CHAPTER 19

FATHER

.

.

.

Hari ini adalah Hari Minggu, hari dimana NamJoon tidak akan pergi ke kantor untuk mengurusi setumpuk dokumen yang membutuhkan goresan tanda tangannya. Sebagai seorang kepala keluarga sekaligus ayah yang baik, tentu NamJoon akan meluangkan satu hari tersebut untuk anak dan istrinya. Hari ini laki-laki itu berencana mengajak sang anak untuk membeli mainan baru. Raut senang begitu tergambar di wajah putri kecilnya yang sibuk berceloteh di kursi samping kemudinya.

"Kau ingin beli mainan apa hari ini sayang?" Tanya NamJoon diiringi senyum manisnya pada sang putri

"Aku ingin beli tongkat sihir appa" putri kecil itu mengucapkannya dengan penuh semangat

"Untuk apa kau beli tongkat sihir? Kau ingin menjadi seperti Harry Potter?"

"Tidak appa. Aku ingin menyulap JiHoon menjadi kodok karna dia selalu menggangguku"

Tak pelak perkataan putrinya itu sukses membuat NamJoon terbahak. Kalau difikir-fikir anaknya ini memang sangat imajinatif walau usianya baru menginjak 4 tahun. Sepertinya sifat tersebut menurun dari SeokJin yang pada dasarnya memang banyak bicara. Aigoo, buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya.

"Nanti kita belikan mainan untuk JiHoon juga ya appa?"

"Tentu Jungkook. Kita belikan dia mainan terbaru untuknya agar cepat sembuh"

Ya, hari ini memang sebenarnya NamJoon ingin mengajak SeokJin dan JiHoon ikut serta. Namun karena JiHoon sedang demam tinggi maka berakhirlah ia hanya mengajak JungKook kecil seorang. Sudah jauh hari ia menjanjikan akan mengajak anaknya ke took mainan, tentu ia tak akan mengingkarinya.

Setelah lima belas menit membelah kemacetan Kota Seoul, tibaha NamJoon dan Jungkook di sebuah toko mainan yang memang menjadi langganan mereka. NamJoon menuntun tangan mungil Jungkook memasuki toko mainan tersebut. Mata JungKook tampak berbinar memandang mainan yang begitu tersusun rapi di setiap rak yang ada. Astaga dia ingin memiliki semuanya.

"Nona, bisa tunjukkan dimana mainan tongkat sihir?" Tanya NamJoon pada salah satu pelayan yang kebetulan sedang berjaga.

Pelayan itu menunjukkan tempat dimana NamJoon dan Jungkook dapat memilih aneka bentuk dan ukuran tongkat sihir. Ada yang berbentuk kecil dengan bintang di ujungnya seperti milik Nirmala dalam dongeng, bahkan ada juga yang ukurannya melebihi tinggi badan Jungkook.

"Kau mau yang mana sayang?"

"Aku mau yang itu!"

Jungkook menunjuk sebuah tongkat berbentuk segi enam yang dapat menyala dengan isian batrei. Dengan senang hati NamJoon mengambilkan mainan tersebut dari ketinggian rak yang tak dapat dijangkau putrinya.

"Cha… Ini untuk princess appa" laki-laki itu berjongkok dan memberikan tongkat sihir itu pada JungKook

"Gomawo appa"

Sebuah acungan jempol teracung untuk NamJoon saat ini. Uhg, betapa senangnya dia memiliki putri kecil yang manis seperti JungKook.

"Sekarang JungKook ingin belikan apa untuk JiHoonie?" Tanya NamJoon

Jungkook tampak menimang apa yang sebaiknya ia berikan untuk saudara kembarnya yang begitu menyebalkan itu. Seperti sedang berfikir serius, tangan mungilnya berada di dagu serta satu kakinya yang mengenakan sepatu putih saat itu mengetuk-ngetuk lantai. NamJoon hanya tersenyum geli melihat kelakuan putrinya itu. Beberapa detik setelahnya jari telunjuk JungKook mengacung di udara, persis seperti orang yang menemukan ide brilliant.

