CHAPTER 15
TELL ME
.
.
.
Angin musim gugur akhir-akhir ini rutin menyapa setiap warga Kota Seoul dikala sore telah tiba. Mereka yang memilih beraktivitas di luar rumah mau tak mau kini mulai memegangi mantel mereka lantas mempereratnya guna mempertahankan suhu tubuh agar tetap dalam kehangatan.
Tak terkecuali Jimin, laki-laki itu mengeratkan mantel tebalnya dikala lagi-lagi angin berhembus untuk yang kesekian kalinya. Kedua telapak tangannya sesekali saling digesekkan agar sesuatu yang disebut rasa hangat itu tetap menyelimuti dirinya.
"Hah…!"
Kepulan uap dingin langsung menari di udara begitu Jimin bereaksi. Mata lelaki itu tak berhentinya mengamati sekitarnya untuk mengalihkan rasa dingin. Dalam lubuk hati terdalam, Jimin mengumpati dirinya sendiri. Kenapa di udara sedingin ini ia memilih duduk di bagian luar café? Sementara di dalam café yang ia singgahi saat ini masih tersisa beberapa bangku kosong di dalamnya.
"Pesanannya tuan"
Seorang pelayan datang dan menyodorkan secangkir mocca latte di hadapan Jimin. Rasa dongkol yang tadinya menyelimuti hati kini mendadak luluh begitu melihat secangkir kopi pesanannya mengepulkan asap samar seolah melawan dinginnya sore ini.
"Terima kasih" balasnya
Tak perlu menunggu waktu lama, Jimin segera menyambar cangkir kopi yang telah di sajikan tadi lantas menyeruput isinya dengan penuh penghayatan.
"Aaahh… Benar-benar nikmat"
Sebuah senyum berhasil terukir di bibir laki-laki tampan itu. Matanya berbinar, begitupun dengan hatinya yang merasakan kepuasan. Setelah dirasa tubuhnya kembali menghangat karena sentuhan kopi tadi, Jimin meletakkan kembali cangkir tersebut. Masih tersisa separuh mocca latte dalam cangkir tersebut, namun Jimin tampak mengabaikannya. Kini pandangan laki-laki itu beralih ke dalam café dan tampak memperhatikan sepasang anak manusia yang terlihat asyik berbincang, mengabaikan ia yang kedinginan seorang diri.
"Kenapa aku tidak diijinkan ikut berbincang? Padahal MyungSoo hyung mengenalku dengan baik"
Jimin menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi sambil sesekali mendecih singkat kala melihat Yoongi tersenyum dengan perkataan yang dilontarkan rekan kerjanya itu. Ia jadi iri sendiri saat ini. Bagaimana sosok MyungSoo yang terkenal jarang berbicara bisa membuat Yoongi yang pemalu bisa bersemu merah pipinya.
Apakah ini yang dinamakan cemburu? Apakah Jimin benar-benar mulai menyukai sosok Min Yoongi? Astaga… tidak seharusnya Jimin cemburu pada rekan kerja sekaligus sahabatnya itu. Bahkan berkat perintah MyungSoo delapan belas tahun lalu ia bisa mengenal Yoongi hingga saat ini.
"Konyol memang" Jimin tertawa lirih
"Auughh astaga telingaku gatal" lanjutnya sambil meringis
.
.
~BLIND~
.
.
Seorang pelayan datang sambil menyodorkan dua buah buku menu kepada Yoongi dan MyungSoo yang baru saja mendudukkan diri di dalam café. Berbanding dengan keadaan Jimin di luar sana, keadaan di dalam jauh lebih memancarkan rasa hangat dan tenang karena bau coklat sungguh mendominasi. Yoongi membalik setiap halaman buku menu itu dengan sedikit canggung, gaya duduknya pun tampak tegang. MyungSoo yang memang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Yoongi itu tertawa kecil dibuatnya.
"Kau masih menyukai cokelat Yoongi-ssi?" tanya MyungSoo tanpa mengalihkan pandangan dari buku menu
"Nde? Ah, ne. A-aku masih menyukai cokelat" jawab perempuan itu gugup
"Kalau begitu kami pesan dua buah cokelat panas dan cheese cake ukuran sedang" putus MyungSoo
"Baik tuan"
Si pelayan mencatat pesanan MyungSoo dan kemudian berlalu setelah menerima kembali buku menu yang dikembalikan kepadanya. Suasana di antara keduanya kembali canggung begitu pelayan itu pergi. Yoongi sibuk memandangi seisi café dan MyungSoo memilih untuk membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman.
