding foto ini?"

"Tentu saja dia banyak berubah. Dia menjadi lebih cantik"

Jika seperti ini, maka foto yang dipegang Hoseok sekarang tidak akan berguna. Wajahnya agak berbeda dan hanya akan memakan waktu lama jika Hoseok menggunakan foto JHS Yoongi untuk mencari gadis itu.

Merasa tak ada lagi yang harus ditanyakan, Hoseok pun mengembalikan foto itu dan berpamitan pada si perempuan tua. Mereka saling memberi hormat dan Hoseok pergi meninggalkannya beberapa waktu kemudian.

"Chogiyo"

Tangan Hoseok yang sudah memegang knop pintu kini terhenti saat perempuan itu memanggil dirinya. Demi sopan santu, Hoseok pun berbalik.

"Ne ahjumma"

"Siapa kau sebenarnya dan kenapa kau mencari Yoongi?"

Laki-laki itu terdiam beberapa saat dengan ekspresi wajah yang datar dan terkesan menakutkan, membuat si kepala panti menautkan jari jemarinya dengan cemas.

"Aku Jung Hoseok ahjumma dan aku hanya diperintahkan oleh seseorang untuk mencari informasi pribadi Min Yoongi"

"Siapa itu? Siapa yang menyuruhmu?"

"Maaf ahjumma. Kurasa itu sebuah privasi"

Tepat setelah Hoseok menjawab, laki-laki itu memutar knop pintu dan berjalan keluar dari sana. Si perempuan tua itu menghela nafas tidak tenang. 'Apa Yoongi telah melakukan sesuatu yang salah?'.

.

.

~BLIND~

.

.

Iring-iringan mobil yang panjang tampak melintasi jalanan Kota Seoul saat hari menjelang siang. Beberapa audi hitam nampak saling berlomba menginjak gas nya agar bisa segera sampai ketempat yang mereka tuju.

Ya, yang sedang melintas saat ini adalah iring-iringan mobil dari Keluarga Kim. Keluarga yang tersohor itu sekarang tengah menuju ke area pemakaman untuk mengantar Baekhyun dan suaminya ke peristirahatan terakhir mereka.

Di salah satu mobil audi yang melintas tersebut, NamJoon dan SeokJin berada di dalamnya. Setelah perdebatan kecil mereka tadi pagi, NamJoon dan SeokJin memutuskan untuk saling diam, atau lebih tepatnya SeokJin lah yang mendiamkan NamJoon.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" itu suara NamJoon

"…"

"Tak apa, kau pulanglah ke mansion saja untuk saat ini. Tak ada yang perlu dikhawatirkan saat ini karena gadis itu juga belum bertindak. Pastikan kau tetap mencari informasinya"

"…"

PIP

NamJoon memutuskan sambungan telefonnya lalu memasukkan ponsel miliknya itu ke dalam saku jas. Kepalanya menoleh ke samping setelahnya, ke arah SeokJin duduk. Istrinya itu kini tengah diam menatap setiap isi jalanan yang mereka lewati saat ini. Setelah SeokJin menolak NamJoon pagi tadi dan memberitau perihal kehamilannya, perempuan yang masih cukup muda itu memilih diam. Bahkan SeokJin terkesan menghindari NamJoon saat ini.

Karena NamJoon adalah suamniya, maka laki-laki itu memilih untuk memulai terlebih dulu. Digenggamnya pelan tangan SeokJin yang terpangku di atas pahanya dengan pelan, namun tangan NamJoon justru di tepis kasar oleh istrinya itu. NamJoon menatap SeokJin marah.

"Jangan sentuh aku" ujar SeokJin datar

"Kim SeokJin"

Perempuan itu tetap diam saat NamJoon memanggil namanya, membuat kesabaran laki-laki itu kini menguap dan habis terkikis. Ditariknya kasar pundak perempuan itu yang mana berhasil membuat pandangan SeokJin beradu dengan mata kelam NamJoon yang menakutkan.

"Setelah kau menolakku sekarang kau ingin menghindari ku?" laki-laki itu mendesis

"NamJoon" lirih SeokJin mencoba memohon

"Aku suami mu Kim SeokJin. SU-A-MI. ingat itu baik-baik"

Tubuh SeokJin terhempas hampir menabrak jendela mobil ketika NamJoon menghempasnya begitu kasar. Perempuan itu hanya menatap sedih suaminya. Kenapa NamJoon begitu berubah saat ini. SeokJin tak dapat melihat NamJoon yang dulu ia cintai. Yang ia lihat setiap hari saat ini hanya NamJoon yang buta akan kekuasaan dan berlaku kasar kepadanya saat lelaki itu sudah lelah.

