CHAPTER 16
A SECRET
.
.
.
Langit tadinya terang kini telah berubah warna menjadi gelapnya. Matahari yang tadinya bersinar cerah kini telah di geser oleh cahaya remang sang rembulan yang hanya tampak samar di ujung langit sana. Bersamasaan dengan itu pula, Seok Jin tak hentinya melangkahkan kaki kesana kemari sambil memegang secangkir the di tangan kanannya.
"Kenapa Kookie belum pulang juga?"
Wajarnya seorang ibu, tentu saja seorang Kim Seok Jin khawatir kala mengetahui putrinya belum juga pulang. Jam dinding di ruang utama sudah menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit, ini sudah empat jam lima belas menit Jungkook terlambat untuk pulang dari jadwal sekolahnya.
"Berhentilah mondar mandir. Kau mengganggu konsentrasiku"
Kepala Seok Jin menoleh dengan cepatnya begitu mendengar ucapan suaminya yang duduk santai di ruang keluarga sambil menatap layar laptop. Bukan lagi khawatir, kini raut wajah perempuan cantik itu berubah seratus delapan puluh derajat menjadi raut marah. Dengan langkah kaki yang dihentak mantab, SeokJin memberanikan diri menghampiri NamJoon di tempatnya berada lantas menaruh cangkir teh yang sempat ia bawa dengan brutalnya tetap di depan lelaki itu.
"Apa masalahmu Kim SeokJin?" NamJoon menatap tak suka istrinya itu
"Aku yang harusnya bertanya seperti itu Kim NamJoon! Apa masalahmu?"
"Berhentilah bersikap bodoh dengan menghawatirkan anak perempuanmu itu. Dia sudah cukup besar dan ditemani seorang bodyguard"
"Tapi ini sudah lewat empat jam dari jam-nya pulang sekolah. Apakah aku salah jika aku mengkhawatirkannya? Jungkook juga tak memberi kabar apapun padaku"
"Demi apapun sayang, kekhawatiranmu hanya sebuah kekhawatiran tak berasalan. Bisa saja dia pergi ke rumah temannya"
"Memangnya dia memiliki teman?"
"Sikap bodohmu mu yang terlalu mengekangnya yang membuat Jungkook tak memiliki teman. Apa kau sadar itu?"
SeokJin membisu dengan rentetan kalimat yang baru saja diucapkan suaminya. Tanpa perempuan itu sadari, sudut bibir NamJoon naik setingkat .Membuat SeokJin tak berkutik seperti ini adalah suatu kepuasan tersendiri bagi NamJoon. Terkadang istrinya ini memang terlalu banyak memikirkan hal tidak penting yang membuat NamJoon harus turun tangan untuk menyadarkannya.
"Daripada kau memikirkan anak itu lebih baik kau telfon JiHoon. Aku tak suka jika dia bermain dengan gerombolan anak band itu"
"JiHoon JiHoon JiHoon. Terkadang aku sungguh membencimu ketika kau hanya memikirkan salah satu diantara mereka"
"Jangan memulai SeokJin!"
"Aku akan mencari Jungkook"
Tanpa memperdulikan sang suami, SeokJin berlari menuju kamarnya. Tak lama kemudian, dari ekor matanya, NamJoon dapat melihat jika istrinya itu menuruni tangga dengan tergesa sambil mengenakan jaket kulit kesukaannya.
"Berhenti di tempatmu Kim SeokJin!"
Laki-laki itu berteriak dengan lantangnya hingga membuat para pelayan yang tadinya sibuk bekerja dan mengabaikan pertengkaran majikannya kini menoleh dengan serempak ke sumber suara. Berbeda dengan seisi rumah yang gentar mendengar seruan NamJoon, SeokJin justru tetap berjalan dengan santainya menuju pintu keluar.
