CHAPTER 17
MEMORIES
.
.
.
Matahari meninggi begitu cepat pagi ini. Mereka yang baru saja merasa terlelap mau tak mau harus membuka mata mereka kembali untuk memulai aktivitas. Tak terkecuali dengan Taehyung, tidur pemuda itu mau tak mau harus terganggu oleh bunyi ponsel yang begitu nyaring di pagi harinya. Awalnya Taehyung ingin mengabaikannya saja, namun semakin diabaikan, dering ponsel itu justru semakin gencar mengusik tidurnya.
"Argh… Siapa yang menelfon sepagi ini?"
Taehyung terduduk sambil mengacak rambutnya kasar. Dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya, pemuda itu meraba nakas yang terletak disamping tempat tidurnya lantas menyambar ponselnya cepat. Tertera dengan jelas tulisan 'EOMMA' sedang memanggil Taehyung, minta untuk dijawab.
"Yeoboseo" jawab Taehyung dengan suara seraknya
"Kau baru bangun tidur Tae?"
Terdengar suara berisik dari seberang yang dapat ditangkap oleh indra pendengaran Taehyung. Laki-laki itu menghela nafas sejenak sebelum akhirnya menarik nafas dan menjawab 'Iya' pada sang eomma.
"Astaga. Kau tidak bekerja?"
Kali ini bukan suara eomma Taehyung yang terdengar dari ujung telephone, melainkan suara khas Jimin yang mendadak terdengar. Nampaknya laki-laki itu baru saja merebut ponsel milik Yoongi
"Ini hari libur samchon"
"Oh. Aku melupakan fakta itu"
"Tae kemarilah jika kau luang. Eomma memasak banyak hari ini" sahut Yoongi
"Jinjja? Apakah eomma akan membuatkanku Kimbab hari ini?"
Mendengar soal makanan, nyawa Taehyung langsung kembali seratus persen. Bahkan matanya yang tadi terpejam kini membuka sempurna saat mendengar iming-iming dari Yoongi.
"Ne. Eomma akan masak semua yang kau sukai. Cepat kemari!" titah perempuan di seberang sana
"Satu jam. Aku akan sampai disana dalam satu jam"
Tanpa memberi salam terlebih dahulu, Taehyung memutus sambungan secara sepihak dengan tenangnya. Dilemparkannya ponsel tersebut ke sisi kasur yang kosong lantas pemuda itu segera beranjak dan menuju kamar mandi.
Lima belas menit lamanya suara gemericik air shower terdengar dari kamar mandi pemuda itu. Tak lama kemudian, Taehyung keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan yang sudah segar. Mata musangnya menyempatkan diri untuk melirik jam yang tergantung di dinding sejenak. Masih jam Sembilan, itu artinya ia masih punya empat puluh lima menit sebelum sampai ditempat tujuan. Tak ingin mengecewakan sang eomma, Taehyung menyisir rapi rambutnya hari ini, beberapa semprotan parfum tak lupa ia gunakan untuk menambah aura maskulinnya dan juga, kemeja panjang yang dipadu dengan jeans hitam hari ini ia gulung hingga sebatas siku.
"Oke. Sudah tampan"
Segera setelahnya, Taehyung menyambar ponsel dan juga kunci mobil yang dipercayakan padanya. Sekretaris Jung pernah berkata bahwa tak apa jika Taehyung ingin menggunakan mobil rumah ini untuk bepergian selama ia bekerja di Mansion Keluarga Kim.
Saat Taehyung telah membuka pintu, kebetulan sekali Sekretaris Jung lewat dihadapannya. Tak mengurangi rasa hormat sedikitpun, Taehyung menyapa laki-laki tersebut.
"Kau mau pergi kemana? Berkencan?"
Taehyung meringis pelan mendengar pertanyaan dari Sekretaris Jung. Kadang ia merutuk kenapa laki-laki di hadapannya ini tak pandai berbasa-basi sama sekali, persis seperti tuannya. 'Pantas tak kunjung mendapat kekasih' batin Taehyung jahat.
"Ah, tidak hyung. Aku akan ke rumah menemui eomma ku"
"Dimana eomma mu tinggal? Aku juga akan pergi, siapa tau kita searah dan kurasa bukan ide buruk jika kita pergi bersama"
"Eomma ku tinggal di pinggiran Kota Seoul. Tempatnya begitu terpencil. Kurasa akan merepotkan jika hyung harus mengantarku kesana"
"Tidak. Aku juga akan melewati daerah itu. Ayo pergi!"
