CHAPTER 6

NICE TO MEET YOU

.

.

.

Air muka perempuan tersebut berubah drastis setelah mendengar pertanyaan Taehyung. Wajah yang tadinya menunjukkan kegalakan seorang perempuan kini berubah sendu layaknya langit mendung. Taehyung yang melihat perubahan tersebut kini menjadi merasa bersalah. Ia sudah jelas-jelas mengetahui jika perempuan di hadapannya ini dalam kondisi buta, namun dengan lancangnya dia justru bertanya untuk memperjelasnya.

"S-sekali lagi aku minta maaf. Seharusnya aku tidak bertanya tadi"

Taehyung sungguh meminta maaf dengan tulus kali ini. Tubuhnya yang tinggi kini membungkuk sembilan puluh derajat walaupun sudah dipastikan jika perempuan di hadapannya itu tidak akan bisa melihatnya.

"Ya, aku memang buta seperti yang kau lihat. Tidak apa, aku sudah terbiasa"

Tubuh Taehyung menegak saat perempuan di hadapannya itu menjawab. Ia terkejut. Taehyung kira ia akan menerima amukan dari si perempuan karena lancang bertanya, namun perempuan itu justru berani mengatakan faktanya.

"Tapi aku sungguh minta maaf"

"Aku bilang tidak apa-apa"

Walaupun sudah mendapatkan maaf, tapi hati kecil Taehyung berkata untuk terus meminta maaf. Tubuhnya berkali-kali membungkuk tanpa malu, menghiraukan tatapan orang yang berlalu lalang. Taehyung tau menyakiti hati perempuan itu sungguh tidak baik, itu yang ia pelajari dari eommanya. Oleh sebab itu, akan lebih baik ia saja yang sakit punggung daripada si perempuan yang sakit hati.

BRUUKK….

Saat Taehyung membungkukkan badan untuk yang ke-tiga belas kalinya, tiba-tiba saja ia merasa di dorong dari belakang oleh sesuatu yang Taehyung yakini itu seorang manusia. Akibat ulah manusia tak bertanggung jawab tersebut, kini Taehyung harus merasakan pahitnya mencium trotoar.

"Kau tidak apa-apa?"

Kepala Taehyung menoleh cepat saat mendengar suara orang lain tersebut. Yang dapat ia lihat saat ini adalah seorang laki-laki muda seumuran dirinya tengah sibuk mengecek tubuh perempuan yang ditabraknya tadi.

Jadi laki-laki itu yang mendorongnya hingga mencium aspal? Berani sekali dia. Dengan emosi yang memuncak, Taehyung bangkit dari keterjatuhannya. Kedua tangannya mengepal erat, bersiap untuk melampiaskan emosi. Saat dirasa jaraknya sudah dekat, tangan kanan Taehyung yang terkepal melayang di udara.

BUGH!

Si pelaku pendorongan Taehyung kini berbalik mencium hangatnya trotoar. Taehyung tersenyum menang karena berhasil membalas perbuatan laki-laki itu, sementara si perempuan yang ada di sebelahnya kini menjerit histeris.

"Yaak… Apa yang kau lakukan pada JiHoon hah?"

Perempuan tersebut terlihat mengamuk dengan perbuatan Taehyung. Sling bag yang dikenakannya kini sudah dilepasnya lalu di ayunkan ke arah yang diyakini tempat Taehyung berdiri. Entah Taehyung yang sedang sial atau perempuan itu sedang beruntung, sling bag yang diayunkan tersebut sukses menghantam tubuh Taehyung.

BUG

BUG

BUG

Taehyung mengaduh kesakitan namun perempuan yang sedang membabi buta tersebut nampak tidak peduli. Mulutnya terus menerus mengucapkan kata serapah guna mengutuk perbuatan Taehyung.

"Hentikan! Sakit!"

"Enak saja, siapa suruh kau memukul JiHoon hah?" geram si perempuan

"Siapa itu JiHoon? Aku bahkan tidak mengenalnya"

"Dia yang baru saja kau pukul bodoh"

BUG

BIG

BUG

"SUDAH HENTIKAN"

Aksi pemukulan oleh perempuan tersebut berhenti ketika mendengar teriakan dari suara yang familiar untuknya. Sementara itu, Taehyung yang lemas akibat dipukuli menarik nafasnya lega. Bagaimana pun juga, berkat orang yang ia pukul tadi, kini perempuan di hadapannya berhenti mengamuk.

