CHAPTER 10
SAME
.
.
.
Hari yang tadinya sore kini beranjak menjadi malam yang cerah penuh bintang-bintang. Yoongi yang sedari tadi berdiri di ambang pintu menunggu sang putra kini mulai lelah dan akhirnya memutuskan masuk ke dalam rumah. Nafasnya berhembus sedikit kasar tanpa disadari saat melihat Jimin masih berkutat di depan laptopnya. Dengan teratur, perempuan itu mulai mendudukkan diri di sofa butut milik si lelaki lantas menyalakan televise untuk mengusir suasana sunyi. Tangan Yoongi sibuk menggonta-ganti channel dengan tidak semangatnya, sementara Jimin yang melirik dari sudut matanya hanya menatap diam lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Tidurlah! Ini sudah malam"
Suara Jimin baru menyapa indra pendengar Yoongi setelah sepuluh menit berlalu. Yoongi menoleh dan menatap seksama Jimin yang masih berkutat dengan kertas-kertas di hadapannya. Ia sungguh bosan saat ini. Ingin sekali rasanya ia mengajak Jimin mengobrol, tapi ia cukup tau diri untuk tidak mengganggu laki-laki itu di saat bekerja.
"Oppa mau kubuatkan kopi?"
"Tidak perlu, sebentar lagi pekerjaanku akan selesai"
"Seharian ini oppa tak istirahat sama sekali, apa tidak lelah?"
Kini posisi Yoongi berubah menjadi ikut duduk di bawah menemani Jimin. Perempuan itu melirik sekilas isi berkas yang berserakan di atas meja ruang tamu. Awalnya Yoongi merasa biasa saja, namun matanya sedikit membulat kala menyadari berkas yang dikerjakan Jimin sedari tadi adalah tentang pembunuhan.
"Sebenarnya apa pekerjaan oppa? Kenapa isi berkasnya mengerikan?"
"Kau masih saja suka penasaran seperti delapan belas tahun yang lalu"
"Benarkah? Itu bagus. Artinya aku sama sekali tak berubah" jawab Yoongi sedikit tertarik
Jimin melepas kaca mata yang ia gunakan. Dengan sedikit gemas, laki-laki itu mengusak rambut Yoongi yang terikat rapi. Alhasil si perempuan pun mengajukan protes sebal karena rambut rapinya kini sudah seperti sarang burung karena ulah Jimin.
"Cepatlah menikah, kau sudah terlalu lama melewatkan masa muda mu" tutur Jimin
"Kenapa oppa selalu membahas hal itu akhir-akhir ini"
Raut wajah Yoongi berubah mendengar perkataan Jimin. Dengan tidak semangat, perempuan itu beranjak dari samping Jimin dan kembali mendudukkan diri di sofa. Tangannya kembali memegang remote lantas mengganti channel dengan tidak teratur.
"Aku hanya merasa kasihan melihatmu seperti ini terus. Kau butuh pendamping hidup untuk membagi beban hidup mu Yoon"
"Aku memang menyedihkan bukan?"
"Bukan itu maksudku-"
"Asal oppa tau saja, aku sudah bahagia memiliki Taehyung sebagai anakku"
"Tapi tetap saja dia bukan anak kandungmu. Suatu saat dia akan tau kebenarannya"
"Aku mengerti. Bukankah lebih baik oppa saja yang segera menikah? Kau sudah cukup tua Jimin-ssi"
"Min Yongi…"
"Bangunkan aku saat Taehyung tiba"
Perempuan itu memilih merebahkan dirinya lalu meringkuk di sofa. Yoongi merasa jengah berbicara dengan Jimin jika laki-laki itu sudah membicarakan masa lalu. Sungguh, Yoongi hanya ingin mengubur cerita masa lalu itu. Biarlah hanya dia, Jimin dan sang pencipta alam semesta ini yang tau. Jika boleh jujur, Yoongi sangat takut kehilangan Taehyung suatu saat nanti. Oleh sebab itu dia sangat sensitive jika Jimin sudah mengungkit masa lalu.
