CHAPTER 17

THE TRUTH UNTOLD

.

.

.

"Ada apa JiHoon-ah?"

SeokJin seolah datang tepat pada waktunya. Saat JiHoon mulai kebingungan dengan situasi yang terjadi. Ibu muda itu datang untuk menengahi

"Eomma, bukankah ini bibi Baekhyun?"

Tak mungkin salah mengenali, JiHoon yakin jika salah seorang perempuan yang ada di foto tersebut adalah bibinya. SeokJin mengambil foto tersebut dari tangan JiHoon dan mulai memperhatikannya. Tangan perempuan itu mulai bergetar tatkala berhasil mengenali siapa yang ada dalam foto tersebut.

"Benarkan eomma? Walaupun aku tak pernah melihat rupa bibi Baekhyun, tapi wajah perempuan itu sangat mirip dengan foto bibi yang dipajang di lorong"

"Darimana kau mendapatkan foto ini?" nada bicara SeokJin begitu serius

"Foto itu milik eommaku Nyonya" jawab Taehyung

"A-apa?"

.

.

BLIND

.

.

Mendengar apa yang dikatakan oleh Taehyung, nyawa SeokJin seakan terpisah dari raganya. Tubuh ibu dua anak itu lemas, membuatnya kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terjatuh. Untung saja JiHoon dengan sigap menangkap sang sibu sebelum perempuan itu benar-benar menyentuh lantai. Dengan posisi berjongkok, JiHoon mengusap bahu SeokJin, mencoba untuk menyadarkannya karena tatapan mata SeokJin terlihat kosong

"Eomma.."

"Apa nyonya baik-baik saja?" Taehyung menimpali

Jungkook yang tidak tau apa-apa menjadi bingung sendiri. Gadis itu meraba-raba guna menemukan keberadaan tiga orang yang bersamanya tadi. Taehyung yang menyadari Jungkook keberadaan Jungkook langsung mengulurkan tangannya untuk meraih tangan gadis itu. Dengan hati-hati, Jungkook mengikuti tarikan tangan Taehyung dan ikut berjongkok.

"Apa yang terjadi dengan eomma?" nada suara Jungkook terdengar khawatir

"Aku… A-Aku tidak apa anak-anak. Hanya sedikit pusing"

Seulas senyum palsu SeokJin sunggingkan begitu kesadarannya kembali. Tidak mungkin SeokJin menjelaskan kepada anak-anak yang tidak tau menau mengenai siapa yang ada pada foto tersebut. Hari ini, biarlah menjadi rahasia antara dia dengan sang pencipta.

Tak ingin membuat kedua buah hatinya semakin khawatir, SeokJin berusaha sekuat tenaga bangkit dari posisi. Sebelah tangannya ia gunakan untuk berpegangan erat pada bahu JiHoon, sementara sebelah tangannya lagi tak sadar masih menggenggam foto milik Taehyung. JiHoon yang menyadari pergerakan ibunya pun dengan sigap membantunya berdiri.

"Ada apa ini?"

Ke-empat orang yang sedang berkumpul di ruang tamu dengan refleks menoleh saat mendengar suara yang familiar itu. Siapa lagi kalau bukan Pak Jung. Rupanya sekretaris keluarga itu baru kembali dari aktivitasnya mengurus kantor di pagi hari bersama NamJoon.

"Eomma baru saja terjatuh Pak Jung" entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Jungkook

"Benarkah itu nyonya? Apakah anda terluka? Perlukah saya memanggilkan dokter keluarga?"

Sebagai orang yang telah tinggal lama bersama keluarga Kim, tentu seorang Jung Hoseok mengenal betul seluk beluk keluarga ini. SeokJin merupakan salah satu orang yang paling ia hormati setelah NamJoon di keluarga ini. Bagaimana pun juga, selama dua puluh tahun ia tinggal bersama keluarga Kim, SeokJin sudah seperti kakak baginya dengan segala kelembutan yang dimiliki. Melihat istri dari majikan yang begitu ia hormati terlihat sakit, tentu wajar bagi Hoseok untuk ikut mengkhawatirkanyya.