Sebelum Taehyung memberikan jawaban, Hoseok sudah berjalan mendahului Taehyung. Merasa tak enak dengan atasannya, Taehyung pun akhirnya menyetujui untuk pergi bersama Sekretaris Jung.
.
.
~BLIND~
.
.
Hampir satu jam lamanya Hoseok dan Taehyung berjuang membelah kemacetan Kota Seoul. Taehyung yang sudah terlambat dari waktu yang ia janjikan kepada eomma-nya pun berkali-kali menghela nafas berat. Tangannya yang bebas mengetuk-ngetuk kaca mobil pelan membuat Hoseok sesekali melirik dari ekor matanya.
"Apakah masih jauh?"
Hoseok berusaha membuka percakapan dikarenakan Taehyung hampir tak bicara sama sekali sejak keberangkatan mereka. Entahlah, suasana hati Hoseok begitu baik hari ini, jadi ia sedikit berbaik hati juga untuk membuka percakapan terlebih dahulu dan menanggalkan image serius nya barang sejenak.
"Di depan akan ada persimpangan, kita belok kanan. Eomma ku tinggal di kompleks setelah persimpangan itu"
"Baiklah aku mengerti"
Agar suasana lebih mencair, Hoseok memutuskan untuk memutar music di dalam mobil. Berbagai lagu hits terbaru yang menduduki tangga lagu diputar kala itu, membuat Taehyung yang tadinya harap-harap cemas kini mulai bisa mengendalikan diri.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat yang ditunjukkan Taehyung. Sepuluh menit berlalu, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Hoseok berhenti dengan mulus tepat di depan kediaman Taehyung.
"Turunlah untuk makan siang hyung. Eommaku memasak banyak hari ini"
"Apakah tak merepotkan?"
"Tentu saja tidak. Eomma ku sangat terbuka dengan siapapun. Disana juga ada pamanku dan dia sebaya dengan hyung"
"Baiklah kalau kau memaksa"
Kedua lelaki itupun bergegas keluar dari mobil. Sebagai tuan rumah, tentu Taehyung berjalan di depan memandu Hoseok yang datang sebagai tamu hari ini. Taehyung melepaskan sepatu yang ia pakai sebelum memasuki rumah, bgitupun dengan Hoseok. namun, belum sempat sepatu Hoseok terlepas dari kakinya, ponsel lelaki itu berdering, membuat Hoseok mau tak mau mengurungkan kegiatannya dan memilih untuk menjawab panggilan yang masuk.
"Tunggu sebentar. Ini panggilan dari Tuan NamJoon"
Hoseok sedikit menjauh dari Taehyung ketika mengangkat telephone dari tuannya. Raut wajahnya berubah ke mode serius seperti di hari biasanya, membuat Taehyung sedikit tak rela melihatnya. Ia menyukai Hoseok yang begitu ramah seperti hari ini. Setelah mengakhiri panggilannya, Hoseok kembali menuju Taehyung.
"Tae, kurasa aku mampir lain kali saja. Ada masalah di perusahaan dan aku harus kesana sekarang juga"
"Benarkah? Sayang sekali" nada Taehyung melemah
"Aku janji akan mampir lain waktu dan menyapa ibumu"
"Baiklah"
"Sampaikan salamku pada ibumu. Oke?"
"Oke. Hati-hati hyung!"
Tangan Hoseok melambai di udara guna menanggapi perkataan Taehyung. Tak lama berselang, Yoongi keluar dari dalam rumah, membuat Taehyung yang berada di ambang pintu sedikit terlonjak dibuatnya.
"Siapa Tae?" tanya Yoongi saat melihat seorang pemuda berpakaian rapi mulai memasuki mobil
"Ah, dia atasanku. Hyung itu mengantarku kemari. Aku ingin mengajaknya makan siang, tapi boss ku menelfon dan menyuruhnya ke kantor"
"Begitukah? Kalau begitu ayo masuk"
Taehyung mengagguk patuh dengan perkataan Yoongi. Tak lupa, sebelum memasuki rumah perempuan itu menutup pintunya agar tak banyak debu-debu yang masuk. Namun, Yoongi tak langsung menutup pintu rumah itu, melainkan memperhatikan sejenak mobil yang baru saja beranjak dari pekarangan rumahnya. 'Sepertinya tidak asing? Ah, mungkin perasaanku saja'
Seusai menutup pintu, Yoongi menggiring putra semata wayangnya itu menuju meja makan. Disana, Taehyung dapat melihat pamannya, Jimin, sudah duduk tenang sambil menyeruput kopi ditemani berbagai hidangan lezat yang tertata rapi di atas meja.
