CHAPTER 4

MISTERY

.

.

.

Hari mulai beranjak siang ketika Hoseok tiba di kediaman keluarga Kim. Tak seperti biasanya yang begitu ramai oleh pertengkaran kecil, hari ini kediaman keluarga Kim tampak begitu sunyi. Para maid biasanya akan berlarian menjelajahi rumah ketika BaekHyun maupun SeokJin berulah. Namun hari ini para maid itu nampak begitu murung. Hoseok tau betul pasti para maid yang melayani BaekHyun sangat terpukul dengan kepergian nona yang mereka asuh itu. Jujur saja secara pribadi Hoseok memang menyukai sifat nona mudanya yang begitu ceria. Biasanya gadis itu akan manja kepada Tuan Besar maupun para maid-nya. Tapi itu dulu, sebelum semuanya berubah ketika BaekHyun ternyata mengandung dan akhirnya menikah paksa dengan DaeHyun.

BaekHyun yang buta cinta namun tak direstui oleh ayahnya itu nekad mengorbankan dirinya agar bisa menikah dengan DaeHyun. Dan lihat, semua rencana BaekHyun berjalan dengan sangat mulus kala itu. Hoseok masih ingat betapa murkanya ayah gadis itu ketika putri satu-satunya telah membuat malu keluarga. Bahkan NamJon yang notabenya begitu cuek pada sang adik setelah menikah ikut memukuli pacar BaekHyun tersebut. Jika BaekHyun adalah adiknya mungkin Hoseok juga akan melakukan hal serupa.

Laki-laki itu melangkah melewati sepinya lorong kediaman Kim. Para maid sibuk bekerja sesuai tugasnya dan acuh saja pada semua orang selain anggota keluarga. Tidak ingin berfikir terlalu berat, Hoseok akhirnya memilih pergi ke kamar pribadinya. Ya, selama satu tahun ia bekerja untuk NamJoon ia diwajibkan tinggal di kediaman keluarga Kim tersebut. Hoseok harus rela meninggalkan kedua orang tua dan adiknya demi mencukupi kebutuhan hidup mereka. Ya, ini semua memang pilihan. Lagipula NamJoon selalu bersikap baik padanya selama ini.

"Min Yoongi. Bagaimana kau bisa menghilang tanpa jejak? Andai aku pernah melihat wajahmu itu"

Hoseok mengusap wajahnya kasar ketika berhasil membaringkan tubuhnya. Hampir seharian dirinya mencari informasi mengenai Yoongi namun hasilnya nihil. Jika Hoseok fikir lebih mendalam, ini semua telah direncanakan oleh BaekHyun dengan baik sebelumnya. Semua foto dan juga alamat detail mengenai Yoongi lenyap begitu saja di saat yang tidak tepat untuk Hoseok.

"Bagaimana aku akan menemukanmu"

Lama berfikir, akhirnya Hoseok bangkit dari tidurnya. Ia teringat sesuatu. Kemarin saat mengurus administrasi di rumah sakit ia diberi ponsel oleh seorang perawat yang mengatakan jika ponsel tersebut adalah milik BaekHyun. Dikeluarkannya ponsel tersebut dari saku jas yang telah ia gantung sebelumnya dan mulai memeriksa isinya.

"Sial. Ponselnya di password"

Ingin rasanya Hoseok berkata kasar. Nona mudanya itu benar-benar merencanakan semuanya dengan matang. Bahkan ia dan NamJoon tidak berfikir sejauh ini terhadap gadis tersebut. Ternyata BaekHyun jauh lebih cerdik menyusun strategi dibanding NamJoon.

Dengan telaten laki-laki itu mencoba berbagai kombinasi angka guna membuka ponsel tersebut. Biasanya kebanyakan orang akan menggunakan tanggal lahirnya atau tanggal penting lainnya untuk dijadikan password. Hoseok mencoba memasukkan tanggal lahir BaekHyun namun tidak berhasil. Tanggal lahir DaeHyun juga tidak berhasil. Tanggal lahir tuan besarnya juga bukan password ponsel BaekHyun. Lantas apa yang sebenarnya gadis itu gunakan untuk kombinasi angka?

"Tanggal pernikahan?"

