CHAPTER 14

HER

.

.

.

Suasana beku menyelimuti ke-dua insan yang baru saja berdebat tadi. Jimin memilih berdiri menikmati angin musim gugur di tepi jendela, sementara Yoongi memilih tetap duduk terdiam diatas kasur yang entah sejak kapan hilang nyamannya. Pikiran kedua anak manusia yang telah cukup umur itu sepertinya melayang ke langit ke tujuh. Terlihat jelas dari raut datar keduanya yang tidak bernafsu mengucap sepatah katapun.

"Aku akan ke supermarket" putus Yoongi

Segera setelahnya, perempuan itu lekas berdiri dan menyambar mantel yang sengaja ia gantung tak jauh dari tempat tidurnya. Melihat Yoongi yang akan segera beranjak, Jimin dengan gerakan gesitnya segera berbalik dan menghadang pergerakan Yoongi tepat di ambang pintu.

"Supermarket kau bilang? Apa aku menyuruhmu kesana?"

Jimin mengucapkan kalimat tersebut sambil berkacak pinggang dan menelengkan kepalanya ke kanan, membuat Yoongi yang melihatnya tak kuasa untuk meniup poni panjangnya karena kesal sendiri dengan kelakuan lelaki tersebut.

"Aku lapar oppa, dan aku sedang malas memasak. Jadi bisa tolong kau minggir?"

"Aaa… Jadi kau lapar? Baiklah, tunggu sebentar! Aku akan mandi. Kita ke supermarket bersama"

"Nde?"

Tanpa menghiraukan wajah bingung si perempuan, Jimin berlari dengan kecepatan penuh meninggalkan kamar Yoongi tersebut. sesampainya di ujung lorong kamar, tiba-tiba Jimin berhenti dan mendadak berbalik.

"Jangan kemana-mana. Tunggu di sofa. Awas jika kau pergi sendirian. I will catch you again"

Yoongi yang melihat tingkah aneh Jimin tak tahan untuk tidak menggaruk rambutnya yang memang gatal saat itu. Ayolah… ini masih pagi dan dia sudah disuguhi suasana sekonyol ini. Karena tak ingin bosan, akhirnya perempuan itu memilih untuk mendudukkan diri di sofa sesuai perintah Jimin. Tak ketinggalan, perempuan itu juga menyalakan televise untuk melihat berita di pagi hari.

Sempat beberapa kali jemari Yoongi tak hentinya menekan tombol pada remote control hingga akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah saluran berita infotaimen pagi. Perempuan itu menonton acaranya dengan sangat khitmat, sesekali Yoongi juga menguap tatkala berita yang disampaikan bukanlah dari selebriti favorite-nya. Karena bosan dengan berita selebriti yang ada di hadapannya, pada akhirnya Yoongi memilih mengeluarkan ponsel butut-nya lantas memainkan salah satu game yang ada di sana.

"Hah, lebih baik aku melanjutkan game SuperStar ku" monolognya

Dengan santainya, Yoongi menyandarkan punggung pada sofa lantas menaikkan sebelah kakinya. Jemarinya yang tadinya sibuk memilih chanel televise kini beralih sibuk memilih beberapa lagu dari boygroup favoritenya untuk dimainkan.

Satu lagu selesai

Dua lagu selesai

Perempuan itu masih berkutat dengan ponselnya. Tak terasa ia sudah memasuki lagu ke tiga untuk dimainkan. Saat telah mencapai pertengahan lagu, mendadak telinga Yoongi terusik oleh kata-kata yang dibacakan oleh reporter infotaiment yang tadi sempat ia tonton.

"Berita baru kali ini datang dari dunia bisnis. Kim Corporation dilaporkan kembali mengembangkan sayapnya di awal tahun ini. Bukan hanya pada bidang property, kali ini Kim Corporation memilih untuk melebarkan sayapnya di bidang fashion. Tak tanggung-tanggung, kali ini sang CEO yang tak lain adalah Kim NamJoon diketahui telah menandatangani sebuah kesepakatan dengan salah satu pemilik brand fashion terkenal di negeri ini yaitu Ahn Jaehyun, CEO dari fAHNshion"

"Pak Kim NamJoon, bisa jelaskan kenapa anda memilih fAHNshion sebagai mitra kerja untuk kali ini?"