"Wooaaa eomma memasak ini semua hari ini?"
Pemuda itu takjub dengan berbagai hidangan yang disajikan oleh Yoongi. Semua makanan kesukaan Taehyung ada disana, membuat mata pemuda itu berbinar dibuatnya.
"Kita pesta makan hari ini"
"Eomma yang terbaik"
CUP
Tanpa aba-aba, pemuda itu mengecup pipi Yoongi cukup kuat, membuat perempuan yang masih cantik di usia tiga puluhan itu terkejut dibuatnya. Bahkan mata Jimin sampai melotot melihat perlakuan Taehyung.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Taehyung hanya menunjukkan cengiran kudanya pada sang eomma dan juga Jimin. Tak lupa, sebelum menyantap makanannya, Taehyung menarikkan kursi untuk Yoongi disebelahnya lalu mulai lah makan pemuda tersebut.
"Selamat makan" seru Taehyung riang
"Selamat makan…!" Jimin dan Yoongi tak mau kalah
.
.
~BLIND~
.
.
Setelah selesai dengan acara makan-makan, baik Jimin, Yoongi dan juga Taehyung memutuskan untuk menonton film bersama di ruang tengah. Kali ini Taehyung tak ingin melewatkan kesempatan untuk bermanja-manja dengan sang eomma. Ketika Yoongi tengan fokus menonton film dengan Jimin disampingnya, Taehyung tiba-tiba merebahkan kepalanya ke pangkuan Yoongi. Perempuan itu sempat terperanjat beberapa detik, begitupun dengan Jimin.
"Kau ini sudah besar masih saja manja" ledek Jimin
"Apa samchon iri?"
Bukan Taehyung namanya jika tak suka menggoda Jimin. Pemuda itu menjulurkan lidahnya kepada Jimin sebagai bentuk ejekan, membuat si korban melemparkan beberapa popcorn kea rah si pelaku.
"Merindukan eomma hmm?" Kali ini Yoongi menyamankan duduknya dan menyisir halus rambut sang putra
"Sangat"
"Apa menyenangkan kerja disana?" kini giliran Jimin yang bertanya
"Menyenangkan. Pemilik rumah itu memiliki putri yang cantik, dia seumuran denganku. Eomma dan samchon tau? Aku bertugas menemaninya kemanapun" Taehyung terkikik geli tatkala menceritakan bagaimana visual Jungkook sambil membayangkannya.
"Kau menyukainya hhm?" goda Yoongi
"Entahlah. Gadis itu begitu naif. Sayang sekali dia tak bisa melihat dunia ini"
"Dia buta?"
Yoongi terkejut dengan pernyataan Taehyung, begitupun dengan Jimin. Mereka berdua mulai tertarik dengan arah pembicaraan Taehyung yang tak hentinya membicarakan anak si pemilik rumah.
"Ya. Sayang sekali"
Ketiganya terdiam cukup lama setelah cerita Taehyung berakhir. Tak ada pembicaraan yang tercipta, mereka semua memilih fokus untuk menonton film sambil menikmati camilan yang disediakan Yoongi. Jika ada orang awam yang melihat, mungkin orang tersebut bisa salah paham dan mengira ketikanya adalah sebuah keluarga yang bahagia. Sungguh ironi yang kontras dengan kenyataan.
"Eomma!" Taehyung buka suara
"Hmm"
"Aku tak tau apakah aku sebaiknya menanyakan ini pada eomma. Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tanyakan saja" pandangan Yoongi masih tertuju pada layar televise
"Apa eomma tak ingin menikah lagi?"
Semuanya terdiam dengan pertanyaan Taehyung. Yoongi yang tadinya mengunyah keripik dengan renyah kini menelannya kasar. Sementara Jimin terdiam dengan pandangan yang sesekali melirik Yoongi.
"A-aku hanya bertanya. Eomma jangan salah paham. Aku tak akan memaksa jika eomma tak ingin. Aku bertanya seperti ini karena kurasa eomma membutuhkan seorang teman. Aku tak bisa mengunjungi eomma setiap hari dan itu membuatku khawatir"
"Entahlah Tae. Eomma tak pernah memikirkannya sama sekali" Yoongi menjawab lirih dengan senyum getir di sudut bibirnya
"Eomma mu hanya terlalu naif untuk mengakuinya. Wanita mana yang tak butuh pendamping. Ada banyak yang mendekati eomma mu sedari dulu"
Mata sipit Yoongi melirik tajam ke arah Jimin yang lancang menjawab begitu lebar. Bukannya takut, Jimin justru mengangkat sebelah alisnya, seolah bertanya pada si perempuan bahwa yang baru saja ia katakan memang benar adanya. Keduanya terlibat perang batin tanpa Taehyung sadari.