Melihat Yoongi yang meringkuk di sofa sambil membelakanginya, Jimin menjadi merasa bersalah. Tak seharusnya ia mengungkit masa lalu yang tak mungkin di kembalikan. Tapi apa boleh buat, perkataan sudah meluncur dari bibir Jimin dan tak bisa ditarik lagi. Akhirnya, laki-laki itu memilih untuk melanjutkan pekerjaannya dan membiarkan Yoongi semakin meringkuk di ujung pandangannya.
.
.
~BLIND~
.
.
Satu setengah jam berlalu tanpa Jimin sadari. Ketika Jimin menolehkan kepalanya untuk melihat jam dinding, kini waktu telah menunjukkan pukul delapan. Jimin menguap dalam diam lalu mengangkat tangannya ke udara guna merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
Setelah dirasa badannya kembali ringan, Jimin memfokuskan perhatiannya pada seorang perempuan yang kelihatannya sudah tertidur pulas di sofa. Dari bahu sempitnya yang naik turun teratur, Jimin yakin betul jika Yoongi sudah tertidur sejak setengah jam yang lalu.
Laki-laki itu memutuskan berdiri dari tempat duduknya tak lama kemudian lantas berjalan menuju sofa tempat Yoongi tertidur. Jimin mengamati Yoongi dari tempatnya berdiri dengan melipat tangannya di depan dada. Sebuah senyum kecil terukir pada bibir laki-laki itu saat mendapati bibir Yoongi sedikit terbuka di saat tidur.
"Bagiku kau masih belum dewasa seutuhnya Min Yoongi"
Dengan pelan, Jimin membungkukkan tubuhnya lantas menyelipkan kedua tangannya pada sela-sela tubuh Yoongi. Tangan yang kanan berada di tengkuknya dan tangan yang kiri berada pada kaki Yoongi. Berlahan tapi pasti, Jimin mulai mengangkat tubuh Yoongi dalam sekali tarikan nafas. Mata Jimin memicing menatap perempuan itu saat merasakan berat badan Yoongi yang sungguh ringan baginya.
"Apa selama ini kau hanya makan sedikit hm?"
Jimin tersenyum kecut mendapati fakta tersebut. Sebenarnya seberapa berat penderitaan yang ditanggung perempuan ini hingga badannya menjadi kurus sekali?
CEKLEK
"Samchon!"
"Ssstt…"
Taehyung yang baru saja datang tampak terkejut melihat eommanya berada dalam gendongan Jimin. Fikirannya sekarang sudah kalang kabut melihat eommanya terlihat lemah dalam gendongan laki-laki itu. Apa eommanya sedang sakit saat ini?
"Eomma kenapa?" tanya Taehyung panik
"Pelankan suaramu! Eomma mu sedang tertidur"
Setelah memastikan Taehyung paham dengan apa yang ia katakan, Jimin mulai melangkah pergi meninggalkan ruang tamu tersebut. Langkahnya yang pelan dan tak bersuara membuat Yoongi tetap pulas dalam gendongannya. Setibanya di kamar, Jimin meletakkan Yoongi dengan hati-hati agar perempuan itu tidak terbangun. Tak lupa, ia juga menyelimuti tubuh si perempuan agar tidurnya menjadi lebih nyaman.
Dirasa sudah tidak ada yang terlewat, Jimin meninggalkan kamar Yoongi dengan menutup pintunya sepelan mungkin. Kini laki-laki itu beralih menuju kamarnya yang terletak persis di depan kamar Yoongi. Saat ia membuka pintu kamar, Taehyung sudah terlihat merebahkan dirinya di kasur sambil menatap langit-langit kamar.
"Bagaimana dengan lamaran pekerjaanmu?" buka Jimin
"Berjalan baik. Aku diterima"
"Itu berita bagus"
Jimin melangkah masuk tak berapa lama kemudian, namun laki-laki itu tak langsung merebahkan diri di kasur empuknya, melainkan berjalan menuju lemari. Taehyung yang asyik merebahkan diri menatap samchonnya itu bingung. Laki-laki itu tampak sedikit mengobrak-abrik isi lemari guna menemukan sebuah barang.