"Tapi JiHoon, dia harus di beri pelajaran" perempuan itu tampak masih jengkel

"Aku baik-baik saja, jangan khawatir" jawab si lelaki yang dipanggil JiHoon tersebut

"Kau dengar kan? Bahkan yang kau panggil JiHoon itu baik-baik saja sekarang" bela Taehyung

Mendengar perkataan kurang ajar dari laki-laki tersebut, emosi si perempuan kembali memuncak. Ia sudah bersiap mengangkat tas nya lagi namun sebelum tas itu melayang, pergerakannya sudah lebih dulu ditahan oleh JiHoon.

"Aku bilang hentikan. Dan kau laki-laki kurang ajar, lebih baik kau pergi sekarang sebelum dipukuli lagi"

"Kurang ajar sekali kau hah?"

Tak terima di katai 'kurang ajar', Taehyung melayangkan protes namun JiHoon hanya memberikan pelototan pada Taehyung agar segera pergi.

"Baik, aku pergi. Aku minta maaf. Jangan lupa mimpikan aku nona manis"

"Yaaak"

Taehyung tertawa renyah karena berhasil menggoda perempuan itu. Setelah membungkuk sekali lagi pada si perempuan dan juga JiHoon, akhirnya Taehyung pergi meninggalkan dua anak manusia di trotoar tersebut.

"Apa kau terluka?" tanya JiHoon khawatir

"Kurasa telapak tanganku tergores"

JiHoon meraih telapak tangan perempuan yang sebaya dengan dirinya itu. Saat diperhatikan, memang benar jika telapak tangan gadis itu sedikit tergores di beberapa bagian.

"Ayo kita pulang. Aku akan obati lukamu di rumah"

Si perempuan mengangguk patuh dengan perkataan JiHoon dan menurut saja saat tubuhnya di bimbing memasuki sebuah mobil.

.

.

~BLIND~

.

.

Mobil JiHoon memasuki sebuah pekarangan rumah mewah yang terletak di salah satu kawasan elit Kota Seoul setelah beberapa lama berkendara. Dari gerbang, mobil JiHoon berputar satu kali mengelilingi halaman depan rumah yang luas sebelum akhirnya tiba di pintu utama rumah tersebut.

JiHoon keluar dari mobil dengan tergesa. Dilemparnya kunci mobil yang ada di genggamannya pada salah satu penjaga lantas berlari ke arah pintu penumpang. JiHoon menuntun perempuan yang bersamanya tadi keluar dari mobil dengan telaten untuk memasuki rumah.

"Astaga nona Jungkook! Apa yang terjadi?" pekik salah satu pelayan di rumah tersebut

"Bibi Kim, bisa ambilkan kotak obat? Jungkook terluka"

"Baik tuan JiHoon"

Pelayan bermarga Kim tersebut berlari memasuki rumah untuk melaksanakan perintah tuannya. Sementara JiHoon, kini mendudukkan perempuan bernama Jungkook tersebut di salah satu sofa yang ada di ruang tamu. Tak berapa lama menunggu, akhirnya bibi Kim kembali ke ruang tamu dengan sebuah kotak di tangan kanannya

"Ini kotak obatnya tuan"

"Terima kasih bi, kau bisa kembali bekerja. Biar aku yang obati"

Laki-laki berusia muda itu mendudukkan dirinya di samping Jungkook untuk mempermudah aksi pengobatannya. Tanpa izin si pemilik, JiHoon meraih tangan Jungkook begitu saja untuk diobati. Jungkook mengaduh pelan saat lukanya di tekan ringan oleh JiHoon. Tak berapa lama kemudian, sebuah sensasi perih bercampur dinginnya alkohol merambat pada telapak tangan Jungkook.

"Apa sakit?" tanya JiHoon sambil meniup luka Jungkook

"Hilangnya indra penglihatanku membuat indra perasaku menjadi lebih peka"

"Kau selalu saja mengatakan hal itu jika terluka. Aku bosan mendengarnya. Jika sakit katakana saja"

"Ini sakit JiHoon" lirih Jungkook

"Bagus. Itu jauh lebih baik"

Setelah membersihkan luka Jungkook dengan alkohol, kini JiHoon mulai melilitkan perban untuk menutup luka perempuan muda itu. Tak lupa, JiHoon juga memberikan plastes pada perban tersebut agar tidak mudah lepas.