"Bagaimana kalau kita belikan JiHoon mo-"

BEEP BEEP-BEEP BEEP

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, ponsel NamJoon berdering nyaring menginterupsi. Wajah ayu JungKook yang semula cerah kini tertekuk kesal, terlebih lagi ayahnya langsung merogoh saku celana dan rautnya tampak begitu serius.

"Sebentar sayang, appa angkat telephon dulu" NamJoon meminta ijin putrinya

"Tapi appa, hari ini appa janji tidak akan-"

"Iya sayang, appa akan menemani mu. Tapi ini telfon yang sangat penting. Tunggu disini dan kita akan ambil mainan untuk JiHoon"

"Appa-"

Tanpa menghiraukan protes JungKook, laki-laki itu melangkah menjauh untuk menerima telfon. JungKook mempoutkan bibirnya karena kesal dengan sang ayah. Awalnya dia hanya diam saja melihat-lihat mainan di sekitarnya, namun karena bosan menunggu ayahnya kembali ia pun berinisiatif untuk mencari mainan untuk JiHoon. Ia akan mengambil beberapa sehingga ketika ayahnya kembali mereka tinggal membayar saja.

Beberapa rak mainan telah ia kelilingi, tapi tak satupun yang menarik perhatian dan dirasa cocok untu saudara kembarnya. Hingga akhirnya pilihan JungKook berhenti pad arak yang memuat berbagai macam gundam.

"Sepertinya JiHoon tak akan masalah jika ku pilihkan gundam" monolog JungKook

Mata gadis itu berputar melihat setiap baris gundam yang tersusun. Berbagai bentuk gundam ada disana dan warnanya pun juga macam-macam. Setelah menimang mana yang cocok, akhirnya pilihan JungKook jatuh pada sebuah gundam berwarna putih yang tersusun di bari ke lima dari bawah. Gadis itu mencoba menggapai mainan tersebut namun tak sampai karna letaknya yang melebihi tinggi dirinya. Tak habis akal, ia pun mencari cara bagaimana agar ia dapat mengambil mainan tersebut. JungKook mencoba mencari pelayan toko, namun tidak ada. Tapi mata nya yang bulat itu justru menangkap sebuah kursi. 'Naik kursi itu tak masalah kan?' batinnya. Dengan sebelah tangan yang memegang tongkat sihir, ia menyeretk kursi itu mendekat ke posisinya. Setelah dirasa pas, tanpa takut gadis kecil itu memanjat kursi dan berusaha mengambil gundam incarannya.

Di lain sisi, seorang anak laki-laki yang juga tengah mencari gundam tampak terusik mendengar suara kursi yang di seret. Begitu ia menoleh, ternyata seorang gadis yang lebih kecil darinya tengah menaiki kursi dan berusaha mendapatkan sebuah gundam.

"Ck, nekad sekali. Kalau terjatuh pasti akan menangis"

Anak laki-laki itu berusaha acuh dengan gadis yang baru dilihatnya dan kembali memilih-milih gundam. Namun entah kenapa instingnya membuat anak laki-laki itu resah dan kembali menoleh pada gadis kecil yang dilihatnya tadi. Kini tak hanya saja berdiri di atas kursi, gadis itu tampak berjinjit untuk menjangkau incarannya. Merasa sesuatu akan terjadi, anak laki-laki itu melangkah mendekat ke arah si gadis kecil berada.

BUGH

"AAWWW… APPA"

Baru lima langkah, gadis itu sudah terjatuh. Dengan langkah terburu si anak lelaki pun mendekati gadis itu. Gadis bersepatu putih itu menangis kencang memanggil ayahnya yang entah dimana. Si anak lelaki bingung harus melakukan apa. Saat menatap sekeliling beberapa pengunjung hanya melihat penasaran saja tanpa berniat menghampiri untuk membantu.

