CHAPTER 7

(NOT) FINE

.

.

.

Jisung tak hentinya menciumi pipi Taehyung dengan gemas ketika mereka berdua telah terduduk di sofa. Laki-laki itu sungguh merindukan sosok anak kecil yang dulu sering diasuhnya. Tak terasa delapan belas tahun telah berlalu dan sekarang anak kecil tersebut telah tumbuh menjadi pemuda tampan.

Yoongi yang hanya menjadi penonton sedari tadi memilih meninggalkan laki-laki beda umur itu dan pergi ke dapur. Biarlah anak-nya dianiaya Jisung saat ini. Toh Jisung bukan orang asing.

"Sekarang ganti kau yang beri ciuman pada samchon" Jisung menunjuk pipi kanannya menggunakan telunjuk lentiknya.

"Aish, itu menggelikan samchon"

"Poppo. Bukankah dulu kau sangat suka mencium pipiku?"

Taehyung beringsut sedikit demi sedikit dari duduknya karena Jisung terus mendekat ke arahnya. Sungguh, melakukan skinship dengan sesama lelaki itu menggelikan bagi Taehyung. Oleh sebab itu dia menolak untuk memberikan ciuman pada Jisung meskipun itu hanya di pipi.

"Baiklah jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksa"

Laki-laki itu beringsut mundur menjauhi Taehyung. Meskipun bibirnya kini tengah tersenyum, namun dari sorot matanya Taehyung dapat mengetahui jika laki-laki yang sudah berumur itu tampak sedikit kecewa.

CUP

Mata Jisung membulat ketika sebuah ciuman kilat mendarat tepat di pipinya. Tangannya kini tergerak mengusap pipi yang baru saja terkena ciuman tadi. Ini bukan mimpi bukan? Yang barusaja menciumnya tadi adalah Taehyung? Bukankah anak itu tadi menolak?

"Itu yang pertama sekaligus yang terakhir. Aku tidak akan mau lagi melakukannya"

Pemuda itu mengalihkan tatapannya, menghindari tatapan Jisung yang masih tidak percaya. Perlahan, Jisung yang tadi hanya menatap kaget kini berubah menampilkan senyum jahil kepada Taehyung. Seketika, alarm bahaya di kepala Taehyung berbunyi. Laki-laki delapan belas tahun itu menggeser duduknya menjauhi Jisung. Tapi naas, belum sempat berhasil membuat jarak, tubuh Taehyung sudah lebih dulu diperangkap oleh Jisung.

Dalam dekapan Jisung, Taehyung menggeliatkan tubuhnya tak karuan, minta untuk dilepaskan. Sementara Jisung yang mendengar rengekan Taehyung hanya tertawa lepas mendengarnya.

"Lepaskan anakku oppa! nanti dia bisa trauma melihatmu"

Yoongi yang baru saja kembali dari arah dapur meletakkan sepiring bolu kukus di atas meja. Aroma dari bolu kukus itu menguar memenuhi seisi ruang tamu. Taehyung yang menyadari perhatian Jisung lengah akibat bolu kukus eomma-nya itu segera meronta.

BERHASIL

Taehyung berhasil lepas dari pelukan Jisung. Segera saja pemuda itu menghambur pada eommanya yang masih berdiri lalu bersembunyi di balik punggung Yoongi guna mencari perlindungan. Yoongi dibuat tertawa ringan dengan kelakuan anaknya yang tak lebih kekanakan dari tingkah laku anak kecil. Dengan pelan, Yoongi meraih tangan Taehyung yang mencengkram pundaknya dan mengajaknya duduk bersebelahan di sofa.

"Maafkan Taehyung ya oppa? Dia memang tidak begitu suka skinship ketika menginjak remaja" Yoongi mencoba memberi pengertian pada Jisung agar tidak tersinggung

"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku dulu juga seperti itu"

"Apa samchon sudah menikah?" Taehyung yang tadinya diam mendadak bertanya dengan topik yang tidak nyambung.

"Ah, benar. Aku tadi juga ingin menanyakan hal tersebut pada oppa. Apa oppa sudah menikah?"

Jisung menghela nafas dalam ketika ditanya oleh sepasang ibu dan anak di hadapannya. Bukannya ia tak suka, hanya saja ekspresi penasaran yang kompak dari Yoongi dan Taehyung membuatnya gemas. Buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya.

