CHAPTER 20
WHAT DO YOU MEAN?
.
.
.
Pertunjukan piano yang disuguhkan oleh Jungkook berjalan dengan mulus tanpa hambatan. Begitu gadis itu berdiri dan membungkuk pada penonton, tepuk tangan meriah terdengar mengiringi. Gadis cantik itu turun tak lama kemudian dibantu oleh salah satu kru pertunjukan.
Dibalik panggung Taehyung sudah menunggu Jungkook dengan semangat. Sudah tidak sabar rasanya mengucapkan selamat kepada nona muda.
"Taehyuuuung..!"
"Nona…"
Entah insting dari mana, secara mengejutkan Jungkook menghambur ke pelukan bodyguardnya begitu kru membawa ia ke bagian belakang panggung. Taehyung merasa kaget dan terhuyung beberapa langkah akibat pelukan Jungkook yang mendadak. Beberapa saat kedua muda mudi itu terdiam. Jungkook tidak sadar telah memeluk Taehyung begitu lama karna terlalu senang, sementara si bodyguard terlalu linglung untuk menyadari situasi.
"Ekm… Bisa lepaskan pelukannya? Aku tak bisa bernafas nona" dalih Taehyung tak mampu menatap mata gadis di itu.
"Ah, maaf aku terlalu senang tadi" Jungkook menjawab sambil merapikan poninya yang tidak berantakan.
"Aku sudah merapikan barang-barang nona, jadi kita bisa langsung pergi. Apa nona ingin langsung pulang?"
"Tidak mau. Aku ingin jalan-jalan"
"Tapi kemana?"
Jika seorang Kim Jungkook sudah meminta jalan-jalan maka akan panjang urusannya. Taehyung menarik nafas kasar. Ia harus menyiapkan alasan saat pulang nanti atau ia akan dimarahi oleh ibu si gadis seperti terakhir kali ia membawa Jungkook ke sauna.
"Oppa, dimana rumahmu?" Tiba-tiba saja Jungkook terfikir sebuah ide
"Rumahku? Itu… Dipinggir Kota Seoul. Tapi kenapa nona mendadak bertanya hal itu?" sunggug bukan gaya nona mudanya jika terlalu ingin tau.
"Bagus. Ayo kita kesana!"
"NDE?"
Taehyung langsung membekap mulutnya sendiri ketika sadar suaranya terlalu kencang, mengakibatkan seisi ruangan menoleh padanya. Buru-buru ia membungkuk untuk meminta maaf atas kegaduhan yang ia sebabkan. Astaga bagaimana bisa kata-kata itu meluncur dengan mudah dari mulut Jungkook. Ia tidak salah dengar bukan?
"Nona tidak bercanda bukan?"
"Tentu saja aku serius" Jungkook benar-benar tidak peduli dengan keterkejutan Taehyung
"Tapi nona, aku bisa dimarahi nyonya Seokjin jika dia sampai tau aku membawa nona pergi jauh"
"Kau kan tidak menculikku kenapa harus takut?"
Skak mat. Memang tidak ada yang lebih lihai berdebat selain Kim Jungkook. Jika sudah begini setuju tidak setuju Taehyung akan menuruti permintaan Jungkook.
.
.
~BLIND~
.
.
Hampir satu jam lamanya Taehyung mengemudi, akhirnya pemuda itu tiba di depan rumahnya. Saat ia menolehkan kepala ke luar jendela Taehyung hanya mendapati pintu rumahnya terbuka namun sepi, seperti tidak ada orang.
"Kita sudah sampai? Jauh juga rumah oppa"
Jungkook yang sejak tadi tidak tidur kini melepas sabuk pengamannya. Dengan segera Taehyung turun dari mobil dan membukakan pintu.
"Aku sudah bilang pada nona jika rumahku jauh"
"Tidak masalah. Ini jauh lebih baik daripada harus berdiam diri di rumah"
Keduanya berjalan melewati halaman rumah yang tidak luas sama sekali itu. Seperti biasa sebelum memasuki rumah Taehyung melepas sepatunya terlebih dahulu. Meski tidak dapat melihat, Jungkook dapat mendengar aktivitas yang dilakukan Taehyung. Maka dari itu sebelum disuruh Jungkook sudah lebih dulu melepas alas kakinya. Taehyung hanya tersenyum diam melihat.
"Eomma, samchon. Aku datang!"