"Tangkap!"
HAP
Sebuah kotak mendarat begitu apik di kedua tangan Taehyung yang untunya cepat tanggap. Pemuda itu terlihat bingung dengan barang yang dilempar Jimin, namun beberapa saat kemudia Taehyung baru menyadari jika barang yang baru dilempar oleh Jimin adalah sebuah ponsel keluaran terbaru.
"Samchon ini…"
"Anggap saja sebagai hadiah karena kau diterima kerja"
"Bukankah ini berlebihan?"
"Tentu saja harus berlebihan karena ini kerja perdanamu" Jimin tersenyum manis menanggapinya
"Pasti harganya sangat mahal. Aku benar bukan?"
"Jangan khawatirkan harga. Gajiku sungguh masih tersisa banyak walau membeli ponsel itu"
"Samchon mau kutemani minum soju? Aku ingin berterima kasih"
Melihat cengiran Taehyung, dahi Jimin mengkerut dibuatnya. Sejak kapan bocah ingusan ini tau jika ia sering minum soju di malam hari? Ia selalu minum lewat tengah malam dan memastikan tak ada yang mengetahuinya karena jika ketahuan Yoongi akan sangat benci.
"Darimana kau tau Tae?"
"Maaf, tapi aku sering terbangun di malam hari dan melihat samchon minum di ruang tamu" jawab Taehyung tanpa dosa
"Berapa umur mu?"
"Delapan belas"
"Kalau begitu kau minum soda"
"Yeess"
Taehyung bersorak riang mendengar ucapan Jimin. Walaupun tidak minum minuman beralkohol untuk saat ini karena dia masih di bawah umur, setidaknya Taehyung akan merasakan bagaimana rasanya jadi pria malam. Ingatkan Taehyung untuk tidak bercerita pada Yoongi keesokan harinya.
Kedua laki-laki beda usia itu berjalan menuju ruang tamu tanpa sepengetahuan Yoongi. Taehyung memilih menunggu Jimin yang pergi ke dapur di sofa ruang tamu. Sedangkan Jimin kini membuka kulkas yang ada di dapur lalu mengambil beberapa kaleng soda untuk Taehyung. Tak lupa, ia juga membuka tempat tersembunyinya menyimpan soju untuk dibawa ke ruang tamu.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Jimin datang dengan soju, soda dan juga cemilan untuk perayaan malam ini. Begitu kata Jimin. Dengan tidak sabar, Taehyung meraih soda dingin yang ada di meja lantas membukanya cepat. Air soda itu mengalir melewati kerongkongan Taehyung dengan segarnya.
"Aah… Segar sekali"
Jimin terkikik geli melihat tingkah Taehyung, apalagi saat laki-laki itu bersendawa karena efek soda yang diminumnya. Tawa Jimin pun lepas pada akhirnya memenuhi ruang tamu, membuat si pemuda menunduk malu akibat sendawanya.
"Samchon!" panggil Taehyung sebal
"Ah ne, maaf. Aku sungguh geli melihat tingkahmu. Kau benar-benar amatiran rupanya"
"Aku akan tinggal di rumah majikanku"
Tawa yang tadinya menggelegar kini senyap seketika begitu rentetan kalimat Taehyung diucapkan. Jimin memandang pemuda yang sudah ia anggap seperti keponakannya itu intens. Taehyung tampak diam tak mengucapkan sepatah kata pun. Jimin membenahi posisi duduknya kemudian lantas menaruh botol sojunya di atas meja dengan pelan.
"Lalu bagaimana dengan eomma mu?"
Kali ini Jimin benar-benar berbicara serius. Laki-laki yang lebih tua itu bahkan sudah mendekat ke tempat Taehyung duduk dan saling mempertemukan kedua pandangan mereka.
"Katakan Tae, jika kau pergi bagaimana dengan eomma mu?"
"Aku memikirkannya keras selama di perjalanan tadi"
"Lantas?"
"Aku akan tetap pergi mengambil pekerjaan itu"
"Meninggalkan eomma mu seorang diri?"