"Mampirlah ke rumahku! Akan aku perkenalkan dengan istriku"

"Hoah jinjja? Jadi aku punya Imo sekarang? Kapan samchon menikah? Apa Imo perempuan yang cantik?"

Karena terlalu semangat mendengar perkataan Jisung, Taehyung sampai tidak sadar jika dia telah berdiri dan berlari mendekati Jisung. Bahkan pemuda delapan belas tahun itu sudah menggoyang-goyangkan lengan Jisung dengan antusiasnya sebagai wujud kebahagiaan atas rumah tangga yang berhasil dibangun Jisung.

"Kau sudah tidak takut lagi padaku? Ingin kucium lagi?"

Perkataan Jisung sukses membuat keceriaan Taehyung menghilang seketika. Bahkan laki-laki itu baru saja sadar jika tangannya telah menawan sebelah tangan Jisung. Berlahan, Taehyung melepaskan tangan itu dan membenahi sikap duduknya menjadi lebih rapi.

Suasana di ruang tamu tersebut mendadak menjadi hening setelah pertengkaran singkat Jisung dan Taehyung berakhir. Yoongi yang memang dasarnya seorang gadis pendiam juga hanya menonton saja sedari tadi tanpa banyak memberikan komentar. Jisung yang pada dasarnya tidak menyukai keheningan memilih untuk mencomot sebuah bolu kukus yang tadi disediakan oleh Yoongi. Laki-laki tiga puluh tahunan itu berdeham singkat ketika satu gigitan bolu kukus telah lolos dari kerongkongannya.

"Apa kau kuliah sekarang Tae?"

Kepala Taehyung menoleh kilat saat mendengar pertanyaan Jisung, sedangkan Yoongi yang sedari tadi menunduk kini berlahan mulai mengangkat pandangannya pada yang lebih tua.

"Aku berencana untuk bekerja samchon" lirih Taehyung

"Kenapa kau tidak kuliah? Kau juga bisa bekerja part time saat kuliah nanti"

"Tidak. Kufikir akan lebih baik jika aku bisa mengumpulkan banyak uang di usia muda"

"Ini semua salahku. Seharusnya aku dulu bekerja lebih keras agar bisa menyekolahkan Taehyung hingga tinggi" Yoongi yang tadi terdiam kini ikut berbicara

"Apa yang eomma katakan? Eomma sudah menyekolahkanku cukup tinggi selama ini. Lagipula apa gunanya kuliah? Aku ini tidak terlalu pandai dan juga pembuat onar. Hanya akan membuang uang saja jika eomma menyekolahkanku lebih tinggi lagi"

Perempuan di hadapan Jisung hanya dapat menatap anaknya nanar sambil mengulum senyum sedih. Jisung yang menyaksikan semua itu hanya bisa mengalihkan tatapannya. Ia tau betul selama ini Yoongi membesarkan Taehyung seorang diri di saat usianya masih sangat muda. Pastinya bukan hal yang mudah apalagi tidak memiliki siapa-siapa sebagai tempat bersandar.

"Apa samchon masih bekerja di Pencatatan Sipil?" Taehyung tiba-tiba saja bertanya

"Iya. Aku masih bekerja di sana. Kenapa?"

"Tak bisakah samchon membawaku bekerja di sana?" kedua alis Taehyung naik turun merayu Jisung

"Itu namanya KKN"

Jisung mencubit paha Taehyung gemas, menyebabkan sang pemilik berteriak kesakitan di depan eommanya yang tertawa.

"Carilah pekerjaan dari lowongan yang ada di Koran"

Yoongi menyodorkan korang terbaru yang terbit dalam seminggu ini kepada Taehyung dan juga Jisung. Jimin berlangganan koran selama ini dan Yoongi tadi berhasil menemukan beberapa yang terbaru saat membersihkan rumah. Mungkin saja koran-koran itu bisa membantu anaknya.

"Cha, kita lihat pekerjaan apa yang cocok dengan Taehyung"

Kaki jenjang Jisung kini menyilang dan punggungnya bersandar pada sandaran kursi. Gayanya yang seperti bos mafia terlihat semakin angkuh ketika tangannya dengan telaten membalik satu persatu lembar Koran, mencari lembar yang memuat lowongan pekerjaan.

"Bagaimana dengan supir taxi? Kau tampan dan juga menarik perhatian. Pasti kau akan punya banyak pelanggan" tawar Jisung

"Aku tidak memiliki surat ijin mengemudi samchon" Taehyung memutar bola matanya malas

"Guru les privat Bahasa Inggris?"