"Ah, putra ku yang masih menginjak usia remaja sangat menggemari fashion akhir-akhir ini. Dia sering bergonta ganti gaya untuk menemukan yang cocok dengan dirinya. Dari hal tersebut munculah ide ini. Bukan sesuatu yang buruk bukan?"

"Bagaimana dengan putri anda? Apakah dia juga menginspirasi anda tentang dunia fashion?"

"Tidak"

"Lalu apakah benar bahwa anda berniat menjodohkan putra anda dengan putri CEO fAHNshion?"

"Ah itu… Aku terkejut rumor tersebut menyebar dengan cepat. Aku akan memberitau jika nantinya hal tersebut benar-benar terjadi"

TAK…!

Ponsel Yoongi terjatuh begitu saja setelah melihat berita yang ada di televise pagi ini. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Yoongi bagai di sambar petir pagi ini. Tepat di hadapannya, sesosok lelaki yang paling ia hindari di dunia menampakkan kembali wujudnya setelah sekian lama perempuan tersebut mencoba untuk menutup diri dari dunia. Dengan senyum sumringah, lelaki itu memamerkan wibawanya di depan sana, membuat Yoongi yang melihatnya merasa diperolok walau hanya menonton dari televise.

Kedua tangan Yoongi refleks bertaut begitu erat. Tidak. Jantungnya mendadak berdetak dengan cepat, keringat dingin mengucur tanpa disadari dari pinggir pelipisnya. Bayang-bayang kejadian delapan belas tahun lalu dengan otomatisnya berputar menyelimuti fikiran Yoongi. tembakan, langkah kaki, dan tangisan sahabatnya. Semuanya berputar bagai kaset rusak di hadapannya.

"Yoongi… Min Yoongi… Yoongi-ya… Hei!"

Jimin yang baru saja selesai dari kegiatan mandinya dibuat kaget dengan Yoongi yang duduk seperti patung di hadapan televise. Laki-laki itu memanggil nama si perempuan berulang kali, namun tak ada tanggapan. Tampak dari samping, wajah Yoongi begitu pucat, membuat Jimin yang melihatnya khawatir sendiri.

"Yak…! Min Yoongi kau kenapa?"

Mendengar namanya di panggil begitu keras, Yoongi tersentak dari keterdiamannya. Perempuan itu menatap Jimin dengan pandangan takut-nya. Tak tega melihat Yoongi yang seperti itu, Jimin memilih mendudukkan dirinya di samping Yoongi sambil mengusap pelan punggung perempuan itu.

"Katakan, ada apa?"

"Kim NamJoon…"

.

.

~BLIND~

.

.

Setelahnya kembali dari kegiatan mengantar nona mudanya ke sekolah, Taehyung langsung kembali ke kediaman Keluarga Kim. Sesuai jadwal yang telah diberitaukan oleh Sekretaris Jung, ia harus mengikuti latihan bela diri karena masih pegawai baru di rumah ini.

Dengan langkah yang santai, Taehyung memasuki rumah mewah tersebut dengan fikiran yang cukup kosong. Di kepalanya saat ini masih terngiang-ngiang kata-kata nona mudanya tadi pagi. Mungkin ia sudah terbiasa mendengar kata-kata kasar dari Jungkook, tapi entah kenapa setiap kata yang diucapkan gadis itu pagi ini begitu mengganjal di hatinya.

PRANK

Taehyung terkejut dengan bunyi benda pecah yang baru saja di dengarnya. Karena memang ia memiliki rasa penasaran yang tinggi, tanpa ragu Taehyung mempercepat langkahnya untuk menuju ruang utama yang ia yakini sebagai sumber dari benda pecah tersebut.

