CHAPTER 12
SURPRISE
.
.
.
"Taehyung? Namamu bagus. Beri tau aku siapa nama lengkapmu!"
Seok Jin tampak begitu semangat memberondong Taehyung dengan berbagai pertanyaan malam ini. Biasanya dia tak akan mau repot-repot menanyai pegawai baru seperti saat ini, tapi entah kenapa bodyguard baru putrinya ini begitu menarik perhatiannya.
"E… Maaf nyonya. Tapi itu adalah nama lengkapku"
Taehyung menjawab sesopan mungkin sambil menundukkan sedikit badannya. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang tak dapat ia hindari setiap berkenalan dengan orang baru. Dan untuk kali ini, ia tak ingin membuat orang sebaik Kim Seok Jin merasa tersinggung maupun salah paham terhadap dirinya.
"Nde?" Kaget Seok Jin
"Maaf nyonya, Taehyung memiliki cerita panjang mengenai hal itu" sela Hoseok cepat
"Tidak-tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Kalau begitu aku akan mengganti pertanyaanku. Berapa usiamu? Kau terlihat masih sangat muda"
"Usia ku baru delapan belas tahun nyonya dan akan menginjak Sembilan belas tahun beberapa bulan lagi"
"Wah, kebetulan sekali. Kau dan Jungkook hanya selisih satu tahun"
Perempuan yang menyandang status sebagai ibu Kim Jungkook itu pun tersenyum begitu lebar tanpa ia sadari. Kedua tangannya yang bebas saling bertepuk sebagai ungkapan rasa senangnya. Tak lupa, perempuan sudah memasuki usia kepala empat itupun mengguncang pelan bahu sang putri yang kebetulan ada di sampingnya, berharap buah hatinya juga akan ikut bahagia.
Sementara di sisi yang berlawanan, NamJoon yang sedari tadi hanya diam kini mulai mengulas senyum di bibirnya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat istrinya sebahagia ini. Jika NamJoon boleh berkata jujur, mungkin senyum Seok Jin yang seperti saat ini terakhir ia lihat ketika perempuan tersebut melahirkan kedua buah hati mereka, JiHoon dan Jungkook. 'Aku merindukanmu Kim SeokJin'.
"Astaga kenapa aku bisa sebahagia ini" SeokJin berbicara entah pada siapa
"Kau cerewet" NamJoon menimpali perkataan istrinya sambil melipat kedua tangannya di dada
"Ayolah NamJoon. Apa kau tidak bahagia melihat hal seperti ini?"
"Haruskah pertanyaanmu ku jawab?"
"Jangan kau jawab jika tidak ingin. Jujur saja, aku bahagia seperti ini karena aku teringat Baekhyunie ketika melihat Taehyung. Dia begitu mi-"
"KIM SEOKJIN"
Aura di ruang makan tersebut mendadak begitu suram saat satu nama yang begitu terlarang kembali di sebut tanpa sengaja. SeokJin yang menyadari jika dirinya salah berucap kini mulai mengepalkan tangannya kuat. Pandangannya ia alihkan kemana saja, asal tidak pada orang yang berada di hadapannya saat ini. NamJoon memandangnya begitu tajam. Mata yang tadinya sempat ia tangkap memancarkan kebahagiaan kini telah berganti dengan mata yang terbalut kabut hitam. Sebenarnya SeokJin sudah kenyang mendapat tatapan seperti itu dari NamJoon, tapi entah kenapa ia masih saja tidak sanggup untuk menatapnya.
"Maaf" Akhirnya SeokJin berujar lirih
"Eomma"
Jungkook yang berada tepat di sebelah SeokJin kini mulai meraba-raba guna menemukan keberadaan ibunya. Menyadari putrinya mulai bereaksi, perempuan itu segera meraih tangan Jungkook dan menggenggamnya erat sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja.