"Taehyung hanya mengerti 'yes' dan 'no' dalam Bahasa Inggris karena dia selalu membolos saat mata pelajaran tersebut" ini Yoongi yang menyahut

"Gurunya menyebalkan" kilah Taehyung

"Kalau seorang bodyguard?"

Pandangan Taehyung dan juga Yoongi bertemu ketika Jisung menyelesaikan kalimatnya. Sepasang ibu dan anak itu memang tidak saling mengucapkan kata-kata, namun tatapan mereka seolah saling berbicara. Telepathy. Jisung menurunkan sedikit korannya untuk mengintip ibu dan anak itu. Mereka berdua masih saling terdiam hingga Jisung membuka suara.

"Kurasa bodyguard bukan pilihan yang bagus" Jisung berdeham

"Aku menyerahkan semuanya pada Taehyung" putus Yoongi

"Apa menjadi bodyguard itu sulit samchon?" kali ini Taehyung memberanikan diri untuk bertanya

"Tidak juga. Disini dikatakan jikau kau hanya perlu mengawal seorang perempuan. Gajinya satu juta won perbulan"

"MWO? SATU JUTA WON?!"

Jisung memejamkan matanya erat begitu mendengar suara kaget Taehyung dan Yoongi menyahut menjadi satu. Ia tau gaji satu juta won itu gaji yang sangat besar, tapi tak bisakah ibu dan anak itu sedikit lebih santai saja? Suara mereka berdua sudah seperti suara halilintar di siang bolong ketika sudah berteriak. Ingatkan Jisung untuk memeriksakan telinga setelah ini.

"Ne. Satu juta won" Jawab Jisung sambil menyunggingkan senyum palsu

"Aku akan ambil pekerjaan itu"

.

.

~BLIND~

.

.

Jungkook menggeliat dari tidurnya begitu merasakan sebuah tepukan halus mengenai pipi chuby-nya. Kelopak matanya perlahan terbuka karena kesadarannya mulai kembali setelah beberapa lama tertidur. Saat kelopak mata itu terbuka sempurna, gelapnya dunia menyapa dirinya lagi. Jungkook membuang nafas berat. Ini bukan pertama kalinya seperti ini bagi Jungkook. Baik dia terbangun ataupun tidur tidak akan ada bedanya bagi Jungkook karena hanya gelap yang menemaninya setiap hari.

"Apa ini sudah pagi?" gadis itu berucap parau sambil mendudukkan dirinya.

"Ini sudah petang sayang. Kau tertidur sejak siang tadi. Sekarang mandilah, eomma sudah siapkan air hangat untukmu?"

"JiHoon?"

"Dia masih tertidur di sampingmu"

Lagi, gadis itu menghela nafas dalam. Saudara kembarnya itu kalau sudah tidur memang sudah mirip dengan kerbau, akan sulit dibangunkan. Ide jahil mendadak terlintas di pikiran Jungkook walaupun baru bangun tidur. Sebuah senyuman jahil terukir di bibir tipis gadis itu yang mana berhasil membuat eommanya bersuara.

"Ingin membangunkannya?"

"Tentu saja eomma, biar aku yang bangunkan anak malas disampingku ini"

"Eomma percayakan JiHoon padamu. Suruh dia mandi juga, eomma dan appa menunggu di meja makan"

"Siap madam"

Setelah memberi gesture hormat pada sang eomma, Jungkook segera melancarkan aksinya. Jungkook menarik kasar selimut yang menyelimuti tubuh mereka sebelumnya lantas membuangnya asal. JiHoon yang merasa hawa dingin mulai merayapi tubuhnya kini mulai bereaksi dengan mengubah posisi tubuhnya menjadi lebih meringkuk.

Tangan ramping Jungkook kini beralih meraba sisi tempat tidurnya guna menemukan tubuh saudaranya itu. Tak butuh waktu lama, akhirnya gadis itu berhasil menangkap keberadaan tubuh JiHoon. Laki-laki itu sama sekali tak terganggu tidurnya saat Jungkook mulai meraba-raba tubuhnya. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki Jungkook meraba, JiHoon sama sekali tak berkutik dan semakin meringkuk. Jungkook mendengus pelan. 'Dasar kerbau' batinnya.