Tak berapa lama kemudian tampak dua orang dengan tergesa keluar menyambut kedatangan Taehyung. Tampaknya mereka baru dari dapur, terlihat jelas karna salah satunya masih memakai celemek dengan beberapa noda saus yang melekat.
"Tae? Kenapa tidak bilang jika akan kemari?"
"Ini tanpa direncanakan eomma. Nona muda ingin berjalan-jalan sehingga aku membawanya kemari"
"Nona muda? Maksudmu gadis di sebelah mu ini?" Jimin menimpali
"Annyeonghaseo bibi dan paman. Jungkook imnida"
Gadis itu memperkenalkan diri dengan ceria. Tak lupa ia membungkuk sebagai salam, membuat dua orang dewasa yang ada di hadapannya ikut tersenyum dan membungkuk.
"Jadi ini nona muda yang kau jaga Tae? Mimpi apa kau bisa mengawal gadis secantik ini"
Sebuah pukulan yang berasal dari centong nasi Yoongi sukses mendarat di kepala Jimin. Membuat Taehyung yang melihat meringis kesakitan.
"Sopan sedikit Park Jimin" Yoongi menjawab dengan nada menyindir tapi wajahnya masih tersenyum pada Jungkook.
"Tidak apa-apa, aku sudah sering mendengar yang seperti itu"
"Kau memang cantik nak Jungkook. Kali ini mata paman Taehyung memang tidak salah lihat. Ayo masuk! Kebetulan aku sedang membuat pasta lobak. Nona mau mencicipinya?"
Tanpa ragu Jungkook mengangguk dan ke-empat orang itu berjalan beriringan menuju ruang tamu. Namun saat mereka berjalan Jimin dan Yoongi memandang Jungkook lekat, seolah baru sadar jika nona mudanya ini sedikit spesial.
"Dia buta?"
Jimin bertanya pada Taehyung tanpa suara yang dijawab dengan anggukan pemuda itu. Yoongi tak dapat menutupi keterkejutan hingga membuat tangannya reflek menutup mulut. Seolah mengerti apa yang difikirkan kedua orang tua itu, Taehyung memberi kode dengan menempelkan tulunjuknya pada bibir, meminta mereka diam seolah tidak terjadi apa-apa.
Dengan cekatan Yoongi menyiapkan berbagai makanan yang ia masak hari ini ke meja makan, tentu saja dibantu oleh dua asistennya. Kurang dari sepuluh menit makanan sudah tersaji dengan rapi. Jungkook yang sudah di meja makan sejak tadi dapat mencium aroma kimchi yang begitu lezat dan beberapa aroma yang ia yakini adalah telur gulung.
"Waah masakan bibi sepertinya sangat lezat"
"Nona ingin makan apa? Telur gulung? Kimchi lobak? Sup atau…"
"Semuanya. Aku ingin mencicipi semuanya bibi"
"Baiklah bibi berikan paket komplit special untukmu Kookie" Yoongi tersenyum senang.
Yoongi menyusun setiap masakannya dalam satu piring dengan porsi secukupnya kemudian ia hidangkan pada Jungkook. Jimin memimpin doa sebelum memulai makan yang diikuti oleh tiga orang lainnya. Kemudian semuanya mulai makan dengan tenang.
Selama acara makan bersama tak jarang Taehyung bergurau dengan Jimin yang ikut ditimpali oleh Yoongi. Jungkook yang mendengar segala ucapan receh Jimin tak pelak ikut tertawa beberapa kali. Bahkan gadis itu mengaku sakit perut karena tak berhenti tertawa selama Jimin bercerita.
"Ekhm… Jika boleh tau, apakah setiap makan kalian selalu bercanda dan bercerita seperti ini?" Jungkook yang sedari tadi menikmati makanan sambil mendengarkan kini menyela ke dalam pembicaraan
"Maksud nona? Tentu saja. Semua keluarga di Korea melakukan hal ini nona. Makan bersama dan saling bercerita" Jimin menjelaskan dengan mulutnya yang masih penuh dengan nasi.
"Ahh benarkah?"
Raut muka Jungkook mendadak sendu setelah mendengar penuturan Jimin. Gadis itu sempat terdiam beberapa saat, membuat orang-orang yang ada disekitarnya menjadi bingung.
"Apakah ada yang salah dengan perkataan kami nona? Kenapa diam saja? Apa makanan bibi tidak enak?" kali ini Yoongi yang buka suara, mencoba memecah keheningan.