"Hey..! Jangan menangis"

Suara anak laki-laki itu sedikit pelan, mencoba menenangkan si gadis kecil agar tidak menjadi pusat perhatian. Bukannya berhenti menangis, gadis itu justru semakin bersemangat memanggil ayahnya dalam kondisi menangis.

Tak tau harus melakukan apa lagi, anak laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk membant si gadis berdiri. Tanpa disangka gadis itu menyambut uluran tangan anak laki-laki itu dengan begitu saja. Tetapi tetap saja gadis itu masing menangis sesenggukan.

Mata si anak laki-laki menatap sekeliling, mencoba mencari sesuatu yang mungkin dapat membuat gadis kecil itu berhenti menangis. Namun nihi, taka da yang bisa digunakan. 'Astaga..! kemana perginya ayah gadis ini' batinnya. Tak sengaja mata anak lelaki itu tertuju pada pergelangan tangannya yang masih di genggam oleh si gadis kecil. Tanpa berfikir panjang, anak laki-laki itu pun melepas sesuatu yang melingkar di pergelangan tangannya.

Ditariknya pelan tangan gadis itu hingga membuat si gadis selangkah lebih dekat dengan dirinya. Tanpa meminta ijin si anak lelaki itu mengikat sebuah simpul di pergelangan tangan si gadis. Ajaibnya si gadis itu berhenti menangis setelah acara menyimpul si anak lelaki. Dengan mata sembab si gadis kecil pun menatap anak laki-laki itu.

"Ige mwo-ya?"

"Eomma ku bilang ini adalah gelang keberuntungan"

"Gelang keberuntungan?"

"Aku akan meminjamkannya untukmu. Jangan menangis lagi oke?"

Gadis kecil itu mengangguk pelan dan menatap gelang yang baru saja disimpulkan pada pergelangan tangannya. Gelang itu begitu sederhana, hanya beberapa tali warna hitam yang di kepang dengan hiasan tiga buat bintang di tengah.'Ini cantik' batin gadis itu.

"Astaga ternyata disini kau rupanya"

Perhatian dua anak kecil itupun tertuju pada suara yang baru saja menginterupsi. Tampak seorang perempuan yang masih sangat muda dengan kemeja bergaris tengah berjalan resah menghampiri si anak laki-laki.

"Eomma mencarimu kemana mana. Dasar anak nakal"

Perempuan itu memukul bokong si anak lelaki gemas, dan si gadis kecil hanya tertawa melihatnya.

"Aw eomma sakit. Aku hanya melihat-lihat gundam" protes si anak lelaki

"Bagaimana pun tak seharusnya kau berkeliaran sendiri. Dan hey, siapa gadis cantik ini"

Kini perhatian perempuan itu tertuju pada si gadis kecil yang sedari tadi hanya melihat dan tertawa. Gadis itu tampak begitu manis dengan pipi gembulnya. Matanya tampak tidak asing, mengingatkannya pada seseorang.

"Siapa namamu anak cantik?" Tanya perempuan itu ramah

"Annyeong.. Namaku Kim-"

"JungKookie… appa mencarimu kemana-mana"

Sebuah suara lain kini menginterupsi percakapan tiga manusia tersebut. Mendengar namanya dipanggil, si gadis kecil berlari dan menghambur meraih kaos sang ayah. Si ayah tampak memeriksa keadaan putri kecilnya. Untung tidak terjadi apa-apa.

Di tengah adegan tersebut, mata perempuan itu tampak bergetar melihat siapa yang saat ini berada di hadapannya. Laki-laki itu… Astaga secepat inikah takdir mempertemukan mereka.

"Kim NamJoon"

Suara perempuan itu begitu lirih berucap, tapi objek yang dipanggilnya mendengar. Laki-laki itu menoleh, terdiam sejenak menatap siapa perempuan yang ada di hadapannya.

"Min Yoongi… Itukah kau?"

Wajah NamJoon tampak begitu datar mengucap nama perempuan itu. Kini pandangannya justru teralihkan pada sosok anak laki-laki yang ada di sebelah perempuan itu.