Hoseok mengernyit tidak yakin, namun hatinya memerintah untuk mencobanya. Tak disangka, setelah Hoseok memasukkan kombinasi angkanya ponsel BaekHyun berhasil terbuka. Laki-laki itu tersenyum lebar dan kembali menidurkan tubuhnya pada kasur karena puas dengan keahliannya. Pada tampilan pertama, Hoseok melihat jika nona mudanya menggunakan selca dirinya bersama sang suami saat berada di sebuah pantai untuk wallpapernya. 'Sungguh romantis'

Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, segera saja Hoseok mengaduk-aduk isi ponsel BaekHyun. Mungkin ini terkesan lancang karena ia sendiri belum meminta izin pada NamJoon, tapi karena ini perihal mendesak Hoseok yakin tuannya itu pasti akan mengizinkannya.

Dibukanya kontak BaekHyun di dalam sana. Hoseok mencoba mencari nama Yoongi namun tidak ada. Entah gadis bernama Yoongi itu memiliki ponsel atau tidak yang pasti satu bukti telah berhasil BaekHyun singkirkan. Kini laki-laki itu beralih ke gallery foto BaekHyun. Ada banyak sekali foto nona mudanya itu di sana mulai dari selca seorang sendiri sampai bersama DaeHyun. Dari ratusan foto yang Hoseok lihat tak ada satupun foto seseorang yang Hoseok yakini bernama Min Yoongi.

"Nona muda benar-benar merencanakan ini semua"

Laki-laki itu masih belum menyerah. Baginya tidak mungkin semua petunjuk mengenai Yoongi lenyap begitu saja. Pasti ada yang terlewatkan. Dengan cermat, Hoseok kembali mengamati foto-foto BaekHyun dari awal.

Setelah meneliti kembali dari awal mendadak perhatian Hoseok jatuh pada sebuah foto BaekHyun yang berada di sebuah café. Nona mudanya tampak duduk seorang diri di dalam café tersebut namun fotonya tidak diambil dengan cara selca. Ada yang memfotokan BaekHyun kala itu. Beruntung sekali nona mudanya duduk di bangku yang dekat kaca. Ketika Hoseok memperbesar foto tersebut, nampak pantulan seorang pelayan pada kaca café. Seorang perempuan dengan baju pelayan namun tampak begitu belia. Di meja café tersebut tertulis 'Chocolate Love Café'.

"Tunggu dulu. Nona BaekHyun tidak menyukai cokelat"

Tubuh Hoseok kembali menegak ketika menyadari hal tersebut. Dari yang ia tau selama ini nona mudanya tidak suka terhadap cokelat, bahkan seluruh penghuni rumah keluarga Kim tau itu. Jadi untuk apa BaekHyun pergi ke café yang menyediakan menu utama cokelat jika gadis itu tidak menyukainya?

"Ya. Dia pasti menemui seseorang"

Hoseok merogoh saku celana kain yang ia kenakan dan mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam sana. Ditekannya beberapa digit angka dari ponsel tersebut untuk menghubungi seseorang. Lama menunggu, akhirnya nada sambung dari ponsel tersebut berubah dengan suara seorang gadis muda yang terdengar dari ujung sana.

"Yeoboseo" sapa orang tersebut

"Hai Chaeyeong, ini oppa. Maaf menelfonmu. Apa kau tau dimana lokasi 'Chocolate Love Café'?"

.

.

~BLIND~

.

.

Hoseok melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh untuk membelah jalanan Kota Seoul yang lumayan padat pada hari itu. Ia tadi menelfon adiknya yang bekerja pada sebuah kantor transportasi online guna menanyakan keberadaan 'Chocolate Love Café'. Chaeyeong bilang jika café tersebut terletak persis di samping SMA Hanwoo yang tak lain adalah sekolah BaekHyun. Astaga, bagaimana Hoseok tidak mengetahuinya padahal pagi tadi ia melewati tempat tersebut.

Entah kenapa Hoseok merasa jika dirinya harus pergi kesana sekarang juga. Ada banyak hal yang mengganjal dan harus ia pastikan seorang diri. Nampaknya laki-laki itu akan mendapat banyak informasi dari café tersebut.

Hampir dua puluh menit menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya Hoseok tiba di depan 'Chocolate Love Café'. Tempat itu nampak begitu tenang dengan warna pastelnya dan kebanyakan dari yang Hoseok lihat café tersebut merupakan langganan bagi para anak sekolahan.

