CHAPTER 8
BRAND NEW
.
.
.
Malam berlalu begitu cepat, dalam kedipan mata kini sang surya telah bangun dari tidurnya dan kembali menyinari dunia. Taehyung yang tengah asyik bergelung dalam selimutnya kini harus terusik saat secercah cahaya yang lumayan menyilaukan menyinari tepat pada wajah tampannya. Laki-laki itu mendesah lalu tubuhnya kini berganti posisi untuk menghindari cahaya tersebut. Ia terlanjur mimpi indah dan tak ingin melewatkannya, jadi siapapun yang mengganggu tidur Taehyung, tolong minggirlah sejenak.
"Masih tidak mau bangun?"
Sebuah suara samar-samar tertangkap oleh pendengaran Taehyung, tapi ia tak mau ambil pusing dan memilih untuk mengabaikannya. Alam bawah sadar Taehyung kini berlahan tapi pasti mulai masuk kembali ke alam mimpi setelah sempat terusik beberapa saat.
Dalam mimpinya tersebut, Taehyung melihat seekor kupu-kupu yang sangat cantik beterbangan menggoda dirinya. Saat ia hendak menagkapnya, kupu-kupu itu pergi menjauh. Pada awalnya Taehyung tak berniat sama sekali untuk mengejarnya, namun kupu-kupu itu kembali menggodanya hingga hasrat Taehyung untuk mengejarnya pun bangkit. Laki-laki itu berlari melewati luasnya ilalang yang tumbuh liar membentuk padang.
Sekian lama berlari, Taehyung baru menyadari jika ia sudah berlari terlalu jauh. Kakinya berhenti dan matanya menatap sekitar. Entah sejak kapan, tapi sekarang Taehyung tengah berada di tengah-tengah padang ilalang. Sejauh matanya memandang, hanya ilalang liar yang terlihat. Padang ini seperti tak berujung, membuat hati Taehyung berdebar hebat melihatnya. Ia mencoba kembali mencari sosok kupu-kupu itu, berharap jika makhluk cantik itu dapat memberinya petunjuk. Tubuhnya mulai berputar guna mencari makhluk kecil tersebut, hingga akhirnya perasaan lega berhasil di dapatkan oleh Taehyung tatkala mendapati makhluk kecil tersebut berada pada arah jam sepuluh dari tempatnya berdiri saat ini.
Seulas senyum kini tersungging di bibir lelaki muda itu. Dengan alami, kakinya ingin sekali melangkah dan mendekati kupu-kupu tersebut, namun entah kenapa kakinya seperti memiliki perekat sehingga tidak bisa digerakkan. Taehyung menggeram frustasi, bibirnya mencoba memanggil kupu-kupu tersebut tapi tak ada satupun suara yang dapat di hasilkan. Kini ia mulai panik, apalagi kupu-kupu itu mulai beranjak. Makluk kecil itu beterbangan di udara beberapa saat hingga keanehan mulai terjadi. Taehyung terdiam di tempat ketika menyaksikan kupu-kupu yang ia kejar tadi diselimuti oleh sebuah cahaya putih. Cahaya itu semakin lama semakin terang dan membesar hingga pada akhirnya Taehyung dibuat terkejut karena sosok kupu-kupu tadi berubah menjadi seorang gadis dikejauhan sana.
'Siapa dia?'
Langit tampaknya mendengar kata hati Taehyung. Bak adegan slow motion, gadis di ujung pandangan Taehyung mulai berbalik. Gerakannya begitu lambat hingga Taehyung yang penasaran mencengkram ujung bajunya kuat-kuat.
Gadis itu sudah berbalik sejauh sembilan puluh derajat, mengakibatkan Taehyung dapat melihat wajah gadis itu dari samping. Matanya sedikit bulat, hidungnya bangir dan bibirnya sungguh merona seperti cherry. Ketika gadis itu sudah mencapai sudut seratus dua puluh derajat, mendadak sebuah petir menyambar dari langit. Taehyung yang terkejut mendongak dengan spontan. Langit begitu bersih tanpa adanya awan dan beberapa saat kemudian tetes demi tetes air turun membasahi bumi. Air itu turun semakin deras, membuat tangan Taehyung kini menengadah guna merasakannya. Taehyung merasa terbuai dengan dinginnya air hujan yang turun saat itu.
'Gadis itu….'