"Kurasa kau terlalu banyak bicara hari ini"
Dengan pandangan yang masih tajam pisau, NamJoon membuka pembicaraan dengan suara rendahnya yang membuat merinding setiap orang yang ada di sana. Bahkan Taehyung yang tidak tau menau tentang apa yang terjadi juga dibuat takut sendiri dengan apa yang terjadi di hadapannya.
"Sebaiknya kau bawa nona muda ke kamarnya. Kamarnya ada di lantai dua. Kamar paling ujung"
Mendengar bisikan dari Hoseok, Taehyung segera bergegas mendekat ke arah Jungkook berada. Dengan ragu, pemuda itu mulai menggenggam pelan lengang Jungkook untuk diajak berdiri.
"Ayo nona, kuantar kau ke kamar" bisik Taehyung pelan
"Lepas! Berani-beraninya kau ikut campur"
Jungkook menepis tangan Taehyung dengan kasar, membuat Taehyung terlonjak kaget dengan perlakuan gadis itu. Jika sudah begini, Taehyung jadi bingung sendiri. Ia merasa tidak baik juga jika gadis itu ada di ruang makan terlalu lama, sementara orang tuanya saat ini tengah bersitegang di hadapannya. Namun di satu sisi pemuda itu juga tidak dapat membujuk nona mudanya dengan mudah.
"Nona muda, sebaiknya anda pergi ke kamar sekarang" Kali ini Hoseok yang coba membujuk
"Kumohon paman jangan ikut campur. Aku tidak mau!" Gadis itu menolak tegas
"Pergilah ke kamarmu. Appa ingin bicara empat mata dengan eomma-mu"
"Shirreo!"
"Jangan keras kepala Jeon Jungkook" Kali ini NamJoon mengucapkannya penuh penekanan
"Pergilah ke kamar sayang. Eomma nanti akan menyusul" SeokJin angkat bicara
"Tapi eomma"
"Eomma ingin mengobrol dengan appa mu"
Gadis itu terdiam. ia tak mampu membantah jika eommanya telah meminta seperti ini. Dengan tidak bersemangat, akhirnya Jungkook merelakan tubuhnya dituntun menaiki satu per satu anak tangga oleh Taehyung. Laki-laki itu sesekali mengamati wajah nona mudanya. Air muka gadis itu begitu murung dan tampak kosong. Sesekali, Taehyung juga menoleh ke arah ruang makan. Di sana ia dapat melihat kedua majikannya masih duduk terdiam tanpa Hoseok yang berada di sana. 'Sebenarnya ada apa?' tanya Taehyung dalam hati.
.
.
~BLIND~
.
.
TUK
TUK
TUK
NamJoon berulang kali mengetukkan jari telunjuknya pada meja makan yang berada di hadapannya. Sedari tadi pandangannya tak pernah lepas dari perempuan yang duduk bagai patung di hadapannya. Ya, semenjak Jungkook di bawa pergi oleh Taehyung, SeokJin tak membuka suara sedikitpun. Matanya bergerak ke sana kemari, mencari obyek yang ia rasa indah untuk dipandang. Menurutnya, semua yang ada di ruang makan malam ini mendadak indah asal obyek itu bukan Kim NamJoon.
"Bisakah kau menatapku? Aku ingin bicara" Si lelaki akhirnya menyerah dan memulai lebih dulu
"Maaf. Aku terlalu senang hari ini hingga teringat dengan Baekhyun" sang istri menjawab acuh
"Bisakah kau tidak menyebutkan namanya? Jujur aku tidak ingin mendengar nama itu lagi"
"Apa kau takut?"
Kini SeokJin memberanikan diri untuk menatap mata kelam suaminya. Kedua pandangan orang dewasa itu beradu, seolah menyalurkan segenap kata maupun kalimat yang selama ini tidak mampu mereka ucapkan.
"Ini sudah delapan belas tahun. Sudah seharusnya kita melupakannya"
"Katakan jika kau memang takut"
"Tidak. Aku tidak pernah takut SeokJin"
"Lalu kenapa? Apakah sebuah dosa jika aku mengucapkan nama adikmu?"