"Anak itu.." gumam NamJoon

Sebelum NamJoon bergerak lebih jauh, secepat kilat Yoongi merengkuh tubuh anak laki-lakinya dan membawanya berlari keluar toko itu.

"Berhenti kau Min Yoongi"

Fikiran NamJoon sudah tak pada tempatnya. Seolah lupa akan JungKook, laki-laki itu secepat kilat berlari mengejar Yoongi yang sudah terlebih dahulu tancap gas. Adegan kejar kejaran pun takdapat dihindari. Jungkook yang melihat ayahnya berlari reflek melemparkan tongkat sihir yang di genggamnya dan ikut berlari.

"APPA…!" panggil gadis kecil itu. Tapi NamJoon tak menoleh sedikit pun

.

.

~BLIND~

.

.

Di tengah keramaian lalu lalang orang yang berjalan, Yoongi menggendong sang anak dan berlari tanpa henti. Tak jarang ia menabrak orang yang sedang berjalan atau yang sedang membagikan brosur. Taka da waktu untuk berhenti, lain waktu ia akan kembali dan meminta maaf. Sayup-sayup ia masih dapat mendengar NamJoon memanggil namanya di belakang.

Yoongi semakin panik. Kini ia telah sampai di persimpangan jalan. Beruntunglah ia karna kini lampu sedang hijau. Tanpa menunggu lama ia segera menyebrang untuk sampai di sisi jalan yang lain. Taehyung yang berada di gendongan Yoongi mulai menangis ketakutan karena tak mengerti dengan apa yang terjadi.

Sementara itu NamJoon yang juga sampai di persimpangan jalan sedikit ragu untuk menyebrang. Sebentar lagi lampu akan berubah warna. Namun jika ia menunggu lampu berikutnya maka ia akan kehilangan jejak orang yang selama ini ia cari. Dengan mantab, laki-laki itu menyebrang ke sisi jalan tanpa mengetahui sang putri mengejar dirinya di belakang.

"APPA…!"

JungKook kecil masih berusaha memanggil ayahnya, berharap sang ayah akan berhenti dan menghampiri dirinya yang sudah mulai lelah. Kini ia sudah sampai di persimpangan jalan. Dilihatnya sang ayah masih berlari mengejar orang yang ditemuinya tadi. Tak ingin kehilangan ayahnya gadis itu berlari menyebrang jalan tanpa melihat lampu yang telah berubah kuning.

Baru seperempat jalan ia menyebrang, orang-orang disekitarnya berteriak. JungKook menghentikan langkahnya dan menoleh. Dilihatnya lampu penyebrangan jalan telah berubah menjadi merah.

Jantung JungKook berdetak kencang, tak jauh dari tempatnya ia melihat sebuah mobil melaju dengan kencang.

"APPAAAA!..."

BRAAAK

Waktu berlalu begitu cepat, tak sampai lima detik tubuh mungil JungKook sudah bersimpah darah di tengah jalan. NamJoon yang tadinya berlari seketika berhenti dan menoleh. Matanya membulat melihat apa yang terjadi. Tubuh putrinya kini tergeletak tak bergerak di tengah jalan sana.

"JUNGKOOK-AH.."

Sementara itu, Taehyung yang berada di gendongan Yoongi juga melihat kejadian tersebut. Walau jaraknya sedikit jauh tapi ia dapat melihat gadis yang dijumpainya tadi terpental hingga akhirnya tak sadarkan diri di jalan.

"Andwee eomma… berhenti.. gadis itu.. andwee"

"Tidak Taehyung, Kita tidak punya waktu untuk berhenti"

Yoongi terus berlari tanpa memperdulikan pukulan Taehyung yang berkali-kali menghantam pundaknya. Ia tau sesuatu telah terjadi di belakang sana. Tapi saat ini meyelamatkan diri adalah yang utama atau ia tak akan punya kesempatan lagi.

.

.

~BLIND~

.

.