"Bukannya pernyataan itu lebih tepatnya untukmu Jimin-ssi?" balas Yoongi sengit
"Tentu tidak. Aku sedang mendekati seorang wanita saat ini, hanya saja dia belum mau membuka hatinya untukku"
"Sudahlah! Kenapa jadi eomma dan samchon yang bertengkar?" Taehyung bangkit dari pangkuan Yoongi
"Bertengkar? Tidak!"
Jimin dan Yoongi menjawab secara bersamaan tanpa diduga, membuat Taehyung yang melihatnya melemparkan senyuman setan menggoda.
"Kau jangan salah paham" sergah Yoongi
"Kenapa eomma sangat emosional? Aku tak berkomentar sedikitpun" jawab Taehyung polos
"Terserah"
Terlanjur kepalang kesal, Yoongi memilih untuk melanjutkan acara menonton film-nya. Jimin yang berada di sebelah perempuan itu hanya melirik sesekali sambil menahan tawa.'Astaga, kenapa dia imut sekali'
"Lanjutkan nonton film-nya. Aku akan ke kamar untuk tidur. Besok pagi aku harus kembali ke mansion"
Taehyung beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan kedua orang berumur yang memilih menonton film dalam diam.
"Jangan lupa cucimuka dan gososk gigimu Tae"
"Siap bunda ratu"
.
.
~BLIND~
.
.
Pagi-pagi sekali Taehyung sudah rapi dengan setelan kemeja kotak-kotaknya yang lengannya digulung hingga ke siku seperti biasa. Tak ingin membuat putranya kelaparan sebelum meninggalkan rumah, pagi-pagi sekali Yoongi sudah bangun untuk memasakkan nasi goreng kimchi untuk Taehyung.
"Sarapan sudah siap"
Mendengar instruksi dan sang ibu ratu, Taehyung yang tadinya berada di kamar pun bergegas keluar sambil menenteng tas dan sebuah buku di tangan kiri.
"Pagi eomma" sapanya ceria
"Pagi sayang. Ayo sarapan"
Taehyung menariksalah satu kursi dan meletakkan bawaannya di kursi sebelah. Ditemani Yoongi, sepasang ibu dan anak itu menikmati dengan tenang pagi ini.
"Eomma tak membangunkan Jimin samchon?" pemuda itu celingukan mencari pamannya
"Tidak. Semalam ia lembur dan baru tidur pukul tiga. Eomma tak tega membangunkannya"
Pemuda itu mengangguk paham dengan penjelasan Yoongi. Suasana begitu tenang diantara mereka berdua, membuat sebuah ide terlintas di fikiran Taehyung. Sebagai anak yang baik, ia tak ingin melewatkan moment kebersamaan dengan eommanya. Maka dari itu, sepanjang ibu dan anak itu sarapan, Taehyung tak hentinya menceritakan lelucon receh yang membuat Yoongi sesekali tertawa lepas dibuatnya.
"Oh ya eomma, boleh kubawa ini bersamaku?"
Taehyung menunjukkan salah satu koleksi buku milik Yoongi. Ya, ia memang sedang bingung akhir-akhir ini jika Jungkook sedang sekolah. Makai a berfikir tak ada salahnya jika membaca sebuah novel sambil menunggu nona mudanya minta dijemput.
"Hmm… Bawa saja. Lagi pula eomma sudah lama tamat membaca buku itu"
"Oke nice. Eomma yang terbaik" pemuda itu menunjukkan senyumnya yang paling tampan kepada Yoongi
"Tentu saja. Aku kan Min Yoongi"
Kedua kembali saling tertawa dengan pembicaraan yang mereka buat. Selesai dengan sarapan, Taehyung memilih untuk membantu Yoongi mencuci piring sebelum ia kembali ke Mansion Keluarga Kim.
Acara mencuci piring antara ibu dan anak itupun selesai lebih cepat dari yang diduga. Dengan sedikit berat hati, Taehyung pun berpamitan pada Yoongi untuk kembali ke tempatnya bekerja.