"Yaaak..! Bangun Kim JiHoon pemalas"

BRUK

Bersamaan dengan lengkingan suara Jungkook, saat itu pula JiHoon sukses terjatuh dari tempat tidur. Si laki-laki akhirnya tersadar dari tidurnya akibat tubuhnya yang beradu dengan lantai. Tak lupa, sebuah pekikan lolos dari bibir JiHoon yang tak berapa lama kemudian diikuti oleh beberapa sumpah serapah.

"Tak bisakah kau membangunkanku lebih manusiawi hah?" ujar JiHoon kesal

"Memangnya sejak kapan kau bisa dibangunkan dengan cara manusiawi? Hanya ada dua cara membangunkanmu selama ini. Menyirammu dengan air atau menendangmu dari tempat tidur"

"Kau sama menyebalkan dengan eomma saat membangunkan orang"

"Siapa yang peduli. Cepat bangun dan mandi! Eomma bilang ini sudah petang. Kita ditunggu di meja makan"

"Jam berapa sekarang?" JiHoon tampak tersadar sepenuhnya ketika Jungkook mengucapkan kata 'petang'

"Mana aku tau"

"Astaga aku lupa. Maaf"

JiHoon bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat meninggalkan kamar saudaranya itu sementara Jungkook hanya dapat mengusap wajahnya malas begitu mendengar suara pintu yang di tutup. Tak berapa lama berselang, Jungkook juga meninggalkan kasur queen size-nya dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.

Rasa penat yang melanda setelah bangun tidur membuat Jungkook ingin merendam diri sebentar di dalam air hangat. Tak lupa, gadis itu juga memainkan busa sabun yang melimpah saat sudah berendam. Kakinya yang tadinya lurus kini ikut naik turun memainkan air.

Bosan dengan kegiatan bermain airnya, Jungkook memilih untuk menenggelamkan diri setelahnya. Kakinya yang jenjang ia topangkan pada ujung bath up dan tubuhnya ia buat serendah mungkin hingga hanya separuh wajahnya saja yang tersisa di permukaan.

Jungkook terdiam sejenak dalam keheningan. Mata indahnya yang tadi terbuka kini memilih untuk terpejam menyesapi dinginnya malam. Air hangat di dalam bath up mulai mendingin, membuat tubuh Jungkook berlahan juga diselimuti kedinginan.

BYUR

Layaknya sebuah gambaran dari kehidupan, dinginnya air saat itu melukiskan betapa dinginnya hidup Jungkook saat ini. Dia sendirian menghadapi dinginnya air tersebut. Jungkook tak akan mengeluh dengan hidupnya yang sedingin air. Lebih baik dingin sepenuhnya seperti air yang ia gunakan untuk berendam daripada harus merasakan dinginnya hidup secara berlahan.

.

.

~BLIND~

.

.

Saat Jungkook membuka pintu kamarnya untuk menuju meja makan, saat itu jugalah Jungkook mencium bau parfum yang sangat familiar untuknya. Tidak salah lagi, ini parfum JiHoon. Saudaranya itu sudah menggunakan aroma coklat selama lima tahun terakhir, jadi Jungkook hafal benar dengan itu.

"Mau pergi kemana?" tanya Jungkook sambil menutup pintu

"Ke suatu tempat" singkat JiHoon

"Kau mau latihan dance lagi?"

"Jangan keras-keras. Akan ku cium kau kalau appa dan eomma sampai tau"

"Lakukan saja jika berani"

Jungkook memilih pergi mengabaikan JiHoon yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Tongkat yang dipegangnya kini ia ayunkan pelan guna menunjukkan jalan. Sebenarnya tanpa menggunakan tongkat pun Jungkook sudah hafal betul dengan letak rumahnya ini, tapi demi menghindari masalah seperti memecahkan barang, gadis delapan belas tahun itu memilih tetap menggunakan tongkatnya untuk menunjukkan jalan.

Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya Jungkook sampai di meja makan. Di tariknya salah satu kursi yang ia yakini tempat duduk favoritnya lantas mendudukkan diri di sana. Dari tempatnya duduk, Jungkook dapat mencium wangi masakan eommanya yang begitu menggiurkan. Selain itu Jungkook juga dapat mendengar suara cangkir yang beradu di meja makan, maka sudah jika appa-nya juga sudah berada di meja makan.

"Dimana JiHoon?"