"Cukup" NamJoon menarik nafas sedalam mungkin. Ia tak ingin tersulut emosi
"Kau tidak bisa menghapus fakta jika kau membunuhnya oppa"
BRAK
SeokJin terlonjak kaget begitu sang suami menggebrak meja tepat di hadapannya. Dari sudut matanya, perempuan itu dapat melihat NamJoon yang tengah mengatur nafasnya yang naik turun akibat emosi. Sungguh, seberapa kuatnya seorang Kim SeokJin melawan Kim NamJoon, ia tetaplah seorang perempuan yang memiliki rasa takut. Ia takut melihat NamJoon yang seperti ini.
Belum juga SeokJin tersadar dari keterkejutannya, tiba-tiba sang suami telah beranjak dari posisi semula. Laki-laki itu berjalan tergesa menuju arah SeokJin lantas menarik kasar lengan si perempuan. Tubuh SeokJin dipaksa untuk berdiri kemudian dihempaskan cukup kasar oleh NamJoon hingga dirinya kini sudah terduduk di atas meja makan.
"NamJoon aku-"
CUP
Mata perempuan itu membulat sempurna begitu mengetahui bahwa bibirnya kini tengah dibungkam oleh bibir NamJoon. Laki-laki itu mencium SeokJin begitu lembut tapi menuntut, membuat SeokJin yang tak bisa berbuat banyak hanya dapat meremas baju milik NamJoon dengan gelisah. Merasa mendapat ijin, NamJoon semakin memperdalam ciumannya, SeokJin merasa kini NamJoon mulai menekan tengkuknya lebih dalam, ciumannya berubah menjadi semakin kasar. SeokJin yang sudah merasa mulai sesak nafas kini mulai memukul dada bidang sang suamin, berharap NamJoon mengerti dan memberinya sedikit oksigen.
Setelah beberapa kali mendapat pukulan, akhirnya NamJoon melepaskan ciumannya pada SeokJin. Laki-laki itu menatap diam istrinya yang masih terengah-engah di hadapannya. Nafas laki-laki itu bahkan begitu tenang untuk ukuran orang yang baru saja berciuman.
Saat nafas SeokJin sudah mulai teratur, NamJoon meletakkan kedua tangannya di samping sisi kanan dan kiri sang istri, membuat SeokJin yang berada sedekat itu dengan NamJoon merasa was-was.
"Tatap aku sayang"
NamJoon berujar begitu lirih dan lembut kali ini. Bahkan kalimatnya bagai sebuah mantra hingga mampu membuat SeokJin yang tadinya ketakutan kini menoleh dengan sukarela menatap mata NamJoon. 'Oh Tuhan, tolong beri tau aku kapan terakhir kali NamJoon berbicara selembut ini padaku' hati SeokJin menjerit.
"Aku tidak pernah membunuh adikku. Kim Baekhyun" tegas NamJoon
"Jangan berbohong padaku"
"Kau tau kenapa kau masih menjadi istriku sampai saat ini Kim SeokJin?"
"Itu karena aku mencintaimu"
"Begitupun aku. Tapi taukah kau SeokJin? Masih ada hal lain yang membuatmu menyandang status sebagai istriku"
"Apa?"
"Kau tau jika aku tidak membunuh Baekhyun"
Beku. Itulah yang saat ini SeokJin rasakan. Ia tak tau harus berfirik apalagi. Entah kenapa kalimat NamJoon yang barusaja diucapkan begitu menusuk hatinya. Fikirannya ingin menyangkal pernyataan NamJoon tadi dengan sejuta kata, tapi entah mengapa hatinya membantah apa yang ia fikirkan. Ya, dia sendiri juga bingung kenapa saat ini dia masih mau menjadi istri seorang Kim NamJoon jika ia tau bahwa lelaki tersebut telah membunuh adiknya.
"Dengar baik-baik. Aku mungkin memang membunuh Daehyun dan aku mungkin juga ingin melenyapkan anaknya, tapi aku tidak pernah membunuh Baekhyun. Bagaimana pun juga dia adalah adikku"
Hening. NamJoon selesai dengan ucapannya dan SeokJin masih bergelut dengan fikirannya. Mereka berdua masih terdiam dalam posisi yang sama hingga akhirnya sebuah suara membuyarkan keheningan tersebut.