"Bisa aku percayakan eomma pada samchon?"
"Yoongi pasti akan sedih jika mendengar ini"
Taehyung terdiam mendengar perkataan Jimin. Ya, samchonnya itu benar. Bukan hanya sedih, eommanya pasti juga akan menangis nanti begitu mengetahui jika ia harus tinggal di rumah majikannya. Sebenarnya Taehyung tak ingin meninggalkan eommanya, tapi sebuah perjuangan juga butuh pengorbanan. Ini adalah kesempatan emas untuk Taehyung bisa membahagiakan Yoongi, maka dari itu ia tak ingin melewatkannya. Menurutnya, kesedihan pasti akan berlalu.
"Yoongi hanya memilikimu Tae" Jimin meneguk sojunya
"Dia mempertaruhkan segala hidupnya untuk kehidupanmu. Fikirkan dengan bijak" lanjut Jimin
"Pasti eomma sangat kesakitan saat melahirkan ku" kali ini Taehyung tersenyum kecut
"Dasar anak sok tau" Dia bahkan tidak pernah melahirkanmu
"Eomma begitu menyayangiku bukan?" Taehyung menoleh menatap Jimin
"Dia bahkan menangis setiap malam karena tak bisa memberimu ASI" Jimin membalas tatapan Taehyung
"Aku merepotkan rupanya"
"Tapi itulah yang membuatnya bertahan"
Jimin tersenyum penuh arti tanpa Taehyung sadari, terlebih lagi laki-laki itu menepuk-nepuk punggung Taehyung tak lama kemudian untuk memberikan semangat. Pada akhirnya, mereka berdua berakhir saling bercerita sambil menghabiskan malam di ruang tamu ditemani bermacam-macam minuman.
.
.
~BLIND~
.
.
Yoongi menggeliat pelan saat secercah cahaya melewati kamarnya dan membuat tidurnya terusik. Perempuan itu menggeram pelan guna merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku di pagi hari. Matanya yang sipit kini terlihat jauh lebih sipit, terlebih lagi saat mencari keberadaan jam di kamarnya. Perempuan itu terkejut bukan main tatkala mendapati jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.
"Astaga! Aku bangun kesiangan"
Tanpa mengumpulkan nyawa lebih banyak lagi, Yoongi segera melompat dari tempat tidurnya lantas berjalan ke arah pintu kamar. Tangan kirinya sudah memegang knop pintu, namun berhenti sebelum berhasil memutarnya.
"Tunggu dulu, bukankah kemarin malam aku tidur di sofa?"
Kepala Yoongi sedikit miring ke kanan memikirkan hal tersebut. Benar, ia tak salah ingat. Semalam ia tertidur di sofa karena mengacuhkan Jimin. Lantas siapa yang memindahkannya ke kamar semalam? Apakah Taehyung?
Belum sempat Yoongi mengambil kesimpulan, kini hidung Yoongi sudah mencium aroma gosong yang datang entah dari mana. Seketika itu pula kesadaran Yoongi kembali. Tanpa ragu perempuan itu memutar knop pintu dan berlari menuju dapur.
Kini mata sipit Yoongi benar-benar melotot bulat saat mendapati dua orang laki-laki yang serumah dengannya sedang berdebat di dapur. Yang satu wajahnya sudah tidak karuan terkena tepung, dan yang satunya lagi memegang Teflon yang Yoongi yakini sebagai sumber dari bau gosong tadi.
"Apa yang kalian lakukan hah?"teriak Yoongi
"Aku memasak untuk sarapan" jawab Jimin santai
"Eomma… Samchon sudah menghanguskan enam butir telur" rengek Taehyung
Yoongi menepuk jidatnya kasar mendengar perkataan kedua laki-laki di dapur sana. Jadi mereka berdua memasak bersama dan menghanguskan enam butir telur? Sungguh luar biasa
"Kalian semua pergi dari dapur ku" geram Yoongi
"Tapi ini dapurku / Tapi eomma"
"Pergilah mandi kalian berdua, biar aku yang masak"
Jimin sudah akan menjawab kembali saat Yoongi mengatupkan bibirnya, namun urung ketika melihat perempuan itu melotot sambil mengeluarkan aura abu-abu dibelakangnya. Oke Jimin, saatnya mengalah.