"Dasar keras kepala" desisnya
NamJoon bangkit dari duduknya setelah meletakkan laptop. Dengan langkah yang tegas dan cekatan, laki-laki itu segera menuju kea rah SeokJin dan meraih tangan perempuan itu sedikit kasar. SeokJin tersentak dengan tarikan NamJoon hingga membuat perempuan itu mau tak mau membalikkan badan dan berhadapan langsung dengan sang suami.
"Kau tuli?"
"Aku masih waras. Lepaskan aku!"
"Tidak"
"Lepas!"
"Aku bilang tidak. Kau tidak akan pergi kemanapun"
TING TONG
Saat sepasang suami istri itu sibuk bertengkar, mendadak bel pintu berbunyi, sontak keduanya mengalihkan perhatian pada pintu yang tertutup. Baik SeokJin maupun NamJoon sempat terdiam sesaat hingga akhirnya SeokJin sadar lebih dulu dan meraih gagang pintu untuk membukanya.
"Jungkook" gumamnya lirih
Benar saja, saat pintu itu terbuka dengan kedua mata kepalanya sendiri SeokJin dapat melihat jika sang putri pulang bersama dengan bodyguardnya. Helaan nafas lega sempat terdengar dari perempuan tersebut, namun tak bertahan lama. Wajah lega SeokJin kini justru berganti dengan wajah khawatir tatkala mendapati Jungkook berada di gendongan Taehyung dengan kondisi tak sadar.
"Apa yang terjadi pada Jungkook?" cecarnya pada Taehyung
"Nona muda ketiduran"
"Bawa dia ke kamar!"
Tanpa berucap apapun, Taehyung mengangguk patuh dengan titah SeokJin. Kedua orang tua itu menyingkir guna memberikan jalan agar pemuda itu bisa membawa Jungkook ke kamarnya. SeokJin mengikuti Taehyung ke kamar putrinya tak lama kemudian setelah pemuda itu lewat di hadapannya, sementara NamJoon? Laki-laki itu memilih menghela nafas kasar dan kembali duduk menyelesaikan pekerjaannya.
Sesampainya di dalam kamar, Taehyung menidurkan Jungkook dengan hati-hati. Dibenahinnya posisi Jungkook yang sedikit tak nyaman agar gadis itu bisa tidur dengan nyenyak. Sementara sang ibu yang berada di ujung tempat tidur segera melepas sepatu putrinya yang masih melekat agar Taehyung bisa segera menaikkan selimutnya.
Setelah dirasa cukup, SeokJin memberi isyarat pada bodyguard putrinya untuk mengikutinya. Taehyung hanya mengangguk pasrah dengan titah majikannya itu. Ia tau ini akan terjadi. Cepat atau lambat nyonya besar pasti akan memarahinya karena membawa Jungkook pulang di malam hari tanpa kabar.
Taehyung mengikuti kemana langkah SeokJin pergi, hingga akhirnya perempuan setengah baya itu berhenti di bawa tangga sambil berkacak pinggang.
"Sekarang jelaskan!"
"Maafkan saya nyonya" pemuda itu membungkuk dalam sebagai bentuk rasa bersalahnya
"Aku tak butuh maaf mu Taehyung-ssi, aku hanya butuh penjelasanmu"
"Nona Jungkook memintaku untuk membawanya jalan-jalan setelah pulang sekolah sore tadi"
"Lalu?"
"Aku membawanya pergi ke sauna dan mengajaknya untuk makan telur rebus nyonya" jelas Taehyung lirih
"Astaga… kepalaku pening sekali"
SeokJin mengurut kepalanya pelan. Mendengar penjelasan Taehyung membuat tekanan darahnya berlahan naik. Sauna pemuda itu bilang? SeokJin saja tak pernah membawa Jungkook ke tempat menyedihkan itu.
"Lalu, kenapa kau tak menghubungiku sama sekali?" SeokJin melanjutkan interogasinya
"Nona muda melarangku nyonya. Sekali lagi aku minta maaf"
"Dasar anak nakal. Kau boleh pergi!"