Kesadaran laki-laki itu kembali di saat yang tidak tepat. Saat Taehyung menatap ke tempat gadis misterius tadi berdiri, tempat itu sudah kosong. Tak ada seorang pun di sana.
TEEEENG
Jiwa Taehyung kembali pada raganya begitu kedua tutup panci yang dipegang Jimin saling beradu. Laki-laki itu terlonjak dari tidurnya dan matanya berhasil terbuka sempurna walaupun fikirannya masih melayang entah kemana. Kepala Taehyung mendadak berdenyut hebat hingga ia harus memeganginya sejenak, berharap rasa sakitnya sedikit berkurang.
"Apa aku harus menggunakan kekerasan seperti ini setiap harinya untuk membangunkan Taehyung?"
"Tidak apa oppa. Lagipula aku juga sering melakukannya ketika di Daegu"
Yoongi menyahut entah darimana, membuat Taehyung menatap sekitarnya hingga pandangannya berakhir pada Jimin yang sudah berdiri tegap di samping tempat tidur.
"Masih mengantuk?" tanya Jimin
"Samchon membuat kepala ku pusing" Taehyung menjawab dengan serak
"Bersyukurlah aku masih sayang dengan tempat tidur ku sehingga aku tidak sampai menyiram mu dengan air"
"Lain kali siram saja aku dengan air. Tutup panci itu sungguh membuat kepalaku lebih sakit"
"Cepat mandi. Yoongi berkata padaku kemarin jika kau akan melamar kerja hari ini"
"ASTAGA….AKU LUPA"
Taehyung menyambar handuk yang ia gantung di balik pintu dan berlari gesit menuju kamar mandi hingga tak menyadari keberadaan Yoongi yang tengah memasak di dapur. Melihat anak-nya kalang kabut, Yoongi menatap Jimin penuh tanya saat laki-laki itu keluar dari kamarnya.
"Taehyung kenapa?" Yoongi membalik telur mata sapi yang sedang ia goreng
"Dia hanya lupa jika hari ini akan melamar kerja"
Jimin memilih mendudukkan diri di meja makan sambil menyeruput secangkir kopi yang mulai dingin karena ia tinggal membangunkan Taehyung. Tak berapa lama berselang, Yoongi datang membawa dua buah piring dimana saat Jimin meliriknya ia melihat tiga telur mata sapi di sebuah piring dan beberapa sosis yang ditumis pada piring satunya. Perempuan itu meletakkan ke dua piring tersebut di atas meja makan lalu kembali lagi berkutat di dapur setelahnya. Jimin menatap Yoongi yang berkutat di dapur dalam diam sambil menyeruput kopinya lagi.
"Kau tak perlu memasak terlalu banyak" nasehat Jimin
"Aku hanya membuat telur mata sapi, tumis sosis dan sup jagung yang sebentar lagi akan selesai. Apa itu berlebihan?" Yoongi berhenti dengan kegiatannya dan menatap Jimin
"Aku tak makan sebanyak itu Yoon"
"Aku tau… Oppa"
Tak ada pembicaraan setelahnya. Yoongi kembali berkutat dengan masakannya dan Jimin kembali menyeruput kopi. Suasana di antar mereka berdua berlangsung begitu canggung saat tak ada Taehyung. Jimin sungguh tak menyukai suasana yang canggung seperti ini. Keadaan yang terjadi delapan belas tahun lalu kembali terulang, membuat Jimin berdecak kasar.
"Yoongi-ya" Jimin menatap ke arah dapur
"Ya?" Yoongi tersentak
"Terimakasih kopinya"
Yoongi tersenyum manis menagggapi perkataan Jimin, membuat laki-laki yang duduk di ujung meja makan itu juga ikut tersenyum tak lama setelahnya sambil mengangkat cangkir kopi.
"Eomma, aku tak usah sarapan hari ini. Kurasa aku bisa terlambat jika harus sarapan"
Entah datang dari mana, sekarang Taehyung mendatangi Yoongi dengan pakaian yang sudah rapi. Rambutnya diberi pelicin dan disisir ke belakang, menyebabkan dahi yang cukup lebar itu terpampang jelas saat ini.
"Duduk dan sarapan dulu. Kau tak akan terlambat, eomma yang jamin"
"Eomma…."