"Kau masih ingat tempat ini Yoongi-ssi?" si laki-laki memilih untuk membuka pembicaraan
"Yaaah… aku dahulu bekerja sebagai pelayan disini. Dan Baekhyun akan mengunjungiku sepulang sekolah"
Yoongi mengulas senyum ketika penglihatannya menangkap kata 'Chocolate Love Café' di ujung pintu
"Tampaknya Yoong-ssi mengingatnya dengan begitu baik"
"Kami punya banyak kenangan bersama. Bagaimana mungkin aku melupakan semua kebaikan Baekhyun. Dia sudah seperti saudaraku sendiri"
Yoongi mengucapkan serentetan kalimat tersebut dengan senyum tulus terukir dibibir tipisnya. MyungSoo yang memperhatikan gerak gerik Yoongi sedari tadi bahkan ikut tersenyum dibuatnya. Pantas saja dulu nona muda-nya begitu menempel pada perempuan di hadapannya ini. Ternyata kebaikan Yoongi lah yang selalu membuat nona muda-nya dulu berhasil tersenyum setiap hari.
Lama terdiam, lamunan keduanya pun dibuyarkan oleh kedatangan pelayan yang membawa satu nampan penuh berisi pesanan MyungSoo. Tanpa menunggu lama, Yoongi yang sudah merasakan dingin udara sedari tadi memilih untuk segera meraih cangkir berisi coklat panas itu untuk dinikmati. Sebagai penikmat cokelat, tentu saja Yoongi punya ritual tersendiri dalam menikamtinya. Sebelum benar-benar meminum coklat tersebut, perempuan itu terlebih dahulu menghirup kepulan asap tipis yang menguar dari cangkir tersebut. Asapnya yang hangat membawa harumnya cokelat ke indra penciuman Yoongi.
"Jika hidung oppa tersumbat, Myung oppa bisa melakukan hal ini"
MyungSoo tertawa dengan penjelasan Yoongi. Dengan pandangan telaten, laki-laki itu terus memperhatikan pergerakan Yoongi dalam menikmati cokelat panasnya. Setelah puas menghirup aroma dari si cokelat, berlahan perempuan itu mulai menyeruput cokelat panasnya. Matanya tampak terpejam untuk menikmati setiap hangatnya cokelat yang melewati tenggorokannya.
"Bagaimana kabar putra Nona Bekhyun?"
UHUK
Yoongi langsung tersedak cokelat hangatnya begitu mendengar pertanyaan MyungSoo. Perempuan itu tampak memukul ringan dada nya untuk mengurangi rasa sesak akibat cairan yang diminumnya salah melewati saluran.
Melihat hal tersebut, MyungSoo jadi merasa bersalah. Seharusnya ia menunggu Yoongi selesai menikmati cokelatnya, baru menanyakan hal tersebut. Diambilnya sapu tangan yang ada pada saku jasnya kemudian ia sodorkan pada Yoongi.
"Maaf" sesal lelaki itu
"Tak apa"
Perempuan itu menghela nafas untuk menetralisir tubuhnya. Setelah dirasa kembali normal. Yoongi membenarkan posisi duduknya lantas menatap serius kepada MyungSoo.
"Oppa kau…"
"Aku hanya ingin mengetahui kabarnya saja. Tuan NamJoon sudah berhenti mencari anak tersebut"
"Benarkah?"
"Ne"
Ada sedikit keraguan di hati Yoongi. Ia memang mengenal MyungSoo sebagai orang yang baik selama ini, tapi tetap saja ada perasaan takut yang menyelimuti hatinya. Ia takut jika ia memberikan kabar sedikit saja mengenai keadaan putranya, maka keselamatan Taehyung akan terancam.