"Tidak bibi. Aku hanya iri dengan kalian" sesuap nasi berhasil dilahap Jungkook setelahnya
"Bagi appaku, bercengkrama seperti kalian sangat mengganggu. Kami tidak pernah mengobrol saat makan bersama?"
"JINJJA?"tiga orang lain yang ada di meja makan itu menanggapi dengan kompak
"Aish, tidak perlu difikirkan"
Semua yang ada di meja makan tertawa canggung kemudian. Namun hal tersebut tak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian suasana hangat kembali tercipta diantara empat orang yang menikmati makanan tersebut.
"Aku akan sering mampir ke rumah bibi setelah ini"
"Nonaaaa"
Taehyung memprotes habis habisan candaan yang dilontarkan oleh Jungkook. Yang di protes merasa tidak bersalah sama sekali, sementara dua insan di sebrang meja tertawa terbahak melihatnya.
TOK TOK TOK
Atensi semua orang beralih begitu mendengar suara pintu yang diketuk. Kira-kira siapa yang akan bertamu siang hari begini. Mungkinkah Jisung?
Yoongi memberi isyarat pada semuanya untuk tetap duduk di meja makan, biar dia saja yang membuka pintu. Tanpa ada perasaan apapun Yoongi bergegas membuka pintu. Awalnya Yoongi menyuguhkan wajah ramahnya begitu pintu itu terbuka, hingga akhirnya beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah terkejut begitu menyadari siapa yang datang.
"Lama tidak bertemu denganmu Yoongi"
.
.
~BLIND~
.
.
Sesuai dengan penawaran yang telah disetujui, JiHoon datang ke kantor ayahnya tepat satu setengah jam kemudian. Berkat kehadiran laki-laki muda itu rapat pemegang saham berjalan dengan lancar. Kerjasama antara Kim Corps dan fAHNshion resmi terjalin dengan penandatanganan kesepakatan antara dua pemilik perusahaan tersebut. Tak ketinggalan peserta rapat memberi tepuk tangan dengan meriahnya sebagai pemanis dari hasil rapat yang diadakan. Seusai rapat tak lupa Ahn Jaehyun menghampiri JiHoon dan melontarkan pujian untuk laki-laki muda tersebut.
"Seperti yang diharapkan kau luar biasa dan cerdas seperti ayahmu JiHoon" puji tuan Ahn
"Tuan terlalu berlebihan, aku berusaha sangat keras untuk mempersiapkan ini" tentu saja JiHoon akan menjawab dengan rendah hati
"Aku tak sabar menunggumu menjadi menantuku JiHoon"
"Nde? Maksud tuan?"
Alis JiHoon terangkat sebelah mendengar perkataan Tuan Ahn. Menjadi menantunya? Apakah ini lelucon baru yang sering dilontarkan para pria parubaya saat ini?
NamJoon yang sedari tadi hanya mengamati dari tempatnya kini ikut berdiri melihat kebingungan putranya. Merasa tak enak dengan raut Tuan Ahn yang menunggu jawaban segera saja NamJoon menimpali
"Kurasa JiHoon belum terbiasa dengan situasi seperti ini. Dia pasti juga tidak sabar untuk menjadi bagian dari keluarga mu tuan Ahn"
"Appa…"
Sebisa mungkin JiHoon menahan emosinya yang meluap mendengar perkataan NamJoon. Matanya melirik sinis kearah sang ayah namun diabaikan begitu saja. Ayahnya masih sibuk memberikan senyum terbaik untuk client di depannya itu. Jika saja tidak ada tuan Ahn di depannya pasti ia sudah meluapkan kemarahannya.
"Ya… Kurasa begitu. Aku harus pergi dulu tuan Kim, masih banyak urusan yang harus ku selesaikan di kantor. Semoga keluarga kita bisa segera makan malam bersama"
"Tentu saja akan aku jadwalkan secepatnya"
Tuan Ahn meninggalkan ruang rapat setelah berpamitan. Sekarang hanya tersisa ayah dan anak itu di ruang rapat. Hening. Keduanya hanya saling menatap setelah kepergian tuan Ahn.