SeokJin berlari dengan tergesa menyusuri koridor rumah sakit begitu mendengar kabar bahwa putrinya kesayangannya mengalami kecelakaan. Sepanjang perjalanan perempuan itu tak hentinya menitikan air mata, tak dapat berfikir jernih membayangkan keadaan JungKook saat ini. Bagaimana putrinya yang masih mobil? Dimana NamJoon saat itu? Bagaimana bisa? Ia akan menuntut penjelasan dari suaminya itu.

Di belakang SeokJin, Hoseok mengikuti dengan JiHoon yang menangis tak berhenti menaggil nama adik kembarnya. Sesekali ia mencoba menenangkan tuan mudanya itu, namun tetap saja JiHoon akan menangis lagi tak lama setelahnya.

Setibanya di area IGD, mata SeokJin mencari keberadaan NamJoon dengan cepat. Tak lama kemudia mata perempuan itu berhasil menangkap siluet suaminya yang tengah terduduk diam di depan ruang IGD. NamJoon segera berdiri saat mengetahui istrinya telah datang. Jelas sekali raut wajahnya begitu panik dan menuntut penjelasan.

"Maaf" Sebelum SeokJin bertanya NamJoon sudah terlebih dahulu mengucapkan kata tersebut

PLAK

Sebuah tamparan mendarat di pipi NamJoon untuk pertama kali sepanjang sejarah laki-laki itu mengenal SeokJin. Hoseok yang melihat hal tersebut langsung memalingkan muka dan bergegas pergi karna JiHoon semakin kencang menangis.

"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau setenang ini saat putrimu sedang sekarat hah?" Kali ini SeokJin berusaha setenang mungkin meminta penjelas NamJoon

"Aku melihatnya. Gadis itu… Dan anak Baekhyun"

Tubuh SeokJin melemas mendengar ucapan NamJoon. Kakinya sempat mundur beberapa langkah sebelum akhirnya tersungkur di lantai tanpa berdaya. 'Jadi anak Baekhyun benar-benar masih hidup?'

"Kau tak apa SeokJin?" NamJoon berjongkok mensejajarkan tingginya dengan SeokJin. Tanganya merengkuh pundak perempuan itu untuk membantunya berdiri. Tapi belum sempat tangannya menyentuh pundak sang istri, SeokJin sudah terlebih dulu menepisnya.

"Jangan sentuh aku"

.

.

~BLIND~

.

.

Sekretaris Jung mengetuk ruang kerja NamJoon untuk ke lima kalinya, tapi tak ada tanggapan sama sekali. Tak biasanya tuannya akan acuh seperti ini. Karena rapat sudah semakin dekat laki-laki itu memberanikan diri untuk masuk ke ruang kerja NamJoon.

Dari ujung pintu tempatnya berdiri, si sekretaris itu dapat melihat jika NamJoon tengah tertidur lelap dengan posisi masih terduduk di depan meja kerja. 'Pantas saja tuan tidak menjawab'. Dengan seminim mungkin menimbulkan suara, Sekretaris Jung mendekati kursi NamJoon untuk membangunkannya.

"Tuan"

"Andwe" lirih NamJoon

Dahi sang sekretaris mengerut mendengar ucapan lirih NamJoon. Jika diperhatikan, tampaknya tuannya ini sedang mengigau.

"Tuan NamJoon"

"Andwe Jungkook" NamJoon masih saja mengigau

"Tuan" panggilnya lagi

"Maafkan appa"

"Tuan NamJoon"

Kali ini Sekretaris Jung menepuk pundak NamJoon, membuat orang yang dipanggil akhirnya tersadar dari tidurnya. NamJoon tampak terengah-engah begitu membuka mata dan sadar jika semuanya hanya mimpi.

"Apa tuan mimpi buruk?" Tanya Hoseok

"Ya.. sangat buruk"

"Tuan menyebut nona JungKook tadi"

"Benarkah?"

Laki-laki itu tampak acuh seolah mimpi buruknya tidak pernah terjadi. Sekretaris Jung yang sudah hafal dengan tabiat tuannya itu hanya mengulum senyum dan meletakkan sebuah dokumen di meja kerja NamJoon.