"Jangan sentuh aku untuk saat ini Namjoon. Aku tak ingin disentuh oleh tangan yang sudah membu-"

"TUTUP MULUT MU KIM SEOKJIN!"

Mata SeokJin terpejam erat mendengar bentakan suaminya itu. Bahkan MyungSoo yang kebetulan menyetir mobil mereka saat ini ikut berjengit kaget oleh bentakan NamJoon.

Wajah laki-laki itu mengeras. Di dekatkan tubuh tegapnya itu pada SeokJin, membuat si perempuan terpojok di sudut mobil itu. SeokJin kembai menutup mata rapat-rapat saat NamJoon mendekatkan bibirnya ke telinga kanannnya, membuat MyungSoo yang sedang menyetir hanya menatap takut sesekali dari spion mobil. 'Semoga nona SeokJin akan baik-baik saja setelah ini'

"Dengar Kim SeokJin. Jaga tingkah dan mulutmu itu jika kau ingin selamat"

Laki-laki itu kembali menegakkan tubuhnya setelah berhasil membisikkan kalimat tersebut di telinga SeokJin. Dari ekor matanya NamJoon dapat melihat jika bola mata istrinya itu bergerak gelisah pertanda takut saat ini. Namun siapa yang mau peduli, NamJoon hanya ingin SeokJin tetap berada dalam tempatnya tanpa harus ikut campur ke dalam rencananya.

Tak berapa lama setelah pertengkaran sepasang suami istri itu, mobil-mobil milik Keluarga Kim tiba di area pemakaman. NamJoon dan juga SeokJin turun dari mobil setelah dibukakan pintunya oleh MyungSoo. Agar tak menimbulkan curiga pada sang ayah, NamJoon pun menggandeng lengan SeokJin yang hanya ditanggapi datar saja oleh istrinya itu.

Mereka semua yang hadir berjalan beriringan menuju makam yang telah disiapkan. Para tamu yang hadir mengikuti proses pemakaman denga khitmat. Anggota Keluarga Kim yang tak kuat menahan tangis pun kini mulai menangis sesenggukan tak terkecuali Tuan Kim sendiri. SeokJin yang melihat ayah mertuanya menangis hanya bisa menatap dengan nanar. 'Kumohon ampuni aku ayah'

SeokJin yang tak ingin larut dalam kesedihan pun berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pandangannya tertuju pada sebuah pohon besar yang menjulang tinggi tak jauh dari tepatnya berdiri. Namun mata perempuan itu memicing tak lama kemudian. Ada dua orang yang tengah menatap ke arahnya saat ini. Satu laki-laki dan satu perempuan. 'Siapa mereka?' batin SeokJin.

Lama SeokJin mengamati, ia semakin tak merasa asing dengan salah satunya. Perempuan di sana sungguh tidak asing baginya, ia yakin pernah melihatnya, tapi dimana. Tapi tunggu dulu, bukankah itu…

"Min Yoongi?" gumam SeokJin lirih hampir tak terdengar

"Apa yang kau bicarakan?"

Perempuan itu terhenyak saat NamJoon mendengar gumamannya. Bagaimana bisa NamJoon mendengarnya padahal SeokJin hanya bergumam.

"Bukan apa-apa. Hanya saja aku melihat seseorang di balik pohon sana"

"Siapa?"

Arah pandangan NamJoon kini beralih ke arah yang dimaksud oleh istrinya. Ia yakin tadi NamJoon mendengar SeokJin menggumamkan nama seseorang.

"Tidak ada siapa-siapa disana. Jangan mencoba menipuku Kim SeokJin"

.

.

.

TBC

A/N :

Annyeong

Adakah yang masih nunggu ff ini? :D

FF ini memang slow update banget ya? Maklum aja, ngurus 2 ff itu gak mudah #alasan :v

Yang nanya kapan Taehyung muncul harap bersabar dan ditungggu aja ya, aku gak bisa mastiin kapan dia muncul karena aku gak pengen alur cerita BLIND ini terlalu cepat. Aku pengen buat kalian paham sama jalan ceritanya dengan baik walaupun konflik yang aku angkat cukup rumit. Maka dari itu, satu persatu dari pertanyaan kalian pasti bakal kejawab kok seiring updatenya chapter :v

Hope you like readers deul.

Don't forget to review and see you on next chap ^_^