"Jaga dirimu baik-baik disana. Jangan nakal" pesan Yoongi
"Eomma juga jaga diri. Aku akan berkunjung setiap hari libur"
"Itu bagus"
Layaknya anak yang patuh dan taat, Taehyung hanya mengagguk dengan semua perkataan Yoongi. Tak lupa, pemuda itu juga memeluk eommanya sebelum meninggalkan rumah. Tangannya melambaik ke udara beberapa kali saat langkah kakinya mulai meninggalkan pekarangan rumah, membuat waktu berjalan begitu lambat dan langkah kaki semakin berat.
.
.
~BLIND~
.
.
Perjalanan cukup panjang ditempuh Taehyung hari ini. Matahari yang terik membuat keringatnya bercucuran sesekali saat harus berdesak-desakan di dalambus dengan penunpang lainnya. Hampir dua jam berjuang di dalambus karena kemacetan, akhirnya Taehyung tiba di halte dekat Mansion Keluarga Kim. Tak ingin membuang waktu, pemuda itu bergegas berjalan menuju tempatnya bekerja karena memang jaraknya lumayan dekat dengan halte.
Sesampainya di Mansion Keluarga Kim, Taehyung dapat melihat DongHo tengah siap siaga menjaga pintu gerbang. Tentu saja Taehyung tak melewatkan untuk menyapa salah satu penjaga tersebut.
"DongHo hyung"
"Tae-ah, kau sudah kembali? Apa liburanmu menyenangkan?"
"Tentu saja hyung. Eomma memasak begitu banyak saat ak dirumah"
"Apa kau membawa oleh-oleh untukku?" goda DongHo pada pemuda tampan tersebut
"Hehehe maafkan aku hyung. Aku hanya membawa ini"
Taehyung mengangkat novel milik Yoongi yang saat ini ia pegang. Melihat novel tersebut, DongHo hanya mengangkat alisnya bingung, tak mengerti kenapa Taehyung justru membawa novel ketimbang makanan
"Novel?"
"Ne. Aku sedang bosan akhir-akhir ini. Jadi kuputuskan untuk membawa novel"
"Tidak buruk"
"Aku masuk dulu hyung. Biasanya nona muda membutuhkan banyak bantuan di hari libur"
"Ya. Masuklah Tae"
Setelah berbasa-basi singkat dengan DongHo, Taehyung melangkahkan kakinya lebar memasuki pekarangan rumah yang luas itu. Terkadang Taehyung bertanya dalam hati? Apa gunanya membangun pekaranga seluas ini jika hanya akan membuat lelah ketika berjalan kaki.
Suasana mansion tak jauh dari hari biasanya walaupun ini masih hari libur. Beberapa pekerja masih tampak melakukan tugasnya entah itu membersihkan rumah maupun menyirami halaman. Taehyung memasuki rumah itu dengan begitu tenang. Ia sudah mulai terbiasa dengan keadaan rumah ini yang cukup ramai dengan lalu lalang manusia.
Baru saja memasuki ruang keluarga, Taehyung sudah dibuat menarik nafas dalam. Di sudut ruangan tampak JiHoon tengah menggoda Jungkook dengan mengambil bonekanya dan membawanya lari sesekali. 'Mereka sudah besar tapi kenapa masih suka bermain kejar-kejaran'
JiHoon yang memang dasarnya memiliki sifat tengil tak hentinya menjahili saudara kembarnya hingga Jungkook sesekali memekik memanggil sang eomma. Tak hanya mengambil boneka milik Jungkook, kali ini JiHoon memberanikan diri merebut tongkat milik Jungkook
"Yak bantet kembalikan tongkatku!" teriakan Jungkook menggelegar di seluruh penjuru ruangan
"Bantet begini tapi aku tampan. Tangkap aku jika bisa" ledek JiHoon semakin menjadi
"Kau meremehkanku hah? Awas saja jika kau tertangkap"
Jungkook mulai berlari ke sembarang arah untuk menangkap JiHoon. Taehyung yang melihat kejadian itu sedikit khawatir dibuatnya. Memang di ruangan tersebut minim benda pecah belah, namun bagaimana jika Jungkook tersandung dan jatuh? Apakah JiHoon tak memikirkan hal tersebut?
Namun kelihatannya kekhawatiran Taehyung tersebut tak terbukti. Walaupun tak dapat melihat, Jungkook berlari kesana kemari layaknya dapat melihat seperti biasa. Sepertinya gadis itu sudah hafal betul dengan tata letak rumah ini.