"Tidak. Buatkah saja aku teh dan antarkan ke kamar"

"Baiklah. Aku akan mengantarkannya segera"

Tak berselang lama, Sekretaris Jung pergi menuju dapur untuk membuatkan teh SeokJin. Sementara itu, JiHoon dengan dibantu Taehyung memapah SeokJin menuju kamarnya. JungKook yang tidak tahu apa-apa hanya berdiam di tempat. JiHoon telah memberinya instruksi untuk menunggu di ruang tamu saja, membuat gadis berpipi chubby itu merengut kesal.

Setiabanya di kamar, baik Taehyung dan JiHoon membaringkan SeokJin dengan hati-hati. Sedikit senyum tulus terulas di bibir perempuan yang masih awet muda itu. Ah.. betapa bahagianya dikelilingi anak muda yang begi manis seperti mereka.

"Kalian kembalilah, kasihan Jungkook menunggu di bawah. Eomma baik-baik saja"

"Benarkah tak apa kami meninggalkan eomma sendir?" JiHoon masih saja khawatir

"Pak Jung akan segera kemari. Dan hey… Sejak kapan kau mengkhawatirkan eomma hah?" SeokJin melontarkan candaannya untuk mengurangi kekhawatiran sang anak.

"Semenjak aku menjadi anak eomma"

"Pembual"

Ibu dan anak itu tertawa dengan candaan yang mereka lontarkan. Taehyung yang melihat kedekatan keduanya tersenyum sendiri tanpa disadari. Ia jadi merindukan ibunya tanpa sadar, padahal masih belum lama semenjak pertemuan mereka. Biasanya Yoongi akan mengomel panjang lebar bila ia merajuk seperti JiHoon karena menurut ibunya itu sangat menjijikkan.

"Ayo keluar"

Lamunan Taehyung terbuyarkan mendengar suara JiHoon. Tanpa berkata apapun, bodyguard yang masih muda itu mengikuti tuan mudanya dari belakang. Ketika baru saja melewati pintu, keduanya berpapasan dengan Sekretaris Jung yang membawa nampan berisi secangkir teh yang tampak mengepul. JiHoon berlalu begitu saja, sementara Taehyung sempat berhenti sejenak karena teringat dengan sesuatu.

"Ah.. Fotoku!"

Tangan Hoseok yang sudah memegang gagang pintu terhenti mendengat perkataan Taehyung. Laki-laki itu menoleh sedikit lantas bertanya memastikan.

"Ada apa Tae? Foto apa?"

"Ah. Bukan apa-apa hyung. Lupakan"

Cengiran kuda Taehyung menutup kalimatnya, membuat alis Hoseok sedikit terangkat. Tak mau ambil pusing, Hoseok memilih untuk memutar gagang pintu dan masuk ke kamar SeokJin.

"Ini teh untuk Nyonya" Hoseok menaruhnya di meja

"Terimakasih Pak Jung"

"Sama-sama. Apa nyonya masih merasa pusing?"

"Kurasa aku hanya kelelahan"

"Beristirahatlah kalau begitu"

SeokJin hanya menanggapi perkataan Hoseok dengan senyuman. Dengan sisa tenaga, SeokJin berusaha mendudukkan dirinya. Tangannya menggapai teh yang dibawakan Hoseok tadi lantas menyeduhnya pelan.

"Jangan beritau NamJoon tentang kejadian ini" katanya dengan posisi masih memegang cangkir kopi

"Tapi Tuan NamJoon harus mengetahui segala yang terjadi di rumah ini"

"Ayolah Hoseok. Sampai kapan kau akan jadi orang yang kaku dan bagaikan CCTV di rumah ini"

"Dia akan marah jika tau aku menyembunyikan sesuatu"

"NamJoon akan marah padaku. Tak perlu khawatir"

"Itu justru membuatku semakin khawatir"

Bernego dengan Jung Hoseok hampir sama bernego dengan lintah darat. Hidupnya terlalu lurus dengan segala perintah NamJoon. Laki-laki itu begitu kaku bahkan jika diajak berkompromi dalam kebaikan sekalipun. Dalam kamusnya "Perintah NamJoon adalah yang utama". Menyebalkan.