Sesampainya di ambang ruang utama, ia melihat banyak pelayan berkumpul mengelilingi tempat tersebut. Mereka semua tampak cemas memperhatikan peristiwa yang terjadi. Bagaimana tidak, di tengah ruangan sana tampak NamJoon, SeokJin dan JiHoon yang sedang bersitegang dengan argument mereka masing-masing. Taehyung tak terkejut dengan keberadaan tuan dan nyonya-nya yang memang ia ketahui sering bersitegang. Lalu, untuk apa JiHoon ada di sana?

"Bisa jelaskan apa maksud omong kosong yang dikatakan pembaca gosip di televise itu?"

JiHoon memulai perdebatan dengan oktaf yang cukup tinggi. Dengan berani, laki-laki muda itu menatap tajam NamJoon sambil menunjuk wajah pembawa berita pagi yang sedang tayang di televise.

"Dia tidak membacakan omong kosong. Itu akan segera terjadi"

NamJoon menjawab pertanyaan JiHoon dengan nada tenangnya. Bahkan tanpa rasa terusik sedikitpun, laki-laki paruh baya itu masih menyempatkan dirinya untuk menyesap secangkir kopi yang tadi sempat disajikan oleh salah satu pelayan.

"Jadi ayah membenarkan bahwa aku akan dijodohkan dengan anak pemilik brand fashion itu?"

'Ayah'? Taehyung membekap mulutnya dengan ke dua tangan begitu dramatis. 'Jadi JiHoon adalah putra Kim NamJoon? Itu berarti ia saudara Jungkook?'. Dengan ketakutan yang mulai menjalar pada dirinya, Taehyung masih memberanikan diri untuk menonton perdebatan di hadapannya.

"Perjodohan? Yeobo? Kau bercanda?"

SeokJin yang tampak tidak tahu apa-apa kini ikut berdiri dan memasang wajah sama bingungnya sekaligus marah seperti ekspresi JiHoon.

"Ya. Aku memang berniat menjodohkan JiHoon dengan putri Jaehyun. Kita butuh penguat untuk keberlangsungan perusahaan. Lagipula putri Jaehyun begitu cantik, dan ia lulusan dari universitas di Paris. Dia setara dengan kita"

"Oooh, jadi ayah mengorbankanku? Baiklah. Lakukan semuanya sesuka hati ayah, tapi ingat! Aku tidak akan pernah menikah dengan orang yang ayah maksud tadi"

JiHoon yang sudah kepalang kesal dengan sikap ayahnya memilih pergi dari ruangan tersebut. Ia melangkahkan kakinya brutal menuju arah pintu keluar. Saat berpapasan dengan Taehyung, JiHoon menghentikan langkahnya tepat di samping lelaki tersebut.

"Kau sudah tau siapa aku bukan?" ucap JiHoon lirih tanpa eksresi di setiap katanya

Setelah mengatakan kalimat tersebut, JiHoon melanjutkan langkahnya. Tepat beberapa detik setelahnya, terdengar suara deru motor yang sepertinya dikendarai dengan penuh emosi. Taehyung menoleh sekilas ke arah pintu keluar. Dapat dilihatnya bahwa siluet JiHoon berlahan mulai menghilang dari pandangannya.

"Kim NamJoon… Kau benar-benar gila demi harta" ejek SeokJin

"Kau tau sendiri pengorbananku untuk ini semua"

"Kim NamJoon…!"

"Kenapa sayang?" jawab NamJoon begitu lembut

"Aku merasa kehilangan dirimu yang dahulu"

Ada nada sedih di setiap kata yang diucapkan SeokJin kali ini. Walaupun lirih, setiap orang yang mendengarnya pasti akan mengetahui bahwa hati sang nyonya tersebut tengah terluka.

Tak mau memperpanjang masalah, SeokJin memilih untuk meninggalkan ruangan utama tersebut. NamJoon yang melihat istrinya seperti itu hanya menatap dalam diam. Diambilnya secangkir kopi yang mulai dingin di meja, lantas menyeruputnya kembali hingga meninggalkan sedikit kecapan di akhir.