"Jam berapa rapat pemegang saham?" Tanya NamJoon pada sekretarisnya

"Itu akan berlangsung satu jam dari sekarang. Kita sudah menyiapkan semuanya tuan"

"Sudah hubungi JiHoon?"

"Tuan muda tidak mau datang. Saya sudah membujuknya"

"Berandal itu.."

Tak lama kemudian NamJoon menyambar ponselnya. Diketikkannya beberapa angka hingga onsel tersebut menempel di telinga kirinya. Nada sambung sempat berbunyi beberapa detik sebelum yang disebrang menjawab.

"Aku tidak akan datang untuk ikut rapat appa" JiHoon segera menjawab seolah tau apa yang akan dikatakn ayahnya itu

"Aku akan datang ke pertunjukan JungKook jika kau datang"

"Apa ini sebuah negosiasi?"

"Ini namanya penawaran"

"Kau tidak akan bohong kan?"

"Kim NamJoon tidak pernah mengingkari perkataannya"

"Aku akan datang dalam satu setengah jam. Atur kembali waktunya"

Panggilan itu berakhir setelah JiHoon mengucapkan kalimat tersebut. NamJoon hanya mendengus dan memberikan ponselnya pada Sekretaris Jung. NamJoon sedikit membenahi jam tangannya dan melihat waktu yang tercatat disana.

"Kau dengar kan? Undur rapatnya menjadi satu setengah jam dari sekarang"

"Baik tuan"

"Siapkan dokumen, aku akan pergi sebentar. Berikan kunci mobilnya"

Tangan NamJoon menengadah menuntut kunci mobilnya yang dipegang Hoseok. Dengan ragu-ragu sekretaris itu mengeluarkan kunci mobil audi hitam milik tuannya dan menyerahkannya. Begitu menerima kunci, NamJoon langsung pergi tanpa mengenakan jas hitam kebanggannya. Hoseok hanya menarik nafas dalam. Terkadang ia sungguh tak mengerti dengan sikap tuannya.

.

.

~BLIND~

.

.

JungKook duduk di ruang tunggu dengan gelisah. Ia begitu gugup karna akan tampil di urutan nomer dua. Tak biasanya ia seperti ini, ia akan selalu percaya diri dengan apa yang akan ia tampilkan. Saat ini ia sudah seperti akan tampil di hadapan ratusan orang penting saja.

"Mau kuambilkan minum"

Taehyung yang sedari tadi menemani JungKook di ruang tunggu mencoba menghilangkan kegugupan gadis itu dengan menawari minuman. Tapi gadis itu hanya menggeleng, pertanda kalau ia menolak.

"Jangan gugup nona. Tarik nafas mu perlahan dan hembuskan" Taehyung mencoba membantu

Dengan berlahan JungKook mengikuti setiap instruksi yang diucapkan Taehyung. Kini sedikit demi sedikit kegugupannya mulai hilang. 'Tenang Kim Jungkook, anggap kau bermain piano di rumah' ucapnya dalam hati.

"JungKook-ssi. Giliranmu akan tiba. Mari bersiap"

Seorang kru yang mengatur pertunjukan menghampiri JungKook dan menuntun JungKook untuk bersiap ke belakang panggung.

"Aku akan melihat nona di bangku penonton"

Gadis itu mengangguk mantab sebelum akhirnya mulai menjauh mengikuti kemana kru itu membawanya pergi.

.

.

~BLIND~

.

.

Lima belas menit berkendara, akhirnya NamJoon tiba di sebuah sekolah kursus piano untuk disabilitas. Diambilnya kacamata hitam yang berada di dashboard mobilnya dan mengenakannya. Begitu NamJoon turun dari mobil orang-oranng sekitarnya mulai berbisik macam-macam. Dapat NamJoon dengar beberapa dari mereka memuji ketampanannya dan membicarakan dirinya yang merupakan seorang CEO dari Kim Corp.