"Ah.. Sudah berapa lama aku tidak membuatkanmu Galbitang kesukaanmu?"

Cangkir yang semula berada di tangan SeokJin ia letakkan kembali di atas nakas. Kemudian dengan wajahnya yang tenang SeokJin mengangkat sebelah alisnya kea rah Hoseok. Masih mencoba untuk bernegosiasi.

"Kurasa sudah 6 tahun lebih" sebisa mungkin Hoseok membuat wajahnya tertekuk

"Satu mangkuk Galbitang untuk Jung Hoseok yang mau merahasiakan sesuatu"

"Oo… bagaimana ini. Kurasa aku tak dapat menolaknya" jawab Hoseok dengan sedikit di buat-buat

Masakan SeokJin adalah yang terbaik di rumah ini, bagaimana Hoseok akan melewatkannya setelah sekian lama terlebih lagi hanya dia satu-satunya bukan anggota keluarga yang diijinkan oleh NamJoon memasak makanan SeokJin.

"Baiklah. Aku ingin istirahat. Kau bisa kembali bekerja Jung" titah SeokJin sambil mengibaskan tangannya di udara

"Noona, kau harus sadar bahwa Tuan NamJoon begitu mencintaimu. Jangan rahasiakan apapun darinya"

"Arra… Dia selalu mengatakan itu hampir setiap malam. Pergilah"

"Aku akan kembali bekerja"

Hoseok membungkuk sembelum meninggalkan kamar tersebut. Namun, baru Sembilan puluh derajat tubuhnya berputar, mata menangkap sesuatu yang menarik perhatian. Sebuah kertas tergeletak begitu saja di atas kasur SeokJin. Mata Hoseok memicing seketika untuk memastikan benda tersebut.

Sadar akan arah tatapan mata Hoseok, SeokJin menyambar kertas tersebut dengan cepat. Raut wajahnya berubah menjadi sedikit tegang.

"Bukankah itu…" kata laki-laki bermarga Jung itu dengan sedikit ragu

"Aku tadi melihat-lihat album foto si kembar. Tampaknya ini terjatuh"

"Ah.. begitu.."

Walaupun masih sedikit ada rasa janggal dalam hatinya, Hoseok mencoba mengabaikannya. Ia berharap matanya salah mengenali seseorang yang ada dalam foto tersebut. Satu dari tiga orang yang berjajar di foto itu begitu familiar baginya. Entahlah, ia tak mau ambil pusing.

Tak ingin membuang waktu, Hoseok pun melanjutkan langkahnya. Begitu pada ambang pintu, lagi-lagi langkah kakinya terhenti. Kali ini oleh suara SeokJin sendiri.

"Hoseok-ah. Bukankah kau membawahi semua pekerja di rumah ini?"

"Iya. Ada yang bias ku bantu?"

"Bolehkah aku meminta alamat Taehyung?"

Suasanya di ruangan itu sempat terasa hening seketika. Hoseok tampaknya berfikir begitu lama untuk mengiyakan permintaan SeokJin.

"Aku ingin mengirim hadiah ke rumah Taehyung. Anak itu begitu manis. Dia sudah membantuku hari ini"

.

.

BLIND

.

.

Meskipun hari sudah mulai siang, namun tampaknya cuaca hari ini tak secerah biasanya. Langit terlihat mendung meski tak meneteskan airnya. Sesekali gumpalan awan hitam melintas pertanda mungking tak lama lagi akan turun hujan.