"Dia baik"
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Dia pasti sudah sangat besar saat ini"
"Dia begitu tampan. Bahkan dia begitu mirip dengan kedua orang tuanya"
MyungSoo dapat milihat semburat kesedihan di mata Yoongi saat membahas putra Baekhyun. Tangan lelaki itu mengepal kuat. Ia merasa sungguh tidak berguna selama bekerja sebagai bodyguard. Ia yang seharusnya melindungi nona mudanya, justru diam saja delapan belas tahun lalu, dan saat putra majikannya terancam, ia hanya bisa membawanya kabur tanpa menindaklanjuti setelahnya. Bukankah MyungSoo sama-sama brengseknya dengan NamJoon saat ini?
"Kau… Pasti begitu menderita selama ini Yoongi-ssi"
"Aku merawatnya dengan sepenuh hatiku. Seperti kata Baekhyun, dia telah menjadi anakku sejak delapan belas tahun lalu. Maka dari itu, aku mohon bantu hapus kenangan keluarga Kim dalam diri putraku. Jika suatu saat oppa bertemu dengannya, jangan katakan sepatah katapun mengenai keluarga itu. Aku benar-benar berharap bahwa Myung oppa akan melindungi kami seperti delapan belas tahun yang lalu"
"Arraseo"
Bukannya MyungSoo yang menjawab,namun kali ini Jiminlah yang menjawab. Entah sejak kapan laki-laki itu datang dan berdiri di belakang Yoongi, namun yang pasti, saat ini lengan Yoongi sudah ditarik oleh Jimin untuk berdiri.
"Aku rasa pertemuan hari ini cukup sampai disini" sela lelaki itu
"Park Jimin, Aku masih ingin membicarakan banyak hal dengan Yoongi-ssi" MyungSoo menjawab setengah jengkel karena Jimin berusaha membawa pergi Yoongi
"Jangan khawatir, baik aku maupun MyungSoo hyung akan melindungi mu dan juga anakmu. Jadi, bisakah kita pergi sekarang?" Jimin mengulang lagi penawarannya
"Oppa…"
"Sebenarnya apa yang membuatmu ragu? Aku? Atau MyungSoo hyung? Kami berteman walaupun tidak dekat. Kau bisa anggap kami sebelas dua belas dalam bersikap"
"Yaak kita berbeda Park" MyungSoo tak terima
"Bukan begitu. Tapi aku-"
"Kalau begitu ayo pergi. Tak baik berada terlalu lama di luar saat udara dingin"
Tanpa memperdulikan Yoongi maupun MyungSoo, Jimin menarik begitu saja pergelangan perempuan itu untuk meninggalkan café. Yoongi sedikit memberontak dengan perbuatan Jimin, namun usahanya bahkan tampak sia-sia sejak awal. Pada akhirnya, perempuan itu hanya mengikuti kemana langkah Jimin membawanya pergi. Saat mencapai pintu, Yoongi hanya mampu menoleh dan memandang sendu kea rah MyungSo berada. 'Kuharap kita dapat bertemu lagi oppa'
.
.
~BLIND~
.
.
Sesuai dengan tugas yang diberikan kepada Taehyung, di sore hari laki-laki itu harus menjemput Jungkook sebelum jam empat sore tiba. Karena ia masih baru di Kota Seoul, Taehyung belum begitu mengetahui estimasi waktu yang harus ditempuh untuk menjemput nona mudanya itu. Untuk berjaga-jaga, laki-laki itu berangkat menjemput Jungkook satu jam sebelum kelas gadis itu berakhir.
Tepat sesuai perkiraan Taehyung, jalanan Kota Seoul sedikit macet di sore hari karena para pekerja kantoran juga pulang di jam yang sama. Bahkan ia baru tiba di sekolah music Jungkook lima belas menit sebelum kelas gadis itu berakhir.
"Syukurlah aku tidak terlambat"
Daripada menunggu di dalam mobil, Taehyung memilih menunggu di luar mobil walaupun cuaca sedang dingin. Tak lupa, dikenakannya matel butut kesayangannya untuk mengusir hawa dingin serta sebuah mantel berwarna merah maroon di tangan kirinya. Jangan ditanya lagi untuk siapa, tentu saja untuk Jungkook.
Lama menunggu hingga beberapa kali menguap, akhirnya para siswa yang bersekolah di sekolah music tersebut berhamburan keluar satu persatu. Taehyung mengamati satu persatu manusia yang keluar dari sana guna mendapati keberadaan Jungkook. Setelah kiranya ada sepuluh orang keluar dari sana, barulah Jungkook tertangkap oleh indra penglihatan Taehyung.