Taehyung menarik-narik baju Yoongi mirip anak kecil yang tak berhasil mendapatkan permennya. Perempuan itu hanya acuh saja melihat tingkah Taehyung. Yoongi memilih untuk menuangkan sup yang berhasil ia masak ke dalam sebuah mangkuk berukuran sedang lalu membawanya ke meja makan. Taehyung yang merasa sebal karena diabaikan kini mengikuti eommanya yang sudah duduk tenang di meja makan sambil mengambilkan beberapa centong nasi untuk Jimin.
"Eomma… Kumohon beri aku restumu" lagi-lagi Taehyung mencoba untuk merayu
"Tidak sebelum kau sarapan"
"Samchon… Kau tak ingin membantuku?"
"Turuti apa kata eomma mu Tae"
Dengan menghentakkan kaki kuat ke lantai, Taehyung akhirnya menyerah dan memilih ikut makan bersama Yoongi dan juga Jimin. Laki-laki itu mengambil secentong nasi dengan kasar, begitupun dengan telur mata sapinya. Jimin yang melihat hal tersebut hanya melirik malas, sedangkan Yoongi sudah memelotot horor walaupun tak diindahkan oleh sang anak.
"Kenapa makanmu sedikit sekali?" tanya Yoongi dengan nada yang masih baik
"Diet"
"Kau ingin eomma colok dengan garpu hah?" kali ini kesabaran Yoongi mulai menguap
"Lakukan saja jika eomma ingin" sesuap nasi berhasil masuk ke mulut Taehyung
TAAAG
"Astaga eomma mengejutkanku / Yoongi-ya"
Sebuah garpu mendarat tepat di hadapan Taehyung. Dengan tidak baik hatinya eomma Taehyung menancapkan garpu yang ia pegang tepat mengenai telur mata sapi pemuda tersebut. Taehyung menatap eommanya horor, disaat seperti ini Yoongi terlihat seperti malaikat cantik bersayap hitam yang aslinya menyeramkan. Laki-laki itu hanya meneguk ludahnya kasar.
"Aku akan sarapan" cicit Taehyung
.
.
~BLIND~
.
.
Taehyung tiba di pusat Kota Seoul setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam menggunakan bus kota. Berbeda dengan saat pertama kali datang ke Seoul, kali ini Taehyung harus rela berdesak-desakan di dalam bus karena ia berangkat pada pagi hari dimana banyak pekerja maupun pelajar juga berangkat di saat yang sama. Terkadang jika bepergian jauh seperti ini Taehyung merutuk dalam hati, kenapa Jimin memiliki rumah di pinggiran Kota Seoul sementara kebanyakan orang memilih tinggal di pusat kota karena dekat dengan tempat bekerja.
Sesuai arahan Jisung, Taehyung turun di halte ke-tiga setelah dari terminal. Pemuda itu turun dari bus sambil memegang secarik kertas yang menuliskan alamat tempat ia akan melamar. Karena bingung harus pergi ke arah mana, akhirnya Taehyung memutuskan untuk bertanya pada salah seorang ahjussi yang berjualan minuman tak jauh dari halte tersebut.
Setelah menerima arahan dari sang ahjussi penjual minuman, Taehyung mengucapkan terimakasih lantas membungkuk sebagai tanda hormat. Sekarang ia mengerti harus pergi ke arah mana. Ahjussi itu berkata jika ia harus berjalan ke arah kanan sejauh satu kilo meter dan ketika sampai di perempatan, ia harus belok kanan hingga menemukan rumah paling mewah di daerah sana.
Jika tau begini Taehyung tak akan menolak tawaran Jisung yang berbaik hati mau mengantarnya. Akibat keras kepala dan sikap sok jagoannya sekarang ia harus banjir keringat yang mengakibatkan penampilannya sedikit lusuh.
"Hah, jika terus begini bisa hilang kadar ketampananku" monolognya
Laki-laki itu menyeka peluh di dahinya lalu melanjutkan perjalanan. Ia tak boleh menyerah hanya karena harus berjalan jauh mencari alamat seperti ini. Terbukti, setelah sekian lama berjalan tanpa mengetahui jaraknya, Taehyung tiba di depan sebuah bagunan megah di salah satu kawasan elit Kota Seoul.
Rahang Taehyung terjatuh dengan tidak elitnya saat menatap megahnya bagunan tersebut. Ini pertama kalinya ia melihat rumah atau yang lebih pantas disebut istana seumur hidupnya. Bahkan rumah di hadapannya saat ini lima kali lebih megah jika dibandingkan dengan rumah pengusaha paling sukses di Daegu.
"Apa ini benar rumahnya?"