Menikmati udara yang sedikit lebih dingin dari biasanya, Jungkook memilih duduk di pinggir taman belakang rumah. Tentu saja ditemani Taehyung. Hari ini dia tidak ada jadwal di tempat les piano, maka dari itu ia ingin berlatih vocal.

Dengan sebuah gitar akustik di pangkuannya, Taehyung menjajal beberapa kunci nada guna menyetel gitarnya. Jungkook memaksa untuk ditemani latihan vocal. Padahal gadis itu tau betul sekarang sedang jam istirahat. Sesekali lelaki itu memetik gitarnya sambil menguap, membuat Jungkook yang mendengarnya terbahak sesekali.

"Apa lagu yang sebaiknya ku bawakan?" kali ini Jungkook bertanya dengan antusias pada Taehyung

"Nona Kookie, kau akan tampil dengan iringan piano. Kenapa kau berlatih vocal dengan diiringi gitar? Tentu ini berbeda. Ck"

PLAK

"AAWW.. SAKIT" Jerit Taehyung

"Kau ini laki-laki tapi kenapa cerewet sekali sih. Lakukan saja"

"Baiklah. Nona ingin lagu apa? Biar aku sesuaikan dengan gitarku"

"Aku bingung harus memilih lagu apa. Jika aku memilih lagu yang biasa saja tentu kurang menyenangkan. Tapi jika dengan nada terlalu tinggi itu akan mempengaruhi konsentrasiku"

"Bukankah ini akan menjadi sebuah pertunjukan?"

"Hmm. Begitulah"

"Bagaimana dengan Playing with Fire. Itu akan terdengar spektakuler kurasa"

"Itu sudah kuno. Orang-orang sekarang telah sampai pada era Kill This Love dan kau masih pada era itu? Ck"

"Nona mengatakan jika aku cerewet, tapi sebenarnya nona sendiri lah yang cerewet" Dengus Taehyung

"Apa kau bilang?"

Nada bicara Jungkook sedikit meninggi ketika mendengar perkataan Taehyung. Ugh, kenapa dia bisa memiliki bodyguard yang kurang ajar seperti ini. Jungkook bersumpah akan memecat Pak Jung jika sampai mempekerjakan orang yang memiliki sifat seperti Taehyung lagi.

"Kalian sedang bermain gitar?"

"Ooh. Paman MyungSoo"

Jungkook begitu gembira mendengar kedatangan MyungSoo. Seolah seperti sensor, otomatis tubuh Jungkook langsung berdiri. Gadis itu memasang senyum paling lebar yang pernah Taehyung lihat selamat ini.

"Astaga. Aku mendapat pertolongan"

Dengan gerakan sigap Jungkook meraba-raba, mencari tangan MyungSoo. Setelah berhasil mengaet tangan salah satu bodyguard lawas tersebut dengan senang hati Jungkook mengajaknya bergabung berlatih vocal.

"Kami sedang berlatih vocal untuk pertunjukkanku. Apakah samchon memiliki saran lagu?"

"Kukira kalian akan belajar bermain gitar. Kau akan mmbawakannya di pertunjukkan mu nona?"

"Tentu saja"

MyungSoo terdiam sejenak sambil menopang dagu. Sesekali alisnya tertaut, tampak berfikir keras lagu apa yang sekiranya cocok untuk nona mudanya yang ceria ini.

"Aku sudah menyarankan untuk membawakan Playing with Fire, tapi nona Kookie menolak"

"Permainan piano membutuhkan sebuah lagu yang dapat membawa hanyut siapun yang mendengarnya"

Ketiga manusia tersebut berfikir cukup lama. Suasana yang semakin dingin menjelang sore membuat mereka sesekali menghela nafas berat. Bukan perkara mudah memang, terlebih lagi Jungkook akan membawakannya dalam waktu dekat. Tak banyak waktu yang dapat digunakan untu latihan.