"Nona muda Jungkook"
Laki-laki itu berlari menghampiri si gadis lantas dengan cekatannya membalut tubuh gadis itu dengan mantel yang tadi dibawanya. Taehyung tersenyum senang melakukannya, sementara Jungkook yang masih tidak tau apa-apa merasa bingung karena mendadak ada mantel yang membalut tubuhnya.
"Aku membawakan mantel untuk nona Kookie karena cuaca sedang dingin saat ini" Taehyung sudah terlebih dahulu memberikan penjelasan sebelum gadis itu bertanya
"Terimakasih" balas Jungkook singkat
"Apakah tes piano mu berjalan lancar?"
"Kenapa kau begitu peduli dengan apa yang kau lakukan? Dasar"
"Ah… Ne, maafkan aku"
Taehyung menggaruk lehernya canggung. Benar juga apa yang Jungkook katakan, kenapa juga ia begitu peduli? Hei Taehyung, ingat jika nona muda mu ini memili tempramen yang sedikit buruk jika suasana hatinya sedang buruk.
"Jam berapa sekarang?" kali ini Jungkook yang bertanya
"Baru pukul empat"
"Jangan pulang kerumah dahulu. Ayo pergi kemanapun hingga hari petang"
"Kemanapun?" Taehyung tampak masih tak percaya dengan ucapan Jungkook
"Ya… kemanapun"
Tampaknya suasana hati Jungkook sedang baik sore ini. Tak mau mensia-sia kan kesempatan emas ini, Taehyung pun segera mengiyakan apa yang nona muda-nya inginkan. Dengan gerakan cekat namun berlahan, Taehyung menuntun Jungkook untuk memasuki mobil.
Namun kali ini ada yang berbeda. Bila tadi pagi Taehyung mendudukkan Jungkook dikursi bagian belakang, kali ini Taehyung hendak membawa Jungkook ke kursi bagian depan.
"Aku ingin nona duduk di bagian depan. Tidak apa kan?"
"Kenapa?"
"Tak apa. Agar aku bisa mengenal nona Kookie lebih banyak saja"
Sebuah senyum lebar nan tulus benar-benar terukir jelas dibibir Taehyung. Laki-laki itu benar-benar berharap Jungkook mau duduk di depan atau lebih tepatnya di sampingnya sore ini.
Berbanding terbalik dengan ekspresi Taehyung yang super sumringah, Jungkook justru menunjukkan ekspresi sebaliknya. Gadis manis itu tampak menghela nafas dalam dan membuangnya dengan kasar.
BUGH
Mendadak sebuah sling bag mendarat tepat mengenaik kepala Taehyung. Jangan tanya lagi siapa pelakunya, karena satu-satunya orang yang suka memukul Taehyung hanyalah Jungkook seorang.
"Ups… maaf" gurau gadis itu
"Sakit nona"
"Haish.. Kau itu benar-benar banyak tingkah dan permintaan. Anggap itu yang harus kau bayar. Cepat buka pintu mobilnya" titah si gadis
"Depan atau belakang?"
"Depan"
"As your wish"
Taehyung bukanlah orang yang mendendam, jadi ia mengabaikan begitu saja perlakuan Jungkook tadi. Toh ini bukan pertama kalinya ia dipukuli, jadi ya bisa dibayangkan sakitnya pun tidak akan terasa pada tubuh Taehyung.
Dengan gerakan gesit, laki-laki itu segera membuka pintu mobil dan mempersilakan Jungkook untuk memasukinya layaknya tuan putri. Walaupun Jungkook terkadang punya tempramen yang buruk, tapi gadis belia itu tetap memiliki sopan santun. Tak lupa diucapkannya kata 'terimakasih' pada sang bodyguard sebelum lelaki itu beranjak dan menutup pintu mobilnya.
Setelah Taehyung bersiap pada posisinya, lelaki itu tak langsung menyalakan mesin mobilnya. Taehyung sempat berdiam sejenak sebelum lamunannya dibuyar oleh Jungkook.
"Ada apa?"
"Tidak. Aku hanya berfikir sejenak"
Mesin mobil pun dinyalakan begitu ucapan Taehyung selesai. Tak butuh waktu lama, mobil yang tampak mencolok disbanding mobil lain yang ada di sekitarnya itupun segera melesat membelah jalanan Kota Seoul.