"Kenapa kalian masih disitu. Kembali bekerja!"

"Baik tuan"

Satu persatu pelayan yang tadinya mengerumuni perdebatan tuan mereka kini mulai meninggalkan tempat dan kembali pada pekerjaan mereka masing-masing. Tapi tampaknya, apa yang dikatakan oleh NamJoon tadi tidak di dengar atau sengaja tak di dengar oleh Taehyung. Buktinya, sekarang Taehyung masih berdiri mematung di tempat semula.

"Kenapa kau masih berdiri di situ? Kau tak ada pekerjaan?"

"Hah?"

Taehyung gelagapan sendiri begitu NamJoon menegurnya. Dengan nyali yang sudah menciut, pemuda itu memberanikan diri untuk menunduk sebagai permintaan maaf pada sang tuan besar.

Sebuah decakan mengejek terlontar dari bibir NamJoon, telinga Taehyung mendengarnya begitu jelas. Mata pemuda itu memejam rapat berharap nasib baik masih saja berpihak padanya. Jangan sampai ada setan lewat yang tiba-tiba berbisik di telinga tuannya untuk memecatnya detik ini juga.

"Kembali bekerja" perintah NamJoon tegas

"B-baik tuan"

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Taehyung segera terbirit meninggalkan ruang utama tersebut untuk menuju ke taman belakang paviliun dimana ia akan melakukan latihan beladiri untuk pegawai baru.

Hampir lima menit lamanya Taehyung berlari, akhirnya pemuda itu sampai di tepi taman yang akan ia gunakan untuk latihan bela diri.

"Hah, untung saja tuan masih berbaik hati" ucapnya sambil mengelus dada

Nafas pemuda itu masih naik turun walaupun kakinya sudah berhenti digunakan untuk kabur dari tuannya. Saat fikirannya telah jernih, Taehyung mengedarkan pandangannya pada sekeliling taman. Bukan sebuah taman yang ramai digunakan untuk latihan seperti bayangannya, tapi taman itu begitu sepi, tak ada seorangpun di taman tersebut.

"Mencari kami?"

"ASTAGA…!"

Kali ini jantung Taehyung benar-benar dipaksa untuk bekerja dua kali lipat kembali. Bagaimana tidak, Taehyung yang tadinya di taman tersebut seorang diri mendadak dikerumuni oleh tujuh orang berbadan kekar serba hitam di belakangnya.

"Siapa kalian?" tanya pemuda itu waspada

"Kau tidak tau siapa kami?"

Salah seorang dari ketujuh orang tersebut maju satu langkah mendekati Taehyung, membuat yang di dekati justru memundurkan satu langkahnya karena takut.

"Aku SungGyu, ketua dari pasukan khusus Infinite"

"WooHyun"

"DongWoo"

"Howon"

"MyungSoo"

"SungYeol"

"SungJeong"

"KAMI ADALAH PASUKAN KHUSUS INFINITE"

Bukan hanya terkejut, kali ini Taehyung dibuat bingung sendiri dengan tingkah ketujuh orang yang mengaku sebagai pasukan khusus dari Keluarga Kim ini. Apakah mereka benar-benar pasukan khusus? Pasukan yang jarang diketahui, pasukan yang tak tersentuh, dan pasukan paling kuat. Tapi sungguh, saat ini pasukan yang bernama infinite ini tak mencerminkan itu semua.

"Jadi… Kalian yang akan melatihku?"

"Ya, kami yang akan melatihmu. Apa kau sudah siap?" jawab seorang yang Taehyung ingat bernama SungYeol

"Engh… Begini hyung-nim… sebenarnya aku ti-"

BUK

Tanpa disangka, sebuah kaki menjegal kaki Taehyung dari belakang yang sukses membuat pemuda itu tersungkur mencium rerumputan taman. Taehyung mengaduh kesakitan, bibirnya yang tipis itu tanpa terlihat oleh pasukan infinite mulai menggerutu tidak jelas.