Lagi-lagi Taehyung ber-monolog. Ia menatap secarik kertas yang dipegangnya sedari tadi. Dicocokkannya alamat yang tertera di depan rumah tersebut dengan alamat yang tertulis di secarik kertas pada tangannya.
"Waah daebak. Apa aku sungguh akan melamar kerja di sini?"
Taehyung masih asyik mengagumi megahnya rumah itu hingga tidak sadar seorang satpam membuka gerbang rumat tersebut.
"Hei anak muda! Jika kau tidak memiliki kepentingan pergilah. Jangan berdiri seperti itu di depan rumah"
Mendengar suara tersebut Taehyung menoleh. Ini kesempatan bagus, alangkah baiknya jika ia bertanya pada laki-laki berpakaian satpam itu apakah rumah ini masih membutuhkan bodyguard atau tidak. Dengan langkah yang sedikit ragu, Taehyung memberanikan diri mendekati satpam tersebut lantas bertanya.
"Ahjussi-"
"Yak, apa aku terlihat tua hah?"
"Hah? A… Maksudku… Hyung…"
"Ya, ada apa?"
"Apa rumah ini masih membutuhkan bodyguard?"
"Kau ingin melamar?"
Pemuda itu mengangguk antusias mendengar pertanyaan sang satpam. Untung saja di dunia ini masih banyak orang peka, sehingga Taehyung tak perlu repot banyak bicara untuk menjelaskannya.
"Siapa namamu? Aku akan memberitau Sekretaris Jung"
"Namaku Taehyung"
"Nama lengkap?"
"Taehyung"
"Kau tidak punya nama keluarga?"
"Ah itu…"
BEEP
BEEP
Baik Taehyung atau pun satpam itu terlonjak kaget ketika mendengar suara klakson mobil tersebut. Dengan gerakan cepat, si satpam muda itu menarik pergelangan tangan Taehyung hingga keduanya berada di pinggir gerbang saat ini. Pemuda itu menatap si satpam bingung, terlebih lagi satpam itu membungkuk hormat saat sebuah mobil berlahan lewat di depan mereka. Taehyung mengamati mobil yang lewat di depannya dengan intens. Kali ini bukan karena mobilnya yang mewah, tapi perhatian Taehyung justru terpaku pada penumpang yang duduk di kursi belakang. Kaca mobil yang sedikit tembus pandang membuat Taehyung dapat melihat seorang lelaki awal empat puluh tahunan tengah duduk di sana. Walaupun tidak dalam jarak dekat, tapi Taehyung bisa merasakan aura berkuasa dari laki-laki tersebut.
"Itu adalah Tuan Kim NamJoon"
Taehyung menoleh mendengar penuturan si satpam yang sudah kembali berdiri tegak di sebelahnya saat ini. Dengan dahi sedikit berkerut, rasa penasaran Taehyung terusik. Ia jadi ingin tau lebih banyak lagi mengenai calon majikannya saat ini.
"Pemilik rumah ini?"
"Ya… Begitulah"
"Hyung-"
"Duduklah dulu di pos satpam. Aku akan menghubungi Sekretaris Jung terlebih dahulu"
"Baiklah"
"Oh ya Taehyung, namaku Kang DongHo. Kau bisa panggil aku DongHo
"Iya hyung"
DongHo terlihat sedikit menjauh dari tempatnya berdiri dan terlihat sedang menghubungi seseorang yang ia sebut Sekretaris Jung tadi. Sekarang Taehyung jadi bingung sendiri harus melakukan apa. Ia ingin mengikuti saran DongHo untuk duduk di pos satpam tapi ia sendiri juga sedikit takut melakukannya karena masih orang baru. Karena rasa lelah yang sudah tidak dapat ditoleri lagi, akhirnya Taehyung pasrah dengan keadaan. Pemuda itu berjalan gontai menghampiri pos satpan dan mendudukkan dirinya di salah satu bangku yang tersedia. Diturunkannya tas punggung yang sedari tadi ia gendong lantas mengeluarkan sebotol minuman dari sana.
Jus jeruk yang dibawakan Yoongi untuknya benar-benar segar di tenggorokan Taehyung. Laki-laki itu mendesah puas ketika staminanya telah kembali hanyak karena jus jeruk buatan eommanya. Saat Taehyung menutup botol minumannya, tak berapa lama kemudian DongHo datang menghampirinya.