Sekali lagi Taehyung membungkuk di hadapan SeokJin sebelum meninggalkannya dan kembali ke kamar. Perempuan itu sedikit acuh, namun Taehyung tetap tersenyum. Mungkin nyonya nya sedikit kesal, Taehyung dapat memahami itu karena dulu eommanya juga sering mengomelinya saat pulang terlambat.
Saat Taehyung telah pergi dari hadapannya, SeokJin memilih pergi ke dapur dan mengambil air putih. Sambil menuangkannya ke dalam gelas, ia mengambil ponselnya dan sibuk menekan beberapa nomor guna menghubungi seseorang.
Menunggu selama beberapa detik, bibir perempuan itu yang tadinya terteku kini kembali tersenyum tipis saat mendengar suara seseorang menyahut dari seberang sana.
"Ya eomma?" sahut suara di seberang sana
"JiHoon, kau dimana sayang?"
"Aku bersama WooJin dan GuanLin"
"Band lagi?"
"Hmmmm"
"Pulanglah! Telinga eomma sakit mendengar ocehan ayahmu"
Seperti sudah biasa, JiHoon yang berada di seberang sana terkekeh mendengar penuturan eommanya. Ini bukan sekali atau dua kali eommanya mengadu seperti itu. Mungkin sudah yang ke seratus atau mungkin dua ratus.
"Arraseo"
"Bagus. Kau memang yang terbaik JiHoon-ah. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut prince"
"Siap laksanakan my queen. Ku tutup"
Tak berapa lama, bunyi khas telfon terputus tertangkap oleh indra pendengaran SeokJin. Perempuan itu telah selesai menuangkan air putihnya. Dengan nampan di bawah gelas, SeokJin membawanya dengan hati-hati melewati ruang keluarga.
Saat melintas dihadapan NamJoon, perempuan itu sama sekali tak menoleh pada suaminya itu. Ia terlanjur kesal dengan kelakuan laki-laki itu dan ini adalah sebagai bentuk protesnya. Toh tanpa ia memberi tau NamJoon pun laki-laki itu juga pasti sudah mengerti.
SeokJin berjalan sendirian menyintasi koridor rumahnya dengan santai. Sesekali, ia bertemu dengan para bodyguard yang sedang berjaga dan tak lupa menyapa mereka. Setibanya di paviliun, perempuan itu berhenti di salah satu kamar yang ada di sana. Dengan sekali tarikan nafas dalam, SeokJin meraih gagang pintu kamar tersebut dan masuk kedalamnya.
Suasana sunyi adalah hal pertama yang menyambut SeokJin di dalam sana. Dengan penerangan temaram, ia melangkah menuju nakas yang terletak di samping tempat tidur ruang tersebut. Diletakkannya segelas air putih yang ia bawa dari dapur tadi lantas dengan gerakan pelan SeokJin menarik salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut.
Perempuan itu mendudukkan diri dengan sendunya sambil memandangi seseorang yang tengah terlelap di atas tempat tidur. Wajah orang tersebut tampak tak begitu damai seolah mengalami mimpi buruk, membuat SeokJin yang melihatnya menyunggingkan sebuah senyum sedih.
"Apa ayah mimpi buruk?" tanya SeokJin pada orang yang terlelap itu
"Aku juga sering mimpi buruk"
Rasa penat yang melanda SeokJin seharian ini membuat perempuan tersebut memilih meletakkan kepalanya di tepi ranjang dengan posisinya yang masih terduduk. Tak lupa, kedua tangannya yang bebas ia jadikan sebagai bantalan agar posisitidurnya semakin nyaman.
"Jinnie boleh tidur di sini bersama appa kan malam ini? NamJoon begitu menyebalkan hari ini" monolognya entah pada siapa
Berlahan tapi pasti, perempuan cantik itu mulai memejamkan matanya. Dengan deru nafas yang halus, SeokJin mulai mencoba untuk memasuki alam mimpinya. Bersamaan dengan itu pula, pintu kamar itu terbuka dengan berlahan. Siluet seorang laki-laki dengan tinggi proposional terlihat memasuki ruangan tersebut sambil membawa sebuah kain tebal di tangannya.