"Bisakah kalian mencari tempat lain jika ingin bermesraan?
"JiHoon?"
SeokJin yang tampak terkejut dengan kehadiran anaknya dengan sigap segera turun dari meja walaupun tangan NamJoon masih berada di sekitarnya untuk mengungkungnya. Sementara itu, NamJoon tampak biasa saja dengan kehadiran JiHoon. Bahkan laki-laki itu berdeham sejenak sebelum membuka suara.
"Sejak kapan kau ada di situ?"
"Kurasa itu tidak penting"
Tanpa memperdulikan keberadaan kedua orang tuanya, JiHoon melenggang pergi menaiki anak tangga. Ia sudah begitu penat dengan kegiatannya hari ini, ditambah saat ia pulang justru disuguhi pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Saat kaki JiHoon menaiki dua buah anak tangga, pemuda itu menghentikan langkahnya lantas berbalik.
"Kuingatkan sekali lagi. Jika ingin bermesraan carilah tempat yang tertutup. Jungkook mungkin tidak bisa melihat apa yang kalian perbuat. Tapi aku bisa"
"Kim JiHoon!" bentak NamJoon
"Selamat malam Appa, Eomma"
JiHoon kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga, mengabaikan bentakan NamJoon yang ditujukan untuk dirnya. Saat tiba di lantai dua, atensi JiHoon terhenti ketika melihat kamar Jungkook. Dengan gontai laki-laki itu menghampiri kamar sang adik. Ini masuk jam malam dan biasanya gadis itu sudah tertidur. Namun saat JiHoon menarik knop pintu itu, pintunya terbuka.
Pemuda itu memasuki kamar Jungkook dengan berlahan ketika pintu kamarnya dapat dibuka. Bukan apa-apa, ia hanya ingin memastikan jika Jungkook tidak lupa mengunci jendela agar angina tidak masuk. JiHoon memasuki kamar adiknya itu dengan hati-hati, mengingat kamarnya begitu gelap karena lampunya dimatikan.
"Siapa?"
"Eoh, kau belum tidur?"
Mendengar suara Jungkook, JiHoon yang tadinya ingin keluar kini membalikkan diri dan memilih untuk mendekat ke arah kasur si gadis. Dengan gerakan tenang laki-laki itu menarik selimut lantas ikut masuk kedalamnya.
"Ada apa kau kemari?"
"Hanya memastikan jika kau tidak lupa menutup jendela"
"Bukankah mala mini begitu dingin?"
Jungkook berujar pada JiHoon dengan suara paraunya dan mata yang terpejam. Melihat hal tersebut, JiHoon hanya dapat mengulas senyum lantas menarik Jungkook ke dalam pelukannya. Beberapa menit dalam pelukan JiHoon, kini nafas Jungkook terasa begitu teratur di dada JiHoon.
"Jungkook-ah, ingin ku beritau sesuatu?"
JiHoon menjeda ucapannya
"Aku mendengar sesuatu yang tidak seharusnya aku dengar"
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, JiHoon ikut menutup matanya dan semakin mengeratkan pelukannya kepada Jungkook untuk ikut bergabung ke alam mimpi.
.
.
~BLIND~
Hari berlalu begitu cepat. Malam yang tadinya menyapa kini telah berganti dengan pagi yang cerah, pagi yang dipenuhi dengan berbagai suara dan aroma yang mengusik panca indra.
Taehyung yang tadinya terlelap begitu pulas kini sudah siap dengan setelan jas khusus bodyguard yang diberika oleh Hoseok beberapa hari lalu. Sebelum keluar kamar, tak lupa pemuda itu mematut dirinya pada cermin setinggi seratus tigapuluh sentimeter yang terletak di ujung kamar miliknya. Celana kain hitam, kemeja putih, jas hitam dan juga pantofel. Oke, semuanya sudah lengkap.