"Bagaimana hyung?" tanya Taehyung
"Masuklah ke dalam dan temui Sekretaris Jung"
"Tapi hyung, aku tidak tau wajah Sekretaris Jung"
"Tanya saja pada pelayan di dalam. Mereka akan memberitau mu"
Taehyung mengangguk pasrah mendengar saran DongHo. Mau bagaimana lagi, satpam itu sudah terlihat kembali bekerja ketika Taehyung ingin meminta bantuan untuk mengantarnya. Dengan tekad yang kuat, Taehyung melangkahkan kakinya lebih jauh memasuki rumah mewah tersebut. ia terpana bukan main saat ini. Taehyung kira ia akan langsung sampai ke depan pintu rumah, tapi itu semua salah besar. Untuk mencapai pintu utama rumah tersebut, ternyata Taehyung harus mengelilingi taman yang terletak persis di hadapannya. Jika saja tamannya kecil itu tidak masalah, tapi taman di hadapannya ini sungguh luas, hampir dua kali rumah Jimin.
"Kenapa orang kayak sangat suka membangun sesuatu yang tidak penting" rutuknya.
Lima menit berjalan memutari taman, akhirnya Taehyung tiba di depan pintu utama rumah mewah tersebut. Dengan perasaan was-was, kini kakinya melangkah memasuki rumah tersebut karena pintunya terbuka lebar. Taehyung di sambut oleh seorang pelayan paruh baya ketika baru dua langkah berjalan.
"Maaf tuan siapa?"
"A-aku ingin melamar pekerjaan ahjumma. Bisa aku bertemu Sekretaris Jung? Satpam di depan berkata jika aku harus menemui Sekretaris Jung"
"Ah, melamar pekerjaan. Tuan duduklah dulu. Aku akan memanggilkan Sekretaris Jung"
"Baiklah ahjumma"
Perempuan paruh baya itu membawa Taehyung memasuki ruang tamu rumah tersebut. Dan untuk kesekian kalinya Taehyung dibuat takjub dengan dekorasi rumah ini. Arsitekturnya sungguh mewah, mirip rumah-rumah eropa yang ia tonton di televise. Di ujung dinding yang bersebrangan dengan Taehyung, berbagai lukisan mahal tergantung indah disana. Saat mata pemuda itu menoleh ke kiri, ia melihat lorong yang cukup luas dengan beberapa figora photo tergantung di sisi kanan kiri temboknya.
Katakanlah Taehyung lancang karena saat ini entah mendapat dorongan dari mana kaki Taehyung berjalan mendekati lorong tersebut. Langkah demi langkah tanpa sadar Taehyung jalani tanpa perasaan bersalah. Rumah ini terasa begitu akrab dengan dirinya. Bahkan saat pertama kali menginjakkan kaki, hawa sejuklah yang menyapa Taehyung.
Setibanya di lorong, Taehyung dibuat berdecak kagum dengan deretan foto yang terpajang di saja. Dari ujung lorong tempatnya berdiri, Taehyung dapat melihat sebuah foto lelaki yang sudah sangat berumur duduk berwibawa di sebuah kursi sambil memegang tongkat. Jika ia boleh menebak, pasti laki-laki tua di foto tersebut adalah pemilik tertua dari rumah ini. Di sudut paling bawahnya terukir nama 'Kim Heechul' yang Taehyung yakini adalah nama dari laki-laki tua tersebut.
Selanjutnya ada foto dari pasangan suami istri yang mengenakan pakaian pengantin di sana. Tampaknya foto tersebut diambil ketika pasangan tersebut mengikat janji suci. Tampak sekali keduanya sangat bahagia ketika foto tersebut di ambil. 'Kim NamJoon & Kim SeokJin'
"Pasangan yang sempurna" Taehyung menanggapi
Sekarang perhatian Taehyung teralih pada foto setelah milik pasangan suami istri tadi. Disamping foto tersebut, terdapat foto seorang gadis yang terlihat masih sangat belia tengah menghadap kamera dengan senyumnya yang manis. Gadis itu mengenakan gaun berwarna merah yang sungguh kontras dengan kulit seputih susunya. Taehyung memandangi foto tersebut cukup lama. Mendadak hatinya tak pernah puas untuk memandangi sosok gadis yang sungguh cantik tersebut. Ada semacam ikatan tak kasap mata yang menahannya untuk tidak pergi dari tempat tersebut. Entahlah, Taehyung juga tak mengetahui apa itu.