"Sudah selesai. Lukamu pasti akan cepat sembuh" JiHoon tersenyum

"Tentu saja lukaku akan segera sembuh. Yang mengobati saja perjaka tampan" sahut Jungkook setengah menggoda

"Ei… Kau bahkan belum pernah melihat wajah dewasa ku ini. Bagaimana kau bisa memujiku tampan"

"Aku sering mendengarnya dari para pelayan"

"Dasar tukang gosip"

Jungkook dan JiHoon tertawa ringan dengan candaan tersebut hingga akhirnya mereka saling mengejek satu sama lain. JiHoon yang dasarnya memang pintar merayu namun tidak pintar mengejek itupun harus menerima kekalahan karena tersudut dengan ejekan yang dilontarkan Jungkook.

"Hei JiHoon, dekatkan wajahmu" titah Jungkook

"Untuk apa?"

"Aku ingin memastikan seberapa tampannya dirimu"

"Ck. Baiklah"

JiHoon mendekatkan wajahnya ke arah Jungkook, tak lupa ia juga meraih tangan gadis itu lantas menangkupkan pada wajahnya agar gadis itu mudah merabanya.

"Biar ku raba dulu"

Tangan Jungook mulai meraba wajah JiHoon. Mulai dari meraba secara keseluruhan, hingga meraba satu persatu mulai dari mata, hidung hingga bibir JiHoon. Si lelaki berusaha menahan tawanya saat memperhatikan ekspresi serius Jungkook. Gadis itu nampak berfikir dan sesekali mengerutkan dahi guna membayangkan wajahnya yang memang tampan ini.

"Aku suka matamu, terasa indah seperti mata rusa" Jungkook memulai penilaiannya

"Lalu?"

"Hidungmu mancung, sama sepertiku" gadis itu terkekeh

"Kurasa hidungku jauh lebih mancung"

"Bibirmu… sangat ideal"

"Mau merasakan ciumanku?"

"Tentu saja. Tapi bersiaplah sakit kepala setelahnya karena aku akan menjambak rambutmu"

Lagi, JiHoon tertawa dengan candaan Jungkook. Ini bukan pertama kalinya mereka berdua bercanda seperti ini. Oleh sebab itu, setiap penghuni rumah sudah hafal betul dan akan mengabaikannya ketika Jungkook maupun JiHoon saling menggoda.

Ketika asyik bercanda di ruang tamu, tiba-tiba terdengar sebuah deru mobil terparkir di depan pintu rumah itu. Tanpa ditanya pun JiHoon dan Jungkook sudah tau siapa yang datang. Siapa lagi jika bukan pemilik utama dari rumah ini.

"Kookie… Apa kau baik-baik saja sayang? Bibi Kim berkata jika tanganmu terluka"

Seorang perempuan berumur empat puluh tahunan namun masih cantik tampak berlari memasuki rumahnya untuk mengecek keadaan sang anak. Sang eomma baru saja pulang setelah mengunjungi suaminya di kantor, siapa yang tidak khawatir saat baru menginjakkan kaki di rumah sudah diberitau jika anaknya terluka. Dengan tidak sabaran, eomma Jungkook meraih tangan anak gadisnya itu. Dibolak-baliknya tangan Jungkook guna memastikan apakah lukanya parah atau tidak.

"Aku tak apa eomma" Jungkook mencoba tenang agar eommanya tak khawatir

"Apa terjadi masalah?"

Tak berselang lama, terdengar suara berat dari seorang laki-laki yang memasuki rumah. Perawakannya tinggi dan tubuhnya ideal, terlihat sekali jika laki-laki tersebut rutin menjaga tubuhnya. Alhasil, laki-laki yang sebaya dengan eomma Jungkook itupun masih terlihat tampan walaupun tak lagi di usia muda.