"Sebaiknya kita pergi. Eomma mu sungguh tak bersabahat"
Taehyung hanya mengangguk saja dengan bisikan Jimin. Kali ini samchonnya benar. Eommanya di ujung sana sudah mengeluarkan tanduk merah karena dapur yang baisanya jadi daerah kekuasaannya sudah diobrak-abrik oleh Park Jimin. Dan Taehyung juga lebih tepatnya.
.
.
~BLIND~
.
.
Tiga orang yang terduduk di kursi meja makan menikmati sarapan mereka dalam diam. Tak ada yang membuka pembicaraan diantara mereka hingga sarapan habis setengahnya. Taehyung melirik eommanya dan Jimin bergantian, sedangkan yang ditatap sedari tadi tidak menunjukkan tanda-tanda kepekaan.
"Eomma"
Taehyung meletakkan sendok dan garpunya begitu piringnya telah kosong. Tak lupa juga pemuda itu menyenderkan punggungnya pada kursi lantas mengusap perutnya yang telah kenyang sebelum melanjutkan perkataan.
"Jam berapa kau tiba kemarin?"
"Emm… Mungkin jam delapan"
"Kau yang memindahkan eomma semalam?" Yoongi meletakkan sendoknya tak lama kemudian
"Eh itu…"
"Aku yang memindahkan mu"
Yoongi menolehkan kepalanya cepat ke arah Jimin begitu laki-laki itu berbicara. Ingin rasanya ia melayangkan berbagai protes pada Jimin, tapi mendadak lidahnya kelu.
"Gomawo"
Sial. Ingin rasanya Yoongi mengutuk dirinya sendiri. Mulutnya benar-benar tak bisa di kondisikan hingga kalimat terima kasih lah yang justru keluar di saat seperti ini.
Melihat keadaan yang kikuk, Taehyung memandang kedua orang tua di depannya bergantian. Saat ini ia lebih bingung bagaimana cara memulai pembicaraan dengan Yoongi.
"Eomma"
"Ya"
Kedua ibu dan anak itu saling bertatapan pada akhirnya. Taehyung menjilat bibirnya sekilas karena gugup.
"Aku diterima kerja"
"Benarkah?"
Mata Yoongi berbinar mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh anak semata wayangnya itu. Dengan gerakan cepat, Yoongi bangkit dari tempat duduknya lalu menghambur ke arah Taehyung. Melihat ibunya datang, dengan sigap pula pemuda itu berdiri dan menghambur ke pelukan ibunya.
"Aigo… Putraku sudah besar rupanya"
Dengan bangga, Yoongi menepuk pelan punggung Taehyung. Si anak sendiri tak dapat menutupi rasa bahagianya kala melihat eommanya juga bahagia. Namun tak berapa lama, Taehyung memilih melepas pelukan Yoongi.
"Tapi eomma…"
"Kenapa sayang?" tangan Yoongi menangkup pipi Taehyung
"Aku harus tinggal di rumah tempatku bekerja"
Yoongi mematung. Tangannya yang tadinya mengusap pipi Taehyung kini berlahan mulai turun hingga akhirnya tangan itu benar-benar terlepas. Dengan berlahan, kaki Yoongi mulai mundur satu persatu.
"Tapi kenapa?" lirih Yoongi
"Itu peraturan" Taehyung tak sanggup melihat mata ibunya
Jimin yang mengerti situasi ikut bangkit dari duduknya dan meraih pundak sempit Yoongi. Direngkuhnya secara berlahan tubuh mungil perempuan itu akhirnya hingga Jimin bisa merasakan tubuh Yoongi mulai melemas dari detik ke detik.
"Kau tak apa?" bisik Jimin
Perempuan itu hanya menggeleng pelan. Tangan Yoongi yang bebas memilih meraih kursi sebagai tumpuan daripada meraih tubuh Jimin yang jelas-jelas berada di dekatnya.