"Latihan dimulai sekarang"

Mata musang Taehyung otomatis membulat mendengar satu kata itu, kepalanya yang tadinya menunduk kini refleks terangkat dan menoleh ke arah anggota infinite berada.

"T-tunggu dulu hyung-nim… Bercanda tidak selucu ini" ucap Taehyung gelagapan

"MyungSoo-ya, lebih baik kau siapkan perban sebanyak mungkin untuk bocah tengil ini!"

"Baiklah. Tunggu sebentar oke?"

Jempol kanan SungGyu pun terangkat ke MyungSoo, yang membuat salah satu bodyguard tersebut langsung meninggalkan area taman.

Kini perhatian anggota infinite yang tersisa kembali tertuju pada Taehyung yang tak lekas berdiri juga. Dengan tangan dan jari jemari saling direnggangkan, ke enam anggota infinite yang tersisa mulai melangkah mendekati Taehyung. Sebuah senyum sinis tak lupa mereka sunggingkan untuk menambah suasana horor di hati Taehyung.

"TIDAAAAKKK…!"

.

.

~BLIND~

.

.

Di tengah keramaian supermarket, Jimin mendorong sebuah troli dengan begitu malasnya. Kakinya melangkah berat mengikuti setiap langkah yang Yoongi jejakkan. Ya, dia dan perempuan mungil itu tengah berbelanja di supermarket, membeli berbagai kebutuhan yang Yoongi yakini sudah harus distok kembali.

Laki-laki itu sesekali tersenyum melihat Yoongi yang memilih-milih barang. Terkadang, perempuan itu juga menyempatkan diri bertanya padanya walau hanya sekedar meminta saran barang mana yang lebih bagus. Tak mudah untuk membuat Yoongi ceria kembali seperti saat ini, tadi pagi perempuan itu sempat tak mau di ajak bicara karena melihat orang yang Jimin ketahui telah menorehkan goresan di hati Yoongi muncul kembali. Tolong ingatkan Jimin untuk menyakiti orang tersebut suatu hari nanti.

"Oppa ingin vitamin yang rasa apa?" tawar Yoongi

"Apa saja asal kau suka" balas Jimin acuh

Bibir Yoongi dengan otomatisnya sedikit mengerucut. Oh, apakah kau lihat itu Park Jimin? Min Yoongi sedang merajuk rupanya.

Karena mendapat jawaban seperti itu dari Jimin, Yoongi pun dengan mantab memilih vitamin dengan rasa jeruk. Sebotol vitamin berhasil ia ambil dengan mudah. Saat kakinya hendak kembali melangkah menelusuri jajaran rak obat-obatan, mendadak mata sipitnya menangkap sebuah vitamin minyak ikan di jajaran rak atas.

'Membelikan Jimin oppa vitamin tersebut tidak masalah bukan?' fikirnya

Yoongi hendak meminta bantuan Jimin untuk mengambilkan vitamin tersebut karena letaknya lumayan tinggi dan ia tak sampai. Namun, ketika ia menoleh pemuda itu tengah sibuk memainkan ponselnya. Perempuan itu jadi tak tega hendak meminta bantuan lelaki tersebut, kelihatannya ia sedang membalas pesan dari klien penting. Terlihat sekali raut laki-laki itu tampak serius di ujung sana.

Dengan tenaga seadanya, Yoongi mulai mengulurkan tangannya untuk meraih vitamin ikan tersebut. Tak lupa, kakinya yang dibalut sepatu kets itu juga berjinjit untuk menambah tinggi badan.

'Sial! Tidak sampai, padahal sedikit lagi' perempuan itu menggerutu dalam hati

Meski telah berusaha maksimal beberapa kali, tapi sayangnya tangan mungil Yoongi tak kunjung dapat meraih botol vitamin tersebut.

"Kumohon, sedikit lagi"

HAP

Ketika baru saja mengucap kalimat yang dapat dikatakan sebagai do'a tersebut, sebuah tangan yang entah milik siapa mendadak terjulur dan meraih vitamin bidikan Yoongi. Mengetahui hal tersebut, Yoongi bernafas lega. 'Setidaknya masih ada orang baik di dunia ini yang mau membantunya'

"Nah, ini untuk mu…. Min Yoongi-ssi?"

