CHAPTER 11
I'M YOUR BODYGUARD
.
.
.
"Kau yakin tidak ada yang tertinggal?"
Jimin menoleh pada sosok Taehyung yang berdiri di belakangnya. Pemuda itu menggelengkan kepala sebagai respon. Dengan alis terangkat, Jimin menarik nafas dalam lantas menutup bagasi mobil dengan cukup kencang sehingga suara debuman pun terdengar.
"Sudah siap? Ayo berangkat"
Entah darimana asalnya, tiba-tiba Yoongi datang dan langsung masuk ke kursi penumpang begitu saja. Jimin dan Taehyung saling bertatapan satu sama lain. Mereka merasa heran, biasanya jika ada acara perpisahan seperti ini Yoongi lah yang akan paling terlihat sedih entah dari tingkah laku maupun gimik wajah. Tapi ini? Nampaknya perempuan satu anak itu justru yang paling bahagia saat anaknya akan meninggalkannya.
"Kenapa kalian berdua diam saja? Berubah fikiran? Tidak ingin berangkat?"
Teriakan Yoongi sukses menyadarkan kedua pria yang masih saja diam mematung di depan rumah. Tak ingin mendapat omelan lebih lebar, Jimin dan juga Taehyung pun bergegas memasuki mobil. Jimin mengambil alih kemudi mobil dengan Yoongi yang duduk tepat di sebelahnya. Sedangkan Taehyung, anak delapan belas tahun itu mau tak mau harus duduk dikursi belakang. 'Seperti obat nyamuk saja' batinnya.
Setelah semuanya siap, dengan berlahan Jimin mulai menginjak pedal gas mobilnya. Mobil laki-laki itu berlahan namun pasti mulai membelah padatnya Kota Seoul. Cuaca yang terik ditambah kemacetan di sana sini membuat Taehyung yang terdiam sedari tadi mulai terserang kantuk. Hampir sepuluh kali pemuda itu menguap dan hampir tertidur, namun selalu gagal akibat suara klakson yang terdengar hampir setiap detiknya.
"Eoh, eomma sudah tertidur?"
Kepala Taehyung menjulur ke depan, melihat eommanya yang sepertinya sudah tertidur pulas menjelajahi alam mimpi. Jimin yang sedang menyetir pun ikut menoleh setelah mendengar perkataan Taehyung. Dan benar saja, satu-satunya perempuan diantara mereka bertiga itu sudah tertidur pulas dengan kepalanya yang menyender di jendela mobil.
"Biarkan saja. Bangunkan saat kita sudah sampai"
Taehyung mengangguk setuju dengan saran Jimin. Tak lama kemudian Taehyung yang merasa jenuh pun juga ikut menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi guna melepas penatnya. Jimin melirik dari kaca spion tengah. Sedari tadi tak ada pembicaraan diantara mereka, hanya kederdiaman tak berarti yang terus menyelimuti. Jujur saja, Jimin sangat membenci situasi yang akward seperti ini.
"Taehyung-ah"
"Ne samchon"
"Bos mu itu…. Bekerja sebagai apa? Apakah dia begitu kaya raya?"
"Entahlah, aku kurang begitu tau. Tapi dari foto yang kulihat saat aku melamar kerja tampaknya dia seorang pebisnis"
"Foto?"
"Ya, foto yang dipajang di ruang tamu. Bos ku tampak seperi pebisnis. Bahkan wajahnya pun tidak asing. Dan samchon tau? Istrinya sangat cantik sekali. Namanya Kim Seo…"
"Kim Seo?"
Jimin jadi penasaran sendiri dengan cerita Taehyung. Tanpa sadar, alis laki-laki itu sudah terangkat karena begitu penasaran.