"NamJoon-ah, Jungkook kita terluka. Lihat tangannya sampai diperban" sang istri mengangkat tangan Jungkook

"Aku baik-baik saja eomma. Ini hanya luka gores karena terjatuh saat keluar bersama JiHoon tadi" ujar Jungkook

"Kau berlebihan SeokJin. Luka seperti itu akan sembuh dalam beberapa hari"

"Tapi NamJoon…"

"Hentikan SeokJin! Aku tak suka kau membesar-besarkan masalah"

SeokJin tersenyum kecut dengan perkataan suaminya, NamJoon. Tentu saja suaminya itu tidak akan peduli walaupun anak gadisnya tergores sedikit saja. Jangan kan tergores, saat Jungkook kecil berdarah-darah saja NamJoon hanya diam tanpa kata, acuh dengan keadaan.

"Ya. Aku tau kau akan seperti ini. Ayo Jungkook, kita pergi ke kamar. Kau harus istirahat sayang"

"Aku akan pergi sendiri eomma"

Jungkook melepaskan genggaman eommanya lantas mengambil tongkat yang baru saja diberikan oleh JiHoon kepadanya. Tubuh kurusnya mulai berdiri dari sofa, tongkatnya terayun rendah kesana kemari guna sebagai petunjuk jalan untuk Jungkook. Semua orang yang ada di ruang tamu itu hanya melihat kepergian Jungkook dalam diam, tak berani berkata sedikitpun.

"Aku sudah memasang iklan untuk mencarikanmu seorang bodyguard. Jadi mulai sekarang jangan libatkan JiHoon lagi, dia harus fokus pada kuliahnya"

Perkataan NamJoon tersebut sukses membuat langkah Jungkook berhenti. Tubuh gadis itu berputar seratus delapan puluh derajat untuk menghadap posisi semula. Sementara itu, baik JiHoon maupun SeokJin hanya menatap NamJoon dengan bingung dari sofa.

"Tapi appa, aku tidak butuh bodyguard" Jungkook memberikan argument

"Dan kau akan terus menyusahkan JiHoon?"

"Bukan begitu appa"

"Aku tidak suka dibantah Jungkook. Biarkan JiHoon fokus pada kuliahnya tanpa harus terbebani dengan dirimu"

"Aku tidak merasa Jungkook menyusahkan appa" JiHoon ikut membela

"Diam kau Kim JiHoon"

JiHoon sudah akan berdiri dari tempat duduknya, namun urung karena saat ini jari telunjuk NamJoon telah mengarah tepat di wajahnya. Jika appa-nya sudah seperti ini, maka akan sangat sulit untuk dilawan.

"Aku tidak ingin bodyguard appa!" Jungkook kukuh pada pendiriannya

"Dasar pembangkang"

NamJoon sudah kepalang emosi akibat Jungkook yang membantah. Dengan membabi buta, laki-laki itu berjalan cepat ke arah putrinya berdiri. SeokJin yang melihat kejadian tersebut tak bisa tinggal diam. NamJoon akan melakukan sesuatu pada putrinya dan ia tak akan membiarkannya. Saat tangan NamJoon sudah melayang di udara, dengan sigap SeokJin menahan tangan suaminya itu sekuat tenaga. NamJoon memutar badannya tak suka lantas menatap istrinya marah.

"Langkahi aku dulu NamJoon jika kau ingin menyakiti putriku" ujar SeokJin serius

"Kau melawanku?" NamJoon berujar tak kalah serius

"Ya, sekarang aku melawanmu. Aku tak akan tinggal diam dengan perbuatanmu"

Kedua suami istri itu terlibat adu pandang yang sangat sengit. JiHoon yang melihatnya dari sofa sendiri merasa terancam dengan keadaan. Mengerti tak akan aman jika terus berada di ruang tamu tersebut, JiHoon segera beranjak lantas menuntun Jungkook memasuki kamarnya. Orang tuanya akan segera bertengkar lagi setelah ini. Akan lebih baik jika mereka tidak melihat dan tidak ikut campur.

Setelah memastikan kedua anak-nya hilang dari pandangan, SeokJin melepaskan tangan NamJoon dari genggamannya. Emosi NamJoon tampak meluap dari wajahnya yang memerah. Dengan kasar, laki-laki itu meraih pundak SeokJin dan mempersempit jarak diantara mereka.

"Kenapa NamJoon? Kau tak suka dengan diriku yang seperti ini?" SeokJin bertanya dengan berani

"Kim SeokJin"

"Kau selalu bertingkah tidak adil kepada mereka berdua. Apa menurutmu itu lucu?"