"Bagaimana dengan "We All Lie"? Itu sedang popular akhir-akhir ini karena dramanya begitu bagus"

"Aku setuju. Mari coba lagu itu"

Tak ingin membuang waktu lebih lama, Jungkook mulai mencoba melatih vokalnya pada beberapa bagian yang masih dirasa sulit olehnya. Sementara Taehyung, laki-laki itu menggaruk rambutnya gatal karena tak tahu kunci nada lagu tersebut.

"Aku tak bias memainkan lagu tersebut" katanya frustasi

"Biar paman yang mainkan gitarnya"

Dengan senang hati Taehyung menyerahkan gitar kesayangannya ke pangkuan MyungSoo. Lelaki yang masih gagah di usianya itu mulai menyetel gitar sebelum dimainkan. Jungkook masih sibuk untuk menyesuaikan lagunya di beberapa bagian, membuat Taehyung yang melihatnya merasa gemas karena Jungkook tampak begitu polos.

Taehyung bukanlah laki-laki yang jahat. Walaupun ia sering dikata menyebalkan oleh Jungkook, namun lelaki itu tak hentinya memberikan saran kepada Jungkook untuk berlatih vocal. Hey, jangan kira Taehyung tak mengerti soal vocal. Ingat bahwa dia mantan pengamen jalanan. Ingat baik-baik. Mantan.

Hampir satu jam lamanya MyungSoo dan Taehyung menemani Jungkook berlatih vocal. Gadis yang tak dapat melihat indahnya dunia itu tampak begitu riang saat berlatih. Sungguh berbanding terbalik dengan Jungkook yang sebelumnya. Banyak murung dan irit bicara. Sekarang, bahkan gadis itu sudah tak sungkan untuk menyuarakan tawanya, padahal ia tak dapat mencapai nada tinggi pada lagunya.

Ketika sedang asyik berlatih, tiba-tiba seorang pelayan berlari terburu-buru menghampiri ketiga orang yang masih asyik di pinggiran taman itu. Pelayan itu berpesan bahwa saat ini SeokJin tengah mencari Jungkook untuk diajak menyiapkan makan malam. Gadis itu mendesah.

"Padahal aku sedang begitu bersemangat" katanya sambil mempoutkan bibir cherry-nya

"Pergilah nona. Nyonya mencari anda. Kita bisa lanjutkan latihan ini lain hari" saran MyungSoo bijak.

Sedikit tak rela namun tak punya pilihan. Akhirnya Jungkook berdiri dan masuk ke dalam rumah diikuti dengan pelayan yang menjemputnya tapi. Namun sebelum pergi, Jungkook melemparkan sesuatu pada Taehyung.

"Itu gelangmu kemarin. Aku sudah menemukan gelangku. Gomawo oppa"

Jungkook berkata demikian sambil menunjukkan sebuah gelang lain yang melingkar di tangannya. Taehyung tampak sedikit terkejut melihat gelang yang melingkar di tangan Jungkook. Gelang itu… sama persis dengan yang baru saja dilemparkan oleh Jungkook. Apakah ini kebetulan?

"Sayang sekali bukan? Gadis secantik dan seriang dirinya tak dapat melihat dunia ini ketika sedang tumbuh mekar" kata MyungSoo sambil mengulas senyum

"Apa maksud paman?"

"Tidakkah kau merasakan perubahan nona muda Tae?"

Menikmati cuaca mendung, MyungSoo merebahkan dirinya meskipun ubin saat itu terasa begitu dingin saat bersentuhan dengan kulit. Melihat posisi yang sepertinya nyaman teersebut, Taehyung ikut merebahkan diri di samping bodyguard senior itu. Keduanya tampak menadangi langit yang sebentar lagi mungkin akan meneteskan airnya karena gemuruh telah terdengar sedari tadi.