"Argghh aku lupa siapa nama istrinya itu. Yang pasti bos ku memiliki nama Joon di belakangnya jika aku tidak salah ingat"
Pemuda itu menggaruk kepalanya frustasi karena tak dapat mengingat sesuatu dengan baik. Sementara Jimin yang sudah penasaran sedari tadi hanya dapat mendengus sebal dengan tingkah Taehyung yang tak pernah berubah itu. Dasar anak-anak jaman sekarang.
Setelah sekian lama berkendara sesuai arahan Taehyung, mobil Jimin tiba di depan sebuah rumah mewah yang memiliki tembok kokoh begitu tinggi. Jimin yang masih berada di dalam mobil terperangah melihat betapa megahnya rumah tempat Taehyung akan bekerja. Pantas saja gajinya begitu tinggi.
"Benar ini Tae?" laki-laki tersebut menoleh ke belakang.
Taehyung mengangguk dengan antusias saat melihat ekspresi terkejut dari samchon-nya itu. Lihat! Bukannya Taehyung sangat mengagumkan? Bahkan batin pemuda itu tertawa riang.
Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Jimin segera melepas sabuk pengamannya lantas turun dari mobil. Tak lupa ia juga memerintahkan Taehyung untuk membangunkan Yoongi yang masih tertidur pulas.
Si anak berpindah ke kursi kemudi, sementara Jimin sibuk mengeluarkan barang dari dalam bagasi. Dengan tepukan yang ringan, Taehyung berusaha membangunkan eommanya sepelan mungkin agar tidak terkejut nantinya.
Kelopak mata Yoongi mulai terbuka secara perlahan. Mata sipitnya kini semakin terlihat sipit kala perempuan itu membiasakan diri dengan cahaya yang mulai menyerang indra penglihatannya.
"Eoh, sudah sampai?"
"Ne. Ayo turun eomma"
Perempuan itu mengangguk singkat dan mereka berdua pun bersamaan menuruni mobil dari pintu yang berlawanan. Saat Yoongi dan Taehyung telah turun dari mobil, saat itu juga Jimin telah menurunkan semua barang bawaan Taehyung dari dalam bagasi.
"Ini rumah tempatmu bekerja?"
Yoongi menatap tembok tinggi yang menjulang di hadapannya. Ia bahkan masih dapat melihat sedikit atap dari rumah di balik tembok tersebut. Sebuah perasaan aneh mendadak muncul di dalam hati Yoongi. Atap rumah di hadapannya itu terasa tidak asing. Yoongi seperti merasakan de javu pada dirinya saat ini. Ia mengenal atap yang menjulang jauh di atas sana dan ia yakin pernah memasukinya, tapi rumah siapa?
Dengan wajah kebingungan Yoongi menoleh ke sekitar. Jalanan di hadapannya juga tidak begitu asing. Hatinya terus berkata demikian, tapi ingatannya sungguh tak merespon sama sekali. Yoongi jadi merutuk dalam hati, kenapa Jimin tidak memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu gerbang. Andai saja Jimin memarkirnya di sana, pasti ia bisa melihat wujud rumah yang tersembunyi di balik tembok tersebut.
"Eomma!"
"Eoh?"
Teguran Taehyung menyadarkan Yoongi dari rasa bingungnya. Dengan fikiran yang belum fokus, perempuan itu menghadap putranya sambil menatap sendu.
"Aku tak tau perasaan apa ini tapi aku merasakan hal yang sangat berat di hatiku. Dadaku mendadak terasa sesak saat melihat rumah ini" ucap Yoongi tak jelas
"Yoon, kau baik-baik saja? Apa kau merasakan sakit?"
"Aku baik oppa, biarkan aku bicara sebentar pada Taehyung"
Perempuan itu maju selangkah semakin dekat ke arah Taehyung setelah menolak perhatian Jimin. Ditatapnya mata Taehyung dengan lamat hingga yang di tatappun juga merasa bingung.