"Tampan" ujarnya bangga
Setelah merasa cukup dengan penampilannya, Taehyung bergegas menuju pintu dan mulai membuka tempat persembunyiannya. Paviliun ini dihuni oleh para pekerja di rumah Keluarga Kim, tapi entah kenapa di hari yang masih pagi ini paviliun begitu sepi. Apakah semua orang yang bekerja di rumah ini memang begitu rajin?
Tak mau ambil pusing, Taehyung melangkahkan kakinya menyusuri lorong panjang yang nantinya akan menjadi jalanan sehari-hari yang harus ia lewati untuk menjemput nona mudanya. Begitu tiba di ruang utama, pemandangan yang pertama kali Taehyung lihat adalah beberapa pelayan yang tengah sibuk bekerja. Ada yang memasak, ada yang sibuk merapikan sofa, da nada pula yang sibuk mengusir debu kesana kemari.
"Hei, anak baru"
Taehyung terlonjak dari aktivitas mengamatinya ketika pundaknya ditepuk oleh salah seorang maid yang membawa nampan di tangannya. Bukannya menjawab, Taehyung justru terdiam menatap bingung maid tersebut.
"Kau bodyguard baru nona muda bukan?" tanya maid tersebut.
"Ha? A-ah iya. Aku bodyguard barunya. Namaku Taehyung" laki-laki itu memberi salam
"Ne ne. Aku Kang SeulGi. Tampaknya kau lebih muda dariku"
"Sepertinya begitu" timpal Taehyung merasa canggung
"Kau bisa memanggilku noona jika mau"
"Baiklah"
"Oh ya, aku sedang banyak pekerjaan karena ada salah satu maid yang sakit hari ini. Antarkan sarapan ini dan bangunkan nona muda. Satu jam lagi nona muda ada tes piano, jadi minta dia segera bergegas"
Mendengar pesan yang begitu panjang dari maid bernama Seulgi tersebut, Taehyung hanya dapat melongo dan mengangguk patuh saja sembari mencoba untuk mengingat setiap detail pesannya. Jujur saja, Taehyung bukanlah orang yang pandai dalam hal mengingat.
Setelah merasa Taehyung paham dengan ucapannya, Seulgi berlalu begitu saja meninggalkan si anak baru. Taehyung menghela nafasnya dalam. Ini hari pertamanya bekerja dan ia tidak boleh mengeluh dengan pekerjaannya.
"Taehyung. Fighting!" ujarnya menyemangati diri.
Taehyung mulai menaiki satu per satu anak tangga setelah menyemangati dirinya sendiri. Tanpa ia sadari, suasana hatinya begitu gembira hari ini. Mungkin karena ini hari pertamanya?
Setibanya di depan kamar nona muda-nya, tak lupa Taehyung mengetuk pintu terlebih dahulu untuk meminta izin masuk kepada sang pemilik.
TOK
TOK
TOK
"Nona, ini aku Taehyung. Aku membawakan sarapan untuk nona"
Lama menunggu, tak kunjung ada jawaban dari dalam sana. Taehyung berdecak sebal tanpa ia sadari. 'Apa anak orang kaya selalu seperti ini?'. Lima menit lebih Taehyung menunggu jawaban, tapi si pemilik kamar tak kunjung juga memberi tanda-tanda kehidupan.
"Apa aku masuk saja? Toh aku sudah mengetuk pintu"
Akhirnya, setelah berfikir cukup lama, Taehyung memberanikan diri untuk masuk. Ia akan masuk lantas meletakkan nampan yang ia bawa dan membangunkan nona mudanya. Ya, dia hanya harus melakukan itu.
CKLEK
Kepala Taehyung menyembul ke dalam terlebih dahulu untuk melihat suasana yang terjadi. Kamar nona mudanya ini begitu temaram. Hanya beberapa cercah cahaya saja yang dapat menembus menerangi kamar tersebut. Pandangan Taehyung menelisik setiap sudut di ruangan tersebut. Berlahan juga kini tubuh tingginya mulai berani untuk memasuki kamar Jungkook. Saat lelaki tersebut hendak menuju meja di dekat kasur Jungkook, alangkah terkejutnya ia mendapati nona muda-nya kini sedang di peluk oleh seorang laki-laki.