Kaki Hoseok berjalan mantab memasuki café tersebut. Beruntung sekali Hoseok tiba di café tersebut saat suasana sedang sepi. Hanya ada beberapa pengnjung saja dan orang yang berdiri di bagian kasir tidak terlalu repot. Hoseok menolehkan kepalanya bingung saat berada di dalamnya. Haruskah ia duduk memesan sesuatu lantas bertanya atau ia langsung to the pont saja?

"Maaf, ada yang mau tuan pesan?"

Laki-laki itu menoleh ketika mendengar suara halus menyapa indra pendengarannya. Saat tubuhnya berbalik Hoseok mendapati seorang gadis muda yang sepantara dengan BaekHyun namun mengenakan seragam pelayan. 'Gadis ini pasti bekerja di sini' batin Hoseok.

"Tidak. Aku kesini ingin bertanya beberapa hal. Bisakah nona…"

"Ahn Hyungseob. Panggil saja Hyungseob"

"Aku Jung Hoseok. Bisakah nona Hyungseob membantuku?"

Gadis bermarga Ahn itu mengangguk setuju dan membawa Hoseok pada sebuah bangku café yang kosong. Tak lupa, sebelum Hyungseob berbicara dengan orang yang mengaku bernama Hoseok tersebut, ia lebih dulu meminta izin pada sang pemilik untuk istirahat sebentar karena ada yang mencarinya. Hyungseob kembali tujuh menit kemudian dan duduk di hadapan Hoseok dengan anggun.

"Jadi apa yang tuan ingin tanyakan?" buka Hyungseob

"Apa kau mengenal gadis ini?"

Hoseok menyodorkan ponsel milik BaekHyun kehadapan Hyungseob dan menunjukkan foto nona mudanya yang ia temukan tadi. Gadis di hadapan Hoseok nampak berfikir sejenak untuk mengamati foto tersebut.

"Bukankah latar fotonya adalah café ini?" tanya Hoseok

"Ya benar ini adalah 'Chocolate Love Café'. Bukankah ini nona BaekHyun?" Hyungseob tersenyum

"Kau mengenalnya?"

"Sedikit. Ia kerap datang kemari dulu saat masih sekolah"

"Untuk apa dia kemari? BaekHyun bahkan tidak menyukai cokelat"

"Tuan benar. Setiap datang ke sini nona Baekhyun tidak pernah memesan menu dengan bahan cokelat. Dia akan memesan cheese cake"

"Apa menurut Hyungseob-ssi BaekHyun datang kesini karena hanya ingin makan cheese cake?"

"Tidak tuan. Nona Baekhyun datang kesini untuk menemui temannya yang bekerja di sini. Aku sendiri pernah beberapa kali berbincang dengan mereka berdua"

Tidak salah lagi, semua dugaan Hoseok terhadap foto BaekHyun tersebut terbukti benar. Nona mudanya datang ke café ini tidak untuk bersenang-senang melainkan untuk menemui seseorang.

"Seorang perempuan? Bernama Min Yoongi?"

Seulas senyum miring tercetak di sudut bibir Hoseok ketika melihat Hyungseob mengangguk mantab. Terungkap sudah satu petunjuk mengenai keberadaan Min Yoongi. 'Kena kau'

.

.

~BLIND~

.

.

Sekarang Hoseok telah tiba di salah satu pemukiman padat penduduk yang ada di pinggiran Kota Seoul. Tadi Hoseok bertanya pada Hyungseob dimana tempat tinggal Yoongi ketika bekerja sebagai pelayan dan gadis muda itu menjawab jika Yoongi tinggal di salah satu rumah yang ada di pemukiman padat penduduk tempat Hoseok berada saat ini.

Laki-laki itu mengamati pemukiman padat penduduk itu dengan seksama. Memang benar tempat ini hampir tidak memiliki sekat antara satu rumah dengan rumah lainnya. Jika saja terjadi kebakaran maka sudah bisa dipastikan akan ada puluhan rumah yang ikut tersambar. Dan juga tempat ini memang terlihat murah untuk di sewa oleh seorang pelajar seperti Yoongi. Apalagi gadis itu baru pindah dari panti asuhan dan hanya bekerja dengan penghasilan minim.

Hoseok menatap secarik kertas yang diberikan Hyungseob kepadanya saat di café tadi. Menurut yang tertulis di kertas tersebut Yoongi tinggal di kompleks B nomer 7. Dengan teliti Hoseok menyusuri banyaknya gang yang ada di pemukiman tersebut hingga akhirnya ia berhasil menemukan kompleks B. Laki-laki itu terus melangkah dan mulai menghitung rumah dari ujung gang kompleks B

1

2

3

4

5

6

DAN 7

Langkah Hoseok terhenti di depan rumah yang sangat kecil, mungkin jika di hitung panjangnya hanya 6 meter saja. Tanpa membuang waktu lagi laki-laki itu mendekati pintu rumah tersebut dan mengetuk pintu beberapa kali.