"Ada apa eomma?" Taehyung ikut khawatir sendiri
"Tidak apa"
Yoongi tersenyum menjawab pertanyaan Taehyung. Ia juga tidak tau kenapa dirinya menjadi aneh seperti ini. Hanya saja perasaannya tidak tenang setelah melihat rumah di hadapannya. 'Mungkin aku hanya terlalu khawatir', batin Yoongi. Dengan gerakan pelan, tiba-tiba Yoongi mengurai simpul gelang usang yang ada di tangan kirinya. Perempuan itu tersenyum beberapa saat kemudian saat simpunya berhasil terurai dan pengaitnya terlepas.
Tanpa aba-aba, Yoongi menarik sebelah tangan Taehyung yang menggantung bebas tak memegang apapun. Si anak terkejut bukan main ketika mendapati ibunya tengah menyimpul tali gelang miliknya di salah satu tangannya.
"Apa yang eomma lakukan? Bukankah itu gelang perlindungan eomma?"
"Diamlah! Aku tidak bisa menyimpul dengan benar jika kau terus bicara"
"Tak perlu pasangkan gelang milik eomma, aku akan baik-baik saja. Sungguh. Apakah eomma tidak ingat jika aku pernah menghilangkan gelang pelindung yang sama saat aku masih kecil?"
"Maka dari itu aku memakaikanmu gelang ini. Kau itu ceroboh. Tanpa pengawasanku, siapa yang akan melindungimu? Setidaknya aku akan tenang jika kau memakai gelang ini"
"Bukankah hal-hal seperti itu hanya mitos?" Jimin yang sedari tadi terdiam dan diabaikan oleh kedua orang di hadapannya kini ikut bicara
"Oppa ini tau apa tentang hal-hal seperti itu? Cinta saja oppa tidak percaya" cibir Yoongi
"Kau mengejekku?" satu jari telunjuk Jimin diarahkan padanya
"Aish…! Pengaitnya jadi terjatuh"
Perempuan itu menyisipkan rambutnya pada daun telinga lantas berjongkok guna mencari pengait gelang yang jatuh tersebut. Taehyung dan Jimin saling berpandangan tak mengerti dengan tingkah Yoongi. Terkadang perempuan itu memang tidak jelas seperti saat ini.
Ketika Yoongi sibuk mencari-cari pengait gelang, tiba-tiba sebuah mobil melintas di hadapannya dengan pelan. Taehyung yang berada di belakang Yoongi segera menunduk saat mengetahui yang berada dalam mobil tersebut adalah bos-nya dan juga sang sekretaris yang mewawancarainya beberapa hari lalu. Sementara itu, Jimin yang tak mengerti dengan keadaan hanya memperhatikan mobil tersebut dalam diam.
.
.
~BLIND~
.
.
"Siapa orang-orang yang berada di luarg gerbang tadi? Jika tidak penting suruh satpam untuk mengusirnya. Merusak pemandangan saja"
Hoseok yang duduk di kursi depan menoleh ke arah kursi penumpang begitu mendengar suara NamJoon. Ia tak sempat memperhatikan siapa yang berada di depan gerbang saat mobil melintas, maka dari itu tanpa mengucapkan sepatah kata laki-laki itu mengagguk pada perintah NamJoon. Selang beberapa detik kemudian sebuah ponsel sudah berada di tangan kanannya. Setelah menekan beberapa digit nomor, Hoseok pun bersuara.
"Dongho, ada orang asing diluar gerbang usir mereka jika tidak ada keperluan. Ini perintah tuan" ucap Hoseok dengan nada super tenang.
"Eoh sekretaris Jung kebetulan sekali menelfon. Mereka bukan orang asing, tadi itu adalah Taehyung dan orang tuanya. Pemuda yang beberapa hari lalu melamar sebagai bodyguard nona muda"
"Kalau begitu suruh dia menemuiku setelah ini. Ada banyak hal yang harus ku beritaukan kepadanya"
"Baik sekretaris Jung"
Sambungan telefon itu diputus secara sepihak oleh Hoseok ketika dirasa tak perlu lagi. Tak lupa juga, laki-laki itu memberi tau tuannya, NamJoon, jika yang berada di luar gerbang tadi adalah pemuda yang tempo hari melamar sebagai bodyguard baru di kediaman Keluarga Kim.