"Anak jaman sekarang benar-benar semakin kurang aja"
Merasa apa yang ia lihat adalah hal yang tidak benar. Dengan segera Taehyung melangkah pelan agar tidak menimbulkan suara hentakan kaki. Ditaruhnya nampan yang ia bawa pada space kosong yang ada pada nakas samping kasur Jungkook. Setelah menaruhnya, kini Taehyung menuju kamar mandi Jungkook dan mengambil segayung air dari sana. Tanpa fikir panjang, disiramkannya air yang ia bawa dari kamar mandi tadi tepat kepada laki-laki yang tengah memeluk Jungkook saat ini.
BYUUUR
"Argh sialan"
Taehyung tersenyum puas begitu laki-laki itu terbangun sambil mengumpat. Sementara si korban yang tak lain adalah JiHoon kini terduduk manis dengan nafas yang menahan emosi karena tidurnya diganggu dengan tidak sopannya.
"Siapa kau?" Ucap JiHoon dengan sengit
"Aku yang harusnya bertanya siapa kau!" balas Taehyung tak kalah sengit
"Aahhh… Kau pasti orang baru"
"Ya aku orang baru, memangnya kenapa?"
"Ada apa? Kenapa ribut sekali?"
Jungkook yang tadinya masih terlelap di samping JiHoon kini sudah ikut terduduk dan menampilkan wajah bingungnya pada dua orang lain yang ada di hadapannya.
"Nona muda, apa nona muda tau jika semalam ada penyusup yang masuk ke kamar nona muda?" Taehyung bertanya dengan begitu percaya dirinya
"Ck, bodoh"
Mendengar pertanyaan si bodyguard baru, JiHoon hanya dapat mendecih dan mengalihkan pandangannya. Ia sungguh ingin tertawa saat ini. Apakah sekarang kinerja sekretaris ayahnya sudah menurun hingga seorang bodyguard saja tidak tau siapa dirinya?
"Apa yang kau lakukan pada oppa?" sekarang gentian Jungkook yang melontarkan pertanyaan sengit
"Maaf nona, aku baru saja menyiramnya dengan air" jawab Taehyung
"Bodoh memang"
BUGH
Bak punya indra ke-enam, Jungkook melempar bantalnya dan tepat mengenai sasaran. Taehyung memekik pelan saat bantal tersebut mengenai tubuhnya dengan tidak pelannya. Sakit. Tak disangka tenaga gadis ini besar juga.
"Oh ya Jungkook ah, kurasa kita pernah bertemu dengan orang baru ini" tiba-tiba JiHoon menyela
"Benarkah?" Jungkook nampak penasaran
Taehyung yang mendengarkan percakapan kedua anak manusia itu mulai merasa was-was. Ya, ia memang pernah bertemu dengan Jungkook dan itu bukanlah pertemuan yang meninggalkan kesan baik. Ketika pemuda ini mengingat-ingat kembali, ternyata ia juga pernah bertemu dengan si lelaki ini saat itu. Astaga, tamat sudah riwayatnya.
"Kau ingat pemuda yang kamu pukuli tempo hari di pinggir jalan?"
"Pemuda yang menabrakku itu?"
"Hmm"
"Kenapa oppa?"
JiHoon tersenyum setan mendengar rasa penasaran dari adiknya. Sekilas, ia melirik Taehyung yang wajahnya kini mulai pucat karena takut rahasianya akan terbongkar dan mendapat amukan ke tiga dari nona muda-ny.
"Dia sekarang ada di sini. Sebagai bodyguard mu"
Bak tembok kokoh yang runtuh, Taehyung memejamkan matanya pahit saat kata demi kata itu meluncur dari si pria rambut blonde. Pasrah. Itulah yang dapat ia lakukan saat. Sungguh Taehyung akan menerima jika pagi ini ia akan dipukuli oleh nona muda-nya
"Aku pergi mandi dulu sayang. Cepatlah mandi! Bukankah kau ada tes piano pagi ini?"