"Tentu aku merasakannya paman. Pertama kali aku bertemu dengan nona muda dia begitu pendiam dan pemarah. Apakah dia dulu tidak seperti itu?" rasa penasaran Taehyung muncul kali ini

"Nona muda adalah sosok yang periang ketika dia masih kecil. Dia adalah kesayangan tuan NamJoon. Tuan akan membawanya pergi bahkan saat ke kantor sekalipun. Apabila tuan pergi ke luar kota, maka nona muda akan murung selama tuan tidak ada"

Taehyung sedikit banyak berfikir. Dari apa yang diceritakan MyungSoo, ayah dan anak itu tampak begitu dekat. Namun apa yang ia jumpai selama ini tidak begitu adanya.

"Selama aku disini aku belum pernah melihat nona muda terlihat dengan tuan"

"Hm… Bahkan hal seperti itu sudah lama sekali terjadi. Aku saja sudah lupa kkk~" MyungSoo sedikit tertawa untuk mencairkan suasana

"Apakah terjadi sesuatu dengan mereka paman?"

"Ya.. Sesuatu terjadi. Sebuah kecelakaan"

"Apa?"

"Apa kau tau Taehyung-ah? Nona muda tidak buta sejak lahir. Dia mengalami kebutaan semenjak umur 4 tahun"

Mendengar penuturan dari MyungSoo, Taehyung terdiam. Jadi itu penyebab kenapa hubungan ayah dan anak itu tidak akur? Karena sebuah kecelakaan? Lalu kenapa. Apakah tuan NamJoon merasa malu untuk mengakui keadaan Jungkook. Taehyung ingat benar selama ia tinggal bersama keluarga Kim, tuannya selalu menghindar ketika ditanya mengenai putrinya. Namun tidak dengan putranya.

.

.

BLIND

.

.

Hari berganti begitu cepat. Malam saat ini telah tiba dengan sejuta udara dinginnya. Mungkin sebentar lagi musim gugur akan tiba. Seperti hari-hari biasanya Keluarga Kim akan selalu menyempatkan untuk makan malam bersama setiap hari. Itu adalah peraturan yang dibuat oleh NamJoon. Bagaimana pun juga berkumpul dengan keluarga itu adalah hal terpenting.

Namun dapat diketahui sendiri bahwa makan malam ala Keluarga Kim tidak seperti yang didambakan banyak orang. Apabila banyak orang bias makan malam adalah suasana yang paling menyenangkan karena dapat saling bercengkrama satu sama lain tentu itu adalah hal yang salah besar.

Makan malam di Keluarga Kim bagaikan makan malam yang mencekam. Kaku, hening, dan begitu membosankan bagi semua orang. Kecuali NamJoon.

"Aku sudah selesai"

Jungkook membalik sendok serta garpu yang baru saja ia pakai. Tak lupa gadis itu mengusap bibirnya menggunakan tisu agar tak ada sisa makanan disana. Tak ada orang yang menyahut dengan apa yang baru saja Jungkook katakan.

"Appa…" lirih Jungkook memberanikan diri untuk memanggil ayahnya

"Tidak baik berbicara ketika makan. Dimana sopan santunmu" tegur NamJoon

"Aku ingin membicarakan sesuatu. Aku tau appa akan langsung ke ruang kerja ketika selesai makan"

"Kim Jungkook" peringat NamJoon kedua kalinya

"Dia tak mengganggumu makan. Tak ada salahnya mendengar apa yang ingin ia katakan"

Kali ini SeokJin yang angkat bicara memberikan pembelaan. Senyum tipis berhasil tersungging di bibir Jungkook

"Akan ada pertujukan piano yang akan diselenggarakan oleh akademiku minggu depan. Aku harap kalian semua bisa datang"

Jungkook mencoba menahan kegembiraannya karena berani untu mengatakn hal tersebut di depan keluarganya. Terutama sang ayah.

"Ada rapat pemegang saham di perusahaan hari itu. Mungkin akan sangat sulit untuk datang" NamJoon menyahuti setelah selesai dengan makan malamnya

"Ah.. kenapa rasanya begitu menyebalkan. Aku pergi dulu" kali ini tanpa basa-basi JiHoon yang beranjak.