Sontak mata sipit Yoongi membulat mendengar rentetan kalimat tersebut. tunggu dulu, ini bukan suara Jimin atau seseorang yang ia kenal belakangan ini. Lalu, bagaimana orang ini tau namanya?

Dengan perasaan waspada, Yoongi memberanikan diri untuk melihat siapa orang yang baru saja menyebut namanya ini. Ketika kepalanya mendongak dan pandangannya berhasil bersiborok dengan orang tersebut, kepala Yoongi mulai merasa pening. Waktu terasa berhenti seketika, bahkan mata sipitnya yang sempat membulat itu kini mulai bergetar.

"K-kau…."

"Annyeong" jawab orang tersebut sambil tersenyum

.

.

~BLIND~

.

.

"ARGH… SAKIT HYUNG… PELAN-PELAN!"

Taehyung sudah tidak dapat mengontrol lagi nada tingginya begitu DongWoo dengan semangatnya menekan luka lebam di dahi Taehyung. Sesekali, bahkan pemuda itu refleks memukul lengan DongWoo yang sukses di hadiahi sebuah pukulan telak di kepala belakangnya oleh si bodyguard itu.

"Kau ini seperti perawan saja. Ini belum apa-apa"

Bukannya menuruti permintaan Taehyung untuk menekan lukanya lebih pelan, DongWoo justru semakin gemas menekan es batu yang telah dibungkus kain itu ke luka Taehyung. DongWoo tertawa nista mendengar jeritan pemuda belasan tahun itu, sementara si korban terus melayangkan tangannya untuk menghindari es batu yang di bawa DongWoo.

"Berhentilah melakukan itu DongWoo-ya… Kau tidak mendengar bocah tengil ini terus menjerit?"

WooHyun yang entah dari mana tiba-tiba ikut bergabung bersama DongWoo dan Taehyung. Lebih baiknya lagi, laki-laki yang kelihatannya lebih tua dari DongWoo itu merebut es batu dari tangan rekannya lalu membantu Taehyung untuk mengompres lukanya dengan benar.

"Lihatlah WooHyun hyung, dia begitu pengertian" ledek Taehyung pada DongWoo

"Dasar bocah ingusan"

PLAK

"Auw sakit Hyuuuung…."

"Hentikan DongWoo. Dia masih butuh waktu menerima banyak pukulan dari kita"

Baik DongWoo maupun Woohyun sama-sama terbahak dengan kalimat tersebut, sementara Taehyung menekuk wajahnya kesal karena menjadi sasaran kejahilan daripada bodyguard infinite. Walaupun begitu, Taehyung ikut tersenyum tak lama kemudian. ia merasa senang mengenal ketujuh bodyguard utama rumah ini. Walaupun mereka terlihat dingin pada awalnya, tapi mereka ternyata begitu hangat melatihnya walau dengan cara yang dapat Taehyung katakan sedikit berlebihan. Ya, mereka tak segan untuk menyerang mendadak, memukul dan mengolok setelahnya. Bukan hanya Taehyung ternyata cara tersebut diterapkan, tapi juga terhadap sesama anggota. Bahkan ketua mereka, SungGyu sering merasakan kejahilan para bodyguard tersebut.

"Hyung, boleh aku bertanya?"

Taehyung yang sedari tadi sibuk meratapi luka lebamnya kini mulai memberanikan diri untuk bertanya pada kedua bodyguard tersebut.

"Hmmm… tanya apapun yang ingin kau tahui" Jawab DongWoo antusias

"Baiklah. Pertanyaan pertama. Sudah berapa lama hyung bekerja disini?" Taehyung bertanya dengan antusias

"Kami? Hmm mungkin sudah dua puluh tahun" Jawab Woohyun diiringi senyum geli

"Astaga… Harusnya aku memanggil kalian samchon. Hyungdeul seumuran dengan pamanku. Tapi sungguh, kalian semua terlihat masih muda"

"Kau bisa saja bocah tengil"

PLAK

Bukan lagi kepala, kini punggung Taehyung lah yang menjadi sasaran refleks kilat tangan ramping DongWoo. Dan sekali lagi juga, untuk entah yang keberapa kali Taehyung kembali mengaduh kesakitan.