"Apakah tidak ada yang ingin appa jelaskan kepadaku?" JiHoon memberanikan diri memulai pembicaraan
"Bukankah sudah jelas? Kau juga sudah menonton berita tempo hari"
"Aku datang kesini untuk rapat, Tidak untuk mendengarkan omong kosong"
"Kau akan segera menikah dengan putri tuan Ahn suka maupun tidak"
Kali ini NamJoon menjawab tegas, matanya menatap dalam mata JiHoon yang berada di seberang meja. Dari tempatnya berdiri NamJoon dapat melihat kedua tangan JiHoon mengepal erat, menandakan ia sedang marah.
Tidak mau ambil pusing dan berlarut dalam masalah NamJoon memilih meninggalkan ruangan tersebut.
"Apakah begini cara appa untuk mendapatkan apa yang ayah inginkan? Dengan mengorbankan putra ayah?"
Langkah kaki NamJoon terhenti seketika mendengar perkataan JiHoon. Tak lama kemudian laki-laki yang lebih tua itu berbalik dan mengamati putranya
"Apakah appa tau rasanya menikahi orang yang tidak appa cintai?"
Kini JiHoon melangkah berlahan mendekati posisi ayahnya berdiri. NamJoon masih saja terdiam tak merespon
"Anni… Apakah appa tau rasanya menikahi orang yang tidak ayah kenal?" lanjut JiHoon
"Kau pasti akan mencintainya seiring berjalannya waktu" jawab NamJoon tenang
"Bahkan appa dan eomma menikah karna saling mencintai"
"Itu benar. Aku sangat mencintai eomma mu"
"LALU KENAPA AKU TIDAK BISA SEPERTI ITUU?"
JiHoon sudah hilang kesabaran. Kini ia berteriak tepat di depan wajah ayahnya tanpa rasa takut. Bahkan saking kesalnya JiHoon tanpa sadar meninju meja kaca yang ada di sampingnya hingga tangannya berdarah.
"Sebaiknya kau pulang dan obati lukamu itu"
NamJoon tidak ingin memperkeruh keadaan, itu bukan gayanya. Kakinya dengan ringan melangkah pergi meninggalkan posisinya hingga akhirnya kembali terhenti ketika sebuah kalimat yang tidak pernah ia duga meluncur dengan mudah dari mulut JiHoon
"Apakah appa akan melenyapkanku seperti appa melenyapkan keluarga bibi Baekhyun untuk ambisi appa?"
"KIM JIHOON..!"
PLAK
Sebuah tamparan yang cukup keras berhasil mendarat di pipi JiHoon dan menyisakan bekas merah dipipinya. Nafas NamJoon memburu mendengar apa yang putranya katakana.
"Apa yang kau katakan?" Tanya NamJoon dingin
"Aku mendengarnya. Semuanya. Saat ayah bersama eomma di meja makan. Bukankah ayah mengatakannya sendiri? Ayah membunuh paman Daehyun. Aku benar bukan?"
JiHoon baru saja pulang dari rumah Woojin. Ini masih pukul tujuh lewat lima belas menit, seharusnya makan malam belum berakhir. Ia tidak ingin mendengar omelan eommanya kali ini karna mangkir dari makan malam. Oleh sebab itu JiHoon memilih datang walaupun terlambat.
Begitu ia memarkirkan motor di depan rumah, suasana rumah tampak sepi seperti biasa. JiHoon memasuki rumah dengan bersenandung ringan. Saat tiba di ruang makan, langkah JiHoon terhenti karena menyaksikan kedua orang tuanya duduk saling berhadapan dan membicarakan sesuatu namun tidak ada Jungkook diantara mereka
'Apa makan malam sudah selesai'
Awalnya karena tidak melihat Jungkook disana JiHoon berniat mengecek ke kamar gadis itu. Memang biasanya adik kembarnya tidak akan turun sebelum JiHoon juga ada di meja makan. Saat akan melangkah menaiki tangga, indra pendengaran JiHoon tiba-tiba menangkap sebuah kalimat yang membuat langkahnya terhenti
"Ini sudah delapan belas tahun. Sudah seharusnya kita melupakannya"
"Katakan jika kau memang takut"
"Tidak. Aku tidak pernah takut SeokJin"
"Lalu kenapa? Apakah sebuah dosa jika aku mengucapkan nama adikmu?"
"Cukup" NamJoon menarik nafas sedalam mungkin. Ia tak ingin tersulut emosi
"Kau tidak bisa menghapus fakta jika kau membunuhnya oppa"
Jantung JiHoon bergetar mendengar seluruh perkataan yang keluar dari mulut orang tuanya itu. Ditambah baru saja JiHoon meihat NamJoon menggebrak meja dengan lantang. Membuat ia maupun eommanya berjengit kaget.