CUP
Tepat sebelum beranjak, JiHoon mencium pipi kanan Jungkook dengan kecepatan kilat, membuat Taehyung yang berada di sana membulatkan bola mata.
Seolah tidak peduli, JiHoon melenggang pergi menuju pintu kamar begitu saja. Sebelum tangannya memutar knop, tak lupa laki-laki itu berbalik lantas berkata…
"Sebaiknya kau sering-sering melihat foto keluarga yang dipajang di ruang tengah. Atau kau bisa tanyakan siapa aku pada Sekretaris Jung. Jangan lupa menyapaku ketika sudah mendapatkan jawabannya"
Seulas senyum terukir di bibir JiHoon, membuat Taehyung yang mendengarnya mengernyitkan dahi nya kebingungan. Belum selesai Taehyung bergelut dengan fikirrannya. Sebuah pukulan sudah mendarat mengenai tubuhnya.
BUGH
BUGH
BUGH
"Ternyata kau hah?"
BUGH
"Kenapa kau tidak mengatakannya kemarin?"
"Nona muda, tunggu dulu aku bisa jelaskan"
BUGH
"Terlambat. Aku sudah mengetahuinya"
BUGH
"Dasar kurang ajar. Beraninya kau menyiram JiHoon oppa"
"Ne?"
BUGH
"Rasakan"
Dipukul bertubi-tubi oleh si gadis, Taehyung yang tadinya terdiam kini mulai memberi perlawanan. Tangannya yang bebas sedari tadi kini berusaha untuk menangkap kedua tangan Jungkook yang sibuk memukulinya dengan bantal.
Merasa mendapat perlawanan, Jungkook semakin brutal memukulkan bantal yang ia pegang. Pukulannya tanpa arah dan mendapat perlawanan dari Taehyung membuat langkah kakinya mundur secara berlahan
1 Langkah
2 Langkah
3 Langkah
BRUK
Kaki Jungkook tak dapat mundur lagi karena mengenai kasur yang ada di kamarnya. Dan tak hanya itu saja, akibat kakinya yang terantuk kasur tadi, kini tubuhnya jatuh terlentang di atas ranjang.
Jungkook terkejut bukan main dengan kejadian tersebut. Ditambah, ia juga merasakan ada beban berat yang menimpa tubuhnya. Ya, itu Taehyung yang tak sengaja juga ikut terjatuh karena ulah ceroboh Jungkook
Mereka berdua terdiam dengan posisi tersebut cukup lama. Jungkook yang tak dapat melihat apapun hanya terdiam karena masih terkejut. Sementara Taehyung, entah keberanian dari mana kini ia dengan berani menatap mata nona muda-nya itu begitu dalam.
"Maaf"
Taehyung bangkit setelah mengucapkan satu kata tersebut. Tak lupa ia juga membantu Jungkook untuk duduk dan diterima begitu saja oleh gadis tersebut.
"Mandilah. Bukankah nona ada tes piano pagi ini? Aku akan mengantar nona. Dan tampaknya nona tidak akan sempat sarapan. Aku akan minta Seulgi noona membungkusnya untukmu"
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Taehyung meraih nampan yang tadi ia letakkan di atas meja lantas hendak membawanya keluar untuk dibungkus saja.
"Taehyung"
Langkah itu berhenti begitu suara lembut itu mengintrupsi.
"Ya nona"
"Jangan panggil aku nona"
"Apa?Tapi-"
"Panggil aku Jungkook. Namaku Kim Jungkook"
.
.
.
TBC
A/N
Annyeong….
Aku kembali setelah sekian lama. Ugh, seneng rasanya bisa nulis lagi
Apakah ada yang masih ingat cerita ini? Aku sih gak berharap banyak.
Yang pasti aku bakal nuntasin cerita ini.
Happy reading
See you next chap ^_^