Langkah lelaki itu berhenti ketika berada tepat di samping SeokJin tidur sambil terduduk. Nafas lelaki itu tampak berhembus sedikit kasar ketika melihat sang pujaan hati bisa tertidur dengan lelap walaupun dengan posisi yang tidak nyaman sama sekali.
"Dasar keras kepala. Kalau kau marah seharusnya lampiaskan saja. Kenapa justru menyiksa diri disini"
Tak ingin menggangu tidur SeokJin, lelaki itu segera memasangkan selimut yang sempat ia bawa tadi agar tidur perempuan itu semakin nyaman. SeokJin tampak menggeliat pelan begitu kehangatan menyelimuti tubuhnya. Si lelaki tampak tersenyum singkat di dalam kegelapan melihat reaksi perempuan itu.
"Selamat malam"
Sebelum meninggalkan tempat tersebut, tak lupa lelaki itu mendaratkan sebuah kecupan sayang di kening SeokJin dan mencuri sebuah ciuman singkat di bibir. Dan setelahnya, lelaki itu melangkah dengan pelan meninggalkan kedua sosok manusia yang terlelap di dalam kamar temaram tersebut.
.
.
.
KRIIIIING
SeokJin membuka matanya berlahan begitu suara berisik dari bel khas sekolah berseru dengan tidak elitnya. Cahaya terang yang menembus dari jendela secara berlahan mulai masuk memenuhi indera pengelihatannya. Hal pertama yang dilihat SeokJin saat membuka mata adalah sosok NamJoon yang membolak balik halaman buku dengan seriusnya. Gadis itu tersenyum lebar melihat pemandangan tersebut dengan posisi kepalanya yang masih tergeletak di atas meja.
"Sudah bangun?"
Suara khas NamJoon membuat si gadis yang menatapnya tadi menegakkan diri. Diangkat tinggi-tinggi kedua tangannya di udara lantas ia renggangkan agar nyaman.
KRETEK
Sendi gadis muda itu saling bergesek, menimbulkan suara yang mampu membuat bibir kissable SeokJin melontarkan kalimat puasnya/
"Ah… nyaman sekali"
"Kau tidak lapar?"
NamJoon yang melihat tingkah SeokJin sedari tadi mencoba untuk mengajak gadis itu ke kantin guna sekedar mengisi perut. Ia tau gadis itu bukan tipe yang akan memakan nasi di pagi hari seperti dirinya, diet ia bilang. Dan ini sudah memasuki siang hari, NamJoon khawatir jika gadis itu tidak makan nasi bisa-bisa pingsan di tengah pelajaran.
"Apa ini sudah istirahat?" bukannya menjawab gadis itu justru bertanya
"Kau bangun karena mendengar bel berbunyi"
"Benar juga. Berapa lama aku tertidur?"
"Empat puluh lima menit" jawab si lelaki sambil melihat arlojinya
"Hah, aku benar-benar bersyukur Kang saem tidak mengajar hari ini. Tubuhku begitu penat mengerjakan tugas Lee saem semalaman"
"Dasar deadliner. Mau ke kantin?" tawar NamJoon lagi
Jinnie…..!"
Belum sempat SeokJin menjawab tawaran NamJoon, tiba-tiba sahabatnya, Hani datang sambil berteriak heboh menghampirinya. Gadis itu mengorek telinganya sebagai tanda bahwa ia begitu terganggu dengan teriakan sang sahabat. Jangankan SeokJin, seisi kelas saja.
"Jin-ah, apa kau sudah lihat mading hari ini?" tanya Hani dengan hebohnya
"Belum. Memang ada apa?" jawab SeokJin sedikit malas.
"Lihat ini!"