.
.
.
.
Setelah hampir tiga menit mencari, akhirnya Yoongi berhasil menemukan apa yang ia cari. Dipungutnya pengait gelang itu dan buru-buru memasangkannya pada gelang yang sudah tersimpul di tangan Taehyung agar tidak terlepas.
"Naah selesai"
Sebuah senyum lebar terukir indah di bibir Yoongi. Sudah lama sekali perempuan itu tidak menampakkan senyum indahnya seperti hari ini. Tak ingin membuat eommanya kecewa, Taehyung pun membalas senyuman ibunya lantas mencuri ciuman singkat pada pipi kanan Yoongi.
"Apa itu kau Taaehyung?"
Suara yang tiba-tiba terdengar membuat atensi ke tiga orang yang berada di luar pagar rumah itu menoleh serempak. Sekarang mereka dapat melihat sesosok laki-laki yang berbadan cukup kekar hendak menutup pintu gerbang.
"Oh, DongHo Hyung!"
DongHo tersenyum senang saat mengetahui itu benar-benar Taehyung, pemuda yang datang melamar pekerjaan tempo hari. Seakan lupa dengan niat awalnya menutup pintu gerbang, satpam muda itu berjalan menghampiri Taehyung dan dua orang yang ada di dekatnya.
"Apa ini… Kedua orang tua mu Tae?" tanya DongHo penasaran melihat sosok perempuan muda yang tersenyum tipis di sebelah Taehyung
"Aku ibunya Taehyung" jawab Yoongi sopan
"Dan aku adalah pamannya" sahut Jimin
"Astaga! Aku hampir mengira jika anda adalah kakak Taehyung. Aku tak menyangka ibu Taehyung masih semuda ini" DongHo jadi kikuk sendiri setelah mengetahui faktanya
"Orang-orang sering mengatakan itu. Tapi aku memang masih muda. Aku 'memiliki' Taehyung seusai aku lulus dari SHS" jelas Yoongi tak ingin satpam itu salah paham
"Aaah… Tapi DongHo hyung, eomma ku memang awet muda. Iya kan eomma?"
Taehyung mengatakan hal tersebut sambil tersenyum selebar mungkin pada eommanya. Tak ketinggalan, pemuda itu juga menaik turunkan alisnya sebagai bentuk meminta persetujuan atas apa yang telah dipromosikannya.
Bukannya mendapat persetujuan, Taehyung justru memekik keras tak lama kemudian karena mendapat hadiah cubitan dari Yoongi. Baik DongHo dan Jimin yang melihatnya hanya bisa menertawakan kesialan Taehyung.
Saat sepasang ibu dan anak itu masih bercanda, tiba-tiba saja ponsel DongHo bordering, menandakan ada sebuah panggilan masuk. Karena tak ingin mengganggu Taehyung, akhirnya DongHo meminta ijin Jimin untuk mengangkat telefon sebentar.
DongHo kembali ke tempat Taehyung tepat beberapa saat setelah panggilan itu berakhir. Tak lupa, ia memberi tau Taehyung jika ia sudah ditunggu oleh sekretaris Jung jika sudah selesai berpamitan.