TOK

TOK

TOK

Terdengar suara langkah kaki mendekat pada daun pintu setelah Hoseok mengetuknya. Laki-laki itu mundur beberapa langkah. Dimasukkannya secarik kertas yang ia pegang sebelumnya dan mulai merapikan jas yang sedikit berantakan pada tubuhnya.

CEKLEK

Daun pintu itu terbuka dan menampilkan sesosok perempuan mungil berambut sebahu yang mengenakan kaos putih dan jeans hitam.

"Nuguseo?"

.

.

~BLIND~

.

.

"Kau yakin sudah mengambil semuanya?"

"Ya. Ini sudah semuanya. Aku akan menatanya di kamar terlebih dahulu"

"Akan aku bawakan ke kamarmu"

"Terima kasih Jimin oppa"

Yoongi mengikuti langkah Jimin yang membawa satu kardus besar berisi barang pribadinya menuju kamar. Sebenarnya Yoongi merasa tidak enak karena terus-terusan merepotkan Jimin, tapi apa daya jika laki-laki itu terus memaksa. Ketika Jimin sudah memasuki kamar dan Yoongi berada di ambang pintu, tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk beberapa kali.

TOK

TOK

TOK

"Biar aku yang bukakan"

Gadis itu membenahi kaos putihnya yang sedikit berantakan dan berjalan menuju pintu utama rumah tersebut. Tanpa ragu ataupun curiga Yoongi segera saja membuka pintu itu hingga terpampang seorang lelaki yang lebih tua dari dirinya tengah berdiri di depan pintu. Yoongi tersenyum sekilas pada laki-laki itu dan mempersilakannya masuk.

"Taehyung terus menangis dari tadi padahal aku sudah memberinya susu formula yang kau titipkan padaku tadi. Jadi ketika aku melihatmu dan Jimin sudah pulang maka aku langsung membawanya kemari"

"Aigo, anak eomma. Maaf jika Taehyung sangat merepotkan Jisung oppa"

"Tidak masalah. Lagipula aku sangat menyukai anak kecil"

Laki-laki yang dipanggil Jisung oleh Yoongi itu tersenyum lebar. Ya, tadi sebelum pergi ke pemakaman ia dan Jimin menitipkan Taehyung pada tetangga Jimin yang tidak lain adalah Jisung. Beruntung sekali laki-laki itu sangat menyukai anak kecil jadi Yoongi tidak perlu khawatir.

Mendengar ada keributan di ruang tamu, Jimin yang semula ada di kamar Yoongi ikut keluar guna melihat apa yang terjadi. Mengetahui jika Jisung yang datang, Jimin segera berlari kecil dan ikut mendudukkan diri di samping Yoongi.

"Apa Taehyung merepotkan?" Jimin mencoba berbasa-basi

"Tidak sama sekali. Aku justru senang bisa mengasuh Taehyung"

"Kelihatannya hyung harus segera menikah"

Jisung tertawa dengan candaan yang dilontarkan Jimin, begitupun dengan Yoongi. Mereka bertiga berbicara tentang berbagai hal pada akhirnya hingga tiga puluh menit lamanya. Ketika merasa ada waktu yang tepat, Jimin mendadak membenahi duduknya agar lebih nyaman.

"Hyung, bisakah aku meminta bantuanmu?" nada suara Jimin berubah serius

"Katakan Jim"

"Jisung hyung bekerja di Pencatatan Sipil bukan? Bisakah kau mengubah marga Yoongi menjadi marga ku?"

"Oppa…" suara Yoongi terdengar terkejut

"Tapi kenapa Jim?" Jisung juga ikut terkejut

"Kami berdua tinggal bersama. Banyak orang yang tidak tahu jika dia adalah sepupuku. Kufikir akan lebih baik mengubah marganya dan menjadikan statusnya sebagai adikku agar orang lain tidak salah paham. Apalagi kami memiliki bayi disini"

"Bukannya aku tidak mau membantu. Tapi jika aku melakukan tindakan tersebut dan sampai ketahuan oleh pemerintah maka aku yang akan kena. Kecuali jika kalian menikah itu akan berbeda lagi. Aku bisa dengan mudah mengubah marga Yoongi. Maafkan aku Jim"

"Tidak apa hyung. Aku bisa mengerti"

"Baiklah kalau begitu aku pamit. Banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan"

"Terima kasih banyak atas bantuannya oppa" Yoongi menyahut.