"Tuan muda hentikan. Kau bisa membuat nona muda terjatuh" Taehyung mencoba untuk menegur JiHoon
"Waah lihat siapa yang datang? Bodyguardmu ada di sini Kook" bukannyamenurut, JiHoon justru semakin menjadi
"Benarkan?" Jungkook berhenti sejenak
"Ya nona muda. Aku disini"
"Kau dengar bukan?"
Saudara kembar Jungkook itu kemabli berlari ke sembarang arah untuk melanjutkan aksinya. Mereka berdua syik kejar-kejaran, mengabaikan Taehyung yang sedari tadi hanya menjadi penonton disana. Hampir lima menit saudara kembar itu saling berkejaran, hingga akhirnya aksi tersebut baru berhenti setelah JiHoon tersandung kakinya sendiri dan berakhir menabrak Taehyung yang ada di dekatnya.
Keduanya jatuh bersamaan dengan tidak elit. Baik Taehyung maupun JiHoon juga sama-sama mengaduh karena pantat dan siku mereka mencium dinginnya marmer rumah mewah tersebut. Tas yang dibawa Taehyung pun tak luput terlempar ke segala arah, ebgitupun dengan novel yang dibawanya tadi.
"Kalian tak apa?"
Jungkook datang menghampiri kedua lelaki tersebut, memastikan apakah ada yang terluka atau tidak.
"Nona tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja" sahut Taehyung
"JiHoon?"
"Tak apa. Tak ada yang lecet"
JiHoon berdiri sambil mengusap sikunya yang sedikit sakit karena terbentur, namun saat lelaki tersebut hendak melangkah, kakinya tak sengaja menginjak sebuah kertas kecil yang ada di lantai
"Oh, ini apa?" tanyanya polos
Taehyung yang sedang memunguti barangnya yang jatuh ikut menghampiri JiHoon karena penasaran dengan kertas yang dipegang tuan mudanya itu.
"Bukankah ini bibi Baekhyun?" JiHoon kembali bersuara
Tepat saat JiHoon mengucapkan nama Baekhyun, saat itu pula SeokJin sedang lewat. Indra pendengarannya yang tajam membuatnya penasaran dan menghampiri kedua anaknya yang sedang mematung di ruang keluarga
"Siapa dia? Itu foto milik eomma ku. Kau lihat? Yang bermata sipit itu eomma ku"
"Tidak mungkin aku salah mengenali. Tapi bagaimana bisa…"
"Ada apa JiHoon-ah?"
SeokJin seolah datang tepat pada waktunya. Saat JiHoon mulai kebingungan dengan situasi yang terjadi. Ibu muda itu datang untuk menengahi
"Eomma, bukankah ini bibi Baekhyun?"
Tak mungkin salah mengenali, JiHoon yakin jika salah seorang perempuan yang ada di foto tersebut adalah bibinya. SeokJin mengambil foto tersebut dari tangan JiHoon dan mulai memperhatikannya. Tangan perempuan itu mulai bergetar tatkala berhasil mengenali siapa yang ada dalam foto tersebut.
"Benarkan eomma? Walaupun aku tak pernah melihat rupa bibi Baekhyun, tapi wajah perempuan itu sangat mirip dengan foto bibi yang dipajang di lorong"
"Darimana kau mendapatkan foto ini?" nada bicara SeokJin begitu serius
"Foto itu milik eommaku Nyonya" jawab Taehyung
"A-apa?"
.
.
.
TBC
A/N :
Annyeong readers deul
Wah, udah lama gak update ya aku? 3 bulan? Iya kayaknya hehehe.
Sebelumnya aku mau minta maaf dulu karena ff ini slow update banget, gak se cepet LIMITLESS dulu yang hampir tiap minggunya update. Harap maklum ya, kesibukan pas kuliah bener-bener dua kali lipat dibanding pas aku SMK dulu. Ya dulu gak iku organisasi, sabtu minggu bisa bebas mau nulis. Sekarang, sabtu minggu bisa libur dari kegiatan organisasi aja udah Alhamdulillah hehehe *duh jadi curhat*
Oke readers deul kayaknya aku curhat terlalu panjang. Happy reading ya. Semoga cerita ini masih nyambung dan gak keluar alur. Klo aneh dan banyak typo bertebaran kritik aja oke? Karena jujur chapter ini (dan chapter-chapter sebelumnya) belum melalui proses editing. Aku marathon hari ini buat ngetik. Takutnya klo nunggu editing keburu mood aku anjlok lagi
See you on next chap and don't forget to vote/comment ^_^