.
.
~BLIND~
.
.
Suasana yang pertama kali dirasakan Jungkook ketika dituntun memasuki sebuah ruangan oleh Taehyung adalah suasana hangat. Meskipun tidak dapat melihatnya, tapi indra perasa Jungkook jauh lebih peka. Gadis itu dapat merasakan jika suhu di ruangan tersebut dibuat sedikit lebih panas atau hangat lebih tepatnya dari cuaca pada normalnya. Dan juga, saat Jungkook memasuki ruangan tersebut ia bisa mencium bau wewangian yang kuat menguar memenuhi setiap sudut ruangan.
"Kau tidak membawaku ke tempat yang macam-macam bukan?"
Hati Jungkook menjadi was-was sendiri dibuatnya. Siapa yang tidak akan berprasangka buruk jika mendadak dibawa ke suatu tempat yang hangat dan penuh wewangian. Bisa saja Taehyung membawa Jungkook ke sebuah hotel bukan?
Jungkook menggeleng keras guna menepis fikiran buruknya tersebut. ia tak mau berprasangka buruk pada bodyguard barunya ini, tapi ia juga tak ingin lengah. Dengan setengah ragu, gadis itu memilih untuk meremas jas bagian belakang Taehyung dan mengekori kemanapun lelaki itu melangkah layaknya anak ayam.
"Aku tidak akan membawa nona ke tempat yang macam-macam, tenanglah!"
Seakan mengerti dengan kekhawatiran yang dirasakan Jungkook, Taehyung memilih untuk berbalik dan mencarikan sebuah kursi untuk gadis itu beristirahat. Setibanya di barisan kursi yang kelihatannya memang disediakan untuk menunggu, Taehyung mendudukkan Jungkook pada salah satu kursi yang kosong.
"Nona tunggu disini sebentar. Aku akan melakukan reservasi"
"Reservasi?" Jungkook masih menahan cengkramannya pada jas yang dikenakan Taehyung
"Ya, reservasi"
"JiHoon benar-benar akan menendang selangkanganmu jika kau macam-macam padaku"
Taehyung terbahak dengan ucapan yang dilontarkan Jungkook. Yang benar saja, memangnya apa sih yang difikirkan gadis ini sampai harus melibatkan JiHoon untuk mengurusinya.
"Percayalah nona Kookie ku yang cantik, aku akan memesan kan sebuah tempat yang akan kau sukai"
Pipi Jungkook tanpa disangkan bersemu semerah tomat kala mendengar pujian Taehyung tadi. Mendadak Jungkook merasakan hawa disekitarnya semakin panas, dan jantungnya semakin kencang berdetak. 'Astaga aku kenapa'
"Cepat pergi kalau begitu! Hush…!"
Jungkook yang salah tingkah hanya karena perkataan Taehyung memilih mengusir lelaki itu. Tangannya yang tadinya mencengkram jas Taehyung kini justru dikibaskan, membuat gerakan seolah mengusir seekor kucing yang nakal.
Melihat tingkah nona muda-nya yang kelewat abstrak, Taehyung jadi ingin tertawa sendiri dibuatnya, namun ia takut jika Jungkook akan marah nantinya.
"Baiklah baiklah. Tunggu disini oke?"
Si gadis mengangguk patuh dengan ucapan Taehyung. Selama ditinggal sendirian oleh Taehyung, Jungkook memilih mengambil earphone yang ia simpan di tasnya lalu memasangkannya pada iPod miliknya. Gadis itu bersenandung lirih kala lagu pilihannya berhasil di putar, bahkan kakinya yang bebas kini mulai ikut mengetuk lantai guna mencari sebuah irama.
Hampir sepuluh menit berlalu, sudah tiga lagu Jungkook putar dan tak kunjung datang. Gadis itu mulai bosan dan merasa kesal pada bodyguardnya itu. Apakah ia sengaja ditinggal disini hah?
"Lama menunggu?"
Helaan nafas lega dapat Taehyung dengar dengan samar dari hidung Jungkook saat gadis itu menyadari kedatangannya. Tak ingin membuat suasana hati nona mudanya semakin buruh, Taehyung memilih meminta maaf kali ini.