"Masih di depan kamarnya" singkat Jungkok

SeokJin datang sambil meletakkan semangkuk besar sup ayam yang telah berhasil ia masak sempurna. NamJoon melirik sekilas istrinya yang baru datang di meja makan, dan beberapa saat kemudian menatapnya tajam. Perempuan itu awalnya bingung dengan tatapan suaminya, namun beberapa saat kemudian SeokJin tersadar jika celemek yang ia pakai masih terpasang di tubuhnya. Perempuan itu berlari kembali ke dapur dan melepas celemeknya di sana. Saat dirinya kembali, SeokJin sudah mendapati JiHoon duduk tenang di samping Jungkook.

"Baiklah ayo kita mulai makan malamnya. Bukankah kita sudah jarang berkumpul bersama seperti ini?"

Sebagai ibu dan istri yang baik, SeokJin sibuk melayani anggota keluarga Kim itu satu persatu. Ia mengambil beberapa centong nasi ke dalam piring lalu menyerahkannya kepada NamJoon terlebih dahulu. Setelahnya, SeokJin juga melakukan hal yang sama kepada kedua anaknya yang tampan dan juga cantik itu.

Khusus hari ini SeokJin memasak makanannya seorang diri. Biasanya ia akan ditemani tukang masak yang ada di rumah, namun karena hari ini sangat special bagi SeokJin, maka perempuan itu bersikeras memasak seorang diri.

Makan malam di kediaman Keluarga Kim berlangsung begitu sunyi. Hanya ada suara dari perabotan makan yang saling beradu memenuhi ruang makan tersebut saat ini. Bukan hal yang asing lagi memang. NamJoon memang melarang keras anggota keluarganya saling berbincang ketika sedang makan karena menurutnya itu sangat menganggu dan menyebabkan kegiatan makan mereka menjadi lama.

"Aku sudah selesai"

JiHoon bangkit dari duduknya dan menyambar sebuah tas pungguh yang telah ia bawa sebelumnya. Laki-laki itu membungkuk sebentar pada orang tuanya guna meminta ijin, dan beberapa saat kemudian JiHoon berlalu meninggalkan meja makan.

"Mau kemana?"

Suara dingin NamJoon berhasil menghentikan langkah kaki seorang Kim JiHoon. Saudara kembar Jungkook itu terdiam beberapa saat di tempatnya berdiri hingga akhirnya berbalik menatap keluarganya yang masih setia duduk di meja makan.

"Aku ada janji dengan WooJin" jawabnya tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun

"Kau ada presentasi besok diperusahaan appa. Apa kau lupa?"

"Appa tak perlu khawatir, aku sudah mempelajarinya. Aku akan hadir pada presentasi besok"

"Bagus. Jangan pulang terlalu malam"

"Baik"

Laki-laki itu kembali melangkah setelah memberi hormat untuk kedua kalinya pada NamJoon dan SeokJin. Keadaan kembali hening setelah kepergian JiHoon. SeokJin yang sebenarnya tak suka dengan keadaan ini melirik sinis suaminya dari ekor matanya, berharap jika lelaki itu akan sedikit peka, namun NamJoon tampak tidak peduli.

"Appa"

NamJoon mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara Jungkook. Sang ayah menatap anaknya yang kini meletakkan sendok dan garpunya di atas piring kosong milik gadis itu. Tak biasanya Jungkook akan berbicara kepadanya seperti ini jika memang bukan suatu hal yang sangat penting.

"Jangan terlalu mengekang JiHoon. Dia masih muda appa"

Jungkook melanjutkan perkataannya setelah memastikan posisi duduknya telah nyaman. SeokJin yang mendengar pendapat putrinya berlahan meletakkan sendok yang ia pegang. Kini pandangan ibu dua anak itu beralih pada NamJoon yang masih setia menyuapkan nasi ke dalam mulut.

"Kau tau apa soal mengurus anak" NamJoon akhirnya buka suara

"Aku memang tak seharusnya mengatakan hal tersebut pada appa. Tapi terkadang aku merasa kasihan pada JiHoon. Waktu bermainnya menjadi berkurang sejak appa menyuruh JiHoon belajar bisnis di kantor"

"Aku selesai makan"

Satu-satunya lelaki yang masih tersisa di meja makan tersebut kini beranjak dan mulai pergi. Sadar akan hal tersebut, Jungkook tak tinggal diam. Gadis itu juga ikut berdiri dan mengikuti kemana perginya suara langkah sang appa. SeokJin yang menjadi orang terakhir di meja makan memilih diam menyaksikan ayah dan anak yang sepertinya akan segera bertengkar. Biarlah anaknya menyampaikan pendapatnya, toh mereka sudah dewasa

"Jika appa ingin mengekangku maka kekang aku saja, tapi jangan JiHoon"

Laki-laki itu menghentikan langkahnya lantas berbalik ke arah Jungkook berdiri. Ia mengamati putri satu-satunya itu mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki lantas berdecih pelan. Jungkook masih dapat mendengar itu.