Hani menunjukkan selembar kertas berukuran A4 ke hadapan SeokJin dimana di bagian atas kertas tersebut tertulis dengan huruf yang begitu besar 'PRIMADONA BANGTAN HIGH SCHOOL TERTANGKAP KAMERA TENGAH BERKENCAN DENGAN KIM NAMJOON SI PEBASKET. APAKAH MEREKA BERDUA BERPACARAN?'
"Apa ini benar kau Jinnie?" sekali lagi Hani bertanya dengan rasa penasarannya yang tinggi
"Haish… Kenapa mereka memasang foto yang jelek seperti ini? Angle-nya buruk sekali. Kalau tak bisa mengambil foto yang bagus kenapa bertingkah seolah mereka adalah dispact di sekolah ini"
Gadis itu merebut kertas A4 yang berisi gambarnya dari tangan Hani. Seolah tak terjadi apa-apa, SeokJin membolak-balik kertas itu hingga kusut sendiri.
"Jadi benar kau berpacaran dengan NamJoon?"
"Hhhmmm begitulah" saut SeokJin dengan nada ceria
"Yaaak… Kim NamJoon.." kata Hani sedikit tak percaya
"Uwaaaaa…. Daebak"
Seisi kelas menjadi riuh mendengar deklarasi tak langsung yang baru saja diucapkan sang primadona. Mereka saling berseru dan bersiul guna menggoada pasangan baru tersebut, dan ada juga yang berseru kecewa khususnya para penggemar SeokJin yang harus menelan kekecewaan karena pujaan hati mereka telah sold out.
NamJoon hanya tersenyum tipis menanggapi godaan teman-temannya. Daripada berdiam diri, kini lelaki itu memilih menghampiri sang kekasih lalu tak lupa meraih tangannya.
"Ingin makan siang?" tawarnya gentle
"Tentu saja"
Keduanya melangkah keluar kelas dengan tangan bergandengan, membuat keributan yang tadinya belum reda semakin menjadi-jadi. Hani yang diabaikan oleh SeokJin hanya mampu mencebik saja. Hufh, selalu begini kalau SeokJin punya pacar.
.
.
.
SeokJin dan NamJoon memasuki kantin dengan beriringa. Para siswa yang tadinya makan dengan tenang kini mulai teralihkan perhatiannya dengan kedatangan dua orang popular tersebut. Ada dari mereka yang langsung berkasak kusuk, dan ada juga yang menatap takjub pemandangan langka tersebut.
Sebenarnya NamJoon merasa risih di tatap seperti itu. Ini tak ada bedanya dengan dulu saat ia pertama kali menjadi pemain basket yang begitu dielu-elukan. Mereka pasti akan bergunjing dan menatap. NamJoon dan suka.
Berbeda dengan NamJoon, SeokJin yang dasarnya memang primadona sekolah yang sudah sering malang melitang di sekolah berjalan dengan santainya melewati orang-orang tersebut. hal seperti ini sudah biasa baginya. Siapa memang yang tidak mengenal seorang Kim SeokJin? Mantan ketua paduan suara yang terkenal cantik dan memiliki suara paling merdu yang pernah dimiliki Bangtan High School.
"Ingin duduk dimana?" tanya SeokJin pada NamJoon
"Tampaknya di ujung sana kosong. Ayo kesana"
Gadis itu mengangguk dan mengikuti sang kekasih yang selangkah di depannya. Sesampainya di tempat kosong tersebut, SeokJin tak kunjung duduk juga.
"Kenapa tak duduk?"
"Kau ingin pesan apa Joon?"
"Biar aku yang pesan"
"Tidak. Aku yang pesan"
Tangan SeokJin terentang guna menghadang langkah NamJoon, membuat lelaki itu menghela nafas singkat.
"Baiklah" NamJoon mengalah
"Jadi, pesan apa?"
"Semangkuk ramen tak pedas. Jangan lupa tambah kimchi. Dan juga aku ingin soda"
"Oke. Tunggu disini!"