"Maaf membuat nona menunggu lama" ucap Taehyung tulus
"Kufikir kau sengaja meninggalkanku disini" Jungkook menjawab permintaan maaf Taehyung dengan ketus
"Tidak akan pernah nona"
Tak ingin membuat perdebatan ini semakin lama, Taehyung segera membereskan earphone dan iPod yang dipegang Jungkook. Setelahnya, laki-laki itu segera meraih lengan Jungkook untuk ia bawa masuk.
"Kita akan kemana?"
"Coba tebak kita ada dimana?"
"Dimana?" Jungkook sedikit antusias
"Sauna"
.
.
~BLIND~
.
.
Setelah mengganti pakaian dengan yang sudah disediakan, Taehyung menghampiri Jungkook yang telah terduduk manis di sudut ruangan sambil membawa semangkuk telur rebus. Ia tadi meminta salah seorang pegawai sauna ini untuk membantu Jungkook mengganti pakaian, dan alhasil gadis itu sudah berubah mengenakan kaos dan celana pink yang sangat lucu untuk anak seumurannya.
"Apa nona Kookie sudah menunggu lama?"
"Tidak juga, bibi pegawai baru saja mengantarku ke sini"
"Baguslah"
Taehyung meletakkan semangkuk telur yang ia bawa tadi ke hadapan Jungkook. Ia ingat betul tadi pagi nona mudanya hanya memakan roti di pagi hari dan belum makan apapun setelah tes. Oleh sebab itu, kini ia bermaksud mengupaskan beberapa telur untuk Jungkook agar gadis tersebut tidak sampai kelaparan.
"Taehyung… oppa. Bagaimana cara memakai handuk ini?" Jungkook mengtakannya begitu lirih
Tangan lelaki itu berhenti mengupas telur dan menatap si gadis ketika mendengar kalimat lirih yang baru saja terlontar itu.
"Apa tadi kau bilang?"
"Orang-orang di sauna biasanya akan memakain handuk dengan lilitan yang lucu. Tapi miris sekali aku tidak dapat memakainya"
Keheningan melanda keduanya selama beberapa detik. Bahkan Taehyung masih saja betah memandangi nona mudanya itu.
"Biar aku yang ikatkan"
Pada akhirnya, Taehyung mengambil alih handuk yang dipegang oleh Jungkook. Laki-laki itu mulai mendekat ke arah tubuh Jungkook dan memposisikan tubuhnya lebih tinggi dari si gadis. dengan gerakan pelan, Taehyung mulai melilitkan handuk tersebut untuk dibentuk sedemikian rupa dengan handuk yang melilit pada kepalanya.
Jungkook menahan nafasnya berat tatkala harum tubuh Taehyung mulai tercium indranya. Jantungnya sudah berdetak tak karuan, namun ia tak dapat bergerak sedikitpun karena Taehyung tengah melakukan perkerjaannya. Astaga, ia tak pernah sedekat ini dengan lekaki selain JiHoon.
"Cha, selesai"
Begitu lilitan handuk yang dibuatnya selesai, Taehyung segera menjauhkan tubuhnya dari Jungkook. Mereka berdua menjadi canggung tanpa sebab. Si lelaki memilih melanjutkan kupasan pada telurnya dan si gadis memilih diam tak berbicara.
"Nona pernah ke sauna sebelumnya?" Taehyung mencoba berbasa-basi
"Tidak pernah. Aku selalu di rumah"
Suasana kembali sunyi diantara mereka berdua. Dua telur berhasil Taehyung kupas tanpa sepengetahuan Jungkook, dan tiba-tiba saja sebuah ide jahil terlintas di fikiran Taehyung.
"Jungkook nona, kau pernah tau bagaimana cara mengupas telur di sauna?" tanya Taehyung
"Tidak. Emang bagaimana?"
"Mendekatlah! Akan aku tunjukkan"
Gadis itu mendekat tanpa perasaan curiga sama sekali. Dengan polosnya, Jungkook menengadahkantelapak tangannya, mengira Taehyung akan memberinya telur dan mengajarinya cara mengupas ala sauna.
TUK
"Aaaww…!"
Taehyung terbahak ketika Jungkook mengaduh dan mengusap-usap dahinya yang tadi ia gunakan untuk membenturkan telur.