"Cha… segeralah masuk. Bos mu menunggu. Jaga diri baik-baik" pesan Yoongi diiringi senyum
"Eomma juga jaga diri baik-baik. Aku akan menelfon eomma setiap waktu luang"
"Arraseo" jawab Yoongi singkat lantas memberi ruang Jimin untuk gentian berbicara
"Aku akan menjaga ibumu, jadi jangan khawatir. Bekerjalah dengan baik. Kau mengerti?" Jimin menepuk bahu Taehyung singkat khas lelaki
"Ne. Aku sungguh mempercayakan eomma pada samchon"
Bukannya membalas menepuk bahu Jimin, Taehyung justru menghambur untuk memeluk lelaki tersebut. Jimin menerimanya dengan senang hati pelukan dari Taehyung. Ia tau betul bagaimana rasanya harus berpisah dengan orang yang disayangi karena ia pernah merasakannya dulu di usia Taehyung. Ditepuknya pungguh Taehyung pelan, berharap beban si anak dapat terbagi. Hanya sesama lelaki saja yang dapat memahami perasaan laki-laki lain. Begitu kata kebanyakan orang, dan itu benar adanya.
"Sudah puas memelukku?" gurau Jimin
"Sudah. Terimakasih samchon"
"Sekarang masuklah, kau sudah ditunggu"
.
.
~BLIND~
.
.
TOK
TOK
TOK
Suara ketukan pintu itu terdengar jelas. Hoseok yang tadinya memejamkan mata di kursi kebanggaannya kini mau tak mau harus merelakan matanya terbuka. Irisnya menatap kosong apa saja yang ada di hadapannya, sebelah tangannya memijit pelipisnya pelan karena dirasa kepalanya mulai terasa nyeri.
"Masuk"
Knop pintu ditarik dan terbukalah pintu itu. Sebuah tubuh cukup jangkung dengan berlahan memasuki ruangan tersebut sambil menenteng tas jinjing yang terlihat cukup berat di mata Hoseok. Setelah dipersilakan lagi oleh si pemilik ruangan, akhirnya pemuda tersebut berjalan mendekat lantas mendudukkan pantatnya pada sebuah kursi kosong yang tersedia di hadapan Hoseok. Tak lupa, pemuda tersebut menaruh tas yang tadi ia pegang di sekitar kursi tepat ia duduk untuk memudahkan posisi duduknya.
"DongHo bilang tadi orang tuamu mengantar" buka Hoseok
"Ya, eomma dan samchon ku mengantar hingga gerbang tadi"
"Seharusnya aku menemui mereka tadi. Maaf karena aku tidak tau jika itu adalah orang tuamu"
"Kurasa tidak perlu. Mereka langsung pulang setelah mengantarku"
"Baiklah jika begitu"
Hoseok berdeham singkat sebelum melanjutkan kata-katanya. Setelahnya, laki-laki itu mendadak berdiri dan berjalan menyusuri sebuah rak buku yang berada tepat di bagian sebelah kanan. Mata Hoseok tampak menilik satu persatu setiap buku maupun file yang berjajar rapi di rak buku tersebut.
Dari penglihatan Taehyung, pemuda itu dapat melihat jika Hoseok saat ini tengah mengambil beberapa buku lumayan tebal dan juga beberapa lembar dokumen yang ia yakini pastilah sangat penting.
Setelah dirasa cukup, laki-laki itu berbalik dan kembali duduk di hadapan Taehyung seperti semula. Taehyung jadi merasa gugup sendiri merasakan aura Hoseok yang mulai serius seperti saat ini. Beginikah orang ketika sudah memasuki tahap professional?
"Ini beberapa buku panduan yang harus kau pelajari. Kau bisa belajar etika dan aturan menjadi seorang bodyguard dari buku-buku tersebut"
Si sekretaris menyodorkan beberapa buku tebal ke hadapan Taehyung yang ditanggapi bingung oleh pemuda tersebut.