Setelah kepergian SeokJin, NamJoon memilih mendudukkan diri dan sesekali memeriksa ponselnya. Ada begitu banyak chat menumpuk di group basket, membuat NamJoon yang membacanya sesekali tertawa dibuatnya.
Saat asyik memainkan ponselnya, mendadak perhatian NamJoon teralihkan oleh kebisingan yang ditimbulkan oleh sekelompok 'perompak' yang datang. Begitulah NamJoon menyebutnya.
"Apa kau lihat-lihat? Cari mati hah?"
Si tinggi yang tak lain dikenal sebagai tiang menjulang bertingkah dengan angkuhnya selama dia berjalan. Dengan gaya sok keren, ia tak segan mengancam siapa saja yang dianggap menentang.
"Wohoo…. Lihat siapa yang ada di hadapan kita? Kim NamJoon yang baru saja berpacaran dengan dewi SeokJin"
NamJoon yang tadinya diam memainkan ponsel kini menatap si tinggi tak suka. Sungguh ia merasa terusik dengan kehadiran pengganggu tersebut.
"Apa mau mu Kris Wu?"
"Tidak ada. Aku hanya membicarakan kebenaran. Ngomong-ngomong, bolehkah aku duduk di tempatmu?"
"Aku pergi"
"Wohoo…. Santai dude"
Kris menahan lengan NamJoon saat lelaki tersebut hendak beranjak. Suasana yang tadinya tenang kini berubah tegang saat keduanya mulai berinteraksi. Yang satu menatap tak suka, sementara satunya lagi tersenyum setan.
Seisi Bangtan High School tau jika hubungan keduanya tidaklah baik. Bahkan mereka berdua pernah bertengkar dan hampir di drop out dari sekolah saat pemilihan ketua basket. Siapa lagi kalau bukan Kris Wu dalangnya? Tanpa bertanya semuanya juga tau.
"Lepas" desis NamJoon
"Kalau aku tidak mau?" Kris menaik turunkan alisnya tanda menantang
"Brengsek!"
"Terimakasih"
Daripada menyulut masalah, NamJoon memilih duduk kembali. Sekuat tenaga lelaki itu mengabaikan perhatiannya agar tidak tertuju pada si brengsek Kris Wu.
"Oi Jung nerd. Belikan aku soda"
"B-baik sunbae"
Ekor mata NamJoon melirik gerak-gerik si keparat tersebut. Entah kenapa tangannya tanpa sadar mengepal kuat saat Kris menyuruh salah satu junior-nya untuk membelikannya minum dengan cara yang tidak sopan. Astaga, masih saja ada yang mau diperbudak di jaman modern ini. Kenapa si nerd itu tidak melawan? Ingin rasanya NamJoon mengahajarnya hingga si nerd itu tersadar
"ZiTao ya… Primadona sekolah ini telah memiliki pacar. Kado apa yang sebaiknya kita berikan untuk merayakannya?"
Seolah memang sengaja, Kris menaikkan suara di setiap kalimatnya agar didengar seisi kantin. NamJoon mati-matian menahan emosinya agar tidak naik pitam, tapi tetap saja orang di hadapannya ini terus-terusan meniup asap agar berubah jadi api.
"Berikan saja mobil sport mu pada mereka. Bukankah kasihan jika primadona kita menaiki kendaraan tidak layak saat berkencan nanti?" ZiTao yang merupakan teman satu geng Kris ikut menyulut api
"Mobil sport ku? Itu terlalu mahal untuk seorang anak angkat Zi.."
"Anak angkat?" si teman satu geng menyahut dengan pura-pura terkejut
"Ups. Apa aku baru saja mengatakan kebenaran?"
Bukannya merasa bersalah, Kris justru tersenyum mengejek menatap NamJoon yang sudah dikuasai oleh emosi. Seisi kantin diam seketika, tak ada yang berani angkat bicara ketika hawa-hawa perkelahian akan segera dimulai.