"Seperti itulah cara mengupas telur disauna. Sekarang buka mulut nona, aku sudah mengupaskan telur untukmu"
Sekali lagi, Jungkook menuruti apa yang dikatakan Taehyung walaupun hatinya masih sedikit dongkol kali ini. Telur yang dikupaskan Taehyung lumayan besar, membuat mulut Jungkook penuh dibuatnya. Bahkan b]pipi chubby Jungkook semakin menjadi tatkala ia mengunya telurnya dengan susah payah.
Melihat nona mudanya kesulitan menelan telur, Taehyung dengan otomatisnya memberikan sebotol air putih pada Jungkook. Gadis itu meminumnya rakus hinggal akhirnya semua telur yang ia kunya tadi dapat tertelan sempurna.
"Berikan aku sebuah telur"
Jungkook menengadahkan tangannya pada Taehyung. Ia tak ingin kalah begitu saja, jadi ia berniat membalas Taehyung kali ini.
"Nona ingin membalasku?"
"Tidak. Aku ingin mempraktekkannya padamu"
Sebuah seringaian terulas di bibir manis Jungkook. Gadis itu semakin tersenyum lebar saat telapak tangannya menerima sebutir telur matang dari Taehyung.
Dengan meraba-raba udara, gadis itu mulai mencari keberadaan wajah Taehyung. Si lelaki mencoba untuk menghindar, namun Jungkook tampaknya juga tak kalah gesit darinya. Ketika Jungkook telah berhasil mendapatkan wajah Taehyung, segera saja gadis itu menangkup pipi Taehyung dan…
TUK
"Hahaha"
Sebuah tawa kali ini lolos dari bibir Jungkook. Ia merasa puas saat mendengar kulit telur yang keras itu beradu dengan dahi Taehyung.
"Sakit nona"
"1 – 1"
"Arraseo"
Keduanya tak mau ambil pusing dan saling membalas setelahnya. Bahkan kini Taehyung dan Jungkook memilih untuk menikmati telur yang mereka kupas sambil sesekali saling menceritakan hal lucu.
"Kookie nona, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu" kali ini nada bicara Taehyung berubah serius
"Tentang apa?" Jungkook menjawab dengan santainya sambil mengupas telur yang ada di tangannya
"Apa nona mengenal seseorang yang bernama Baekhyun?"
Air muka Jungkook ikut berubah serius ketika nama tersebut diucapkan Taehyung. Telur yang tadinya ia kupas kini diletakkan ke lantai begitu saja oleh Jungkook.
"Darimana kau mendengar nama itu?" nada bicara Jungkook berubah pelan
"Aku sempat mendengarnya beberapa kali"
"Sebenarnya ini masalah yang begitu sensitive" si gadis mendesah pelan
"Lalu?"
"Ini rahasia keluarga"
"Jangan ceritakan jika itu memang rahasia" Taehyung menjadi tidak enak dibuatnya
"Tidak-tidak. Aku akan berbagi padamu"
Kini Jungkook membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman bercerita banyak kepada Taehyung.
"Baekhyun itu… adalah nama bibiku"
"Apa?" Taehyung tampak terkejut dengan penuturan Jungkook
"Ya, dia bibiku"
"Dimana dia sekarang? Kenapa ia tak tinggal bersama kalian?"
"Dia sudah lama tiada. Bahkan sebelum aku dan JiHoon lahir ke dunia"
"Astaga, tak seharusnya aku bertanya. Pantas semua orang dirumahmu sensitive mendengar nama itu"
"Ibu tak menceritakan banyak kepadaku. Tapi ibu bilang ia meninggal bersama pamanku. Aku pernah mendengar jika bibi juga memiliki seorang putra" Jungkook tersenyum miris kali ini
"Apakah putranya juga telah tiada?"
"Hmmmm tidak… Dia hilang. Menghilang entah kemana"
.
.
.
TBC
A/N :
Annyeong…
Cuma mau ngasih tau aja klo chap ini belum melalui proses editing , jadi maaf yak lo banyak typo. Aku bakal benerin secepetnya
Dan juga….
Aku berencana bikin chap khusus masalalu NamJin di chapter berikutnya
Udah itu aja :D
See you on next chap ^_^