"Kau akan di beri pelatihan terlebih dahulu mengenai ilmu bela diri selama satu bulan. Maka dari itu untuk sebulan ke depan tugasmu hanya mengantar jemput nona muda ke tempat kursus dan menemaninya belajar. Itu dilakukan saat pagi dan sore. Malamnya kau akan dilatih beladiri oleh salah satu tim keamanan di rumah ini. Setelah satu bulan berlalu kau baru diperbolehkan menjaga nona muda 24 jam penuh"
"Aku mengerti hyung"
"Bagus. Sekarang tanda tangani ini. Ini adalah kontrak kerjamu. Jika kau melanggar kau akan dipastikan tidak akan lolos dari tangan tuan NamJoon"
Taehyung menerima kontrak kerja yang disodorkan Hoseok dengan tangan bergetar. Ia tak tau akan seperti apa hidupnya jika melanggar kontrak tersebut. Namun, jika pun ingin mundur sudah tak ada waktu lagi. Ia sudah memutuskan untuk maju saat ini.
Dengan mata gemetar, Taehyung membaca setiap kalimat yang tertulis dalam kontrak tersebut. banyak hal mengikat dan menjerat yang tak boleh Taehyung langgar dalam kontrak tersebut. Setelah memastikan isi kontraknya benar, Taehyung meraih bolpoint yang diberikan Hoseok lantas menggoreskan coretan hitam di atas kertas tersebut.
Hitam telah berada di atas putih. Taehyung telah terikat dengan keluarga ini. Hidupnya saat ini adalah untuk menjaga nona mudanya. Tak boleh ada yang lain dalam hidup Taehyung untuk saat ini selain hal tersebut.
"Sekarang kau bisa pergi ke kamarmu, salah satu penjaga di luar akan menunjukkan kamarmu. Saat jam makan malam datanglah ke ruang makan. Aku akan mengenalkan mu pada anggota keluarga Kim"
.
.
~BLIND~
.
.
Setibanya di kamar yang ditunjukkan oleh salah seorang penjaga di paviliun khusus pekerja, Taehyung memilih untuk merebahkan diri di kasur empuk yang telah disediakan. Cahaya lampu yang tepat berada di atasnya membuat penglihatannya silau sehingga satu lengan Taehyung berpindah untuk menutupi matanya.
Mata Taehyung terpejam dalam kesunyian, tapi tidak dengan fikirannya. Saat ini fikirannya berkelana entah kemana. Banyak hal yang tiba-tiba melintas di fikirannya hingga membuat dirinya tidurpun tak bisa.
Ketika mulai bosan dengan kegiatan diamnya, Taehyung menatap arloji usang yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan jika dunia mulai malam. Lelaki itupun bergegas bangkit dari tidurnya lantas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dua puluh menit berlalu dan akhirnya suara gemericik air dari kamar mandi pun terhenti. Taehyung keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk menutupi pinggangnya saja. Dengan rambut basah sisa dari keramas, laki-laki itu berjalan menghampiri tas jinjing yang sempat ia letakkan di ujung ruangan. Ia memilah-milah baju mana yang sekiranya cocok ia kenakan malam ini. Karena ini bukan jam kerjanya, makan pilihan Taehyung jatuh pada celana kain hitam dan juga kemeja pink. Setelah mengambil semua yang ia butuhkan, Taehyung berjalan kembali memasuk kamar mandi untuk berganti baju.
Setelah dirinya siap, Taehyung segera keluar dari kamar dan berjalan menyusuri panjangnya lorong kediaman keluarga Kim. Lorong-lorong itu tampak temaram walaupun lingkungannya banyak dihuni oleh para maid maupun penjaga di rumah tersebut.
Saat hampir tiba di ujung lorong, mendadak langkah kaki Taehyung terhenti saat melintasi sebuah pintu megah yang tertutup. Mata musang Taehyung menatap pintu itu dari atas hingga ke bawah. Dibanding dengan pintu-pintu yang lain, pintu di hadapannya adalah yang paling megah. Jika pun ruangan tersebut digunakan untuk pekerja di rumah ini, pastilah bukan pekerja biasa yang menempati.
PRANK…..