"Tak bisakah ayah menyempatkan datang? 10 menit saja. Ayah tak pernah menonton pertunjukanku"

Raut wajah sedih tak dapat Jungkook sembunyikan lagi. Ia hanya ingin ayahnya melihat pertunjukukannya dan memberikan tepuk tangan untuknya. Tak lebih.

Menyadari kesedihan sang putri, SeokJin mencoba untuk menenangkan. Sesekali mata SeokJin menatap tajam ke arah NamJoon walaupun dihiraukan.

"Aku tidak akan menjanjikan apapun"

"Baiklah"

Tanpa banyak berkata, gadis itu memilih untu beranjak pergi menuju kamarnya. Sebagai ibu tentu saja SeokJin merasa iba dengan putrinya yang cantik itu. Berganti menatap NamJoon, perempuan itu tau dari raut wajah suaminya sedang banyak masalah sehingga dia tidak begitu berminat dengan pembicaraan Jungkook. Namun tetap saja ini salah.

"Yeobo.." SeokJin mencoba membujuk

"Ayolah sayang. Kau tau aku bukan type orang yang akan merubah perkataan"

"Tapi kau melukai perasaannya"

"Maaf"

"Datanglah minggu depan kalau kau sempat"

SeokJin beranjak dari tempatnya duduk menuju arah dapur. Ia tau tak bias berharap banyak dari NamJoon, namun tak ada salahnya untuk mencoba membujuk suaminya itu. Selesainya dari dapur perempuan itu kembali ke meja makan dengan secangkir kopi hitam kesukaan NamJoon. Diletakkannya cangkir yang terisi penuh dengan kopi itu ke hadapan suaminya.

"Terimakasi" ucap NamJoon singkat

"Apa ini karena kejadian waktu itu?"

"Jangan bahas kejadian itu. Aku tidak suka"

"Tak ada yang perlu disalahkan dari kejadian itu. Aku harap kau mengerti. Sungguh aku merindukan kau yang begitu menyayangi Jungkook seperti dulu"

Kali ini SeokJin memeluk NamJoon dari belakang. NamJoon hanya diam saja dengan pelukan sang istri. Keduanya terdiam, bahkan SeokJin memejamkan matanya di bahu NamJoon, seolah-olah berkomunikasi melalui fikiran. Tanpa sebuah kata-kata yang mungkin dapat menyulut api pertengkaran.

.

.

.

TBC

A/N :

Annyeong readers-deul.

Waah sudah berapa lama aku gak nulis FF ini? 6 bulan? Atau lebih? Wkwkw maafin ya. Bener-bener susah untuk meluangkan waktu menulis. Aku takut klo nulisnya dicicil justru feelnya gak dapet.

Adakah yang masih ingat dengan cerita ini? Mungkin tidak :D

Oke gpp.

Mau curhat sedikit aja sih. Aku awalnya sudah kayak pesimis banget buat lanjut FF ini. Tapi aku pernah bilang kalau aku bakal menuntaskan FF ini walaupun mungkin dalam jangka waktu yang lama. Jadi aku harap readers-deul bersabar menunggu update hehehe.

Aku udah masuk semester 5 kalau boleh curhat dikit (lagi) hehe, gak kerasa ya. Jadi bisa bayangkan betapa mulai sibuknya aku. Bahkan aku sudah mulai sibuk berandai-andai untuk tugas akhirku nanti. Beneran deh, ketika udah memasuki usia 20-an itu banyak banget hal-hal yang memenuhi fikiran dan berlomba minta diselesaikan. Ya ampun..

Doakan kuliahku lancar readers-deul jadi aku juga bisa sering-sering update. Lancar juga deh buat aktivitas readers-deul

Oh ya FF ini belum melalui proses editing, jadi mungkin banyak typo bertebaran. Akan disegerakan ketika sempat. Aku udah terlalu bersemangat buat ngepost wkwkwk

See you on next chat.

Jangan lupa like dan komennya _