"Kim SeokJin" lagi, NamJoon memanggil nama istrinya

"Sebagai ibu yang melahirkan dan mengasuh mereka aku sangat tidak terima anakku diperlakukan seperti itu"

"Dan sebagai ayah yang membuat mereka ada di dunia ini aku tidak suka jika anakku terluka"

"Kau egois NamJoon. Kau selalu memperhatikan JiHoon tapi tidak dengan Jungkook" SeokJin berujar sedih

"Apa aku pernah berkata jika aku mengabaikan Jungkook?"

SeokJin terdiam mendengar perkataan NamJoon. Ya, suaminya itu memang tidak pernah berujar jika membenci atau mengabaikan Jungkook. Tapi taukah kau Kim NamJoon, sikapmu yang selalu mengutamakan JiHoon di atas Jungkook membuat putrimu itu menangis dalam diam selama ini.

.

.

~BLIND

.

.

Setibanya di kamar Jungkook, JiHoon membaringkan gadis itu pada tempat tidur queen size-nya. Tak lupa, ia juga menaikkan selimut Jungkook agar gadis itu bisa tidur lebih nyaman. Jungkook diam saja ketika JiHoon membelai surai panjangnya pelan agar cepat tertidur. Namun, saat laki-laki itu hendak beranjak, mendadak tangannya ditahan oleh tangan Jungkook.

"Temani aku tidur JiHoon-ah"

JiHoon yang notabe-nya tidak bisa menolak permintaan saudaranya itu mau tak mau menurut saja. Saat Jungkook bergeser sedikit untuk memberikan tempat pada JiHoon, laki-laki itu mengangkat selimut lalu ikut masuk ke dalamnya.

Karena ini bukan pertama kalinya JiHoon menemani tidur Jungkook, maka lelaki itu hafal betul dengan tabiat si gadis. Dengan gesit, JiHoon memiringkan tubuhnya ke arah Jungkook lantas memeluk gadis tersebut.

"Mau berbagi cerita?" tawar JiHoon di tengah pelukannya

"Tidak"

"Kau benar-benar tak ingin berbagi pada saudara kembarmu yang tampan ini hm?" JiHoon masih mencoba negosiasi

"Cukup temani aku tidur saja"

"Baiklah"

Tak berselang lama, Jungkook ikut melingkarkan lengannya pada badan JiHoon, membuat jarak di antara mereka semakin sempit. Sudah lama sekali rasanya mereka tidak saling berbagi pelukan seperti ini. Bahkan lengan Jungkook tak lagi dapat merengkuh badan JiHoon sepenuhnya karena saudara kembarnya itu sudah tumbuh begitu pesat. JiHoon menepuk punggung Jungkook pelan layaknya memberi sebuah lulabi. Alhasil, gadis itu waktu ke waktu mulai merasakan kantuk akibat ulah saudaranya.

"Mimpi indah princess"

"Jangan lupa mimpikan aku juga prince"

.

.

~BLIND~

.

.

Taehyung tiba di rumahnya atau lebih spesifiknya rumah Jimin ketika matahari mulai terbenam. Tubuhnya yang tinggi menjulang itu kini sibuk mengendap-endap guna memasuki rumahnya sendiri. Penampilannya sungguh kacau saat ini, ia tak ingin ketahuan oleh eommanya dan berakhir diomeli hingga malam menjelang.

Dengan gaya layaknya pencuri professional, Taehyung mengamati keadaan rumahnya. Pintu rumahnya terbuka lebar saat ini. Sungguh tak biasa. Dulu saat dia kecil rumah Jimin tidak pernah dibuka selebar itu meskipun ada orang di dalamnya. Apalagi ini sore hari, jelas Jimin samchon-nya belum pulang dan sang eomma sendirian di rumah.

"Apakah ada tamu? Atau pencuri?"

Pemuda itu berfikir sambil menggaruk rambutnya gatal. Dua kemungkinan yang ia fikirkan sama-sama masuk akal. Tetapi bagaimanapun juga Taehyung tak ingin berfikir negative. Dengan santainya ia melangkah guna memasuki pintu rumah. Setibanya di depan pintu, ia melihat sebuah pantofel laki-laki yang sangat mengkilat tergeletak di depan pintu.