Perempuan itu mengantar Jisung hingga sampai ke depan rumah dengan Taehyung yang berada di gendongannya. Setelah memastikan Jisung telah pulang ke rumahnya, Yoongi segera menutup pintu dan kembali ke ruang tamu. Yoongi mendudukkan diri tepat di hadapan Jimin dengan tatapan intens yang dibalas tatapan serupa oleh laki-laki tersebut.

"Kenapa oppa tidak membicarakan ini denganku terlebih dahulu?" Yoongi setengah emosi

"Kufikir akan percumah membicarakannya dengan mu. Kau pasti akan menolak"

"Tentu saja aku akan menolaknya. Itu terlalu berbahaya untukku dan juga oppa" gadis itu menunduk

"Lihat. Tidak aka nada gunanya membicarakannya denganmu"

Jimin yang sedikit tidak baik kondisi hatinya memilih untuk pergi ke kamarnya dan mengurung diri di dalam. Menanggapi gadis yang masih labil pemikirannya seperti Yoongi hanya akan membuat emosi Jimin tersulut nantinya. Ia hanya tidak ingin berbuat kasar pada seseorang hari ini.

Yoongi merasa bersalah kepada Jimin karena ia mengatakan pendapatnya dengan sedikit emosi. Jimin pasti tersinggung saat ini, padahal laki-laki itu ingin melakukan yang terbaik untuknya. Ya, mau bagaimana lagi. Jimin melihat masalah dari sudut pandangnya sementara Yoongi juga demikian. Pemikiran mereka tidak akan pernah sama.

Melihat Taehyung yang mengantuk dan mulai tertidur, Yoongi memilih membawa bayi itu ke dalam kamarnya. Taehyung tertidur sangat pulas ketika merasakan empuknya kasur pada punggungnya. Tak tahan, gadis muda itu mencium pipi Taehyung sebentar yang justru membuat si bayi makin terlelap.

"Eomma akan buatkan susu lagi untukmu agar kau cepat besar"

Taehyung yang tertidur seperti ini sangat memudahkan Yoongi. Paling tidak gadis itu bisa melakukan pekerjaan dengan bebas ketika Taehyung tertidur.

Sesampainya di dapur, Yoongi mengambil kaleng susu yang dibelikan Jimin beberapa hari lalu. Alangkah kecewanya hati Yoongi saat mendapati kaleng susu tersebut sudah kosong. Gadis itu menghela nafas berat. Mini market dekat rumahnya sedang tutup hari ini. Mau tidak mau ia harus membelinya di supermarket yang ada di tengah kota.

"Mau bagaimana lagi"

Gadis itu berlalu dari dapur dan pergi kekamar Jimin. Kamar laki-laki itu tertutup rapat, saat Yoongi mencoba membukanya ternyata di kunci dari dalam. Dengan sabar, gadis itupun mengetuk pintu kamar Jimin.

"Oppa, bisa kau antar aku ke supermarket? Susu Taehyung habis. Jika kau tersinggung tentang perkataanku tadi aku sungguh minta maaf"

.

.

~BLIND~

.

.

Yoongi tersenyum cerah ketika berhasil membelikan susu formula yang banyak untuk Taehyung. Bahkan setelah keluar dari supermarket tadi, sebuah senyum lebar tak hentinya tersungging di bibir Yoongi. Jimin yang melihat hal tidak biasa tersebut hanya melirik sekilas dan kembali memfokuskan diri pada kemudinya.

"Darimana kau dapat uang sebanyak itu untuk membeli susu?" Jimin membuka pembicaraan

"Ibu kandung Taehyung memberikannya padaku lewat bodyguardnya sebelum aku kabur"

"Wah, perempuan itu benar-benar kaya rupanya" kagum Jimin

"BaekHyun begitu bergelimang harta sejak keci"

Jimin hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Yoongi. Yah, menjadi orang kaya dan bergelimang harta memang sangat menyenangkan. Jimin juga pernah mengalami hal tersebut hingga akhirnya roda berputar seratus delapan puluh derajat pada kehidupannya. Ia tak pernah membenci siapapun. Jimin sudah cukup senang dengan kehidupannya saat ini. Setidaknya tidak ada yang mengungkit tentang masa lalunya hingga dendam yang sempat terkubur bisa timbul kembali.