"Kim Baekhyun" ujarnya lirih hampir tak terdengar
Taehyung terkesiap saat setetes air mata jatuh meluncur melewati pipinya. Dengan buru-buru pemuda itu menyeka air matanya. Taehyung menjadi bingung sendiri. Ia tidak dalam suasana yang sedih, juga tidak merasakan gejolak apapun. Tapi entah kenapa air matanya meluncur begitu saja saat ia membaca nama si gadis berbaju merah.
Saat Taehyung sibuk mencerna apa yang terjadi, tiba-tiba pendengarannya menangkap sebuah alunan piano mengalun dari ujung lorong satunya. Karena penasaran, akhirnya Taehyung memutuskan untuk melihat siapakah yang bermain piano di hari yang sungguh panas itu.
Langkah Taehyung menjadi semakin pelan ketika ia sudah dekat dengan sumber suara. Ia samar-samar dapat melihat punggung seorang gadis tengah bergerak indah mengikuti alunan music yang diciptakannya. Untuk beberapa saat Taehyung terbius tanpa sadar.
Hampir lima menit lamanya Taehyung memandangi gadis yang bermain piano itu dalam diam. Music yang dimainkannya begitu bergejolak, membuat Taehyung ingin mengetahui siapa pemilik punggung indah tersebut.
"Kau siapa?"
Karena terkejut, Taehyung langsung memutar badannya. Kini matanya membulat ketika mendapati seorang perempuan yang dilihat di dalam foto tadi berdiri di hadapannya.
"Maafkan aku Nyonya" sesal Taehyung tak mampu menatap perempuan di hadapannya
"Siapa eomma?"
Perempuan yang Taehyung ketahui bernama SeokJin tersebut mengalihkan fokus kepada gadis yang Taehyung yakini pemain piano tadi. 'Jadi gadis piano itu adalah anak Nyonya SeokJin?' batin Taehyung. Laki-laki itu melirik dari ekor matanya untuk melihat seperti apa rupa si gadis piano. Hanya hidung bangir dan bibir semerah cherry yang dapat Taehyung lihat. Ingin sekali rasanya ia berbalik, tapi ia terlalu segan karena ada ibu si gadis piano.
"Hanya seseorang. Lanjutkan permainanmu sayang. Kau sudah banyak berkembang"
"Ne eomma"
"Maafkan atas kelancanganku Nyonya. Aku mendengar suara piano tadi dan tertarik"
Kali ini Taehyung benar-benar membungkukkan badannya sembilan puluh derajat karena merasa bersalah. Bagaimana pun juga ia telah lancang memasuki rumah ini semakin dalam tanpa ijin sang pemilik.
"Tak apa, aku bisa memaklumi. Siapa kau dan ada apa datang kemari?"
"Perkenalkan. Namaku Taehyung, aku datang kesini untuk melamar pekerjaan"
"Jadi kau yang bernama Taehyung?"
SeokJin berbalik ketika mendengar suara yang sangat familiar untuknya menyahut dari belakang, sedangkan Taehyung semakin terpaku ketika melihat seorang lelaki berwibawa dengan menggunakan jas hitam tengah berjalan ke hadapannya.
"Kebetulan sekali kau datang Sekretaris Jung. Ada yang ingin melamar pekerjaan"
"Aku di beritau oleh DongHo jika ada seseorang yang ingin melamar menjadi bodyguard nona muda"
"Kau ingin melamar menjadi bodyguard putriku?" tanya SeokJin pada Taehyung
"Begitulah adanya Nyonya"
"Ikutlah dengan Sekretaris Jung. Dia akan menyeleksimu"
Hoseok membungkuk sedikit pada SeokJin lantas mengajak Taehyung untuk mengikutinya. Sebagai orang yang akan bekerja melindungi salah satu keluarga orang kaya, Taehyung harus melewati beberapa tes hingga dinyatakan lulus nantinya.
Ketika Taehyung dan Hoseok baru berjalan lima langkah, tiba-tiba saja SeokJin memanggilnya.
"Taehyung"
"Ya nyonya?" pemuda itu berbalik
"Kelihatannya kau pemuda baik. Semoga kau beruntung menjadi bodyguard putriku" ucapnya penuh perhatian
"Aku akan melakukan yang terbaik Nyonya"
.
.
.
TBC
A/N :
Annyeong…
Aku sudah mendapat inspirasi untuk melanjutkan FF ini. Akhirnya… :D
Hope you like readers deul
Review?
See you on next chap ^_^