NamJoon acuh saja mendengar berbagai perkataan tersebut. Hal yang wajah bagi dirinya yang sering disorot oleh media terlebih bisnisnya sedang berada di puncak sekarang. Laki-laki yang hanya mengenakan setelan kemeja polos berwarna maroon itu langsung menuju aula pertunjukan begitu memasuki gedung.

Dilihatnya suasana di aula sudah sangat ramai. Ada banyak orang tua seperti dirinya yang datang untuk menonton pertunjukan anaknya atau bahkan muda mudi yang hanya datang untuk sekedar menikmati kencan.

"Tuan NamJoon?"

Laki-laki itu menoleh saat seseorang memanggil namanya. Begitu mengetahui siapa yang memanggilnya, laki-laki itu kembali berfokus pada panggung di depannya.

"Urutan berapa JungKook akan tampil?"

"Nona muda akan tampil setelah ini tuan"

Kedua lelaki itu fokus menikmati pertunjukan di panggung sana hingga tiba saatnya nama JungKook dipanggil untuk naik ke atas panggung. Seulas senyum yang sangat tipis tercetak di bibir NamJoon. Di hadapannya kini tampak putrinya sedang memegang mic dengan gugup.

"JungKook-ssi, apa yang ingin kau tampilkan hari ini?" si pembawa acara berbasa-basi

"A-Aku akan membawakan lagu 'We All Lie' hari ini. Kudengar itu sangat popular belakangan"

"Apakah ada orang yang kau harapkan datang hari ini?"

"Itu… Aku sebenarnya sangat mengharapkan appa ku datang melihat pertunjukanku. Tapi aku tak yakin apakah ia ada di salah satu bangku penonton saat ini. Dia sangat sibuk belakangan ini"

Setiap kata yang keluar dari bibir JungKook seolah bukan hal yang sulit untuk dikatakan. Bahkan gadis itu mengatakannya tanpa beban. NamJoon yang melihatnya dari panggung hanya bisa tersenyum kecut.

"Ingin menyampaikan sesuatu pada appa mu JungKook-ssi?"

"Appa… Saranghae"

Jari telunjuk dan jempol JungKook membentuk heart sign di udara, membuat penonton yang melihatnya bertepuk tangan menyemangati.

"Saranghae" Jawab NamJoon dengan gerakan bibir

"Waah.. Tak kusangka nona muda sangat manis. Pasti dia senang jika mengetahui tuan berada di sini menontonnya"

"Jangan beritau dia" NamJoon menjawab datar

"T-tapi kenapa tuan?"

"Dia tak akan bisa tidur jika tau aku datang menonton pertunjukannya"

Taehyung yang semula kebingungan kini ikut tersenyum mendengar perkataan tuannya. Terkadang tuannya ini tampak begitu dingin dan menakutkan. Tapi terkadang juga tuannya punya sisi hangat yang membuat orang lain iri dibuatnya. Seperti dirinya saat ini. Taehyung begitu iri dengan JungKook walau kadang ayahnya begitu mengintimidasi. Sementara dia bahkan tak tau seperti apa rupa ayah nya hingga kini

.

.

.

TBC

A/N :

Annyeong readers-deul.. Sudah enam bulan tak terasa aku vakum menulis hehehe

Sepertinya sudah banyak yang lupa dengan cerita ini. Bahkan aku aja sebagai penulis mesti baca dari awal lagi untuk menyambung alur cerita yang sudah sedikit aku lupa.

Aku saranin buat kalian untuk baca dari awal agar tidak bingung dan tau kesinambungan chapter ini ya..

Untuk next chapter semoga bisa fast update deh.

Btw sekarang aku udah memasuki semester 6. Tandanya sudah harus memikirkan tugas akhir ku dan pasti bakal sedikit waktu buat menulis. Sadar gak sih FF ini aku buat pas aku belum kuliah dan sekarang udah di semester tua aja wkwkwk #AduhJadiCurhat

Hope you like readers-deul, don't forget to vote and comment ya karna jujur aku begitu butuh pendapat dari sudut pandang kalian.

See you on next chap ^_^