Saat sedang fokus melajukan kendaraannya, Jimin mendadak dikejutkan oleh keberadaan banyak polisi yang berjajar di ujung jalan sana. Tidak biasanya hal ini terjadi, namun kelihatannya sedang ada pemeriksaan mengenai kelengkapan berkendara. Jimin membawa semua kelengkapan surat untuk berkendara, jadi ia santai saja dan memberhentikan mobilnya ketika dihadang oleh seorang polisi.

"Selamat siang. Bisa tunjukkan kartu identitas kalian?" minta polisi itu dengan ramah

"Bukan surat kelengkapan berkendara?" Jimin sedikit terkejut begitupun dengan Yoongi

Mau bagaimana lagi, jika diminta maka Jimin akan menunjukkannya. Bisa-bisa ia disangka teroris oleh polisi tersebut. Jimin mengambil kartu identitasnya lalu menyerahkannya pada si polisi. Si polisi nampak membaca identitas Jimin dengan teliti lalu mengembalikannya pada sang pemilik.

"Bisa tunjukkan milik nona?"

Mata Yoongi nampak gugup saat ditanyai oleh sang polisi. Gadis itu diam sejenak dan Jimin hanya mengamatinya saja. Ia tau betul pasti Yoongi sangat ketakutan apalagi gadis itu tengah dalam pelarian. Lama berfikir, akhirnya Jimin membuka tasnya dan mengambil kartu identitas dirinya. Si polisi tampak membaca dengan cermat kartu identitas milik Yoongi hingga akhirnya membuka suara.

"Bisa nona ikut dengan kami ke kantor polisi?" kata polisi tersebut.

"Hei, bagaimana bisa? Memangnya apa kesalahan gadis ini?" Jimin tanpak tidak terima

"Maaf. Nona ini memiliki nama yang sama dengan salah satu buronan kami. Dia hanya akan dimintai keterangan jika memang tidak bersalah"

Bagus, sekarang Yoongi mengetahui jika statusnya telah menjadi buronan. Secepat inikah keluarga Kim bertindak? Jimin tampak khawatir menatap Yoongi namun gadis itu menggeleng tanda tidak apa-apa harus ikut dengan polisi.

"Pulanglah dan beri susu Taehyung ketika dia terbangun"

Jimin menghela nafas berat. Mau tidak mau ia harus merelakan Yoongi dibawa polisi atau jika tidak semua polisi yang ada di sini bisa curiga pada Yoongi.

"Baiklah. Hati-hati disana"

.

.

~BLIND~

.

.

Suasana kantor polisi begutu ramai hingga membuat Yoongi sedikit pusing ketika melihat orang yang berlalu lalang. Ia memang tidak begitu suka dengan keramaian, maka dari itu ia akan merasa sesak jika berada di tempat yang banyak orang.

Dari apa yang Yoongi amati, ternyata tidak hanya ia sendiri yang diminta untuk ke kantor. Orang-orang yang berada di sisi kanan kiri Yoongi ternyata juga memiliki nama yang sama persis sepeti dirinya.

"Nona, sekarang giliranmu"

Yoongi berdiri ketika dipanggil seorang polisi. Dengan patuh, gadis itu mengikuti kemana dirinya di bawa oleh si polisi hingga berakhir di sebuah ruangan yang Yoongi yakini ruang introgasi. Awalnya Yoongi merasa gemetar karena takut, namun ia mencoba bertindak setenang mungkin. Dia tidak boleh ketahuan saat ini. Taehyung menunggunya di rumah. Gadis itu menarik nafas dalam hingga akhirnya duduk di hadapan seorang detektif.

"Kau bernama Min Yoongi?"

"Ya benar"

"Yoongi-ssi, kau sekolah di SMA Hanwoo, tempat yang sama dengan Kim BaekHyun. Kau juga memiliki tanggal lahir yang sama dengan orang yang kami cari. Apa menurutmu itu kebetulan?"

"Aku tidak percaya dengan kebetulan di dunia ini. Tapi perlu detektif ketahui. Dalam satu angkatanku ada sepuluh orang yang bernama Yoongi, empat diantaranya juga bermarga Min. Dan mengenai tanggal lahir itu tiga di antara empat Min berulang tahun ditanggal yang sama. Detektif bisa memeriksa di catatan sipil" Yoongi berkata dengan kelewat tenang.