Mata Taehyung membulat saat mendengar suara benda yang ia yakini terbuat dari kaca terjatuh dari dalam ruangan di depannya. Tanpa berfikir panjang, kakinya melangkah dan tangannya menarik knop pintu hingga ruangan itu terbuka pada akhirnya.
Alangkah terkejutnya Taehyung saat memasuki ruangan tersebut yang ia dapati adalah seorang kakek yang sudah sangat tua tengah terjatuh dari kursi rodanya. Lebih parahnya lagi di sekitar si kakek tersebut pecahan gelas kaca tampak berceceran bersamaan dengan beberapa butir obat yang entah tak Taehyung ketahui.
"Haraboji"
Hanya satu kata itu yang terlintas dan akhirnya terucap oleh bibir Taehyung. Tanpa laki-laki itu sadari, kakinya juga ikut berlari mendekati si kakek yang tengah menahan sakit di ujung sana. Taehyung dengan lihai menghindari setiap serpihan kaca yang berserakan di lantai tersebut. Dengan cekatan pula Taehyung segera meraih tubuh kakek tersebut dan membantunya untuk berdiri, kembali duduk di kursi roda.
"Kakek tidak apa?"
"Siapa kau anak muda?"
"Aku…." Mata Taehyung bergerak gelisah karena bingung harus menjawab apa
"Kenapa kau sangat mirik dengan putri ku?" ucap si kakek sambil berusaha meraih wajah Taehyung
"Maaf kek, tapi aku tidak mengenal siapa putri kakek" jawab Taehyung dengan halus disertai senyuman
"Bahkan senyum mu pun mirip sekali. B-baekhyunie…."
Mata kakek itu mulai berkaca-kaca saat menatap mata Taehyung. Jika begini keadaannya, Taehyung juga bingung sendiri harus melakukan apa pada si kakek. 'Sebenarnya siapa kakek ini?'
"Kek… Kumohon jangan menangis. Aku hanya seorang pekerja disini"
"TAEHYUNG"
Sontak Taehyung menoleh saat namanya disebut dengan begitu lantang oleh sesosok yang sangat ia kenal di ambang pintu sana. Di kejauhan, Taehyung dapat melihat Hoseok dengan nafas memburunya sedang menatap tajam ke arahnya. Dengan langkah tak teratur sekretaris itu mulai mendekat ke arah Taehyung berdiri. Tangannya menyentak tangan Taehyung ketika tiba, membuat si kakek yang terduduk di kursi roda terdiam tak bergeming.
"Kenapa kau ada di sini? Apa aku memperbolehkanmu masuk ke sembarang tempat?" ucap Hoseok tajam penuh penekanan
"Tidak hyung, aku hanya mendengar suara gelas jatuh. Karena aku penasaran aku membuka pintunya dan-"
"Cukup. Sekarang pergilah ke ruang makan. Dan juga, panggilkan Bibi Kim! Suruh dia kemari"
"B-baiklah"
Taehyung membungkuk sebentar pada si kakek sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Hoseok masih menetralkan nafasnya dari keterkejutan yang ia alami, setelah tak ada siapapun, Hoseok berjalan ke arah pintu dan mulai menutupnya dari luar.
"Siapa pemuda itu Jung?"
Suara si kakek berhasil menghentikan gerakan menutup pintu yang dilakukan oleh Hoseok. Laki-laki itu terdiam sebentar, terlihat bingung harus mengatakan apa walaupun wajahnya masih sangat tenang.
"Bibi Kim sebentar lagi akan kemari untuk membersihkan kekacauan ini. Sebaiknya tuan beristirahat"
"Begitukah caramu menjawab pertanyaa tuan mu?"
"Aku hanya melayani tuan NamJoon. Maafkan aku"
"Begitu rupanya. Kau tidak berubah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Tanpa kau menjawab pun aku juga akan tau siapa pemuda tadi"
Hoseok membungkuk singkat sebagai jawaban atas pernyataan si kakek. Dan sedetik kemudian, pintu kamar tersebut tertutup sempurna. Meninggalkan kakek renta di dalamnya yang tengah terdiam dalam kegelapan.