NamJoon yang sudah berkabut emosi dengan cepat berdiri dan meraih kerah baju NamJoon. Si lawan tersenyum mengejek, menbuat tangan NamJoon melayang di udara untuk menghantam wajah tampan musuhnya itu.
BUGH
"AW"
Kris mengaduh kencang begitu kepala bagian belakanya dihantam benda tumpul oleh seseorang. Dengan kesal, lelaki itu menoleh ke arah si pemukul. Kris dapat melihat SeokJin berada di belakangnya sambil menenteng sebuah sepatu di tangan kanannya.
"Sakit?" tanya SeokJin dengan menaikkan alisnya
"APA KAU GILA?" bentak Kris
"JANGAN BERTERIAK PADA PEREMPUAN KRIS WU!"
"Sekali lagi kau bicara tidak sopan tentang NamJoon ku jahit mulutmu"
SeokJin menatap Kris tanpa ada rasa gentar di bola matanya. Kris yang kepalang kesal memilih pergi dari sana bersama geng-nya. Sementara Seokjin melempar sepatu yang sempat ia lepas untuk memukul Kris dengan kesal ke lantai lalu mengenakannya.
"APAKAH ADA YANG PERLU DILIHAT?"
Mereka yang tadi menyaksikan pertengkaran dengan gelagapan kembali melanjutkan aktivitas mereka begitu mendnegar bentakan SeokJin.
"Masih ingin makan?" tanya SeokJin pada NamJoon
"Aku ingin pulang"
"Aku ikut denganmu. Disini membuat buruk hatiku"
Kali ini NamJoon tak membantah SeokJin sama sekali. Keduanya memilih meninggalkan kantin begitu saja sebelum menghabiskan makanan yang sempat dipesan.
.
.
.
Keduanya tiba di di kediaman NamJoon setelah lima belas mengemudi. NamJoon memarkirkan motornya asal dan berjalan terlebih dahulu, membiarkan SeokJin terbirit-birit mengkutinya dari belakang.
Tanpa suara, NamJoon melesat masuk begitu saja. Namun, setibanya di ruang utama, langkah NamJoon terhenti begitu mendengar suara ayahnya yang berbincang di ruang keluarga
"Siapkan dengan baik pengacara Seo. Aku ingin semuanya segera diselesaikan"
"Apakah tuan yakin semua harta tuan untuk nona Baekhyun? Bagaimana dengan tuan NamJoon?"
"Istriku memang begitu menyayangi NamJoon, ia mendambakan anak sedari awal kami menikah. Walaupun begitu sekarang istriku telah tiada. Bagiku NamJoon tetaplah anak angkat di keluarga ini. Aku melakukannya dulu karena hanya ingin membuat istriku bahagia. Anakku hanyalah Baekhyun seorang"
"Baiklah jika itu keputusan tuan. Aku akan mengurusnya segera"
NamJoon mematung mendengar itu semua dari balik tembok. SeokJin yang ikut mendengarnya pun merasa sedih. Ia tau bahwa NamJoon hanya anak angkat, tapi bukankah terlalu kejam jika selama delapan belas tuan Kim merawatnya dan tetap menganggapnya orang asing? SeokJin menahan nafas dengan semua fikirannya. Perempuan itu memilih mencengkram erat kemeja NamJoon.
"Bisa kita pergi dari sini?" putus NamJoon
.
.
.
TBC
A/N :
Annyeong readers deul.
Sudah berbulan-bulan ya aku gak update? Aku sampai lupa sama sedikit cerita ini :v
Chapter ini emang fokus ke NamJin ya… supaya kejadian dimasa lalu bisa terkuak alasannya :D
Tapi semoga chapter ini gak keluar topic ya.
Klo ada ketidakberesan cerita tolong komen ya readers deul. Entah mendadak ceritanya tidak masuk akal atau ada tokoh yg udah pernah akumunculin sebelumya. Soalnya aku belum sempat baca ulang dari awal ceritan dan editing.
Semoga suka dengan chapter ini
See you on next chap ^_^