"Bagaimana dengan Panti Asuhan ALWAYS? Bukankah kau tinggal disana?"

"Itu benar. Aku tinggal disana. Ada juga seorang bernama Min Yoongi di panti itu"

"Kau pindah dari panti itu?"

"Ya, aku pindah ketika masih di bangku SMA"

Detektif bername tag Kim Jaehwan itu menghela nafas dan menggaruk tengkuknya yang gatal. Hari ini hampir sepuluh orang yang Jaehwan introgasi namun tak satupun yang mendekati yang ia cari kecuali Min Yoongi di depannya ini. Gadis muda di hadapannya ini mendekati petunjuk yang ada namun Jaehwan tak yakin ketika membaca tempat lahir dari gadis tersebut.

"Lahir di Daegu. Kurasa bukan dirimu nona, karena orang yang kami cari lahir di Seoul"

"Ya. Bisa aku ijin pulang sekarang? Ada yang menungguku"

"Kelihatannya suami mu memang sudah menunggu"

Jaehwan tersenyum jahil namun hanya ditanggapi anggukan singkat dari Yoongi. Gadis itu diantar keluar oleh seorang polisi hingga ruang tunggu. Yoongi yang menyembunyikan ketakutannya setengah mati kini lemas sendiri ketika keluar. Karena tak kuat menopang tubuhnya, bahkan Yoongi harus menyenderkan badannya pada tembok kantor polisi tersebut walaupun harus menahan malu ditatap oleh banyak orang.

Setelah merasa sedikit tenang, Yoongi segera menegakkan badannya dan berjalan keluar kantor polisi. Gadis itu kebetulan sedang mengenakan hoodie yang memiliki penutup kepala. Karena cuaca yang panas, Yoongi memilih untuk mengangkat tutup kepala itu guna melindungi rambutnya. Secara tidak sengaja, mata Yoongi beradu pandang oleh seseorang lelaki yang masuk ke kantor polisi ketika menaikkan penutup hoodienya. Mereka berdua saling bertatapan hingga akhirnya Yoongi melemparkan senyum pada laki-laki tersebut. Keduanya berlalu begitu saja setelah menyebrangi pintu.

.

.

~BLIND~

.

.

"Dimana detektif Kim Jaehwan?"

Hoseok yang baru tiba di kantor polisi itu langsung bertanya pada seorang yang sudah ia kenal. Ia baru saja mendapatkan informasi penting dari pemilik rumah yang pernah ditinggali Yoongi sebelumnya. Hoseok rasa ia perlu menyampaikan apa yang ia temukan agar gadis tengik itu segera tertangkap.

"Detektif Kim, aku mendapat informasu baru"

Laki-laki itu langsung berkata tanpa peduli pada keadaan Jaehwan yang mengurut kepalanya pusing.

"Apa itu?" Jaehwan menjawab malas

"Min Yoongi lahir di Daegu. Kita salah informasi selama ini. Dia memang tinggal di Seoul sejak lahir namun ketika ditemukan dia memiliki gelang khas Daegu"

"Kau bilang Daegu? Sial. Aku rasa aku baru mengintrogasinya"

Baik Jaehwan maupun Hoseok sama-sama terkejut. Bahkan sekretaris NamJoon itu segera berlari keluar ketika Jaehwan berkata buronannya baru saja pergi. Mata elang Hoseok mencari kesana kemari untuk menemukan gadis itu.

Sial. Hoseok baru tersadar jika orang yang berpapasan dengan dirinya di pintu masuk tadi adalah Min Yoongi. Senyum itu… Hoseok ingat betul itu senyum yang sama dengan senyum gadis pada foto Yoongi di panti asuhan.

"DIMANA SEBENARNYA KAU MIN YOONGI"

.

.

.

TBC

A/N :

Annyeong yeorobeum. BLIND kembali :D

Chapter kali ini begitu panjang karena memang semua masalah Yoongi harus kelar di chapter ini.

Buat yang menunggu Taehyung bersiaplah. Dia akan muncul di chapter depan. Bersama Jungkook paastinya :v

Ditunggu review-nya ya readers-deul karena aku butuh masukan dari kalian. Kan nyesek klo viewers banyak tapi review Cuma secuil #dohgakbersyukurbanget :v

Don't forget to review and see you on next chapter ^_^