"Baiklah baiklah… Pertanyaan ke dua. JiHoon itu, adalah putra tuan NamJoon?"

"Yak berani sekali kau memanggil tuan muda seperti itu?"

DongWoo sudah bersiap melancarkan serangannya pada Taehyung, namun berhasil di tahan oleh WooHyun lebih cepat.

"Kau tidak tau Tuan NamJoon memiliki dua anak?" kali ini Woohyun yang bertanya

"Tidak" jawab Taehyung polos

"Astaga. Biar ku beritau kau Taehyung. Jadi… Tuan muda JiHoon dan nona muda Jungkook adalah saudara kembar"

"APA?"

"Ya… Mereka kembar. Hebat bukan?"

Mungkin jika Taehyung sedang minum saat ini, ia sudah tersedak oleh air yang diminumnya. Jadi JiHoon dan Jungkook adalah saudara kembar? Jadi mereka bukan sepasang kekasih seperti yang sering ia sangka selama ini?

"Ku fikir mereka sepasang kekasih"

"Pemikiran macam apa itu? Kau bahkan bisa melihat kemiripan mereka hanya dengan sekali lirik"

Ya, benar juga yang dikatakan oleh DongWoo. Jika di lihat-lihat, JiHoon dan Jungkook memanglah mirip dari segi manapun. Bodohnya Taehyung saja yang tidak menyadari hal tersebut.

"Oh ya hyung, boleh aku bertanya satu pertanyaan lagi?"

"Katakan saja" Woohyun kali ini yang menimpali

"Siapa itu B-baek… Hyun?"

Mendengar nama 'Baekhyun' disebut, baik DongWoo maupun Woohyun langsung terdiam. Mata mereka yang tadinya antusias kini mulai beralih pada sekeliling taman untuk menghindari tatapan Taehyung. Bukannya kecewa tidak mendapat jawaban, Taehyung justru semakin penasaran dengan siapa sosok yang sering disebut bernama 'Baekhyun'.

"Kenapa diam saja hyung… jawablah!" pemuda itu mulai tak sabar

"Dengar Taehyung!" kali ini nada DongWoo berubah serius

"Ada baiknya kau tak menyebut nama itu di rumah ini" lanjutnya

"Tapi kenapa?"

"Semakin kau sedikit tau tentang rumah ini beserta isinya, itu akan lebih baik untukmu di masa depan. Ayo DongWoo, kita ada rapat setelah ini"

Setelah mengucapkan penuturan panjang tersebut, Wohyun dan DongWoo beranjak meninggalkan Taehyung seorang diri di taman. Jika begini jadinya, rasa penasaran Taehyung semakin meningkat. Memangnya siapa orang tersebut hingga namanya saja seolah terlarang untuk diucapkan di rumah ini. Jujur saja Taehyung tak dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi di kediaman Keluarga Kim ini. 'Rumah ini penuh misteri'

.

.

.

TBC

A/N :

Annyeong readers-deul

Hehehe aku bawa chapter baru untuk BLIND ini. Seneng banget rasanya bisa update lebih cepat dari yang aku perkirakan.

Hmm gimana ya ttg perkembangan cerita ini… kayaknya konflik sudah harus dimulai ya? Udah chapter 14 tapi konflik utama dan berbagai kejutannya belum terungkap. Hehehe… kayaknya aku terlalu lama menyusun konflik yang harus dimasukkan. Dan kadang tuh, aku mendadak dapat ide konflik baru. Contohnya rencana perjodohan JiHoon itu, sungguh itu ide mendadak yang awalnya gak aku rencanakan untuk dimasukin ke scenario.

Oke, sekian cuap-cuap tak pentingku.

Hope you like readers-deul

See you on next cha ^_^