"Aku akan mengundurkan diri jika eomma tak ingin aku pergi"
"Andwe"
"Tapi aku tidak akan meninggalkan eomma jika seperti ini keadaannya"
"Tidak Tae. Pergilah. Eomma tak apa"
Taehyung menghampiri ibunya dan membawanya ke dalam pelukan. Laki-laki itu tersenyum tipis. Dalam pelukannya, ibunya itu semakin mengeratkan pelukannya tapi tidak menangis sama sekali. Hati Taehyung sungguh lega, ia fikir akan melihat ibunya menangis pagi ini.
"Eomma hanya syok" Yoongi mencoba memberi pengertian
"Aku kira eomma akan menangis"
"Untuk apa"
Keduanya tertawa ringan mendengar ucapan masing-masing, tak luput juga Jimin yang melihatnya dari balik punggung Yoongi.
"Oppa, bisa antar kami ke suatu tempat? Ada tempat yang ingin ku kunjungi sebelum Taehyung pergi"
.
.
~BLIND~
.
.
Taehyung menatap bunga lily yang ada di pangkuannya dengan seksama. Setelah sarapan tadi eommanya menyuruh Taehyung dan Jimin mengganti pakaian dengan pakaian hitam. Yoongi bilang mereka akan mengunjungi seseorang. Anehnya Yoongi meminta Jimin berhenti di sebuah toko bunga sebelum mereka sampai pada tujuan, hingga akhirnya dibelilah beberapa lily yang sekarang berakhir di pangkuan Taehyung.
"Apa kita akan ke pemakaman eomma?" Taehyung penasaran
"Hmm"
Jimin mengawasi dari kaca spion depan. Ia bisa melihat raut penasaran Taehyung dan juga wajah berseri Yoongi. "Apa dia akan pergi ke makan kedua orang itu?"
Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka bertiga tiba di sebuah area pemakaman yang cukup luas nan hijau. Sejauh mata memandang, Taehyung hanya melihat batu nisan dan juga pepohonan tinggi di sana. Pemakaman ini sungguh sepi sekali. "Sebenarnya siapa yang akan dikunjungi eomma?"
Baik Jimin maupun Taehyung hanya mengikuti langkah Yoongi dari belakang begitu perempuan itu berjalan. Angin yang berhembus lumayan kencang membuat rambut mereka bertiga bergerak indah di udara, namun kentara akan suasana sunyi.
Yoongi berhenti setelah berjalan hampir dua ratus meter jauhnya. Taehyung menatap bingung dua nisan yang berada di hadapan Yoongi saat ini. Nisan itu tampak sudah tua dan juga ditumbuhi beberapa ilalang yang membuat Taehyung tak bisa membaca nama pada nisan tersebut.
"Siapa mereka eomma?"
"Teman eomma. Ayo beri salam lalu letakkan bunganya"
Layaknya anak penurut, Taehyung membungkuk Sembilan puluh derajat. Setelahnya, laki-laki itu berjalan mendekati nisan tak terawat di hadapannya. Diletakkkannya bunga lily yang dibawanya dengan santai.
TES
Perasaan Taehyung mendadak bergemuruh entah karena apa. Sebuah air mata juga meluncur begitu saja tanpa ia sadari saat tangannya menyentuh tanah pemakaman itu. Rasa sesak, sakit dan juga perih menyerang hatinya secara tiba-tiba. Ia mengusap air matanya lalu memandang lelehan air mata itu.
"Sebenarnya aku kenapa?"
Taehyung menatap bisan nisan dihadapannya. Hanya kata 'Daehyun' dan '-hyun' saja yang dapat Taehyung baca karena tertutup ilalang.
.
.
.
TBC
A/N :
Annyeong
Masih adakah yang ingat dengan ff aku yang gak jelas ini?
Sudah berapa lama aku hiatus? Rasanya lama banget sampek ide aku ikut menguap. Aku bingung harus kubawa kemana jalan cerita ff ini di tengah jadwal kuliah aku yang semakin depat
Hope you like aja deh readers-deul
Jangan lupa tinggalin jejak
See you on next cha ^_^