"Memang apa yang bisa kau lakukan?" tanya NamJoon serius

"Aku…"

"Apa kau bisa mengurus perusahaan?"

"Appa…"

"Bisa kau pastikan jika kau tak akan ditipu karyawanmu ketika mengurus perusahaan?"

"A-aku"

"Bukankah gadis buta sepertimu lebih baik duduk di rumah merangkai bunga dan bermain piano?"

"NAMJOON. CUKUP"

Kali ini SeokJin angkat bicara. Ia sudah mendiamkan kedua ayah dan anak itu sejak tadi, namun semakin lama perkataan NamJoon semakin keterlaluan.

Perempuan itu menghampiri kedua manusia yang masih berdiri di area ruang makan untuk melerai. Tak ingin suasana semakin panas, SeokJin menyerahkan sebuah piring yang telah penuh makanan kepada Jungkook.

"Antar ini pada kakek"

Jungkook menerima piring yang diberikan eommanya lantas berbalik cepat. Matanya sudah memanas sejak perdebatan dengan appanya tadi. Sebuah bulir air mata lolos tanpa Jungkook sadari, dengan terburu-buru gadis itu segera mengusapnya kasar sebelum ada yang menyadari.

SeokJin mendekati suaminya yang masih berdiri mematung di hadapannya. Dengan berlahan, perempuan itu mulai melingkarkan kedua lengannya pada pinggang NamJoon saat tak ada lagi jarak diantara mereka. Tak ketinggalan, SeokJin juga menyandarkan kepalanya pada dada bidang NamJoon untuk bersandar. Awalnya NamJoon tak merespon, namun SeokJin yang tak kunjung lepas dari pelukannya membuat laki-laki itu akhirnya membalas pelukan sang istri.

"Kau tau NamJoon? Hati seorang ibu sangat sakit ketika anaknya dihina"

"Aku tak pernah menghina Jungkook. Aku mencoba menyadarkannya pada kenyataan"

"Apa kau fikir menjadi buta adalah keinginan Jungkook?"

"Dunia ini kejam sayang. Jungkook harus tau itu"

"Aku memaafkan kesalahanmu di masa lalu. Tapi aku tidak bisa menjamin jika akan memaafkanmu di masa sekarang"

"Jangan pernah maafkan aku"

Berlahan namun pasti, air mata SeokJin jatuh satu persatu. Perempuan itu terisak di dalam dekapan suaminya. Jemarinya yang ramping kini sibuk mencengkram kaos polos yang dikenakan NamJoon. Laki-laki itu tak bergeming saat SeokJin menangis. Ia tak ingin menahan istrinya untuk menangis. Biarlah istrinya itu melampiaskan apa yang selama ini dirasakannya. SeokJin sudah menangis, itu artinya kesabaran perempuan yang dinikahinya lebih dari dua puluh tahun itu sudah menipis. Biarlah kaos NamJoon menjadi saksi perasaan mereka saat ini.

Tanpa kedua orang dewasa itu sadari, Jungkook mendengarkan percakapan orang tuanya sedari tadi. Ia bersembunyi di balik tembok tepat beberapa saat sebelum eommanya membuka pembicaraan dengan appanya. Awalnya ia memang tak berniat menguping, tapi nalurinya berkehendak lain. Sebelah tangan gadis itu mengepal kuat pada tongkat yang ia pegang. Matanya tak berhenti mengalirkan air mata sejak percakapan orang tuanya dimulai. Bohong jika hatinya tidak sakit. Tapi apa yang dikatakan ayahnya memang benar. Gadis buta seperti dirinya bisa apa?

.

.

.

TBC

A/N :

Annyeong…

Aku merasa ff ini semakin bosan. Entah kenapa, aku punya banyak ide tapi sulit menuliskannya. Silakan sampaikan ide readers-deul buat ff ini. Siapa tau aku akan dapat inspirasi dari ide yang kalian berikan

Don't forget to review

See You on next chap ^_^