Pandangan JiHoon langsung melengos begitu melihat sang appa memagut bibir eommanya. Membuat kedua orang dewasa itu terlarut dalam dunianya tanpa menyadari ada seseorang yang memperhatikan sejak tadi.
'Apa apaan ini'
Sial sekali, JiHoon sangat ingin beranjak dari tempat tersebut. Tapi entah kenapa antara fikiran dan tubuhnya tidak sinkron dikondisi seperti ini
"Tatap aku sayang"
"Aku tidak pernah membunuh adikku. Kim Baekhyun" tegas NamJoon
"Jangan berbohong padaku"
"Kau tau kenapa kau masih menjadi istriku sampai saat ini Kim SeokJin?"
"Itu karena aku mencintaimu"
"Begitupun aku. Tapi taukah kau SeokJin? Masih ada hal lain yang membuatmu menyandang status sebagai istriku"
"Apa?"
"Kau tau jika aku tidak membunuh Baekhyun"
"Dengar baik-baik. Aku mungkin memang membunuh Daehyun dan aku mungkin juga ingin melenyapkan anaknya, tapi aku tidak pernah membunuh Baekhyun. Bagaimana pun juga dia adalah adikku"
Tangan JiHoon mengepal kuat mendengar segala isi pembicaraan antara appa dan eommanya. Saat ini ingin rasanya JiHoon lenyap dari dunia. Cukup, ia sudah tidak tahan
"Bisakah kalian mencari tempat lain jika ingin bermesraan?"
Sekelebat bayangan itu berhasil ditangkap oleh ingatan NamJoon. Ekspresi JiHoon yang menantang membuat NamJoon tersulut emosi. Ditariknya kerah baju JiHoon hingga laki-laki yang lebih muda itu hanya berjarak lima centi meter dari wajahnya.
"Aku ingin menyangkal ini. Tapi ternyata aku putra seorang pembunuh"
"Kim JiHoon"
Gigi NamJoon menggertak menahan amarah. Satu tangannya sudah melayang diudara untuk memberi bogem mentah pada putranya. Sementara JiHoon seperti tidak ada rasa takut menghadapi ayahnya yang tengah mengamuk saat ini. Bahkan ia masih sempat menyunggingkan senyum menantang.
Saat tangan NamJoon akan mendarat ke wajah JiHoon untuk kedua kalinya, tiba-tiba pintu ruang rapat itu terbuka. Dengan nafas yang sedikit terengah Hoseok memanggil tuannya hingga tangan yang tadinya akan meninju JiHoon itu tak sampai mendarat.
"Tuan NamJoon…"
Hoseok menarik nafas lega. Ia datang tepat waktu kali ini, jika tidak mungkin sudah ada perkelahian yang akan disaksikan oleh ratusan karyawan Kim Corps.
"Hoseok, urus anak ini"
Cengkraman di leher JiHoon melonggar, kini ayahnya telah pergi meninggalkan ruang rapat. Nafas JiHoon terengah, bahkan posisi berdirinya tak lagi seimbang yang menyebabkan dirinya terhuyung beberapa langkah.
"Tuan muda tidak apa-apa?" Tanya Hoseok pada JiHoon
"Kenapa paman menolongku?"
.
.
~BLIND~
.
.
NamJoon sudah kepalang emosi karena kejadian tadi. Tak ia sangka JiHoon telah mengetahui apa yang ia dan SeokJin sembunyikan selama ini. Bagaimana ia akan menghadapi JiHoon setelah ini. Pasti JiHoon akan membenci NamJoon selamanya.
"Sial"
Sepanjang perjalanan sumpah serapah NamJoon lontarkan untuk melampiaskan kemarahannya. Bahkan laki-laki itu sudah seperti hilang akal. Mobilnya ia pacu dengan kencang, membuat beberapa pengguna jalan lain yang bersimpangan dengan NamJoon ikut mengucap sumpah serapah.
Tak berapa lama mengendarai mobilnya, Namjoon tiba di Mansion. Suasana mansion tampak sepi begitu ia memasuki ruang tamu. Ia hanya melihat beberapa pelayan yang lalu lalang sibuk membersihkan rumah dan mempersiapkan masakan.