Tunggu dulu. Jimin samchon-nya tak pernah memiliki pantofel sebagus ini, dan pantofel tersebut sudah pasti bukan milik Taehyung. Jika dilihat dari model-nya sudah jelas pantofel tersebut mirip dengan milik mafia yang sering Taehyung tonton di televise.

Perasaan Taehyung sebagai anak mendadak resah saat ini. Ia merasa eommanya tengah dalam bahaya. Tanpa membuang waktu lagi, Taehyung segera melepas sepatu bututnya dan melesat masuk rumah.

"EOMMA, APAKAH ADA PENJAHAT?"

Suara melengking Taehyung sukses membuat kedua manusia beda jenis yang tengah duduk di sofa menoleh secara bersamaan. Yoongi menatap Taehyung kesal, sementara satu laki-laki di sisi yang bersebrangan dengan Yoongi menatap Taehyung bingung.

"Darimana saja kau?"

Yoongi berdiri sambil membawa segulung korang yang di dapatkannya dari meja. Tanpa membuang waktu lagi, perempuan tiga puluh tahunan itu melayangkan korannya tepat mengenai kepala Taehyung.

TUK

"AWW… Sakit eomma" jerit Taehyung

"Darimana?" sekali lagi Yoongi bertanya pada Taehyung. Bedanya kali ini perempuan itu tengah berkacak pinggang

"Menyanyi di jalanan dan dikejar polisi"

TUK

Sebuah pukulan lagi-lagi mendarat tepat sasaran di kepala Taehyung. Pemuda tersebut hanya dapat mengelus kepalanya pasrah sambil memasang tampang semenyedihkan mungkin agar dikasihani oleh eommanya.

"Rasakan!" Yoongi berkata puas dan kembali duduk

"Apa ini benar Taehyung Yoon?"

Si tamu lelaki yang tadinya duduk di sofa kini bangkit dan menghampiri Taehyung. Dengan tatapan menelisik, laki-laki itu menatap Taehyung mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Taehyung yang risih di tatap sedemikian rupa hanya dapat mendesah berat. Tangan kirinya sibuk mengorek telinga mencari harta karun, dan tangan kanannya menggaruk kepala gatal.

"Nuguseo?"

Taehyung bertanya dengan pose tidak sopannya, membuat wajah laki-laki yang tadinya ceria itu mendadak ditekuk.

"Kau tidak ingat aku?" tanya si lelaki

"Tidak"

Laki-laki itu jadi merasa gemas sendiri. Karena terlalu gemas, reflek laki-laki itu memukul pantat Taehyung hingga pemuda itu lagi-lagi menjerit kesakitan.

"Ini aku JiSung, dasar anak nakal"

"Hah? Jisung? Jisung siapa?"

"Masih tidak ingat?"

Jisung memelototkan matanya tepat di hadapan Taehyung yang mana sukses membuat laki-laki yang lebih muda memundurkan badannya.

"Jisung samchon? Tetangga sebelah rumah?" tanya Taehyung tidak yakin

"Ya, kau benar sekali Taehyung sayang"

Lagi-lagi karena terbawa senang Jisung refleks memukul pantat Taehyung. Sebelum Taehyung sempat melontarkan protes, tubuhnya sudah lebih dulu direngkuh oleh Jisung dengan kuatnya. Laki-laki itu menepuk punggung Taehyung kuat dalam pelukannya, membuat Yoongi yang duduk di sofa hanya tertawa menyaksikan penderitaan anaknya.

.

.

.

TBC

A/N :

Annyeong, ada yang masih nunggu ff ini?

Chapter ini bener-bener flop banget menurutku. Mendadak ide yang selama ini terngiang di kepala menguap begitu aja. Aku seminggu penuh mikir harus nulis apa buat chapter 6 ini. Moodku yang lagi gak bersahabat buat nulis juga bikin aku kesulitan menyusun kata-kata. Mianhae readers-deul yang kecewa dengan chapter ini. Aku akan berusaha bayar di chapter depan.

Sebenernya aku agak maksa buat nulis chapter ini. Karena weekend ini aku bakal cari kost-kostan, maka aku ngebut buat update ff ini. Doain aku dapat kost yang murah dan ada wifinya ya readers-deul :v

So, mind to review?

See you on next chap ^_^