.
.
~BLIND~
.
.
"Kenapa lama sekali? Apakah terjadi sesuatu?"
Tak biasanya NamJoon membuka suara terlebih dahulu seperti saat ini. Lelaki itu meletakkan sendok dan garpunya pada piring yang bersih dari sisa makanan lantas meneguk air putih yang tersedia. Mendengar pertanya NamJoon, Hoseok hanya dapat menunduk sebagai rasa bersalah.
"Maaf tuan, ada sedikit keributan di paviliun tadi"
"Dimana bodyguard itu? Aku ingin melihatnya segera. Aku punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan"
"Kau masuklah" perintah Hoseok
Begitu mendengar perintah Hoseok, Taehyung berjalan gugup memasuki ruang tamu tersebut. Kepalanya baru mendongak saat kakinya sudah berhenti melangkah. Dan dihadapannya saat ini telah duduk si pemilik rumah megah ini. Tuan Kim dan juga istri beserta anak perempuannya.
"Waah aku terkejut anak muda jaman sekarang semakin tampan saja walaupun bekerja sebagai bodyguard"
Kali ini SeokJin, sang istri yang menyahut. Taehyung hanya tersenyum malu begitu nyonya di rumah itu memujinya tampan. Terkadang ia selalu terkesima dengan pesona istri bos nya ini. Selain memang cantik parasnya, ternyata pribadinya pun juga hangat
"Aku cukup puas dengan pilihanmu Hoseok-ah. Kau tidak pernah mengecewakanku. Dia terlihat handal, aku yakin sedikit latihan akan membuatnya sempurna untuk menjadi bodyguard Jungkook" ucap NamJoon panjang lebar
"Jungkook? Nugu?" bingung Taehyung
"Lancang sekali kau. Jaga ucapanmu" peringat Hoseok
"Dia putriku. Dia yang akan kau jaga. Hei Kookie, menolehlah! Kau tak ingin berkenalan dengan bodyguardmu? Dia cukup tampan jika eomma boleh memuji
Gadis yang dipanggil Jungkook itupun meletakkan sendok dan garpu yang dia pegang setelah mendengar perintah dari eommanya. Dengan gerakan malas, gadis remaja itu berdiri dan menghadapkan badan ke arah yang ia yakini tempat dimana bodyguard-nya berdiri.
"Annyeong, Kim Jungkook" singkatnya
"K-kau…"
Taehyung terkejut begitu si gadis menegakkan tubuhnya. Bukan karena cantik atau suara indah yang pernah ia dengar saat gadis itu bermain piano. Melainkan, gadis yang ada di hadapannya saat ini adalah gadis yang pernah ia tabrak dan memukulinya habis-habisan.
"Kenapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya"
"Ha? An-nyeong. Taehyung. Namaku Taehyung" ucap pemuda itu lirih
.
.
.
TBC
A/N :
Annyeong
Ada yang bisa ingetin aku sudah berapa bulan lamanya aku gak update?
Sungguh, gak ada waktu buat nulis ketika kegiatan kuliahku udah di mulai. Aku yakin readers-deul aja pasti udah pada lupa sama jalan cerita FF ini.
Tapi gpp. Walaupun lama updatenya, aku bakal berusaha buat nuntasin FF gak jelas ini. Alurnya lambat sih, dan aku sidikit sebel dengan hal itu.
Well mau gimana lagi? Daripada dibikin cepet tapi gak nyambung :v
Aku sebenernya ada ide cerita baru. Tapi melihat waktu luang aku buat nulis yang mendekati nihil, jadi aku mutusin buat selesaiin FF ini dulu.
Oh ya satu lagi, chapter ini gak ada pengeditan. So, maapkeun jika banyak typo bertebaran
See you on next chap ^_^