Karena tidak melihat SeokJin di ruang tamu, NamJoon melangkah ke kamarnya. Mungkin saja SeokJin sedang bermalas-malasan disana. Saat pintu dibuka NamJoon tidak juga menemukan SeokJin di kamarnya. Kamar mandipun sudah ia cek dan kosong. Tidak biasanya SeokJin tidak dirumah.
"Bibi Kim..!"
Seorang wanita parubaya datang dengan terburu-buru begitu mendengar sang tuan memanggil. Saat tiba di kamar pelayan yang sudah senior di mansion Kim itu bertanya pada NamJoon.
"Dimana istriku?"
"Nyonya SeokJin pergi mengunjungi temannya tuan"
"Teman?"
Alis NamJoon mengerut. Bukan gaya SeokJin berkunjung ke rumah temannya. Dan siapa temannya? Wanita itu bahkan tidak pernah bertemu temannya selama menikah dengan NamJoon kecuali rekan bisnis. Dan juga NamJoon tau semua teman SeokJin karna mereka satu sekolah dulu.
"Dengan siapa dia pergi?"
"Nyonya membawa mobil sendiri hari ini"
"Benarkah?"
NamJoon semakin curiga, kira-kira siapa teman SeokJin yang ditemui. Biasanya ia akan meminta MyungSoo untuk mengantarkan bepergian. Apa ada teman SeokJin yang tidak NamJoon ketahui? Apakah SeokJin berselingkuh di belakangnya.
"Bibi boleh pergi"
Untuk mengusir rasa penasarannya NamJoon segera mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Ia menghubungi SeokJin. Setelah beberapa nada sambung terdengar, sebuah suara yang familiar menjawab telephonnya.
"Dimana kau SeokJin?" Sungguh NamJoon tidak panda berbasa basi
"Aku mengunjungi temanku"
"Pulang sekarang juga" Perintah itu tegas terucap seolah tidak ingin dibantah
.
.
~BLIND~
.
.
Sudah tiga puluh menit SeokJin berdiam diri di dalam mobil sambil mengamati rumah yang ada di hadapannya saat ini. Rumah itu tidak begitu luas ataupun terlalu kecil. Halamannya rindang dan tampak begitu hangat untuk ditinnggali.
Beberapa kali SeokJin melihat kertas yang ada di genggamannya dan memastikan jika apa yang tertulis di kertas tersebut adalah benar. Alamatnya benar. Ini alamat rumah Taehyung yang diberikan oleh Hoseok beberapa hari lalu.
SeokJin ingin turun dari mobil dan memastikan beberapa hal yang begitu mengusik hatinya. Namun sekali lagi hatinya ragu. Bagaimana jika apa yang difikirkannya selama ini benar? Apa yang harus ia lakukan?
Setelah membulatkan tekad, SeokJin akhirnya turun dari audi hitamnya. Dengan sebelah tangan yang menenteng keranjang berisi buah SeokJin mulai mengetuk pintu rumah itu
TOK TOK TOK
Tidak ada jawaban selama beberapa waktu. Tangan SeokJin mengeratkan genggaman pada keranjang buah yang ia bawa. Saat ia akan mengetuk untuk ke-dua kalinya pintu itu terbuka. Perempuan dengan postur tubuh yang lebih kecil dari SeokJin tampak di hadapannya saat ini. Wajahnya yang manis dengan matanya yang sedikit sipit membuatnya tetap terlihat cantik meski umurnya mungkin tidak muda lagi. Perempuan itu tersenyum awalnya, membuat SeokJin yang melihatpun ikut bergetar. Beberapa detik kemudian dapat SeokJin lihat jika wajah perempuan itu berubah pucat saat menyadari siapa dirinya.
"Lama tidak bertemu denganmu Yoongi"
.
.
.
TBC
A/N :
Annyeong readers-deul. Sudah lama tidak update, kurang lebih 6 bulan lalu update :( Dikarenakan aku sendiri udah memasuki tahun terakhir di bangku kuliah (astaga gak kerasa) jadi untuk nulis hanya aku lakuin di sela-sela waktu luang aja. Doakan lancar tugas akhir ku ya semua jadi aku bisa sering update kedepannya wkwkwkwk #Amiin
Seperti biasa chapter ini belum ada penyuntingan jadi besar kemungkinan banyak typo bertebaran. Jujur aku khawatir sudah banyak yang lupa dengan cerita ini. Tapi gpp lah daripada tidak dilanjut sama sekali? hehehe
Hope you like readers-deul.
Don't forget to vote and comment.
See you on next chap ^_^
